Claire termenung memandang langit-langit kamarnya yang dihiasi cat bintang-bintang "Glow In The Dark". Kamarnya di penuhi dengan helaian rambutnya. Claire memotong rambut belakangnya, yang tadinya sepunggung sekarang menjadi sebahu, dan membiarkan rambut depannya lebih panjang sedikit dari pada rambut belakangnya.
Claire selalu membiarkan lampu di kamarnya tetap padam, dia ingin selalu melihat kilauan cahaya stiker-stiker bintang "Glow In The Dark" yang di pasangkan ibunya di dinding-dinding kamarnya. Claire yang sedang melamun dikagetkan oleh kedatangan pamannya.
"Apa kau masih ragu tentang misi ini, Claire?"V.V. muncul tiba-tiba di depan pintu kamar Claire.
"Tidak. Aku sudah yakin, ," jawab Claire tegas dan mantap.
V.V. tersenyum puas, "Kau memang keponakan yang paling bisa ku andalkan. Sepertinya tidak akan sia-sia kekuatan yang kuberikan itu," V.V. menyudahi pembicaraan dan meninggalkan Claire.
Datang tak di jemput, pulang tak di antar, Claire mengibaratkan pamannya dengan istilah jelangkung..XD..
Semua perlengkapannya sudah di siapkan. Kecuali sesuatu. Sesuatu yang sangat penting yang harus di bawanya dalam misi ini. Dia menuju lemari pakaiannya, dan mengambil sebuah pedang 'Two Handed Sword-nya'.Cavalry nama pedang itu, pedang yang berasal dari Inggris itu lebih kuat dari pada katana, bahkan bisa menembus batu bahkan baja dengan mudahnya. Hanya ukurannya saja yang berbeda dengan CAVALRY yang biasanya. Ukurannya lebih kecil, dengan ukuran sekitar 6 Inchi. Claymore itu berlumuran darah, banyak sekali.
"Ah, darah para eleven yang tidak berguna," bisik Claire sambil membersihkan darah yang melumuri Cavalry-nya itu,"Bagaimana pun juga, aku harus menghormati sang pangeran. Cavalry ku harus benar-benar bersih, karena suatu kehormatan bukan, dapat membunuh seorang pangeran?" dia memandang foto Lelouch, dan dengan gesit melemparkan Cavalry-nya tepat menancap pada foto Lelouch.
"Huatchii!" Lelouch bersin keras sekali, sampai-sampai Nunnally keheranan melihat kakaknya bersin Lebay seperti itu..XD
Nunnally menahan tawanya, "Onii-sama..Sudah lama tidak bersin seperti itu semenjak beberapa tahun yang lalu."
"Ah, benarkah? Oh, ya..Barang-barang mu sudah siap semua kan?"
"Sudah, Onii-sama..Sayoko-san juga membantu tadi, onii-sama flu kah?" Tanya Nunnally khawatir.
"Tidak, Nunnally. Entah kenapa bersin itu keluar tiba-tiba."
Nunnally tertawa lagi,"Ufufu~..Tentu saja, bersin memang selalu datang tiba-tiba, Onii-sama.."
Lelouch pun mentertawakan dirinya sendiri. Ya, memang ada yang aneh, atau hanya perasaannya saja? Lupakan itu, Lelouch. Semua firasat burukmu. Pikirkan hal yang baik dan bersenang-senang, itu yang harus ku lakukan, pikir Lelouch.
"Baiklah. Semua sudah siap kan? Ayo, ke Ashford Academy dulu untuk berkumpul..Kita akan ke bandara bersama-sama."
"Ok, Onii-sama."
"Tunggu, Lelouch!"
Sebelum Lelouch dan Nunnally pergi, ada suara panggilan yang mereka kenal.
"C.C.-san?"
"C.C.? Apa-apaan kau?" Lelouch memandang C.C., dia juga sudah bersiap-siap dengan kopernya, lengkap dengan berbaju seragam sekolah Ashford.
"Aku ikut," jawab gadis itu ringan."Study tour maksudku."
"T-tapi, kenapa?" Lelouch tak bisa membayangkan liburannya yang indah ini di ganggu oleh seorang gadis yang sangat menyebalkan, seperti yang ada di hadapannya sekarang ini.
C.C. menyadari ada Nunnally di sana. Tentu dia harus berakting,"Pertanyaan bodoh, Lelouch. Aku juga murid Ashford, wajib ikut study tour, kan?"
Lelouch mengerti. Mau tidak mau dia harus mengikuti jalannya akting C.C., ada Nunnally di sana.
"Maaf, aku hanya sedikit kaget. Kukira kau tidak ikut study tour.."
Nunnally tersenyum. Dia tahu kakaknya akan terlihat sangat lucu jika berhadapan dengan C.C.
"Itu bagus kan, Onii-sama? Akan semakin ramai jika lebih banyak yang ikut. Ayo, C.C.-san juga berangkat bersama kami," ajak Nunnally dengan senyuman khas wajah manisnya itu.
Mereka pun melanjutkan berjalan menuju halaman depan Ashford. Di sana sudah banyak bis yang akan mengantar mereka ke bandara.
"Heii! Kaliaaaan!" Milly malambai dari kejauhan."Cepatlah! Yang lain sudah masuk bis!"
"Ya, kaichou. Tidak perlu berteriak seperti itu," keluh Lelouch.
Perhatian Milly tertuju pada C.C.,"Oh! Kau siswi baru itu ya? Kalau begitu selamat bergabung di Ashford Academy. Kau bergabung di saat yang tepat," ucap Milly, dengan nada yang ramah."Aku Milly Ashford, ketua osis di sini. Lelouch, perkenalkan dirimu!"
"Tidak perlu, aku sudah mengenalnya," ujar C.C.
"Oh, begitu?" Milly memandang Lelouch dengan tatapan curiga."Ah, ya, pasti semua gadis cantik mengenalnya.."
"Kaichou!"Lelouch memperingatan si ketua osis untuk menjaga bicaranya.
"Hahaha, baiklah. Aku sudah membagi bisnya, sama juga untuk di pesawat nanti. Khusus untuk Nunnally, kau satu bis dengan kakakmu," Milly tau juga sifat Lelouch yang over protective itu.
"Terima kasih, Milly-san."
"Kalian bertiga di bis 2. Nah, masuklah, pilih tempat duduk yang tersisa."
Lelouch mengangguk. Dia menggendong Nunnally, dan meminta C.C. untuk melipat kursi roda Nunnally. Nunnally duduk di bangku paling depan, agar memudahkan gadis itu untuk keluar. C.C. langsung menduduki tempat duduk di sebelah Nunnally yang tadinya mau diduduki Lelouch. Lelouch mencibir. Kebetulan ada kursi kosong di barisan depan juga, Lelouch memanfaatkan duduk di depan untuk mengawasi tingkah laku C.C.
Lelouch duduk dekat jendela, dia memperhatikan Milly yang sedang sibuk mengurus keperluan study tour. Dia melihat ada seorang perempuan juga yang baru datang. Rambutnya keemasan, dan dia siswi di Ashford juga. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Milly, gadis itu masuk ke Bis 2, dan tempat duduk yang tersisa adalah di sebelah Lelouch, barisan yang paling depan sebelah kanan.
"Maaf," ujar gadis itu pada Lelouch."Boleh aku duduk di sini?"
"Tentu, boleh," jawab Lelouch."Sebelumnya, aku Lelouch Lamperouge, kelas 12."
"Aku Clea Ceriel, kelas 11," gadis itu tak lain dan tak bukan*halah* adalah CLAIRE NU BRITANNIA yang menyamar menjadi salah satu siswi kelas 11 di Ashford Academy.
"Oh, ya. Pantas aku jarang melihatmu, ternyata berbeda kelas..Duduklah, Clea," Lelouch mempersilahkan Claire duduk.
"Terima kasih, senpai," Claire menaruh tas yang biasa di bawanya dan segera duduk.
Shirley dan Kallen mengawasi Lelouch dari belakang. Jelas mereka sedang terbakar api cemburu melihat Lelouch dan . Suzaku-pun ikut-ikutan mengawasi gerak-gerik Lelouch, dan kebetulan duduk di barisan kedua, di belakang tempat duduk Clea, Suzaku duduk bersama Gino. Sayo duduk dengan Anya, mereka memilih satu barisan di belakang Gino dan Suzaku.
"OH! Akhirnya hari yang kutunggu-tunggu ini tiba juga!"Gino tidak mampu menahan kegembiraannya itu.
Lelouch menoleh kebelakang, Ya ampun..Kenapa Knights Of Round ada di barisan ini semua? Lelouch sekilas memandang sinis pada semua Knights Of Round yang ada di bis itu.
"Huh! Sudah kuduga, Lulu bersama dengan perempuan lagi!"keluh Shirley.
"Memang apa urusannya denganmu?"Kallen berkata dengan sangat sinis pada Shirley yang di anggapnya sebagai Rival juga.
"KAU….,"Shirley ingin marah, tapi dia berusaha menahan emosinya.
Kallen yang tadinya malas ikut Study Tour, terpaksa ikut karena dia sangat tidak bisa menolak bujukan Lelouch, yang memintanya untuk ikut juga. Wajah Kallen langsung memerah mengingat Lelouch. Mata violetnya itu, Lelouch begitu sempurna di mata Kallen dan Shirley pun untuk hal yang satu ini sependapat dengan Kallen.
"Haha, bis ini sepertinya akan sangat ramai ya," Sayo tertawa melihat tingkah laku seluruh siswa yang satu bis dengannya itu.
Anya tidak menghiraukan orang-orang di sekitarnya. Dia tetap sibuk meng-update blognya.
Milly pun akhirnya selesai mengurus seluruh perlengkapan, dia juga ternyata di Bis 2. Tapi dia memilih untuk duduk di pertengahan, dan duduk bersama Rivalz.
"BAIKLAH! MARI BERANGKAT!" Milly memberi aba-aba untuk pak supir bis, dan bis pun berjalan.
"Ini pertama kalinya aku naik bis!" ucap Gino girang.
Dalam hati, Suzaku berpikir, Wah, emang dasar anak orang kaya. Gak pernah naik bis.XD..
Lelouch terus memperhatikan keluar jendela. Sejenak dia menoleh ke C.C., untuk mengawasi gadis itu.
"Ano..Lelouch-senpai..," ujar si gadis berambut emas itu ragu-ragu.
Lelouch mengalihkan perhatiannya dari gedung-gedung area 11 yang sebagian sudah hancur karena perang kemarin, dan menatap Claire.
"Ya? Maaf, dari tadi aku terus menatap keluar jendela.."
"Tidak apa-apa, senpai," Claire menatap keluar jendela, pemandangan yang mereka dia lihat masih gedung-gedung yang hancur berantakan. "Mereka, jahat sekali."
"Mereka?"Tanya Lelouch.
"Ya. Kuro No Kishidan dan Zero."
Hati Lelouch langsung ngilu mendengar pendapat Claire, sama seperti dia mendengar pendepat teman-temannya tentang Kuro No Kishidan, selalu seperti itu pendapat mereka.
"Lalu…," Lelouch berusaha agar tidak terlihat mencurigakan, nadanya direndahkan, berusaha tersenyum mendengar pendapat Claire,"Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?"
"Semua orang juga pasti berpikiran seperti itu. Kuro no Kishidan benar-benar bodoh, mereka mungkin mengira Britannia akan mudah menyerah," Claire melihat ekspresi Lelouch yang sudah terlihat 'cukup' marah, dia tersenyum puas. "Ada apa, senpai? Kelihatannya senpai sangat berpihak sekali pada kuro no kishidan," Claire tersenyum mengejek.
"T-tidak, aku hanya.. Aku memang mendukung mereka, tapi..," Lelouch mulai salting.
"Tidak apa-apa senpai, semua orang pasti berbeda pendapat. Tapi tadi itu pendapatku, jadi jangan dipikirkan," lagi-lagi Claire tersenyum mengejek. "Mau kue, senpai?"
Entah bagaimana, tapi Lelouch merasakan aura jahat yang sangat kelam dari Claire, apa lagi kalau wanita itu sedang tersenyum. Lelouch pun jadi merinding, ngeri.
"Senpai?"
"Tidak, terima kasih, aku masih kenyang," jawab Lelouch. Memang ada yang aneh, perasaannya malah semakin buruk, dan membayangkan hal-hal yang tak diinginkannya.
"Lelouch, mau roti?" ucap Shirley dan Kallen berbarengan.
Lelouch benar-benar kaget. Tiba-tiba dua orang wanita itu sudah ada di hadapannya, padahal bis berjalan cukup kencang.
"Kamu ngapain ikut-ikutan, Shirley?" nada bicara Kallen meninggi, tapi Shirley sepertinya tidak mau kalah.
"Kau yang ikut-ikutan!" teriak Shirley.
"Lelouch juga gak bakalan mau makan roti gosong begitu! PAYAH..," Kallen tersenyum mengejek.
Shirley tak bisa menahan amarahnya lagi, di mulailah perang dunia antara Shirley dan Kallen. Milly pun melerai mereka berdua. Lelouch cuman bisa geleng-geleng melihat tingkah laku teman-temannya.
"Kalian ini! Liat situasinya kalau mau berantem! Kalau kita udah sampai di bandara, SILAHKAN BERANTEM SEPUAS-PUASNYA!" Kepribadian Milly yang lainnya akhirnya keluar juga. 'Evil' Milly.
Shirley dan Kallen benar-benar kaget Milly ternyata semarah itu. Mereka pun kembali ke tempat duduk mereka, dan duduk manis tanpa ada sepatah katapun yang diucapkan.
"Hee…Enak amat ya, jadi Lelouch. Terkenal, banyak cewek yang suka," ucap Gino asal.
"Bukannya kamu juga terkenal?" Tanya Suzaku.
"Iya juga sih, tapi kalah terkenal ama Lelouch. Pake ilmu pelet kali si Lelouch."
Dalam hati Suzaku berpikir, Emang pake ilmu pelet alias geass. Suzaku tersenyum sinis. Tanpa disadari, Arthur sudah mencakar-cakar kaki Suzaku.
"HAH?!" Gino berteriak kaget."Ngapain bawa-bawa Arthur?"
"Arthur juga bagian dari sekolah ini. Lagi pula kemanapun aku pergi, aku akan terus membawa Arthur," Suzaku tersenyum, dia mengangkat Arthur ke pangkuannya, Arthur malah mencakar Suzaku lagi.
Dasar, Maniak Kucing, pikir Gino.
Sementara itu satu barisan di belakang Gino dan Suzaku, masih ada Anya yang sibuk dengan blog-nya, dan Sayo yang lagi asik makan keripik. Anya pun akhirnya berhenti memainkan blognya. Dia memandang keripik yang sedang di makan sayo. Anya pun langsung memasukkan tangannya ke plastik keripik itu.
Sayo yang baru menyadari, langsung kaget, Anya dengan wajah tak bersalah memakan kripiknya dengan sangat santai.
"Areee..Anya, kenapa gak bilang pengen keripik? Padahal tadi ku tawarin, tapi Anya ga mau.."
Anya malah mengambil plastic keripik itu, dan malah menawari keripik itu pada sayo.
"Sayo, mau?"
Sayo keheranan..Kenapa keripik yang tadinya miliknya, sekarang malah terlihat seperti milik Anya. Tapi akhirnya Sayo tetap memakan keripiknya yang mungkin sudah berpindah kepemilikannya..XD
Akhirnya mereka sampai di bandara. Milly menyuruh untuk berbaris, jangan sampai ada murid yang terpisah dari rombongan.
Para murid mengambil Tas dan koper mereka di bagasi. Gino terlihat kesusahan karena memang barang bawaannya cukup banyak. Dia mengecek ranselnya, lalu seketika wajahnya menjadi pucat.
"NOOOOOOOOO..DOMPETKU KETINGGALAN!"
Bagaimana nasib gino dan seluruh murid ashford selanjutnya?
Tunggu di next chapter..
Gomen, lama banget bikin chapter 3 ini..==
lg sibuk2nya..tp untuk chapter 4, kemungkinan ga makan waktu lama
