CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA
Disclaimer :
Karakter disini hanya dimiliki oleh Masashi Kishimoto dan Mihoyo/Hoyoverse
Yae Miko as Mama
"hmm... hmm..."
Suara senandung kecil bergema dari dapur. Yae Miko, merasa senang. satu-satunya pagi ini yang membuatnya senang adalah membuat sarapan pagi untuk pangeran kecilnya.
Yae Miko tersenyum manis sepanjang tangannya terus bergerak mengaduk makanan yang masih dipanaskan diatas panci.
Tin..Tin...
"ara~ dimana Ai-chan, apa dia belum bangun?" Miko mendengar suara jam yang berbunyi tapi sesosok yang di nantikannya belum menunjukkan batang hidungnya.
Miko menyeringai jahil. dia segera bergegas menuju kamar sang putra. tanganmya bergerak membuka pintu, netranya menemukan orang ditunggunya masih terlelap tidur diatas ranjangnya
Miko mendekat dengan perlahan-lahan, sebelum dia membangunkannya dia melihat wajah tidurnya, dia terkikik pelan
Poke! Poke!
"Ai-chan~ bangun, sudah pagi lho~"
Yang dibangunkan sama sekali tidak membuka matanya, dia hanya menggeliat pelan dan merubah posisi tidurnya dan mencari kenyamanan. menghindari tusukan seseorang dari pipinya.
"Ai-chan~ sudah pagi" Miko berbisik di telinganya, berharap dia bisa membangunkannya.
"ahm-mmm"
Miko hanya mendapatkan balasan tak jelas.
Miko memiringkan kepalanya, dia menarik selimutnya dan ikut bergabung diatas tempat tidurnya, dengan senyuman senang dia menarik putranya kedalam pelukannya.
"hihihi, mama merasa nostalgia sekali, waktu kecil kamu selalu ingin di peluk mama, iya, kan?" Miko terkikik pelan, semakin memeluk erat kepala putranya di dadanya.
Menyadari ada sesuatu yang menghambat sistem jalur pernapasan udaranya. dia segera membuka matanya. wajahnya memerah ketika dia menemukan dirinya sudah berada di pelukan ibunya.
"mama, lepaskan aku!" dia segera mendorong ibunya dan merubah posisinya menjadi duduk.
"sudah kubilang jangan seperti itu ketika aku tidur, aku sudah besar!" wajahnya dipenuhi rona merah, dia merasa malu.
Miko hanya tersenyum lebar.
"besar? kamu itu masih bayi dan kamu anak mama, tentu saja mama akan selalu memelukmu, Ai-chan~"
Wajahnya semakin memerah.
"mama, berhenti memanggilku dengan nama itu. panggil aku Naruto"
Naruto menangkup kedua tangannya ke depan. anak laki-laki berusia 13 tahun itu berharap ibunya tidak memperlakukannya seperti anak kecil.
Miko menaruh jari telunjuk dibibirnya, dia berpura-pura memikirkannya. dia tersenyum jahil, sebelum kembali memeluk Naruto.
"gak mau, mama tetap mau panggil kamu, Ai-chan"
Naruto menghela nafas lelah, dia sudah tau, ibunya takkan pernah menyetujui ucapannya yang satu ini.
"terserah mama deh"
..
.
..
"hmm, apa ini?"
Naruto merasa sesuatu yang berbeda dari masakan Miko.
"apa maksudmu dengan 'apa ini'?" Miko bertanya dengan samar, dia meletakkan beberapa piring untuk disajikan diatas meja.
"mama coba resep baru lagi?" Naruto kehilangan melihat senyuman jahil milik ibunya.
"tentu saja, mama memberikan beberapa 'bahan' yang dibutuhkan, kamu tau sayang~" Yae Miko menyeringai jahil melihat ekspresinya.
Naruto merasakan sebuah petir menyambar punggungnya, tangannya berhenti sejenak untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Tubuhnya bergetar pelan.
"Mama!"
Yae Miko tertawa menggoda, "ufufu~ hanya bercanda, kamu tidak perlu panik"
Naruto mengacak rambutnya frustasi, kapanpun dan dimanapun, ibunya selalu jahil dan memiliki banyak godaan untuknya, dia hampir sulit membedakan yang mana kejujurannya.
Namun, Naruto memiliki pemikiran untuk sekedar membalas.
Seperti kata pepatah 'buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya'
"mama, aku memikirkan beberapa hal" Naruto mulai tersenyum manis pada sang ibu yang sudah duduk tenang menikmati sarapannya.
Miko menaikkan sebelah alisnya, dia sedikit merasa aneh ketika putranya berbicara sesuatu yang agak serius padanya.
"bagaimana kalau aku pindah?"
Miko berhenti sejenak, tatapan menjadi lebih serius, Naruto tidak memperhatikannya.
"apa maksudmu dengan pindah?"
"hmm, beberapa waktu lalu, ayah menghubungiku, dia ingin aku tinggal bersamanya di Korea dan—"
BRAK!
KRAK!
Naruto bergidik ngeri ketika mendengar suara meja retak berasal dari samping ibunya.
Miko memang tersenyum namun senyumannya menakutkan yang tidak mencapai matanya dan jangan lupakan tatapan matanya yang mengintimidasi.
Oh, Naruto baru menyadari sepertinya dia salah berbicara.
"mama...?"
Naruto berusaha mengembalikan suasana damai beberapa saat lalu.
"ufufu~ sayang, bisakah kamu memberikan ponselmu padaku" Miko menjulurkan tangannya ke depan, senyumannya yang menakutkan tidak menghilang.
Naruto tidak menyangka bahwa ucapannya menciptakan lubang permasalahan
"bu-buat apa?"
Senyuman Yae Miko melihat, tatapannya menjadi lurus pada sang putra wayangnya.
"mama perlu berbicara beberapa hal dengan ayahmu"
Yae Miko berkata tidak main-main. Naruto menyadari sesuatu, ibunya tidak menyukai ini.
"eh, tapi... aku..."
"berikan, sekarang!" Miko menekankan suaranya.
Naruto berkeluh, sebelum memberikan ponselnya pada Yae Miko.
Miko mengambilnya, lalu dia berdiri agak jauh dari meja makan dan menghubungi seseorang, dia sempat tersenyum manis ada Naruto.
"halo, Naru-chan, bagaimana? apa ibumu menyetujuinya?"
Senyuman Miko menghilang.
"ini aku ibunya" Miko berkata datar.
"a-ah, Mi-Miko bagaimana kabarmu?"
"tidak usah basa-basi, apa maksudmu dengan katamu tadi"
"aku yakin, Naru-chan sudah memberitahukanmu, jadi aku hanya perlu persetujuanmu"
"..."
"aku begini agar kau tidak terlalu pusing dengan kebutuhan Naru-chan, biar aku yang merawatnya beberapa tahun, jadi kau tidak perlu khawatir kedepannya"
"kau setuju, kan? berikan jawabanmu"
Miko sangat kesal.
"jawabanku, 'Shine'!" Miko berteriak di akhir ucapannya.
( Shine (死ね!), adalah umpatan yang paling sering muncul dalam serial manga atau anime, saat adegan adu mulut, yang memilki arti "mati kau!!")
Tut...Tutttt...
Miko terengah-engah sebelum berbalik menatap Naruto dan tersenyum manis.
"aku sudah berbicara dengan ayahmu, dan tidak usah pikirkan apa yang ayahmu katakan, dia hanya bercanda"
Setetes bulir keringat menetes di belakang kepala Naruto.
mama tidak ingin aku pergi, kan. Naruto bergumam dalam hati.
"aku akan berangkat"
Naruto menyelesaikan sarapannya dan segera mengambil tasnya, berlama-lama bersama ibunya membuatnya tidak tahan. catat, itu hanya godaannya.
"hmm, sudah mengerjakan tugas sekolahmu?"
Miko mengantarnya sampai ke depan.
"sudah"
Naruto memasangkan sepatunya.
"sudah memeriksa perlengkapanmu?"
"semuanya lengkap"
"lalu, bekalmu?"
"aku sudah memasukkannya"
"dan..."
"mama, aku sudah besar, aku tau apa yang ku perlukan"
Naruto terlihat percaya diri dengan ucapannya.
Miko tersenyum jahil.
"yakin?"
Naruto mengerutkan keningnya, dia mendengus.
"aku yakin. mama, tolong jangan menjahiliku lagi" Naruto mengambil tasnya dan bersiap akan pergi, "aku berangkat"
"tunggu, Ai-chan"
Naruto menunduk lesu. dia menunda keberangkatannya.
"apa lagi? aku tidak melupakan apapun mah"
Naruto meyakinkan ibunya lagi.
Miko terkekeh geli.
"ufufu~ apa kamu yakin sayang?"
"100 persen yakin"
"kamu tidak akan berangkat dengan keadaan seperti itu kan?"
Naruto bingung.
"hmm?"
"lihat kebawah"
Naruto menatap kearah bawah. dan betapa terkejut dia karena...
"aaaaahh!!! mama, kamu menyembunyikan celana ku lagi!"
Dia lupa memakai celana seragamnya, hanya ada boxer disana.
Miko hanya tertawa geli.
"kamu itu belum besar, bayi kecilku yang manis~ biarkan mama memanjakanmu"
Miko memburu putranya yang berlari menghindarinya.
"tidak, tidak, tidak, mama hentikan!"
-zXz-
Naruto menutup pintu lokernya dengan lesu. setelah melewati hari yang panjang dengan godaan ibunya, pelajaran yang sedikit sulit, Naruto bisa merasakan keringanan di bahunya setelah melalui semuanya.
"Naruto-kun"
Naruto menolah, dia tersenyum.
"ada apa Kokomi?"
Sangonomiya Kokomi, teman sekelas Naruto, sekaligus sahabat kecilnya. mereka dari Taman Kanak-Kanak sampai sekolah menengah, selalu bareng-bareng.
"mau pulang?"
"iya"
"mau pulang bareng?"
"boleh?"
"tentu"
Dan mereka berjalan pulang bersama. sepanjang perjalanan, sesekali Kokomi melirik Naruto. perlu diketahui bahwa dia memiliki perasaan suka pada sahabat kecilnya tapi apa daya, sepertinya orang yang ditaksirnya tidak peka dengan dengan perasaannya.
Tapi Kokomi tidak mau menyerah begitu saja, dia harus membuat Naruto juga jatuh cinta padanya.
Dan sekarang adalah kesempatannya, pulang berdua. mungkin Kokomi akan memulai dengan, ke-ke-kencan...
Kokomi membuang wajahnya ke samping, dia merasakan wajahnya memanas.
"Kokomi...?"
Kokomi segera memperbaiki dirinya.
"ehem, maaf Naruto-kun, ada apa?"
Kokomi tersenyum manis.
Naruto menaikkan sebelah alisnya bingung, bukankah seharusnya dia yang bertanya.
"kamu tidak apa-apa?"
Kokomi tertawa kecil, dia meletakkan jarinya di depan bibirnya.
"tentu, aku baik-baik saja"
Naruto bingung tapi menerima.
"hmm, yah, baiklah"
Dia memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
"oh yah, Naruto-kun, apa kamu sibuk?" Kokomi bertanya, dia melancarkan aksinya, ini demi kemajuan hubungan mereka.
"tidak, kenapa?"
"ah, begitu..." yess, kesempatanku. Kokomi tersenyum manis, meski dia tertawa penuh kemenangan dalam hati.
"apa kamu bisa menemani ku ke suatu tempat?"
Naruto memikirkan, sepertinya dia memiliki banyak waktu luang.
"baik–"
[you get e-mail]
Keduanya terdiam mendengar suara ponsel Naruto berbunyi.
Naruto tersenyum masam, "sebentar, Kokomi"
Dia merogoh saku celananya dan memeriksa pesan.
--
[Dari : Mama
Subject : Untuk Anak Mama tersayang
"hey, Ai-chan, sayangku~"
hari ini mama pulang cepat loh, kamu senangkan? pastinya, dong.
Mama bawain makanan kesukaan kamu juga, jadi tunggu mama, yah.
Oh iya, sebelum mama pulang, kamu sudah harus ada dirumah.
Kalau nggak, kamu gak boleh keluar rumah selama seminggu atau kamu harus ikut sama mama.
Salam sayang dari mama tercinta
p.s : mama akan tiba dalam waktu lima menit.]
--
Kokomi bisa melihat sebuah getaran kecil dari bahu Naruto. dia penasaran
"Naruto-kun"
"khukhukhu..."
Kokomi terkejut mendengar suara tertawa tertekan dari Naruto.
"Naruto-kun, ada apa?"
Naruto mengangkat wajahnya dan menatap Kokomi dan tersenyum (sangat) terpaksa.
"Kokomi, sepertinya aku tidak bisa menemanimu"
"eh, kenapa?"
"kamu tau, hidupku akan berbahaya kedepannya, jadi lebih baik kamu pulang lebih dulu"
Kokomi bisa merasakan perasaan depresi dari suaranya. ini membuatnya khawatir. apalagi senyuman Naruto yang mengatakan... hmm, yah, dia dalam keadaan berbahaya.
"ada apa-"
"sampai jumpa, Kokomi"
Naruto tidak mendengar lagi ucapan Kokomi dan memilih mengambil langkah seribu menuju rumahnya.
Hidupnya berada dalam bahaya tingkat S.
Dikurung dirumah atau ikut bersama ibunya. keduanya adalah pilihan yang mematikan.
"tunggu Naruto -kun" meski Kokomi ingin mencegahnya, Naruto terlalu jauh, bahkan punggungnya sudah tidak keliatan.
Setetes air kesengsaraan tergenang di pelupuk matanya.
Padahal dia menunggu momen ini.
Tapi Kokomi merasa aneh, ini pasti perbuatan seseorang
Yah, Kokomi sangat tau, siapa yang berusaha ingin hubungan mereka tidak terlalu serius.
Siapa lagi kalau bukan...
"bibi Yae, aku akan mendapatkan Naruto khe..khe..khe..khe..."
Tangan Kokomi terkepal erat, dia tertawa jahat. dia sudah tau Yae Miko seperti apa.
Sementara itu, tidak jauh dari mereka Yae Miko tersenyum kemenangan. melihat rencana kencan yang direncanakan Kokomi berakhir gagal.
"apa kamu tidak ingin meneruskan keturunan?" teman Yae Miko, Ei. bertanya, dengan nada sedikit sarkatis.
"ara~ apa maksudmu, aku sama sekali tidak berniat begitu"
Mereka melihatnya dari dalam mobil, Yae Miko bisa mendengar percakapan mereka lewat penyadap suara yang dia pasang di saku celana Naruto.
Maka dari itu, sebelum Naruto menyetujui ajakan Kokomi. Yae Miko bertindak cepat.
"kamu tidak memberikan kebebasan untuk putramu"
"ufufu~ bayiku itu masih terlalu cepat untuk menjalin hubungan, aku tidak ingin bayiku merasakan bagaimana rasanya patah hati"
Yae Miko tersenyum tidak bersalah.
"kamu hanya tidak ingin putramu di rebut orang lain, kan?"
Yae Miko hanya memberikan kerlingan nakal.
"ufufu~"
"dasar, ibu posesif" gumam Ei dalam hati. dia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Miko.
