update langsung 2 chapter. Enjoy! :D
6. Bidadari Cinta Hijau
Hinata saat itu sedang duduk di teras rumahnya saat mendengar suara mengetuk tergesa-gesa dari pintu gerbang. Biasanya beberapa orang Bunke akan datang tapi tak ada siapa-siapa saat itu. Jadi Hinata bangkit dari duduknya dan membuka gerbang. Disana berdiri Tenten, napasnya terengah-engah.
"A.. ada apa, Tenten?" tanya Hinata sambil memberi isyarat agar gadis itu masuk.
"apa Lee sudah sampai?" tanya Tenten sambil melangkah masuk.
Hinata menggeleng.
"syukurlah.. dimana Neji?"
"aku belum melihatnya. Mu.. mungkin belum pulang,".
Hinata mengajak Tenten duduk di tempatnya tadi. Setelah nafas gadis yang lebih tua itu kembali normal, ia bertanya, "ada apa se.. sebenarnya?"
Dan Tenten kemudian menceritakan peristiwa di kedai. Bagaimana ia sedang membicarakan tentang kebodohannya saat latihan akibat 'mimpi yang membuatnya bersemangat'. Komentar-komentar Sakura dan Ino, pikirannya tentang Neji yang mungkin sudah dijodohkan dan kemunculan serta kepergian Lee yang membawa petaka.
Ya, Tenten membicarakan itu semua tanpa merasakan kalau saat itu ada sepasang bola mata Lavender selain milik Hinata yang memperhatikan kedua gadis itu.
OoO
"yah jadi begitulah ceritanya sampai aku datang ke rumahmu." Kata Tenten.
Hinata tersenyum, "ku.. kurasa Ino dan Sa.. sakura benar. Kau harus jujur pada perasaanmu se.. sendiri. Tapi aku ju.. juga mengerti betapa sulitnya hal itu. Dan ka.. kalau soal perjodohan Neji-niisan, kurasa ia bisa menjelaskannya sendiri."
Hinata memberi tanda pada Tenten untu menengok kebelakang. Disana Neji berdiri. Wajahnya bersemburat merah yang Tenten yakin tak semerah wajahnya sendiri.
Hinata buru-buru pergi meninggalkan mereka berdua. Sebenarnya ia ingin tinggal dan menyaksikan langsung semuannya, tapi sudahlah. Ia masih bisa menyaksikan itu dari tempat spesial yang sudah disiapkannya. View dari sana adalah view terbaik untuk melihat teras rumah utama Hyuuga. Dan ditempat itu ada Lee, Sakura dan Ino. Dan ia tau, Ino sudah melakukan pemidahan jiwa ke seekor capung yang kini hinggap dengan santai mendengarkan apa yang terjadi dari dekat tempat itu sementara nanti raga Ino akan memberitahu mereka kata-perkata.
OoO
"aku.."
Neji menggeleng, "kau tak perlu mengatakan apa-apa lagi. Aku sudah mendengar semuanya tadi. Dan.. aku mau meminta maaf.."
Inilah.. jadi ini akhirnya. Pikir Tenten. Yah paling tidak ia telah mengetahui perasaan Neji padanya.
"Ja.. jangan meminta maaf, Neji. Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa, justru aku yang salah," kata Tenten sambil membuang muka. Ia tak ingin Neji melihat air mata yang mengalir di pipinya sekarang. Tapi terlambat, air mata itu menetes ke lantai kayu meninggalkan bercak yang berwarna lebih tua dari sekelilingnya. Tenten berbalik, ingin meninggalkan tempat itu secepatnya.
Tapi tangan Neji menahan lengannya. "dengarkan aku dulu," Pinta Neji.
"aku ingin meminta maaf untuk beberapa hal. Untuk tak dari dulu mengatakan padamu bahwa aku TIDAK PERNAH DI JODOHKAN. Dan.. untuk tak lebih dulu mengatakan kalau aku... juga menyukaimu."
Tenten berbalik, menatap Neji yang balik menatapnya.
Sunyi diantara mereka.
…
….
"Kau.." gumam Tenten, tapi tak menemukan kata-kata yang pas, sementara Neji terus terdiam menatap Tenten.
"Neji kau BODOH!!!" kata Tenten sambil tersenyum dengan air mata yang masih menetes di matanya. Ia membenamkan wajahnya di dada Neji yang dibalas oleh sang Hyuuga dengan belaian lembut yang kaku di kepalanya.
OoO
Beberapa menit sebelumnya.
Lee menempuh jalan yang berbeda dari Tenten, ia tidak melewati jalan tapi lewat atap. Saat dalam perjalanan ia berpikir keras. Ia harus menyatukan kedua sahabatnya itu bagaimanapun caranya! Bukan demi masa depannya yang gemilang, tapi demi masa depan cinta Neji Hyuuga dan Tenten yang bersinar terang di ufuk timur!
Saat sampai ke Mansion Hyuuga ia bertemu orang yang ia cari, Hinata.
Mereka menyusun rencana. Dari mulai Hinata menunggu Tenten, sementara Lee akan membawa Neji secepatnya sampai ke rumah. Tak lupa juga membawa Ino sebagai microphone untuk mendengarkan. Dan tak boleh ditinggal juga, Sakura-san!
Sementara menunggu, Hinata akan menemukan posisi yang baik untuk mengamati mereka berdua.
OoO
"Akhirnya.."
"Untunglah.."
"Akhir yang Gemilang!"
Semuanya berjalan sesuai rencana. Keempat remaja yang berkumpul itu menghela napas lega saat melihat kedua temannya berpelukan dengan senyum di kedua wajah mereka.
"kau jenius Lee!" puji Sakura membuat wajah Lee memerah.
"ya, kau hebat sekali! Bisa-bisanya kau kepikiran rencana begini! Kau harus bertanding strategi dengan Shikamaru!" kata Ino sambil tertawa.
"he.. hebat sekali!" puji Hinata tak ketinggalan.
Lee memperlihatkan pose Nice Guy-nya ke ketiga gadis itu. "itu berkat kerja sama Tim kita yang gemilang!"
OoO
