Title: Duizhang, Who Is HE?
Cast: EXO
Summary: seorang namja kecil datang tiba-tiba ke dorm EXO-M. Ia mengaku bahwa dirinya merupakan anak dari sang duizhang. Lalu, bagaimanakah reaksi member M lainnya? Yang terutama, bagaimanakah reaksi Tao? Yaoi. BoyxBoy. DLDR. RnR, please?\
-0-
Tao terbangun dari tidur-nya. Ia dapat merasakan bahwa tangan kokoh milik seseorang kini tengah melingkari pinggangnya. Dan Tao tau betul, itu adalah Kris. Kekasih-nya.
Pipi Tao langsung memerah begitu mengingat beberapa jam yang lalu. Saat-saat dimana Kris mengatakan berbagai hal yang membuat Tao begitu senang dan tersipu malu.
Tapi, Tao masih memikirkan tentang kehadiran Zi Lu. Walaupun Kris sudah berjanji akan terus berada di sampingnya, bagaimana dengan anak itu? Bagaimana-pun, Zi Lu adalah anak kandung Kris. Tidak mungkin Kris melepaskan tanggung jawab sebagai ayah begitu saja, kan?
Tao menghela nafas berat. Masalah sepertinya tidak selesai begitu saja, kan? Jadi… hhh. Tao bingung sendiri memikirkannya.
Karena terlalu sibuk berfikir, Tao tidak sadar bahwa namja yang sedaritadi memeluk-nya telah bangun. Dan Kris, yang baru bangun itu, berfikir bahwa Tao masih tidur karena tidak ada pergerakan dari namja itu.
Kris mengeratkan pelukannya dan mengistirahatkan kepalanya di bahu namja di pelukannya itu. Membuat Tao tersentak kaget.
"Kris-ge!"
"Eh? Kau sudah bangun, baby panda?" tanya Kris "Kukira kau masih tidur tadi."
"Tentu saja aku sudah bangun. Memang aku seperti Kris-ge yang susah bangun? Kkk~"
"Hhh, terserah-mu lah," balas Kris "Sudahlah, aku mengantuk. Aku mau tidur lagi."
"Yakk! Kalau gege mau tidur jangan peluk aku terus!" Tao mempoutkan bibirnya "Aku kan bukan guling. Aku juga lapar, mau minta makanan sama Lay-ge!"
Kris melepaskan pelukannya pada pinggang Tao. Lalu, Kris membalikkan punggungnya dan kembali tertidur.
"Huu, pasti ngambek," gumam Tao sambil menggembungkan pipinya "Sudahlah, lebih baik aku makan saja."
Di ruang makan dorm EXO-M, terlihat Luhan yang sedang asyik makan sereal sambil melakukan video call dengan Sehun, kekasihnya yang berada di negara gingseng itu. Sedangkan Lay sedang memasak ramyeon untuk Xiumin yang katanya rindu dengan makanan itu. Membuat Lay bergumam kesal karena acara-nya untuk bertelfonan dengan sang kekasih harus batal karena kemauan hyung tertua di EXO itu.
"Yakk! Sehunnie nappeun!"
Suara dari Luhan terdengar, membuat Xiumin dan Chen menatap heran ke orang tertua kedua di EXO itu. Tak biasanya Luhan berbicara sekeras itu.
CKLEK
"Tao-ie!" Lay yang tadinya sedang bergumam kesal mendadak wajahnya berubah cerah "Untung kau keluar! Nih, ramyeon-nya tinggal diangkat, kok! Kau selesaikan, ne? Ini buat Xiumin-ge!"
Tao yang tadinya mau meminta Lay untuk membuatkan makanan hanya mengerjapkan mata tidak mengerti. Habisnya, Lay berbicara sangat cepat.
"Hhh, sudahlah. Aku saja yang selesaikan," Xiumin bangkit dari duduknya "Sana, Lay! Kalau mau menelfon si guardian angel itu."
"Yeah! Xiu-ge memang baik!"
Lay langsung berlari menuju kamar-nya. Membuat Tao menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelincahan dari lead dancer EXO-M itu.
"Tao-ie, sini duduk," kata Chen sambil menepuk tempat di sebelahnya "Ada yang ingin kutanyakan."
"Eumm… sebentar. Zi Lu belum bangun?"
"Entahlah. Sepertinya bocah itu mengurung diri di kamarnya sejak kemarin. Mau makan-pun tidak."
Tao menghela nafas. Lalu, tanpa mengidahkan para hyungnya, ia berjalan menuju kamar kecil yang ditempati oleh Zi Lu.
Tok Tok Tok
"Zi Lu?" panggil Tao "Kau sudah bangun?"
Tidak ada sahutan. Tapi Tao dapat mendengar dengan jelas hela nafas Zi Lu. Dan sepertinya, Zi Lu tidak sedang tertidur.
"Zi Lu? Aku mohon buka pintu-nya, ne? Tidak baik mengurung diri di kamar terus-menerus."
Sesaat tidak ada suara apapun dari dalam. Tao sudah bersiap-siap untuk bersuara lagi sebelum akhirnya pintu terbuka.
Dan Tao sangat terkejut ketika Zi Lu memeluk kaki-nya. Bocah lima tahun itu terlihat menyembunyikan wajahnya. Seperti tingkah Tao kalau sehabis menangis.
"Zi Lu kenapa, eumm?"
Tao melepaskan pelukan Zi Lu di kakinya dan berjongkok, bermaksud untuk menyamakan tingginya dengan bocah lima tahun itu. Dan dapat terlihat dengan jelas, mata sembab Zi Lu. Bocah itu… menangis?
"Hiks, Tao-ge."
"Kenapa, eum?"
"Hiks, Jin Ah umma sangat jahat. Ia tak mau mengakui Zi Lu, hiks," isak Zi Lu "Tao-ge baik. Tao-ge mau menemani-ku. Tao-ge mau sabar menghadapi-ku, hiks."
"Sshh, sudah, sudah. Jangan menangis, ne?" Tao mengelus rambut Zi Lu lembut "Jin Ah umma juga menyayangi Zi Lu, kok."
Zi Lu menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Ia memeluk Tao erat dan menyembunyikan wajahnya di dada Tao. Tao hanya dapat mengelus rambut dan punggung Zi Lu bergantian, mencoba menenangkan namja kecil satu ini.
"Jin Ah umma memang tidak pernah menyayangi-ku. Ia selalu pulang malam dan tidak pernah memeluk Zi Lu ketika tidur. Jin Ah umma sering sekali memarahi-ku ketika aku nakal. Jin Ah umma tak pernah mengelus rambut-ku lembut seperti apa yang sekarang Tao-ge laku-kan. Hikss."
"Ta-, eh?"
Tao langsung menoleh ke asal suara. Ia melihat Kris yang berdiri menatapnya dan Zi Lu heran. Tao mengerakkan tangannya seolah menyuruh Kris untuk mendekati-nya. Kris menganggukan kepala-nya dan melangkahkan kakinya pelan mendekati Tao dan Zi Lu. Zi Lu tidak menyadari keberadaan Kris, karena-nya ia terus menangis dalam pelukan Tao.
"Zi Lu kenapa, eumm?"
Zi Lu langsung mendongakkan wajahnya dan menatap wajah Kris dengan mata-nya yang masih mengalirkan air mata. Kris langsung kaget ketika melihatnya.
"Zi Lu menangis?"
"Tentu saja! Kau ini bodoh atau apa sih, Kris?" kata Tao kesal "Sudah tau masih nanya lagi."
"Ishh, terserah-mu lah," Kris menghela nafas "Dan… kau tidak sopan. Panda jelek! Panggil aku 'Kris-ge'! Aku lebih tua dari-mu! Dasar panda nakal!"
"Aku bukan panda!" Tao menghardik Kris kesal "Sudahlah. Zi Lu, masuk ke kamar saja, ne? Tidak usah mendengarkan perkataan naga pemarah ini."
"A-Apa?!"
Pintu kamar Zi Lu sudah tertutup ketika Kris ingin membalas perkataan Tao. Kris menghela nafas kesal dan mulai mengetuk pintu.
"Yak! Huang Zi Tao! Buka pintu-nya!"
"Tidak mau!"
"Buka, tidak?"
"Aku tidak mau!"
"Haish, buka atau-,"
"Kris appa, Tao umma. Berhenti bertengkar, oke?" suara Zi Lu terdengar oleh pendengaran Kris dan Tao. Pipi Tao memerah ketika mendengar Zi Lu memanggilnya Tao umma. Sedangkan Kris? Ia memasang smirk andalannya itu.
"Nah, Zi Lu, buka-kan appa pintu, ne? Umma-mu memang nakal."
"Kris-gee!"
-0-
Xiumin dan Luhan terlihat sedang mencuri dengar ke dalam kamar Zi Lu. Duizhang memang sudah masuk ke kamar itu. Karena paksaannya, tentu saja.
Sedangkan Lay dan Chen terlihat sama sekali tidak tertarik untuk mencuri dengar pembicaraan antara 'keluarga kecil' itu. Membosankan, menurut mereka.
"Hannie! Zi Lu memanggil Tao 'umma'! Dengar, deh!" kata Xiumin bersemangat "Dan… aigoo! Manis sekali!"
"Sshh! Xiumin hyung terlalu berisik," Luhan memukul lengan Xiumin pelan "Nanti kalau mereka menyadari keberadaan kita bagaimana?"
Xiumin hanya meringis karena menyadari kesalahannya. Ia pun menutup mulut-nya, menghindari tatapan tajam Luhan karena kesalahannya.
"Baozi hyung, Hannie hyung!" panggil Lay "Sudahi kegiatan menguping-mu itu, bisa tidak?"
Xiumin dan Luhan langsung menggelengkan kedua kepala mereka. Membuat Lay menghela nafas kesal.
"Menguping itu tidak baik," Chen berusaha membantu Lay "Lebih baik kalian duduk di sini. Menonton TV bersama kami."
"Cihh, tidak seru," desis Luhan "Hhh, baiklah. Arra, arra. Aku akan menelfon Sehun saja, kalau begitu."
Luhan berjalan pergi dari depan kamar Zi Lu dan memasuki kamar-nya bersama Lay. Sedangkan Xiumin mendesah kecewa karena ditinggalkan oleh partner mengupingnya itu.
"Sudah, XiuXiu-ge sini saja," kata Chen sambil menepuk tempat di sebelahnya "Kebetulan aku punya makanan untuk-mu."
"Makanan? Kyaa Chen kau baik sekali!"
Lay memutar bola mata-nya ketika melihat moment ChenMin di hadapannya. Menyebalkan. Apakah mereka tidak tau kalau Lay iri? Ia juga ingin bermanja-manjaan dengan Suho-nya. Tapi, apa daya. Mereka berdua terpisah. Yang satu di Korea, yang satu di China. Benar-benar menyebalkan.
"Haish. Menyebalkan," gumam Lay. Ia beranjak dari duduk-nya dan memutuskan untuk pergi ke dapur. Mengambil cemilan untuk mengisi perut-nya.
-0-
"Gege, Zi Lu sudah benar-benar tertidur?" tanya Tao pelan, berusaha mengintip melalui bahu Kris
"Ya, dia sudah tertidur, baby," kata Kris "Sudahlah. Biarkan dia tenang dulu. Dan… ngomong-ngomong, aku lapar."
Tao menghela nafas. Tentu saja duizhang-nya akan lapar. Mereka belum makan apapun sejak bangun tadi.
"Kenapa duizhang tak masak ramyeon saja?" tanya Tao sambil menatap duizhang-nya polos "Ada ramyeon di lemari penyimpanan. Dan kurasa jumlah-nya cukup untuk kita berdua."
"Berdua, eh?" Kris menyunggingkan smirk-nya "Kau mau makan semangkuk berdua dengan-ku? Dengan alat makan yang sama? Itu-kan sama saja melakukan ciu-."
"Stop. Hentikan ucapan-mu di situ, Wu Yi Fan," kata Tao sambil mengerucutkan bibirnya sebal "Aku tidak bermaksud begitu! Maksud-ku, kau masakkan dua ramyeon. Satu untukku, satu untuk-mu. Di dua mangkuk yang berbeda, dan dengan alat makan yang berbeda. Mengerti?"
"Kenapa?" Tao dapat melihat Kris bersedekap, itu tandanya kalau sang duizhang itu sedang kesal "Kenapa harus berbeda? Aku-kan ingin-."
"Sudahlah, duizhang masakkan saja, ne?" kata Tao dengan panda-eyesnya "Aku lapar, duizhang."
"Hhh, baiklah," Kris luluh dengan tatapan Tao itu "Kau tunggu saja, ne? Aku akan masak dulu. Yah, mungkin rasa-nya tidak enak."
Tao hanya menganggukan kepala-nya. Ia sangat bersemangat karena akan merasakan masakan duizhang-nya itu. Sudah sangat lama sejak Kris terakhir kali memasak untuk Tao. Padahal waktu mereka trainee dulu, Kris cukup sering memasak untuk Tao. Hal itu cukup membuat Tao merindukan masakan buatan Kris.
Tao mendudukkan diri-nya di samping ChenMin yang kini sedang ber-lovey dovey ria. Chen sedang menyuapi Xiumin makanan, begitu juga sebalik-nya. Membuat Tao sedikit iri, tapi hanya sedikit. Tidak seperti Lay yang langsung sangat sebal.
"Xiu-ge, Chen-ge, aku juga mau makanannya," kata Tao polos
"Tidak!"
"Uwaa, jahat sekali," Tao mempoutkan bibirnya "Aku-kan lapar."
"Minta makanan sama duizhang-mu saja, sana," balas Xiumin sambil meleletkan lidah-nya kearah Tao "Ini kan makanan-ku dan Chennie. Tidak ada nama Tao di sini. Wekk~"
"Aish, Xiumin-ge ja-,"
"Sudahlah, baby," tiba-tiba Kris datang dan duduk di samping Tao "Ini ramyeon-nya. Makan, ne?"
"Eh? Cuma satu?" tanya Tao ketika meihat sang duizhang hanya membawa satu mangkuk ramyeon. Bukan-kah Kris bilang ia juga lapar?
"Hanya tersisa satu ramyeon, Tao," jawab Kris "Jadi-nya, untuk kau saja. Aku nanti minta makanan saja pada Lay."
"Aish, nanti kalau duizhang kelaparan, bagaimana?" tanya Tao "Sudah, ayo makan berdua saja!"
"Tapi kan-,"
"Tidak ada tapi-tapian, gege!"
Akhirnya Kris hanya menurut ketika Tao menyodorkan se-sumpit ramyeon kearah-nya. Hmm, lihat-lah. Dua couple di ruang tengah ini seperti-nya hanya akan membuat Lay dan Luhan panas karena 'iri'.
ChenMin yang sedang asyik suap-suapan dan Tao yang asyik menyuapi Kris. Hmm, untung saja Luhan dan Lay tidak keluar dari kamar mereka. Kalau keluar… pasti mereka akan langsung kesal dan menelfon kekasih mereka yang berada di Korea.
-0-
"Ji-,"
"Apa?"
"Tak menjemput Zi Lu?"
Seorang yeoja berambut coklat mendudukkan diri-nya di samping yeoja lainnya. Sang yeoja berambut coklat terlihat menatap khawatir pada yeoja satu-nya, yeoja berambut pirang.
"Aku…," gumam yeoja berambut pirang itu "Aku merindukan Zi Lu kalau boleh jujur, jie. Aku sangat merindukannya. Rasanya hati-ku terasa sesak karena sudah lama tak memeluk tubuh kecil-nya yang hangat itu. Tapi… apa aku bisa? Bahkan aku sudah memperlakukannya dengan sangat jahat. Ia pasti membenci-ku."
"Ia anak-mu. Tidak mungkin dia membenci-mu."
"Apa ia masih menganggap-ku umma-nya?" tanya yeoja berambut pirang itu "Aku sudah sangat jahat. Aku selalu meninggalkannya. Aku sudah meninggalkanya berbulan-bulan. Dan aku sudah menyuruhnya berbohong pada Kris-ge dan teman-temannya. Aku sangat jahat. Aku bahkan merasa aku tidak pantas menjadi ibu-nya, jiejie."
"Mau bagaimana-pun, kau-lah ibunya, Jiji," kata yeoja berambut coklat itu "Ia sangat menyayangi-mu. Aku tau itu. Ketika kutelfon kemarin, aku tau ia sangat merindukanmu. Aku tau ia kesepian di sana. Tidakkah kau harusnya menjemputnya? Kasihan Zi Lu, Ji."
"A-Aku…," yeoja berambut pirang itu "Jiejie, bolehkah aku menjemput-nya? Masih boleh-kah aku memeluk tubuh mungil-nya itu?"
Yeoja berambut coklat menganggukan kepalanya. Ia tersenyum hangat kepada adik-nya, yeoja berambut pirang itu. Sedangkan si rambut pirang hanya dapat terdiam. Mencoba untuk berfikir, mana keputusan yang harus ia ambil?
'Jemput Zi Lu.. atau membiarkannya tetap di sana?'
-TBC-
Mianhae kalau chap ini pendek+gaje. FF ini mungkin akan tamat sebentar lagi.
Thanks To: insun taeby, DevilFujoshi, URuRuBeak, Hanny TaoRis EXOtic, , Time to Argha, kwonlee1812, Gita Safira, YuniNJ, ajib4ff, kim hana, vickykezia23, imroooatus, PrinceTae, Riyoung Kim, Shin Min Hwa, meyy-chaan, BoPeepBoPeep137, wokyuhomintaoris all, chikakyumin, IyaSiBum, Riszaaa, Hisayuchi. Thanks for review-nya :D
Last, mind to review?
