Silahkan Skip bagian Bold ini, gue ga peduli kok. Ini Cuma permintaan maaf gue doang.

Sorry for long update. Banyak banget hambatan buat nge-update FF ini. Dari mulai lupa ingatan--gue bener-bener lupa Plot yang tadinya tersimpan di kepala, emang harusnya sih langsung ditulis, ya?—sampai masalah koneksi internet dan nggak lupa memory komputer yang ke format. Tapi akhirnya di update juga kaan? Hehehe.

Nggak lupa Review-nya supaya tulisan gue ada perbaikan buat kedepannya. Makasih buat para reader yang masih baca FF ini. Yakin deh, kalianlah yang bikin gue tetep bikin Konflik Neji ini!



5. Semangat!

Masalah, masalah dan masalah lagi!

"Heah!" teriakan dan tendangan yang ditunjukan pada sandbag itu melampiaskan emosi Neji.

Pembicaraanya dengan sang Hyuuga agung, Hiashi-sama, hanya membuat konflik dalam dirinya makin membuncah. Ia tersenyum sinis pada sandbag yang terayun- ayun pada rantainya itu. Mungkin seperti itulah keadaan Neji saat melawan Hiashi-sama, hanya target yang tak melawan.

"Neji-niisan?" terdengar suara lembut memanggilnya.

Di pintu dojo itu memunggungi cahaya, Hinata berdiri, mengenakan kimono rumahnya.

Neji menatapnya dalam kebisuan. Ia sengaja membuat kebisuan janggal mengambang diantara mereka. Ya, Neji sengaja menimbulkan kesan tak ramah dan menjaga jarak dari sepupunya itu. Bahkan ia sendiri tak mengerti mengapa. Mungkin baginya terlalu ironis untuk bersikap terlalu baik pada Hinata. Mungkin juga memang ia tak ingin terlalu dekat padanya. Mungkin karena ia memang membencinya.

Dan Hinata sepertinya telah terbiasa dengan itu semua.

"Neji-niisan, ada yang mencarimu," kata Hinata sambil tersenyum.

Ya, ia seakan tidak lagi memikirkan hubungan pelik antara mereka. Yah memang ini hanya 'ke-pelik-kan' satu sisi. Sisi Neji.

Neji hanya menyuarakan "hm.." singkat untuk merespon itu.

"Tenten ada di gerbang. Jangan membuatnya menunggu terlalu lama".

Seketika langkah Neji terhenti, bukan hanya langkah tapi juga denyut nadinya. Tenten? Menunggunya? Ya tuhan! apa lagi yang kau timpakan pada hambamu ini?

perjalanan singkat ke gerbang depan itu menjadi saat yang terasa panjang bagi Neji. Apa yang harus ia katakan? "maaf aku tiba-tiba menciummu?" rasanya janggal mengatakan itu bahkan walau hanya dalam pikiranya! Yah konflik yang satu ini memang ia sendiri yang memancingnya.

Tenten meniupkan nafasnya ke kedua belah tangannya. Musim dingin memang belum datang ke Konoha tapi angin utara yang dingin telah mulai bertiup. Biasanya ia paling malas berlatih di hari yang dingin begini. Apa lagi Neji selalu menuntut untuk berlatih outdoor, katanya itu meningkatkan fleksibilitas mereka dalam bertarung, dalam memanfaatkan keadaan. Yah Tenten menurut saja. Neji mau menjadi lawan bertarungnya saja sudah bagus.

Tapi saat ia harus melawan Neji sekaligus angin dingin, tetap saja sulit bagi Tenten untuk bergerak dari rumahnya. Tapi hari ini sedikit berbeda untuknya. Kemarin ia baru saja mendapat mimpi yang indah. Mimpi yang membuatnya terus tersenyum sepanjang hari sejak kemarin sore hingga saat ini.

Tenten menengok saat merasakan seseorang mendekatinya. Disana ia berdiri tegak. Peluh memenuhi wajahnya. Kedua tanganya masuk ke lengan bajunya.

"ada apa?" tanya Neji tanpa basa-basi.

"loh? Kupikir kita akan berlatih lagi hari ini. Tapi sepertinya kau sudah pemanasan duluan ya?".

Aduh! Aku benar-benar lupa! Pikir Neji. Otaknya berputar cepat. "yah hari ini kan dingin, kupikir kau..".

Dalam hati Neji bersyukur telah memasang topeng datar di wajahnya.

"oh aku sedang bersemangat hari ini! Ayo ayo kita berlatih!"

Kenapa dia tak membahas 'hal itu?' Ia seakan lupa sama sekali! Tapi baguslah dengan begini Tenten takkan menyadari perasaanya yang sebenarnya. Dan mengapa saat menyadari hal itu Neji malah merasakan rasa sesal dalam dirinya?

XxX

Saat Tenten berkata ia sedang bersemangat, yah.. ia memang sedang bersemangat.

Sebuah Shuriken meluncur tepat ke arah Neji lewat blind spot-nya. Untunglah Neji sudah mengkonsentrasikan chakra ke sana sehingga ia bisa merasakan Shuriken itu. Dengan putaran dahsyat, senjata-senjata lainya terpental begitu saja.

Tepat sebelum putaran Neji berhenti, di saat ia sedang goyah, Tenten muncul dengan Kunai di tangan siap menumbangkan Neji, tapi kali ini Neji sudah mengantisipasi gerakan ini. Neji membiarkan dirinya jatuh, serangan Tenten mengenai udara di atas kepalanya, seketika Neji menemukan kembali pijakanya dan menggenggam lengan Tenten lalu menariknya jatuh.

Tapi tak selesai sampai di situ, saat jatuh tiba-tiba Tenten berubah menjadi sebatang kayu. Dan saat itu sebuah kunai menempel di leher Neji

"dan Neji Hyuuga gugur dalam pertarungan!" kata Tenten senang.

"kalau kau suka menang, aku akan mengalah walaupun sebenarnya aku masih bisa melakukan banyak hal untuk menyelamatkan diriku dari kunai kecil itu", kata Neji.

"hem.. misalnya?"

"seperti mengeluarkan chakra dari ujung jariku yang kini ada di pinggangmu?"

"ah! Kau benar! Aku memang masih jauh dari mengunggulimu!" kata Tenten sambil menjatuhkan dirinya ke atas rerumputan. "tapi kau tetap saja harus memujiku untuk taktik-ku tadi! Kau tidak menyangka aku akan melakukannya, kan?"

Neji menenggak minuman dari botol bambunya, "baiklah, itu memang taktik yang bagus. Aku benar-benar tertipu. Kau bersemangat sekali tadi. Tumben"

"hei! Aku memang biasanya bersemangat tau!" kata Tenten sambil melemparkan sebutir batu ke arah Neji—yang dihindari dengan sempurna oleh sasaranya.

Tenten tersenyum, ya hari ini ia sangat bersemangat.

"aku bermimpi bagus kemarin," katanya sambil tersenyum.

"mimpi apa?" tanya Neji.

"mana mungkin aku bilang mimpi di cium Neji Hyuuga di depan orangnya langsung!" gumam Tenten sambil membereskan senjata-senjatanya yang berserakan.

"Apa?"

"bukan apa-apa!"

XxX

"lalu kau mengatakanya? Begitu saja? Tepat di depan orangnya langsung begitu?"

Dan saat Tenten mengangguk, Ino tertawa terbahak-bahak, Sakura tertawa kecil.

"oh ya, aku bisa membayangkan kalau Neji sebenarnya mendengar ucapanmu, tapi ia berpura-pura tak mendengarnya," kata Ino.

"iya, bisa saja. kenapa sih kau bisa kelepasan begitu?" tanya Sakura.

"aduh jangan bilang begitu. aku juga tak tau kenapa bisa kelepasan!" kata Tenten membela diri.

Tenten, sakura, dan Ino sedang berkumpul di warung dango. Biasa, rutinitas selesai latihan. Sekedar bergosip, namanya juga anak gadis.

"menurutku sih kau harus mengatakan perasaanmu," kata Ino sambil menyesap tehnya.

Sakura mengangguk, "kau terlalu lama memendam perasaanmu,".

Tenten diam saja. Mudah bagi mereka berkata begitu! mereka berdua bisa dengan mudah mengejar-ngejar Sasuke kemana-mana. Dan Sasuke memang tampan. tapi yang dia suka Neji! Neji Hyuuga! Yah kalau soal tampang, baginya Neji nggak kalah dari Sasuke. Tapi kesombongan dan keangkuhan keduanya bisa disejajarkan. Malahan, Kalau menurutnya pribadi, Neji menang sedikit dari Sasuke.

"tapi kalian berpikir tidak sih? Neji itu anggota Klan Hyuuga! Menurutku ia pasti sudah di jodohkan dengan gadis dari klan besar lainya."

"aku yakin, seyakin masa mudaku yang gemilang Neji takkan mau di jodohkan!"

di sebelah Tenten tiba-tiba muncul mahluk dengan potongan rambut aneh dan pakaian yang memalukan berwarna hijau.

"Lee! Jangan muncul tiba-tiba begitu!" kata Tenten sambil menjitak kepala teman satu Timnya itu.

"kalau memang kau tak yakin, aku akan tanyakan padanya!" sambil berkata begitu, Lee bangkit dari kursinya.

"eeh Lee, Tunggu!!"

Tapi Lee sudah berlari, meninggalkan kepulan debu dan semburat hijau—tak lupa disusul seorang gadis berambut cepol dua—Menuju Mansion Hyuuga.

------- ---- ------

Next: Bidadari Cinta Hijau!