"Hey Naruto... jika saja suatu saat aku tiada bagaimana perasaanmu nanti?" Tanya seorang pria berambut putih panjang yang tengah memandang ke arah awan yang berjalan pelan diatas. Pada tangannya terdapat sebuah es krim yang masih tersisa setengah.

"Eh apa maksudmu pertapa genit! Kau itu kuat kan! Kenapa kau berkata seperti itu?!" Seru seorang anak berambut pirang yang terkaget dengan pertanyaan tiba-tiba dari gurunya ini. Ayolah, itu sama sekali tidak pernah terduga akan diucapkan oleh orang yang kekuatannya setara dengan Orochimaru dan nenek Tsunade bukan?

"Kekuatanku ada batasnya juga Naruto." Pria itu lalu menoleh pada muridnya. "Lagipula aku juga manusia. Aku akan terus menua dan kemudian kehilangan kemampuanku secara perlahan. Sama seperti guruku yang juga menua dan kemudian harus mati juga di tangan Orochimaru." Mata miliknya kemudian menyiratkan sesuatu lain dimana itu adalah sesuatu yang baru Naruto pertama kali lihat.

Hey pertapa genit...

Sejauh mana matamu menyimpan rasa pilu itu?

Ketika kau kehilangan seorang guru yang mendidikmu dan mengajarkanmu arti dari menjadi Shinobi... apakah teriakan pilumu ketika kakek Hokage meninggal terdengar begitu keras?

Ataukah kau justru menahannya?

Bahkan ketika kau berhadapan dengan pembunuh gurumu yang juga merupakan teman lama satu tim yang kau anggap saudara.

Lalu jika aku kemudian juga kehilanganmu suatu saat nanti...

Apakah aku bisa sepertimu?

Yang juga menahan perasaan pilu itu dalam diriku.

"Aku tahu setiap yang bernyawa juga akan menemui akhirnya Naruto. Hanya saja sebelum itu tiba kuharap aku bisa membawa sedikit perubahan pada dunia Shinobi ini yang tercemari dengan siklus balas dendam tiada henti ini." Pria berambut putih itu lalu tertawa kecil. "Dan kuharap lebih bagus malah jika aku bisa membawa perdamaian sepenuhnya pada dunia ini. Jika dunia ini damai, maka aku bisa berkunjung ke desa-desa lain untuk mengintip dengan bebas! Bukankah itu bagus Naruto! Hahahahaha..." Tawa kecil itu kemudian membesar dan pria berambut putih itu kembali memandang langit.

Tangan pria itu bergerak seolah ingin menggapai sesuatu di atas sana. Sesuatu yang tidak terlihat oleh Naruto namun Naruto mengerti di balik candaan barusan ada sebuah keinginan yang luar biasa. Lalu pria berambut putih itu tersenyum kecil dan memandang Naruto kembali. Tangannya kemudian bergerak spontan mengacak-acak rambut bocah pirang itu yang kemudian digenggam perlahan dengan lembut oleh Naruto sendiri.

Bocah pirang itu bukanlah bocah yang tidak mengerti perasaan manusia.

Perasaan yang tersirat menyampaikan keinginan yang begitu luar biasa.

Disampaikan mungkin dalam ketidaksengajaan namun itu kemudian terpatri secara kuat pada diri Naruto.

Aku akan membuat dunia yang ingin kau lihat pertapa genit.

Untukmu yang telah menunjukkan padaku dunia luar yang luar biasa ini. Yang mau mengajari anak yang direndahkan oleh desanya sendiri ini. Yang menjadi seorang wadah segel dari Kyuubi itu sendiri, kau yang menunjukkan kebaikan padaku selain orang-orang yang kukenal baik.

Pertapa ge— bukan; Guru Jiraiya.

Kau telah menjadi seseorang yang begitu berharga bagiku.

Perasaanmu ini...

Akan kusampaikan kepada dunia.


"Naruto..." Mata dari Hokage kelima terlihat bergetar. Mata itu menahan sesuatu yang begitu besar. Aura kesedihan terasa begitu menyesakkan.

"Nenek Tsunade... ada apa?" Naruto terlihat bingung dengan keadaan ini. Ini bukanlah sesuatu yang biasa dimana dia dipanggil secara cepat untuk menemui Hokage ke lima di kantornya dan keadaan dimana dia menemui Hokage ke lima dalam suasana yang seperti ini.

Ini seperti... apa ada hal buruk yang akan disampaikan oleh nenek Tsunade?

"Kau harus tabah Naruto. Kuatkan dirimu." Kata nenek Tsunade padanya. Nenek Tsunade kemudian bergerak memeluknya erat. Isak tangis terdengar perlahan darinya. Pelukannya semakin mengerat seakan Naruto dijadikan tumpuan untuk sekadar berdiri dan menguatkan diri sendiri.

Nenek Tsunade... apa yang membuatmu sampai seperti ini? Apa yang membuatmu begitu bersedih seperti ini?

Secara sepintas kemudian ingatan akan senyum gurunya terlintas. Senyuman singkat dari pria berambut putih yang merupakan pertapa katak dan rekan se tim dari nenek Tsunade yang baru satu bulan lalu menemuinya dan mengajaknya bersenang-senang.

Guru Jiraiya...

"Na-Naruto... Jiraiya..." Kata yang terucap seakan tersekat. Itu adalah sebuah kabar yang seakan memecahkan dunianya.

"... Dia telah gugur ... "

Naruto yang mendengar itu terdiam.

Rasa sesak mulai datang.

Hey guru Jiraiya...

Perasaan ini...

Ini perasaan yang sama sekali tidak menyenangkan bukan?


Akankah kau berjanji untuk selalu mengingatku ... Naruto?


Naruto membuka matanya secara perlahan dan juga menggerakkan tangannya secara spontan menyentuh bagian dekat matanya.

Air yang mengalir turun terasa membasahi jemarinya ketika dia menyentuh bagian dekat mata.

"Aku... menangis?"

Jujur apa yang barusan Naruto impikan adalah sesuatu yang membuatnya menangis. Dia seolah berada pada posisi terakhir dimana perasaan sesak terasa begitu menyiksa bagian dari dadanya.

Emosinya terasa tidak stabil setelah dia mengalami mimpi barusan. Mimpi acak yang selalu menyertai dirinya semenjak dia membuka kekuatan miliknya. Mimpi dimana dia seolah-olah menjadi pelaku utama dalam setiap mimpi yang dia impikan.

Biasanya dia akan bersikap acuh akan mimpi acak yang dia terima karena mimpi acak ini hanya menceritakan sepenggal demi sepenggal memori dari seseorang yang bernama sama dengan dirinya namun kali ini... mimpi ini terasa begitu berbeda.

Apakah hanya dengan mimpi bisa membuatnya merasakan perasaan kehilangan yang begitu hebat seperti ini? Kenapa sosok bernama Jiraiya ini begitu terasa dekat sekali dengan dirinya? siapakah sebenarnya sosok Jiraiya ini selain dari guru seseorang yang bernama sama dengan dirinya?

Naruto tahu mimpi yang dia terima bukanlah sekadar sebuah mimpi biasa. Hanya saja untuknya menyimpulkan sampai dimana mungkin ini adalah ingatannya pada kehidupannya sebelumnya masih belum dia pastikan mengingat mimpi yang dialaminya— Sejarah dunia Shinobidan pengguna Chakra tidak pernah ditemukan di dunia ini.

Bukankah renkarnasi hanya terjadi pada rentang waktu yang sama? Akalnya terasa habis untuk mencerna apa yang dia alami.

Perasaan sesak yang dia alami perlahan dia hilangkan. Tarikan nafas panjang dan hembusan perlahan membantunya memulihkan keadaan dirinya sebelum kemudian dia mendengar ketukan pada pintu kamarnya.

"Oy Naruto... kau sudah bangun?" Suara temannya, Issei yang sudah tinggal bersama denganya selama sebulan ini terdengar. Mengingat bagaimana dia masih harus membiasakan Issei dengan dunia supernatural dan melatih temannya itu untuk menghadapi dunia supernatural yang kejam, Naruto menawarkan rumahnya menjadi tempat tinggal persembunyian sementara Issei.

"Aku sudah bangun. Tunggu sebentar." Jawab Naruto yang kemudian berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan membuka pintu kamarnya. Mata miliknya kemudian melihat Issei yang sudah terlihat rapi disana.

"Ayo cepat siap-siap. Aku sudah tak sabar ingin melihat kedua orang tuaku." Issei antusias sekali setelah satu bulan dia tak melihat orang tuanya karena harus berlatih secara diam-diam bersama Naruto. Issei bahkan sudah berhenti bersekolah sampai saat ini atas anjuran Naruto dimana pemuda itu menganjurkan agar Issei tak menarik perhatian apalago dengan kekuatan yang dia miliki.

"Iya iya sabar." Balas Naruto yang maklum dengan rasa antusias temannya ini. Untuk temannya yang masih memiliki kedua orang tua, mungkin merekalah motivasi Issei untuk menjadi kuat agar kedua orang tuanya bisa dia lindungi dari apa yang mengancam Issei akibat kekuatan yang dimilikinya. "Beri aku waktu lima menit."

"Oke! Sarapan sudah kusiapkan di meja. Lekas bergerak kawan. Kau kulihat sedang lesu sekali ketika baru bangun."

"Hanya lelah saja. Tidak perlu kuatir." Naruto meyakinkan temannya dan berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap. "Tunggu saja sambil nonton berita di televisi."

"Siap."


"Kau sudah menemukannya?" Seorang gadis dengan rambut sebahu dan berkacamata memandang ke arah gadis berambut merah crimson yang duduk dihadapanya. Gadis yang mengenakan seragam akademi Kuoh itu terlihat serius ketika dia menanyakan pertanyaannya.

Sedangkan yang ditanya menjawab dengan gelengan. "Issei Hyoudou seakan hilang dari Kuoh. Bahkan orang tuanya sekalipun hanya bisa mengatakan bahwa Issei Hyoudou tak mereka sekolahkan di akademi Kuoh melainkan ikut neneknya untuk bersekolah di Hokaido, Sona."

"Ini sangat janggal sekali Rias." gadis berambut sebahu berkacamata tersebut berkata pada temannya yang dia kenal sejak kecil.

"Aku tahu itu. Bahkan ketika Koneko yang kutugasi mengawasi kencan Issei sebulan lalu dengan malaikat jatuh itu tak merasakan apapun ketika Issei menghilang dan yang dilihat oleh Koneko setelah Issei menghilang hanya potongan tubuh malaikat jatuh! Malaikat jatuh itu bahkan sudah tercerai berai tubuhnya hingga tidak berbentuk!"

"Misteri apa yang sebenarnya menyelimuti Issei Hyoudou, Rias, aku tidak mengerti." Sona memijit keningnya pelan. "Jika kau tidak mencoba metodemu agar dia terbunuh dahulu sebelum kau renkarnasikan mungkin kita juga tidak akan bingung seperti ini. Bahkan peringatan yang kita terima dari pihak Youkai tidak bisa kita anggap remeh Rias. Mata-mata mereka ada di manapun diwilayah yang kita pinjam ini dan dengan membiarkan malaikat jatuh masuk saja ke wilayah kita sebenarnya sudah melanggar aturan."

"Tapi Sona jika tidak dengan demikian maka aku tidak tahu Issei Hyoudou akan loyal padaku atau tidak." Rias mencoba membela dirinya.

"Tapi itu tetap salah Rias." Sona memberikan percikan mata tajam. "Aku sudah memperingatkanmu dahulu tapi kau malah tak gubris peringatanku. Kita ini hanya perwakilan di kota yang dipinjam oleh kakak kakak kita. Kau dan aku harus berlaku sebagai seorang pewaris yang bermatabat untuk mencerminkan kakak kita selama kita di Kuoh ini Rias." Sona melihat wajah Rias menunduk merasa bersalah. "Pihak Youkai memberikan peringatan bahwa kita melanggar perjanjian dengan membiarkan malaikat jatuh masuk. Jangan sampai mereka tahu juga masalah Issei Hyoudou ini Rias. Aku akan menghubungi kakak ku untuk menghapus keberadaan Issei dari sekolah ini jika orang tua Issei Hyoudou memang berkata bahwa Issei dibawa oleh nenek mereka dan juga meminta bantuan untuk memecahkan siapa yang menghabisi iblis-iblis liar yang melarikan diri ke Kuoh. Kita bahkan belum bisa memecahkan hal tersebut sampai sekarang."

"Baiklah aku mengerti Sona."

"Baguslah jika begitu. Aku tahu kau merasa frustasi dengan pertunanganmu tapi jangan sampai rasa frustasi itu membuatmu kalut dan mengambil keputusan yang menyengsarakan dirimu nanti." Pandangan Sona melembut dan kemudian dia berdiri menghampiri teman kecilnya ini. "Aku akan selalu mendukung dan membantumu dalam menghadapi masalahmu. Jangan sampai kejadian ini terulang kembali Rias."

"Sona..." Rias, iblis berambut merah crimson itu merasa haru dengan perkataan teman masa kecilnya barusan dan mengangguk kemudian.


"Dewi... kenapa kita berada disini?" seorang gadis berkulit putih dengan rambut yang berwarna hitam panjang yang dikuncir seperti ekor kuda bertanya pada gadis disampingnya yang berjalan beriringan sambil menyedot minuman ringan di tangannya. Wajah yang diperlihatkan terlihat riang dan acuh tak acuh meski mereka menjadi pusat perhatian apalagi dengan gadis yang menyedot minuman ringan yang bisa dikatakan memiliki kecantikan luar biasa.

Wajah khas Yunani yang manis dengan rambut perak dan mata merah seperti batu Ruby membawa daya tarik yang luar biasa bagi lawan jenis yang melihatnya.

Meskipun begitu yang bertanya pertama kali juga tidak kalah cantiknya.

Beberapa pasang mata terlihat mengawasi kedua gadis itu dan bisik bisik terdengar. Para lawan jenis yang memandang sebenarnya ingin menghampiri untuk mengajak bicara dan berkenalan meskipun mereka terhalang oleh sesuatu yang mengusik pikiran mereka.

Jauhi dua gadis itu dan jangan mendekati mereka.

Itu seperti tertanam yang membuat mereka— para lelaki hanya bisa menahan diri mereka.

"Sudah kubilang kita sedang liburan Zoe! Liburan! Aku bosan dengan suasana Amerika dan Yunani." Balas santai gadis berambut perak yang kemudian bersenandung ria.

"Tapi kenapa harus Jepang? Dan kenapa harus kota Kuoh ini dewi?" Tanya penasaran gadis bernama Zoe pada gadis berambut perak disampingnya tersebut. Yang didapat Zoe hanyalah sebuah senyum misterius khas dari gadis perak yang selalu menjadi misteri untuk Zoe itu sendiri karena jika sang dewi sudah tersenyum seperti itu artinya Zoe hanya bisa mengelus dadanya karena dia tahu dia tidak akan diberitahu sampai dewinya merasa ingin memberitahunya.

Sungguh dia memiliki seorang dewi yang merepotkan. Mungkin Atalanta lebih cocok diajak untuk menemani dewinya saat ini.

"Ah Zoe itu takoyaki! aku ingin coba takoyaki!" Gadis berambut perak itu kemudian berlari menghampiri stan takoyaki yang berjualan di depan dan hanya didapati oleh gelengan maklum akan sikap dewinya.

"Dasar dewi Artemis..."

Sementara yang berlari menuju ke stan takoyaki hanya bisa tersenyum sementara dalam hatinya dia berkata...

"Hey yang dikatakan takdir untuk menjadi pasanganku... Aku kini sudah datang kepadamu... Akan kulihat seperti apa kau ini dan kunilai sendiri."


author note:

Halo... rindu padaku?

Maafkan aku yang baru bisa melihat ffn dan melakukan update pada cerita ini. Kehidupan di dunia nyata terlalu menyibukkanku hingga aku lupa bahwa ada dunia virtual yang masih menunggu tulisanku. Mungkin ini hanya update kecil untuk kalian tapi terima kasih sudah menungguku selama ini kawan kawan. Kalian luar biasa.

Senin 6 Maret 2023

Aku masih kembali kawan