7. Ikatan
Neji meluruskan bahunya, mendesah lega pada langit pagi di atasnya dengan senyum yang jarang nampak melekat di wajahnya.
Bangun pagi hari terasa menyenangkan. Neji dengan senang hati meninggalkan kamarnya hanya untuk menyapa langit pagi. Merayakan setiap detik, menit dan jam sejak momen kemarin terjadi.
Kemarin adalah hari yang sangat membahagiakan untuk Hyuuga muda satu ini. Rasanya senyuman tak bisa hilang dari wajahnya sejak kemarin. Mengetahui perasaanya tak bertepuk sebelah tangan, memulai hubungan baru dengan orang yang dicintainya. Semua itu terasa bagaikan keluar dari Neji Hyuuga dan menjadi.. hanya menjadi Neji.
Baru saja ia berpikir untuk pergi ke apartemen Tenten saat sebuh tepukan mampir di bahunya. Ia berbalik dan menatap heran saat melihat seorang Souke.
"Neji-san, kau dipanggil ke rumah utama."
"baik, terima kasih," kata Neji sambil membungkuk.
0oOo0
"duduklah Neji," kata Hiashi-sama ramah saat Neji memasuki ruangan yang penuh terisi Souke. Sang Bunke dapat merasakan tatapan tajam dari para Souke dan dengan tahu diri mengambil posisi lebih jauh dari tempat Hiashi-sama.
"mendekatlah kemari." Perintah Hiashi tanpa menunjukan respon pada gumaman protes para Souke. Neji sendiri dapat merasakan tatapan yang mengiris-iris kulitnya dari mereka sementara ia maju ke depan sambil setengah membungkuk. Tapi mengikuti contoh Hiashi-sama, iapun tak menunjukkan ekspresi.
Neji menatap tak percaya tempat yang ditunjuk Hiashi untuk ia tempati. Hiashi duduk diapit kedua putrinya, Hinata di kanan dan Hanabi di kiri. Dan tempat yang diisyaratkan oleh Hiashi adalah tempat di sebelah Hanabi.
"baiklah kini semua sudah berkumpul. Dan aku akan mengatakan masalah yang akan kita bahas saat ini: Masalah dengan klan Souchi dari desa Kirigakure dan kepindahan Neji ke rumah utama.
Serentak terdengar gumaman tak setuju dari para Souke. Para tetua yang duduk di bagian depan terlihat kesulitan mempertahankan wajah tenang mereka sementara para Souke lain tak malu-malu menunjukkan protes ketidaksetujuan.
Neji sendiri mematung di tempatnya, Apa yang dipikirkan Hiashi-sama?
Masalah dengan Klan Souchi sama sekali tak terbahas. Seorang tetua yang kini telah berhasil mengatasi kekagetannya sendiri berdehem menenangkan mereka yang ada di belakangnya, "itu.. tak bisa ditolerir. Menurut peraturan, Rumah utama hanya untuk ditinggali oleh keluarga pemimpin klan."
Dalam hati Neji meniyakan kata-kata tetua barusan. Masih sambil bertanya-tanya apa yang dipikirkan Hiashi-sama.
"benar sekali." Kata Hiashi tak membantah.
"dan dengan begitu jelas sekali kalau seorang Bunke tak bisa menempati rumah utama," kata sang tetua tadi dengan nada kemenangan.
"sayang sekali hal tersebut tak disebutkan, Hagi-sama. Tak ada kata-kata bunke tak boleh menempati rumah utama. Ayah Neji adalah saudara kembarku, dengan begitu bisa dikatakan aku adalah pamannya. Dan karena saat ini ayahnya telah wafat, aku dan anak-anakku adalah keluarga terdekatnya. Dan bisa pula dikatakan kalau ia adalah keluarga terdekat kami bahkan diantara kalian semua."
Betapa anehnya, pikir Neji. Ia tau, dirinyalah yang diperdebatkan saat ini, tapi rasanya seperti sedang mendengar mereka berdebat tentang orang lain. Rasanya aneh membicarakan kedekatan darah di dalam lingkungan Hyuuga. Dimana kedekatan biasanya dinilai dari strata tanpa melihat kedekatan darah. Padahal ini adalah sebuah klan.
"bukankah hal tersebut tak perlu dikatakan? Jelas disebutkan 'Keluarga Pemimpin Klan' pemimpin klan harus berasal dari Souke. Bunke tak dihitung sebagai keluarga klan."
"aku tak pernah mendengar ataupun membaca hal itu sebelumnya," ujar Hiashi-sama. Ia lalu merogoh ke lengan pakaiannya dan menarik beberapa gulungan dari sana.
"ini adalah gulungan yang berisi aturan-aturan resmi klan kita. aku sudah membaca semuanya dan tak menemukan hal yang bertentangan dengan keputusanku ini. Aku tau kalian semua memiliki copy-nya di kediaman kalian masing-masing. Baca dan carilah. Bila ada yang menemukan hal yang bertentangan dengan hal ini, kita akan mendengarkannya. Tapi sampai saat itu tiba, Neji akan tinggal bersama kami. Yang keberatan harap mengangkat tangan."
Tapi tak ada tangan yang terangkat. Neji tau betapa pahamnya para tetua klan tentang kekerasan kepala Hiashi-sama.
0ooOoo0
"Aneh, kan?" tanya Neji pada Tenten saat mereka duduk berhadapan di warung dango. tepat siang itu setelah pertemuan Hyuuga.
Tenten asik memakan dango-nya sementara Neji merasa cukup hanya dengan meminum ocha.
"aneh kenapa?" tanya Tenten.
"tentu saja Aneh. Dia bisa mendapat banyak kesulitan dengan membuatku tinggal di rumah utama. Hiashi-sama terikat pada aturan klan, dan sebagai ketua ."
"kalau melihat dari sisi itu memang terlihat aneh, Neji." Kata Tenten sambill tersenyum. Yang ditanggapi Neji dengan sebelah alis terangkat dan pendangan mata yang mengatakan, 'dari-mana-hal-itu-bisa-terlihat-biasa?'
"kan dia sudah mengatakannya, keluarganya adalah keluargamu satu-satunya seperti kau adalah keluarga mereka satu-satunya."
"lalu?"
"ya ampun Neji! Tentu saja dia menyayangimu, dia kan pamanmu!"
0ooOoo0
Sayang?
Kata itu terdengar aneh saat di aplikasikan pada hubungan keluarganya saat ini. Setelah ayahnya tak ada. Setelah apa yang mengikatnya pada klan itu hanya sebuah ikatan formalitas yang memuakkan bagi Neji.
Neji meraba Headbandnya. Merasakan sejuknya plat besi di jemarinya. Ia tau, apa yang ada di belakang plat itu adalah ikatan paling kuat yang mengikatnya pada Hyuuga. Dan mengetahui yang dapat dilakukan segel dibalik headbandnya, Neji yakin tak ada rasa sayang di balik segel itu.
