Disclaimer : Masashi Kishimoto
Summary : Sai's journal. 1966.
Rate : sekitar PG-13 lah. G.I. Joe juga rate-nya segitu kok…x)
Author's Note : AU. OOCness. Gaje. Don't like don't read. No pairing here, maybe just brotherhood…x)
Inspired by : G.I. Joe : Rise of the Cobra, a Stephen Sommers's film.
-
-
-
Yeah…(???) ini adalah chap yang saia janjikan. XD. Nyahaha… isinya masa lalu Sai… tapi cuma saia bahas secara singkat saja… supaya nggak jadi multichap juga… x)
-
-
-
_Chiba Asuka's Present_
_On the Battlefield_
_Omake of Sometime's In April_
-
-
-
Vietnam.
Sai's journal. 1966.
Aku meraih senjataku, memasang perlengkapan padanya sebelum menyandingnya di bahu kananku. Atmosfer yang benar-benar berbeda, terasa menekan dan mencekam. Walaupun sudah hampir tiga bulan aku ditempatkan di medan perang Vietnam, aku masih belum juga terbiasa.
Lagipula kenapa juga aku harus terbiasa dengan atmosfer perang? Aku mendengus geli menyadari pemikiran naifku.
"Sai."
Suara itu membuatku mendongak dari kegiatanku mengecek senjataku. Kakakku, yang ditugaskan bersamaku dalam perang ini, baru saja memasuki tenda tempatku berada, sudah siap sepenuhnya dengan senjatanya. Raut wajahnya keras dan penuh tekad. Perang memang bisa mengubah sifat seseorang, dan kakakku adalah salah satu korbannya. Padahal dulu dia adalah seorang yang periang dan konyol, sosok yang bagaikan matahariku, tapi sekarang, dia bagaikan mayat hidup. Perang merenggut senyumnya.
"Kau sudah siap?" tanyanya, mengamatiku yang kembali memasang perlengkapan di seragamku.
Aku mengangguk, memasang perlengkapan terakhir di tubuhku yang tampaknya sudah mulai mati rasa karena efek terlalu lama di medan perang ini. "Kau sendiri?" aku balik bertanya, memandang matanya yang sewarna dengan mataku. Kilat yang biasa kulihat di sana berbulan-bulan lalu telah sirna, digantikan oleh kesuraman tak berdasar. Mata seorang pembunuh. Seharusnya aku tidak jauh berbeda.
"Aku tetap harus menjawab 'ya' apapun yang terjadi kan?" ucapnya, lebih kepada diri sendiri. Aku menangkap nada lelah dalam suaranya. Lelah akan perang yang sepertinya tidak akan pernah berakhir, dan kalaupun perang Vietnam ini berakhir, masih akan digantikan oleh perang dingin Amerika-Uni Sovyet yang memuakkan. Sebagai prajurit, yang bisa kami lakukan hanya terus berperang, sampai salah satu pihak mengibarkan bendera putih. Tidak ada lagikah yang mengenal kata 'perdamaian'?
"Bagaimana kondisi kalian?"
Suara berat itu mengalihkan perhatian kami. Jenderal Asuma, seorang patriot yang sangat kuhormati, memasuki tenda tempat aku dan kakakku berada. Sebatang rokok terselip di celah bibirnya sementara tangan kanannya menggenggam gulungan peta. Aku tak pernah menanyakan padanya bagaimana bisa dia tetap merokok di tengah-tengah peperangan seperti ini. Mungkin itu salah satu caranya untuk mempertahankan kewarasannya di kancah peperangan, dengan banyaknya mayat yang berdatangan setiap harinya, bau mesiu bercampur dengan bau amis darah yang terus tercium sepanjang hari, dan tekanan untuk memenangkan perang.
Baik aku maupun kakakku hanya memberikan anggukan singkat untuk menjawab pertanyaannya. Jenderal Asuma menghampiri kami, membentangkan peta yang dibawanya di satu-satunya meja yang ada di dalam tenda.
"Walaupun kalian sudah mendengar ini berkali-kali sampai bosan, aku masih akan tetap mengulanginya," Jenderal Asuma membuka topik pembicaraan, memberi isyarat bagiku dan kakakku untuk mendekat ke arahnya, agar bisa ikut mengamati peta yang di hadapannya. Kemudian Sang Jenderal itu berdehem pelan sebelum melanjutkan, "Tugas kita mudah," ujarnya. "Yang perlu kita lakukan dalam misi kali ini hanya mengevakuasi penduduk sipil di laboratorium ini," ia menunjuk titik merah yang ada di daerah musuh, "sebelum pesawat pengebom meratakan tempat itu dengan tanah."
Aku dan kakakku mengangguk, tanda mengerti.
"Pasukan kita akan menerobos ke wilayah musuh, tapi hanya kita bertiga yang bertindak sementara yang lain mem-back up di garis belakang," Jenderal Asuma melanjutkan lagi. "Kita bertiga maju ke lab itu, dan kau," ia mengerling kakakku, "akan masuk ke lab, mengomando para penduduk sipil itu keluar dari sana. Aku akan menunggu di luar dan memimpin mereka ke garis belakang, sebelum membawa mereka kembali ke perkemahan kita." Kakakku mengangguk mendengar penjelasan Jenderal Asuma. "Lalu kau," beliau menatapku tajam. "Yang perlu kau lakukan hanya mem-back up kami, memastikan aku dan Shin keluar dari area musuh dengan selamat, kemudian kau langsung menyusul kami ke garis belakang. Jangan lupa untuk mengawasi pesawat pengebom. Kita hanya punya waktu sepuluh menit sebelum mereka menghancurkan lab itu. Aku tak ingin jatuh korban di misi sepele ini."
Aku mengangguk mengiyakan.
Jenderal Asuma menghela napas puas dan menggulung petanya. "Aku tahu aku bisa mengandalkan kalian," ujarnya sebelum keluar dari tenda.
"Tiga menit sebelum kita berangkat, Sai. Pastikan senjatamu siap," kata kakakku datar, dan mengikuti Jenderal keluar dari tenda. Aku menatap gamang punggung kakakku, punggung yang dulunya tegap dan sarat impian, punggung yang sekarang tampak letih, memanggul penderitaan dan luka batin karena perang.
Kapan ini semua akan berakhir… tiga bulan dalam kancah peperangan memang bukan waktu yang lama, tapi juga bukan waktu yang singkat. Baik aku maupun kakakku memang masih bertahan hidup, menyemangati satu sama lain, tapi apakah akan seterusnya begitu? Aku sendiri tak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika aku kehilangan kakakku… satu-satunya keluargaku yang tersisa… orang yang sangat berharga bagiku…
Aku menggelengkan kepalaku, mengusir pikiran-pikiran negatif yang tak perlu. Aku mungkin telah terlalu banyak menghirup bubuk mesiu yang bertebaran di sekelilingku, sehingga otakku tak pernah lepas dari pikiran-pikiran irasional.
Aku melangkah keluar tenda. Bau darah dan mayat busuk menyambutku. Petugas medis sedang berlarian ke sana kemari, mencoba memberikan pertolongan kepada mereka yang terluka parah. Tidakkah Amerika maupun Uni Sovyet sadar kalau perang ini telah menelan banyak korban? Bahkan perang dingin antara dua negara adidaya itu telah melibatkan Vietnam, negara yang telah terpecah antara liberalis dan komunis. Pemenang dalam perang ini, otomatis akan menjadi pemanang dalam perang dingin.
Pemikiran yang bodoh menurutku.
Aku mendongak, menatap langit biru cerah di atas yang sangat kontras dengan kesuraman di bawahnya. Beberapa ekor gagak terbang berputar-putar di atas perkemahan kami, menyuarakan lagu memilukan yang membuat bulu kuduk meremang. Semoga itu bukan pertanda buruk.
-
"Sekarang waktunya prajurit," kata Jenderal Asuma tegas dan sarat makna. Perkemahan langsung hening, kecuali oleh suara peluru yang dimasukkan ke dalam senapan. "Shin, Sai, ikut aku."
Aku dan kakakku mengikuti Jenderal Asuma ke Jeep terdekat. "Kita akan maju lebih dulu. Jangan lengah, dan jangan lamban. Kita hanya punya sepuluh menit." Ia naik ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Aku dan kakakku mengikutinya, duduk di jok belakang dengan senjata dalam posisi siap. Aku menoleh ke arah kakakku, berharap mendapat tatapan penyemangat darinya, tapi harapanku sia-sia. Ia menatap lurus ke depan, tanpa ekspresi. Aku mengalihkan pandanganku darinya. Bahkan tampaknya hubungan sedarah antara aku dan kakakku mulai mengabur. Kami hanya prajurit sekarang, yang siap meregang nyawa kapanpun dibutuhkan.
Jenderal Asuma memacu mobilnya ke wilayah musuh, beberapa mobil lain mengikuti di belakang kami, bersiap melakukan back up. Begitu kami meninggalkan daerah perbatasan, kami langsung disambut oleh hujan timah panas yang menyita seluruh perhatianku. Sementara Jenderal Asuma menyetir, berusaha menghindari peluru yang mengincar kami, aku dan kakakku menyerang dari belakang, memastikan musuh tak bisa menembaki kami dua kali, kami akan lebih dulu membunuhnya.
"Sai, arah jam tiga!" seru kakakku, mengatasi bisingnya suara senjata di sekeliling kami.
Tanpa tanggapan, aku memutar tubuhku, menghadapi arah yang dimaksud kakakku dan menembak si penyerang sebelum ia sempat menyerang lagi. Aku mengisi amunisi dengan sigap, dan dalam hitungan detik sudah berada dalam posisi siap tembak, membidik dengan ketepatan luar biasa, tak peduli Jenderal Asuma menyetir dengan gila-gilaan.
"Turun dari Jeep, sekarang!" seru Jenderal Asuma, menghentikan mobilnya dengan rem mendadak di atas tanah berdebu. Aku dan kakakku langsung meloncat turun, berlari mendekat ke arah lab yang dituju sambil membungkuk serendah mungkin, menghindari hujan peluru yang kian menjadi. Kakakku berlari sedikit di depan, aku dan Jenderal Asuma mengikuti di belakangnya, masih terus menembaki tentara musuh dengan membabi buta, tidak memberikan kesempatan pada mereka sekalipun untuk mengincar kami.
Dsing!
Sebutir peluru hampir mengenai lengan kananku, memaksaku berguling di tanah berdebu untuk menghindar. Aku memilih berlindung di belakang rongsokan sebuah mobil untuk mengisi kembali amunisiku dan beristirahat sejenak sebelum kembali menyerang. Kakakku mengikutiku, punggungnya menempel pada badan mobil sedangkan senjatanya berada dalam posisi siap tembak, nafasnya tersengal. Ia bangkit berdiri, menembak sasarannya dari atas kap mobil dan kembali merunduk di sebelahku, memastikan jalannya menuju ke lab tanpa gangguan musuh. Jenderal Asuma ada beberapa meter di sebelah kiri kami, tiarap rendah di balik tembok yang sudah hancur, masih terus menembaki tentara musuh, rokok yang diisapnya terjatuh di sebelahnya.
Jenderal Asuma berhenti menembak, menoleh ke arah kakakku, dan mengangguk memberi tanda bahwa sekaranglah saatnya ia bergerak. Kakakku balas mengangguk singkat. Ia mempersiapkan senjatanya, dan bergerak ke sisi lain mobil, menentukan saat yang tepat untuk keluar dari barikade.
"Lindungi aku, Sai," ucapnya tanpa menoleh ke arahku yang sedang menghabisi musuh-musuh yang jaraknya terlalu dekat dengan kami.
"Jangan khawatir," balasku, mengarahkan senapanku ke salah satu tentara musuh dan melubangi kepalanya dengan mudah. Sudah sejak lama membunuh manusia menjadi kebiasaan baruku, semudah membunuh nyamuk yang menganggu. "Ingat, waktumu cuma sepuluh menit."
Kakakku menyeringai dan menyandang senjatanya. "Ini akan jadi sepuluh menit yang panjang," katanya sebelum melesat keluar dari perlindungan mobil, berlari lurus ke arah lab. Aku bangkit berdiri pada saat bersamaan, mem-back up kakakku, mempermudah jalannya ke lab untuk melakukan evakuasi, menembak semua musuh yang mengancam dalam radius seratus meter darinya.
Jangtungku berdegup kencang melihat kakakku yang berlari melintasi tanah kosong, sendirian. Fokus, fokus. Dia akan baik-baik saja, aku melindunginya. Aku tak bisa bernapas dengan normal sampai akhirnya kakakku memasuki lab, dan menghilang dari pandangan. Aku kembali merunduk di balik rongsokan itu, menoleh menatap Jenderal Asuma yang juga sudah berhenti menembak. Ia mengawasi dari balik barikadenya. Aku mengecek arlojiku, dua menit…
Jenderal Asuma menoleh ke arahku dan memberi isyarat kalau para penduduk sipil sudah keluar. Ia bangkit berdiri bersamaan denganku, aku kembali melakukan back up, untuk Jenderal Asuma kali ini, sementara Jenderal itu berlari menghampiri penduduk sipil, memerintah mereka untuk merunduk menghindari hujan peluru dan bergegas. Aku keluar dari perlindunganku, membantu Jenderal Asuma memandu rombongan tak bersenjata itu sambil terus menembak dan mengecek waktu.
Lima menit.
Aku menoleh ke belakang, menembak sasaranku tepat pada waktunya sebelum ia mengarahkan senjatanya ke jantungku. Pintu lab masih terbuka, tapi tak ada lagi orang yang keluar dari sana. Aku berhenti berlari, membiarkan Jenderal Asuma yang sudah cukup jauh melanjutkan perjalanannya menuju ke garis belakang seorang diri.
Enam menit.
Kakakku belum juga keluar dari lab. Aku mengerling rombongan yang dipimpin Jenderal Asuma dan sudah disusul beberapa prajurit kami yang lain. Tak ada kakakku di antara mereka, mungkin ia masih ada di lab, memastikan semua orang sudah benar-benar keluar.
Dsing! Dsing!
Aku lengah. Untungnya dua peluru tadi tidak berhasil melukaiku. Aku kembali berlindung di antara reruntuhan tembok yang menyedihkan, sambil terus membidik musuh dan menunggu kakakku keluar. Semuanya akan selesai dengan sempurna. Atau kupikir begitu, ketika kudengar suara bising pesawat di atasku.
Aku mendongak dan terbelalak, mengecek arlojiku sekali lagi. Ini masih tujuh menit! Apa yang mereka lakukan di atas sana sedini ini?!
"Hentikan! Masih tiga menit lagi!!" teriakku, melambaikan tanganku ke udara, berusaha menarik perhatian awak pesawat pengebom itu. "Hentikan!!" teriakku frustasi. Pesawat itu sudah mengambil posisi tepat di atas lab. Tinggal hitungan detik saja mereka akan menjatuhkan bomnya.
Aku mengumpat marah, mengabaikan semua hal, berlari keluar dari barikadeku, tak lagi mempedulikan hujan peluru di sekelilingku. Aku berlari ke arah lab secepat aku bisa, tapi tampaknya jarak tidak berada di pihakku. "HENTIKAN!!! KAKAKKU MASIH DI DALAM!!" teriakku emosi. "HENTIKAN!!!"
BLAARRRRRR!!!!
Teriakanku tenggelam, kalah oleh suara ledakan yang menggelegar. Aku bisa merasakan efek dari ledakan itu membuatku terpental jauh, tapi selebihnya, aku tidak merasakan apapun. Bahkan rasa perih di rahang kananku pun tidak berarti apapun.
Aku mendarat keras di tanah berdebu, yang pastinya membuat beberapa tulangku patah, tapi aku tidak peduli. Aku membuka mataku, dan dengan putus asa menatap puing-puing laboratorium yang sudah menyatu dengan kobaran api di kejauhan. Kakak…
Dsing!
"Kakak…" bisikku lirih, bahkan suara peluru yang begitu dekat tidak berarti apapun lagi bagiku. Aku bangkit berdiri dengan susah payah. Senjataku terlempar entah kemana, tapi aku sudah tidak membutuhkannya. Aku berjalan limbung ke arah lab, "Kakak…" masih memanggil-manggil kakakku. Aku bisa merasakan sesuatu yang panas menembus paha kiriku, tapi itu tidak menghentikan langkahku. Aku masih terus berjalan lurus ke arah lab, menatap kobaran apinya yang membentuk asap hitam di atasnya…
"Hentikan, Sai!" seseorang mencengkram bahuku dari belakang. "Kakakmu sudah tewas! Dia tidak mungkin selamat!"
"Tidak!" aku mencoba berontak dari kepungan tangan kuat itu. "Kakakku tidak mungkin tewas! Dia masih hidup!"
"Sadarlah, Sai!" suara itu kembali menahanku, mengeratkan cengkramannya.
Aku melepaskan cengkraman itu dari tubuhku, dan berlari oleng menjauh darinya. "Kau salah! Kakakku tidak akan mati semudah itu!" seruku marah. Berani sekali orang ini memvonis kakakku sudah tewas?! Memangnya siapa dia, hah?!
"Sai! Awas!"
Suara itu menyerukan peringatan. Aku mengabaikannya. Hahaha. Dia gagal mencegahku dengan cara normal, sekarang dia mencoba menakut-nakutiku. Hahaha. Itu tidak akan berhasil, tolol.
Tapi sesuatu menghalangi jalanku, sesuatu yang ambruk begitu saja ke tubuhku, membuatku jatuh berlutut dan terbebani. Tertatap olehku bola mata Jenderal Asuma yang sudah kosong dan tak bernyawa. Aku membelalak, mengamati seraut wajah yang tadinya tegas itu, sekarang pucat dan penuh ketakutan. Sebuah lubang di dahinya masih mengucurkan darah, membasahi tanganku yang menopangnya.
"Je-jenderal Asuma…"
Aku terhenyak. Sekelebat-sekelebat bayangan samar terus melintas di otakku, bagaikan ada seseorang yang memutarkan film mengerikan secara cepat.
Kakakku… Jenderal Asuma…
"TIDAAAAAAKKKK!!!" teriakanku membelah langit Vietnam.
-
New York. April, 1968.
Ingatan itu masih menghantuiku sampai sekarang. Hujan peluru… ledakan… kobaran api… mayat Jenderal Asuma…
Aku dipulangkan dari medan perang setahun kemudian, setelah tak ada yang bisa diharapkan dari orang sakit jiwa sepertiku. Luka batin yang kuderita merenggut kewarasanku, luka yang bahkan tidak akan bertambah ringan walaupun aku menangsi sejadi-jadinya, hingga air mataku habis. Luka yang tak akan pernah sembuh selamanya.
Aku mengutuk semua orang yang masih bisa hidup normal di New York. Berjalan dengan tenang di trotoar, duduk-duduk dengan santai di bangku taman, bercanda dan mengobrol dengan riang bersama sahabat-sahabatnya. Mereka hanya domba-domba busuk yang berlindung di balik singa-singa yang telah mereka perbudak untuk terjun ke medan perang, memastikan mereka bangun dengan selamat setiap paginya. Lions for lambs. Istilah yang telah mendarah daging di sel-sel otakku.
Aku membenci semua politikus itu, para senat, para menteri, dan presiden yang seenaknya menyerukan perintah tanpa tahu keadaan sebenarnya di lapangan. Mereka tidak merasakan penderitaan seperti yang aku rasakan. Mereka tak akan pernah paham.
Dan ketika aku melihat senator muda itu, senator muda yang dimabuk cinta tak rasionalnya… aku memutuskan untuk membuatnya mencicipi sedikit penderitaanku.
Aku menyeringai puas. Aku telah membunuh hidupnya…
-ends of Sai's journal-
-
-
-
Nyeh…=.= entah kenapa saia merasa omake ini gaje sekali. Saia nggak begitu pintar menggambarkan suasana perang, kalau ingin yang lebih detail dengan efek keren, silakan tonton G.I. Joe : Rise of the Cobra. Adegan waktu Duke nggak bisa menyelamatkan kakak iparnya di medan perang… seperti itulah yang ingin saia gambarkan…x)
Omake ini sebenarnya agak terinspirasi sama Snow in the Summer-nya Ghee-senpai, yang chpater 3, saat dimana Obito mati demi Kakashi. Bahkan ada beberapa kata yang saia comot dari sana…X3 –setelah Aria-senpai, sekarang giliran Ghee-senpai???- hehehehe…x) *disuntrung rame-rame*
Yah…dengan ini fic ini resmi tamat…
Mind to review? ^^
