Masih terekam dalam ingatan Matt rekaan halaman-halaman shoujo manga koleksi Linda, dimana sang heroin dicium sang pujaan hati.
Hei, jangan salah paham. Bukannya Matt menyukai kisah roman picisan macam begitu, ia hanya… tidak ada kerjaan lain. Begitulah pikirnya saat itu saat membuka lembaran-lembaran selanjutnya, menyusuri tiap panel hingga volume terakhir.
Yah, tapi bukan itu masalahnya.
Si rambut merah sudah kehilangan kalkulasi interval waktu semenjak bibirnya dibungkam rekan sekamar yang bahkan tak pernah ia akui sebagai sahabat itu. Yang pasti ia tidak melihat tarian cahaya dan bunga-bunga bermekaran melatarbelakangi mereka seperti dalam shoujo manga.
Dan satu lagi yang membedakan ciuman pertama Matt dengan adegan manis ala serial remaja putri Jepang; akhir yang bahagia.
.
.
… Atau mungkin kisahnya memang belum berakhir samasekali.
.
Love Drunk
Death Note belongs to Tsugumi Ohba & Takeshi Obata
Previous warning applied, and more.
.
Terbiasa mengendap-endap mencuri cokelat, Mello hafal benar langkah berat Roger, lebih lagi mengingat suara itu menggema menyusuri koridor yang kosong.
Olahraga yang sering ditekuni si rambut pirang terbukti berguna; dengan ia gesit mendorong Matt bersamaan dengan terbukanya pintu kamar mereka.
"Mello, Matt, apa perlu kupotong lagi uang saku kalian? Ini sudah kali kedua kalian melewati jam tidur kalian!" dan ceramah sang pria tua yang masuk-kuping-kanan-keluar-kuping-kiri itu berlanjut hingga 30 menit selanjutnya, dan diselesaikan dengan keputusan menghabiskan satu malam di gudang sebagai penalti.
Bertukar pandang sejenak dengan rekan sekamarnya, Mello hanya mengangkat bahu dan mengekori Roger menuju gudang sayap Barat.
.
.
Matt tidak yakin suara gagak dan cicitan tikus yang samar-samar terdengar cukup untuk menyamarkan bunyi degup jantungnya dari Mello. Bagaimana tidak? Melihat tidak ada jarak yang bisa mereka sisakan saat kedua remaja itu harus berbagi tempat di atas matras tua berbau apek yang tergelar pada lantai berdebu di gudang.
Setidaknya Mello tidak bisa melihat raut wajah Matt yang pasti kini tidak karuan dengan posisi mereka yang berpunggungan.
'Kau yakin itu hal yang bagus? Bukankah ada hal kecil yang harus kautanyakan padanya?' batinnya mengingatkan.
Si rambut merah menelan ludah. Butuh beberapa menit untuk membuatnya benar-benar berani mengeluarkan suara.
"Mells…"
.
.
Tidak ada jawaban.
"Kenapa kau menciumku?"
.
.
.
Masih hening.
Mungkin yang bersangkutan bisa menemukan kenyamanan dari matras keras itu dan sudah lebih dulu tertidur, begitulah pikir Matt yang mulai memejamkan matanya.
.
.
"… Selamat malam, Matt."
Kontras dengan dugaannya sebelumnya, tidak terjadi apa-apa dengan mereka setelah itu.
Jangankan aksi, tidak ada sepatah katapun mengenai kejadian semalam yang terlontar di antara mereka. Dan Matt mulai berasumsi, mungkin itu yang terbaik.
.
.
Atau mungkin ia hanya takut mengetahui kebenarannya.
Oke, sebenarnya ia punya beberapa asumsi yang melatarbelakangi aksi Mello itu.
Pertama, Mello hanya ingin membandingkan perbedaan antara berciuman dengan lawan jenis dan sesama jenis. Entahlah, rasa ingin tahu sang pemegang peringkat dua itu bisa terlalu aneh untuk Matt pahami. Seperti waktu ia meneliti hubungan antara adiksi terhadap makanan manis dengan intelektualitas sebagai laporan ilmiah. Ha, dipikirnya ia bisa mendapat nilai lebih dari Near dengan topik tidak masuk akal macam itu? Memangnya orang jenius macam apa yang menghabiskan waktunya dikelilingi berbagai macam kudapan manis?
Kembali ke asumsi, dugaan kedua Matt adalah bahwa Mello menyukainya. Ia berpikir coklat -bukan cokelat valentine, hanya cokelat yang kebetulan iseng dibeli pada bulan Februari- itu membuat Mello mengira Matt menyukainya, berniat membalas perasaannya, kemudian membawanya kabur dari panti untuk menikah di Belanda. Yeah, itu bisa saja terjadi kalau Wammy's House runtuh dengan Near di dalamnya, dan Mello yang selama ini terobsesi mengalahkannya menjadi kurang kerjaan dan mengalami sedikit degradasi mental.
Dan Matt bisa merasakan sudut bibirnya tertarik ke atas, menggodanya untuk mengembangkan senyum akibat hasil pemikiran absurdnya itu.
Bisa terlelap di gudang dengan pemuda yang bisa dibilang melakukan pelecehan padanya adalah suatu keajaiban bagi Matt. Dan apapun alasannya, nyatanya 'pelecehan' yang diterimanya sukses mengalihkan pikirannya dari adegan ciuman sang rekan sekamar dengan Grace. … Atau Annie? Ya, sudahlah.
.
.
"Apa yang kau pikirkan?"
Matt mengerjapkan matanya. Dahinya sedikit berkerut mendengar pertanyaan si kuncir kembar yang sedari tadi duduk di sampingnya kini mengobservasinya dengan tatapan menusuk.
"Apanya?"
Linda memutar bola matanya. Setelah bel jam makan siang berbunyi, ia segera menghampiri Matt untuk menghibur teman sekaligus bahan gosip terbarunya itu. Tadinya ia yakin Matt tidak akan segera pulih (baca:move on) setelah melihat Mello berciuman dengan gadis itu. Linda berekspektasi untuk menemui Matt yang loyo dengan kantung mata tersembunyi di balik lensa oranye goggle-nya akibat tidak bisa tidur. Tapi nyatanya si rambut merah itu terlihat… normal.
Mencurigakan.
"Apa yang terjadi dengan kalian?"
Matt bisa merasakan rasa panas yang familiar menjalari pipinya. "Tidak ada apa-apa denganku dan Mello."
Bingo.
"… Memangnya aku bertanya tentang Mello?" dan cengiran lebar Linda saat itu sontak menempati posisi sepuluh besar daftar hal-hal paling menyebalkan dalam hidup Matt. "Oke, aku memang menanyakan soal dia. Kau sudah tidak marah padanya?"
"… Kenapa kau sampai berpikir bahwa aku marah padanya?"
Linda mengedikkan bahunya. "Yah, mengenai kejadian malam itu…"
"Maksudmu soal ciumannya dengan Annie?"
"Namanya Grace."
"Terserahlah. Dengar, aku tidak peduli soal itu. Dan memangnya kenapa kau sampai berpikir aku harus peduli?" dengus Matt.
"Tentu saja, Matt. Tapi aku akan lebih mempercayai omonganmu kalau saja malam itu kau bisa menyembunyikan kesuraman wajahmu lantaran melihat mereka berciuman."
"Ap… Aku tidak…!"
"-Dan sejujurnya, aku sempat berekspektasi kesuraman wajahmu akan meningkat hari ini. Dan sebagai teman yang baik, tentu saja aku senang mengetahui dugaanku salah. Jadi, apa yang terjadi di antara kalian? Apa Mello mengatakan sesuatu?"
"Memangnya kau pikir aku mengatakan apa?"
Linda sempat terhenyak sebelum menunjukkan senyumnya yang entah mengapa sedikit terlalu manis. "Oh, hai, Mello," sapanya pada pemuda dengan pakaian serba hitam yang lagi-lagi muncul entah dari mana.
"Jika memang ada waktu luang, mungkin kau harus mempertimbangkan belajar lebih banyak dibanding bergosip dengan Linda, Matt. Kau tahu, kurasa berada di dekatnya saja sudah cukup membawa pengaruh buruk, " Mello mengomentari dan –kontradiksi dengan omongannya- mengambil tempat duduk diantara mereka.
Matt tidak terlalu mengindahkan pernyataan Mello, pikirannya sudah cukup terusik dengan keberadaan si rambut pirang yang –sepertinya- sedikit terlalu dekat.
... Sampai ia menyadari memang begitulah biasanya mereka duduk di kafetaria.
"Hei, kenapa kalian diam? Kukira kalian sedang membicarakanku?" sindir Mello.
Linda tertawa kecil. "Hmm, bertanya langsung dengan narasumber memang yang terbaik, seharusnya. Apa kencanmu dengan Grace membuahkan hasil? Dan jangan berkelit, aku tahu apa yang kalian lakukan."
"Biar kutebak, kau berkomplot dengan Matt untuk membuntutiku," ujar Mello datar.
Linda memonyongkan bibirnya dan mendelik pada si rambut merah. "Ha, aku baru tahu persahabatanmu dengan Mello sebegitu eratnya hingga kau tak mampu menyembunyikan apa pun darinya, Matt. Yah, tapi nasi sudah menjadi bubur. Jadi bagaimana, Mello?"
"Aku dengan Grace? Tidak ada apa-apa. Maksudku, itu kan hanya ciuman. Tidak berarti apa-apa. Apa kau pikir satu kecupan kecil otomatis meresmikan hubunganku dengannya, begitu? Konyol sekali."
.
.
Meski bukan secara langsung, Matt merasa telah mendapatkan jawaban dari pertanyaan ia lontarkan pada malam yang mereka habiskan berdua dalam gudang kemarin.
.
Ciuman itu tidak berarti apa-apa.
.
.
.
"Kenapa kau masih di sini?"
Matt mengalihkan pandangannya dari jendela yang menampilkan langit malam kelabu dari balik kacanya . "Apa keberadaanku menganggumu, Near?"
Si rambut putih menggeleng. "Tidak, tapi tidak biasanya Matt berada di sini hingga selarut ini."
"Aku hanya…"
.
'Ciuman itu tidak berarti apa-apa.'
.
"… tidak mood."
Kedua iris gelap Near mengamati punggung berbalut kaus bermotif garis yang sedari tadi tidak beranjak dari pinggiran jendela kamarnya. Ia tidak tahu detailnya, tapi sepertinya memang terjadi sesuatu antara si peringkat tiga dengan rivalnya.
Haruskah ia menelisik lebih dalam? … Tidak, dia tidak ingin berakhir seperti Linda.
Dengan hal itu dalam benaknya, Near melanjutkan memasang kepingan-kepingan white puzzle-nya.
.
.
.
Matt tidak yakin apa yang membuatnya begitu gelisah. Konsep dimana Mello berpacaran dengan An… Grace karena ciuman itu jelas membuatnya mengerutkan dahi, bukankah ia harusnya merasa tenang sekarang? Karena ciuman itu tidak berarti apapun.
Ataukah Matt mengharapkan sesuatu dari ciumannya?
Ia tidak pernah menaruh perasaan semacam itu pada rekan sekamarnya. Jangankan pemuda kasar itu, gadis-gadis yang pernah ditaksirnya sejauh ini hanyalah para tokoh 2 dimensi dari game yang ia mainkan.
Jadi… kenapa?
.
.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Dan pikirannya buyar seketika melihat si rambut pirang menampakkan diri pada ambang pintu dengan tangan terlipat di dada, lengkap dengan kerutan di dahinya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Matt membeo. Suara parau yang keluar dari tenggorokannya kemarin malam kembali terdengar.
"Tentu saja mencarimu, bodoh. Kau pikir apa? Mengajak Near bermain lego bersama?"
Near tidak menanggapi.
Mello melanjutkan, "Ayolah, kau tahu nilai pelajaran komputerku bisa lebih sempurna dengan bantuanmu."
Ah, ya. Tugas koding yang diberikan tempo hari memang memiliki tingkat kesukaran yang berbeda dari biasanya, tapi…
"Tenggat tugas Mr. Allen baru akan dikumpulkan minggu depan, Mells."
Mello mendengus. "Berbeda denganmu, aku cukup rajin untuk tidak mengerjakan tugas pada hari yang sama dengan saat pengumpulannya."
Mungkin, hanya mungkin; permintaan –perintah– itu hanya sekedar kamuflase alasan untuk menggiring Matt keluar dari kamar Near.
Dan dengan hal itu dalam pikirannya, Matt membiarkan Mello menarik tangannya hingga kembali ke dalam kamar mereka. Dan ketika ia merasakan bibir Mello kembali menyapu bibirnya, ia tidak mendorong pemuda itu menjauh darinya; hanya memejamkan mata tanpa membalas ciuman itu.
.
.
.
.
"Kenapa kau menciumku?"
Kali ini suaranya jelas, bukan parau atau lirih sebagaimana suaranya sewaktu mengajukan pertanyaan yang sama kemarin malam.
Yang ditanya mengangkat salah satu alisnya. Mata birunya membelalak tidak percaya, seakan Matt baru saja mengatakan bahwa selama ini ia sering memakan cokelatnya diam-diam atau sesuatu semacam itu.
"Kau… kau tidak… argh, dasar bodoh!"
Menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti umpatan penuh frustasi, dihempaskannya tubuhnya di atas ranjang. "... Kau sendiri, Matt?"
"Eh? Aku sendiri apa?"
Mello menghela nafas. "Kenapa kau tetap mengekoriku tanpa menghiraukan segala cercaanku? Kenapa pada tahun pertamamu kau tidak melaporkan luka dan lebam di sekujur tubuhmu saat terpaksa berbagi kamar denganku? Kenapa kau meretas sistem penempatan saat pergantian posisi kamar hanya agar kita selalu bersama? Kenapa kau memesan cokelat di toko langgananku saat valentine? Meski dengan sejuta keluhan, kenapa kau tetap memenuhi permintaanku?"
.
"Kenapa kau tidak menolak saat aku menciummu?"
.
.
Seringai terkembang di wajah Mello melihat raut bingung Matt lengkap dengan semburat merah menghiasi pipinya.
Pemandangan yang sudah ia tunggu-tunggu.
.
.
'Ah, Mission accomplished'
Fin
For now
Eh? begini doang akhirnya? mana adegan nembaknya? mana ciumannya? (udah kan?)
Saya kurang sreg kalo 'orang kayak mereka' beradegan terlalu lovey dovey, jadi biarlah begini saja :D #plak
Sebenernya dalem otak saya cerita ini masih belibet, masih ada sedikit masalah walau mereka udah... hm, bisa dibilang jadian gak ya? ==' tapi berhubung saya gak yakin bisa updet tanpa telat berbulan-bulan kayak sekarang jadi segini aja lah uwu
akhir kata, saya ucapkan terima kasih buat yang udah meluangkan waktu untuk baca, ngefave, apalagi ngereview fic yang telat luar biasa ini. (masih kebawa ujian praktek pidato nih kayaknya)
Eh, jangan kabur dulu, ada tambahan sedikit dibawah. Enjoy :D
Epilologue
Gigi Mello bergeletuk merasakan butiran air shower yang dingin membasahi tubuhnya. Terkutuklah musim panas. Terkutuklah AC kamarnya yang rusak. Terkutuklah Matt yang memutuskan untuk tidur dengan kaus tipis tanpa lengan malam itu. Terkutuklah lonjakan hormon pada tubuhnya.
Butuh hampir setengah jam di bawah guyuran air dingin bagi pemuda berusia enam belas tahun itu hingga 'masalah' yang diakibatkan hal-hal yang diumpatkannya tadi mereda. Ia segera melangkah kembali ke kamarnya dengan tubuh menggigil, tidak sabar untuk bergelut di bawah selimut. Mello pun membuka pintu kamarnya dan menemukan sosok kekasihnya yang ia kira masih terlelap duduk bersandar pada headboard kasur.
"Hei, kemana saja kau, Mells? Aku sedikit cemas kau akan menghabiskan semalam suntuk untuk belajar di perpustakaan seperti dulu. Kau ingat siapa yang berbaik hati dan rela merepotkan diri merawatmu yang sakit setelah itu? Yap, aku."
Tapi cerocosan Matt tidak sedikitpun tersangkut di otak Mello. Kenapa harus mendengarkan hal seperti itu saat ada hal lain yang lebih menarik untuk diperhatikan?
"Matt, pakai bajumu."
Matt mengangkat bahu. "Kau tahu seberapa panas kamar kita malam ini."
Oh, kau pikir kaos tipismu itu masih kurang terbuka?
Matt tertegun, tampak tidak terusik dengan kegusaran yang jelas terlukis pada raut wajah Mello. "Tunggu, rambutmu basah… Kau mandi karena kepanasan ?"
"...Sudahlah, Pakai bajumu."
"Tidur tanpa atasan lebih masuk akal dibanding mandi tengah malam. Kau tahu sepanas apapun cuacanya, mandi pada jam segini tetap bisa membuatmu masuk angin, Mells."
Mello menelan ludah, berharap dengan apa yang akan dia ucapkan cukup untuk membuat rekan sekamarnya sadar dan memenuhi perintahnya. "Aku mandi bukan karena kepanasan, Matt."
"Yeah? Lalu?"
"… Pelajaran biologi. Kelas sebelas."
"… Hah?"
Mello memutar bola matanya. "Reproduksi."
Matt memiringkan kepalanya. "Ada apa dengan reproduksi?"
.
.
Melempar handuk yang sedari tadi melingkari lehernya penuh emosi, Mello melompat ke ranjang; menjamah tubuh Matt sebelum ia sempat bereaksi apa-apa.
Toh Mello memang tidak pernah repot-repot mencoba mempelajari arti kata sabar sebelumnya.
Selesai! Ngerti kan? Ngerti kan? #kena lemparan anduk Mello
Kalau ada typo atau semacemnya, tolong kasih tau author. Review nee~? :3
