Disclaimer : Masashi Kishimoto

Summary : … mungkin aku masih akan berada di sana sampai pagi, berdebat dengan diriku sendiri mengenai orientasi seksualku.

Rate : Setelah perdebatan dengan hati nurani, akhirnya saia memutuskan memberikan rating PG-15 untuk fic ini.

Author's Note : YAOI. AU. OOCness. Gaje. Don't like don't read.

Pairing : Uchiha Sasuke & Uzumaki Naruto

Inspired by : title inspired by 'Sometimes in April', a movie that I forgot who made it Xp . 'Watchmen', a Zack Snyder's film . 'G.I Joe : Rise of The Cobra', a Stephen Sommers's film .

-

-

-

Chap 2! XD jumlah words bertambah di sini… happy reading… tx for all reviewers yang sudah susah payah membaca dan memberikan feed back ke saia…*bows*

-

-

-

_Chiba Asuka's Present_

_Sometimes in April_

-

-

-

Chapter 2

Ternyata tempat prakteknya sebagai seorang psikiater tidak jauh dari kantorku. Kenapa aku belum pernah bertemu dengan orang yang merupakan ujung tombak perusahaanku itu kalau jarak kami cuma sejauh lima blok? Mungkin duniaku sudah terlalu penuh dengan ambisi dan konspirasi.

"Silakan duduk," Uzumaki mempersilakan ketika kami sudah berada di kantornya yang rapi dan bernuansa pastel. Ia meletakkan dokumen-dokumen yang dibawanya di atas meja sementara aku melepas mantelku, menggantungnya di gantungan mantel di dekat pintu dan duduk di sofa yang ada di seberang ruangan. Aku menghindari sofa yang biasa digunakan untuk pasien.

Uzumaki menuangkan kopi yang masih mengepul ke dalam dua cangkir keramik dan meletakkannya di meja di hadapanku, sedangkan ia sendiri duduk di seberangku. Ia melepas kacamatanya, memperlihatkan dengan jelas seluruh mata birunya yang belum pernah kulihat di manapun, meletakkan kacamata itu di samping cangkir kopinya.

"Jadi," dia membuka pembicaraan. "Bagaimana perang akhir-akhir ini, Tuan Uchiha?" tanyanya ringan, seolah ia sedang membicarakan cuaca musim semi di New York. Tidak, dia bukan meremehkan perang atau semacamnya, dia hanya mencoba untuk membuatku nyaman berbicara dengannya. Dia terampil dalam hal ini, dan aku menyukainya. Aku termasuk sulit bersosialisasi secara umum, tapi lain lagi urusannya kalau itu menyangkut politik dan bisnis.

Aku meminum kopiku yang masih panas sedikit. "Buruk, Uzumaki."

"Ah, Naruto saja," selanya sambil tersenyum ramah. "Saya tidak begitu suka dipanggil dengan nama marga saya, menimbulkan kesan tidak akrab. Yah… walaupun kita memang baru saja bertemu."

Aku mengangguk. "Buruk, Naruto," ulangku. Ada desir aneh di dadaku saat aku mengucapkan nama itu. Aku tidak terlalu terbiasa memanggil seseorang dengan nama depannya. Bahkan aku belum pernah melakukannya, kecuali untuk keluargaku sendiri. "Korban dari kedua belah pihak semakin bertambah, dan tampaknya perang ini akan berlangsung lama."

Naruto mengangguk-angguk, dan meminum kopinya juga. "Saya rasa Anda memegang peranan penting dalam mengambil keputusan yang menyangkut perang. Tidak heran Anda stress," katanya sambil berkedip ramah padaku. "Kemarin Presiden juga menemui saya, mengecek ANBU di laboratorium Anda."

"Benarkah?" tanyaku heran. Haruno belum melaporkan apa-apa padaku mengenai kunjungan Presiden ke Uchiha's Corporation.

Dia tertawa. Tawanya benar-benar enak didengar. Tawa yang belum pernah kudengar selama tujuh belas tahun terakhir. "Itu kunjungan pribadi untuk saya, beliau menanyakan mengenai ANBU, dan saya berbohong mengenai kondisinya."

"Maksud Anda?"

Naruto tersenyum nakal. Aku kagum dengan sifatnya yang mulai kuperhatikan. Dia masih tampak seperti anak-anak belasan tahun walaupun usianya mungkin hanya setahun di bawahku. Dia benar-benar kelihatan manusiawi, tidak sepertiku yang semakin hari semakin mirip zombi.

"Jenderal Nara juga menemui saya beberapa hari lalu, dia melakukan beberapa pembicaraan pribadi dengan saya mengenai ANBU, dan dia mewanti-wanti saya mengenai tujuan Presiden. Dan saya sepaham dengannya," ia menjelaskan. "Jadi ketika Presiden menanyakan kondisi ANBU, saya mengatakan kalau ANBU belum bisa digunakan. Tapi kelihatannya dia tidak terlalu percaya."

Aku tersenyum geli. "Beliau memang menanyakan pada saya mengenai kondisi ANBU hari ini."

Naruto meletakkan cangkir keramiknya. "Anda tersenyum," komentar Naruto, out of topic.

Aku terperangah mendengar kalimat terakhirnya. Dia masih duduk di seberang meja, memandangku dengan mata birunya. Senyum ramah terkembang di wajah kecoklatannya "Ah…" aku sadar dia benar. Aku baru saja tersenyum untuk pertama kalinya sejak tujuh belas tahun yang lalu. Dan orang inilah yang membuatku melakukannya. Orang yang baru saja bertemu denganku selama empat puluh lima menit.

Naruto meminum kopinya lagi, sementara aku memandangnya ingin tahu. Bagaimana bisa dia melakukannya semudah itu?

"Saya selalu memperhatikan Anda, Tuan Uchiha. Sejak kejadian kelam tujuh belas tahun lalu itu…" aku biasanya langsung meledak marah begitu mendengar masa laluku yang suram mengenai pembantaian keluargaku diungkit-ungkit. Tapi tampaknya tidak kalau orang ini yang mengungkitnya. Buktinya aku masih duduk tenang di sofaku, memandang mata birunya. "Saya yang waktu itu masih bekerja sebagai asisten Dr. Namikaze," dia melanjutkan, menyebutkan kepala ilmuwan Uchiha's Corporation bertahun-tahun lalu, ketika ayahku masih memimpin perusahaan itu. "Saya selalu memperhatikan Anda. Anda anak yang jauh lebih baik dari sekarang saat itu. Maaf," tambahnya buru-buru. Aku menggeleng, menyuruhnya melanjutkan. "Jadi… yah… saya menyadari Anda berubah drastis sejak tragedi itu. Saya senang akhirnya setelah sekian lama melihat bos saya tersenyum lagi."

Sejujurnya, aku tidak pernah mendengar orang lain membicarakan diriku seperti dia. Semua orang selalu berbicara tentang, Tuan Sempurna Uchiha Sasuke yang dingin dan merupakan calon pemimpin di masa depan. Sedangkan dia? Dia berbicara tentangku seolah aku ini manusia biasa, yang sama seperti orang-orang pada umumnya. Dia seolah tahu kalau jauh di balik topeng stoic-ku, aku masih menyimpan kesedihan yang luar biasa.

"Kenapa saya belum pernah bertemu Anda sebelum ini?" tanyaku, lebih kepada diriku sendiri sebenarnya walaupun aku mengucapkannya dengan jelas.

Naruto tertawa, tawa yang akhirnya akan menghiasi mimpi-mimpiku selama bertahun-tahun setelah aku mendengarnya untuk pertama kalinya hari ini. "Anda adalah Senator of New York. Uchiha's Corporation selalu menjadi nomor kesekian setelah tugas-tugas Anda sebagai senat selesai. Anda melampiaskan semua urusan perusahaan kepada Nona Haruno. Dialah yang bertemu saya," ia menerangkan. "Wanita yang menarik dia itu," tambahnya.

Aku merasakan sedikit gejolak di dasar perutku ketika mendengarnya memuji Haruno, tapi aku mengabaikannya, tak begitu bisa mencerna perasaan apa itu.

"Nah," ia berbicara lagi. "Saya rasa sekarang Anda bisa mengeluarkan semua sumber kegelisahan Anda yang tergurat jelas di setiap senti wajah tampan Anda itu," katanya sambil menunjuk wajahku dengan geli. "Karena saya yakin yang menyebabkan Anda gelisah bukan karena perang dan semua hal-hal formal menyebalkan itu."

Aku tercenung. Apakah emosiku semudah itu dibaca olehnya? "Bagaimana Anda tahu?" tanyaku penasaran.

Dia tersenyum lebar. "Saya psikiater, Sir. Adalah pekerjaan saya untuk tahu."

Aku menyukai jawaban itu. Aku menyandarkan tubuhku di punggung sofa, mulai merasa rileks. Padahal aku tak pernah merasa rileks di depan orang asing, tapi dia berbeda. "Anda membaca koran hari ini?" tanyaku.

Naruto mengangkat sebelah alis. Ia menarik The New York Gazette dari meja kecil di sebelahnya, dan mencari-cari. "Ah," wajahnya mulai menyiratkan pemahaman. "Artikel tentang Anda?" tanyanya memastikan.

Aku mengagguk, mengamatinya membaca artikel itu. Entah sejak kapan aku mulai tak bisa melepaskan pandanganku dari sosoknya.

Dia kemudian melipat koran itu lagi, melemparnya ke sampingnya setelah ia selesai membaca. Ia menggeleng geli dan meminum kopinya sampai habis. "Isu yang menarik. Penulisnya adalah seorang wanita," komentarnya tak penting.

Aku tertawa kecil. Aku bisa merasakan pandangan matanya saat ia melihat tawaku. "Dan Miss Yamanaka mengundang saya makan malam besok, yang akan saya tolak untuk kesembilan kalinya. Itu akan semakin menguatkan dugaan."

"Miss Yamanaka? Yamanaka Ino? Model terkenal sekaligus anak dari konglomerat itu?" tanya Naruto kagum. Aku mengangguk. "Wow…" ia berdecak. "Kenapa Anda tidak menerimanya saja?"

Aku tersenyum sinis. "Tidak. Tidak akan."

"Jadi itu yang menjadi dilema bagi Anda," ia menarik kesimpulan. "Mempertahankan prinsip hidup tanpa wanita, atau meluruskan isu menyimpang itu, benar?"

Aku mengangguk. Senang dia mengerti tanpa aku harus menjelaskan secara panjang lebar. Orang seperti dialah yang kubutuhkan.

Naruto tertawa kecil. "Saran saya, Anda lihat dulu sejauh apa pers berani membual sebelum Anda terpaksa mengorbankan prinsip Anda. Tak usah terburu-buru," katanya. "Atau," ia menambahkan, ekspresinya berubah serius. "Sewa saja beberapa pembunuh bayaran untuk membunuh reporter itu. Tamat."

Aku terdiam. Kami saling memandang satu sama lain. Kemudian, baik aku maupun dia tertawa bersamaan.

"Saya hanya bercanda mengenai yang terakhir itu lho," katanya di sela-sela tawanya. "Tapi kalau Anda memang berniat melakukannya, saya bisa menjaga rahasia," katanya sambil mengedip padaku.

Aku tertawa pelan lagi mendengar itu.

Dan kami mengakhiri tawa kami bersamaan. Aku mengecek arlojiku. Sudah pukul tujuh lebih sedikit. Ternyata sudah hampir dua jam aku berbicara dengan orang ini. Padahal kupikir baru lima menit. Dengan enggan, aku menghabiskan kopiku dan bangkit berdiri. Ia melakukan hal yang sama di hadapanku.

"Saya harus pergi," pamitku, mengambil mantelku di gantungan. Ia mengikuti di belakangku, mengantarku sampai ke pintu depan. "Terimakasih atas waktu yang diberikan."

"Tidak masalah, Tuan Uchiha," tanggapnya ramah.

Aku yang hendak melangkah keluar, ke jalan yang sudah mulai gelap menoleh lagi ke arahnya. "Sasuke saja," kataku. "Dan kurasa tak ada salahnya bagi kita untuk menghentikan keformalan dalam berbicara."

Dia menatapku selama beberapa saat, kemudian mengangguk senang. "Baiklah, Sasuke. Kau bisa datang kapan pun kau mau. Toh kantormu dekat."

Suatu perasaan menyergapku ketika ia memanggilku dengan cara itu. Perasaan seolah aku sudah mengenalnya begitu lama. Bahkan lebih lama dari usiaku. Aku tersenyum sekilas dan mengangguk, sebelum akhirnya turun ke jalan, kembali berjalan ke kantorku. Hari itu, tanpa sadar aku menemukan sesuatu yang selama ini hilang dari hidupku.

-

Rapat kabinet berlangsung lumayan baik bagi semua orang, kecuali bagi Presiden. Akhirnya semua anggota kabinet, dipengaruhi oleh pemikiranku dan Nara yang terlalu logis, memutuskan untuk tidak menggunakan ANBU. Presiden tetap bersikeras untuk menggunakannya tentu saja, tapi Nara menentangnya dengan perkataan-perkataannya yang kalem, namun tajam. Aku juga meyakinkan Presiden kalau ANBU belum sepenuhnya siap. Belum lagi tambahan dari Hyuuga Neji, Menteri Luar Negeri, yang menyatakan kalau Uni Sovyet sepertinya masih akan bertahan dengan perang dingin. Akhirnya beliau terpaksa mengalah, dan menyetujui strategi Nara untuk menerjunkan pasukan elite khusus tambahan ke medan perang.

Rapat berakhir larut malam. Aku langsung naik ke mobilku dan bergegas pulang, mengingat masih ada laporan dari NYPD yang belum kubaca. Dalam perjalanan pulang, entah kenapa aku lewat jalan memutar, sehingga aku melewati kantor Naruto (aku mulai terbiasa memanggilnya dengan nama itu). Lampunya masih menyala. Aku menghentikan mobilku di seberang kantor itu, dan tepat ketika aku keluar dari mobilku, seorang pria pucat keluar dari kantor Naruto. Aku merasa dia agak mirip aku kecuali tampang jahatnya dan model rambutnya. Aku mengikuti pria itu dengan mataku, yang berjalan semakin jauh, bertanya-tanya siapa dia, saat pintu kantor Naruto terbuka lagi. Kali ini dokter muda itulah yang keluar, dalam balutan mantel coklat mudanya. Aku mengalihkan pandanganku dan langsung menyeberang, menghampiri sosok pria pirang itu.

"Ah, malam, Sasuke," sapanya otomatis ketika melihatku. Ia agak terkejut sebenarnya, dilihat dari ekspresinya.

"Pria pucat yang tadi itu pasienmu?" entah kenapa aku menanyakan itu.

Naruto memandangku tak paham selama beberapa detik, kemudian tersenyum dan menjawab. "Sai maksudmu? Ya, dia pasienku."

Aku mengangguk paham. "Keberatan kalau kuantar pulang?" tanyaku tiba-tiba. Aku sendiri tak tahu apa yang terjadi denganku, tapi emosiku berubah total tiap kali menghadapi orang ini. Aku bahkan tak mengenali diriku yang sekarang. Yang aku tahu aku cuma merasa nyaman dengannya.

Naruto menggeleng cepat. "Tidak, tidak perlu. Aku yakin kau masih banyak pekerjaan selain harus mengantar aku pulang," tolaknya halus.

"Tak masalah," elakku. "Setidaknya biarkan aku membalas kebaikanmu karena telah menolongku sore ini." Aku memandangnya, berusaha meyakinkannya.

Naruto tertawa. "Itu pekerjaanku, Sasuke."

Aku bersikeras, tidak beranjak dari hadapannya sebelum ia mengatakan 'ya'. Tampaknya dia menyadari itu karena akhirnya dia mengangguk pasrah. Aku tersenyum dan berjalan mendahuluinya ke mobilku.

Begitu kami berada di dalam, tiba-tiba dia berkata, "Sasuke, ingat berita tentangmu di koran hari ini. Seandainya reporter itu tahu…." Ia membiarkan kalimatnya menggantung dan menatapku, berusaha menakut-nakutiku dengan mata birunya. Alih-alih takut, aku tertawa pelan.

"Yang harus kulakukan tinggal menyewa pembunuh bayaran dan menghabisi reporter itu kan?" gurauku. Dia tertawa, sementara aku menekan pedal gas dan memacu mobilku di jalanan New York yang lengang karena sudah larut malam.

"Terimakasih atas tumpangannya," katanya begitu aku menghentikan mobilku di depan pintu rumahnya. Ia berusaha melepas sabuk pengamannya, tapi sepertinya tersangkut oleh sesuatu. Refleks, aku mencondongkan tubuhku ke arahnya dan hendak membantunya melepas sabuk itu. Tapi ketika tanpa sengaja tanganku menyentuh jemarinya, gerakan kami sama-sama terhenti. Ia menoleh dari kaitan sabuknya ke arahku. Aku membeku saat menyadari mata biru di balik kacamata itu sangat dekat dengan wajahku.

"Sasuke…" katanya lirih.

Aku langsung menjauhkan diriku darinya, kembali ke posisi dudukku semula. Selang beberapa detik Naruto berhasil melepas sabuknya sendiri.

"Maaf," kataku sebelum ia turun dari mobil. "Kurasa tidak seharusnya aku melakukan hal itu ketika orientasi seksualku dipertanyakan," aku mencoba berbicara senetral mungkin, tapi aku sendiri tak bisa menyangkal detak jantungku yang di luar kendali.

Naruto tertawa kecil, tampaknya kejadian tadi tidak berpengaruh apapun baginya. Jadi memang aku yang menanggapinya secara berlebihan. Reporter itu lama-lama membuatku sinting.

"Tak apa-apa," tanggapnya sambil membuka pintu mobil. "Selamat malam, Sasuke." Ia turun dari mobil, dan langsung masuk ke rumahnya.

Aku masih terdiam di depan rumahnya, memandang pintunya yang sudah tertutup dan lampu-lampunya yang mulai dipadamkan. Kalau saja aku tidak teringat tentang laporan dari NYPD, mungkin aku masih akan berada di sana sampai pagi, berdebat dengan diriku sendiri mengenai orientasi seksualku.

_To Be Continued_

Agak klise di chap ini…u.u

Tapi emang kejutannya ada di chap akhir sih…xp

Senang akhirnya Ghee-senpai kembali!!! XDDD begitu baca Snow in the Summer-nya dia, jadi merasa fic ini kacangan banget…u.u

Ah, sudahlah…

Mind to review? ^^