A/N : Oke, ini chapter ke-2 yang kalian tunggu~!! (mungkin?) Yup, gue akui yang kemarin emang kurang deskripsinya. Sebenernya sengaja, soalnya pas pertama gue kasih deskripsi malah jadi aneh ^_^ (nggak bakat jadi penulis angst) Baru chapter kali ini yang deskripsinya banyak. Sesuai dugaanku, banyak yang komen soal genre-nya. Ehem, sebenernya kemarin mau gue tulis genre Drama/Angst. Tapi gue lupa… Trus soal humor, sengaja gue kasih dikit… ^_^ Kalau di FFn genre-nya bisa milih banyak mungkin gue pakai genre Drama/Angst/Romance/Humor. Oya, untuk fans IchiRuki, ada sebuah bonus buat kalian di chapter ini.
Disclaimer : Bleach adalah punya gue!! *dihajar Tite Kubo* Ehem, maksud gue… Bleach punyanya Om Tite!!! Yahuy~!!
Warning (s) : Shounen-ai, OC (Original Character). Kalo nggak suka jangan baca ya?? Oya, sorry, kalo kidou-nya ada kesalahan ngetik ya? Tolong ingetin kalo salah.
Pairing (s) : IchiRuki, IchiHitsu, IshiHime
= Hate Me or Love Me? =
= Chapter 2 =
"Love is beauty, but not every beauty has love."
= Cinta itu indah, tetapi tidak selamanya keindahan mengandung cinta =
"T-Taichou…??"
Yohachi terbelalak mengetahui dirinya sekarang tengah beradu pedang dengan kapten sekaligus 'kakak'nya sendiri. Yohachi memincingkan mata. Dia melihat kedua mata Hitsugaya hanya setengah terbuka dan menatap dengan tatapan kosong. Jangan-jangan ini efek dari benda yang diberikan serigala brengsek itu?! Tubuhnya akan otomatis menyerang shinigami yang ada di dekatnya saat dia tertidur!
"…Hyourinmaru," bisik Hitsugaya.
Naga es keluar dan menyerang Yohachi. Tapi, begitu naga es itu mendekati Yohachi, dia langsung hancur berkeping-keping. Fuh, untung Nikazemaru adiknya Hyourinmaru! Jadinya serangan bagaimana pun dari Hyourinmaru tak akan mempan di Nikazemaru dan aku! pikir Yohachi. Ini artinya saat ini hanya aku yang bisa menghentikan taichou!
Hitsugaya berlari keluar ruangan.
"Hei!!" teriak Yohachi. Dia langsung berlari mengejar kaptennya. "Taichou!! Bangun, taichou!!!" Sial!! Harus cepat-cepat! Kalau tidak, taichou bisa melukai shinigami lainnya!!
"Bakudou ke-1, sai!!" Yohachi mengeluarkan bakudou. Hitsugaya menghindar.
"Hadou ke-4, byakurai," ucap Hitsugaya. Kilat melesat menuju Yohachi. Yohachi cepat-cepat mengelak. Serangan Hyourinmaru memang tidak akan mempan ke Nikazemaru dan Yohachi, tapi kalau kidou bisa.
"Cih, ini, sih, namanya pertarungan kidou!" gerutu Yohachi. "Hadou ke-63, raikoho!" Dengan lincah Hitsugaya menghindar dari serangan Yohachi.
"Yohachi! Taichou!! Ngapain malem-malem di sini?!" panggil seseorang dari belakang Hitsugaya.
"Zutto!!" teriak Yohachi. Cowok bertubuh kecil dan berambut hitam itu berlari mendekati Yohachi dan Hitsugaya.
"Hadou ke-73, soren sokatsui," kata Hitsugaya dengan telapak tangan mengarah ke Zutto.
Yohachi melotot. Gawat! Zutto 'kan nggak bisa kidou sama sekali!! "ZUTTO!! LARI!!!" teriak Yohachi.
"Eh?!" Zutto kaget melihat sebuah kidou melesat cepat ke arahnya. Dia kaku di tempat melihat kidou itu dari kaptennya. "T-taichou…"
"BAKUDOU KE-19, HORIN!!" Yohachi cepat-cepat melancarkan bakudou yang menyerupai tali itu ke Zutto. Begitu kena, segera dia tarik Zutto dengan tali itu. Zutto selamat dari hadou Hitsugaya yang melesat ke arahnya.
"K-kenapa taichou menyerang kita?" tanya Zutto.
"Ini efek dari benda yang diberikan serigala brengsek kemarin! Tubuh taichou akan langsung menyerang shinigami yang ada di dekatnya saat tidur!" terang Yohachi. "Untung Hyourinmaru nggak mempan ke Nikazemaru! Kalo nggak, mungkin gue tadi udah tewas!"
"Jadi, kita gimana, nih?!"
"Mau nggak mau, kita harus ngebanguninnya! Elo bikin taichou sibuk! Jadi gue bisa membidikkan bakudou ke taichou!"
"E-egh, tapi gue nggak bisa kidou!!"
"Elo nggak butuh kidou! Pakai aja zanpakutou elo!!"
"Tapi kalo kena beneran gimana?!!"
"Nggak mungkin! Level permainan pedang taichou 'kan lebih tinggi dari elo! Pasti bisa menghindar, donk! Udah, cepet sana! Keburu para shinigami yang lain tahu!!"
Zutto mengeluarkan zanpakutou-nya. "Sing, Wind!!"
Sementara Zutto berusaha membuat perhatian Hitsugaya beralih padanya, Yohachi berpikir keras. Sambil berpikir dia menengok kanan-kiri, memastikan kalau tidak ada shinigami yang melihat mereka. Yohachi bernafas lega karena tak ada shinigami yang datang akibat mendengar ledakan kidou tadi. Lalu dia memasang kuda-kuda untuk mengeluarkan bakudou pengikat. Mungkin nanti akan agak sulit karena yang mau diikat adalah seorang kapten.
"Yohachi!! Cepetan!!" teriak Zutto yang tengah berusaha menghindar dari shikai Hitsugaya. "Gue kagak mau jadi balok es tengah malem begini!! Aww!" Naga es Hyourinmaru nyaris berhasil menggigit Zutto.
"Sabar! Biar kidou-nya kuat harus ngucapin mantera!" balas Yohachi. Cepat-cepat dia merapalkan mantera bakudou yang panjang itu. Sementara Yohachi sibuk merapal mantera sambil mengunci targetnya, Zutto kewalahan menghadapi shikai kaptennya. Lompat ke sana kemari untuk menghindari moncong naga es yang terbang dengan mulut ternganga ke arahnya.
"Yohachi!!" jerit Zutto nggak sabar.
"Bakudou ke-1, sa-"
Kata-kata Yohachi terpotong karena melihat ada sesosok shinigami yang sedang berlari melompati satu atap ke atap lain. Yohachi mengenali sosok yang sedang berlari sambil bawa ember itu.
"Ah!! Hai, kalian semua!! Ngapain di atap malem-malem?" teriak sosok itu.
"Matsumoto?!!" jerit Yohachi kaget.
"Fukutaichou?!" Zutto ikutan menjerit di sela-sela 'kegiatan'nya menghindari serangan naga es yang bernafsu mencaploknya.
"………" Hitsugaya menoleh ke Matsumoto. Di pandanginya sebentar, lalu dia mengarahkan telapak tangan kirinya ke wakil kapten pembenci tugas itu. Siap untuk melancarkan kidou. Yohachi dan Zutto serempak berteriak.
"MATSUMOTO/FUKUTAICHOU, LARI!!"
Matsumoto malah melambai-lambaikan tangannya. "Taichou!! Tumben jam segini keluyur-KYAAA!!!" Tiba-tiba Matsumoto terpeleset. Dia sukses jatuh. Tetapi, ember yang entah mengapa dia bawa itu terlempar. Perlahan tapi pasti, ember itu melayang ke arah Hitsugaya. Yohachi ternganga di tempat, Zutto menolong Matsumoto.
BYUUR!!!
Air dari ember itu langsung menyiram Hitsugaya tepat di wajah dan embernya (untungnya) jatuh ke bawah. Yohachi bingung mau komentar apa. Zutto hanya ternganga. Matsumoto memasang tampang innocent. 3 anggota divisi 10 yang paling setia pada kaptennya itu hanya bisa menelan ludah. Menunggu reaksi Hitsugaya yang sekarang menjadi basah kuyup itu.
Tak berapa lama…
"Cuih! Cuih!! Uhuk!! What the… Lho? Kok, aku basah kuyup begini?!" teriak Hitsugaya yang ternyata langsung terbangun karena tersiram air itu. Kapten mungil itu melihat sekeliling. "Eh? Kenapa aku ada di luar? Kenapa aku memegang Hyourinmaru? Dan kenapa ada kalian?!!" Hitsugaya menunjuk ke arah 3 orang anak buahnya yang sedang memandangnya dengan takjub itu.
"Akhirnya taichou bangun!! Yey!" seru Yohachi kegirangan.
"Berhasil! Berhasil! Berhasil!! Hore!" Zutto malah langsung meneriakkan yel-yelnya Dora the Explorer di tiap akhir cerita. "Anda pahlawan, Matsumoto-fukutaichou!!"
Orang yang dipanggil pahlawan oleh Zutto itu malah bingung. "Eh? Pahlawan?"
"Mmm, Yohachi, bisakah kau jelaskan apa yang terjadi?" tanya Hitsugaya yang keheranan.
"Dengan senang hati, taichou! Tapi, jangan di sini. Lebih baik kita ke laboratorium rahasiaku," kata Yohachi.
Laboratorium Yohachi ada di ruang bawah tanah. Jalan masuk ke tempat itu ada di dekat kantor divisi 10. Hitsugaya saja dulu kaget mengetahui kalau di dekat kantornya ada pintu menuju laboratorium bawah tanah. Yang bikin kaget lagi, di laboratorium itu ada gudang besar yang berisi obat hasil penelitian Yohachi. Yah, walau tidak semuanya manjur.
Kini Hitsugaya, Yohachi, Zutto, dan Matsumoto duduk bersila di lantai laboratorium. Yohachi menceritakan seluruh hal yang sebenarnya terjadi. Matsumoto dan Hitsugaya mendengarnya dengan ekspresi kaget.
"Tu-tubuhku… akan menyerang shinigami terdekat saat aku tidur?" ulang Hitsugaya dengan muka tidak percaya. "K-kenapa…"
"Menurutku, sih, gara-gara bola yang kemarin dimasukkan ke tubuh taichou," terang Yohachi. "Makanya aku bawa taichou ke sini buat sekalian diperiksa." Yohachi mengeluarkan peralatan untuk mengambil sedikit darah Hitsugaya sebagai sampel penelitiannya. Hitsugaya menjulurkan lengannya.
Sementara Yohachi sibuk mengambil sampel darah dari Hitsugaya, Zutto dan Matsumoto mengobrol.
"Fukutaichou tadi, kok, bawa-bawa ember berisi air? Buat apaan?" tanya Zutto heran.
"Oh, tadi saat pesta sake, Kira tumbang. Hisagi mengantar dia pulang, sedang aku ambil air untuk menyadarkannya!" jelas Matsumoto.
"Oke, sudah selesai!" celetuk Yohachi. "Lebih baik kalian sekarang kembali ke rumah untuk istirahat. Aku mau lembur buat meneliti sampel darah ini. Mm, kecuali taichou, jangan sampai tidur ya?"
Hitsugaya mengangguk. "Baiklah, akan ku usahakan."
"Oya, jangan sampai kejadian ini diketahui orang lain! Untuk sementara ini rahasia kita. Jika saatnya tiba, aku sendiri yang akan menyampaikannya ke Soutaichou," terang Yohachi sambil menyalakan super computer-nya.
"Siap!" kata Zutto.
"Okay, mulutku terkunci!" Matsumoto mengedipkan matanya dan mengacungkan jempolnya dengan mantap.
"………" Hitsugaya hanya terdiam. Mungkin dia masih tidak percaya kalau pada akhirnya beginilah jadinya. Seandainya tadi tidak ada Yohachi, mungkin sekarang aku sudah membantai semuanya… batin Hitsugaya. Lalu Hitsugaya berjalan menuju pintu keluar bersama Matsumoto dan Zutto.
Pintu keluar-masuk laboratorium pun akhirnya tertutup. Yohachi sendirian di dalamnya. Hh, bersabarlah sebentar, taichou… Akan ku lakukan yang terbaik.
4 hari kemudian, di Karakura
Hari itu langit sedang cerah-cerahnya. Di sebuah taman, tampak sepasang insan manusia berjalan beriringan sambil menjilati es krim mereka. Siapa lagi kalau bukan Rukia dan Ichigo? Saat itu mereka memang sedang kencan. Mereka baru saja menonton film di bioskop dan makan siang.
"Hmm, es krimnya enak!" kata Rukia sambil menggandeng Ichigo manja. "Aku selalu suka es krim vanilla."
Ichigo tertawa. "Haha, es krim di café tadi emang yang paling enak di kota ini. Semua orang juga tau!"
"Kalo udah tau dari dulu, kok, aku nggak pernah di ajak ke sana, sih?"
"Yah, habis elo selalu ngurusin chappy! Masa tiap gue ajak keluar elo selalu mintanya di anterin ke mall buat beli boneka chappy? Ya jelas jadi males gue!" kata Ichigo sambil mencomot kembali es krim cokelatnya.
"U-urusai!" Muka Rukia semu merah. Ichigo tersenyum.
"Elo tau, nggak, Rukia? Elo makin manis, deh, tiap merah begitu," kata Ichigo. "Makin imut."
Rukia makin memerah. Dia cepat-cepat menghabiskan es krimnya dan bergumam, "ih, dasar perayu."
Ichigo juga menghabiskan es krimnya. "Soalnya elo emang pantas buat di rayu."
"Ichigo…"
Rukia dan Ichigo saling menatap. Muka mereka berdua memerah. Tangan kiri Ichigo menggenggam tangan Rukia. Sedang tangan yang satunya menyibak sedikit rambut Rukia. Rukia meresponnya dengan menjijitkan kakinya dan memejamkan matanya. Ichigo merendahkan badannya dan memejamkan matanya.
2 insan itu saling mendekatkan wajah mereka. Perlahan. Hingga akhirnya bibir mereka bertemu.
1 detik…
2 detik…
5 detik…
Lama sekali.
Mereka terus menyatukan bibir mereka. Saling mengungkapkan betapa dalamnya cinta mereka satu sama lain. Mereka tidak peduli dengan orang-orang di sekeliling yang mungkin menyaksikannya sambil memberi berbagai pendapat dalam hati. Apapun pendapat mereka, 2 insan tersebut tak peduli. Mereka terlalu terlelap satu sama lain. Tak kan ada yang memisahkan mereka kecuali…
"Kurosaki-kun! Kuchiki-san!!" panggil seseorang dari jauh.
Cepat-cepat Ichigo dan Rukia menghentikan adegan ciuman mereka. Muka mereka berdua sudah menyamai tomat. Tak lama kemudian nampaklah Orihime dengan Uryuu di belakangnya.
"I-Inoue?!" seru Rukia kaget. "Ah, apa kabar?" Rukia mencoba bersikap seperti biasa. Begitu pula Ichigo.
"Baik, kok!" jawab Orihime dengan ceria seperti biasa. "Oya, baru kemana, nih?"
"Uuh, dari bioskop. Nonton film," kata Ichigo.
"Semua orang juga tahu kalau bioskop itu tempatnya nonton film, Kurosaki," komentar Uryuu. Ichigo nyengir kutu. Rukia hanya geleng-geleng.
"Oh ya, hari ini aku dan Ishida-kun mau ke Seireitei dan menginap beberapa hari di sana. Kebetulan beberapa hari ke depan sekolah libur, kan?" celetuk Orihime. "Kurosaki-kun dan Kuchiki-san mau ikut?"
Ichigo menelan ludah. Kalau gue ke sana, berarti harus menemui Toshiro… Ichigo menggigit bibirnya. "Nggak, deh. Aku nggak ikut. Beberapa hari ini aku dan Rukia ada rencana. Iya, kan, Rukia?"
Rukia kaget dengan jawaban Ichigo tadi. Ichigo… Kau… "Mm, iya."
"Lho? Kurosaki-kun nggak mau jenguk Toshiro-kun?" tanya Orihime dengan raut wajah innocent.
Pertanyaan ini seperti halilintar di siang bolong bagi Ichigo. Semuanya memang sudah tahu dengan hubungan Ichigo dan Hitsugaya (kecuali Soutaichou). Orihime yang sejak dulu menyukai Ichigo pun pelan-pelan mundur dan mengalah. Bukan karena dia tidak bisa mengalahkan Hitsugaya untuk merebut hati Ichigo. Tapi, karena dia merasa akan lebih baik kalau Hitsugaya yang bersama Ichigo. Lagi pula dia tidak enak. Masa dia menyukai pacar temannya sendiri? Seumur hidup Orihime tidak ingin menyakiti perasaan temannya. Selain itu, menurutnya Ichigo dan Hitsugaya sangat cocok.
Jodoh tak akan lari kemana. Orihime selalu merenungi kata-kata itu untuk menghibur diri. Sebagai gantinya, dia sekarang berpacaran dengan Uryuu. Walau agak canggung pada awalnya. Tapi, sekarang mereka sudah bisa beradaptasi satu sama lain. Dan perlu diakui, mereka sangat cocok.
"Oi, Kurosaki! Kenapa bengong begitu?" celetuk Uryuu membuyarkan lamunan Ichigo yang tengah dilanda syok.
"…nggak…" jawab Ichigo.
"Eh?" Orihime kaget. "Kurosaki-kun yakin? Toshiro-kun gimana?"
"A-aku udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama dia!" kata Ichigo. "Sudah ya! Ayo, Rukia! Kita pergi!" Dengan langkah lebar Ichigo berjalan pergi. Meninggalkan Orihime dan Uryuu yang syok di tempat juga Rukia yang tertunduk.
"A-ah, sudah dulu ya, Inoue! Ishida! Titip salam buat Renji dan Nii-sama!" kata Rukia yang lalu buru-buru menyusul Ichigo.
Orihime tertunduk. "T-ti-tidak ada hubungan apa-apa lagi…??" Dia menelan ludah. "Berarti Kurosaki-kun dan Toshiro-kun… putus…??"
Uryuu merangkul Orihime dan mengelus-elus pundaknya. "Kurosaki pasti punya alasannya."
Orihime mulai terisak. "T-tapi… ke-kenapa? Me-mereka cocok, kan? Tapi kenapa… putus?" kata Orihime di sela-sela tangisannya. "Ka-kasihan Toshiro-kun."
Uryuu memeluk Orihime. Dibiarkannya kekasihnya itu menangis di dadanya. "Ssh… Sudah… Tak apa-apa. Sekarang ayo kita ke tempat Urahara-san. Dia pasti sudah menunggu kita, kan?" kata Uryuu mencoba menghibur Orihime. "Ayo, kalau di Seireitei, kita pasti bisa menghibur Hitsugaya. Kau mau itu, kan?"
"Mmm…" Orihime menghapus air matanya. "I-iya."
Tik! Tik!! Tik!!!
Di ruang laboratorium itu hanya bisa terdengar suara jemari yang tengah mengetik di atas keyboard komputer. Ini sudah hari ke-4 semenjak kejadian itu. Hitsugaya berhasil tidak tidur selama 4 hari. Namun, manusia pasti ada batasnya. Orang pasti membutuhkan tidur. Kalau dia tidak tidur, itu artinya dia sama saja ingin bunuh diri. Yohachi paham sekali hal itu.
"Huaaaaah!!" Yohachi menguap lebar. Dia memang sudah 3 hari berturut-turut kerja lembur. Berusaha keras meneliti benda apa yang dimasukkan ke tubuh kaptennya. "Sialan! Sudah 4 hari! Taichou pasti sudah sampai batasnya!"
Yohachi membaca kembali hasil penelitiannya. Hmm, mungkin memang harus minta sedikit bantuan ke Mayuri atau Unohana-taichou… Jadi aku harus mengumumkan tentang hal ini ke Soutaichou hari ini? Waduh, gimana ntar reaksi mereka ya?
Dengan malas Yohachi bangkit dari kursinya. Dia mulai merenggangkan sendi dan ototnya yang kaku. Di sambarnya hasil penelitian yang sudah dia print dan berjalan keluar dari laboratoriumnya. Setelah menutup pintu dan menguncinya, Yohachi berjalan menelusuri koridor divisi 10 untuk menemui Hitsugaya yang mungkin sudah terlihat seperti zombie karena tidak tidur 1 detik pun selama 4 hari.
Kalo nggak salah, taichou ada di kamar… Yohachi bershunpo ke kamar kaptennya. "Taichou!! Konnichi wa!" serunya begitu membuka pintu. Tapi, suasana hening langsung menyambutnya. Keringat dingin mulai mengucur dari keningnya. Tak lama Zutto datang.
"Oi, Yohachi! Nengokin taichou ya? Kenapa diem aja di depan pintu? Masuk aja, taichou dari kemarin-kemarin di sana, kok!" kata Zutto yang tampaknya sedang membawakan makan siang Hitsugaya.
Yohachi langsung meraih kerah baju Zutto. "Bodoh!! Taichou menghilang!"
"Huh? Hah?!! Mustahil!!" jerit Zutto. "Barusan juga taichou minta dibeliin nasi kare pedas dan semangka buat makan siang!"
Yohachi kontan menyeret Zutto ke dalam kamar Hitsugaya. "Nih, lihat!! Hyorinmaru juga nggak ada! Ini pertanda buruk! Jangan-jangan taichou tadi ketiduran lalu…" Kata-kata Yohachi terputus.
Muka Zutto pucat. Keringat dingin mulai mengucur dari menggigit bibirnya. Seakan-akan ingin memastikan ini mimpi atau memang kenyataan. Suasana hening. Beruntung otak Yohachi langsung bekerja.
"Bagaimana pun caranya, kita harus menemukan taichou sebelum terjadi korban!" kata Yohachi sambil mengepalkan tangannya. "Zutto! Telpon Matsumoto! Beritahu dia tentang hal ini!! Aku pergi duluan!!"
Zutto mengangguk dan mengeluarkan ponselnya sementara Yohachi sudah bershunpo pergi. Dia juga ikut bershunpo keluar, tapi arahnya berlawanan dengan Yohachi. Sambil bershunpo, dia memainkan tombol di ponselnya. Segera dia tekan tombol call setelah memasukkan nomor ponsel Matsumoto. Tak berapa lama, bunyi sambungan telepon berganti dengan suara orang.
"Ya, Matsumoto yang seksi, cute, cantik, dan smart disini?"
Zutto sweatdrop mendengar sambutan Matsumoto. PD banget! "Mmm, fukutaichou, ini aku, Zutto!"
"Oh, ada apa, Zutto-chan?"
Zutto makin sweatdrop. "Fukutaichou! Gawat! Taichou tertidur!! Dan dia keluar dari kamarnya dengan membawa Hyorinmaru!!" kata Zutto to the point. Tentu saja hal ini membuat Matsumoto mengeluarkan teriakan yang mengguncang dunia.
"APA?!! YANG BENER?!! BAIKLAH, AKU AKAN SEGERA BANTU CARI!!"
Pip! Sambungan terputus tanpa menghiraukan Zutto yang sedang dilanda tuli re-manent.
"Huah… Hari ini panas ya?" keluh Ikkaku. Cowok berkepala plontos itu tampak sedang asyik nongkrong di gardu keamanan. Di sampingnya ada Hisagi dan Renji. Juga sama-sama kepanasan seperti Ikkaku.
"Huff, iya, nih! Rasanya gue mau meleleh!" imbuh Renji. "Yang nggak punya rambut aja kepanasan! Apalagi yang punya rambut kayak gue!"
Ikkaku merasa Renji sedang menyinggung dirinya. "Hah? Elo ngomong apa, Renji?"
"Oh, nggak, kok!"
Hisagi menghela nafas. "Hmm, bagaimana kalau kita minum sake? Ku traktir, deh!"
"Yang bener? Sip, dah! Yuk!!" sahut Ikkaku bersemangat kembali.
"Wuih! Lagi kaya, bro?" tanya Renji sambil menepuk-nepuk pundak Hisagi. Hisagi menyeringai dengan percaya diri. Lalu 3 orang itu berjalan beriringan menuju kedai sake favorit mereka. Namun langkah mereka tiba-tiba dihalangi oleh seseorang berperawakan kecil dihadapan mereka.
"Lho? Hitsugaya-taichou?" celetuk Hisagi. Sosok yang dipanggil itu menoleh. Zanpakuto kapten itu sudah lepas dari sarung pedangnya. Yang paling membuat nyali 3 orang itu ciut adalah saat melihat darah jelas menempel di ujung pedang. Tapi, sebuah pemandangan yang sangat mengerikan ada tepat dihadapan kapten itu.
Di hadapan Hitsugaya ada sekitar 15 orang shinigami berpangkat rendah bergelimpangan bersimbah darah. 3 cowok bertubuh besar itu terbelalak kaget. Ini bukan mimpi, kan? Tapi, mengapa kapten yang paling setia di Seireitei membunuh para shinigami lainnya?
"H-Hi-Hitsugaya-taichou! A-apa yang sebenarnya terjadi?!" tanya Renji.
Tanpa ba-bi-bu Hitsugaya langsung berlari menyerang Renji, Hisagi, dan Ikkaku. Dengan sigap 3 orang itu menyiagakan zanpakutounya. Pedang Renji dan Hitsugaya bertemu. Hisagi langsung menghantamkan Kazeshini ke atas Hyorinmaru. Membuat Hyorinmaru terjepit diantara Zabimaru dan Kazeshini. Saat Ikkaku akan melancarkan serangan, Hitsugaya berbisik.
"Soten ni zase… Hyorinmaru…"
Mata Renji terbelalak. "Ga-ga-"
Setelah itu Renji, Hisagi, dan Ikkaku tak ingat apa-apa lagi.
Hari mulai gelap. Pemandangan mentari senja yang indah kini mulai berubah menjadi pemandangan yang gelap. Melihat hal itu, Yohachi semakin mempercepat gerakannya melompati satu atap ke atap lain untuk menemukan kaptennya. Keringat mengucur dari dahinya. Yohachi melirik ke bawah, sebuah pemandangan mengejutkan dirinya.
"Hisagi!! Renji!! Ikkaku!!" teriak Yohachi. Dia langsung melompat ke tanah dan berlari menuju tempat terkaparnya 3 orang itu. Dia mendekati Hisagi. "Kenapa kalian?!"
"U-uuh… Hitsugaya-taichou…" erang Hisagi kesakitan. "E-entah mengapa… d-dia… menyerang kami…"
Yohachi terbelalak. Kini pandangannya menuju sosok shinigami lainnya yang terkapar di sekitar Renji, Hisagi, dan Ikkaku. Gawat, sudah sebegini banyak yang terserang…!! pikir Yohachi.
"A-apa yang sebenarnya… terjadi… Yohachi…??" tanya Renji yang berusaha bangkit. Ikkaku juga berusaha bersandar ke dinding.
"Kalian jangan bergerak! Kalian akan ku kirim ke divisi 4 secepatnya!" kata Yohachi sambil berdiri. Wujud zanpakuto Nikazemaru mulai muncul digenggaman tangannya. Dengan tenang Yohachi melepaskan sarung pedangnya. 3 cowok itu kaget.
"D-di-dikirim…??" heran Ikkaku.
"J-jangan bilang kalau…" sambung Hisagi gemetaran. Renji syok ditempat.
"Heyaaaaaah!! Lawan gravitasi, Nikazemaru!!!" teriak Yohachi. Angin kencang langsung datang. Saking kuatnya, Renji, dkk. sampai ikut terbawa terbang. Shinigami lainnya yang terkapar tak jauh dari mereka juga terangkat. "Yak! Selamat menikmati perjalanan terbang kalian! Nikazemaru, take off!!"
"HUWAAAAAAA!!!" Angin kuat yang membuat Renji, dkk. melayang itu langsung kembali bertiup dan membawa mereka terbang ke divisi 4. Setelah melihat mereka terbang menjauh menuju divisi 4 dengan Nikazemaru, Yohachi kembali meneruskan 'perburuannya.'
Kembali ke tempat Uryuu dan Orihime yang sudah sampai di Seireitei. Saat itu hari sudah malam. Sejoli itu beriringan menuju divisi 10. Betapa terkejutnya mereka melihat ruangan kantor itu kosong. Padahal biasanya disitu masih ada Hitsugaya yang berkutat dengan tugas, Zutto yang asyik membaca buku, Yohachi yang sibuk menyelesaikan manganya (dikejar deadline), dan Matsumoto yang asyik tiduran di sofa. Namun, sekarang ruangan itu kosong tak ada orang. Bahkan lampu belum dinyalakan.
"Hmm, lampu sampai belum dinyalakan. Berarti mereka keluar dari sini sekitar tadi siang," kata Uryuu sambil menyalakan lampu. "Kemana ya, mereka?"
"Uh, mungkin sedang keluar untuk makan malam?" tebak Orihime. "Mungkin mereka sedang ingin makan malam bersama disuatu tempat?"
"Mungkin saja," jawab Uryuu. "Tapi, lihat!" Uryuu menunjuk ke arah tumpukan kertas tugas di meja. "Mana mungkin Hitsugaya-taichou meninggalkan tugasnya? Dia pasti lebih memilih untuk tidak makan malam daripada meninggalkan tugasnya, kan?"
Orihime mengganguk. "Uuh, iya juga. Toshiro-kun yang rajin dan disiplin nggak mungkin begitu…" gumamnya. "Ah, bagaimana kalau kita mengunjungi tempat Abarai-san dulu? Siapa tahu nanti kita papasan dengan mereka!"
"Baiklah, ayo."
Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan Seireitei yang gelap sambil bergandengan tangan. Sekarang mereka sudah tidak malu lagi untuk bergandengan tangan ataupun berciuman layaknya sepasang kekasih. Dulunya, sih, mereka masih malu. Tapi, akhirnya menjadi terbiasa. Dan mereka menikmati itu. Orihime perlahan mulai melupakan cintanya pada Ichigo.
Memang, tidak semuanya bisa terlupakan. Cinta tak akan bisa menghilang semudah itu. Tapi, Orihime selalu ingat. Dia sudah mendapatkan Uryuu. Dan dia sudah merasa sangat bahagia bersamanya. Jadi, dia tidak boleh serakah dengan terus ngotot untuk bersama Ichigo. Itulah yang selalu dipikirkan Orihime.
"Ah! Bukannya itu Toshiro-kun?" kata Orihime sambil menunjuk ke arah sosok kecil yang sedang berdiri bermandikan cahaya bulan itu. "Hei, Toshiro-kun!!! Lama tidak jumpa!! Apa kabar?" teriak Orihime pada Hitsugaya. Orihime pun berlari mendekati Hitsugaya. Uryuu mau tak mau mengikuti kekasihnya itu.
Hitsugaya menoleh. Tatapannya kosong. Hal itu membuat sejoli itu kaget. Tapi, sebelum mereka sembuh dari rasa syoknya, Hitsugaya sudah mengayunkan Hyorinmaru ke arah mereka.
"To-Toshiro-kun?!! Ah, saten kesshun! Aku tolak!" Orihime langsung membuat perisai pelindung dari Shun-shun Rikka.
Trang!! Hyorinmaru bertemu dengan perisai itu. Uryuu segera memunculkan senjata Quincy-nya. "Ada apa dengan anda, Hitsugaya-taichou?!! Ini kami!"
"Toshiro-kun!! Ini aku! Orihime!!" teriak Orihime. "Ah!!" Orihime terpental ke belakang. Uryuu cepat-cepat menolongnya. Hitsugaya berlari untuk mengayunkan pedangnya kembali. Orihime kembali membuat perisai.
"Tahan semampumu, Orihime," kata Uryuu menyemangati Orihime. "Aku akan memikirkan sesuatu."
"H-hai, Uryuu!" balas Orihime. Oya, jangan kaget. Karena sudah jadian, mereka sekarang saling memanggil dengan nama kecil.
Uryuu mengamati Hitsugaya yang terus menyerang membabi-buta. Gerakannya aneh… Matanya setengah terbuka dan tatapannya kosong… Seperti sedang dikuasai sesuatu… dikendalikan… Iya, seperti sedang dikendalikan oleh sesuatu…!! pikir Uryuu. "Orihime, aku akan mengalihkan perhatiannya! Lalu sergap Hitsugaya-taichou dengan Shun'o dan Ayame!" kata Uryuu.
"Shun'o dan Ayame? Soten kishun?? K-kenapa, Uryuu?" tanya Orihime bingung.
"Sepertinya dia sedang dikendalikan oleh sesuatu. Bukannya saat kejadian Bount itu kau bisa mengeluarkan boneka seorang bount yang dapat mengendalikan orang, kan? Mungkin itu bisa berfungsi juga untuk kali ini!" terang Uryuu.
"B-baiklah!" jawab Orihime. Dia menghilangkan perisainya dan berlari. Hitsugaya berniat mengejarnya, namun panah dari Uryuu menghujaninya. Dengan cekatan Hitsugaya menghindar. Hitsugaya menoleh ke arah Uryuu yang sudah bersiap dan siaga dengan alat panah Quincy-nya.
Uryuu menarik anak panahnya. "Ayo, Hitsugaya-taichou. Kita lakukan pertarungan antar laki-laki."
Hitsugaya menyiapkan Hyorinmaru. Dia berlari sambil mengacungkan pedangnya. Uryuu dengan gesit menghindar dan melepaskan anak panahnya. Hitsugaya melompat ke belakang lalu kembali berlari maju begitu seluruh anak panah menancap di tanah. Uryuu membidik Hyorinmaru. Segera dia lepas anak panahnya saat Hitsugaya makin mendekat.
Siut! Trang!!
Hyorinmaru terpental jauh dari genggaman Hitsugaya. Pedang itu langsung menancap di tanah tak jauh dari situ. Orihime langsung menyergap Hitsugaya dari belakang. Hitsugaya meronta-ronta. Orihime memeluknya makin erat.
"Soten kishun!! Aku tolak!!" kata Orihime. Cahaya orange memancar mengelilingi Orihime dan Hitsugaya. Mata Hitsugaya terbelalak sebentar. Lalu lama-lama tatapan kosong itu berubah menjadi kembali mata hijau Hitsugaya yang jernih dan berkilau.
"I-Inoue…??" kata Hitsugaya pelan.
"Toshiro-kun." Orihime bernafas lega lalu tersenyum ke arah kapten kecil yang sudah dianggapnya seperti adik itu. Uryuu berdiri di samping Orihime turut lega.
"…terima kasih…" ucap Hitsugaya yang lalu pelan-pelan menutup matanya. Nafasnya mulai teratur dan rileks. Orihime tersenyum dan mengelus rambut Hitsugaya. Uryuu merangkul pundak Orihime, ikut tersenyum. Lalu diciumnya pipi kekasihnya.
"Kau hebat, Orihime," puji Uryuu.
"Ah, tidak…" Pipi Orihime memerah. Dia kembali mengamati Hitsugaya yang sedang tidur itu. Wah, Toshiro-kun benar-benar manis dan imut… Lucunya…
"Wah, sweet… Kalian kelihatan kayak sebuah keluarga," komentar seseorang yang sedang berjongkok di atap. Orihime dan Uryuu langsung memerah dan mendongak ke atas untuk melihat siapa orang itu.
"Ro-Rokukyuu-san?!" jerit sejoli itu.
"Hei! Sudah ku bilang panggil aku 'Yohachi'!!" balas Yohachi. "Aku nggak suka dipanggil 'Rokukyuu'!!" Yohachi melompat dan mendarat dengan sempurna di tanah. "Aneh."
"Eh? Apanya yang aneh, Roku-eh-Yohachi-san?!" Orihime segera meralat panggilannya kepada Yohachi begitu diberi death glare.
"Taichou diberi benda aneh ke dalam tubuhnya. Dia akan otomatis menyerang orang begitu dia tidur. Tapi, kok, dia nggak menyerang ya? Sekarang dia tidur, kan?"
Uryuu angkat bicara. "Mungkin itu karena soten kishun-nya Orihime?"
Yohachi mengangguk. "Ya, mungkin saja. Dengan kekuatan 'menolak' Orihime, mungkin bisa menghentikan efeknya beberapa saat. Sekitar 3-4 jam. Lumayanlah," kata Yohachi. "Kita bisa tenang untuk sementara waktu."
"Memangnya Orihime tidak akan bisa mengeluarkan benda itu?" tanya Uryuu.
Yohachi menggeleng. "Sudah ku teliti. Tapi, sepertinya benda itu sudah dibuat agar tidak bisa dikeluarkan semudah itu."
Tanpa sadar Orihime mengeratkan pelukannya ke kapten kecil itu. "Kasihan, Toshiro-kun… Pertama Kurosaki… lalu…" Mata Orihime berkaca-kaca, tapi Uryuu segera menenangkannya. Dengan sabar dan telaten, dia mengelus-elus rambut kekasihnya. Yohachi kaget.
"Jadi beneran Ichigo putus dengan taichou?!" katanya.
Uryuu mengangkat bahu sambil tetap menenangkan Orihime. "Entahlah, tapi sebelum kami kemari, kami melihat dia bersama Kuchiki-san… mmm, ciuman…"
Ciuman?!! Ciuman, katanya?!! Yohachi mengepalkan tangannya. Matanya menyiratkan kebencian. Dia berusaha meredam kemarahannya dengan menggigit bibirnya. Dasar cowok kurang ajar!! Masih beruntung kau karena taichou memaafkanmu! Kalau tidak, sudah ku pastikan kau tinggal nama!
Divisi 1
"Benarkah begitu?"
"Hai, Soutaichou."
Saat itu sedang diadakan rapat darurat mengenai keadaan Hitsugaya. Yohachi menghadap sebagai pembicara. Matsumoto, Zutto, Orihime, dan Uryuu sibuk menjaga Hitsugaya di divisi 4 sementara Yohachi menghadap.
"Astaga…" kata Ukitake dan Unohana kaget.
Kyoraku menurunkan sedikit topinya. "Yare, yare… Malang benar tensai kita ini."
Soi Fong, Kenpachi, dan Sajin memberi tatapan ikut berduka cita. Mayuri nampak tertarik untuk meneliti benda yang masuk ke tubuh kapten kecil itu. Byakuya seperti biasa… tetap tak berekspresi…
"Baiklah kalau begitu," kata Soutaichou. "Kurung Hitsugaya-taichou ke dalam sel penjara dengan reiatsu tersegel!"
"A-apa?!!" jerit Yohachi. "Hei!! Tidak bisa begitu!!"
"Benar, Yama-jii! Mana bisa kita melakukan hal tersebut kepada tensai kebanggaan kita? Iya, kan, Shiro?" kata Kyoraku. Ukitake mengangguk sependapat.
"Ya benar!! Harusnya bocah itu diserahkan ke laboratoriumku untuk percobaan!" kata Mayuri ikutan protes.
"Itu aku malah tambah tidak setuju!!" seru Yohachi sambil menunjuk Mayuri. "Oya, dan taichou bukan 'bocah', ilmuwan gila!!"
"Hah?! Siapa yang kau bilang wajah hancur, ilmuwan amatir?!"
"Gue nggak amatir!!"
"Benarkah? Hah, akui saja hal itu."
"Kau…!!"
"Sudah! Cukup!!" teriak Soutaichou sambil menghentakkan Ryuujin Jakka. Soi Fong langsung menenangkan Yohachi sedangkan Kenpachi menahan Mayuri. "Keputusanku mutlak!!" ujar Soutaichou lagi.
Yohachi menoleh ke Soutaichou. "Tapi, Soutaichou-"
"Bahkan pembuat obat terbaik sepertimu tak bisa membuatkan penawarnya. Jadi ini satu-satunya jalan," kata Soutaichou. "Kita tak bisa hanya membiarkan hal ini terjadi. Kita tidak bisa hanya membiarkan Hitsugaya-taichou tidur lalu membangunkannya. Selain membuang waktu, itu juga menyiksa Hitsugaya-taichou sendiri. Dia jadi tak bisa tidur. Bila reiatsunya di segel dan dia dikurung di penjara, pasti lebih baik. Kau paham, Rokukyuu?"
Kepala Yohachi tertunduk. "Hai, Soutaichou…"
"Dan bila hal ini terus berlangsung hingga tidak bisa dikendalikan. Maka kita terpaksa melakukan'nya'," lanjut Soutaichou.
"'nya'?" tanya Sajin.
Soutaichou memasang muka serius. "…eksekusi…!!"
Ruangan besar itu dikelilingi dengan tembok bercat putih bersih. Di tengah ruangan itu ada sebuah kursi tahta dengan seseorang di atasnya. Pria yang duduk di atas kursi tahta itu menyeruput teh di dalam mug putihnya. Didalam ruangan itu ada 13 orang termasuk dirinya. 10 orang duduk dengan rapi mengelilingi meja panjang dihadapan pria itu. Dan 2 orang lainnya dengan setia ada disampingnya.
Pria itu meletakkan mugnya. Dia tersenyum ke arah anak buahnya itu.
"Nah, mari kita selesaikan ini…" desis pria yang tak lain dan tak bukan adalah… Aizen Sousuke…
"Yaa… Tentu saja, Aizen-sama! Anda tidak boleh menyia-nyiakan usahaku," kata orang yang disamping Aizen. Orang yang tidak pernah berhenti tersenyum menyeringai, Ichimaru Gin.
Aizen tersenyum dan melayangkan pandangannya ke Espada-nya. "Ah, sebelum itu, Gin. Bagaimana kalau kita bermain dulu dengan kapten kecil kita yang sangat manis itu?" Senyum Aizen semakin melebar. "Ya, ini saatnya kita untuk bermain boneka salju…"
"Love isn't the base of happiness, but without love is the base of sadness."
= Cinta itu bukanlah sumber kebahagian, tapi ketiadaan cinta adalah sumber derita =
= TO BE CONTINUE =
4869fans-nikazemaru : "Fuh~!! Akhirnya jadi panjangan dikit~!!" (menyeka keringat dengan lega) "Oh ya, bagaimana adegan IchiRuki-nya? Mmm, gue ngetiknya dengan tangan kaku! Gile~!! Nggak bisa!! Harusnya yang ciuman tu Ichi ma Hitsu!!! AAARGH~!!!" (gila)
Hi-chan : (sweatdrop) "Dasar…"
Matsumoto : "T-taichou… mau dieksekusi?!! Lagi?!!" (A/N : ehem, dulu, kan, di DiamondDust Rebellion Hitsu juga mau dieksekusi?) (pingsan)
Zutto : "Ma-Matsumoto-fukutaichou!!" (panik)
Orihime : "A-aku sama Ishida-kun…??" (blush)
Uryuu : "………" (nggak bisa ngomong apa-apa)
4869fans-nikazemaru : "Yup!! Soalnya aku lumayan mendukung pair IshiHime!"
Hitsugaya : "Katanya elo mau ujian… Kok, malah dengan santainya update fic?! Harusnya elo ikutan les atau apalah!"
4869fans-nikazemaru : "Habis lagi nganggur! Lagipula aku sampai saat ini nggak ikutan les apa-apa! Males! Mending belajar ndiri dirumah."
Ichigo : "Gue kesannya jadi jahat banget di fic ini…"
Hi-chan : "Emang, soalnya aku dan 'mas'ku nggak suka sama elo!"
Rukia : "Elo suka IchiHitsu tapi nggak suka Ichigo?"
4869fans-nikazemaru : "Dulu benci banget, sekarang gue nggak benci-benci amat! Oh ya, akhir-akhir ini aku lagi bokek pulsa, jadi maaf ya karena SMS-nya nggak dibales!" (membungkuk) "Dan juga, akhir-akhir ini gue mood banget ngetik!! Yeah!! Yuhuuy~!! My laptop, I'm coming~!!"
Yohachi : "Yeah!!! Sekian dari kami!!"
All : "Don't forget to leave a review!!"
