Thanks' for all the review! Hehehe makasih banget ya semuanya, jadi makin semangat untuk melanjutkan cerita ini. Saya sendiri udah aware kok sama penurunan kualitas cerita dari chapter 2 ke chapter 3 terakhir kemarin. Sebenernya udah ada versi sebelum chapter tiga ini yang (menurut saya) amat-sangat-jauh-lebih berkualitas dari pada yang ini. Masalahnya selama tiga minggu terakhir ini computer lagi ngambek minta di banting. Akhirnya harus di kirim buat di apus semua data. ;; dan chapter tiga yang saya keluarin kemaren Cuma buat menghibur hati saya sendiri dan para pembaca sekalian. Maaf ya kalo ternyata kurang menghibur.
4. Saudara
"bodoh! Neji kau bodoh! Tidak, kau idiot!" maki Neji sambil berlari melewati gerbang mansion Hyuuga. Menuju ke kediaman Bunke, ke kamarnya. Tak menggubris keluarganya yang sibuk berlalu lalang di sekitarnya.
Dengan bantingan kasar ia menutup pintunya, lalu bersandar di sana. "idiot! Kau menciumnya! Menciumnya! Dan dia.. dia terbangun!"
Neji menggelosor, terduduk masih sambil bersandar pada pintu kamarnya. Menatap kosong ke bayangan dirinya di cermin. Wajahnya merah padam. Merah karena habis berlari dan merah karena.. yah.. karena darah muda mungkin ya?
"haaah.." ia menghela napas lelah. Kenapa ia sampai melakukan hal itu? Yah, bukan berarti ia menyesal melakukannya. Perasaan itu, saat bibirnya menyentuh lembut bibir gadis itu..
"apa yang kupikirkan?!" geram Neji kesal.
Apa yang dipikirkannya? Dengan satu pertanyaan itu, ingatanya membawanya kembali pada masalah yang jauh lebih pelik dalam dirinya. Hyuuga..
Seakan sadar akan pikiranya, tiga ketukan membentur pintu kamar Neji. Neji bangkit, "siapa?" tanyanya.
"Ini Aku, Rihou. Neji-san, kau di panggil Hiashi-sama,".
Hiashi-sama? Ada apa sebenarnya? Tak biasanya pamannya itu memanggil Neji. Beliau biasanya sibuk berurusan dengan tetua desa mengenai masalah-masalah tertentu. Status sebagai kepala klan besar memang bukan main-main.
Neji membuka pintu geser kamarnya. Di sana berdiri Rihou Hyuuga, sepupu jauhnya. Umurnya tak jauh di bawah Neji. Ia memakai Hakama sepert kebanyakan Hyuuga.
"terima kasih Rihou, dimana Hiashi-sama?"
"Ia menunggumu di Dojo. Aku pamit Neji-san,".
Setelah membungkuk, Rihou berlalu. Bungkukan itu bukan untuk menunjukkan hormat Karena Neji yang lebih tua. Ia membungkuk untuk menunjukkan perbedaan Strata mereka. Karena bahkan dalam Bunke, masih ada perbedaan kelas. Neji yang ayahnya adalah kembaran dari kepala Klan pastinya lebih di anggap di bandingkan Rihou yang orangtuanya berasal dari Bunke biasa.
XoX
Dojo Hyuuga adalah salah satu ruangan terbesar di sini, fasilitasnya pun lengkap. Karena di Dojo inilah, para Hyuuga berlatih Taijustu, salah satu sebab yang membuat mereka menjadi keluarga terkemuka di Konoha. Biasanya di sini ramai dengan mereka yang berlatih. memukuli karung pasir atau mematahkan bambu sasaran dengan tendangan. Tapi kali ini Dojo itu sunyi sepi.
Hanya seorang Hyuuga yang berdiri di tengah ruangan dengan tenang. Ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut saat pintu Dojo tiba-tiba bergeser terbuka saat Neji masuk. Dengan gerakan halus ia berputar, menatap keponakannya.
Dengan sopan Neji membungkuk, "ada apa paman memanggiku?" tanyanya.
"aku ingin mencoba bertarung denganmu sekali, Neji. Hanya berlatih, tentu saja".
Neji terkejut. Hiashi Hyuuga? Menantangnya? Ada apa sebenarnya?
"kau keberatan?" Tanya Hiashi.
Tentu saja tidak. Biarpun baru saja berlatih bersama Tenten, tapi energinya sudah kembali setelah istirahat tadi. Dan ia sebagai seorang petarung memiliki dorongan untuk bertarung dengan mereka yang menurutnya lebih kuat.
"kalau itu keinginan Hiashi-sama.."
Jujur saja, Neji tak banyak berharap dalam pertarungan ini. Usia seakan tak mengurangi tenaga Hiashi-sama. Gerakannya begitu lues dan tegas. Serangan-serangan Neji dipatahkannya seakan itu bukan apa-apa.
"Kau tau aturannya, Neji. Kau harus menyerangku dengan niat membunuh, atau kau takkan bisa melukaiku!"
Jadi itulah yang Neji lakukan. Bagi orang biasa merubah niatan seperti itu mungkin mustahil. Tapi sebagai ninja hal itu adalah salah satu syarat terpenting dalam pertarungan. Dan neji saat ini jadi berpikir sendiri. Itukah sebab kekalahannya pada Tenten tadi pagi? Karena Neji telah lama kehilangan keinginan niatan membunuh pada Tenten?
Dan pikiran tersebut membuat gerakanya entah untuk keberapa kali jadi tak berarti di depan Hiashi-Sama. Sebuah sentuhan ringan di dahinya membuat Neji terpental ke dinding dojo.
"kelengahan seperti itu sama sekali tak bisa ditoerir, Neji. Tapi kita sudahi saja latihan ini."
Hiashi beranjak ke arah Neji yang masih terjembab, lalu berjongkok di hadapanya, sehingga mata mereka berada di posisi yang sama.
Wajah Hiashi-sama melunak sampai tersenyum penuh haru, "Neji aku sangat menyayangimu, lebih dari diriku sendiri. Karena di dalam dirimu aku bisa menatap Hizashi, saudara kembarku."
Lalu ia tersenyum ramah, "inilah yang biasanya kami lakukan. Berlatih tanding seperti tadi. Tapi biasanya akulah yang ada di posisimu.
Hiashi sama bangkit, berbiacara seakan pada dirinya sendiri sambil berjalan dalam lingkaran. "satu hal yang mejadi masalahnya. Ia ingin meruntuhkan sistem Hyuuga yang ada, dari mulai Bunke-Souke sampai pemahatan segel Juuin. Ia membuat para tetua resah. Ia bukanlah Bunke sembarangan. Saat itu kemampuanku yang seorang Souke jauh di bawahnya. Ia merencanakan kudeta pada kedudukanku, itulah keyakinanku dulu"
Tiba-tiba Hiashi berbalik menatapnya, "tapi aku salah Neji. Ia mendapat tekanan dari Bunke atas. Ialah satu-satunya harapan mereka untuk mensejajarkan diri ke Souke, saat itu. Serangan yang ia lakukan pada Hinata—mungkin kau masih ingat—tidak ia kerahkan sepenuh tenaga. Kalau iya, aku takkan bisa menghentikkannya.
"dan aku memiliki sebuah asumsi, Neji. Ayahmu, Hizashi, dari dulu adalah seorang pembangkang sejati. Ia takkan pernah tunduk tanpa memukul lebih dulu. Kurasa ia membangkang pada atasannya. Dan itulah sebabnya ia dikirim menggantikanku. Karena ia bukan lagi seorang bidak yang menurut pada pemainnya. Aku menyadari hal ini saat mengingat kata-katanya dulu, 'biarlah kematian ini menjadi satu-satunya pilihanku sendiri.'"
Hiashi menatap tajam pada Neji, "aku tak bilang kalau yang kukatakan barusan adalah kebenaran. Itu hanya asumsi yang kupercaya. Dan aku tau hal ini bisa terulang lagi, Neji. Karena sejarah selalu berulang, dan kini kau ada di posisi Hizashi. Tekanan dari atas akan sangat kuat. Dan aku tau apa perintahmu. Tapi aku ingin kau mengecamkan kata-kataku ini: aku akan selalu melindungi putriku, walau dengan nyawaku. Biarpun bila saat itu tiba, tak ada lagi Hizashi yang akan menggantikan hukumanku."
Setelah berkata begitu, Hiashi berbalik dan keluar dari Dojo itu. Meninggalkan Neji yang masih mencerna kata-katanya. Ingatannya berbalik ke hari dimana tetua Bunke memanggilnya.
X0X
"memang apa yang bisa ku lakukan?" Tanya Neji.
Dalam keremangan ruangan itu Neji dapat melihat sang tetua Bunke tersenyum.
"yang kau perlukan adalah dukungan. Itu sudah kau dapatkan. Souke saat ini semakin meragukan kemampuan Hinata-sama. Yang benar-benar dibutuhkan saat ini adalah menghabisi dia. Kita tak perlu terlalu memikirkan adiknya, karena ia belum cukup umur saat ini. Hiashi-sama biar kam yang mengrus".
"jadi apa tugasku yang sebenarnya?" Tanya Neji.
Dan saat itu mata tetua Bunke itu di penuhi kilatan kemenangan. Akhirnya sebuah bidak baru. "bunuh Hinata-sama.."
XOX
Neji membenamkan wajahnya di lututnya, "ayah.. apa yang harus kulakukan?"
Mungkin semua merasa kalo saya membuat Hizashi sebagai seorang Superior di atas Hiashi. Kalo ada yang mau tau, pertimbangan saya adalah dari mengambil kata-kata Hiashi saat Neji bertarung dengan Naruto. Saat itu Hiashi berkata dalam hati: "Hizashi ternyata yang menjadi Souke seharusnya kau.." yah ga persis seperti itu, tapi maknannya ga jauh dari itu deh.
Yeaaaah! Jauh lebih cepet dari pada update chapter tiga! Keep reading! Love you all. MMUUUAAAH!
