@Rivaldi : Gasss dongg!

@Aovichan : Gomen kelamaan!

@ NECT4R : Terima kasih. Saya perempuan! TT

@di.roha : Dah dilanjut yaa..

Setiap manusia pasti butuh cinta. Cinta kepada orangtua maupun pasangannya. Siapa sih manusia di dunia ini yang tidak butuh cinta? Hanya orang gila kan? Tetapi, wanita yang satu ini tidak gila. Ia hanya gila pada pekerjaannya dan menomor sekiankan masalah cinta. Baginya cinta hanya sebuah rasa yang tidak berpengaruh dalam hidupnya, yang hanya merugikan dirinya. Ia adalah Tenten tanpa marga dan dia tidak butuh CINTA.

.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: NaruTen

Author: Nona Romes

Genre : Romance dan Sedikit Humor

Warning: Typo, OOC, Crack Pairing, Alur Maju Mundur, Newbie

Chapter 15

Naruto berlari dengan cepat menuju ruang gawat darurat. Sudah ada Tenten menunggunya di depan agar Naruto tidak perlu repot lagi mencari dimana ibunya berada. Di belakang Naruto ada Sakura mengikuti kemudian mereka bertiga bergegas ke tempat ibunya dirawat.

"Ibu!!" panggil Naruto panik lalu menghampiri Kushina yang sedang didampingi dokter.

" Oba-san" panggil Sakura mengenggam tangan Kushina yang telah terpasang infus. Kushina yang sudah sadar tapi belum bisa berbicara hanya mengerjapkan matanya tanda tak perlu khawatir dan dirinya baik-baik saja.

"Anda bisa ikut saya pak!" ajak dokter yang menangani ibunya untuk berbicara sebentar. Naruto lalu mengangguk dan mengikuti dokter tersebut. Tinggallah Sakura dan Tenten yang canggung tanpa bicara sepatah katapun, hanya menatap lekat Kushina yang masih terbaring lemas.

"Jadi ada apa dengan ibu saya dok?" tanya Naruto kepada dokter yang menangani ibunya. Dokter mulai menjelaskan kondisi ibunya dan bagaimana kejadian serta penanganan yang telah diberikan tidak lupa dokter memuji Tenten yang sigap melakukan CPR. Naruto menghembuskan nafas lega dan refleks menoleh ke arah Tenten lalu tersenyum bangga.

.

.

"Kushina!" Minato datang dengan wajah cemas mendekati istrinya.

"Apa yang terjadi padamu?" tanya Minato.

"Ayah" Panggil Naruto di depannya.

"Naruto, ada apa dengan ibumu? Bagaimana bisa ini terjadi?" tanya ayahnya penasaran.

"Tenten menemukan ibu sudah tergeletak di dapur kita ayah. Tapi dengan kondisi ibu yang seperti ini harus dilakukan observasi dulu. Dokter bilang kemungkinannya adalah serangan jantung ringan. Kita belum tahu jika ibu belum menjelaskan kejadiannya seperti apa" jelas Naruto.

"Bagaimana kalau kita menyuruh tukang listrik untuk datang ke rumah mu Naruto? Aku khawatir sepertinya ada yang salah di dapurmu" kata Tenten.

"Benarkah Tenten-chan?" Tanya Minato.

"Paman aku rasa masalahnya ada di kulkas di dapur kotor. Soalnya aku melihat bibi pingsan tepat di depan kulkas itu dan begitu aku menghampiri bibi seperti ada sengatan yang menjalar ditubuhku juga".

"Kalau begitu, Naruto tolong kau hubungi paman Danzo untuk melihat keadaan rumah kita!" suruh Minato.

"Baiklah ayah aku akan menyuruh paman Danzo untuk ke rumah kita" Naruto kemudian pergi untuk menghubungi tukang listrik kenalannya tersebut.

"Anata~" panggil Kushina lemas.

"Aku di sini sayang. Apa kau ingin sesuatu?" tanya Minato.

"Aku akan membelikan sesuatu!" tawar Tenten. Minato mengangguk.

"Tunggu. Aku akan ikut Tenten- san" kata Sakura. Tenten terkejut tapi Tetap menunggunya.

"Terima kasih. Kalian berdua berhati hatilah" Tenten dan Sakura kemudian berangkat menuju Konbini terdekat.

"Anata~" panggil Kushina lagi.

"Sudah sayang jangan berbicara dulu. Kau perlu beristirahat. Aku dan Naruto di sini" ucap Minato lalu mengusap kening istrinya itu. Kushina memejamkan matanya yang lelah kemudian tertidur.

.

.

Tenten dan Sakura selesai berbelanja. Mereka berdua sedang berada di dalam mobil Sakura dengan Tenten sebagai penumpangnya. Saat pergi, di dalam konbini, hingga sekarang ini mereka berdua hanya diam tanpa berbicara satu sama lain yang membuat suasana jadi semakin canggung. Sakura yang sedari tadi menahan ingin mengatakan sesuatu pada Tenten akhirnya mulai melakukan pembicaraan.

"Tenten- san, sebenarnya aku menyukai Naruto!" Tenten sontak menoleh pada Sakura yang sedang menyetir, memastikan bahwa dia tidak salah dengar atas pengakuan wanita di sampingnya ini.

"Aku tahu kau dan Naruto berpacaran. Aku juga tahu dia sangat menyukaimu. Tapi aku menyukainya terlebih dahulu dan aku tidak akan menyerah padanya" Jelas Sakura tanpa menoleh pada Tenten sedikit pun. Tenten diam seribu bahasa menatap Sakura lalu kembali menatap jalan yang sangat ramai dengan lalu lalang kendaraan. Dia tidak menyangka bahwa Sakura akan seterus terang ini padanya, selama ini dia memang tahu Sakura menyukai kekasihnya tetapi tidak menyangka bahwa Sakura dengan teguh hati memberitahunya. Ia bingung harus berkata dan bersikap seperti apa. Ia tidak seberani Sakura dalam mengeluarkan isi hati, ia takut Naruto pada akhirnya jatuh cinta pada wanita bersurai pink tersebut. Yang Tenten lakukan sekarang hanya bisa diam tanpa memberikan tanggapan kepada Sakura, tidak peduli Sakura menunggu atau tidak jawabannya sampai mereka tiba di rumah sakit tempat ibu Naruto dirawat. Sesampainya di rumah sakit Tenten memberikan bungkusan berisi air mineral dan kebutuhan lain yang dia dan Sakura beli tadi kepada Naruto dengan terburu-buru.

"Naruto, bisakah kau antar aku ke rumah mu? Aku harus mengambil mobilku" Tanya Tenten pada Naruto.

"Apa kau sudah ingin kembali?" Tanya Naruto. Tenten mengangguk.

"Antarlah Tenten- chan Naruto. Kasihan dia juga butuh istirahat" Kata Minato.

"Sakura kau juga pulanglah beristirahat. Bibimu sudah tidak apa-apa" kata Minato pada Sakura.

"Tidak apa-apa oji-san. Aku masih ingin melihat oba-san. Kebetulan besok aku tidak ada jadwal jaga di rumah sakit. Aku juga bisa bantu menjaga oba-san agar kalian berdua Naruto bisa pulang" jawab Sakura.

"Baiklah kalau begitu Sakura. Naruto kau antarlah Tenten- chan sekalian melihat keadaan rumah dan jangan lupa bawa perlengkapan yang dibutuhkan, nanti ayah beritahu di telepon. Tenten- chan terima kasih sudah menyelamatkan istriku. Bantuan mu sangat berarti" ucap Minato tulus pada Tenten. Tenten menangguk. Sakura dan Tenten saling tatap beberapa detik tanpa interaksi lain.

"Kalau begitu aku pamit paman" kata Tenten sambil tersenyum dan meninggalkan rumah sakit bersama Naruto. Di dalam mobil Tenten hanya diam, begitu pula Naruto yang masih memikirkan keadaan ibunya. 30 menit kemudian mereka berdua sampai di rumah Naruto tepat jam 01.00 pagi. Naruto melihat keadaan rumah yang sudah ditinggalkan oleh paman Danzo yang telah mengabari bahwa mereka telah memutus aliran listrik ke kulkas tersebut dan memindahkan kulkas ke tempat lain. Tenten mengikutinya dari belakang menuju dapur.

"Huft.." mereka berdua menghembuskan nafas bersamaan dan refleks melihat satu sama lain.

"Apa kau ingin minum?" Tawar Naruto. Tenten mengangguk yang kemudian duduk di dapur. Naruto mengambil segelas air lalu meminumnya. Setelah itu dia isi lagi gelas tersebut sampai penuh dan menghampiri Tenten lalu memberikannya. Tenten meneguk air mineral itu sampai habis.

"Aaargh segarnya..." ucap Tenten lalu meletakkan gelas tersebut di dekat Naruto. Naruto menatap Tenten lekat, kemudian tangannya bergerak ke arah rambut Tenten yang kali ini tergerai tanpa cepolannya yang biasa yang terlihat agak kusut kemudian Naruto menyelipkan rambut samping Tenten ke belakang telinga setelah itu ia menangkup kedua pipi Tenten, mengelusnya lembut dengan jari-jari besarnya. Naruto kemudian berkata,

"Terima kasih Nona Cepol. Kau menyelamatkan ibuku" Naruto kemudian menarik Tenten ke pelukannya, Tenten membalas pelukan Naruto erat.

"Mulai sekarang, kau harus lebih perhatian dengan ibumu. Oke? Jangan membantahnya hiks~, jangan kasar padanya hiks~, jangan ketus saat dia bertanya sesuatu padamu secara langsung atau di telepon hiks~, jangan menolak saat dia ingin kau bertemu Sakura atau menjodohkanmu dengannya.. huhu~huaaaaaa~" Mendengar tangisan Tenten, Naruto melepaskan pelukannya. Menatap Tenten yang menangis tersedu-sedu. Ia tahu seharusnya yang menangis saat ini adalah dirinya, bukan kekasihnya. Karena kejadian hari ini hampir merenggut nyawa ibunya. Tapi saat ini, mendengar tangisan Tenten sepertinya ada sesuatu yang lain, sesuatu yang baru saja terjadi pada Tenten yang membuatnya sedih hingga meneteskan air mata. Naruto membiarkan Tenten menangis tanpa mengajukan pertanyaan yang membuatnya penasaran. Mungkin kali ini dia harus menahan pertanyaan-pertanyaan itu dan membiarkan Tenten mengeluarkan emosi yang telah dia tahan seharian ini.

.

.

Tenten melamun di tempat duduknya di ruang kerja. Pagi-pagi sekali sebelum Hinata datang ia sudah berada di sini. Sampai Hinata datangpun posisinya tetap tidak berubah. Hinata heran biasanya Tenten belum datang jam segini. Kalaupun datang dia tidak langsung melamun tetapi lebih memilih mengeluarkan laptopnya dan memberantakkan mejanya sendiri dengan file-file materi untuk syuting. Tidak lama kemudian Kiba datang, Hinata menghentikan langkah Kiba sebelum sampai di tempat duduk yang berdekatan dengan Tenten, lalu berbisik padanya dan menunjuk-nunjuk Tenten. Tidak sadar bahwa Hinata dan Kiba sedari tadi menatapnya, Tenten masih memikirkan tentang semalam. Ia pulang tanpa menjelaskan apa-apa kepada Naruto mengapa ia sampai menangis segitunya. Naruto yang penasaran hanya ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan. Kata-kata Sakura semalam terngiang-ngiang terus di kepalanya. Sakura berkata tidak akan menyerah pada Naruto. Apa dia mulai mendekati Naruto secara terang-terangan padahal dia tahu Tenten dan Naruto berpacaran? Bagaimana jika Naruto akhirnya mulai jatuh cinta pada Sakura? Apa benar dia tidak akan menyerah pada Naruto sebelum Naruto menikah? Apalagi semalaman dia menemani keluarga Naruto tidak seperti dirinya yang lebih memilih pulang. Apa Kushina tidak akan melihat dirinya, tetapi tetap memilih Sakura dan malah makin membencinya. Tenten makin overthinking.

"Kita harus bagaimana dongg Kiba? Aku sangat khawatir!" Tanya Hinata pada Kiba yang kemudian ingin menghampiri Tenten tapi terlanjur ditahan oleh Kiba.

"Hei tunggu! Jangan buat rencana yang aneh-aneh deh. Biarkan saja dulu. Toh dia nggak akan gila kok karena melamun" ucap Kiba santai.

"Kiba baka!!! Setidaknya kita harus menghiburnya. Kau lihat sendirikan dia jarang melamun tahuuuu. Kenapa akhir-akhir ini sering melamun??" tanya Hinata penasaran.

"Sudahlah Hinata! Jangan ganggu dia dulu. Biarkan dia sendiri. Ada waktunya dia akan bercerita padamu. Jadi tenang sajaaa" Kiba kemudian melengos pergi meninggalkan Hinata yang masih penasaran bukan kepalang dengan sikap Tenten yang tiba-tiba suka melamun.

.

.

Kali ini Naruto yang berkutat pada pikirannya sendiri. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan kata-kata Tenten yang menyuruhnya jangan menolak dijodohkan dengan Sakura padahal belum tentu ibunya memaksa setelah tahu dia hanya menyukai Tenten, toh jika ibunya memaksa masih ada kesempatan untuk memperjuangkan restu ibunya. Mengapa semalam Tenten terlihat putus asa hingga menangis? Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi.

"Naruto~ Naruto!" Panggil Kushina menepuk bahu Naruto. Naruto menoleh kemudian ibunya kembali duduk di kasur setelah dari toilet.

"Eh iya ibu apa kau butuh sesuatu?" tanya Naruto.

"Ibu tidak apa-apa. Kenapa melamun Naruto? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya ibunya lagi yang sudah bersandar di sandaran ranjang.

"Aku hanya mengkhawatirkan ibu" ucap Naruto berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

"Ibu baik-baik saja Naruto! Lagian sebentar lagi ibu bisa pulang kan? Oya dimana Tenten?" tanya Kushina tiba-tiba.

"Dia bekerja bu" jawab Naruto sekenanya.

"Aku ingin bertemu dengannya" ucap Kushina. Naruto kaget bukan kepalang.

"Apa? Ibu tidak akan memarahinya kan atau mengatainya?" tanyanya curiga.

"Bodoh! Ibu hanya ingin berterima kasih padanya dengan tulus Naruto. Ibu juga merasa bersalah. Ibu sadar, ibu sudah keterlaluan padanya. Harusnya ibu bersyukur karena dia mencintai anak ibu yang baka ini! Ibu menyesal sudah kasar padanya Hiks~" Kushina mulai berkaca-kaca menyadari kelakuannya selama ini yang kasar pada Tenten.

"Sudah ibu jangan menangis. Kau akan menyukai dia kalau lebih mengenalnya bu. Terima kasih karena sudah menerima Tenten. Aku akan menyuruhnya datang nanti. Ibu jangan menangis lagi. Ibu tambah jelek tahu. Fokus saja dengan kesembuhanmu dan jangan merasa bersalah. Mengerti?" Hibur Naruto.

"Baiklah. Tapi kau janji harus bawa Tenten ke sini ya!!" paksa Kushina pada anaknya. Ia berharap Tenten datang sehingga dia bisa meminta maaf dan berterima kasih kepada Tenten secara langsung.

Tok.Tok.

Seorang wanita berambut pink datang di balik pintu ia tersenyum. Sontak Naruto dan Kushina menoleh ke sumber suara.

"Eh Sakura kau datang" ucap Kushina antusias.

"Iya Oba-san. Kan aku sudah bilang aku akan menemanimu untuk hari ini" Sakura mendekati mereka berdua.

"Terima kasih Sakura kau sudah repot repot mengurus bibi dari tadi malam. Bibi jadi tidak enak" kata Kushina. Sakura kemudian menyerahkan kantong berisi buah-buahan kepada Naruto.

"Tidak apa-apa. Aku senang oba-san repoti. Oya okaa-san dan otou-san minta maaf karena tidak bisa menjenguk mu karena sedang ada di luar kota, mereka berpesan agar kau cepat sembuh oba-san"

"Kau datang saja sudah cukup Sakura. Aku akan sembuh karena kalian semua menyemangati ku. Lagian kasian ayah Naruto tidak ada yang mengurus kan? Kalau ditinggal terus dia akan menghancurkan isi rumah tidak lama lagi" canda Kushina.

"Hahahaaaa~ oba-san ada-ada saja. Oba-san aku akan mengupaskan buah ini untukmu ya?" tawar Sakura.

"Eh tidak usah repot-repot Sakura. Naruto cepat kupaskan" suruh Kushina pada Naruto.

"Tidak apa-apa Naruto aku saja!" Sakura mengambil keranjang berisi buah tersebut dengan cepat dari Naruto dan hendak pergi mencucinya.

"Maaf ya Sakura jadi merepotkan" ucap Naruto tidak enak. Sakura hanya mengangguk dan tersenyum.

.

.

.

Tenten tiba di depan kamar VIP rumah sakit yang dia tahu kamar ibu Naruto. Ia melihat pintunya sedikit terbuka dan mengintip untuk melihat apakah Naruto dan Ibunya berada di dalam. Ternyata yang ia lihat Sakura dan Kushina sedang asyik ngobrol layaknya seorang ibu dan anak kandung, sangat akrab. Naruto hanya mendengarkan mereka berdua sambil tersenyum. Melihat pemandangan itu, Tenten mundur dan mengurungkan niat untuk masuk. Ia memilih untuk pergi. Tapi baru beberapa langkah, ia berhenti. Hatinya merasa buruk jika pergi seperti ini seolah ia merasa terganggu dengan kehadiran Sakura, padahal tujuannya kan baik untuk menjenguk Kushina. Setelah meneguhkan hati, Tenten menarik tas totenya dengan mantap dan berbalik kembali menuju kamar Kushina.

"Sumimasen!"

"Tenten!!" ucap Kushina dan Naruto bersamaan.

"Aku datang oba-San"

.

.

.

Tenyata kedatangannya tidak seburuk yang Tenten kira. Kushina meminta maaf dan berterima kasih kepada Tenten dengan tulus. Tenten sangat bahagia, akhirnya ibu Naruto bisa menerimanya. Tidak ada alasan lagi bagi Tenten untuk takut, takut kalau dia tidak bisa bersama Naruto karena terhalang restu. Ia bahkan hampir menyerah karena perkataan Sakura. Ia takut jika tidak punya harapan untuk bersama Naruto di masa depan. Saat Tenten dan Kushina sedang berbicara, Naruto mengajak Sakura untuk keluar sebentar ke cafetaria yang ada di rumah sakit. Ia ingin memberikan waktu Tenten dan Kushina sendirian. Karena baginya ini merupakan kesempatan bagus untuk Kushina dan Tenten bisa menjadi dekat.

"Ini kopi mu" Naruto menyerahkan americano kesukaan Sakura. Sakura Tersenyum dan mengambilnya. Naruto kemudian duduk tepat di depan Sakura.

"Terima kasih Naruto" ucap Sakura lalu mulai menyesap kopinya begitupun Naruto.

"Maaf ya Sakura aku harus membawamu keluar" kata Naruto meminta maaf.

"Tidak apa-apa Naruto, aku mengerti kau ingin memberikan waktu bagi Tenten dan Ibumu untuk berbicara. Aku iri kau begitu memperhatikan Tenten. Seandainya itu aku" gumam Sakura wajahnya terlihat murung. Naruto menoleh padanya kemudian buru-buru Sakura tepis perkataannya tadi.

"Ah maaf Naruto. Aku hanya berbicara sendiri" kata Sakura memberi alasan. Ada rasa tidak nyaman dalam diri Naruto, terlebih dia tidak tahu saat ini Sakura masih ada rasa atau tidak dengannya. Jika masih, tentu saja Naruto merasa bersalah mengingat ada kekasihnya yang sedang pendekatan dengan ibunya dan malah menarik Sakura Keluar. Tentu saja itu akan menyakiti Sakura. Tetapi baginya, restu ibu lebih penting dibanding perasaan Sakura saat ini. Jadi dia cuek saja.

"Naruto!" Panggil sang empunya suara menghampiri Naruto dan Sakura.

"Apa kau sudah mau kembali?" tanya Naruto yang langsung berdiri.

"Iya. Soalnya aku ada rapat siang ini" jawab Tenten

Kriiingg...

Naruto mengambil handphone yang berada di saku celananya.

"Moshi..Moshi.. Iya... Oh baik suster saya segera ke sana... terima kasih"

"Maaf Ten aku tidak bisa mengantarmu. Dokter ingin berbicara sepertinya ibu sudah bisa keluar malam ini"

"Tidak apa Naruto, aku juga ingin berbicara sebentar dengan Sakura" Sakura terkejut tapi masih bisa menyembunyikan raut wajahnya.

"Baiklah. Aku pergi ya nanti aku telpon. Bye.." Naruto kemudian berlari kecil meninggalkan mereka berdua. Tenten duduk di tempat Naruto duduk tadi. Tenten dan Sakura saling tatap.

"Jadi ada apa Tenten- san?" Tanya Sakura.

"Aku hanya ingin bilang, aku tidak akan menyerahkan Naruto padamu. Walau kau menyukainya duluan, tapi aku yang bersamanya sekarang. Silahkan berusaha semampu mu aku tidak akan melarang Sakura- san dan sama sepertimu, aku juga tidak akan menyerah untuknya. Tidak akan" setelah mengatakan itu, Tenten pergi dengan percaya diri meninggalkan Sakura yang terlihat cengo. Ia tersenyum lega karena tidak perlu takut mengutarakan perasaannya lagi.

.

.

.

"Hinata.. Hinata.. Hinata.." Panggil Tenten yang baru saja kembali ke kantor siang ini mencari Hinata. Yang namanya dipanggil pun dengan cepat menoleh mendapati Tenten berlari kecil ke arahnya dengan penuh senyum.

"Ibu Naruto tidak marah-marah lagi padaku. Aku senang. Akhirnya Hinata. Akhirnya aku bisa ngobrol santai denganya. Oya aku juga sudah beritahu Sakura aku sangat menyukai Naruto dan aku tidak akan menyerahkan Naruto kepadanya" jelas Tenten antusias.

"Kau tidak pernah cerita ada masalah dengan Sakura? Aku juga nggak tahu bahwa Sakura suka dengan Naruto" kata Hinata bingung.

"Gomen! Aku akan menceritakan semuanya nanti. Sekarang aku hanya ingin membagi kebahagiaan pada kalian berdua. Terima kasih Hinata, Kiba! Kalian sahabat terbaikku" Hinata dan Kiba yang masih belum bangkit dari tempat duduknya, saling tatap setelah beberapa kali mengerjapkan mata mereka berdua kembali menatap Tenten.

"Easy.. easy.. Tenten! Tarik nafas dulu dong. Kau ini selalu ngagetin aku deh. Tadi pagi perasaan kau murung, sekarang malah kebalikannya. Jangan-jangan kau bukan Tenten ya!" kata Hinata sambil memegang kedua bahu Tenten dan menggerak gerakkannya seperti orang yang berusaha menyadarkan seseorang dari pingsan. Tenten hanya tertawa.

"Hehehehee... maafkan aku tidak langsung cerita padamu. Nanti deh aku ceritakan lengkapnya sekarang kita ke ruang rapat dulu yukk!" ajak Tenten tidak berhenti tersenyum. Hinata dan Kiba hanya bisa cengo' perasaan baru tadi pagi mereka berdua lihat Tenten galau. Cepat sekali perubahan moodnya.

"Ihhh main rahasia-rahasian lagi deh! Please beritahu sekarang aku penasaran nih" mohon Hinata yang langsung merangkul lengan Tenten. Tenten hanya tersenyum sambil mereka berdua berjalan menuju ruang rapat disusul oleh Kiba.

.

.

.

Ibu Naruto sudah bisa pulang ke rumah tentu saja ditemani oleh Naruto dan Minato. Esoknya hari minggu, tidak lupa kedua wanita yang jatuh cinta pada Naruto juga datang untuk melihat keadaan sang ibu. Ibu Naruto yang ngidam memasak kari dan katsu menyuruh mereka bertiga membeli bahan-bahannya di mall sekalian Sakura ingin membelikannya hadiah. Tenten juga tidak mau kalah, dia berkata pada Naruto ingin membelikan wajan baru untuk Kushina. Sepanjang perjalanan tidak berhenti hentinya Tenten dan Sakura berbicara pada Naruto. Biasanya jika ada dua wanita dan satu pria, wanita akan saling berbicara dan mengobrol asyik sedangkan prianya dicueki. Tapi situasi saat ini berbeda. Malah Naruto tidak diijinkan diam sedikitpun, kedua wanita ini malah tidak saling mengobrol. Malah mereka berdua secara bergantian berbicara dengan Naruto. Tentu saja Naruto keheranan dengan sikap kedua orang ini. Ditambah lagi sikap Tenten yang tiba-tiba bucin sepanjang jalan menggandeng lengan Naruto. Sakura juga terlihat tidak suka dengan tingkah Tenten. Tapi mau diapa Sakura tidak bisa menghentikannya melakukan itu. Setelah dari toko furnitur dan perabotan rumah tangga, mereka melanjutkan membeli bahan-bahan makanan ke supermarket.

"Sayang ayo kita beli daging ayamnya dulu" kata Tenten manja.

"Tiba-tiba? Kau tidak pernah memanggilku sayang sebelumnya?" tanya Naruto sambil mengernyitkan dahi.

"Diam kalau kau masih mau hidup!" bisik Tenten.

"Sayang kita beli daging sapi juga yaaa" lanjut Tenten dengan suara lumayan nyaring. Belum juga sampai ke area daging, ada yang menggoda mata Tenten.

"Sebentar Naruto aku ingin coba testernya dulu" Tenten lalu mengambil natto dengan porsi kecil, lalu memasukkan ke mulutnya.

"Hmmm Enakkk! Ini kau coba juga" suruh Tenten yang langsung ingin menyuapi Naruto.

"Tidak. Kau saja" Tolak Naruto

"Ini enak Naruto" Tenten memaksa.

"Aku tidak suka natto. Jauhkan dari ku nona cepol dua!" bentak Naruto.

"Hahahahaa tambah kau tolak aku makin iseng nih!" jail Tenten.

"Dasar cepol dua! Jauhkan dariku!" rengek Naruto yang berhasil melepaskan diri dari Tenten dan menjauhinya.

"Hahahhahahaaaa.. Hahahaaaa.. Naruto baka! Makanan enak malah tidak mau"

"Enak apanya? Lidahmu saja yang aneh!"

"Mau mati ya!!" ancam Tenten.

"Ampun! Ayo kita lanjutkan" Naruto lalu menggandeng Tenten yang hampir saja muncul perempatan di dahinya.

"Maaf Sakura lama ya?" tanya Naruto pada Sakura yang sudah berada di area daging.

"Tidak kok Naruto. Aku barusan dari toilet juga" alasannya. Padahal sedari tadi ia melihat adegan yang menyakiti hatinya tapi tidak tahan akhirnya kabur duluan ke area daging.

Mereka bertiga selesai melakukan pembayaran. Kali ini Tenten sudah tidak merangkul lengan Naruto karena tanggannya sibuk membawa kantong kresek, Sakura juga membawa satu dan Naruto membawa dua kantong kresek. Setelah keluar dari supermarket, tiba-tiba Sakura oleng ke sebelah Naruto.

"Sakura!" Naruto refleks membantu Sakura untuk berdiri tegak. Tenten panik.

"Aku agak pusing Naruto" kata Sakura.

Naruto menawarkan untuk menggendong Sakura ke klinik terdekat tapi Sakura menolak dan memilih untuk duduk melantai sebentar. Ia berkata sudah terbiasa seperti ini jika dibawa duduk akan membuat pusingnya hilang.

"Kalau begitu Naruto ayo bawa dia ke sana" Tunjuk Tenten dengan muka panik ke sebuah restoran. Setelah sampai di restoran yang lumayan sepi, mereka mencari tempat duduk.

"Sakura- san apa kau bawa obat?" Tanya Tenten. Sakura menggeleng.

"Kalau begitu apa yang bisa kubeli untuk menghilangkan sakit kepala mu Sakura-s an? Aku akan cari apotik di sekitar sini" tawar Tenten.

"Tolong belikan aku aspirin saja Tenten- san. Terima kasih"

"Tahan sebentar ya Sakura. Aku segera kembali" Tenten kemudian meletakkan kantong plastik yang dia bawa lalu berlari mencari apotik terdekat. Setelah 6 menit mencari, ia menemukan apotik kemudian membeli obat yang disebutkan Sakura tadi. Lalu setelah membayar, ia berlari lagi untuk kembali ke restoran. Saat hampir mendekati kedua manusia yang sedang menunggunya di restoran tadi, tiba-tiba ada yang memanggil Tenten.

"TENTEN!" Tenten sontak menoleh dan refleks berhenti berlari. Begitu pula Naruto dan Sakura melihat ke arah sumber suara.

"Sasori senpai????"

To be continued