Balas-balas review :
Inuzumaki Caleb Athena Helen: He..he..he… Nggak tau ya, senpai.. Kalau senpai pengen tau lanjutannya kayak gimana, baca aja chapter 2 ini.. Hhehehe… Ehem..makasih ya, senpai, atas pujiannya… Oche, oche, saya akan menuruti nasehat-nasehat dari senpai. Makasih atas reviewnya ya, Inuzumaki-senpai...
Sabaku no panda-kun: Hai juga... Salam kenal... (lho? kok kenalan lagi??). Oche, saya akan menuruti nasehat-nasehat dari senpai deh… Makasih atas pujian dan reviewnya, Panda-senpai… Siip, ntar Sanji-kun cari deh fic buatan Panda-senpai. Truz, Sanji-kun review ya...
KuroNezumi: Iya, iya... Saya anak baru... Wah, kita sama ya ternyata... Tosh dulu, yuk... Jhahaha... (gmn cara tosh-nya coba? Sanji-kun gila ah...). Wuah..makasih atas pujiannya, senpai... Oke, oke.. Ni aku udah apdet lho.. RnR ya... Thanx reviewnya, Kuro-senpai...
Charlotte.d'Cauchemar: Makasih atas pujiannya, senpai... Oche, siip lah, saya akan menuruti nasehat dari senpai. Makasih reviewnya, Charlotte-senpai...
Chiba Asuka: Alo juga, Chiba-senpai... Oke, ntar Sanji-kun les fanfic di Chiba-senpai aja ya.. Jhahaha... Bercanda-bercanda... Waduh, review dari senpai kayaknya yang paling banyak deh... Makasih atas nasehat-nasehatnya... Saya akan menuruti nasehat-nasehat dari senpai... Wuih..Sanji-kun dipuji lagi ama Chiba-senpai... Ah, jadi malu ni.. *lebay*. Ya ntar fic Chiba-senpai aku review aja, tapi aku nggak baca, coz pastinya Sanji-kun bakal nggak kuat baca... Wkwkwk... ^_^
Lady Bellatrix: Emm..mungkin... Oche, oche, saya akan menuruti nasehat-nasehat dari senpai. Makasih atas pujiannya, senpai... Makasih juga atas reviewnya, Lady-senpai...
Ze-z-chic: Kenapa kok tersinggung?? Jadi inget ama Watanuki-kun ya?? Ato jangan-jangan, ada hubungannya ama kisah cintamu ya?? Jhahaha... *lebay*. (Lebay kayak Marino apa Kyo??). Thanx atas pujiannya... Eh, maksudnya BAGUS tu Hitsugaya kan?? Penasaran lanjutannya?? Baca aja fic chap 2 ini… Thanx atas reviewnya ya, Ze-senpai… Eia, btw, kok kamu nggak pake nama Riiko Izawa aja sih?? *bingung*...
: Yo juga, Nae-senpai... Makasih ya pujiannya, senpai... Oche, oche, saya akan menuruti nasehat-nasehat dari senpai... Aduh..lagi-lagi Sanji-kun dipuji sama Nae-senpai... Jadi malu... *lebay*... Thanx reviewnya, Nae-senpai...
Yoshizawa Sayuri: Kenapa senpai me-review fic saya secara langsung?? Jujur, sedikit aneh.. Tapi karena senpai maksa saya untuk mbalez review senpai, ya jadinya Sanji-kun balez.. Makasih ya atas pujian-pujiannya... Saya akan menuruti nasehat-nasehat senpai.. Arigatou reviewnya, Yoshizawa-senpai...
~Thanx for your review~
Pembukaan yang tidak penting…
Hallo…
Sanji Yagami di sini...
Ini SIDED LOVE chapter 2.
Ehem..ehem… Sebelumnya Sanji-kun mau ngucapin makasih buat temen-temen cowok yang baik hati yang udah ngasih Sanji-kun candaan…
Special thanks for : Watanuki Kimihiro, Kyo Takagi, Kouru Hamasaki, Domeky Lizuka, Hitsugaya Toshiro,….
Dan tentunya buat Minori Tsurugi…
Hwahahaha… Semuanya nama samaran kok...
Mina-san (terutama temenku satu kelas), jangan ada yang ketawa ya! Kalo ketawa, ku bunuh kalian!
Ehm...kembali ke cerita SIDED LOVE...
Apa yang akan dilakukan Kakashi terhadap Iruka??
Baca aja yah!
Dan pastinya di-review dong…
Sanji-kun mau pergi dulu ke pasar ya.
*(Sanji-kun menggeret monyet kesayangannya)*
Emang aku punya monyet???
SIDED LOVE
CHAPTER 2
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
"ADA APA INI?! ADA APA SEBENARNYA INI?!" teriakku kaget dalam hati dengan ekspresi ketakutan.
"KYAA!! KENAPA SIH?! IRUKA DICULIK!!" teriak teman-temanku.
"Ha...Hatake?! Aku sedang latihan bersama teman-teman... Ada perlu apa kamu denganku?" tanyaku bingung pada Kakashi.
"Cepat! Mumpung sedang waktu istirahat! Di babak pertama, aku berhasil membuat point ke-999! Ayo, babak kedua akan segera mulai!" jawab Kakashi sambil menarik tanganku menuju gedung olahraga sekolah.
"Tidak mungkin?! Tempo hari pointnya masih 800, kan?!" batinku dalam hati.
Di dalam gedung olahraga…
"AYO, KAKASHI!! WAW..WAW..WAW...." teriak para penggemar Kakashi.
"Kakashi memang hebat, ya. Kemarin dan hari ini dia habis-habisan... Ingin mengumpulkan point sebanyak-banyaknya. Gerakannya energik sekali. Nggak capek-capek. Padahal ini kan bukan pertandingan serius." jelas salah satu teman Kakashi kepada teman Kakashi yang lainnya lagi.
Aku pun tercengang dan terkejut ketika mendengarkan pembicaraan itu. Mataku membelalak dan wajahku memerah. Tiba-tiba...
Hup... Sret... Praaaak...
Mataku membelalak, wajahku memerah, dan mulutku membentuk seperti huruf 'O'. Aku amat sangat terkejut ketika melihat kejadian itu. Rupanya Kakashi telah berhasil membuat pointnya yang ke-1000.
"WAW...WAW...WAW...WAW... GO KAKASHI! GO!" teriak para penggemar Kakashi.
"UMINO!! BERJUANGLAH!!" teriak Kakashi tiba-tiba sambil membentuk huruf 'V' pada jari telunjuk dan jari tengahnya yang ditujukan khusus untukku.
"Ehm… Iya, aku akan berjuang…" balasku dengan senyuman dan anggukan kepala yang ku selingi dengan membentuk huruf 'V' pada jari telunjuk dan jari tengah seperti milik Kakashi dan khusus ku tujukan padanya.
"Kakashi telah mempersembahkan pointnya yang ke-1000 itu untukku. Pasti dia membutuhkan perjuangan yang sangat berat. Aku juga harus berjuang sepertinya." batinku sambil berlari keluar gedung olahraga menuju lapangan yang kubuat untuk ujian basket dan tersenyum bahagia.
Di lapangan…
Duk... Duk... Shiuuut... Praaaak...
"BAGUS, SHIZUNE!! REBOUND!!" teriak teman-teman Shizune saat ia berhasil memasukkan bola ke dalam ring.
Drap… Drap… Duk… Duk…
Sekarang giliranku memasukkan bola dalam ring. Aku mengeluarkan keringat dan tekad yang bulat untuk memasukkan bola tersebut. Ternyata, Kakashi dan seorang temannya telah melihat ku saat sedang mendrible bola. Tanpa kusadari, Kakashi ikut mendukungku dengan wajah yang merah.
"ADUH, JANGAN BEGITU, IRUKA!" teriak Shizune.
"KEMBALI KE SINI, IRUKA!" teriak teman Shizune.
"Oh, lagi ujian basket putri, ya?" ucap teman Kakashi yang ada di sampingnya. Kakashi pun diam saja dan tetap memperhatikan permainanku.
"Ukh... Kakashi... PINJAMKAN AKU KEKUATANMU..." teriakku dalam hati sambil memasukkan bola dalam ring.
Hup... Praaak...
Mataku membelalak melihat kejadian itu. Aku pun tersenyum bahagia penuh kemenangan.
"Ber... Berhasil..." ucap Kakashi pelan sambil berjalan meninggalkan lapangan yang tanpa ku sadari.
"Ber... Berhasil, teman-teman... Aku berhasil membuat 1 point..." seruku bahagia kepada teman-temanku.
"Iya, Iruka… Kamu berhasil… Selamat ya… Waw…waw..." sahut teman-temanku padaku, yang ku balas dengan senyuman bahagia.
Aku berlari keluar lapangan dan akan menghampiri Kakashi. Tetapi, Kakashi sudah tidak di tempat itu. Aku pun bertanya kepada teman Kakashi.
"Oh, Kakashi... Tadi dia berada di pancuran air, tuh." jawab teman Kakashi.
"Terima kasih... Drap... Drap... Drap..." balasku kepada teman Kakashi sambil berlari menuju pancuran air yang dimaksud teman Kakashi.
"Drap... Drap... Drap... Aku harus berterima kasih padanya... Berkat dia, aku berhasil membuat point... Aku bersemangat saat melihat dia mencetak point ke-1000…" batinku sambil berlari.
"Hosh… Hosh… HATAKE!!" aku terengah-engah dan berteriak saat telah menemukan Kakashi.
"Umino..." balas Kakashi sambil tersenyum padaku.
Aku berlari menuju Kakashi. Tiba-tiba, kakiku terkilir.
"Grek... KYAAA...!!!" teriakku saat kakiku berdenyut-denyut sakit.
"BAHAYA, UMINO!!" teriak Kakashi sambil berlari menuju ke arahku.
Aku berhasil ditangkap oleh Kakashi. Tetapi, sekarang aku sedang berada di pelukan Kakashi yang hangat itu. Wajahku dan wajah Kakashi memerah.
"Dheg... Dheg... Dheg... Ke... Kenapa tubuhku tak bisa bergerak... Aku harus lepas dari pelukannya... Tidak, aku tak mau lepas... Dheg... Dheg... Dheg... Dheg... Aku bahkan bisa mendengar debaran jantungnya!" batinku dalam hati dengan wajah merah padam
Tiba-tiba...
Sret... Kakashi melepaskanku dari pelukannya.
"Ah..." ucapku lirih
Sriiiing...
Cup....
Mataku membelalak. Ternyata pipi kanan ku baru saja dikecup oleh Kakashi. Kami saling bertatapan dengan wajah merah. Tetapi...
Drap... Drap... Drap...
Kakashi berlari meninggalkan aku sendirian di sini.
Dheg... Dheg... Dheg... Jantungku berdetak kencang. Aku menyentuh pipi kanan ku yang baru saja dikecup oleh Kakashi.
"Dheg... Dheg... Kakashi..." batinku dengan wajah merah dan mata terbuka lebar.
Di dalam kelas…
"Kalian sudah mengambil foto darmawisata yang kalian inginkan? Hari ini batas terakhir, lho. Buat yang belum ambil, cepat ya..." ucap wali kelasku memberikan pengumuman.
"Dheg... Hari ini batas terakhir mengambil foto..." batinku dalam hati.
Aku segera keluar kelas saat bel istirahat telah berbunyi. Aku berjalan menuju majalah dinding yang ditempeli foto darmawisata kelas 2. Rupanya hanya tinggal sedikit foto yang belum diambil Aku melihat foto nomor 69. Ternyata belum ada yang mengambilnya.
"Dheg... Aku... Ingin foto itu... Dheg... Tapi, gimana, ya… Dheg… Kalau kuambil, seisi kelas pasti tahu dan mereka akan semakin ribut..." batinku saat menatap foto nomor 69.
Aku berdiri tegak lagak sebuah patung di depan foto nomor 69. Aku bingung untuk mengambilnya atau tidak.
"Glek…, aku menginginkan foto itu…" tekadku bulat dalam hati.
Aku sudah menetapkan untuk mengambil foto nomor 69. Aku pun mengeluarkan pena ku untuk menulis namaku di bawah foto nomor 69. Bila aku telah menuliskan namaku di bawah foto tersebut, maka foto tersebut akan menjadi milikku. Namun, saat aku akan menuliskan namaku, tiba-tiba....
"TUH, DIA TULIS NAMANYA!" teriak seorang lelaki di belakangku, dan itu amat sangat membuatku kaget setengah mati.
"BENAR KAN TEBAKANKU! UMINO AKHIRNYA AMBIL FOTO ITU! ASYIK, AKU MENANG TARUHAN! HA..HA..HA.. " teriak laki-laki itu lagi kepada teman yang ada di sampingnya.
"SIAL, AKU KALAH DEH! HWA...HA...HA..." balas teman laki-laki itu sambil tertawa lebar.
Aku pun berlari dengan perasaan campur aduk. Sedih, dan juga malu. Tiba-tiba, aku mendengarkan suatu percakapan dua murid wanita yang sangat mengejutkanku.
"Ternyata Iruka berani sekali, ya..." ucap murid wanita itu.
"Masa, sih! Nggak percaya..." balas teman murid wanita tersebut.
"Idih..dibilangin tetap nggak percaya. Aku lihat, lho. Tadi di pekarangan belakang, Umino dan Hatake… Pelukan sambil cium-ciuman!" ucap murid wanita tersebut.
Aku kaget setengah mati. Aku ketakutan. Tiba-tiba...
Drap... Drap... Drap...
Kakashi berlari ke arah dua murid pria yang sedang berada di depan majalah dinding tadi. Rupanya Kakashi juga mendengarkan percakapan tadi.
"KA... KALIAN...!!" teriak Kakashi sambil berlari ke arah dua murid pria tersebut.
"KYAAAA....!!!" teriak dua orang murid pria tadi sambil berlari.
Kakashi mencengkeram baju yang digunakan oleh salah satu murid pria tadi. Kakakshi juga mengatakan sesuatu. Namun, aku tidak terlalu jelas mendengarnya.
"Memang benar, kan..." rintih salah seorang murid pria tadi yang dicengkeram bajunya oleh Kakashi.
"Idih! Mereka berdua punya hubungan apa, ya?" ucap dua murid wanita yang lewat.
"Lihat tuh, Umino hanya diam-diam saja." ujar dua orang pria yang lewat.
Dheg… Dheg… Dheg… Jantungku berdetak kencang. Aku ketakutan. Ingin rasanya aku menangis. Namun, apa dayaku. Aku hanya diejek-ejek oleh teman-temanku.
"HEI, UMINO! AYO AMBIL FOTONYA, NANTI KEBURU DISAMBAR ORANG, TUH!" teriak salah seorang temanku yang ada di sekitarku.
"SUIT… SUIT…" teman-temanku yang lain yang bersiul-siul saja untukku dan untuk Kakashi.
"Hen... HENTIKAN...!! HENTIKAN SEMUANYA!! AKU TIDAK MENGINGINKAN FOTO ITU!! ULAH KALIAN INI... HANYA MEMBUATKU KESAL, TAHU!!" teriakku kepada teman-teman yang ada di sekitar majalah dinding.
Kakashi terkejut mendengar ucapanku tadi. Dia pun langsung melepaskan cengkeramannya. Dia melihat ke arahku. Begitu pula dengan teman-temanku lainnya. Mereka hanya terdiam dan memandangku.
Dheg... Aku terdiam.
"Dasar... Sekarang kalian sudah mengerti, kan. Kami tidak punya hubungan apa-apa. Umino tidak punya perasaan apa pun padaku. Aku cuma... Bertepuk sebelah tangan..." jelas Kakashi kepada teman-temanku, lalu ia meninggalkan tempat yang telah terjadi keonaran tadi.
"Jangan gitu, Iruka. Kan kasihan si Kakashi..." ujar salah seorang teman perempuan kepadaku.
"Aku... AKU TIDAK BISA BICARA.... TIDAK PANTAS MENGATAKANNYA... Aku... AKU SUDAH TERANJUR MENYAKITI PERASAANNYA..." teriakku dalam hati.
Aku berlari meninggalkan tempat itu. Aku hanya menutupi wajahku menggunakan kedua tanganku. Orang-orang tidak tahu apa yang terjadi dibalik kedua tanganku ini. Sebetulnya, aku menangis. Aku berlari menuju kelas. Di dalam kelas sepi, tidak ada siapa-siapa.
Taarrr... Jedeerr... Saaaa....
"Ah, hujan turun deras... Petirnya keras sekali..." ucapku lirih sambil memandang keluar jendela kelas
Hari-haripun berlalu. Sejak kejadian itu, aku tidak pernah bicara lagi dengan Kakashi. Saat kami berpapasan pun, dia bahkan tidak mau menatapku lagi. Dia sekarang sudah bisa tersenyum lagi kepada seluruh murid Konoha Junior High School. Namun, tidak padaku. Memang wajar. Aku kan sudah melukai hatinya. Kini aku sendiri.
Taarrr... Jedeerr... Saaaa....
Hari ini hujan deras saat bel pulang sekolah telah berbunyi. Tiba-tiba, aku melihat sebuah sosok yang berada di pintu gerbang dalam sekolah, dan sepertinya aku mengenalinya. Sosok itu seperti menanti seseorang. Setelah aku dekati sosok itu, sosok itu merasa ada yang mendekatinya. Sosok itu langsung menoleh padaku. Ternyata...
"Ka... KAKASHI!" teriakku dalam hati setelah mengetahui siapakah sosok tersebut.
Sret... Aku pun segera berbalik arah untuk meninggalkan Kakashi sendiri. Namun...
"JANGAN PERGI!!" teriak Kakashi padaku.
"JANGAN PERGI, UMINO!! ADA SESUATU YANG INGIN KUBERIKAN PADAMU!!" teriak Kakashi lagi sambil menyodorkan sebuah amplop kecil yang dibawanya kepadaku.
Aku pun berjalan menghampirinya. Aku mengambil amplop yang dibawa Kakashi. Setelah kubuka amplop tersebut, ternyata...
"I... INI... FOTO NOMOR 69..." teriakku dalam hati dengan ekpresi terkejut
"Euhm, Umino, maaf kalau kamu merasa terganggu… Tapi, sayang kan kalau foto itu nggak diambil, kan? Kalau kamu nggak mau, buang saja. Aku... Cuma menyampaikan benda yang ingin kusampaikan." ucap Kakashi padaku sambil tersenyum. Manis sekali.
Drap... Drap... Kakashi berjalan meninggalkan aku sendiri.
"Aku... Aku ingin menyampaikannya..." batinku dalam hati sambil memandangi foto kami berdua, foto nomor 69.
Syut... Aku memasukkan foto tersebut ke dalam amplopnya. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Aku harus berterima kasih kepada Kakashi yang telah bersusah payah dan bekerja keras melampaui ejek-ejekan teman-teman untuk mengambil foto ini. Aku pun berbalik ke belakang.
"KAKASHI....!!!!" teriakku keras.
Taarrr... Jedeerr... Saaaa....
Namun, yang menjawab hanya petir dan suara hujan yang keras. Sekolah ini sudah sepi. Maklum, jam pulang sekolah sudah satu jam yang lalu.
Aku berjalan keluar gerbang sekolah dan berjalan menuju rumah. Di jalan, aku menangis. Aku terus memikirkan Kakashi. Aku yakin, bahwa aku telah menyukai Kakashi sepenuh hatiku.
"Aku ingin jujur pada diri sendiri. Jujur mengakui perasaanku... Berani bersikap baik pada orang yang kusayang. Besok di sekolah, aku harus berani mengungkapkan perasaanku padanya..." batinku dalam hati sambil berlari menuju rumah diselingi tangisan penyesalanku ini.
Paginya di sekolah...
Drap... Drap... Drap...
Aku berlari menuju sekolah. Seseorang menyapaku.
"Selamat pagi, Iruka-chan!" salah seorang teman perempuanku menyapaku.
"Ah, pagi juga, Kurenai-chan. Aku duluan, ya..." balasku sambil tersenyum padanya.
"Iya..." jawabnya.
Aku berlari menuju halaman sekolah. Aku menatap langit.
"Wah, cuaca cerah..." kataku sambil tersenyum menatap langit.
"Hari ini upacara kelulusan kami. Mulai hari ini, aku ucapkan selamat tinggal pada diriku yang pengecut..." batinku sambil menatap langit biru.
"Hmm..Kakashi belum datang, ya? Dheg... Dheg…" tanyaku dalam hati sambil mencari-cari sosok Kakashi di sekitar halaman sekolah.
"Duh, aku jadi gugup begini! Oh iya… Aku pasti jadi berani kalau lihat foto kami…" batinku sambil mengambil foto nomor 69 di dalam tasku.
Setelah ku ambil fotonya dari dalam amplop, aku membalik foto tersebut. Aku terkejut melihat bagian belakang foto tersebut. Ternyata ada tulisan di belakangnya.
"HEI, KAKASHI!!" teriak salah seorang teman Kakashi.
Dheg... Wajahku pun memerah. Segera ku masukkan foto nomor 69 ke dalam amplopnya, lalu ku masukkan ke dalam tas.
Aku berputar arah dan segera mencari dari mana suara itu bersumber. Setelah aku menemukannya, aku melihat sosok Kakashi di sebelah murid pria yang berteriak tadi.
"HATAKE!!" teriakku pada Kakashi.
Saat itu, Kakashi sedang menyeberang. Lalu, Kakashi membalikkan arahnya, dan memanggilku. Namun, dia tidak bergerak menghampiriku. Dia tetap berdiri di tengah jalan.
"Ah, Umino…" dia tersenyum padaku, dan akupun membalas senyumannya.
Tiba-tiba sebuah truk melaju cepat tepat di belakang Kakashi.
BRUUUUMM….
Suara truk itu keras sekali. Aku langsung berteriak keras.
"KAKA.... AAA... TIDAAAKK..." teriakku sambil menutupi wajahku saat melihat kejadian itu.
CIIIIITT... BRAAAAKK...
"TIDAAAKK...!!! KAKASHIIII....!!!" aku berteriak keras.
Namun, takdir Tuhan tidak seperti rencanaku. Tubuh Kakashi terpental sekitar tiga meter dari lokasi kejadian. Tubuh Kakashi pun remuk dan hancur berantakan. Kakashi tewas seketika.
Aku mengeluarkan foto kami berdua, foto nomor 69. Aku memandang foto itu. Berulang-ulang aku menyesalinya... Kenapa... KENAPA AKU TIDAK LEBIH CEPAT JUJUR PADANYA...!!!??!!
Kono nyotte ni
Kakaete ini kono toki no shizuku
Sotto ni girishimete wasureta kiyoku
Nakushita kotoba yeah...yeah...
Hitotsu, hitotsu omoi daseba
Subete wakate ita, kiga shite ita no ni
Iro aseta koto ba wa
Bokuno sugu sobani oite atta
Kota e no denai yoruto, hito hira no nuku morito
Haruka kanata no akogareto
Tada sore dake wo
Kuri kaeshin boku wa ikete
-Nakushita Kotoba _ No Regret Life-
Tep… Tep… Tep…
Grek…
Aku membuka pintu sebuah ruangan. Aku memasuki ruang seni musik di Konoha Junior High School. Aku melihat seisi ruangan ini. Sepi. Sunyi. Aku melihat sebuah meja yang berada di deretan paling depan. Di meja itu masih ada bekas tulisan sandi rahasia yang kubuat bersama pria yang kucintai di masa delapan tahun yang lalu.
"Kakashi... Sudah lama, ya. Sejak kamu tiada, aku menyegel foto darimu. Perasaan itu tetap tertinggal di dasar hatiku, tidak pernah berubah. Dan aku tidak punya keberanian untuk membaca pesanmu di balik foto itu." ucapku sambil berjalan menuju meja yang kutulisi sandi rahasia bersama Kakashi.
"Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa kamu sudah tiada. Meski 8 tahun telah berlalu... Aku baru berani membaca pesanmu sekarang." ucapku lagi sambil menyentuh meja tersebut.
Mataku pun langsung berlinang air mata. Aku mengambil sebuah amplop di dalam tasku. Di dalam amplop tersebut terdapat sebuah foto yang bergambarkan diriku bersama diri Kakashi. Aku mengambil foto tersebut dari amplopnya, lalu membaliknya. Aku mulai mengeja pelan-pelan tulisan yang ada di balik foto itu.
"Su… Ki… Da…." ejaku pelan-pelan.
"Ah, Sukida (Aku Suka Kamu)." aku mengulangi lagi tulisan yang tertera di bagian belakang foto tersebut.
Air mataku berkumpul di pelupuk mata. Aku memandang ke langit-langit ruangan seni musik Konoha Junior High School. Aku mulai membayangkan saat-saat bahagiaku bersama Kakashi. Aku pun tersenyum bahagia.
"Iya, Kakashi. Aku juga suka kamu. Semoga di sana kau mendengarkannya" ucapku sambil berlinang air mata.
Dengan begini… Selesai sudah perjalanan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku memandang fotoku bersama Kakashi itu sekali lagi.
"Kamu, Kakashi remaja… Akan hidup selamanya di dalam hatiku." ujarku sambil memandangi foto tersebut dengan linangan air mata.
The End...
Author...
Horee...
Selesai sudah fanfic pertamaku ini...
Semoga mina-san senang membacanya ya...
Pas mbaca fanfic ini tu enak sambil ngedengerin lagunya No Regret Life yang Nakushita Kotoba...
Aku aja sampai mau nangis…
Tapi nggak jadi... Hwa..ha..ha...
Tolong kasih kritik dan sarannya yach...
Ya udah deh, Sanji-kun mau pulang dulu ke rumah. Tadi habis jalan-jalan sama monyet ni. Capek deh...
Tunggu fanfic buatan Sanji-kun lainnya ya...
Sanji-kun mau mbuat fanfic yang baru dulu...
Da..da...
MET MBACA....!!!
Special Thanks for :
Umino Iruka
Hatake Kakashi
Yuuhi Kurenai
Shizune
Guy Maito
Konoha Junior High School (beserta seluruh guru, karyawan, & siswa-siswi)
Temen-temen Sanji-kun
Orang tua, saudara, dan lain-lain yang ada hubungannya sama Sanji-kun
Tentunya buat mina-san juga
Bye...
_-_ "Sanji Yagami" _-_
