"-kadang aku jadi bingung kenapa otak kalian yang seharusnya murid tercerdas di Wammy ini bisa begitu bebal? Lagipula sejak dulu rumor soal dia dan Mello 'kan memang sudah…"

"Membandingkan kinerja otak kami dengan rata-rata anak perempuan dalam masa puber bukanlah sesuatu yang seimbang, Linda. Dan mengenai bebal itu…"

Ucapan kedua orang yang mulai berdebat menjauhi topik awal sudah masuk kuping kanan keluar kuping kiri bagi Matt, tidak ada satu kata pun tersangkut di otaknya yang kini sudah cukup berkendala dalam mengolah masalah irasional dimana posibilitas bahwa ia dan Mello…

"Intinya kalian kencan 'kan?"

"Tidak!" akhirnya mulut Matt berfungsi juga setelah dari tadi hanya menganga dan bergerak tanpa ritme signifikan layaknya ikan koi; meski suara yang dipekikannya terdengar jauh lebih panik dari yang ia maksudkan.

"Apanya yang 'tidak'?" suara familiar sang rekan sekamar yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya membuat jeritan serupa kembali meluncur dari mulut Matt.


.

Love Drunk

Death Note belongs to Tsugumi Ohba & Takeshi Obata

Previous warning applied

.


"Heck, aku tidak tahu sejak kapan kau jadi histeris begitu, Matt," ejek si pirang dengan nada sinis seperti biasa.

Rasa kesal yang mulai merembesi sang lawan bicara hampir menghapus kekarutan pikirannya barusan. Hampir.

"Jadi," kali ini bola mata birunya melirik ke sosok bocah berambut putih, "Apa aku menginterupsi sesuatu?"

Matt memutar bola matanya mendengar nada menusuk Mello; dia selalu saja berlebihan menghadapi Near.

"Sebenarnya, keberadaanmu akan membuat dua orang ini bungkam, Mello. Kami sedang membicarakan apa kau…"

"-lebih menyukai dark chocolate atau milk chocolate?"

Belum pernah Matt merasa begitu berterimakasih pada Linda sebelum pemilik kuncir kembar itu membekap mulut Near dengan kedua tangannya itu dan melanjutkan omongan sang albino dengan sesuatu yang... tidak masuk akal, sebenarnya.

"… Tentu saja, Linda," dengus Mello dengan sarkastis. "Katakan, Near."

"Sebenarnya…" cengiran yang siap memoles bibir Linda dan ekspresi campur aduk Matt membuat Near berpikir kadang cara cerdas bukanlah metode terbaik meracik sesuatu yang menarik. "… Linda benar. Jadi, kau lebih suka yang mana?"

"Uhh… aku lebih suka cokelat almond, sebenarnya…" yang ditanya menjawab dengan ragu, berpikir sang bocah albino akan memperjelas pertanyaannya dengan pernyataan yang singkat, padat, dan jelas seperti biasa. "Memangnya kenapa?" aah, nada sengit yang itu lagi. Kadang Matt berpikir mungkin para penerus L itu bisa mati kalau tidak bersikap serius dan rasional lebih dari lima menit.

"Kau ingat waktu bertanya apakah aku lebih menyukai lego atau puzzle?"

"Near, itu kan waktu kita… apa ya? Baru masuk tahun pelajaran dasar?"

"Bukan berarti aku lupa bagaimana Mello merusak dan menyembunyikan puzzle-ku di 26 tempat yang berbeda."

.

.

.

Dalam keheningan Matt merasakan angin dingin menusuk lehernya entah dari mana; terlepas dari kenyataan bahwa matahari jelas masih bertengger dari balik jendela.

"Jadi, umm… Kau… mencariku kan, Mells? Sekarang kita bisa pergi dari sini dan melakukan… apapun yang membuatmu mencariku, jadi… sampai jumpa, Near, Linda."

Dan Matt pun kembali menjadi pahlawan tanpa tanda jasa dengan menggeret Mello keluar dari ruangan itu sebelum percakapan tadi berujung pada perdebatan yang bisa berakibat fatal.


Dalam bisu keduanya melewati lorong menuju kamar mereka.

Dan tanpa omelan ataupun sindiran sinis Mello, yang terbayang di benak Matt kembali pada hal-hal yang sebenarnya tidak ingin ia pusingkan lagi. Dan kata-kata yang dibisikkan Linda sekejap tadi…

.

'Kau berhutang padaku dengan tidak membiarkan si pirang itu meledak jika sampai ia sadar rahasia kecilnya diketahui Near. Sekarang beranikan dirimu dan tanyakan langsung padanya, ya? Dan jangan lupa untuk memberitahukan perkembangannya pada rekan terbaikmu ini!'

.

Huh, perempuan. Makhluk mengerikan dengan lidah berbisa yang tersembunyi dalam cangkang rapuh.

Tapi sebanyak ia membenci pernyataan Linda, Matt tahu segalanya akan jadi jauh lebih jelas kalau saja ia bertanya secara langsung. Kalau saja ia bertanya…

"Matt-"

"-Aku tidak punya pertanyan apapun!"

.

.

.

Hening lagi.

Mello membuang nafas. "Kau ini terbentur atau bagaimana sih? Rasanya kau jadi histeris begitu semenjak… akhir pekan kemarin."

Oh, kau salah besar Mello. Aku bersikap aneh semenjak KENCAN kita kemarin.

"Kau tahu-" Matt tidak mengerti mengapa nada suaranya jadi lebih tinggi dari biasanya, "-aku tidak akan seperti ini kalau kau mengatakan…"

Taruhan. Hukuman. Bioskop. Restoran-

.

-kencan...

Kedua iris biru Mello tak sekalipun terlepas mengobservasi ekspresi gelagapan sang bocah ber-goggle yang tidak ubahnya hiburan semata baginya.

"-Kalau kau…" Apakah Matt sakit tenggorokan? Tidak? Kenapa lidahnya sekelu ini? Kenapa ia merasa rongga udaranya tercekik?

"Aku…?" masih terpikat dengan kegugupan yang jelas terpancar dari mata yang memandangnya balik dari belakang lensa oranye, mengerjap dalam jumlah yang konstan; mungkin dipikirnya hal itu efektif untuk menenangkan diri. Matt bodoh.

"Lebih menyukai cokelat almond daripada dark chocolate dari dulu."


Matt merasa tolol.

Tolol karena tiap kali ia mencoba mengajukan pertanyaan soal… 'itu' kata-katanya akan tertelan kembali pada tenggorokannya.

Sangat tolol karena omongannya hanya berupa cerocosan random yang jauh maknanya dari hal yang ingin ia disksusikan, bahkan setelah jangka waktu satu minggu terlewati.

Super tolol karena ia tidak mengerti kenapa.

Hell, apa susahnya sih?

Dan bombardir pertanyaan Linda beberapa hari terakhir tidak membantu. Samasekali.

Ia terus menerus menginterogasi Matt mengenai bahan-gosip-pribadi (Matt sendiri tidak pernah mengerti bagaimana gosip bisa dikatakan… 'pribadi'); menanyakan tiap detail-detail perubahan ('perkembangan', sebagaimana si kuncir dua menyebutkannya) yang tentu saja nihil adanya.

"Jadi, apa jawaban Mello?"

Matt melengos, mengambil sepotong salmon sandwich dari tray. "Entahlah, Linda. Aku belum bertanya padanya, jadi berhentilah mewawancaraiku tiap kali kita berpapasan."

Gadis yang berada mengantri tepat di belakangnya itu memonyongkan bibirnya, "Konyol sekali, Matt. Aku tidak mengerti apa susahnya bertanya."

Yeah, Matt. Konyol sekali.

"Maksudku, Mello memang sedikit menyeramkan kalau sampai marah… tidak, dia memang selalu kelihatan menyeramkan. Tapi kita tahu Mello tidak akan memasang tinjunya jika kau adalah… kau. Lagipula, kau sendiri memang ingin memastikannya 'kan? Waktu itu aku sudah repot-repot menahan Near agar kau punya kesempatan untuk menciptakan momen…"

"-Cukup Linda," sergah Matt. Kalau saja ia tidak ingin menikmati jus apelnya, mungkin sudah ia sumpalkan cup-nya ke mulut Linda. Dengan cepat ia menyerobot keluar antrian, mencari meja yang ia yakin sudah diduduki Mello.

Itu dia. Meja kedua dari jendela, dengan satu tempat terisi dan empat kursi kosong.

Selalu mendapatkan tempat duduk di kafetaria adalah salah satu dari sedikit manfaat dari berteman dengan Mello. Tidak ada penghuni Wammy yang punya cukup nyali untuk duduk semeja dengan Mello.

"… Ekspresimu menakutkan, Matt," desis Mello begitu Matt duduk di sebelahnya dengan bibir membentuk lengkung cerah yang tampak begitu… mencurigakan.

"Sebenarnya, Mells, aku baru berpikir tentang… alien mana yang berani dekat-dekat denganmu selain aku," volume suara Matt makin berkurang, tereduksi menjadi gumaman ketika segerombolan gadis yang Matt yakini bertengger di peringkat-peringkat terbawah mendekati meja mereka. Tidak; bahkan Matt tidak mengerti mengapa Wammy yang harusnya merupakan panti asuhan dengan standar khusus menampung mereka sejak awal.

Salah satu dari mereka bahkan berani menepuk pundak Mello dan… hei, kenapa gadis-gadis malah cekikikan begitu? Tidakkah mereka takut akan kemungkinan temannya akan dimakan oleh Mello karena telah mengganggu waktu makan malamnya yang berharga? Oke, mungkin tidak sampai dimakan, tapi…

"Hei, Mells."

.

.

Mells?

Mells?

Lancang sekali gadis jalang itu menyebut nama panggilan yang ia gunakan?

Melihat reaksi Mello yang hanya menolehkan kepalanya tanpa adegan sumpah serapah atau melempar meja membuat teman-temannya makin mendekati sang remaja pirang.

"Begini, apa kau sibuk besok malam?," salah satu dari temannya berpartisipasi, bibirnya yang berpoles lipgloss tebal tersenyum seduktif. "Kami tahu beberapa tempat yang menyenangkan untuk hang out. Dan kurasa sedikit refreshing akan menyenangkan untukmu, jenius. Jadi… bagaimana?"

Matt mendengus. Tunjukkan bahwa meski mereka termasuk kaum hawa, bukan berarti mereka bisa bermain-main denganmu, Mells.

.

.

"… Hng. Kenapa tidak?"


"Mello idiot! Itu satu-satunya penjelasannya! Sekarang jelas terbukti kenapa mendadak ia mengajakku 'kencan' dan menerima ajakan gadis-gadis norak itu! Dia pasti terbentur atau… entahlah!"

Linda mengerjapkan matanya. Sekejap lalu ia merasa menjadi orang yang paling dihindari oleh Matt; tidak disangka yang bersangkutan kini malah mondar-mandir di kamarnya sambil misuh-misuh tidak jelas.

"Gadis-gadis norak apa?"

"Makhluk mengerikan ber-make up setebal badut dengan pakaian rombeng kurang bahan itu! Kau tidak melihat bagaimana mereka bersikap sok akrab dengan Mello di meja makan?"

"I… tidak. Tidak semua orang cukup kurang kerjaan untuk mengobservasi Mello tiap waktu seperti yang kau lakukan, Matt. Yah, Near kadang melakukannya, tapi… kau tahulah…"

"Linda, siapa juga yang… terserahlah. Jadi soal gadis-gadis itu, mereka mengajak Mello untuk… untuk minum di kafe, pergi ke bioskop untuk menonton film romantis penuh omong kosong, atau… atau… entahlah, kurasa kau bisa membayangkan sendiri kegiatan idiotik lainnya."

Linda memutar bola matanya. "Matt, kurasa kau…"

"-Dan kau tahu Mello menjawab apa? 'Kenapa tidak?'! Hmph, pertanyaan yang benar adalah kenapa ia tidak membentak; atau paling tidak memelototi perempuan jalang itu!"

"Menurutku, Mello sebenarnya…"

"Bagaimana kalau Mello sampai terpikat dengan salah satu dari mereka? Tidak, dia tidak sebodoh itu… Tapi bagaimana kalau dia tertular kebodohan mereka?"

Putus sudah urat kesabaran Linda. Sepertinya gadis malang ini baru menyadari bagaimana perasaan Matt manakala ia sembur dengan segala macam opininya tentang hubungan si bocah goggle dengan teman sekamarnya.

"Matt! Diam dan dengarkan, kita ikuti Mello besok malam dan kita lihat apa yang terjadi."


.

To be Revealed

.


Yay untuk ke-OOCan Matt! XD #dilemparcokelatalmond #mungutin. mangap ya, saya sebisa mungkin menghindari OOC kok, tapi...

alurnya di chapter ini terasa lambat banget, tapi saya emang nargetin tiap chapter biar wordsnya gak banyak-banyak =='a

makasih udah yang udah baca dan review, ditunggu saran n kritiknya #bow

reviews are appreciated! XD #tebarlipgloss #lho

(oh, tunggu. Numpang nanya, menurut readers umur duo M disini sekitar berapa sih? Sejujurnya saya gak begitu membayangkan kisaran yang jelas :/a #authorsesat sankyu XD)