Disclaimer : Masashi Kishimoto

Summary : "Kenapa kau, seorang Uchiha Sasuke, yang tidak pernah berkencan dengan wanita seumur hidupnya, mau repot-repot mengajakku makan malam?"

Rate : Setelah perdebatan dengan hati nurani, akhirnya saia memutuskan memberikan rating PG-15 untuk fic ini.

Author's Note : YAOI. AU. OOCness. Gaje. Don't like don't read.

Pairing : Uchiha Sasuke & Uzumaki Naruto

Inspired by : title inspired by 'Sometimes in April', a movie that I forgot who made it Xp . 'Watchmen', a Zack Snyder's film . 'G.I Joe : Rise of The Cobra', a Stephen Sommers's film .

-

-

-

Chapter 3! Sasuke mulai kehilangan akal sehat…X3 hohohoho…

Dan ada satu hal buruk… halaman review buat fic ini nggak bisa dibuka!! o jadi mohon maaf bagi semuanya…saia belum sempat baca reviews untuk chap 2, saia harap chap 3 ini sesuai keinginan… T.T

-

-

-

_Chiba Asuka's Present_

_Sometimes in April_

-

-

-

Chapter 3

New York. April 4th, 1968.

"Pagi, Haruno."

Sekretarisku itu mendongak dari pekerjaannya, menatapku bingung. "Er… eh, selamat pagi, Sir," jawabnya gugup. Aku mengangguk singkat padanya dan langsung masuk ke ruanganku, siap menghadapi segunung pekerjaan lagi hari ini.

Benar saja, belum genap sepuluh menit aku duduk di kursiku, pintuku sudah diketuk dari luar. Aku mempersilakan si pengetuk masuk, ternyata Haruno. Ia menyerahkan beberapa proposal dan laporan dari Uchiha's Corporation, menungguku sementara aku menandatangani semuanya.

"Er… Anda sedikit berbeda hari ini, Sir," Haruno membuka mulut. Tampaknya hal itu sudah mengganjal hatinya semenjak aku datang pagi ini.

"Oh ya?" tanggapku tidak antusias, menekuni anggaran dana New York yang tampaknya semakin membengkak. Siapa yang berani mencantumkan angka nol sebanyak ini?

"Um… ya, Sir… Anda tidak biasanya menyapa karyawan…."

Aku memutuskan untuk menandatangani anggaran itu saja dan beralih ke berkas berikutnya. "Jadi aku tidak diijinkan menyapa?" tanyaku sinis.

"Bukan begitu, Sir," balas Haruno cepat. "Hanya saja… yah…itu agak sedikit berbeda."

"Kalau kau ada waktu untuk mengamati perubahan-perubahan kecilku yang tak penting, Haruno," kataku. "Apa tidak sebaiknya waktu itu kau gunakan untuk mengecek ANBU? Laporan perkembangannya sering terlambat akhir-akhir ini."

Haruno terkesiap. "Maaf, Sir," katanya merasa bersalah. "Saya akan menyerahkan laporannya besok."

Aku mengangguk stoic, mengembalikan semuanya yang sudah kutandatangani dan bertanya. "Apa agendaku hari ini?"

Haruno mengeluarkan notesnya, dan membacakan apa yang tertera di situ. Jadwalku sudah penuh dari pagi sampai malam.

Ketika Haruno selesai, aku bertanya, "Tak ada waktu luang sama sekali?"

Haruno tampaknya kaget dengan pertanyaanku yang aneh. Aku tahu kenapa, aku biasanya tak pernah protes tentang jadwalku. Ini adalah yang pertama kalinya.

"Um…" Haruno memeriksa notesnya lagi. "Pukul tujuh Anda seharusnya makan malam dengan Miss Yamanaka…"

"Batalkan yang itu kataku," aku mengernyit tak senang.

Haruno mengangguk patuh dan pergi meninggalkan ruangan. Aku mengecek jam, masih pukul sembilan pagi. Aku harus bertahan selama sepuluh jam ke depan…

-

Aku tidak bisa mengingat setiap detail di hari itu, yang aku ingat hanya ketika akhirnya pukul tujuh malam tiba. Aku langsung bergegas keluar dari kantor kedutaan, dan memacu mobilku ke 21st Avenue. Ke kantor Naruto tepatnya. Aku sendiri tak paham kenapa aku bisa memutuskan kalau aku harus menemuinya hari itu, semuanya sudah di luar logika. Aku tidak menghentikan mobilku sampai aku tiba di depan kantornya.

Lampu-lampunya masih menyala. Pertanda bagus, karena itu berarti dia belum pulang. Aku turun dari mobilku, menyebrang jalan dan langsung menaiki undakan menuju pintu depan. Belum sempat aku mengetuk pintunya, pintu itu sudah terbuka lebih dulu. Dan dari baliknya, keluar seorang pria pucat yang kukenali sebagai pasien Naruto semalam. Dari dekat, aku bisa melihat kalau kedua matanya yang sipit dan sewarna dengan mataku itu tampak sangat licik. Ditambah lagi dengan bekas luka mengerikan di sepanjang rahangnya. Dia pasti telah melalui masa-masa yang sulit. Pria itu hanya melirikku sekilas dan langsung berlalu pergi sementara aku melangkah masuk ke dalam. Begitu mendapati Naruto sedang duduk di balik meja besarnya, menekuni setumpuk tinggi dokumen dan berkali-kali membetulkan letak kacamatanya, pria pucat tadi tersapu dari pikiranku.

"Tok, tok," aku menirukan suara orang mengetuk pintu agar Naruto menyadari keberadaanku.

Pria pirang itu mendongak, dan tersenyum begitu melihatku. "Ah, Sasuke. Apa kabar?" tanyanya ramah.

"Tidak buruk," jawabku singkat sambil melepas mantelku, kemudian langsung duduk di kursi di seberang mejanya. "Apa yang sedang kau kerjakan?" tanyaku, mengamati sederetan angka-angka yang tak bakal kupahami hanya dengan sekali lihat di kertas-kertas yang bertebaran di hadapan Naruto.

Naruto meringis, membetulkan letak kacamatanya lagi. "Ini semua tentang ANBU. Unit itu banyak menyita waktuku akhir-akhir ini, dan selalu saja masih ada yang kurang tepat tentang rancangannya."

Aku mendengus geli, menyingkirkan semua kertas-kertas memusingkan itu dari hadapan Naruto hanya dengan satu sapuan. Dia memprotes ketika aku menumpuk semua kertas itu dengan rapi di salah satu sisi mejanya. "Jangan pedulikan itu dulu hari ini," kataku. Aku menghentikan tangannya dalam usahanya mengambil pekerjaannya kembali.

Naruto menatapku dengan sebelah alis terangkat dan cengiran di bibirnya. "Itu bukan kata-kata yang pantas untuk diucapkan oleh pemrakarsa proyek ANBU, Sasuke."

Aku menggeleng geli. "Sudah, lupakan saja," aku bersikeras sambil melepaskan tangannya yang ternyata sedari tadi masih kugenggam. "Kau sudah makan malam?" tanyaku, mengalihkan pembicaraan.

Naruto mengernyit. Ia mengecek jam tangannya. "Ah, ternyata sudah pukul tujuh lewat!" katanya kaget sambil menepuk dahinya. "Pantas saja perutku keroncongan…"

Aku menahan tawaku melihat tingkah lakunya. "Ayo," ajakku sambil bangkit dari dudukku.

"Kemana?" tanyanya bingung.

"Makan malam," jawabku. Dan sebelum ia sempat menyerukan penolakan, aku sudah menariknya, menyambar mantelku dan mantelnya dari gantungan di dekat pintu, dan membawanya keluar dari kantornya. Otakku benar-benar sudah tidak bisa bekerja dengan baik saat itu. Semua tindakanku berlangsung secara spontan, berdasarkan nuraniku, dan aku mengikutinya.

Naruto berdecak geli begitu kami sudah berada dalam mobilku, sedang dalam perjalanan menuju restoran favoritku.

"Apa?" tanyaku.

"Tidak… hanya saja aku mulai bertanya-tanya…" jawabnya geli. "Kenapa kau, seorang Uchiha Sasuke, yang tidak pernah berkencan dengan wanita seumur hidupnya, mau repot-repot mengajakku makan malam?"

Aku tertawa pelan mendengar pertanyaan itu, apa sekiranya yang akan dia pikirkan seandainya dia tahu apa yang sejak semalam berdebat di otakku? "Jangan bilang kau mulai percaya dengan apa yang dikatan pers?"

Naruto tertawa. "Tentu saja tidak, mereka kebanyakan memutar balikkan fakta," jawabnya ringan. "Lalu, kenapa?"

Aku berbelok di tikungan, diam selama beberapa saat, memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaannya. Mengingat dia adalah seorang psikiater, dia tentunya dapat menganalisis dengan mudah mengenai kondisi psikis seseorang. Bahkan mungkin ia bisa lebih memahami tentang apa yang bergejolak dalam diriku sekarang. Tak ada salahnya mencoba, Sasuke… "Entahlah," jawabku akhirnya, menatap lurus ke depan. Aku bisa merasakan ia memandangku dengan senyum ramahnya, tampaknya sisi psikiaternya mulai bekerja. Aku meliriknya dari sudut mataku. "Kau orang pertama dalam tujuh belas tahun terakhir ini yang membuatku nyaman berada di dekatmu," aku mengakui. "Aku merasa menemukan sesuatu yang hilang dalam hidupku tiap kali bersamamu."

Senyum Naruto memudar. Ekspresinya berubah serius, dan ia mengalihkan pandangannya dariku. Aku tidak bisa menerka apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Ia membetulkan letak kacamatanya dan berdehem pelan. "Yah… mungkin itu karena aku seorang psikiater, Sasuke. Sudah seharusnya aku membuat pasien-pasienku nyaman di dekatku, dan kau masuk dalam kategori itu," komentarnya, ramah dan menyenangkan seperti biasa.

Tapi aku tidak menyukai nada implisit dalam suaranya. Ia seakan menegaskan kalau aku hanyalah seorang pasien untuknya. Tidak lebih.

Aku mengangguk. "Mungkin."

Kami tidak berbicara lagi sampai aku memarkir mobilku di depan restoran yang kumaksud. Kami turun dari mobil dan aku mendahuluinya masuk ke restoran, setelah sebelumnya menyerahkan mantelku kepada doorman di depan. Aku memilih tempat duduk di sudut, Naruto mendudukkan diri di depanku. Seorang waitress menawarkan buku menu pada kami, aku membacanya sepintas dan menyebutkan apa yang aku inginkan sementara dia mencatatnya. Naruto melakukan hal yang sama, bedanya, dia melakukannya dengan penuh senyum sementara aku sedingin es seperti biasa.

"Apa menyenangkannya menjadi seorang psikiater?" tanyaku setelah waitress itu pergi. Aku menangkupkan kedua tanganku dan meletakkannya di depan bibirku, menatap mata biru Naruto lekat-lekat. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan diriku, aku tiba-tiba merasa begitu sakit hati dan marah begitu mendengar kalimat terakhirnya di mobil barusan. Dan sekarang, aku bermaksud membangun percakapan normal dengannya.

Naruto tertawa pelan mendengar pertanyaanku. "Pertanyaan yang sama kulontarkan padamu, Sasuke. Apa menyenangkannya menjadi seorang senat?" nada bicaranya sudah biasa lagi, tidak ada yang disembunyikan. Ia sudah kembali seperti semula, atau memang dia pandai menyembunyikan emosi.

Aku mendengus geli. "Dan pasienmu yang bernama Sai atau entah siapa itu, dia rutin sekali mengunjungimu." Kata-kataku barusan merupakan tuduhan. Aku yakin Naruto menyadari itu.

Tapi ternyata Naruto malah tersenyum ramah padaku, alih-alih tersinggung seperti dugaanku. "Masa lalunya berat. Luka fisiknya tidak ada apa-apanya dibandingkan luka hatinya. Dia kembali setahun yang lalu dari Vietnam, di saat itu pula ia menjadi pasienku. Kondisinya sudah jauh lebih baik dibandingkan setahun lalu."

Aku mengernyit. "Kenapa kau mau repot-repot menjelaskannya padaku?" tanyaku setelah mendengar penjelasan panjang lebarnya mengenai Sai. "Bukannya tipe orang sepertimu hanya akan bilang, 'masa lalunya berat' titik?"

Naruto tertawa lagi. "Kau orang dengan kondisi kejiwaan paling unik yang pernah kutemui, Sasuke… tidak, bukan berarti kau gila," tambahnya buru-buru ketika melihat ekspresiku. "Aku selalu merasa bingung bagaimana harus bersikap di depanmu, padahal kita baru saja saling kenal, dan kau termasuk pasienku. Aku selalu memikirkan…" ia berhenti bicara dan menggeleng geli. "Psikiater juga butuh pelampiasan curhat juga ternyata?" tanyanya geli.

Aku tertawa pelan. Aku tahu apa dia pikirkan saat ini. Dia memikirkan responku pada setiap hal yang dilakukannya di depanku. Pikiran itu membuatku puas pada diriku sendiri.

Kami makan malam dalam diam, dan menyelesaikannya dengan cepat. Aku meminta tagihannya pada waitress terdekat, menatap Naruto tajam ketika dia akan mengeluarkan dompetnya. Tatapanku membuatnya menatapku geli, dan akhirnya dia membiarkanku yang membayar. Kami keluar dari restoran itu dan kembali masuk ke mobilku.

"Kembali ke kantor?" tanyaku sambil menyalakan mesin mobilku.

Naruto memasang sabuk pengamannya dan mengangguk. Mata biru di balik kacamatanya menyorotkan sedikit kelelahan. Sedikit, yang lain adalah kilat antusias. "Aku harus menyelesaikan perhitungan fusinya malam ini. Dan sepertinya aku melakukan kesalahan dalam penyetaraan reaksi…"

Aku berdehem, membuatnya berhenti dan tertawa geli. "Maaf, Sasuke," katanya, sedikit merasa bersalah. "Kurasa aku mulai sedikit stress dengan proyek itu. Mungkin jauh di lubuk hatiku, aku tidak menginginkan proyek ANBU sukses."

Aku meliriknya, ia mengatakannya dengan ekspresi menyesal. Aku paham maksudnya. Dia tidak ingin menjadi dalang di perang nuklir yang mungkin akan berlangsung beberapa tahun lagi, kalau Amerika maupun Uni Sovyet sudah bosan dengan perang dingin.

Aku menghentikan mobilku di depan kantornya, dan ikut turun bersamanya.

"Kau tidak pulang?" tanyanya heran ketika melihatku mengikutinya masuk ke dalam kantornya.

Aku menggeleng.

"Memangnya kau tidak ada pekerjaan?"

"Aku sudah menyelesaikan semuanya siang tadi," jawabku, mendudukkan diriku di sofa di ruangannya sementara ia kembali duduk di mejanya, mengambil kertas-kertas yang tadi kusingkirkan dan mulai berkutat dengannya lagi.

Naruto mengangguk paham, dan kemudian tenggelam dalam pekerjaannya. Aku duduk diam di sofa, memperhatikannya bekerja. Ia membetulkan letak kacamatanya beberapa menit sekali. Ia mengacak rambut pirangnya sekilas setiap kali ia menemukan kesalahan dalam perhitungannya. Mata birunya berbinar tiap kali dia menemukan sesuatu yang baru. Tangannya yang berkulit kecoklatan itu bergerak lincah di atas kertas-kertas di hadapannya. Ia menggigit bibir bawahnya saat ia sedang berpikir. Aku tak mengerti kenapa semua hal sepele itu membuatku tertarik, tapi aku tak bisa berhenti memperhatikannya, sama sekali tidak merasa bosan, tersenyum kecil setiap ia melakukan kebiasaan-kebiasaan sepelenya tadi.

"Kau sudah duduk diam begitu terus selama hampir satu setengah jam, Sasuke," ucapnya tanpa mendongak ke arahku.

Aku mengerjap dan mengecek arlojiku. Sudah hampir pukul sebelas. Aku tidak sadar sudah selama itu.

Ia meletakkan pensil yang digunakannya untuk menulis dan melepas kacamatanya. "Kau mau begitu terus sampai kapan?" tanyanya geli.

Aku mendengus tertawa. "Mungkin sampai kau berhenti," jawabku. Aku bangkit berdiri dan duduk di tepi mejanya, membungkuk sedikit untuk mengamati hasil kerjanya. "Sudah selesai?" tanyaku.

Naruto menyandarkan diri di punggung kursinya, melonggarkan dasinya dan melepas kancing atas kemejanya. "Kalaupun sudah, aku akan tetap menundanya," jawabnya dengan senyum letih. Ia memejamkan matanya dan mengurut keningnya.

Aku menegakkan posisi dudukku, menatap garis lehernya yang selama ini tertutup kemejanya. Desir aneh kembali memenuhi dadaku. Mataku naik ke bibirnya yang terkatup rapat. Entah apa yang merasukiku saat itu. Aku menelan ludah dengan gugup dan bangkit berdiri, bersamaan dengan ia membuka matanya.

"Aku… kurasa aku harus pulang sekarang," kataku cepat.

Naruto bangkit dari kursinya, mengantarku sampai ke pintu depan seperti yang ia lakukan sebelum ini. "Hati-hati," katanya ramah.

"Hn." Aku masuk ke dalam mobil, dan langsung memacunya menuju rumahku.

-

Aku berusaha untuk tidak memikirkannya malam itu. Usaha yang sia-sia. Aku menatap nyalang ke langit-langit kamarku, mencoba untuk tidur. Laporan dari NYPD tergeletak begitu saja di bantal di sampingku, terabaikan. Tapi tiap kali aku mencoba untuk memejamkan mataku, hanya dia yang muncul di pikiranku (aku tersenyum ketika menulis ini, perasaan itu belum hilang sampai sekarang). Aku tak pernah menyangka hal sepele macam dia bisa membuatku tertekan dan tak bisa tidur. Aku membetulkan posisi tubuhku, berusaha senyaman mungkin, tapi itu juga tidak membantu.

Sial, pikirku saat itu. Aku adalah Senator of New York. Seharusnya yang menggangguku hanyalah perang dingin dan prestasiku di kancah politik, bukannya seorang psikiater pirang yang kebetulan membuatku nyaman berada di dekatnya, kendati dia seorang pria.

Uzumaki Naruto adalah seorang pria.

Kalimat itu terngiang di benakku.

"Tapi di The New York Gazette kali ini mulai muncul artikel kalau Anda… kalau Anda adalah seorang homoseksual."

Aku mendengus. Kenapa juga kalimat Haruno harus muncul di saat seperti ini? Saat aku mulai meragukan orientasiku sendiri…

Aku menghela napas dan menutup mata. Senyumnya kembali terbayang. Aku langsung membuka mataku lagi.

Cinta…

Aku berdecak ketika satu kata itu melintas di benakku. Apa yang kurasakan ini cinta? Apa aku mencintai seorang Uzumaki Naruto?

Apa ini alasan aku tak pernah tertarik dengan wanita? Bahkan Haruno yang luar biasa pun, tak pernah sekalipun terbersit di otakku untuk menidurinya, walaupun aku yakin seratus persen kalau sekretarisku itu akan menyanggupi, terutama setelah kematian tunangannya. Dia dalam kondisi kesepian. Belum lagi Yamanaka Ino. Dia adalah wanita tercantik di Amerika kalau bisa dibilang. Ajakan makan malamnya bisa saja kuakhiri di ranjang, tapi tidak. Aku lebih memilih menolaknya, menolak apa yang pria lain pasti akan terima dengan senang hati, bahkan kalaupun pria itu adalah seorang Nara Shikamaru.

Kakak seorang psikopat, dan adik homoseksual. Keturunan keluarga Uchiha benar-benar mengagumkan. Aku menyeringai frustasi dengan pemikiran itu. Kurasa sebaiknya aku mulai menerima ajakan Yamanaka, untuk sekadar membuktikan orientasiku.

_To Be Continued_

Chap depan tamat! XDD

Hehe… saia cuma mau bilang itu…x)

Mind to review? ^^