"Apa itu?"
Hitungan tahun sudah mengisi waktu semenjak Mello mengenal Matt, tentu saja ia dengan cepat mengidentifikasi perubahan rona wajah si rambut merah perihal pertanyaan yang baru dilontarkannya.
"Bukan apa-apa."
-dan disambarnya cokelat itu untuk dijejalkan di dalam plastik. Bukan cara yang efektif untuk berdalih, memang.
Menyisakan uang saku yang terbatas untuk sesuatu selain game, konsol game, merchandise game, atau buku panduan game? Gadis manapun yang mampu menggerakkan Matt untuk melakukan itu benar-benar mengundang tanda tanya bagi Mello.
"Tentu saja, aku hanya heran tipikal orang sepertimu mau memberikan sesuatu yang norak seperti itu pada seorang gadis."
Sekilas kedua pasang manik biru itu menangkap air muka yang menegang dari lawan bicaranya.
Menghiraukan perasaan bersalah yang merasuk ke sudut hatinya, Mello melanjutkan, "-Jadi, siapa gadis beruntung yang akan menerima cokelatmu?"
.
-Dan biar kutunjukkan perempuan itu tidak lebih dari sekumpulan idiot yang hanya menggunakan otak untuk menjadikan penampilan mereka lebih molek dan melabelimu sebagai playboy setelah mengadu pada semua orang yang ia lewati bahwa kau tidak membalas e-mail kirimannya sehari penuh.
.
Love Drunk
Death Note belongs to Tsugumi Ohba & Takeshi Obata
Previous warning applied
.
"Bukan urusanmu 'kan?"
Mello dapat merasakan alisnya bertaut.
Tidak hanya game, gadis-yang-entah-siapa itu mampu membuat Matt berani melawannya, huh?
.
.
"Tentu saja. Masalah percintaan bocah yang tidak laku memang bukan urusanku."
"Tidak laku katamu? Asal tahu saja, kau bukan satu-satunya yang menerima banyak cokelat valentine tahun lalu."
Mello tidak memungkiri bayangan akan tumpukan kotak cokelat di dekat ranjang Matt setahun lalu, ia hanya tidak habis pikir bagian mana dari sosok temannya yang menghabiskan waktunya bergelayutan di sofa dengan DS di tangannya, mulut asyik mengunyah keripik kentang yang entah sudah bungkus ke-berapa; lengkap dengan sampah kaleng soda yang berserakan sebagai pemanis latar, mampu membuat kaum hawa terpesona.
Tapi…
"3-4 cokelat bukan bukan jumlah yang bisa menyaingi perolehanku, Matt."
"Jika kau terus meremehkan orang seperti itu, tidak heran kau tidak pernah menjadi nomor 1."
.
Hening.
.
Mello kehabisan ide verbal sekejap itu. Apa Matt sebegitu bangganya memiliki penggemar perempuan?
.
.
.
"Kita bertaruh, kalau begitu."
Sekembalinya dari perpustakaan, Mello mengerutkan kening mendapati kamarnya lekang akan sosok sang partner yang berbagi kamar dengannya.
Langka rasanya tidak melihat sosok Matt di kasur dengan gundukan kabel-adaptor-entah-apa mengelilinginya pada jam segitu.
Tetapi Mello tidak ambil pusing akan hal itu, mengingat plastik –yang menjadi korban penjejalan kotak cokelat tadi- masih mendekam di pojok ruangan.
Tidak mengusik privasi orang lain merupakan suatu bentuk tata krama; tapi kapan Mello pernah peduli akan hal itu? Dibukanya kotak bertutup bening itu, berharap bisa mendapatkan sedikit petunjuk akan sosok yang membuat sahabatnya terkorupsi.
Puluhan probabilitas nama perempuan melintas dalam pikiran Mello ketika secarik kertas berwarna kuning ditemukannya terselip di bagian bawah; dan sebelah alisnya terangkat ketika ia mengetahui apa yang tertulis disitu begitu jauh dari ekspetasinya.
.
.
'For Mello'
.
Oke, ini aneh.
.
.
Kenapa Matt tidak langsung saja memberikan cokelat itu padanya seperti biasanya?
Hari keempatbelas bulan kedua tahun itu, pemuda yang biasanya mendapat cokelat terbanyak seantero Wammy hanya menerima lirikan sinis dan bisik-bisik mencurigakan dari tiap perempuan yang ditemuinya,
Namun, kilatan jahil sepasang manik hijau di balik lensa oranye itu tak luput dari mata Mello; tentu saja ia tahu ada yang tidak beres.
"… Kau menjebakku."
Yang bersangkutan hanya merujuk pada gestur tidak tahu. "Menurutmu begitu? Kau tahu aku juga tidak mendapat cokelat satu pun."
Mello menghela nafas. Bukannya aksi kecurangan Matt tidak terpikirkan samasekali di otaknya, sih; toh ia masih punya kartu as.
"Aku memang tidak mendapat satu cokelat pun dari seorang gadis. Tapi aku tetap mendapatkan ini."
Mata Matt membulat sempurna, seakan yang Mello keluarkan dari saku celananya adalah pewarna rambut Pink. Sayangnya, bukan.
"Kau pikir cokelat itu untukmu?"
.
Mello harus menahan diri untuk tidak tertawa sarkastis mendengar nada arogan yang diusahakan Matt. Namun ia tak membiarkan satu patah katapun lolos dari bibirnya, hanya menunjukkan secarik memo kuning yang ia simpan; entah untuk apa ia sendiri tidak paham.
"Coklat itu bukan dariku; aku hanya tak sengaja menemukannya. Kuambil karena kupikir bisa diberikan pada seseorang, daripada harus beli? Tapi aku belum mengamati isinya... Ternyata itu dari penggemarmu, huh?"
.
.
Kalaupun si rambut pirang tidak menghabiskan waktu enam tahun untuk tidur, makan, bahkan mandi bersama dengan Matt; ia ragu bisa mempercayai tipuan konyol itu.
"... Kau menemukannya di rak bakery sewaktu kau menyelinap untuk membeli game?" Mello melambaikan kertas bon pembelian cokelat yang tentunya disertai tanggal pembelian; sesuatu yang ditemukannya ketika rasa frustasi akan hasil ulangan membuat tempat sampah kamar mereka sebagai korban tendangan kemarahannya.
.
"Satu cokelat dari laki-laki masih lebih baik daripada nihil, bagaimanapun juga. Sekarang terimalah kemenangkanku secara jujur dan turuti perintahku."
.
.
"Bagaimana kalau kita…"
.
.
.
Matt mengerjapkan matanya.
"…Apa?"
Kedua manik biru yang ia tatap menyipit. "Kau keberatan?"
Matt mengelengkan kepalanya dengan cepat. Jika ia menolak 'pergi bersama kemanapun yang Mello mau akhir pekan ini', ia yakin Mello sudah menyetor berbagai jenis skenario hukuman yang lebih menyakitkan baginya.
"-Akhir minggu ini."
"Besok," Matt menganggukan kepalanya, mengonfirmasi.
Meski sebenarnya, bayangan akan Mello yang tertawa licik yang menjadikan tubuhnya sebagai keset tidak bisa hilang dari benaknya. Si pirang itu tahu ia bukan orang yang outgoing; tapi rasanya tidak mungkin Mello mau begitu baiknya hanya menjadikan 'sebuah acara jalan-jalan di akhir pekan' sebagai hukuman taruhan.
.
.
Kecuali sebenarnya itu hanya jebakan.
Mungkin saja di tengah-tengah perjalanan, si rambut pirang itu entah bagaimana berhasil membuat Matt masuk ke gay bar. Atau dipaksa menjadi badut dalam pesta; dikerjai bocah-bocah berparas malaikat berhati iblis sementara sahabatnya menghitung honor kerja sambilannya di pojok ruangan.
Atau mendorongnya ke tengah sekelompok waria dalam kawasan mencurigakan kota London, memfotonya, dan menjadikkan itu sebagai bahan blackmail; dan setelah itu, Matt akan menghabiskan waktunya untuk menjadi pembantu Mello seumur hidup. Kemudian Mello akan menikah sementara ia ditahan sebagai budak perjaka, kemudian menjadi anjing peliharaan di kala anak bungsu Mello merasa bosan.
Matt pun tidak menghitung berapa skenario ajaib lain yang sempat terpikir olehnya hingga akhirnya membuainya dalam mimpi…
.
.
… yang sangat buruk.
"Mimpi buruk, huh? Igauanmu benar-benar mengusik tidurku semalam."
"…Hnn," memeluk bantal lebih erat, menghalau usikan suara familiar yang hendak menariknya dari alam mimpi.
"Kau tidak melupakan janjimu 'kan?"
"Uh-huh," apapun itu, bungkam mulutmu dan pergilah agar aku bisa…
"Ini hampir tengah hari, dan jika kau tidak segera mandi dan bersiap, kurasa aku harus mengganti hukumanmu dan meminjam gaun tua Mrs. Lily untuk…"
Dan selang beberapa detik kemudian, Matt sudah berada di kamar mandi dengan handuk yang ia sambar.
Matt keluar dengan handuk bermotif kuda laut ungu –kelihatannya cuciannya tertukar lagi dengan milik Wally- melingkari pinggangnya; mengerutkan kening melihat Mello yang duduk di kasur dengan wajah tertekuk.
"Lama."
Namun daripada komentar bernada sinis itu, penampilan Mello yang berbalut pakaian serba kulit lebih menyita perhatian Matt. Dan- ... Oh, selama ini Matt tidak pernah menyadari betapa feminin lekuk kaki Mello yang tampak menyolok dengan celana ketat-
"Ehem."
Dan mata Matt yang sudah menelusur ke bagian-bagian yang tidak perlu disebutkan pun akhirnya mengembalikan pandangan ke tempat yang seharusnya; sejajar dengan sepasang mata biru yang kini melotot padanya.
"Err, Mel, tumben kau berpakaian begitu…" erotis. "-berbeda." Matt buru-buru melanjutkan, merinding sendiri mengingat adjektif yang sempat ia bayangkan.
Mello mengangkat bahunya, "Lagi mood."
Matt pun memutuskan untuk tidak menginterogasi lebih lanjut untuk memuaskan tanda tanya besar yang masih menganga di otaknya. Memilah tumpukan baju di lemarinya ia pun sempat terpikir untuk memakai baju yang… 'berbeda' untuk menimbulkan efek serasi dengan sahabatnya; sampai ia ingat isi lemarinya hanya dipenuhi motif garis.
Terserahlah, palingan orang yang mengerutkan kening melihat duo nan kontras itu hanyalah pelayan restoran fast food atau pattisier bakery yang biasa mereka datangi.
"Bioskop?" Matt mengerutkan kening pada teman sekamarnya setelah mengetahui destinasi mereka.
"Umm… Yeah, aku ingin menonton…" Mello celingukan, matanya menyusuri deretan poster film di dinding, "Itu." Telunjuknnya diarahkan secara random.
… Cryptic Love?
"…Kau ingin menonton kisah tragis seorang gadis yatim piatu yang mencintai seorang pastor?"Jangan salahkan Matt yang hanya memilih judul film secara random untuk bisa menyelesaikan tugas summary writing-nya dengan cepat.
"Ma-maksudku yang di sebelahnya, bodoh!"
.
.
The Dark Knight: Rises. Tentu saja.
.
Meski sebenarnya Matt juga tidak mengekspektasi ketertarikan Mello pada genre superhero.
"Kau lupa aku bisa meng-hack pre-order Blu-Raynya? Kita bisa menontonnya gratis di laptopku. Dan kau boleh menyimpan bonus figurinnya, jika kau mau."
.
.
Hening.
.
"Aku hanya ingin menontonnya di bioskop, sekali-sekali."
Tampaknya Mello kena tulah setelah mengolok kemampuan berbohong Matt berulang kali.
"… tentu saja, Mel." Lagi, Matt memutuskan tidak ada gunanya berdebat lebih lanjut dan mulai mengorek dompetnya.
"Aku yang bayar."
"Oke. -Tunggu, apa katamu?"
Mello yang sudah melenggang ke arah loket tidak mengindahkan pertanyaan Matt.
.
.
.
Setelah bioskop sekarang restoran Italia?
"Apa? Kau tidak lapar?"
Sepertinya Matt lupa sahabatnya yang satu itu selalu bisa membaca setipis apapun ekspresinya.
"… Ada apa dengan McD?"
"Kau lebih suka makan disana?"
"Tidak- Maksudku, kita biasanya- … Lupakan, terserah kau saja."
Mengambil tempat dan memesan pasta yang terlihat familiar baginya, Matt memandangi Mello; meski ia tahu seberapapun ia melotot pada sahabatnya itu rencana jahat Mello takkan terbongkar.
Heh, dipikirnya film berdurasi 2 jam yang ditontonnya tanpa interupsi apapun dan perut yang terisi membuatnya lengah akan jebakan yang mengunggunya? Jangan harap. Matt sudah memetik banyak pelajaran berharga dari ribuan adventure quest yang dipenuhinya.
Beberapa belas menit terlewati sampai pesanannya terhidang di atas meja, dan Matt pun mengira-ngira sudah berapa lama ia mengonsumsi sesuatu selain makanan kalengan dan junk food begitu aroma margarita menelisik hidungnya.
"Itulah akibatnya kalau selalu melewatkan jadwal makan. Menu Wammy's pun sebenarnya masih lebih baik daripada variasi keripik yang kau simpan, tahu," komentar Mello pada sosok yang tengah asyik menyantap hidangannya. Tersenyum, jemarinya reflek menyeka saus tomat di pinggir bibir Matt; dan mulut yang sedari tadi sibuk mengunyah itu pun menunda aktivitasnya.
"Mel-"
.
.
"Silakan, Spaghetti Carbonara pesanan anda."
Dan sang pelayan yang menghidangkan pesanan Mello di meja mereka sukses menginterupsi… apapun yang mereka lakukan tadi.
"Uhh… yeah, terima kasih," ucap Mello kikuk; sikap yang jarang –atau tidak pernah?- ia tunjukkan.
Pelayan paruh baya berkumis itu menggangguk sopan dan berbalik arah, meninggalkan meja mereka.
Suasana hening yang canggung tak terelakkan lagi; meski sebenarnya pembicaraan tamu-tamu lainnya, denting garpu Mello, dan suara kunyahan Matt –yang kini makan dalam tempo lambat- masih melatari suasana restoran itu.
.
.
.
"-telah itu kami pulang dan tidak ada kejadian aneh lainnya; dan 'aneh' yang kumaksudkan tidak ada satupun kejadian yang berpotensi mempermalukanku. Menurutmu bagaimana? Apa mungkin Mello punya suatu rencana tapi tidak dilaksanakan hari itu juga? Atau mungkin sebenarnya ia sudah mengerjaiku, tapi aku saja yang tidak menyadarinya? Mungkinkah Mello memang sudah terlalu sering menyiksaku sehingga tidak terpikir variasi metode lagi dalam melakukannya? Tapi itu tidak mungkin, lagipula aku masih tidak mengerti alasan ia mentraktir dan membelikanku tiket kemarin.."
"-jadi…" Matt menarik nafas setelah puas memuntahkan rentetan kalimat tanpa jeda, "… menurutmu, apa yang sebenarnya direncanakan Mello?"
Near yang sedari tadi menjadi korban curhatan Matt hanya bisa mengangkat sebelah alisnya –yang sebenarnya tidak ada—sambil berusaha mengulang kalimat Matt dalam otaknya dengan tempo lebih lambat.
"Matt, bisakah kau berhenti mencurahkan segala keluh kesahmu pada Near hanya karena gagal melawan Elite Four atau semacamnya? Kasihan dia…" komentar Linda yang tadinya hendak meminjam Gundam dari kamar Near. Mencoba konsep lukisan yang fresh, pikirnya.
"Mello mengajaknya keluar seharian Sabtu kemarin," jawab sang bocah albino yang merasa Matt akan memutar ulang segala ocehannya jika ia tidak menanggapi ucapan Linda barusan; telinganya sudah cukup panas.
"Oh? Akhirnya kalian kencan juga?" begitu enteng meluncur dari mulut si kuncir dua, seakan mengomentari gerimis yang akhirnya turun setelah mendung seharian.
Senyuman sarkastis melengkung pada bibir Matt. "Ha-ha, lucu sekali Linda. Kau tahu, definisi kencan itu…"
.
.
.
-membuat alasan traktiran bioskop dan tiket menjadi begitu masuk akal.
.
To be Questioned
.
Yap, maaf kalo 'hukuman' Mello tidak memenuhi fantasi macem2 yang bisa reader pikirkan. #Plak
Thanks udah baca fic yang telat updet ini~ cuma diedit sekali, silakan lapor kalo ada typo.
Review dan kritik akan dibales dengan pelukan hangat dari author :)
.
.
eh, jangan kabur... becanda kok~
