"K-kiai D-dewadaru ... h-hari ini, a-ada kabar d-duka ..."
Raden Mas Baiduri Jenggala Bawana duduk bersila di tepi teras yang terdekat dengan pasangan beringin kembar di sebelah barat. Dia terisak perlahan sembari mengingat pengumuman yang tadi pagi disampaikan Mawais kepadanya dan kepada Ais:
"Kolonel Pyrapi meninggal dunia ..."
Kabar berpulangnya si pengusaha tebu milik keraton membuat Sultan Balakung, Mawais, Ais, dan beberapa abdi dalem pergi untuk melayat. Duri, seperti biasa, diminta tetap tinggal. Di sini, di dekat sepasang beringin kembar yang sering diajaknya berbicara, Duri turut berduka.
"A-ayahnya M-mas N-nova m-m-m ..." Duri tak kuasa melanjutkan curahan hatinya kepada sang beringin. Air matanya berjatuhan, seolah yang baru saja meninggal itu ayahnya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BoBoiBoy (c) Monsta
Geef Mij Maar Serabi Solo (c) Roux Marlet
Penulis tidak mendapat keuntungan material apa pun dari cerita ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Catatan Penulis #1:
Perihal pose dan outfit Ais pada sampul cerita akan dijelaskan lebih detail di bab ini! Sekali lagi terima kasih pada Fanlady yang telah mewujudkannya dalam gambar yang indah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Lelo lelo ledung … lelo lelo ledung …."
Duri ingat nyanyian ini di waktu kecil. Bukan ibundanya, Kuputeri, yang menyanyi untuknya. Bukan pula Mawais, ayahandanya. Berapa umurnya? Tiga, empat tahun?
Duri ingat dia dipangku oleh sosok yang besar dan hangat, bergoyang-goyang di atas kursi yang berderit, sesekali diterpa semilir nan sejuk. Duri menyukai saat-saat ini. Kadang daun-daun yang berguguran ditiup angin ikut menyapu wajahnya, membuatnya kegelian. Duri merasa tenang dan nyaman, tanpa suara tangisan kembarannya di dalam kamar. Lama-lama, Duri akan jatuh tertidur dalam kedamaian.
Saat dia sudah cukup besar untuk belajar membaca bersama kembarannya, Duri tak bisa lagi berlama-lama ada di pangkuan hangat itu. Di malam hari, dia akan sudah terlalu lelah untuk memanjat ke atas singgasana tinggi itu. Alhasil, sang kakek sendiri yang menggendongnya dan menimangnya sampai nyaris tertidur.
"Ayah," ujar suara yang familier di telinga Duri. "Biarkan Duri tidur di kamarnya sendiri."
"Sedikit lagi. Dia belum benar-benar tidur."
Suara yang pertama mendesah. "Maaf, Ayah jadi repot."
"Aku tidak merasa repot. Duri juga cucuku. Sedangkan Ais sudah lebih banyak kalian perhatikan."
"Ais sering sakit, kami jadi hanya mengurusinya terus." Suara itu berhenti sejenak. "Duri, sayang, maafkan Ayah dan Ibu, ya."
Duri merasakan sebuah tangan lain membelai rambutnya, tapi dia tidak membuka mata.
"Bukan salah kalian kalau Ais sakit-sakitan," lanjut Balakung. "Wetonnya tidak bagus, Jumat Kliwon."
Mawais mendesah lagi, masih sambil mengusap kepala Duri. "Mereka anak kembar, tapi wetonnya berbeda."
"Ya. Sabtu Legi hanya selisih beberapa menit."
Duri mendengar semuanya dan mengingatnya, meski baru beberapa tahun kemudian dia mengerti artinya. Di waktu luang, sang kakek sering mengajaknya ke dekat pohon beringin.
"Di alun-alun sini, ada sepasang beringin kembar," mula Balakung.
"Kembar?" ulang Duri. "Seperti Ais dan aku?"
"Benar. Seperti Ais dan Duri, beringin kembar juga punya nama sendiri-sendiri. Kiai Dewadaru dan Kiai Janadaru."
Dari kakeknya, Duri tahu bahwa Kiai Dewadaru yang bermakna 'cahaya ketuhanan' ada di sebelah barat, di lokasi yang sama dengan Masjid Gedhe. Sedangkan, Kiai Janadaru yang bermakna 'cahaya kemanusiaan' di sebelah timur, lokasi yang sama dengan Pasar Gedhe Beringharjo. Yang satu menggambarkan keluhuran Sang Pencipta dan satunya hiruk-pikuk hidup manusia.
"Pohon dan tumbuh-tumbuhan sama seperti manusia. Mereka mengamati, mendengarkan, dan merasakan segala sesuatu. Kadang-kadang, mereka juga menjadi telinga Tuhan."
"Tapi, pohon tak bisa bicara, Mbah?" balas Duri polos.
Balakung terbahak-bahak. Suara tawanya membuat Duri ikut tertawa.
"Mereka tidak bisa bicara. Tapi, mereka bisa mendengarkanmu. Maka, hati-hati dengan ucapan dan tingkah lakumu, Duri."
Duri paling suka bicara dengan Kiai Dewadaru karena letaknya lebih dekat ke kamarnya daripada pohon satunya. Selain menceritakan apa saja yang dia pelajari hari itu, kadang-kadang dia juga akan mengusap-usap batang pohon itu dengan penuh kasih. Seperti kakeknya, Duri meniru menjadi pecinta alam dan tumbuh-tumbuhan. Dia paling bersemangat ketika belajar ilmu alam, hilir-mudik mencocokkan gambar di buku dengan makhluk hidup di sekitar keraton.
Ais tidak pernah semangat belajar apa pun dan lebih banyak mengantuk, sampai-sampai kadang si kakek sendiri datang ke ruang belajar dan menakut-nakutinya dengan tongkat rotan, tapi Duri tetap menyayanginya. Dia sangat senang ketika suatu hari ayah mereka menjanjikan berlibur bersama ke pantai selatan, yang ternyata berujung tragedi.
Setelah nyaris digondol Nyi Roro Kidul, seluruh hidup Duri berubah.
"Orang dengan weton Sabtu Legi biasanya lebih cocok menjadi pemimpin daripada yang Jumat Kliwon."
Duri berumur tujuh tahun duduk bersila dengan gelisah di hadapan Sultan Balakung. Anak itu tak berani menatap sang pemimpin keraton. Dia paham bahwa kakeknya sedang membicarakan hari kelahirannya dan abang kembarnya, Ais. Ais lahir di malam Jumat Kliwon sebelum hari berganti, sedangkan Duri menyusul tujuh menit kemudian di hari Sabtu Legi. Mereka anak kembar tapi punya tanggal hari jadi yang selisih satu hari dan sejak kecil ayah-ibu mereka lebih perhatian kepada si kembar yang lebih tua yang sering sakit-sakitan.
"Tapi aku tak akan membebanimu lebih banyak lagi. Mulai hari ini, kau cukup belajar kesenian merangkai bunga."
Diamnya Duri dianggap sebagai persetujuan. Dia tidak lagi bisa bicara lancar, apalagi dengan kehadiran makhluk itu di dekat kaki kakeknya. Dia kini menghindari singgasana sang sultan sebisa mungkin. Sejak itu, Duri banyak menghabiskan waktu bersama para perempuan untuk merangkai bunga. Dia juga sesekali masih mencurahkan isi hati kepada Kiai Dewadaru dari pinggir teras karena sekarang dia melihat pohon itu disinari seberkas cahaya yang terlampau menyilaukan kalau terlalu dekat.
"A-aku s-sebetulnya m-masih mau belajar b-bersama Ais ..." Duri mengungkapkan keinginannya pada sang pohon suatu siang, di kala sebuah rasa hampa menyesakkan mengganggu dadanya. Malam harinya, dia dipanggil oleh Balakung sekali lagi.
"Mulai besok, bergabunglah bersama Ais untuk pelajaran."
Duri mengangkat kepala dengan takut-takut, setengah tidak percaya pada pendengarannya.
"Ayah kalian yang minta. Menurutnya, Ais akan lebih bersemangat belajar kalau ada Duri."
Duri mengerjap. Ah, tentu saja. Ais begini, Ais begitu. Ini semua masih seputar Jaiz Tirta Kalijaga, si kembar yang lebih tua. Duri sekadar diminta hadir sebagai pendukung sang calon pewaris takhta untuk belajar.
Ular naga di bawah singgasana itu tiba-tiba berdesis pelan, membuat Duri terperanjat. Bahkan khodam atau makhluk gaib pelindung kakeknya saja tidak menyukainya, meski Duri juga takut pada hewan ular sungguhan. Dia jadi ingat betapa ayah dan ibunya lebih perhatian kepada Ais yang sering sakit sejak mereka lahir. Air mata Duri mulai merebak ketika dia menurunkan kepala. Rasanya dia selalu ada di urutan kedua yang tidak pernah penting.
Namun, kalimat Balakung berikutnya sungguh tak terduga.
"Duri boleh belajar apa pun yang sama dengan Ais. Kalian berdua sama-sama cucuku."
Duri mendongak lagi dan menatap kakeknya dengan mata berkaca-kaca.
"Kemarilah, Duri ..." Balakung tersenyum sambil merentangkan tangannya. Duri bangkit berdiri dan menghambur ke pelukan badan besar itu, melupakan segala tata krama keraton yang diajarkan setiap hari, lalu membasahi pakaian kakeknya dengan air mata dan ingus. "Menangislah sepuasmu ...," gumam Balakung sembari mengusap-usap punggung mungil cucunya yang bergetar.
Tidak ada yang berbicara lagi, baik sang sultan maupun cucunya. Duri jatuh tertidur karena lelah menangis, tapi mulutnya tersenyum dalam pejam. Balakung membawanya ke kamar, mendapati Ais sudah mendengkur pulas, lalu membaringkan Duri di tempat tidur satunya.
Duri yakin pohon Kiai Dewadaru telah membantunya mengirimkan doanya kepada Tuhan sehingga dia bisa belajar lagi bersama Ais. Maka hari itu, Duri juga mendoakan Nova yang tengah berduka atas kematian ayahnya lewat Kiai Dewadaru.
Duri selalu senang melihat Ais begitu bersemangat kalau Nova datang. Mereka berdua akan menghabiskan sepanjang siang berkutat di dapur dan Duri akan diberi hasil kudapan yang mereka coba buat dengan pengawasan Qua Li. Duri juga tahu bahwa sejak belajar bahasa Belanda, Ais punya pesan rahasia untuk Nova, "Geef mij maar ..."
Ais adalah kembaran Duri dan Nova adalah teman baik Ais. Maka, bagi Duri, Nova juga bagian dari hidupnya. Dia belum begitu paham konsep hubungan keluarga dan pertemanan, juga hierarki di lingkungan rumahnya seperti adanya abdi dalem dan prajurit keraton. Duri kini bisa membedakan status sosial orang-orang dengan melihat penjaga mereka. Dia dan Ais dilindungi sesosok kera besar. Sultan Balakung punya ular naga. Orang-orang yang bukan keluarga sultan, para pekerja di keraton termasuk Qua Li, punya penjaga berupa hewan-hewan yang lebih kecil.
Yang menarik dari Nova adalah penjaganya semacam burung berukuran sedang. Awalnya, Duri mengira hewan itu ayam berekor aneh, badannya kecil tapi ekornya mekar seperti kipas raksasa. Beberapa waktu kemudian, barulah Duri tahu yang sebenarnya setelah serentetan peristiwa.
Dapur keraton meledak siang itu. Dari apa yang Duri dengar, Nova dan Ais mencoba memasak sesuatu yang hampir menimbulkan kebakaran, lalu malah meledak. Qua Li menyelamatkan mereka tepat waktu, terkena sedikit luka bakar di punggungnya, dan Ais pingsan sampai sore hari tanpa terluka sedikit pun. Duri tidak tahu apa yang terjadi pada Nova setelah itu. Malam harinya, Duri sulit tidur karena Ais banyak menangis.
Menjelang subuh, Duri yang baru tidur sebentar jadi terbangun dengan kaget karena kera besar penjaganya membuat keributan. Makhluk gaib itu menggaruk-garuk kayu tempat tidurnya lalu bolak-balik melompat ke arah pintu. Duri mengira dia perlu keluar kamar sebentar. Diliriknya Ais yang masih tertidur dengan bekas air mata di pipinya dan bergerak perlahan-lahan.
Duri mengikuti kera itu, yang bergerak keluar teras. Kalau ke arah ini, berarti menuju Kiai Dewadaru. Saat itu, dia mendengar sebuah bunyi samar dari arah halaman. Kera penjaga berhenti. Duri memicingkan mata, merasa bahwa barusan melihat seberkas cahaya di bawah pohon beringin. Bukan pohon beringin Kiai Dewadaru yang terang benderang itu, tapi pohon satunya, Kiai Janadaru, yang letaknya jauh di seberang halaman.
Bunyi tumbukan samar tadi terdengar lagi. Kali ini disertai suara seseorang yang mengaduh. Duri berjalan menuju sumber suara dan melihat cahaya itu semakin jelas di dalam gelap.
Ada api. Bukan api sungguhan, karena api ini muncul di ekor ayam penjaga orang yang dikenal Duri. Ayam itu terbakar ekornya dan sedang mondar-mandir dengan panik. Nova ada di sana, berlutut di bawah pohon, menumbuk tanah dengan tinjunya. Dialah yang membuat bunyi-bunyi samar itu, diiringi keluhan dan dengusan yang berat. Siluet tubuhnya tampak begitu besar di hadapan api yang berkobar, rambutnya yang memanjang terurai berantakan di sisi wajahnya.
Duri terbelalak menyaksikan api pada ekor ayam itu membesar ketika Nova berteriak keras. Dia maju dan berusaha meraih tangan Nova, tapi ayunan tangan itu terlalu kencang dan malah menghantam wajahnya. Duri jatuh terduduk sambil memegangi hidungnya yang sakit saat Nova menoleh kaget, baru menyadari ada orang.
"Astaga! Ais! Tidak lagi!"
Duri bisa mendengar Nova berseru-seru, tapi dia justru menatap lekat-lekat ke arah si ayam yang api di ekornya mulai padam. Kera miliknya dan ayam aneh itu seperti berinteraksi satu sama lain dengan bahasa yang tidak dipahami Duri. Saat hidungnya yang berdarah diseka dengan kain, barulah Duri menatap Nova yang ada di depannya dan tampak kalut.
"Duri, Duri? Ini Duri? Bukan Ais?"
Duri mengangguk. Nova menghela napas sambil ikut duduk.
"Maaf."
Duri mengangguk lagi, lalu menunjuk ke samping. "M-mas Nova p-punya burung m-merak yang ca-cantik."
Nova mengernyit, menoleh sekilas, lalu kembali menatap Duri. "Seingatku, Ais bilang kau memang bisa melihat yang tidak bisa dilihat orang."
Duri tersenyum kecil. "E-ekornya b-barusan t-terbakar."
Nova tampak terkejut, lalu mengalihkan pandangannya dari Duri. "Aku sedang marah. Mungkin seperti itu akibatnya. Apa kau pernah melihat makhluk seperti itu sedang terbakar?"
Kali ini, Duri menggeleng. Dia menjangkaukan tangannya ke bahu Nova yang lebar dan mengusapnya pelan. Nova menarik napas berat lagi.
"Maaf tentang Ais. Apa dia baik-baik saja?"
"D-dia m-masih t-tidur."
"Aku tidak tahu apa yang kulakukan kemarin siang. Ada sebotol bir milik Ayah di rumah dan aku pernah baca teknik memasak dengan alkohol. Kupikir, daripada benda itu tak terpakai. Bodoh sekali."
"Bir ...?" ulang Duri sambil menelengkan kepala. Dia belum pernah mendengar istilah barusan. "A-apa itu?"
"Bir itu minuman keras. Mengandung alkohol, cairan yang membuat orang mabuk."
Duri kaget mendengarnya. Lagi-lagi, Nova menarik napasnya dengan penuh tekanan sebelum melanjutkan,
"Ayahku sering mabuk."
Sang cucu sultan betul-betul terkejut kali ini. Nova tersenyum getir di depannya.
"Kau tahu, ayahku itu mantan tentara? Dia kehilangan sebelah kaki dan pekerjaannya enam tahun yang lalu. Dia kehilangan kuasa dan harga dirinya, diberhentikan dengan tidak hormat."
Duri masih diam dan mendengarkan Nova yang kini mendongak menatap ke langit.
"Kakekmu mengenal ayahku sewaktu Ayah bertugas di daerah ini. Ayah pernah membantu menghindarkan tentara Belanda mengacau di sini. Jadi, setelah dia dikeluarkan dari ketentaraan, kakekmu memberinya pekerjaan mengelola perkebunan tebu dan pabrik gula. Aku sangat berterima kasih."
Duri ingat pernah diceritai seseorang, mungkin oleh Mawais, bahwa pabrik gula itu sejatinya memang milik keraton.
"Di rumah, ayahku orang yang sama sekali berbeda. Dia membawa pulang banyak bir dari KNIL dan minum-minum. Kami sering bertengkar tentang itu. Minuman keras dilarang dalam agama, tapi Ayah bilang dia tidak bisa makan kalau tidak minum itu. Aku tahu itu hanya alasan. Dia butuh pelarian."
Nova melirik lawan bicaranya, lalu menambahkan, "Kalau sedang mabuk, Ayah sering memukulku. Tapi, kau lihat, badanku sekarang lebih besar darinya. Jadi, lebih seringnya aku yang menang. Tapi lagi, aku tak mungkin terus-terusan memukuli ayahku sendiri."
Jeda sejenak.
"Mungkin ini yang terbaik," desah Nova. "Ayah tak perlu lagi merana dan sakit hati dengan terus hidup. Dia sudah semakin lemah dan kurus sejak dipensiunkan."
Jeda sekali lagi. Duri masih menunggu Nova melanjutkan karena sepertinya masih ada yang meresahkan hatinya.
"Aku tak bisa berhenti berpikiran bahwa semua yang kupunya diambil dariku," gumam Nova getir. "Aku sudah tak punya ibu, lalu ayahku meninggal, dan kemarin aku nyaris membunuh cucu sultan. Aku diceramahi kakek dan ayahmu sampai malam. Aku menginap di sini, tapi sepertinya aku tak boleh bertemu kalian lagi. Koh Kuali bilang, aku tak boleh menginjakkan kaki di dapur itu lagi."
Jeda yang lebih panjang. Nova menoleh dan terkejut ketika melihat Duri sudah banjir air mata dalam diam.
"Jangan menangis, Duri. Lihat, aku saja tidak menangis," gumam Nova, lalu pandangannya menerawang. "Aku tak pernah menangis, karena menangis itu tanda lemah. Kalau mau kuat, tak boleh menangis. Begitu kata Ayah."
Kalimat Nova justru mengudara dengan getaran dalam suaranya.
"Lelaki kuat tidak menangis," ulang Nova, berusaha tampak kuat seperti kata-katanya, tapi tak begitu berhasil. Remaja itu berpaling ketika suaranya mulai pecah. Napasnya berantakan di tengah usahanya untuk membendung tangis. "Aku lelaki kuat."
"T-tapi, lelaki k-kuat pun b-boleh bersedih," balas Duri perlahan, kembali mengusap bahu Nova dengan lembut. "A-aku j-juga akan s-sedih k-kalau ayahku yang m-meninggal."
Bendungan itu tak akan bertahan lebih lama lagi. Duri masih punya kelanjutannya,
"Ka-kalau orang s-sedang sedih, m-menangis itu b-boleh. M-mas Nova b-boleh menangis d-di sini. A-aku tak akan b-bilang-bilang."
Detik berikutnya, Duri bisa merasakan tubuhnya dirangkul erat oleh Nova yang kemudian sesenggukan parah tanpa suara di belakang punggungnya. Bagian bahu bajunya dicengkeram kuat-kuat. Meski pelukan itu lebih dari hangat yang Duri tahu, jauh lebih panas karena orang yang memeluk sedang dilanda emosi, dia tidak menolaknya. Sembari terus mengusap-usap punggung remaja yang lebih tua itu, Duri menatap ke arah sosok berpendar lembut Kiai Janadaru yang berkebalikan dari pohon satunya dan mengucap doanya dalam hati,
Semoga Mas Nova bisa kembali riang gembira.
Duri juga baru sadar bahwa matanya lebih nyaman di dekat pohon yang satu ini justru karena dia tidak berpancar teramat silau seperti pohon kembarannya. Duri ingat seseorang pernah bilang padanya bahwa ada hal-hal tertentu yang gelap di dunia, agar orang bisa mengagumi yang hanya tampak dalam gelap itu. Dalam gelap, Duri bisa melihat bahwa ekor burung penjaga Nova ternyata senantiasa memiliki seberkas nyala api kecil di ujungnya, yang tidak bergoyang ditiup angin malam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di hari itu, dalam undangan pernikahan saudara jauhnya di Surakarta, enam belas tahun sejak insiden ledakan dapur dan ekor ayam-merak yang terbakar, Duri melihat doanya sekali lagi dikabulkan Tuhan. Nova yang berbadan tinggi menjulang ada di sana, menyapa dan merangkul dirinya bersama Ais dengan cengiran bahagia. Tak ketinggalan si burung merak dengan ekor lebarnya yang indah berwarna-warni dan setitik nyala api di ujungnya, meski hanya Duri yang bisa melihatnya.
"Aku ini sudah jadi saudara ipar dari saudara jauh kalian, tahu?!"
Duri terkejut mendengar Nova bicara begitu, meski Ais sudah lebih dahulu menyuarakannya,
"EEEHHH?!"
Nova menjelaskan, "Istri Raden Mas Taufan Ramadhan Angkasadjaja adalah adik sepupuku."
"Ja-jadi, s-sekarang, M-mas Nova j-juga s-saudara kita?" Duri, yang kini berumur dua puluh tiga tahun, masih takjub. Begitu mudahnya Tuhan mempertemukan kembali para sahabat lama yang dipaksa mengambil jalan hidup sendiri-sendiri. Duri hanya mendengar selentingan kabar dari ayah mereka bahwa Nova mulai menjalankan pabrik gula itu setelah dia berumur delapan belas tahun, di mana sebelum itu pengelola sementaranya adalah Mawais, lalu Nova menikah dengan gadis sekampungnya di usia dua puluh. Sedangkan Ais dan Duri selalu disibukkan dengan belajar bahkan di luar keraton, terutama di hari Jumat.
"Benar sekali!" Nova tertawa riuh.
Sejurus kemudian, Nova mengajak Ais pergi ke dapur untuk "bantu-bantu" sedangkan Duri bergabung dengan kelompok penghias tanaman. Duri tidak tahu apa saja yang terjadi di dapur Istana Mangkunegara siang itu, tapi dia sempat melihat Nova keluar dengan wajah merah disusul Ais, dan ekor merak itu berkobar terbakar sekali lagi.
Sebelum Duri sempat berbuat apa pun, Ais yang raut wajahnya begitu serius sudah bicara dengan Nova, lalu kobaran api itu mengecil. Dia mengamati semuanya dari kejauhan dan tersenyum.
Kedewasaan punya caranya sendiri untuk menghampiri manusia di waktu yang tepat.
Malam itu, Duri bersama Ais dan Nova ikut berbahagia atas pernikahan antara Taufan, calon pewaris takhta Mangkunegara, dengan Yaya, adik sepupu Nova yang pemilik pertanian Delanggu. Sepertinya semua akan berakhir baik, seandainya cerita ini ditamatkan pada malam penuh sukacita itu. Namun, hidup terus berlanjut selama bumi masih berputar. Keesokan paginya, Nova ikut pulang ke Yogyakarta bersama si kembar naik kereta api.
"Jadi, apa saja yang terjadi enam belas tahun terakhir?" celetuk Nova di perjalanan, menatap dua wajah yang tetap serupa meski sudah dewasa itu.
"Hmm ..." Ais bergumam dan bertukar pandang dengan Duri, tahu pasti dirinya yang akan lebih banyak bercerita. Duri tersenyum dan mengangguk. "Tidak ada yang menarik untuk diceritakan dari pelajaran-pelajaran," ucap Ais akhirnya, dan Duri terkikik mendengarnya. Tiba-tiba, Ais tersentak karena teringat sesuatu. "Oh, Mas Nova ingat tentang jemparingan? Akhirnya aku boleh melakukannya, saat umurku delapan belas. Sulit sekali, tahu. Kau harus membidik panahnya dari depan perut, dan akan tambah sulit kalau kau sedang lapar."
Duri mengangguk-angguk. Dia sering melihat Ais berlatih panahan gaya Mataram itu, duduk bersila di bawah pohon-cahaya Kiai Dewadaru, menyiagakan busurnya mendatar dan sejajar dengan perut.
Seringai Nova terbit kembali. "Aku membayangkan kau akan mengisi ulang bahan bakarmu dulu di dapur sebelum bisa menembak dengan benar."
"Begitulah. Aku senang Koh Qua Li selalu menyediakan makanan enak."
"Bagaimana kabarnya Koh Kuali?" tanya Nova.
"Dia sehat," gumam Ais, lalu dia melirik kembarannya. "Aku harap nanti kita boleh ke dapur. Mas Nova tahu, aku pernah hampir mengancam Koh Qua Li dengan anak panah jemparingan, biar aku diperbolehkan masuk dapur. Setelahnya, aku dimarahi Ayah sepanjang malam."
Nova terbelalak mendengarnya. "Apa tidak berlebihan? Kenapa kau mengancamnya dengan panah?"
Ais cemberut dan melempar pandang ke jendela kereta. "Aku kesal sekali padanya. Sejak kapan dia begitu sok melarangku melakukan yang kusukai?"
Pada kalimat itu, sorot mata Nova berpindah kepada Duri yang juga balas menatapnya penuh makna. Duri menggeleng sekilas sambil menyentuh kepalanya sendiri.
Nova bersuara ragu-ragu, "Ais ... kau tidak ingat yang terjadi waktu itu?"
"Waktu itu apa?" balas yang ditanya. "Seingatku, kita selalu memasak di sana setiap Jumat pertama di tiap bulan, lalu tiba-tiba saja aku tidak boleh masuk dapur lagi."
Rupanya ada sesuatu yang memblokir ingatan Ais tentang insiden itu. Atau mungkin waktu itu kepalanya terbentur, jadi dia tidak ingat apa-apa?
"Memangnya, apa yang terjadi?" Ais menoleh, menatap Nova yang hanya diam, lalu Duri yang memang tidak bicara sejak tadi. "Apa kalian ingat? Kita masih kecil sekali waktu mengenal Mas Nova, Duri. Aku hanya samar-samar ..."
"A-ais! Ais! I-itu burung g-garuda yang kemarin!" Duri berseru mendadak dan menunjuk keluar lewat jendela. Dia melompat dari kursinya dan menatap lekat, jauh ke langit.
"Burung garuda?" sahut Nova yang melongo heran. "Elang? Rajawali?"
Ais ikut menoleh dan memandangi langit, tapi percuma saja karena hanya biru dan awan yang dilihatnya. "Apa itu garuda penjaga Paman Gempa?"
Duri mengangguk bersemangat. "D-dia ikut p-pulang ...?"
Ais mendengus geli. "Mana mungkin begitu. Memangnya kita siapanya Paman Gempa? Keponakan jauh dari saudara jauhnya."
"B-bukan k-kita. D-dia p-pulang ... ke laut s-selatan ...," gumam Duri, nadanya sendu.
Ais jadi diam, tapi tidak melepaskan pandangannya dari langit.
"Agaknya, burung garuda punya sejarah panjang di keluarga kalian, ya," ucap Nova setelah semuanya diam bermenit-menit. "Lihat itu, kain jarik kalian motifnya burung garuda."
"Ini semen ageng sawat gurdha," terang Ais tanpa diminta, mengamati bentuk sosok bersayap pada kain bawahan yang dipakai olehnya dan Duri. "Semen artinya semi atau tumbuh, ageng itu besar, sawat adalah sayap, dan gurdha itu garuda."
"H-hanya k-keturunan Sultan yang b-boleh m-memakai motif ini," sambung Duri. "M-mas N-nova tahu, kain lurik j-juga a-ada filosofinya?"
Kain biru bergaris-garis yang selalu dipakai Ais itu? Nova menggeleng karena memang tidak tahu.
Ais menjelaskan, "Lurik biru tua adalah perlambang kedalaman samudera. Garis luriknya ada selang-seling tiga dan empat garis ... istilahnya telupat, kewulu minangka prepat, atau 'direngkuh sebagai saudara'. Lalu kancingnya ada enam di kerah baju, berarti rukun iman. Ada lima kancing di ujung lengan, berarti rukun Islam."
"Filosofinya indah sekali," gumam Nova terkagum-kagum. Duri juga merasa kagum pada daya ingat Ais perihal busana keraton yang sudah belasan tahun yang lalu diajarkan pada mereka.
Ais sudah memejamkan mata sejak dia selesai menjelaskan, diserang kantuk duluan, tidur bersandar ke dinding kabin. Duri dan Nova bertukar senyum dalam diam, sama-sama lega karena Ais tidak melanjutkan penyelidikannya tentang masa lalu. Sepertinya memang tidak perlu membahas luka lama di saat ini.
Duri mengamati kembarannya sambil tersenyum. Barangkali karena mereka baru saja bertemu lagi dengan saudara jauh mereka, Taufan, setelah bertahun-tahun, salah satu kenangan masa kecil terbuka kembali. Hari penunjukan calon pewaris takhta Keraton Yogyakarta di generasi ketiga, yang ditandai dengan penyerahan kalung berlambang keraton. Balakung memimpin upacara, Mawais sebagai pewaris generasi kedua mendampinginya. Ais dan Duri, keduanya ditunjuk jadi calon pewaris, bukan salah satu. Bukan Ais yang lahir lebih dulu atau Duri yang wetonnya lebih bagus. Mereka berdua berhak atas takhta yang sama di kemudian hari. Keputusan sang Sultan kali ini sangat berbeda ketika cucu lelaki pertamanya anak kembar.
Ais dan Duri berumur dua belas tahun saat menerima kalung itu. Sejak hari itu, mereka tidak lagi tidur sekamar. Sebelum berpisah kamar, Ais yang duluan memeluk Duri dan mengucap syukur, sekaligus mengagetkan sang adik.
"Aku bersyukur Simbah mengizinkanmu belajar bersamaku lagi."
Waktu itu, Duri tak segera menanggapi saking terkejutnya.
"Aku dulu minta tolong lewat Ayah. Aku senang, usahaku itu tidak sia-sia. Kau juga calon sultan yang hebat, Duri!"
Duri begitu terharu. Ternyata selama ini Ais sama sekali tidak menganggapnya sebagai pesaing dalam hal pewarisan takhta. Dia juga bukan sekadar pendukung abang kembarnya, bukan tokoh nomor dua yang tak pernah penting. Dibalasnya pelukan Ais, sama eratnya, bahkan lebih.
"Eeh? Kenapa Duri menangis?"
"A-ais," balas Duri susah payah di sela isakan. "A-ais ... Ais ... D-duri s-sayang Ais ..."
"Ais juga sayang Duri," balas yang lebih tua sambil tersenyum tulus.
Duri makin menangis disertai gemetaran hebat dan Ais menuntunnya untuk duduk. "A-ais ... aku m-masih se-sering mimpi b-buruk soal laut ..."
Kembali ke masa kini, Duri merasa senang melihat wajah Ais yang begitu damai dalam tidurnya. Dia tidak akan lupa bahwa Ais menghabiskan malam terakhirnya tidur sekamar bersama Duri dengan mendengarkan cerita traumatis dari seseorang yang bicara terbata-bata. Ais begitu sabar dan cermat menyimak pengalaman Duri selama hanyut di laut, yang masih sering menghantui tidurnya. Sekali itu saja Duri melihat Ais menang atas rasa kantuk dan dia sangat berterima kasih.
"Duri, kau tahu? Anakku ada yang kembar seperti kau dan Ais."
Ucapan Nova membuyarkan pikiran Duri yang berkelana ke masa lalu. Dia mengerjap, baru menyadari bahwa sosok remaja yang dulu rapuh itu kini telah menjelma menjadi seorang ayah. Diamatinya paras Nova yang memang tampak lebih tua sekaligus jauh lebih berbahagia dibandingkan waktu itu.
"Kunamai mereka berdua Air dan Daun, seperti nama kalian."
Duri merasa tersanjung, dia mengangguk sembari tersenyum.
"Kapan-kapan, kalau boleh dan kalau mereka sudah bisa berjalan, akan kuajak mereka ke keraton."
"U-umur b-berapa mereka?" Duri bertanya.
"Si kembar baru satu tahun. Ada lima orang abang mereka, yang tertua umur sepuluh tahun."
Duri terbelalak. "M-mas N-nova punya t-tujuh anak?"
Nova menyeringai lebar sekali sampai matanya tinggal segaris.
Perjalanan mereka dari Surakarta pulang ke Yogyakarta tidak begitu panjang. Saat sudah tiba di stasiun tujuan, Ais terlonjak bangun.
"Sudah kuputuskan," gumam Ais berapi-api sambil mengemasi barang bawaan. Duri memandanginya dengan heran, sedangkan Nova yang penasaran jadi bertanya,
"Memutuskan apa?"
Ais menjawab, "Aku akan masak serabi di dapur hari ini. Apa pun yang terjadi!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
bersambung.
.
.
.
Catatan Penulis #2:
Turut senang menyambut hasil akhir penantian panjang Duri dan benih oakuat di isu 26 nanti! \^o^/
Sepertinya dengan begini Balak akan menjadi opening dan ending dari BoBoiBoy Galaxy season dua ya mwehehe
.
Apa yang dialami Pyrapi dalam cerita ini dikenal dengan istilah post power syndrome, yang banyak dialami orang yang masuk masa pensiun bekerja. Apalagi untuk Pyrapi yang tadinya punya jabatan cukup tinggi di ketentaraan (Kolonel) lalu dipensiunkan sebelum waktunya :"
(pukpuk Pyrapi dan Nova)
.
Rasanya bab ini lebih banyak imajinasi supernaturalnya daripada dramanya XD perihal sosok beringin dan khodam, juga prosesi penyerahan kalung keraton, itu semua karangan Roux semata, bukan untuk dijadikan referensi yak.
.
Oke, cerita ini tinggal satu bab lagi! Seperti sudah disampaikan di bab lalu, bab yang terakhir akan berfokus pada si juru masak, Qua Li. Nantikanlah kelanjutannya! Kritik dan saran sangat diterima! ^^
05.03.2023
