Naruto @ Masashi Kishimoto
Danmachi @ Fujino Omori
Semoga kalian menyukai cerita ini
-Epos Sembagi Arutala 7-
Selamat Membaca
"Aku tahu kau pasti ada di sini, sedang mengenang masa lalu?" Tanya Hecate pada seorang Elf mengenakan pakaian Maid Fertility.
"Kebetulan saja aku punya waktu luang, jadi sesekali aku datang untuk memberikan penghormatan." Jawabnya tanpa menoleh pada dewi Hecate.
"Kejadian yang begitu pahit, aku bahkan belum bisa terima kalau dia pergi dengan cara tragis seperti itu. Namun semua sudah terjadi, bahkan para dewa pun tidak lepas dari keganasan dunia bawah. Kadang aku bertanya-tanya apakah ini keadilan yang diharapkan oleh saudariku." Ucap Dewi Hecate sembari memandang batu nisan dengan mata sendu.
Ryuu Lion mengigit bibir dan matanya tertutup poni. Tidak ada kata-kata yang bisa dia lontarkan untuk melukiskan perasaan yang bergejolak di hatinya setelah mendengar ucapan Dewi Hecate itu.
Bagi High Elf itu, sosok yang tertulis di nisan itu adalah mentari di hidupnya. Karena dialah yang dengan tangan terbuka menerima Elf asing yang baru kehilangan rumah.
"Aku bersumpah demi Spirit yang melindungi hutan Elf, selama darahku mengalir di tubuhku dan kudapati kabar tentang mereka yang telah menjebak kami. Aku akan menebasnya tanpa ampun." Ucap Ryuu Lion dengan suara dingin.
"Tenangkan dirimu, Sylph! Aku hanya mengungkapkan perasaan saja. Kau jangan terbawa suasana, untuk sekarang lebih baik kau nikmati hidup dan buatlah kenangan bersama-sama orang yang ada disekitarmu." Respon Dewi Hecate.
"Aku mengerti, lalu apa yang membawamu kemari Dewi Hecate? Karena tidak mungkin anda datang kemari hanya untuk mengunjungi makam Dewi Astrea saja?" Tanya Ryuu.
Dewi Hecate terkekeh saat mendapat pertanyaan itu.
"Kau ternyata kasar juga ya, tapi sudahlah tujuanku hanya mampir ke kota untuk merekrut Familia dan untungnya sudah dapat. Selain itu aku ingin menikmati sedikit keramahan yang ada di kota ini. Apa kau puas?" Jawab dan tanya Dewi Hecate.
"Aku mengerti! Aku hendak kembali ke Bar, mau ikut?" Ajak Ryu seraya berbalik.
'Tidak, aku sudah ada urusan. Lagipula aku sengaja ingin melihatmu saja." Jawab Dewi Hecate.
"Kalau begitu aku permisi dan terima kasih karena telah mengkhawatirkanku." Balas Ryuu Lion sembari melenggang.
Setelah kepergian Elf itu, Dewi Hecate memandang lembut batu nisan itu. Sebenarnya Dewa atau Dewi tidak perlu sebuah makam, karena tubuh mereka akan langsung lenyap begitu mati.
Namun ini dibuat semata-mata untuk mengingat kembali kenangan yang pernah dilalui dengan Dewa yang bersangkutan.
"Dia masih belum berubah ya, masih dengan sikapnya yang Tsundere. semoga kau baik-baik saja di kayangan Astrea! Aku sedang menyelidiki apa yang gagal di selesaikan oleh Dewa Zeus dan Dewi Hera, tolong bantu aku dengan kekuatan keadilan yang selalu kau gaungkan itu ya Saudari. Selain itu, tidak kusangka tahun-tahun sudah berlalu begitu cepat. Meski aku duluan yang tiba di dunia bawah tapi kenapa kau duluan yang kembali ke kayangan. Aku merasa kita tidak menghabiskan waktu dengan maksimal di dunia bawah, tapi suatu saat ketika bertemu nanti akan aku ceritakan petualangan yang begitu hebat tentang apa yang kulakukan di sini. Jadi tunggu aku lebih lama lagi, lalu sampaikan juga salamku pada Onee-chan bodoh yang malah ikut-ikutan menyusulmu ke sana dan meninggalkan Adiknya sendiri. Katakan kalau aku baik-baik saja dan menitip salam, kurasa aku terlalu berlebihan. Jaa na, Astrea!" Ucap Dewi Hecate menyelesaikan curhatannya.
'Sebaiknya aku juga mampir ke tempat mereka kapan-kapan,' batin Hecate saat mengingat apa yang terlewatkan.
Di tempat lain
"Jadi bagaimana dengan makan es krim sambil di serang oleh Monster Kobold Lord, apa kau baik-baik saja?" Tanya Mirai seraya tersenyum.
'Kau mengejek atau khawatir sih?" Tanya balik Naruto sambil menghela napas.
"Tentu saja, dua-duanya." Jawab Mirai.
"Makan es krimnya berakhir menyenangkan dan monster itu bisa kukalahkan dengan Jurus baru yang kudapat dari Mia-san dan kuberi nama Rasengan!" Balas Naruto.
"Ternyata begitu, terus bagaimana bisa kau belanja peralatan bagus ini. Jangan bilang kau menghabiskan semua uang yang di dapat, ketahuilah kita harus berhemat Naruto-kun!"
Pemuda pirang itu langsung menanggapi.
"Aku juga tahu, karena itu barang-barang ini kubeli dengan harga murah. Naaza memberitahu lokasi dimana para penempa baru dari Familia Hepaesthus menjajakan kerajinan mereka untuk dijual secara murah demi mendapatkan pelanggan. Bagaimana menurutmu dengan Zirah kulit yag kuberikan, tampak bagus kan?"
"Begitu ceritanya, kalau begitu kapan-kapan kau harus mengajakku ke sana supaya memilih sendiri barang yang aku ingin oke!" Pinta Mirai.
"Baik-baik, lain kali kita akan ke sana!" Balas Naruto.
Mendengar balasan dari permintaannya membuat Mirai Kuriyama tersenyum. Karena akhirnya dia bisa membuat janji untuk pergi bersama Naruto.
Padahal dia bisa saja memaksa Naruto untuk mengajaknya pergi beli senjata atau potion. Namun dia ingin ketika pergi belanja nanti memiliki sesuatu yang menarik untuk diingat.
Sementara dengan tidak sadar Naruto mengiyakan permintaan gadis Pallum itu, tanpa mengerti maksud dari ajakan pergi di tempat itu sebenarnya.
Mungkin bagi pemuda pirang ini permintaan dari Mirai Kuriyama adalah hal wajar sebagai balas budi, karena telah membantunya dalam seminggu ini dan terus menemaninya sejak bubarnya Familia Apollo.
"Oh iya, coba kau perlihatkan padaku sihir yang kau dapat dari Grimoire itu!" Pinta Mirai.
Sambil tersenyum dan mengoles hidung Naruto menanggapi.
"Tentu saja, perhatikan baik-baik!" Ucap Naruto dengan semangat.
Dia merentangkan tangan kanannya dan perlahan muncul pusaran di telapak tangannya yang berputar dengan cepat dan memadat.
Mirai Kuriyama matanya tidak berpaling dari telapak tangan Naruto karena begitu mengagumkan Rasengan itu.
Sementara Naruto senyumannya kian melebar dan hidungnya kian berkedut-kedut, sebab rekan partynya memandang kagum dengan sihir yang dia dapat dan sedang ditunjukan itu.
"Cih, kau baru bisa menciptakannya sebesar genggaman tangan dan sudah besar kepala." Ucap sebuah suara yang tak lain adalah Dewi Hecate.
Dewi itu memandang Naruto dengan sinis, sedangkan Naruto memandang balik dengan kesal. Sementara Mirai memandang mereka dengan bingung.
"Urusai, jangan ganggu kesenanganku!" Balas Naruto setengah teriak.
"Aku hanya mengatakan kebenarannya, punyamu itu adalah tahap awal dari Rasengan." Balas balik Dewi Hecate.
Segera Naruto menonaktifkan Rasengan miliknya dan menanyakan lebih lanjut. Namun dia sudah keduluan oleh teman di sampingnya.
"Jika apa yang ditunjukan oleh Naruto adalah tahap awal, berarti masih ada banyak lagi tingkat dari sihir Rasengan ini?"
"Tentu saja, totalnya ada tiga. Itu jika dia cukup beruntung mengembangkannya. Tapi jika tidak, kurasa kau memang pantas untuk berpuas diri. Meski hanya menguasai tingkat dasar dari Rasengan." Jawab Dewi Hecate.
"Sialan, memangnya kau tahu apa soal jurus ini hah? Ini adalah jurus yang kudapatkan dari-"
"Sebuah Grimoire dengan pola pusaran angin kan?" sambung dewi Hecate.
Mata Mirai dan Naruto terbelalak saat Dewi Hecate menjawab dengan tepat, simbol apa yang tertera di sampul Grimoire yang di berikan oleh Mia-san.
"Dari raut kalian berarti jawabanku benar, asal kalian tahu saja. Aku dulu punya anggota Familia yang memiliki gelar [Kiroi Senko] dan dialah yang menciptakan sihir tersebut. Saat itu dalam setengah tahun dia sudah bisa mengembangkannya sampai tingkat tiga. Dia mengatakan kalau itu adalah batasannya, sedangkan sihir Rasengan bisa dikembangkan lebih kuat lagi. Kau mungkin tidak percaya, tapi di tingkat tiga Rasengan miliknya mampu membuat lubang besar pada sebuah daratan." Jawab Dewi Hecate membanggakan Kiroi Senko yang tak lain adalah Ayah Naruto namun dia masih belum memberitahukannya pada pemuda tersebut.
Mendengar penjelasan panjang dari Dewi Hecate tentang sejarah Rasengan membuat Naruto gemetar karena semangat. Apalagi tahu fakta lain kalau sihir itu belum pada tahap sempurnanya.
"Kalau begitu, akulah yang akan menyempurnakannya. Si [Kiroi Senko] boleh bangga karena menciptakan sihir ini, tapi akulah yang akan menyempurnakam sihir ciptaannya ini." Ucap dengan tatapan serius.
Melihat tatapan di mata Naruto membuat Dewi Hecate tersenyum, dia seakan melihat sosok Minato di wajahnya. Sesuatu yang membuatnya begitu nostalgia.
'Keh, tatapannya sama dengan milikmu. Minato-kun. Namun aku masih kesal, kenapa kau malah memilih Kushina daripada diriku. Kusonato!' Batinnya jengkel.
"Hn, laki-laki yang dipegang adalah ucapannya. Aku tidak peduli pada tindakanmu selanjutnya, tapi pastikan kau tepati apa yang telah keluar dari mulutmu itu bocah!" Balas Dewi Hecate.
Mirai yang menyadari sesuatu segera bertanya.
"Mungkin ini kurang sopan, tapi boleh aku tahu siapa dirimu?" Ucap Mirai
Dewi Hecate menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum, bagi Gadis Pallum ini hal tersebut nampak begitu anggun.
"Karena terlalu bersemangat menyela kesenangan bocah yang membanggakan sihirnya di tingkat dasar aku sampai lupa memperkenalkan diri!" Ucap Dewi Hecate sembari tertawa kecil.
"Urusai! Jangan dibahas lagi, perkenalkan dirimu saja sana!" Teriak Naruto.
Mirai mengerjapkan mata beberapa kali, lalu pandanganya terpaku pada Naruto yang jika diartikan dari teriakannya itu dia sudah mengenalnya.
"Aku memang bertemu dengannya siang ini dan dia memintaku untuk menjadikan dirinya dan kawannya sebagai Familia supaya statusnya ada yang mengatur. Lalu perkenalkan namaku adalah Dewi Hecate sang penguasa Bulan Gelap." Ucap Dewi Hecate membantu Naruto lepas dari situasi tidak nyamannya.
"Eh, apa Naruto-kun berkata kalau dia memintamu untuk menjadikannya Familia supaya ada yang mengatur statusnya?" Tanya Mirai.
Naruto merasakan firasat buruk dari pertanyaan itu dan biasanya itu benar. Sedangkan Dewi Hecate ingin mengambil kesempatan ini untuk mengerjai pemuda tersebut.
"Iya, kau benar sekali. Mentang mentang aku Dewi yang butuh uang karena lapar. Dia mau membantuku dengan syarat aku menjadi dewi yang mengatur status Falna miliknya. Bukankah itu kejam," jawabnya dengan akting yang dibuat semenyedihkan mungkin.
Sementara itu pelipis Naruto berkedut-kedut karena semua yang dikatakan oleh Dewi Hecate itu sama sekali bohong namun sialnya.
"NARUTO-KUN! APA ITU BENAR?" Tanya Mirai dengan penekanan di setiap kata-katanya. Bahkan Naruto bisa merasakan aura membunuh keluar dari tubuhnya.
"Tunggu dulu, tolong dengarkan penjelasanku dulu. Apa yang diucapkannya itu bohong, dia cerita bukan-"
"Cukup jangan mengelak! Kau benar-benar keterlaluan!" Bantah Mirai seraya menggenggam pedang pendek yang di berikan Naruto sebelumnya.
"Mau apa kau dengan Shortsword itu?" Tanya Naruto Sweatdrop.
"Tentu saja, memberimu hukuman! Jadi sebaik-"
Mirai melongo sebab Naruto sudah memulai langkah seribu miliknya untuk lepas dari kemarahan gadis palum ini. Tentu saja dia mengejar sambil membawa Shortsword untuk mengintimidasi.
Sementara Dewi Hecate tertawa puas melihat kelakuan dari kedua calon anggota baru Familianya itu. Karena apa yang mereka lakukan amat mirip seperti yang dilakukan oleh Minato dan Kushina.
'Sepertinya mereka benar-benar akan menghiburku,' batinnya.
Setelah puas kejar-kejaran Dewi Hecate menjelaskan kebenarannya dan meminta maaf pada Mirai, kalau apa yang dikatakannya itu bohong untuk mengerjainya saja.
Namun itu terlambat sebab Naruto sudah dibuat babak belur karena kesalahpahaman itu. Sebagai permintaan maaf, dewi Hecate menggunakan obat mujarabnya pada pemuda pirang itu sehingga sembuh total dari kondisinya.
"Jadi yang tadi itu bercanda!" Ucap Mirai dengan wajah tanpa dosanya.
"Makanya lain kali tolong dengarkan penjelasanku dulu baru bertindak.* Balas Naruto.
Gomenne, Naruto-kun!" Ucap Mirai meminta maaf dengan puppy eyes.
Hati Naruto sebenarnya masih marah atas sikap semboro itu, tapi melihat begitu berkilaunya teknik yang digunakan oleh Mirai Kuriyama membuat amarahnya padam.
"Hah~ pokoknya lain kali jangan diulangi!" Ucap Naruto sembari menghembuskan napas.
Lalu pandangannya beralih pada Dewi yang telah membuat semuanya terjadi. Namun dia nampak tidak merasa bersalah bahkan melemparkan senyum mengejek.
"Kenapa matamu menatapku begitu, bukankah aku sudah menyembuhkan luka-lukanya. Apa mungkin masih kurang?" Ucap Dewi Hecate.
"Tentu saja, aku ingin kau memberitahu bagaimana caranya [Kiroi Senko] itu mengembangkannya sampai tahap tiga dan apa saja nama dari masing-masing tingkat itu?" Tanya Naruto.
"Jadi begitu, baiklah akan kuberitahu tapi hanya sampai ke tahap dua. Sedangkan tahap tiga kau harus cari tahu sendiri, karena aku tidak diberitahu olehnya. Bagaimana?" Balas Dewi Hecate.
Naruto menimbang sejenak lalu merespon.
"Tidak masalah, tolong jelaskan!" Pintanya.
"Kau ternyata masih sopan juga ya, baiklah untuk sampai ke tahap dua. Yang harus kau lakukan, Buat satu Rasengan lalu perlahan-lahan tambahkan energi sihir dengan tetap mempertahan kepadatan dan kestabilan putarannya sampai ukurannya 10 kali lipat dari ukuran semula. Jika kau bisa melakukannya dengan benar maka nama sihirnya berganti menjadi Oodama Rasengan. Untuk yang ketiga aku tidak tahu bagaimana dia mencapainya tapi nama sihirnya menjadi Chou Oodama Rasengan." Ucap Dewi Hecate menjawab pertanyaan Naruto.
Naruto segera menyimpan penjelasan dari Dewi Hecate di memorinya, kemudian tidak untuk mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih anda sudah berbaik hati, menunjukan cara untuk meningkatkan sihir Rasengan ini." Ucapnya.
"Tidak masalah, jadi apa kalian siap mengubah status Falna kalian?" Tanya Dewi Hecate.
Mirai dan Naruto saling pandang lalu memberi senyum kecil. Kemudian mengangguk ke arah Dewi Hecate sembari menjawab.
"Tentu saja!"
Dewi Hecate segera meneteskan darahnya dan Falna yang awalnya bersimbol sebuah Busur dan Padi berubah menjadi Vektor Triple Crone yang mana tengahnya terdapat obor Yunani yang saling menyilang dengan kunci bermata Mahkota yang menjadi lambang dewi Hecate sang penguasa Bulan Gelap.
"Sudah selesai, dengan ini kalian resmi menjadi Familiaku. Uzumaki Naruto dan Mirai Kuriyama, tolong kerja samanya ya!" Ucap Dewi Hecate sambil tersenyum.
"Tentu saja," jawab keduanya.
'Tapi tidak kusangka, ternyata Naruto memiliki sesuatu yang istimewa. Apa si Apollo itu tidak menyadarinya sama sekali?' Tanyanya dalam hati saat melihat status Falna milik Naruto yang samar-samar tertulis sesautu yang berbunyi [Mode Sage : Locked]
[Mode Sage : Status Terkunci] sebuah kondisi dimana pengguna bisa memanfaatkan kekuatan alam di sekitarnya untuk melawan musuh. Dapat melipat gandakan semua kekuatan fisik dan sihir sebanyak 3 kali lipat.
Keterangan : Untuk membuka kemampuan ini, si pengguna harus membuktikan nilai dirinya sebagai Petualang.
