CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA
"mama..." panggil Naruto pada sang ibunda yang sedang asik menonton.
"iya sayang...?" Ei tersenyum manis pada putranya yang sedang berpikir keras, entah apa yang dipikirkannya, membuatnya terlihat imut di mata Ei, "kenapa sih, kok mukanya serius banget"
Ei menjulurkan tangannya ke samping, mengambil Naruto dan membawanya keatas pangkuannya.
"tadi di sekolah, ada anak lebih kecil dari aku namanya Nina" Naruto mulai bercerita kembali.
"Nina?" Ei bertanya untuk memastikan.
Naruto mengangguk.
"jadi..."
(#flash#)
Naruto memasuki kelasnya seperti biasa, dia bertemu dengan teman-temannya, setelah insiden dikira anak pungut. teman-temannya seperti tidak lagi menyinggung masalah itu, bahkan mereka seperti mengistimewakannya.
Entah apa yang terjadi, Naruto tidak tau.
Waktu istirahat telah tiba, Naruto dan teman-temannya menuju taman sekolah, mereka makan bekal buatan ibu masing-masing. Dan untuk Naruto, dia dibuatkan oleh Sara. soalnya ibunya tidak bisa memasak. (that's true bro)
Saat sedang asik menyantap makanannya, seseorang menarik seragam Naruto dari belakang. Naruto berbalik dan melihat sesosok anak perempuan, tingginya sebatas dadanya, usianya kisaran 5 tahun.
"aku?" Naruto menunjuk dirinya sendiri, seolah memastikan. anak perempuan itu mengangguk.
Anak perempuan itu menjulurkan tangannya, bermaksud minta di gandeng oleh Naruto.
Naruto mengangguk mengerti dan menggenggam anak itu. anak itu membawanya ke suatu tempat, Naruto hanya mengikutinya.
"siapa namamu?"
"Nina"
"kita mau ke mana Nina?"
Nina tidak menjawab, hingga mereka tiba di suatu taman yang tidak terlalu luas, berada di samping gedung kelas 1.
Nina melepaskan genggaman tangan Naruto dan berlari mengambil sesuatu, sebuah bola kaki dan Nina menunjukkannya pada Naruto.
"ajari Nina main"
Naruto mengangguk. dia berdiri di depan gawang yang ukurannya sesuai usianya.
"Nina tendang yah, nanti biar aku yang jaga gawang"
Nina tidak menjawab, dia hanya diam menatap bolanya meski Naruto sudah mengambil ancang-ancang di depan gawang.
"kenapa belum di tendang?"
Nina menggelengkan kepalanya.
"tidak mengerti"
Naruto kembali pada Nina.
"Nina tinggal tendang saja, seperti ini" Naruto mengayunkan kakinya dari belakang ke depan, "tendangannya sedikit kencang yah?"
Nina mengangguk mengerti, dia tertawa senang ketika Naruto berlari ke sana dan ke mari mengambil dan mengoper bolanya yang menggelinding.
"sekarang main itu" Nina menunjukkan senang ke arah bola basket.
"boleh, ayo"
Nina dan Naruto memegang bola basket, di depan mereka ada ring basket yang tingginya seusia anak sd. Naruto mengajari Nina cara bermain basket.
Naruto berhasil beberapa kali memasukkan bola ke dalam ring, namun Nina kesulitan dalam melempar bola, ada yang meleset bahkan ada yang tidak mencapai ringnya sama sekali. Naruto tertawa. Nina memasang wajah merengek sebelum menangis.
Naruto menjadi iba, dia mengambil satu bola basket pada Nina lalu menggendong Nina mendekati ring. membantu Nina memasukkan bola itu dalam ke ring.
"yeaahhh" Nina tertawa senang melihat bolanya masuk ke dalam ring.
Naruto bertepuk tangan dan menepuk kepala Nina pelan.
"kamu hebat" pujinya membuat senyum Nina semakin mengembang.
"onii-chan, ayo main lagi!" ujar Nina senang.
Naruto terkesiap dengan panggilan Nina.
"onii-chan?" Naruto memastikan panggilan Nina.
"yah, onii-chan adalah onii-chan'
"namaku Naruto"
"baiklah, Naruto onii-chan"
Naruto kehilangan kata-kata kemudian dia tersenyum.
"ayo kita main lagi" Naruto jadi bersemangat bermain.
Nina ikut bersemangat. mereka bermain bola, petak umpet hingga kejar-kejaran. Nina dan Naruto tidak sadar bahwa hari sudah semakin siang.
"Nina!"
Mereka berhenti berlari dan menoleh ke arah sumber suara, seorang wanita menghampiri mereka.
"ibu..." Nina berlari kepada ibunya.
"yaampun, kamu dari mana saja, ibu sulit sekali mencarimu" ibu Nina tampak khawatir karena kehilangan jejak putrinya.
Nina menunjuk Naruto, "aku tadi main sama onii-chan"
Naruto tersenyum kikuk, dia menghampiri mereka.
"maafkan aku Irina-sensei, aku tidak mengatakannya padamu" Naruto merasa bersalah, seharusnya dia menyampaikan tadi kalau Nina bersamanya.
"tidak apa-apa Naruto-kun, tadi pasti Nina yang menarikmu"
Naruto mengangguk pelan.
"Nina, ucapkan terima kasih" kata ibunya.
Nina mengangguk dan mendekati Naruto lalu memeluknya, "terima kasih onii-chan sudah menemani Nina bermain"
"sama-sama"
"lain kali temani Nina main lagi yah"
Naruto mengusap lembut kepala Nina dan tertawa pelan, "tentu adik Nina"
Nina menatap Naruto dengan binar-binar bintang di matanya.
"ada apa?"
"kakak Naruto baik, aku iri kalau kak Naruto punya adik" ucap Nina sebelum menyusul ibunya, dia melambaikan tangannya pada Naruto yang terdiam memikirkan kata-katanya.
Naruto mengerutkan keningnya sebelum tersenyum lebar.
"aku tau"
(#flash#)
Ei hanya manggut-manggut mendengar cerita sang anak.
"jadi begitu, sekarang temannya anak kesayangan mama bertambah dong" ucap Ei dengan nada guyonan.
Naruto tertawa lebar, "iya mama, Nina cantik, aku suka"
"kalau mama, bagaimana? cantik, gak?" Ei tersenyum menggoda putranya.
Naruto memeluk Ei erat dan menyandarkan kepalanya di bahu Ei.
"mama adalah orang paling cantik di dunia"
Ei tertawa senang, Naruto juga. mereka tertawa.
Ei memeluk Naruto gemas dan menciumnya tanpa henti, Naruto masih tertawa seraya menahan hujaman ciuman dari sang ibu.
"mama, Nina bisa jadi adik aku gak?" Naruto bertanya.
"boleh dong, kan Nina panggil kamu kakak, jadi boleh"
Naruto mengangguk lagi, sebelum memikirkan sesuatu.
"Nina boleh tinggal sama kita, gak mama?" Naruto bertanya dengan semangat.
Ei mengusap kepala putranya, "kalau itu gak boleh sayang"
"kenapa gak boleh?" Naruto cemberut.
"Nina kan punya mama juga, gimana nanti mamanya kalau Nina tinggal sama kita, nanti mamanya Nina sedih" Ei menjelaskan dengan perlahan dan penuh kelembutan agak Naruto mengerti.
Naruto mengangguk sedih, itu masuk akal.
"terus kalau aku mau main, sama siapa?"
"sama mama kan bisa, mama nanti temenin kamu"
Naruto memikirkannya dengan keras.
"mama..."
"hmm? ada apa sayang?"
Naruto menatap Ei dengan polos.
"mama bilang, aku asalnya dari mama kan?"
Ei terkesiap, dia seharusnya menjaga ucapannya waktu itu tapi mungkin Naruto belum terlalu mengerti.
"iya, memangnya kenapa?"
Naruto terlihat bersemangat lagi.
"mama bikin kayak aku lagi yah?"
Ei shock.
"hah?"
"mama kan bilang dari mama, berarti mama bisa bikin kayak aku juga kan? atau buat kayak Nina aja mama, biar aku punya adik"
Ei mangap-mangap tak jelas.
"sayang, tidak begitu" Ei meringis dalam hati, dia tidak mau punya anak lagi, hanya ingin menghabiskan waktu bersama putra bungsunya. "gak semudah itu sayang, ada proses panjang perlu dilalui, adiknya gak bisa langsung ada"
Naruto mengerutkan keningnya, "terus gimana bisa dapat adiknya mama?"
Ei berpikir keras, "anak mama belum cukup untuk tau"
Naruto memanyunkan bibirnya.
"kenapa?"
"anak mama masih kecil"
Naruto mendesah pasrah.
"kalau begitu minta aja sama ayah!" Naruto berujar semangat.
Pertahanan Ei menjadi runtuh.
"Ya Tuhan, ambil saja ayahnya Naruto sekarang!" jerit Ei dalam hati penuh dengan dendam dengan ayahnya Naruto.
Sementara itu...
ayah Naruto sedang duduk memeluk lututnya, suasana suram menyelimutinya. kejadian di kebun binatang semakin menjauhkannya dari putranya.
"hiks, hiks, maafkan aku Ei..."
.
.
.
.
.
.
.
oke, biar kujelaskan dulu, ayahnya Naruto itu di setiap rute berbeda. (okey)
terserah kalian, pikirkan sendiri siapa ayahnya, TAPI.. ayahnya Naruto itu masih warga genshin impact, bukan dari anime lain, bukan Minato. (pokoknya dari genshin impact dan belum tentu juga itu Aether)
oke sekian.
