Disclaimer : Masashi Kishimoto
Summary : I love you till the end…
Rate : Setelah perdebatan dengan hati nurani, akhirnya saia memutuskan memberikan rating PG-15 untuk fic ini.
Author's Note : YAOI. AU. OOCness. Gaje. Don't like don't read.
Pairing : Uchiha Sasuke & Uzumaki Naruto
Inspired by : title inspired by 'Sometimes in April', a movie that I forgot who made it Xp . 'Watchmen', a Zack Snyder's film . 'G.I Joe : Rise of The Cobra', a Stephen Sommers's film .
-
-
-
Maafkan saia mengenai pergantian genre di chap terakhir ini…. Saia benar-benar minta maaf…u.u *bows*
-
-
-
_Chiba Asuka's Present_
_Sometimes in April_
-
-
-
Chapter 4 : The Last Chapter
New York. April 5th, 1968.
Musim semi masih berlangsung, bertolak belakang dengan kondisi dunia yang belum juga membaik. Nara Shikamaru datang ke kantorku pagi itu, tampak kusut dan belum bercukur, melaporkan padaku kalau tim elite-nya di ujung tanduk. Dia akan berangkat ke Vietnam hari itu juga, mengecek seberapa parah keadaan. Aku mengatakan padanya bahwa kondisi di luar sana bukan tanggung jawabnya, tapi dia hanya melirikku sinis dan meninggalkan kantor sama cepatnya dengan datangnya.
Presiden terus membombardirku dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai ANBU, aku terus memberinya jawaban klise yang membuatnya tidak puas sebelum akhirnya dia menutup teleponnya. Haruno masuk beberapa detik setelah itu, memberiku setumpuk file-file baru yang harus kupelajari dan kutandatangani, sambil membacakan agendaku hari ini dari notes kecilnya.
"… dan Miss Yamanaka belum menyerah, Sir. Dia mengajak Anda makan malam lagi hari ini."
"Terima itu," jawabku asal, mengernyit memandang laporan perkembangan ANBU yang dijanjikan Haruno kemarin.
"Eh, Sir?" Haruno bertanya, kaget.
"Aku bilang terima itu. Aku akan menjemputnya pukul tujuh malam ini," kataku lagi.
Haruno berdehem, mengatasi keterkejutannya. "Baik, Sir," ia mengambil berkas-berkas yang sudah selesai kuurus dan keluar dari ruangan.
Malam itu, aku benar-benar menjemput Yamanaka di kediamannya. Ia sudah siap di depan rumahnya yang hampir seluas White House dengan gaun malam yang sangat 'wah'. Ia tersenyum begitu melihatku keluar dari mobil. Lekuk tubuhnya terlihat jelas di balik balutan gaunnya. Aku merapikan setelanku dan berjalan ke arahnya, mengecup punggung tangannya begitu aku sampai di hadapannya. "Anda terlihat cantik malam ini, Miss Yamanaka," kataku basa-basi.
Yamanaka tertawa puas. "Terimakasih, Senator."
Aku menawarkan lenganku dan menggamitnya menaiki mobilku. Dia duduk di sampingku, belahan gaunnya yang tinggi nyaris memperlihatkan seluruh paha putih nan mulusnya. Aku meliriknya sekilas, dan apa yang terlintas di pikiranku saat itu? Aku tertawa kalau mengingatnya sekarang. Yang terlintas di otak mesumku adalah lekuk leher Naruto.
Yamanaka yang memilih restorannya. Yang perlu kulakukan hanya mengikutinya, memikirkan banyak hal lain (terutama Naruto saat itu). "Dessert di sini adalah yang terbaik," katanya mempromosikan. Ia menungguku menyiapkan kursi untuknya, aku menarik kursi itu dengan enggan, menunggunya duduk dan kemudian duduk di kursiku sendiri.
"Apa kesibukan Anda akhir-akhir ini, Miss?" tanyaku, berusaha terlihat antusias, sembari menunggu hidangan diantarkan. Dalam beberapa detik saja aku sudah merasa menyesal karena akhirnya menerima ajakannya.
Yamanaka tersenyum, senyum yang dapat melelehkan pria manapun, tapi tidak untukku. "Tidak ada yang menarik, Senator…" dan ketika detik berikutnya ia mulai menjelaskan mengenai kegiatan rutinnya sebagai supermodel, pikiranku sudah melayang kemana-mana.
Makan malam itu berlangsung lama dan membosankan untukku, dengan seluruh percakapan didominasi oleh Yamanaka. Aku hanya perlu mengeluarkan 'hn'-ku sebagai tanggapan, tersenyum stoic di saat-saat yang pas, tapi tampaknya itu sudah membuat wanita muda itu puas.
Akhirnya semua omong kosong itu selesai. Aku menggamitnya kembali ke mobilku, berniat mengantarnya pulang secepat mungkin dan segera pulang ke rumah untuk tidur lebih awal ketika perempuan itu berkata, "Coba tebak, Sasuke. Kurasa tak ada salahnya aku mampir ke rumahmu sebentar."
Murahan. Hanya itu yang terlintas di otakku, tapi aku mengangguk menyetujui. Dan berani-beraninya dia memanggilku seakrab itu. Hanya satu orang yang boleh melakukannya. Hanya dia.
Aku menghentikan mobilku di garasi rumahku, sekali lagi membukakan pintu untuknya. Ia tersenyum menggoda yang tidak kubalas, dan langsung berjalan mendahuluinya masuk ke rumah. Aku menyalakan lampu-lampunya, memperlihatkan padanya desain interior rumahku dan mengeluarkan champagne serta dua gelas kaca dari lemari untuknya. Kalau aku pria normal (sekali lagi aku tertawa mengetahui bahwa aku sudah berpikiran begitu pada saat itu), aku pasti akan memanfaatkan momen ini.
Yamanaka melepas mantelnya, mengekspos keindahan tubuhnya di balik gaun malamnya. "Kau tinggal sendiri, Sasuke?" tanyanya, atau lebih tepatnya, desahnya. Cih, benar-benar murahan. Aku menuangkan champagne ke dalam gelas dan menyodorkan satu padanya. Ia menerimanya dan tersenyum sok manis.
"Hn," jawabku, menenggak minumanku sendiri.
Yamanaka bahkan tidak meminum minuman itu. Ia hanya meletakkannya di meja, dan berjalan ke arahku. Aku bergeming di tempat, melihat sejauh mana dia bisa menarik perhatianku. Yamanaka meraba garis rahangku dengan jemarinya, kemudian turun ke dadaku, aku menahan diri untuk tidak mendengus. "Kau pria hebat, Sasuke…" desahnya lagi. Ia menatapku dengan mata birunya, kesan yang ditimbulkan mata itu jauh berbeda dengan sepasang mata biru yang lain, mata biru yang selalu kupikirkan setiap saat.
Aku balas menatapnya, meletakkan gelasku di meja di belakangku. Aku merengkuh pinggangnya dengan tangan kiriku, membuatnya menggigit bibir bawahnya dengan sensual. "Ya?" bisikku di telinganya.
Yamanaka mengikik kecil. "Aku menginginkanmu, Sasuke…" tanpa peringatan, ia berjinjit dan menciumku dengan bernafsu. Kedua tangannya melingkari leherku, dan ia menggesekkan kakinya dengan gerakan sensual, yang seharusnya merangsangku, di pahaku. Tapi bibirku tetap membeku. Selang beberapa detik, Yamanaka menjauhkan diri, menatapku tak percaya, menyadari kalau tidak terjadi perubahan apapun pada diriku.
"Sasuke! Kau!" serunya frustasi.
Aku berjalan menjauhinya, mengambil mantelnya yang tergeletak di sofa. "Sebaiknya Anda pulang, Miss. Sudah terlalu larut bagi seorang wanita."
Yamanaka menyambar mantel itu dengan marah, berjalan cepat keluar dari rumahku. "Kau akan membayar untuk ini, Uchiha," ancamnya sebelum membanting pintu menutup di belakangnya.
Aku terpaku di tengah ruangan. Sel-sel otakku bekerja terlalu cepat sehingga aku bahkan tak menyadari apa yang sedang kupikirkan, seakan apa yang barusan dilakukan Yamaka padaku telah membangkitkan sosok diriku yang lain. Saat berikutnya aku tersadar, aku sudah berdiri di depan pintu kantor Naruto di 21st Avenue. Aku membuka pintunya tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Betapa leganya diriku ketika melihatnya sedang berdiri di dekat jendelanya, memandang keluar dengan secangkir kopi di tangan. Aku berjalan cepat ke arahnya, bahkan tanpa melepaskan mantelku karena aku memang tidak mengenakannya. Naruto menoleh ketika mendengar langkah kakiku. Ia tersenyum ketika melihatku.
"Oh, malam, Sasuke. Aku ti—"
Kata-katanya terputus. Aku sudah terlebih dulu merengkuh wajahnya, dan menempelkan bibirnya di bibirku. Terdengar suara 'prang' pelan ketika cangkir kopi yang dipegang Naruto jatuh menghantam lantai. Naruto mendorongku menjauh, tapi aku tetap mempertahankannya. Baru setelah aku kehabisan napas, aku menjauhkan diri darinya. Jantungku berdetak tak keruan, mencoba mendobrak keluar dari dadaku. Perasaan yang sama sekali tidak kurasakan ketika Yamanaka menyentuhku, tapi selalu muncul, hanya dengan aku memandang Naruto. Dan kalau aku tidak salah, perasaan itu disebut…
"Apa yang kau lakukan?!" semburnya, ia kehilangan semua ketenangan dirinya yang biasanya terlihat.
Aku menatap mata biru yang memancarkan kemarahan itu lekat-lekat. Aku tak bisa berkata-kata. Ya, aku memang mencintai pria ini.
"Itu, adalah apa yang kurasakan padamu, Naruto," kataku, datar. Aku merasa tak perlu mengucapkan kata 'cinta'. Perasaanku sudah melebihi tahap itu.
Naruto terbelalak kaget. "Sasuke…kau…" ia terbata, bersandar lemas pada kusen jendela di belakangnya. Ini hanya perasaanku saja atau semua emosi yang baru saja ditunjukkannya menguap lenyap? Ia menatap nanar pada pecahan cangkir di lantai linoleumnya.
"Aku hanya ingin mengatakan itu," kataku lirih. Aku membalikkan tubuhku dan hendak pergi, merasa kotor. Tentu saja dia tak mungkin merasakan hal yang sama denganku. Dia normal, seorang psikiater…
"Tunggu, Sasuke," ia menghentikanku.
Aku menoleh, memandang tangannya yang menggenggam lenganku. Aku mempertaruhkan segalanya untuk mendongak dan menatap ke kedalaman mata birunya. Ini cuma perasaanku saja atau aku melihat binar yang sedikit tersembunyi di balik raut cemasnya? Sorot matanya tampak antusias, aku menahan napas sekaligus menahan diriku untuk tidak menciumnya lagi. Mata birunya memabukkanku.
"Kau serius tentang hal ini?" tanyanya. Aku masih menatap matanya berusaha mencerna jutaan emosi yang tiba-tiba muncul dari sana.
Aku mengangguk pelan. "Ya."
Naruto melepaskan tangannya dari lenganku. Ia berjalan pelan ke arah mejanya, menyandarkan diri di sana, mengurut keningnya tapi aku bisa mendengarnya tertawa. Bahkan kalau bisa dibilang, ia tertawa penuh kelegaan.
Aku mengerjap.
Naruto mendongak menatapku lagi. Ekspresinya hangat kali ini. "Mungkin aku juga merasakan hal yang sama, Sasuke."
Aku benci kalimat itu. Aku benar-benar membenci kalimat itu, karena ia mengatakannya terlalu lama. Aku tertawa pelan dan memeluknya. Ia balas memelukku kali ini.
"Jadi," bisiknya di telingaku. "Keberatan kalau aku memintamu melakukan hal yang tadi lagi?"
Aku mengernyit dan melonggarkan pelukanku agar aku bisa memandang wajahnya.
Terdapat cengiran kekanak-kanakkan di sana. "Tapi lebih lembut lagi kali ini…"
Dengan segera aku paham apa maksudnya. Aku mendengus tertawa dan merengkuh wajahnya sekali lagi, menautkan bibirnya dengan bibirku.
-
Dan di malam itu...
Setiap sentuhan, desahan dan kehangatan tubuhnya masih bisa kuingat dengan jelas. Caranya membisikkan namaku setiap kali aku menyentuhnya membuatku kehilangan akal sehat. Aku membiarkan nafsu yang mengontrolku sepenuhnya, dibantu dengan sedikit liukan tubuhnya yang membuatku bisa mencium wanginya yang membuatku makin liar. Pikiranku melayang ke awang-awang. Ragaku mengkhianatiku, dipacu oleh tatapan antusiasnya, aku tak bisa menghentikan diriku sendiri untuk tidak menyentuhnya. Aku menginginkannya sepenuhnya malam itu, dan bibirnya tidak memprotes. Ia menerimaku…
Betapa membahagiakannya untukku, ketika aku membuka mata setiap pagi sejak malam itu, yang pertama kali kulihat adalah wajah tidurnya di sampingku. Begitu damai dan indah. (Sesuatu yang selalu membuatku menatap kosong ke sampingku, ke tempat kosong di ranjangku, berharap dia masih berbaring di sana, sampai saat ini).
Hidupku dimulai sejak saat itu. Aku tak peduli tentang apa yang orang-orang katakan mengenaiku dan dirinya. Aku mencintainya, dan dia mencintaiku. Itu cukup buatku. Presiden cukup kaget mengetahui kenyataan tentangku, begitu pula dengan Nara, Haruno dan beberapa orang lain, tapi ternyata mereka tidak banyak berkomentar.
"Selamat, setidaknya dia lebih baik dari cewek-cewek berisik itu," kata Nara sambil lalu sebelum ia berangkat ke Vietnam. Aku tersenyum geli, dan dia agak kaget melihat ekspresiku saat itu, seakan aku belum pernah tersenyum sebelumnya. Itu benar.
"Kalau menurut Anda itu yang terbaik," Haruno berkata penuh senyum. Aku tahu bagaimana perasaannya, aku sekarang berani mengakui kalau aku merupakan atasan yang lebih baik setelah ada Naruto yang membantuku melewati masa-masa stressku.
Pers-lah yang membuatku sebal. Aku tahu memang bukan keputusan yang tepat untuk menyebarluaskan hubungan abnormalku dengan Naruto, tapi aku juga tidak ingin menyembunyikannya. Aku tidak ingin mengingkarinya, itu saja. Aku juga ingin semua orang tahu kalau aku benar-benar menyayanginya. Dan aku tidak pernah menyesal tentang keputusan itu. Yang perlu kulakukan hanya membungkam pers-pers itu dengan prestasiku di kancah politik. Karirku melesat setelah Naruto, dan tak ada lagi yang protes tentang itu.
-
Waktu terasa berjalan dengan cepat setelah semua kebahagiaan itu datang bertubi-tubi.
New York, April 10th, 1969.
Tak terasa sudah setahun berlalu. Aku sudah memulai persiapanku untuk memimpin Amerika lima tahun mendatang, ambisius memang, tapi yang terbaik selalu memulai start lebih awal. Tak ada pesaing berarti untukku, tak ada yang bisa mengalahkanku. Aku akan memimpin Amerika dengan Naruto di sampingku, itulah impian terbesarku.
Maka, dibantu Haruno, aku merencanakan segalanya dengan matang hari itu.
Begitu aku bangun di pagi hari, Naruto masih berbaring di sebelahku seperti biasa, mengawali hariku dengan sempurna. Aku mengusap pipinya lembut dengan jari-jari pucatku, membuatnya mengerjap. Aku tersenyum ketika tangannya bergerak di balik selimut, mencari-cari tanganku. Aku menyambutnya dan menggenggamnya erat. Semuanya tampak seperti surga bagiku di dunia ini, walaupun perang masih meledak di luar sana. Ketika hanya ada aku bersamanya, semua pikiran mengenai peperangan dan nuklir tersaput dari sel-sel kelabu kecil otakku.
Aku mengecup keningnya pelan. "Pagi…" bisikku.
Naruto hanya tersenyum mengantuk. "Aku mau tidur lagi… aku mau masuk kerja agak siang hari ini… pinggangku sakit," tambahnya, mendadak galak. Aku tertawa pelan, mungkin aku memang agak terlalu keras semalam. Aku mengusap puncak kepalanya, dan melepaskan genggamannya pada tanganku, bangkit dari tempat tidur. Aku berganti pakaian sembari menatapnya yang sudah tidur pulas lagi. Hari ini akan sempurna, hari ini untuknya.
"Pagi, Sir," sapa Haruno begitu aku memasuki kantor. Senyum terkembang di wajahnya. Aku menggantungkan mantelku dan mengangguk sekilas padanya. Sikapku memang telah banyak berubah dalam setahun belakangan ini, tapi tetap saja tersenyum pada orang lain selain Naruto merupakan hal yang sulit bagiku.
"Saya sudah mengambilnya pagi-pagi sekali," kata Haruno lagi, menyerahkan kotak kecil yang hanya seukuran telapak tanganku padaku.
Aku mengangguk puas. "Terimakasih, Haruno. Dan jangan lupa untuk membatalkan semua acaraku di luar hari ini. Aku butuh persiapan," gurauku tanpa senyum, tapi Haruno tertawa kecil.
"Baik, Sir."
Aku membuka pintu ruanganku dan langsung duduk di balik meja, dengan sabar menghadapi berkas-berkas yang terus berdatangan, telepon-telepon dari negara bagian lain yang tampak tidak terlalu penting saat ini. Hanya ada satu hal di otakku. Kalau saja aku punya beberapa pasang mata dan tangan tambahan, aku pasti menyelesaikan semua ini cepat, lalu aku bisa melakukan apa yang kuinginkan hari itu. Merealisasikan impian terbesarku.
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecek arlojiku setiap lima menit sekali. Hari terasa berjalan lambat, aku mulai mengutuk Einstein (lagi-lagi tua bangka itu) yang menciptakan teori relativitas. Tapi aku tetap bertahan, Naruto tidak akan suka kalau aku tidak menyelesaikan pekerjaanku dengan baik.
Setiap kali pikiranku keruh dan aku tidak bisa menahan ketegangan yang memuncak, aku memainkan kotak kecil yang tadi diberikan Haruno padaku. Aku tersenyum geli memandang kotak itu, membayangkan reaksi Naruto ketika menerimanya, dan saat aku membisikkan kalimat, "will you marry me?" di telinganya. Jantungku berdetak cepat lagi. Dia pasti akan mengatakan, 'ya'.
Aku berdehem pelan, menjatuhkan diriku sendiri ke dunia nyata, kembali ke file-file menyebalkan yang kelihatannya jadi berlipat ganda hari itu. Apa Haruno sengaja? Tuduhku tak rasional.
Dan rasanya setelah bertahun-tahun, Haruno membuka pintu ruanganku tanpa mengetuknya lebih dulu. Dalam kondisi normal, mungkin aku sudah akan mendampratnya, tapi karena hari ini hari istimewa, aku hanya mendongak memandangnya.
"Sudah waktunya, Sir," kata Haruno, senyum bahagia dan harapan semoga sukses tergurat di wajah cantiknya.
Aku langsung bangkit berdiri begitu mendadak sambil meraih kotak kecil yang sedari tadi kupandangi, dan setengah berlari, menyambar mantelku, mengecup pipi sekretarisku itu sekilas sebagai tanda terimakasih yang amat sangat dan langsung menghambur pergi dari kantor.
"Kabari saya, Sir!" pinta Haruno antusias. Aku membunyikan klaksonku sekali sebagai tanda aku mengiyakan. Memang dia yang akan kuberitahu pertama kali. Jasanya terlalu besar dalam kehidupan percintaanku bersama Naruto. Dan mungkin hanya dia satu-satunya yang telah mengenal Naruto dengan baik begitu lama.
Aku mengumpat keras ketika jalanan macet. Aku mengecek arlojiku. Lima menit lagi sebelum pukul tujuh malam. Aku mengetuk-etukkan jariku ke setir dengan jengkel, menahan diri untuk tidak menelepon Uchiha's Corporation dan meminta mereka untuk menyingkirkan semua mobil-mobil menyebalkan di hadapanku dengan ANBU. Logikaku masih menang, kalau aku meluncurkan ANBU di sini, dikhawatirkan Naruto akan mati juga. Aku tentu saja tak mau itu terjadi.
Setelah merayap selama setengah jam, akhirnya aku sampai di depan kantor Naruto. Pukul setengah delapan, seharusnya rencanaku pukul tujuh, tapi telat setengah jam menurutku tidak masalah. Aku membanting pintu mobilku menutup, setengah berlari menaiki undakan menuju pintu kantor Naruto, dan berdiri diam di depan pintunya. Aku memejamkan kedua mataku, mengatur napas. Aku mengeluarkan kotak kecil dari saku mantelku, memandang cincin dari emas putih di dalamnya. Aku mengangguk penuh tekad, dan melangkah masuk.
Ruang tunggu di kantor Naruto sepi, tak ada seorang pun. Jadi mungkin dia sedang tidak ada pasien. Tapi entah kenapa atmosfer ruangan itu berbeda, menimbulkan firasat tak enak. Aku menggeleng pelan. Aku terlalu tegang, jadi berpikiran yang tidak-tidak. Itulah masalahnya.
Aku menarik napas sekali, dan melangkahkan kakiku perlahan ke ruangan Naruto. Aku memegang knop pintunya dengan tangan kananku sementara tangan yang lain memegang kotak berisi cincin itu. Aku tersenyum pada diriku sendiri, berusaha mengurangi detak jantungku yang kian menjadi. Aku memutar knop pintunya.
"Naru—"
Sisa kalimatku tertahan di tenggorokan.
Seluruh sarafku mati rasa. Dan kurasa aliran darahku juga berhenti. Dunia di sekelilingku menjadi sunyi.
Tak ada suara apapun yang bisa ditangkap telingaku. Hal terakhir yang kudengar hanyalah denting pelan ketika kotak cincin terjatuh dari tanganku. Denting itu terus menggema di telingaku, sementara mataku menatap lurus ke depan.
Ke sosok Naruto… sosoknya yang telah terbaring di lantai linoleum, darahnya yang merah menggenang di sekitarnya, bagaikan kelopak mawar yang mengerikan. Mata birunya terbeliak, kulitnya yang semula kecoklatan sempurna telah memucat. Rambut pirangnya ternoda percikan darahnya sendiri. Aroma citrus yang semula menguar dari tubuh Naruto digantikan oleh amisnya darah.
Naruto… bibirku mengucap tanpa suara, sepertinya semua indraku telah meninggalkanku, bersama dengan Naruto.
"Dia indah ya…"
Suara itu merusak keheninganku. Aku memaksakan otot leherku yang sepertinya telah berkarat untuk menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria pucat, dengan bekas luka mengerikan di sepanjang rahangnya, berdiri tegak tiga meter dari jasad Naruto. Senyum mengerikan terkembang di wajahnya. Matanya menatap kosong ke arah Naruto yang bermandikan darah. Pisau lipat besar yang digenggamnya di tangan kirinya masih meneteskan darah… darah Naruto…
Sai.
Dia menoleh ke arahku, senyum mengerikannya bertambah lebar. Aku masih membeku, padahal otakku sudah meneriakkan perintah untuk menerjangnya, menghabisinya, membunuhnya, memotong-motong tubuhnya jadi seribu bagian kalau perlu. Tapi tubuhku tak mau patuh.
"Dan dia bukan milik siapapun…" katanya lagi, disertai tawa penuh kegilaan. "Kau takkan bisa mengklaimnya menjadi milikmu, Sasuke…"
Nafasku memburu. Aku benar-benar membenci setiap bagian dari bajingan itu.
Sai kembali menoleh ke sosok Naruto. Dan sebelum aku bisa melakukan apapun, dia sudah mengarahkan pisau lipatnya ke lehernya sendiri, menggoroknya dengan cepat, membuat darah segar memancar keluar.
Aku terbeliak ketika sosok Sai ambruk ke tanah, dengan kepala yang hampir putus.
Lututku tak bisa menyangga berat tubuhku lagi, dan aku jatuh berlutut ke lantai. Sesuatu yang hangat mengalir turun dari mataku ketika aku memandang sosok Naruto yang sudah tak bernyawa lagi. Naruto yang tak akan tersenyum padaku lagi. Naruto yang tak akan memperdengarkan tawanya padaku, dan tatapan antusias di balik kacamatanya yang tak akan pernah kulihat lagi mulai detik ini, dan selamanya. Selamanya…
-
Selamanya.
Kata itu berarti banyak untukku.
New York, April 12th, 1969.
Aku bergeming di depan makam Naruto yang masih baru, menatap nisan besar berukirkan namanya. Dr. Uzumaki Naruto. Friend, family,and lover. May he rest in peace.
Bodoh. Dia lebih dari sekedar teman, keluarga, maupun kekasih. Dia hidupku.
Orang-orang yang menghadiri pemakaman telah pergi sejak berjam-jam yang lalu, meninggalkanku seorang diri. Bahkan Haruno yang terisak paling hebat di antara semua orang juga sudah pergi. Ia benar-benar kehilangan sahabat baiknya.
Air mataku sama sekali tidak mengalir. Mungkin air mataku, bersama separuh jiwaku yang lain sudah pergi meninggalkanku juga, bersama Naruto. Hanya menyisakan lubang kosong di dadaku, yang selamanya akan menganga.
Selamanya…
Aku mendongak menatap langit biru cerah di musim semi. Langit yang sewarna dengan mata Naruto. Cuaca yang kontras sekali dengan suasana hatiku saat itu.
I love you till the end…
End of Uchiha's Sasuke journal.
-
Sasuke menutup notes kecilnya, mengakhiri catatannya dengan tanda tangan kecil di pojok kanan bawah. Ia menatap keluar jendela, ke arah langit biru bersih tanpa awan. Langit yang sama dengan hari itu.
"Sir, sudah waktunya."
Sasuke menoleh ke arah pintu. Haruno ada di sana dengan senyum formalnya. Sasuke bangkit berdiri dan merapikan setelannya. "Aku akan berada di tempat dalam waktu tiga menit."
Haruno mengangguk, menutup pintu di belakangnya sebelum ia pergi.
Sasuke memejamkan mata dan mengatur napasnya. Ia mengepalkan tangannya dengan erat dan teraba olehnya sebentuk cincin di jari manis kanannya. Ia membuka mata, hanya untuk mengamati cincin itu. Cincin yang merupakan pasangan dari cincin yang ikut ia kuburkan bersama jasad Naruto bertahun-tahun lalu.
Dalam tiga menit aku akan menjadi Presiden Amerika, Naruto. Batinnya. Dan kau masih ada di sampingku untuk menyaksikannya. Aku yakin itu.
Sasuke menghela napas sekali, sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.
_Owari_
-
-
-
Yah… akhirnya tamat… mana gaje abis lagi…u.u
Fic ini sebenarnya berbentuk jurnal hariannya Sasuke… sekadar informasi kalau ada yang tidak memperhatikan…x) dan ada jugakah yang sadar saia nulis adegan lemon implisit di chap ini? X3
Dan, eh, apa-apaan adegan Sasuke nyium pipi Sakura itu? DX
Saia mohon maaf untuk kekurangannya dalam fic ini, kalau misal fakta-fakta sejarah dan politiknya nggak sesuai sama kejadian nyata, harap dimaklumi. Saia hanya siswa kelas 3 SMA biasa yang BENAR-BENAR BENCI PELAJARAN SEJARAH.
Lagipula fic ini kan hanya cerita fiksi biasa…hehehe…xp
Dan lagi, fic ini membuat saia trauma dengan beberapa hal, diantaranya adalah Sejarah, perang dingin, politik, penyetaraan reaksi, etc. Saia sampai muak kalo mendengar kata-kata itu di setiap pelajaran…u.u dan Sayuri sama sekali nggak membantu…*ngedetgler Sayuri*
Ada beberapa kata di chap ini yang saia comot dari Under The Blue Sky-nya Aria-senpai. Nggak sama persis sih... tapi mirip lah…xp hehehe…jadi, thank you very much buat Aria-senpai! XD *digibeng karena seenaknya minjem kata-kata*
NB : walaupun sudah tertulis 'owari', tapi masih ada chapter depan. Semacam omake-lah gitu… ceritanya tentang masa lalu Sai. ONESHOT. *promosi mode* X)
Kalau begitu,
Mind to review? ^^
