2. Bintang Tak Menjawab

"tapi, tetua! Bukankah tugas bunke adalah melindungi souke?!" protes Neji saat mendengar perintah dari tetua Bunke yang memanggilnya.

"kau salah Neji. Tugas Bunke adalah melindungi darah Hyuuga. Melindungi souke adalah salah satunya,".

"tapi kenapa? Kenapa harus.."

"kenapa harus kau, itukah yang ingin kau katakan Neji? Itu sebuah pertanyaan yang sangat mudah. Kau adalah seorang bunke yang sudah melewati pewaris sah souke, Hinata-sama. Kau adalah kebanggaan klan Hyuuga. Yang menjadi kepala keluarga haruslah orang terbaik. Bukan orang yang terlemah,".

"tapi.."

"Neji.. Hizashi sangat meninginkan kau terlahir sebagai souke. Terpilihnya Hiashi-sama sebagai Souke adalah kesalahan. Ayahmu lah yang harusnya terpilih. Dan inilah kesempatanmu mengubah hal itu."

Cahaya lilin yang bergoyang merubah warna mata putihnya menjadi kemerahan. Kata-kata tetua membawanya kembali ke masa lalu, saat yang selalu berputar di kepalanya saat nama ayahnya lewat di telinganya.

XxX

"tou-san, kepalaku sakit.." kata Neji sambil memegangi dahinya yang tertutup perban putih. Tempat dimana segel bunke-nya terpahat.

Ayahnya tersenyum lembut menenangkan, "itu karena segelnya mesih baru. Tak lama lagi rasa sakitnya akan hilang Neji. Percayalah..".

Sedetik, mata ayahnya terlihat sayu dan lemah. Membuat kenyamanan yang Neji rasakan berganti menjadi kekhawatiran.

Ayahnya segera menyadari kekhawatiran putranya, kembali tersenyum lembut, "Neji, kau adalah orang yang di cintai bakat klan Hyuuga lebih dari siapapun. Hiduplah terus, Neji.."

Neji tercengang mendengar kata-kata ayahnya.

"aku.. sungguh berharap dapat melahirkanmu di souke.."

XxX

Disinilah Neji sekarang. Duduk di teras berlantai kayu di depan kamarnya. Merenungi takdir yang –entah oleh siapa—telah ditentukan untuknya. Bintang-bintang berkedip ramah ke mata putih yang menatap mereka. Mata yang tanpa emosi tapi jelas menunjukkan ribuan tanya di belakangnya. Andai bintang-bintang bisa berbicara.. tapi sayang mereka tak bisa. Dan kalaupun bintang bisa berbicara, apakah mereka tahu jawaban dari pertanyaanya?

"Neji nii-san?"

Neji terlonjak kaget. Ia menengok, menatap pewaris sah Hyuuga yang tersenyum lembut.

Sungguh mencengangkan menatap mata Hinata dan Neji. Walaupun mereka sama-sama memiliki bola mata Byakugan, tapi mata hinata begitu sayu dan penuh dengan kesedihan. Padahal hidupnya terlihat lebih mudah di banding hidup sang bunke yang tanpa pilihan. Kesedihan apa yang sebenarnya terlihat disana? Jelas buka kesedihan karena kasih yang bertepuk sebelah tangan. Kesedihan yang ada disana jauh lebih dalam.

Neji tidak menjawab, ia kembali melemparkan tatapannya ke langit malam. Hinata telah terbiasa dengan aura dingin yang dimiliki sepupunya, "boleh aku duduk?"

Neji mengagguk kecil, tanpa menoleh.

Waktu berlalu dalam diam. Setiap kata yang akan melayang keluar dari mulut, kembali tertelan saat menatap mata putih itu lurus menatap langit.

"neji nii-san?"

Diam.

"aku.. aku ingin kita bisa berteman baik. Bagaimanapun, kita bersaudara.."

Diam.

"bicaralah padaku kalau Nii-san ada masalah. Oyasuminasai.."

Tepat saat Hinata berbalik, terdengar jawaban pelan dari Neji.

"hmm.. Oyasuminasai.."

Hinata tersenyum. sang sepupu yang dingin, tapi sebenarnya baik. ya, Neji-niisan adalah orang yang baik.

Minaaa!! tenang.. tenang..berdasarkkan review, gw udah memutuskan Neji bakal sama siapa.. next chapter, ada lime nya!! sabar yuup..

(edit) batal lime. finally figure out, i'm not perverted enough to write it. tapi rate-nya ga dirubah. anggep aja karna angst. hehe.. terus untuk sementara cerita ini ga ada updatenya. blame the virus. sekarang gue lagi bikin yang Shika-Tema: Apa yang Membuat Awan Menarik.