"Pria yang membuat wanita menangis adalah Pria brengsek." Ucap Naruto lagi. Hinata menatap Naruto tak mengerti.

"Kau lihat air matamu itu?" Naruto kembali berbicara, tapi nada bicaranya sudah mulai tenang. Tak membentak seperti sebelum-sebelumnya. "Aku penyebabnya. Aku bukan 'Naruto-kun yang baik' seperti katamu tadi. Aku membuatmu menangis. Aku Brengsek." Naruto merendahkan dirinya sendiri.

"Tidak." Hinata menggeleng cepat. Ia memberanikan diri menatap Naruto."Naruto-kun tidak brengsek. Naruto-kun bukan orang seperti itu."

Naruto mendecih sebelum menyeringai licik.

"Terserah!" Jawabnya. "Tapi kau harus pegang janjiku. Akan kutunjukkan padamu seberapa brengseknya aku sehingga kau akan menyesal menyukai pria brengsek sepertiku." Tantang Naruto. "Akan kubuat kau menangis dan menderita, lalu menyerah tentang diriku, membenciku dan melepaskanku." Naruto melangkah melewati Hinata, menuju pintu yang menghubungkan atap sekolah dengan tangga dan lorong kelas.

"Tidak!" Untuk pertama kalinya, Naruto mendengar Hinata membentaknya. Gadis itu mengusap air matanya dan memandang punggung Naruto dengan tegas. "Akan kubuktikan kalau Naruto-kun bukan laki-laki brengsek. Naruto-kun tak akan pernah membuatku menangis." Pernyataan Hinata membuat Naruto menghentikan langkahnya. "Akan kubuat Naruto-kun menyesal pernah membentakku, Akan kubuat Naruto-kun… berbalik mencintaiku."

Naruto sedikit memutar kepalanya dan menatap Hinata dengan pandangan mengejek.

"Kita lihat siapa yang akan menang."

~'~"~'~

.

.

.

~'~"~'~

Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Title :

~Keep My Promise! I Wanna Make You Cry!~

Author : Rurippe no Kimi

Type : AU (Alternative Universe), OOC Tingkat tinggi(Maybe?), Gaje, Typo(S). Lebay DLL,

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Friendship.

Main Character : Hinata and maybe Naruto

Warning :

.

If you Don't like , Don't read, Don't FLAME

If you Don't like , Don't read, Don't FLAME

If you Don't like , Don't read, Don't FLAME

If you don't like, don't read, don't FLAME

(Sudah Diingatkan 4 kali ya…!)

Enjoy please!^_^

.

.

~'~"~'~

.

.

Chapitre 1

.

.

.

Hinata melakukan rutinitas paginya yaitu berdiri di samping halte bus, menunggu seseorang sebelum ia naik bus. Seperti biasa juga, ia mengaduk-aduk salju yang berada di sekitar kakinya. Akhirnya ia berlutut, mengambil ranting kecil di sekitar situ dan menulis sebuah nama.

Naruto.

Ia menggambar hati di sekitar nama tersebut.

Kemudian pandangannya beralih pada sebuah gantungan kunci berbentuk ramen yang tergantung di ujung tasnya. Hinata menggenggam gantungan tersebut dengan erat dan sedikit berharap pertengkarannya dengan Naruto kemarin hanya mimpi. Mimpi buruk belaka.

Tepat saat itu, sebuah bus berhenti di depannya. Ia melirik bus tersebut. seseorang bermantel oranye dengan hiasan bulu di sekitar tutup tudungnya terlihat menaiki bus tersebut dengan tergesa-gesa. Kedua tangan lelaki itu tampak ia sematkan di antara kedua kantung mantelnya. Lelaki itu memakai tas ransel berwarna hitam dengan ornament jingga. Kulit lelaki itu berwarna tan. Wajah lelaki itu tak tampak jelas karena Hinata melihat sosok tersebut memunggunginya. Namun rambut lelaki itu yang menarik perhatiannya. Blonde. Persis dengan warna rambut seseorang yang ditunggunya.

Tunggu, Blonde?

Hinata memicingkan matanya. Berusaha menajamkan kemampuan berakomodasi kedua iris ungu-keabuannya untuk meyakinkankan dirinya sendiri.

'Itu… Naruto-kun?' Batin gadis itu saat menyadari sosok lelaki yang kini telah duduk di salah satu bangku bus itu.

Tanpa pikir panjang, Hinata segera berdiri dan mengambil langkah setengah berlari untuk menghampiri bus itu. Pintu bus yang hampir tertutup, kini terbuka kembali. Spontan Hinata segera lompat menaiki bus tersebut dan meletakkan sejumlah uang pada kotak pembayaran yang telah tersedia.

Gadis bersurai panjang itu segera mencari tempat duduk. Dan ketika itu, matanya bersibobrok dengan mata seorang lelaki berambut Blonde yang sedang duduk di bangku penumpang paling belakang.

Amethyst bertemu Sapphire.

Tampak tergambar dengan jelas di irisnya akan ketidak sukaan lelaki tersebut atas kehadiran Hinata. Namun gadis itu tak menggubris tatapan dingin tersebut. Ia tersenyum seraya mendekati Naruto, lelaki itu.

"O-Ohayo, Na-"

Naruto beranjak dari kursi penumpang tempat ia duduk sebelumnya. Tanpa berkata apapun, tanpa mau mendengar sapaan Hinata dan tanpa menatap Hinata, Naruto mendekati pintu keluar yang berada tak jauh darinya dan membukanya secara paksa. Ia melompat turun dari bus yang sedang melaju kencang. Sang pengemudi bus yang melihat kejadian tak waras itu segera menginjak rem bus tersebut.

"WOOI…!" Umpat sang pengemudi bus sebelum akhirnya menjalankan busnya kembali.

Hinata menatap keluar melalui jendela bus. Ia menetap nanar punggung Naruto dari kejauhan yang kini berjalan kembali menuju halte bus. Gadis itu menghela nafas berat. Ia merasa perih di dadanya karena lelaki itu tak mau menatapnya. Lelaki itu tak menyapanya saat di halte bus. Lelaki itu tak mau berada dalam satu bus yang sama dengan dirinya. Singkatnya, Lelaki itu menghindarinya.

'Inikah maksudmu, Naruto-kun?' Hati gadis manis itu membatin sendu. Ia mencengkeram erat bagian tengah dadanya yang terasa sakit dan sesak.

~'~"~'~

Hinata menatap papan tulis di depan kelas dengan setengah hati. Ia memperhatikan papan tulis tetapi pikirannya mengawang. Tak sedikitpun pelajaran yang diajarkan Anko-sensei dapat ia terima.

Hinata menolehkan kepalanya ke belakang. Menghadapkan kepalanya pada sebuah bangku kosong yang terpaut dua kursi di belakangnya. Ia mendesah. Naruto masih belum datang. Ia melirik jam tangan Violet yang melilit pergelangan tangannya. Jarum pendek jam tersebut menunjuk pada angka delapan sedangkan jarumnya yang lain menunjuk angka dua. 8.10 tepat.

Hinata membalikkan badannya kembali dan mendesah semakin berat. Secara tidak langsung, ia merasa keterlambatan lelaki ramen itu hari ini adalah kesalahannya. Tiba-tiba dari belakang ia merasa sebuah tangan menepuknya pelan. Hinata menengok untuk melihat siapa yang menepuknya.

"Psst Hinata, Kau kenapa?" Seorang gadis bersurai merah muda ternyata. "Sepertinya kau gelisah. Dari tadi kau melihat ke belakang. Apa ini tentang si Baka-maksudku Naruto?" tebak gadis itu setengah berbisik agar sang sensei tak mendengarnya.

Wajah Hinata merona saat tertangkap basah oleh gadis yang duduk tepat di belakangnya itu. "Emm…" Hinata mengangguk pelan. "Aa… Gomen kalau aku mengganggumu, Sakura-san."

"Tidak, Tidak kok! Kau nggak menggangguku…"

Tiba-tiba, pintu kelas terbuka dan menampakkan seorang lelaki berambut Blonde agak berantakan. "Ohayo, Minna!" Sapanya dengan suaranya yang keras nan melengking itu. Lelaki itu memasuki kelas dengan senyumnya yang biasa. Tanpa merasa bersalah perihal keterlambatannya.

Ia segera melangkah menuju bangkunya, melewati Anko-sensei yang tengah berdiri di depan kelas sambil memandangnya dengan tajam. Namun karena Naruto-lelaki itu- tak menyadari bahwa dirinya sedang di pelototi, guru muda itu terpaksa menarik tudung mantel Naruto.

"Auw! Itte!" Jerit Naruto saat Langkahnya tertahan.

"Na-mi-ka-ze-san." Panggil Anko-sensei masih memegang tudung Naruto. "Tolong katakan padaku jam berapa sekarang." Nada bicara guru tersebut terdengar mengerikan. Seisi kelas membisu, tak berani mengeluarkan suara sedikitpun.

Naruto memutar badannya hingga berhadapan dengan senseinya yang berukuran lebih pendek darinya itu. kemudian melihat jam digital berwarna hitam di pergelangan tangannya. "Sekarang jam delapan tiga belas, sensei." Jawabnya santai.

"Lalu?" Tanya guru itu lagi dengan nada sarkastik.

"Lalu apa?" Ujarnya bodoh. Entah berpura-pura atau tidak.

Mendengar jawaban Naruto yang terdengar mengejek di telinganya, Anko-sensei naik pitam. "Namikaze-san, Kamu ini niat sekolah nggak, sih?" Anko-Sensei membentak Naruto. "Kau terlambat lebih dari satu jam!" Yang dibentak tentu saja memasang wajah takut.

"Eee…EEH?" Naruto terkejut. Untuk kesekian kalinya, ia melihat jam digitalnya. "Wah, Sensei benar. Aku nggak sadar. Hehehe…" Bukannya merasa bersalah, lelaki itu justru menyengir sambil menggaruk kepala kuningnya yang tidak gatal. "Tadi saya salah naik bis, Sensei. Terpaksa saya turun lagi dan menunggu bis yang lain datang selama satu j-"

"KELUAR!" Bentak guru itu lagi. "Saya nggak butuh alasan. Berdiri di depan kelas sampai jam pelajaran saya habis."

Naruto melangkah gontai sambil mengerucutkan bibirnya. Ia keluar kelas dan menutup pintunya.

Hinata yang melihat kejadian itu semakin merasa bersalah. Karena diakah Naruto jadi terlambat? Tentu saja. Hinata tahu itu.

Tok, tok.

Pintu kelas di ketuk bersamaan dengan itu, pintu tersebut terbuka. Kepala Naruto menyembul dan menatap Anko-sensei yang baru saja akan memulai kembali pelajarannya.

"Sensei…" Panggil Naruto dengan nada memelas. Yang dipanggil mendelik tajam.

"Apa!"

"Waktu sensei sudah habis. Saya boleh masuk,'kan?" Naruto melangkah santai. Melewati Hinata tanpa menatapnya, kemudian duduk di bangkunya yang terletak paling pojok belakang.

Anko melihat jam dinding di atas papan tulis. 8.15. Suka tak suka, mau tak mau, ia harus membenarkan kalimat Naruto. Namun karena ia belum puas memberi hukuman pada makhluk oranye satu itu, ia segera memberi perintah, "Namikaze-san, ikut ke ruangan saya. Yang lain, tunggu sampai sensei yang mengajar pelajaran selanjutnya datang. Jangan keluyuran." Setelah itu, wanita itu pergi begitu saja.

Sakura tertawa saat Senseinya sudah menghilang dari kelas. Naruto terpaksa berdiri lagi dan berjalan keluar diiringi dumelannya yang panjang. Ia menatap kesal Sakura yang tertawa menghinanya, setelah itu berlalu begitu saja.

Saat Naruto sudah di luar kelas, Hinata bangkit, menggeser kursinya sembarangan dan berlari mengejar Naruto. Tak seorangpun melihatnya keluar karena para penghuni kelas sudah sibuk menciptakan keributan.

Koridor di depan kelas tampak sepi. Tak seorangpun ada di sana selain Hinata dan Naruto. Anko sudah berjalan lebih dahulu dan sepertinya wanita itu kini telah berada di kantornya.

Hinata berlari melewati Naruto, hingga ia melangkah ke hadapan lelaki itu. Ia berhenti dan segera membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangannya menyangga lututnya.

"G-gomenasai, Naruto-kun…" Ucap Hinata sesegera setelah ia membungkukkan badannya. Ia dapat melihat kaki Naruto berhenti melangkah. "Gara-gara aku, Naruto-kun jadi-"

Saat itu, Hinata dapat melihat kaki Naruto mengambil langkah ke samping kirinya. Sepertinya tak berminat mendengar perkataan Hinata. Hinata yang menyadari itu segera bangkit dan memindahkan posisi tubuhnya ke kiri. Berusaha menghadang jalan Naruto. Hingga tubuhnya menabrak Naruto yang melangkah ke depan. Ia dapat merasakan dada bidang Naruto menyentuh tubuhnya sekilas.

Tanpa babibu, Naruto memegang pundak mungil bagian kanan gadis itu, dan mendorongnya ke samping sekuat yang ia bisa. Tubuh mungil Hinata terhempas ke kiri sampai tubuhnya menabrak pilar koridor dengan kerasnya.

BRAAK!

"I-It-ittai…" Hinata memegangi bahu kanannya yang terasa sakit tak tertahankan. Posisinya masih menempel pada pilar koridor tersebut. Sebelumnya ia berdiri, kini tubuhnya merosot hingga ia akhirnya terduduk. Masih menahan sakit yang semakin lama terasa merambat ke bagian tubuh yang lain. "Ittai, ittai, ittai-h…" lirihnya menahan air mata.

Sementara Naruto, tanpa memandang gadis mungil itu ia kembali berjalan.

~'~"~'~

Hinata membuka sebagian seragamnya dan memperhatikan sesuatu berwarna biru yang berada di sekitar bahu kanan bagian atas hingga ke punggungnya. Sebuah memar yang cukup besar. Bagaikan sebuah tato yang terukir rapi dan sangat sukar dihapus.

Hinata menghela nafas dengan keras. Ia berusaha menahan rasa sakit di tubuhnya itu dan memasang kembali bajunya yang sempat ia buka sebagian.

Hinata menggelengkan kepalanya dengan cepat, kemudian menepuk-nepuk pelan pipi merahnya. 'Jangan turuti kemauan Naruto-kun. Jangan menangis, Hinata…' batinnya memerintah pada diri sendiri. "Ganbatte yo, Hinata!" ucapnya menghibur diri sendiri, diiringi kepalan kedua tangannya yang ia angkat setinggi pundaknya. Kini ia membuka pintu toilet perlahan dan segera melangkah keluar, untuk kembali ke kelas.

~'~"~'~

Bel istirahat sudah berdentang sejak beberapa menit yang lalu. Beberapa murid sudah mulai kembali ke kelasnya setelah mereka memuaskan perutnya di kantin sekolah. Sementara Hinata, ia hanya terdiam di bangkunya sembari memegang sekotak bento yang masih utuh. Lengkap dengan sebuah sapu tangan yang membungkusnya.

Paras cantik gadis itu terlihat gelisah dan tidak tenang. Berkali-kali ia menatap pintu kelas setiap ada seseorang yang masuk ke dalam kelasnya maupun yang melewati kelasnya.

Sampai akhirnya sosok yang dinantinya muncul jua. Naruto masuk ke kelas dengan tampang kusut. Ia menggaruk-garukkan bagian belakang kepalanya sehingga rambutnya yang sudah berantakan semakin berantakan saja.

"Hah! Dasar nenek sihir. Ceramahnya nggak habis-habis…" gerutunya. Entah pada siapa.

Ia melewati Hinata yang tersenyum menyambut kedatangannya. Bukannya tidak melihat, ia tahu Hinata tersenyum ramah saat ia datang. Namun ia putuskan untuk bertingkah seolah tak melihat senyuman -yang baginya- menjijikkan itu.

Ia menghampiri Sasuke yang sedang menopang dagunya dengan kedua tangan yang ia satukan di atas meja. Tidak jelas apa yang dilihat atau dipikirkannya.

"Teme, Temani aku ke kantin. Ayolah…" Naruto berdiri di samping meja Sasuke. Sasuke tak memberi tanggapan apapun.

"Temee…" Rengek Naruto semakin menjadi-jadi. Kali ini ia menarik tangan Sasuke. Sasuke akhirnya menatapnya. Walau dengan tatapan dingin dan tak suka dengan tingkah Naruto tersebut.

"Hn. Pergi sendiri." Jawab Sasuke tanpa intonasi bicara.

"Mau ke mana, Baka?" Sakura yang baru saja masuk kelas, kini menghampiri kedua teman masa kecilnya itu. "Jangan memaksa Sasuke-kun seperti itu. Hush, hush…" Sakura mengibas-ngibaskan tangannya sebelum mendorong Naruto menjauh dari Sasuke.

Naruto menolehkan kepalanya pada Sakura yang mendorong punggungnya. "Aku mau ke kantin. Gimana kalau kau saja yang temani aku, Sakura-chan? Sekalian kita ken-"

"Boleh." Potong Sakura. "Kau yang bayar semuanya." Lanjut Sakura santai. Sementara Naruto membatu, meratapi nasib isi dompetnya. "Ah, Aku lupa!" Sakura tiba-tiba saja menepuk jidatnya. "Di kantin sudah tak ada apa-apa lagi. Tadi Chouji dari kelas sebelah borong seisi kantin. Sepertinya kau harus bersabar untuk tidak makan hari ini, Naruto." Sakura kembali ke tempat duduknya dan duduk menghadap Sasuke setelah menyelesaikan kalimatnya.

"Eeh? Benarkah itu, Sakura-chan?" Naruto hendak mendatangi Sakura. Namun, lagi-lagi langkahnya tertahan oleh seseorang yang muncul begitu saja di hadapannya. Gadis yang paling tak ingin ia lihat.

"A-ano… Naruto-kun…" Kata gadis itu menyerahkan sekotak bento pada Naruto. "Kau makan ini saja."

Naruto mendecih lagi. Pelan. Tak dapat didengar siapapun kecuali Hinata yang berada tepat di hadapannya. Namun Naruto memutuskan untuk tersenyum –memaksa- dan menerima bento itu dari tangan Hinata.

"Wah, kau tak perlu repot-repot, Hinata. Sankyuu!"

Hinata tersenyum senang saat akhirnya Naruto mau menatapnya, tersenyum padanya, bahkan mau menerima sesuatu pemberiannya. Tapi apa yang harus ia lihat selanjutnya menghapus senyumannya. Ia melihat Naruto mengangkat tinggi bento tersebut sebelum akhirnya melepaskan pegangannya begitu saja. membuat bento yang sebelumnya berada di genggamannya, kini jatuh ke lantai dengan suara keras yang memekakkan telinga. Tentu saja apa yang ada di dalam bento tersebut kini telah berhamburan keluar.

Dan betapa bodohnya Naruto. Pemandangan itu di saksikan oleh sebagian penghuni kelas.

"Eh, Gomen, gomen, Hinata. Tanganku agak licin, tadi." Naruto bermain drama. Sebenarnya, Hinata merasa sakit dan panas di dadanya. Ia tahu bahwa apa yang lelaki itu lakukan barusan bukan karena tangannya yang licin. Lelaki itu sengaja melakukannya.

"Hm… Daijoubu… Aku yakin, Naruto-kun nggak sengaja." Hinata tersenyum sebisanya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia tak mudah di jatuhkan. Terutama oleh seseorang yang telah menantangnya.

Hinata berjongkok membereskan kekacauan yang dibuat Naruto. Naruto melihat itu ikut menurunkan tubuhnya dan kini posisi mereka sejajar. "Ah, biar kubantu." Ujar Naruto. Tentu saja tidak serius.

Tak satupun dapat melihat apa yang kedua orang itu lakukan karena posisi tubuh mereka lebih rendah dari meja dan kursi di ruangan itu.

Naruto menatap Hinata tajam. Hinata yang sadar bahwa Naruto tengah menatapnya dengan tatapan menusuk, tak mengangkat kepalanya dan menyibukkan diri memungut ceceran nasi dan beberapa isi bentonya. Ia berpura-pura tak menyadari bahwa Naruto sedang menatapnya.

Naruto kesal karena Hinata mengabaikannya. Lelaki berkulit tan itu menyentuh dagu Hinata dan mengangkat wajah Hinata dengan kasar agar sejajar dengan wajahnya. Mau tak mau, Hinata harus menatap iris langit di hadapannya itu. Mata mereka beradu pandang.

Sapphire bertemu Amethyst.

Hinata dapat merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia tak tahu arti degupan tersebut.

Apakah karena wajah Naruto yang begitu dekat dengannya?

Atau karena wajah tampan itu menatapnya penuh amarah dan kebencian?

Karena kedekatannya-kah? Atau karena dirinya terlalu takut?

Entahlah. Jawabannya terlalu sukar dicari.

Yang ia tahu, saat ini ia harus memasang wajah se-biasa mungkin untuk menutupi ketakutannya. Ia memasang topeng 'datar' untuk menyembunyikan ketakutan di wajah porselennya.

"Hyuuga-san, Kau terlalu mengganggu." Naruto memulai percakapan serius di antara mereka. Tentu saja dengan suara pelan, sepelan yang ia bisa. "Kau terus-terusan berkeliaran di depan mataku. Mataku sakit dibuatnya."

Hinata menahan nafasnya. Ia sendiri tak mengerti mengapa ia menahan nafas.

Hinata meneguk salivanya pelan. Berusaha menelan kegugupannya bersama dengan salivanya.

"Kau bilang padaku kalau kau bisa membuatku berbalik menyukaimu. Seperti inikah caramu membuatku menyukaimu?" Naruto berbicara dengan nada mengejeknya yang semakin menjadi-jadi. Kali ini, ia mengambil beberapa anak rambut Hinata yang tergerai di depan wajah gadis itu. Anak rambut tersebut ia sematkan di sisi telinga Hinata. Naruto mendengus. "Menggelikan. Tak memberi pengaruh apapun padaku. Yang kau lakukan hanya membuatku semakin…"

Naruto mendekatkan bibirnya pada telinga Hinata seraya berbisik.

"…Membencimu."

Setelah itu Naruto menatap Hinata sekilas, memamerkan seringaian jahatnya yang tak pernah ia tunjukkan pada siapapun. Naruto berdiri setelah menghempaskan gadis itu begitu saja.

Hinata berusaha tidak menghiraukan apapun yang baru saja di katakan Naruto. Lelaki itu masih berdiri di hadapannya. Entah apa yang dilakukannya.

Hinata kembali memungut isi bento yang berhamburan. Saat ia akan mengambil tutup bento yang berada di dekat kaki Naruto, kaki itu tiba-tiba saja terangkat dan mendarat tepat di atas salah satu tangannya. Menimbulkan bunyi 'duk' keras saat menghantam punggung tangan kirinya.

"AH..!" Jerit gadis itu kesakitan dan terkejut dengan perilaku Naruto. Tangannya masih berada di bawah kaki Naruto. Terjepit di antara lantai dan kaki bersepatu besar itu. Hinata berusaha menarik tangannya. Tetapi lelaki itu tak mau mengangkat kakinya.

"Mi-minggir, Naruto-kun." Hinata menggunakan tangannya yang lain untuk menarik ujung celana seragam Naruto. "S-sakit…" Hinata kembali mengaduh.

Naruto membungkukkan tubuhnya dan berbisik, "Camkan baik-baik, Hyuuga Hinata."

Hinata mengangkat wajahnya, menunggu kelanjutan kalimat Naruto.

"Kau salah memilih lawan."

Naruto mengangkat kakinya, sedikit menendang tangan Hinata dan pergi. Ia berjalan keluar kelas tanpa tujuan yang pasti.

Hinata mendapatkan tangan halusnya penuh pasir dan ada beberapa bagian yang lecet. Tak ayal beberapa sudut tangannya mengeluarkan sedikit cairan merah bernama darah. Hinata mengelus tangannya, membersihkan kotoran yang terdapat di sana.

Kata-kata Naruto terus berdengung di benaknya.

"Kau bilang padaku kalau kau bisa membuatku berbalik menyukaimu."

"Seperti inikah caramu membuatku menyukaimu?"

"Menggelikan. Tak memberi pengaruh apapun padaku."

"Yang kau lakukan hanya membuatku semakin…"

Oh, TIdak. Ia tak mau mengingat kelanjutan kalimat yang satu ini.

"…Membencimu."

Cukup sudah. Ia tak tahan dipermainkan terus seperti ini.

Hinata meletakkan bentonya begitu saja di atas meja dan berlari menyusul Naruto. Ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari sosok lelaki yang telah membuat luka perih padanya. Luka di fisik dan batinnya.

"Naruto-kun. Berhenti!" Panggil Hinata setelah menemukan sosok yang dicarinya. Namun Naruto tetap jalan, tanpa mempedulikan panggilan Hinata.

Hinata berlari mengejar Naruto. Naruto yang menyadari bahwa gadis itu mengejarnya, tetap tak peduli dan tetap berjalan memunggungi gadis tersebut.

"Berhenti!"

"Hah, hah, Berhenti-h, Naruto-kun…" Hinata mulai lelah berlari. Suaranya-pun terdengar terengah-engah.

Naruto masih tak menanggapinya. ia berjalan santai dengan posisi kedua tangannya ditekuk di belakang kepalanya.

Kesabaran Hinata mulai terkikis. Ia menarik nafas dalam-dalam.

"NARUTO-KUN! BERHENTI KATAKU!" Gadis itu berteriak dan membentak Naruto. Kalau boleh jujur, lelaki itu cukup terkejut saat menemukan kenyataan bahwa Hyuuga Hinata, gadis yang ia kenal lembut dan tak pernah berbicara keras pada siapapun atau membentak siapapun itu, baru saja membentaknya.

Naruto menghentikan langkahnya, tapi tak membalikkan tubuhnya. Ia dapat mendengar derap langkah kaki Hinata yang berlari mendekatinya. Dan ketika Hinata sudah dekat dengannya, Naruto dapat merasakan sebuah tenaga yang memaksa tubuhnya berbalik menghadap Hinata.

Ternyata Hinata menarik tubuh Naruto hingga tubuh lelaki itu terputar. Naruto meringis kecil karena tenaga Hinata ternyata cukup kuat juga untuk ukuran perempuan.

"Apa!" Bentak Naruto.

"A-apa seperti itu caramu membuatku membencimu?" tanpa basa-basi, Hinata memutar balikkan pertanyaan Naruto yang sempat dilontarkan laki-laki itu padanya beberapa menit yang lalu. "Mengabaikanku, membentakku, menghinaku, mengejekku, mendorongku sampai menginjak tanganku. Apa seperti itu? Kalau… kalau memang seperti itu, kau salah besar berfikir bisa membuatku membencimu." Hinata mengambil jeda sesaat. Matanya tak melepaskan sosok lelaki di depannya itu. Sedangkan Naruto tetap menantikan kalimat Hinata yang selanjutnya. "Aku bukan orang yang mudah membenci orang lain tanpa alasan yang kuat. Berikan aku setidaknya satu saja alasan yang bagus untukku membencimu, Naruto-kun."

"Aku brengsek." Jawab Naruto. "Itu saja sudah cukup."

"Tidak untukku. Karena… karena aku tak pernah menganggapmu seperti itu."

Naruto kembali menyeringai sebelum ia memutuskan untuk pergi. "Tidak masalah. Cepat atau lambat, kau akan menyadari seberapa brengseknya aku."

~'~"~'~

Sudah lebih dari satu jam Naruto berbaring di atas ranjang di ruang kesehatan. Ia tak dapat memejamkan matanya barang sejenak. Fikirannya terpenuhi oleh sosok gadis yang sejak kemarin terus-terusan membuatnya dongkol.

Tadi, setelah ia meninggalkan Hinata di koridor akhirnya makhluk jingga itu memutuskan untuk pergi ke ruang kesehatan. Ia berfikir untuk menggunakan salah satu dari dua tempat tidur yang ada di ruang kesehatan untuk membolos. Pertengkarannya dengan Hinata semakin menjadi. Ditambah lagi, perutnya yang terus-menerus berbunyi akibat kelaparan, membuatnya tak punya semangat belajar. Ia berniat tidur dan mengistirahatkan kepalanya. Namun nyatanya, tak sekalipun iris birunya dapat tertutup.

Naruto mengangkat tangan kirinya yang dilingkari oleh jam tangan, sejajar dengan matanya. Ia melihat bahwa jam sudah menunjukkan waktu pulang. Tetapi, ia belum ingin pulang saat ini.

"Kuso!" Umpat lelaki itu dengan suara pelan. Ia menutup tirai yang ada di sekitar ranjang tempat ia berbaring dan kembali mencoba untuk tidur. Ia meletakkan salah satu lengannya di atas kepala.

Cklek.

Suara ganggang pintu yang dibuka. Naruto tak tahu siapa yang datang dikarenakan tirai yang menghalangi pandangannya. Ia hanya melihat siluet tiga orang gadis masuk ke ruang kesehatan dengan membawa sesuatu. Sepertinya dua diantara ketiga orang itu membawa beberapa kotak kardus.

Mereka meletakkan kardus tersebut di ujung ruang kesehatan.

"Terima kasih bantuannya, Hyuuga-san, Haruno-san." Ucap sosok yang paling tinggi.

Salah seorang mengangguk sedangkan seorang yang lainnya menjawab, "Ha'I, Tsunade-sensei! Doiteshimashita…." Sebelum sang kepala sekolah meninggalkan mereka di ruang kesehatan. Dari suaranya yang ceria itu, Naruto tahu bahwa itu adalah suara seorang yang sangat dikenalnya. Itu suara teman kecilnya, Haruno Sakura. Seseorang yang ia sukai.

"Ne, Hinata, ayo kita ambil tas, terus pulang!" Ajak Sakura pada seorang gadis di sebelahnya yang ternyata adalah Hinata.

Rupanya selain Sakura, Hinata juga ada di sana. Naruto kembali kesal. Mengapa gadis yang satu itu selalu berkeliaran di sekitarnya?

Sakura menarik tangan gadis yang dipanggilnya Hinata itu.

"Ah!" gadis itu tiba-tiba mengaduh. Hinata menarik tangannya yang sebelumnya di genggam Sakura dan membawanya dalam pelukannya.

"Kenapa, Hinata?" Sakura melihat ke tangan Hinata yang kini sudah dipeluk oleh pemilik tangan. Hinata menjawab dengan gelengan kepalanya.

"Aku tak ap-" Belum sempat Hinata menyelesaikan kalimatnya, Sakura sudah menarik paksa tangan kiri Hinata dan memperhatikan tangan tersebut.

Sakura dapat melihat punggung tangan gadis itu penuh dengan lecet. Beberapa bagian juga terdapat luka dengan darah yang sudah mengering di sudut lukanya. Tepat di bagian tengah tangannya, terdapat sebuah memar kebiruan. Sakura cukup terkejut dibuatnya.

"Kau kenapa, Hinata? luka apa, ini? Darahnya sampai mengering begini… apa kau jatuh? Apa ada yang sengaja melakukannya?" Sakura melemparkan pertanyaan beruntun. Ia memandang dengan mata emerald-nya yang berbinar penuh kekhawatiran.

Hinata mengibaskan tangannya yang tak terluka. "Ti-tidak, Sakura-san. Nggak ada yang melukaiku. Aku hanya… hanya terjatuh." Ucapnya berbohong. Kini ia menatap punggung tangannya yang penuh luka itu. hasil buah karya Naruto yang menginjaknya tanpa belah kasih.

"Ne, Apa rasanya sakit?" Sakura kembali bertanya tanpa melepaskan pandangannya dari tangan Hinata. Sungguh pertanyaan konyol. Tanpa perlu dijawabpun pasti tahu, yang namanya luka pasti sakit, bukan?

Hinata menggeleng untuk yang kedua kalinya. Ia tak ingin Sakura semakin mengkhawatirkannya. "Tadi memang sempat sakit. Tapi sudah nggak lagi, kok…"

"Kalau begitu, kita bersihkan dulu lukanya sebelum infeksi. Setelah itu sekalian kita obati, Hinata." Sakura menyentuh bahu mungil Hinata dan menekannya, memberi tanda pada Hinata untuk segera duduk di kursi yang ada di ruang kesehatan itu. Namun lagi-lagi, gadis itu mengaduh menahan sakit.

"Ah! Ittai!" Hinata menepis tangan Sakura yang menggenggam pundak bagian kanannya dengan cepat dan kasar. Sakura kembali menatap Hinata, kali ini dengan tatapan tak mengerti.

"Ah, Sakura. Gomen-nasai…" Hinata segera meminta maaf saat menyadari betapa kasarnya ia menepis tangan Sakura. "Aku nggak bermaksud-"

"Apa bahumu sakit juga, Hinata?" Sakura menangkap gelagat aneh Hinata yang mengelus-elus pundaknya. Wajah Sakura kembali penuh dengan kekhawatiran. Hinata semakin merasa bersalah.

"Ng… Nggak, kok… Aku…"

"Ne, Hinata, gomen…" Ucap Sakura sebelum membuka dua kancing seragam Hinata yang teratas. Kemudian Sakura menarik seragam Hinata sedikit ke kanan bawah sehingga menampakkan bahu Hinata yang putih sempurna. Sempurna jika tak ada lebam keunguan besar di sana.

"Hinata… ini memar?" Sakura tetap memandang mamar yang menjalar dari bahunya hingga ke punggung gadis di hadapannya. Hinata hanya menunduk dalam diam. "Kenapa bisa sebesar ini?"

"Ah, Nggak… aku jatuh." Hinata menarik kembali seragamnya. Ia tak suka membuat orang lain mengkhawatirkan dirinya. "Aa-Aku… Aku tersandung lalu jatuh. Punggungku menabrak dinding koridor. Nggak ada yang melakukannya kok. Semua…salahku sendiri yang kurang hati-hati…" untuk yang kesekian kalinya, ia berdusta.

"…" Sakura tak memberi tanggapan apapun. Ia tahu dari gelagatnya bahwa apa yang dikatakan gadis manis di depannya ini tidak benar. Sejujurnya ia ingin mendengar cerita sebenarnya dibalik luka-luka Hinata itu. Tapi, ia sadar sepertinya gadis itu tak ingin membicarakannya. Mungkin saja gadis bermarga Hyuuga di depannya ini belum terlalu percaya pada Sakura. Selain itu, hubungan mereka tidak terlalu dekat. Dan sepertinya, seseorang yang pendiam layaknya Hinata, sangat suka menjaga privasinya dari orang lain. Karena itu Sakura putuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut seputar luka tersebut.

Sakura mendekati sebuah lemari besar penuh dengan obat-obatan dan mengambil kapas, sebuah obat antiseptik serta sebotol minyak. Ia menyerahkan sebotol minyak tersebut pada Hinata. "Oleskan minyak ini pada memar di bahumu, Hinata. aku harap lebamnya cepat hilang."

Sakura menggeser kursi dan duduk tepat di depan Hinata. Ia membasahi luka di punggung tangan Hinata setelah Hinata mengoleskan minyak di bahunya. Setelah luka itu bersih dari darah-darah yang mengering, Sakura membalurkan antiseptik di atas bekas luka itu.

"Arigatou, Sakura-san…"

"Jangan memanggilku seperti itu…" Sakura mengambil jeda untuk membuang kapas yang ia pakai untuk mengusapkan antiseptik pada Hinata. "Panggil saja 'Sakura' atau 'Sakura-chan'. Dan nanti, aku juga akan memanggilmu 'Hinata-chan'…"

Hinata tersenyum kecil kemudian mengangguk.

Hening tercipta di antara mereka. Sakura masih sibuk berkutat pada tangan Hinata, sedangkan Hinata sendiri asyik memperhatikan Sakura yang mengobatinya.

"Hinata-chan…" Suara Sakura memecah keheningan. "Kau mau janji padaku?" Tanya Sakura tanpa mengalihkan perhatiannya dari tangan Hinata.

"Eng?" Hinata balik bertanya.

"Kalau ada sesuatu atau seseorang yang menyakitimu, katakan saja padaku." Sakura mengambil nafas. "Atau jika ada masalah yang mengganggumu, ceritakan saja padaku. Aku akan membantumu. Atau kalau aku nggak bisa membantumu, paling nggak aku akan mendengarkan ceritamu. Terkadang dengan menceritakan masalah pada orang lain, hati akan terasa lebih tenang…"

Hinata terkesiap mendengar perkataan Sakura. Ia tak menyangka gadis di hadapannya ini begitu baik. "Sakura…" Hinata ragu untuk memanggil Sakura. "…chan…?"

Sakura menolehkan kepalanya menatap Hinata. "Ya?"

"Doumo Arigatou…." Ucapnya gadis Indigo itu dengan tempo bicara yang pelan. "Kenapa…kau baik sekali, Sakura-chan?"

Sontak Sakura tertawa mendengar pertanyaan Hinata yang menurutnya lucu itu. "Pertanyaanmu aneh, Hinata…-Chan…" Ujarnya di akhir tawanya. Hal itu membuat Hinata menjadi salah tingkah.

"Aku hanya ingin berteman dekat denganmu, Hinata. boleh, 'kan?" Lanjut Sakura setelah selesai dengan tawanya.

Hinata mengangguk setelah berfikir sejenak. "Eum! Aku juga ingin berteman dekat dengan S-Sakura-chan…" Hinata masih belum terbiasa memanggil Sakura seakrab itu.

"Aku ini nggak punya teman sesama perempuan." Sakura memulai percakapan. "Ah, Tidak! Aku punya satu. Ia teman dekatku saat aku masih kecil dulu. Kami sangat akrab. Untuk pertama kalinya, aku senang memiliki teman perempuan." Sakura mengambil nafas sebentar. "Kau tahu? Menurutku, perempuan itu cerewet, mudah tersinggung, menyebalkan dan cengeng. Aku susah bergaul dengan mereka."

Hinata terkekeh kecil. "Sakura-chan. Kau bicara seolah kau bukan perempuan…"

Sakura ikut tertawa mendengar pendapat Hinata.

"Temanku itu namanya Ino-chan." Sakura kembali melanjutkan ceritanya yang sempat terputus. "Karena ia pindah sekolah ke luar kota, kami jadi jarang bertemu lagi. Paling hanya melalui email..." Wajah Sakura tampak sendu. "Setelah itu, aku tak punya teman perempuan lagi…"

"Yosh! Sudah selesai, Hinata-chan." Sakura mengakhiri ceritanya setelah merekatkan plester pada tangan Hinata dan menutup botol antiseptik sebelum berdiri dan meletakkannya kembali ke dalam lemari obat. "Ayo kita pulang!" Ajaknya pada Hinata. Yang diajak membalas dengan anggukan dan senyuman antusias.

Hinata berdiri mengikuti Sakura. Mereka sedikit merapikan beberapa barang yang ada di sekitar ruang itu sebelum keluar dan menutup kembali pintu ruang kesehatan tersebut.

Ruang kesehatan kembali sunyi.

Sreg.

Tirai yang sebelumnya menutupi salah satu ranjang di ruangan itu terbuka. Tampak seorang lelaki masih berbaring di atas ranjang. Ia meletakkan lengan kanannya di atas kedua kelopak matanya. Matanya tertutup, tapi ia tak tidur.

Terlihat salju putih menggumpal di halaman belakang sekolah. Pemandangan serba putih yang di bingkai oleh jendela ruang kesehatan itu. Jendela tersebut masih terbuka dengan lebarnya sehingga angin musim dingin dapat berhembus ke ruangan itu. menggerak-gerakkan anak rambut berwarna kuning milik lelaki itu. Dinginnya suhu kala itu seharusnya mengganggunya.

Seharusnya. Seharusnya, apabila ia tak tenggelam dalam pikirannya sendiri.

~'~"~'~

"Ne, Hinata-chan. Sebentar lagi Valentine. Apa kau akan membuatkan coklat untuk seseorang?" entah untuk yang keberapa kalinya, Sakura memulai pembicaraan di antara mereka.

Sekolah sudah kosong sejak beberapa menit yang lalu. Mereka yang sebelumnya keluar dari ruang kesehatan, sekarang sedang menuju kelas untuk membenahi barang-barang mereka dan pulang ke rumah.

Hinata berpikir sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk. "Eum…B-Begitulah."

Sakura menolehkan kepalanya menghadap Hinata yang berjalan di kanannya. "Waa… Siapa orang yang beruntung itu?"

Pipi Hinata merona mendengar pertanyaan Sakura. Gadis berambut Indigo itu diam tak menjawab Sakura.

"Hmm…" Sakura memasang pose berpikir keras. "Naruto!" Terka Sakura. Sontak saja Hinata segera menatap gadis pinkish tersebut.

"B-Bu-bbukan… Aku nggak-bukan… A…Eng…" Wajah Hinata terlihat begitu panic. Sakura tertawa dibuatnya.

"Hinata-chan, Kau mudah sekali dibaca." Sakura tersenyum dan kembali menatap lurus ke depan. Hinata memberanikan menatap gadis bersurai pendek sebawah bahu itu.

"Apa… Apa Sakura-chan juga menyukai Naruto-kun?" Hinata setengah menunduk.

"Siapa? Si Baka itu?" Sakura cepat-cepat memotong. "Nggak-nggak-nggak! Tentu saja nggak mungkin." Sakura mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya. "Kau jangan khawatir. Aku nggak akan merebutnya darimu." Sakura menggoda Hinata. yang digoda hanya dapat memerahkan pipinya.

"Lalu? Apa Sakura-chan nggak mau membuatkan coklat untuk seseorang?" Kini Hinata bertanya setelah menetralkan kembali warna pipinya. "Seseorang yang Sakura-chan sukai, mungkin?"

Sakura tersenyum sambil menatap lurus ke depan, pada lorong koridor tempat mereka berada sekarang. Ia dapat melihat pintu kelasnya dari kejauhan. "Aku akan membuat satu."

"Benarkah? Untuk?" Hinata menatap Emerald di sampingnya itu.

Sakura tampak berpikir dan tersenyum. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Hinata. "Coba tebak!"

Hinata memandang langit-langit koridor seraya berfikir. Ia mencoba menerka siapa gerangan orang yang akan diberi coklat oleh Sakura sekaligus orang yang disukai Sakura itu. "Emm… Gaara-san dari kelas sebelah?" Hinata mulai menyebut sebuah nama.

Sakura meletakkan kedua tangannya menyilang di depan wajahnya dan berkata dengan setengah berteriak. "Teet! Kau salah!" Setelah itu Sakura tersenyum.

Hinatapun ikut tersenyum dan kembali mengobrak-abrik isi benaknya, mencari nama seseorang yang kira-kira disukai Sakura. "Em… Apa aku mengenalnya?"

Sakura mengangguk. "Ya, Kau mengenalnya, tapi kalian tidak dekat."

"Semua laki-laki tak ada yang dekat denganku, Sakura-chan." Hinata semakin lebar tersenyum, Sakura tertawa. "Apa sekelas dengan kita?" lanjutnya bertanya.

"Ah, Ketahuan, deh." Sakura memasang mimic wajah seolah terkejut. Lalu ia tertawa lagi. "Sudah bisa menebaknya?"

"T-tunggu, Sekali lagi." Hinata mencoba berpikir lagi. "Inisialnya?"

"Sama seperti inisial namaku."

"Em… Baiklah. Aku akan coba menebaknya." Hinata mengambil jeda atas kalimatnya. "S… apa mungkin… Shikamaru-san? Nara Shikamaru?"

"Teet!" Sakura kembali menyilangkan tangannya. "Si pemalas itu? kau nggak sedang bercanda, 'kan, Hinata-chan?" ucapnya sarkastik sebelum tertawa.

"Em… S… Sai-san?" Hinata kembali menyebut nama salah seorang teman sekelasnya dan ditanggapi Sakura dengan kata-kata 'Teet!'-nya.

"Shino-san? Aburame Shino?"

"Teet!" Sakura kembali menyilangkan tangannya. "Ayolah, Hinata-chan. Dia seseorang yang duduk sederetan dengan kita. Duduknya tepat di belakangku. Dan tepat di depan Naruto."

Hinata kembali berpikir. Tunggu, Duduk di belakang Sakura tapi di depan Naruto? Inisial S? tunggu… sepertinya Hinata mulai menangkap jawabannya.

"Em… Apa… Sasuke-san? Uchiha Sasuke?"

Sakura tersenyum sumringah. "Yeey! Kau benar, Hinata-chan!" Sakura membuka pintu kelas mereka yang sudah berada di hadapan mata. Tergambar kebahagian di wajah cantik Hinata. ia senang karena tebakkannya benar.

"Aku akan memberikan coklat padanya. Aku sudah sejak kecil menyukainya. Tapi, aku nggak tahu apa ia menyukaiku atau nggak…" Sakura malangkah masuk diikuti Hinata yang berjalan mengikutinya di belakang.

Mereka berjalan menuju bangku mereka masing-masing yang letaknya hanya depan-belakang. Bangku Hinata terletak tepat di depan bangku Sakura.

"Aha!" Sakura menjentikkan jemarinya sesudah mengancing zipper tasnya." Aku ada ide, Hinata-chan."

Hinata menatap Sakura, menantikan sambungan kalimat gadis itu. iapun sudah mengancing tasnya dan tengah memakai mantel, sarung tangan serta topi hangatnya.

"Ayo besok kita buat coklat bersama di rumahku. Aku membuat untuk Sasuke-kun, kau membuat untuk Naruto. Valentine-nya lusa, kan?" Sakura terlihat sangat antusias dengan pendapatnya sendiri. "Aku akan memberi tahukanmu coklat seperti apa yang si Baka itu sukai." Sakura menatap Hinata dengan tatapan menggoda. Hinata kembali merona, tapi ia tersenyum dan mengangguk.

"Eum, Baiklah." Hinata memberi jawaban. Sakura tampak senang dan ia menggandeng tangan Hinata-yang tak dibaluti plester.

Namun senyum Hinata menghilang saat dia melihat sebuah tas tergantung di pinggir meja. Sebuah tas hitam dengan ornament orange di sekitarnya. Tas tersebut milik Naruto. Ia tahu itu.

'Tas Naruto? Dia belum… pulang?' batinnya bertanya.

"Ayo, Hinata." Sakura segera menarik tangan Hinata pelan. membuat Hinata tak sempat berpikir lebih jauh tentang sang pemilik tas itu.

~'~"~'~

"Kya~! Dinginnya~" Sakura memekik dengan suara yang ia buat manis, saat ia malangkahkan kakinya menembus tumpukan salju meninggalkan Konoha High School-sekolah mereka. Sementara Hinata hanya merapatkan mantelnya.

"Anginnya kencang sekali ya, Hinata-chan?" Sakura menggandeng lengan Hinata. Hinata balas mengangguk sambil menoleh ke belakang, ke arah sekolah mereka.

"Apa ini, Hinata?" Sakura menyentuh sebuah gantungan kunci berbentuk cup mie ramen yang tergantung di ujung tas Hinata. "Mirip sekali dengan punya si Baka Naruto." Hinata mengalihkan pandangannya pada benda yang dimaksud Sakura. Ia tersenyum manis.

"Ia meminjamkannya padaku saat aku menangis karena gantungan kunci milikku hilang." Ucapnya seiring senyumannya yang semakin merekah mengingat kejadian manis itu.

"Dia? Siapa? Naruto?" Tanya Sakura lagi seraya memindahkan perhatiannya menuju Hinata.

"Ya, Naruto…-kun…" Jawaban Hinata selanjutnya terdengar seperti gumaman pada dirinya sendiri. Ia kehilangan senyumnya saat mengucapkan nama itu. Ia kembali menolehkan wajahnya menatap sekolah mereka yang berada di belakang.

"Aaa, Kudengar rumahmu sejalur dengan rumah Naruto, ya?" Sakura bertanya pada Hinata yang sibuk menatap sekolah mereka yang sudah jauh tertinggal di belakang. Hinata tak menjawab pertanyaan Sakura.

"Hinata-chan?" Panggilnya. Masih tak dapat tanggapan.

"Hinata? Hinata-chan?" Sakura kini menepuk punggung Hinata pelan. Hinata terkesiap.

"Eh? A-Apa, Sakura-chan?" Hinata terbata. Sakura menghela nafas.

"Apa ada sesuatu yang tertinggal, Hinata-chan?" Sakura bertanya namun Hinata menjawab dengan gelengan lemah.

Mereka akhirnya berjalan menuju halte bus terdekat sambil sedikit membangun percakapan. Walaupun tak sesekali Sakura menangkap basah gadis bersurai panjang di sampingnya itu tak focus dalam percakapan. Seperti sedang gelisah dan memikirkan sesuatu.

Sebuah bus melaju dan berhenti tepat saat mereka sampai di halte bus. "Hinata-chan, sepertinya bis-ku sudah datang. Aku duluan, ya. Jaa ne…" Sakura melambaikan tangannya pada Hinata. Hinata balas melambaikan tangannya.

Sebelum bus yang dinaiki Sakura jalan, dan sebelum Sakura melangkah masuk lebih dalam ke dalam bus, Hinata memanggilnya. "Sakura-chan!"

Sakura menghadapkan wajahnya ke asal suara. Ia menemukan Hinata sedang berdiri menghadapnya. "Arigatou karena sudah mengiburku, Sakura-chan. Pikiranku sudah tak sesedih tadi pagi. Karena Sakura-chan, aku sempat melupakan semua masalahku dengan-nya. Atas semuanya, Arigatou, Sakura-chan." Hinata membungkukkan tubuhnya empat puluh lima derajat. Sakura sedikit terperangah melihat Hinata yang pendiam dapat berbicara sepanjang itu. Ia merasa tak menyangka bahwa apa yang dilakukannya ternyata menghibur gadis itu tanpa ia sadari. Tanpa sempat membalas perkataan Hinata, Bus yang ia naiki sudah melaju meninggalkan halte bus tempat di mana Sakura berdiri saat ini. Sakura hanya dapat menatap Hinata melalui jendela.

Sakura membatin. 'Hinata punya masalah dengan… seseorang?'

~'~"~'~

Hinata bangkit dari posisi tubuhnya yang membungkuk. Ia segera melangkah untuk duduk di bangku halte bus.

Kini saat ia sendiri, ia kembali memikirkan tas Naruto yang ia lihat sebelum meninggalkan kelas. Ia termenung.

'Apa Naruto-kun belum pulang?'

'Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya?'

Dan pertanyaan 'Apa' lainnya yang menari di benak gadis itu. Ia menendang-nendang salju yang tertumpuk di sekitar kakinya. Masih tak dapat menemukan jawaban pertanyaannya sendiri.

Saat itu angin bertiup menyebabkan ujung rok seragamnya berkibar. Menyebabkan tubuhnya sedikit menggigil apabila ia tak mengeratkan mantelnya. sebutir salju jatuh menyentuh ujung sepatunya. Disusul oleh ribuan salju lainnya yang jatuh ke bumi. Tak berapa lama, salju itu semakin banyak jatuh menghalangi pandangan mata untuk melihat.

Hinata tiba-tiba saja semakin khawatir. Ia tidak khawatir pada dirinya sendiri. Ia khawatir pada seseorang yang saat ini masih ada di sekolah.

Naruto.

Ia khawatir pada pemuda itu.

Bagaimana jika Naruto tak bisa melewati hujan salju yang entah mengapa semakin lama semakin lebat ini?

Tanpa pikir panjang, Hinata melompat dari tempat duduknya dan berlari. Sambil berlari, ia mengaduk-aduk isi tasnya, mencari sebuah benda yang dapat melindunginya dari hantaman salju-salju putih itu. ia menemukan sebuah payung lipat berwarna ungu yang memang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga.

Ia sudah menemuka payung tersebut namun tak membukanya. Ia terus berlari walau terkadang terjatuh Karena kakinya terperosok masuk ke dalam tumpukan salju yang begitu tebal.

Ketika ia sampai di depan pintu gerbang Konoha High School, ia melihat seseorang tengah berjalan keluar gedung sekolah. Samar ia melihatnya karena pandangannya terhalang oleh ribuan salju yang turun tanpa ambun. Namun ia yakin bahwa seseorang tersebut adalah Naruto.

"N-Naruto-kun!" Panggilnya setengah berteriak. Ia menghampiri sosok itu dan segera membuka payungnya. Gadis itu sedikit berjingkat agar payungnya dapat melindungi kepala kuning Naruto yang lebih tinggi darinya itu.

"K-kau dari mana saja, N-Naruto-kun? Ap-Apa ada sesuatu yang terjadi denganmu?" Hinata memberanikan diri menatap Sapphire di hadapannya. Tetapi Naruto tak balas menatapnya. Ia berhenti sejenak.

Hinata menepuk-nepuk kedua pundak Naruto untuk menghilangkan salju yang menumpuk di sana. Tak lupa ia juga mnghilangkan salju yang ada di kepala Naruto. Setelah itu, ia kembali memayungi Naruto.

Lelaki itu kembali berjalan. Hinata menjadi kewalahan sendiri karena harus mengejar Naruto sembari memayungi sosoknya yang lebih tinggi darinya itu.

"Na-Naruto-kun, Ku-kumohon tunggu aku. Kau bisa masuk angin jika tak memakai payung." Hinata masih sibuk mengejar Naruto yang berjalan dengan langkah besar.

"Na-Naruto-kun…" Hinata kembali menyebut nama pemuda di depannya. Naruto akhirnya berhenti, seolah menuruti keinginan Hinata. Senyum terkembang di kedua sudut bibir Hinata.

"Apa maumu?" Naruto angkat bicara. Hinata menyejajarkan posisi mereka agar lebih mudah mendengarkan kalimat Naruto. "Kau mau memanfaatkan Sakura-chan, hah?" Naruto masih tak menatap Hinata.

Hinata terkejut. Ia tak mengerti arti kata-kata Naruto.

"Ap-a maksudmu, Na-"

"Kau mau menceritakan penderitaanmu pada Sakura-chan agar Sakura-chan membenciku, 'kan?" Naruto mulai membentak Hinata.

"A-Aku nggak pernah sep-" Gadis itu dapat merasakan tubuhnya mulai menggigil. Entah karena ia kedinginan atau karena perasaan takut yang mulai menjalar di hatinya.

Naruto segera memotong. "Kau mau mengompori Sakura-chan agar dia semakin membenciku dan kau ingin menggunakan kesempatan itu untuk mendekatiku, 'kan?"

"N-Naruto-kun, aku nggak mengerti. Sakura-chan… Sakura-chan nggak ada hubungannya dengan kita…" Hinata tidak senang jika Sakura tertimpa masalah hanya karena Ia berteman dengan Hinata. "Hanya karena… Hanya karena Sakura sahabatku, jangan kau bawa dia ke dalam masalah kita!" Hinata berusaha mengeluarkan keberaniannya.

"Hh." Naruto mendengus. "Sahabat?" Ucap Naruto sarkastik. "Kau sudah berjanji padaku kau tidak akan mengganggu hubunganku dengan orang yang kusukai."

Hinata mengangguk. "Aku sudah berjanji. Aku nggak mengganggu hubunganmu dengan dia, 'kan?"

"Kau sudah mengganggunya." Akhirnya Naruto menatap Hinata dengan pandangan kesal bercampur marah. Nyali Hinata yang baru saja muncul kini menguap. "Kau mendekati orang yang kusukai, kemudian meng-klaim sebagai sahabatnya. Itu sangat mengganggu hubungan kami!"

Deg!

Hinata terkejut. Benar benar terkejut mendengar Naruto. Orang yang di sukai Naruto adalah… Sahabatnya?

Berarti…

"Kau baru sadar?" Naruto sudah tak menatap Hinata lagi.

"S-Ss-Sa-Sakura…chan…?" Pun Hinata tak menatap Naruto. Ia menatap salju putih di sekitar mereka yang semakin lama semakin menumpuk.

"Benar-benar baru sadar, rupanya." Naruto kembali melangkah meninggalkan Hinata yang masih terpaku. Ia tak peduli pada butiran salju yang manghadangnya. Ia terus berjalan meninggalkan Hinata.

Hinata yang akhirnya sadar dari lamunannya, menyusul Naruto dan kembali memayunginya. Ia juga membersihkan salju kembali tertimbun di sekitar tubuh lelaki jingga itu.

Naruto menolehkan kepalanya pada Hinata yang berjalan di belakangnya.

"Aku nggak butuh." Naruto meletakkan tangannya pada pundak Hinata dan mendorong tubuh mungil itu hingga terjerembab dan masuk ke dalam tumpukan salju yang dalam.

Bruk! Srak!

Hinata terduduk dengan sebagian tubuhnya tertimbun salju. Payung ungu kesayangannya yang sebelumnya ia genggam, terbang tertiup angin entah ke mana karena ia tak sengaja melepaskannya. Hinata mengaduh kesakitan di bagian belakang tubuhnya walaupun tak terlalu sakit karena salju telah berperan sebagai bantalan saat ia didorong jatuh tadi.

Naruto tak berkata apapun. Ia bahkan tak menoleh menghadap Hinata setelah ia menjatuhkannya. Ia terus berjalan hingga dirinya menghilang di ujung belokan gang.

Hinata merasa matanya memanas. Ia ingin menangis. Sungguh ingin menangis dan meluapkan semua isi hatinya. Tapi, ia tak bisa. Lebih tepatnya tidak boleh menangis atau ia akan kalah dari Naruto.

Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menggigit ujung bibir ranumnya, seolah dengan itu ia bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh.

"N-Naruto-kun… Dou-shi-te…" Hinata bergumam kecil. Ia masih dalam posisi duduk di tengah salju putih. Kepalanya ia tundukkan dalam-dalam. Tangannya mencengkeram salju yang berada di sekitarnya. "Doushite, Kenapa kau sebegitu bencinya padaku…" Hinata mulai berbisik.

"Doushite, Naruto-kun…"

"Doushite…"

.

.

.

.

.

.To be Continue.

.

.

.

.

.

Special thanks :

mysunshine hatake, Author Unyu, naruto lover, L, suka snsd, mongkichi, vida jerry jonas, sweet koneko, Nami Forsley, Jimi-li, NaruHinaLover, aigiaNH4, Ai' Ryuusuke Nara, Zoroutecchi, rrina, semuttt, Minami Eika, Yamanaka Emo, Megu-Megu-Chan, Hanamoto Aika, Mrs Cry cry, kiriko mahaera, Kazuki's girl.

Author's Note :

Rippe sene~ng banget. Tanpa Rippie sangka, fict ini dapat sambutan yang lumayan dari para readers. Arigatou, minna-chan…^^

Ohohohoo…. Padahal Abal banget! Ini Fict alurnya makin nggak jelas. Bikin bête + nggak menarik sama sekali. Rippie yang nulis aja malu sendiri kalau baca chapter satu ini… gomenasai, minna-san… semoga walau sejelek ini, fict ini nggak mengecewakan…

Kayaknya di sini Hinata-hime menderita banget. Naruto-kun juga jahat banget. OOC semua dah..! makanya di atas, Rippe tambahin adegan Sakura yang berteman sama Hinata. supaya Hinatanya nggak terlalu merana…

Haah… gomen, minna-san, Rippe telat update. Ehehee….

Oke, nggak banyak cuap-cuap, deh. Langsung balas review…^^

.mysunshine hatake : Wah, makasih pujiannya. Saia akan berusaha tetap menulis sekalipun di tengah himpitan kesibukan saia. Ini chapter selanjutnya dah update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.Author Unyu : Cinta segiempat? *Rippe ngelirik cerita di atas.* Hm… terlihat seperti itu, ya…Hm… sudah deh…thanks reviewnya, ya… eh? Suka karekter Narutonya? Jahat, ga tahu diri kayak gitu? *Rasengan!*…

Sama, Rippe juga suka dengan kegigihan Hinata. walau rasanya agak.. berlebihan? Tapi, yasudahlah… oh ya, Rippe gak pernah dengar komik itu tuh. Yang barusan kau sebut… Apa ceritanya semirip itu? tapi, fict ini murni buah pikir saya, lho…. Suwer… ok, Ini chapter selanjutnya dah update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.naruto lover : Arigatou reviewnya…^^. Seperti yang anda lihat. Seperti itulah cara mereka saling membuat mencintai dan membenci satu sama lain. Ehehee… benarkah fict ini membuatmu penasaran? Syukurlah… Rippe kira malah membosankan… oke, terima kasih mantra 'Ganbatte'-nya, ya… Rippe senang dapat review seperti itu. benar-benar memberi semangat pada rippe untuk melanjutkan fictnya… dan..Ini chapter selanjutnya dah update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.L : Ini chapter selanjutnya dah update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.suka snsd : Thanks Riviewnya…^^ Eh? Kurang panjang? Matii Saia… nulis segini aja otak udah kering keperes abis isi-isi otak saia. *Jangan di bayangin. Entar fict ini berubah jadi suspence* tapi, untuk kedepannya akan saya usahain lebih panjang lagi, deh… oke? Oh ya, Salam kenal juga… Ini chapter selanjutnya dah update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.mongkichi : Iya! Naruto tegaa! *Ikut teriak di samping Mongkichi-san*. Benarkah? Rippe juga mendukung Hinata. semoga cintanya terbalas. Semoga Authornya nggak mengganti pair-nya *Geplaked!* okey… Ini chapter selanjutnya dah update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.vida jerry jonas : *Ikutan lempar Naruto pake shuriken**Rasengan! By : Naruto* Ahaha… lupain kejadian tersebut di atas… ini dia usaha mereka berdua. Semoga nggak mengecewakanmu, ya…. terima kasih kata-kata 'ganbatte'-nya… memberi semangat! Oke… Ini chapter selanjutnya dah update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.Sweet koneko : Thanks reviewnya, ya… Rippie juga berharap fict ini bisa menemui titik endingnya. Uhuhuu… makasih dah mau nunggu dan makasih sudah menyemangati Rippe… Ganbarimasu! Ini chapter selanjutnya dah update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

Wah.. karena saya sudah lama nggak nongol di FFn, saya ga tahu kalau ada reviewer bertipe seperti itu… memalukan banget, ya? kurang kerjaan. Buat semua NHL-chan, Ganbatte yo! Sweet koneko-san, makasih infonya, ya^^

.Nami Forsley : Kyaa~ Nami-chan… Aku merindukanmu…! AITAKUTE! *Meluk Nami-chan**Plak-**Dilempar baskom sama Nami-chan.* Ehehee…

Makasih sudah mereview fict gaje ini. Hohoho… gimana kelanjutan fict ini, saia tidak tahu… *Geplaked again* benarkah certanya menarik? Hontou ni? Hontou desuka? Hontou ni hontou? Hontou? Kyaa~!

Apa katamu, Nami-chan? Fict the Princesses tales? Apaan tuh? Saia nggak tahu *Geplaked again and again* oke, oke, oke… akan Rippie usahain ngapdet kedua fict ini. Secepatnya!... jadi, jangan di tagih, ya? ntar kalau ada mood, saia pasti akan update sekilatnya. ^^*Senyum*

Ini chapter selanjutnya dah update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.Jimi-li : Thanks Riviewnya… WokeeeeeeeeeH… dah saya update. Kalau nggak keberatan, riviewnya, ya? ^^

.NaruHinaLover : Penasaran? Ohoho… menurutmu siapa yang nyerah? Naruto atau
Hinata? hanya Tuhan yang tahu…*Plak*

Thanks Riviewnya, ya… dan Ini chapter selanjutnya dah update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.aigiaNH4 : Ya tuh… Naruto nya jahat betul ya… huhuhuu…. Oh ya… salam kenal, Aigia-san (Rippie bingung mau manggil apa. Gini aja boleh?) Okeh! Ini chapter selanjutnya dah update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.Ai' Ryuusuke Nara : Benarkah ngena? Yokatta ne… Syukurlah kalau begitu… Padahal awalnya Rippe nggak yakin dengan ceritanya… Thanks Riviewnya, ya… em… Saya manggil nya apa, nih? Ai? Ryuusuke? Nara?

Di fave? KYa~ng! arigatou gozaimasu… ^^ Ini chapter selanjutnya dah update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.Zoroutecchi : Benarkah? Rippie juga cinta banget kalau Naruto jahat. Makanya di sini karakternya jadi begitu. Agak OOC sih…. Endingnya manis? Oke deh. Ntar Rippe kasih gula di sana sini pas bagian endingnya…*Gebuked karena lelucon garing*

Chapter telah Update! Chapter telah Update! Chapter telah Update!

Aaah… makasih dah review… and, Ini chapter selanjutnya dah update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.semuttt : Kyaa~ namamu manis sekali… nih sudah saya update, makasih atas rivewnya di prolog kemarin… Ini Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.rrina : Tring! Doamu terkabul. Fict ini sudah update…^^. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.Minami Eika : Keren? Benarkah? Gyaa~ makasih~ ^^… Seperti inilah cara Naruto membuat Hinata membencinya, pun sebaliknya. Apa terlalu berlebihan? Fufufu… di chapter selanjutnya akan saya usahakan sikap Naruto pada Hinata lebih parah… ufufu… *Tertawa nista* Ini chapter selanjutnya dah update. Makasih atas reviewmu sebelumnya… Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

Oh ya… salam kenal^^ …

.Yamanaka Emo : Ehehe, benarkah ceritanya keren? Nggak norak… Kya~ syukurlah…^^ makasih reviewnya, ya…^^ Yosh. Naruto vs Hinata. Siapakah yang akan menang? Ufufu… membayangkan endingnya saja saya pengen tertawa…*Gila mode :ON*

Hahahayyy..*Ngikutin ketawanya Yamanaka-san* trims atas review di chapter sebelumnya…Chapter sudah berlanjut and update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.Megu-Megu-Chan : Viola! Makasih pujiannya… Rippe kira Summarynya malah nggak nyambung sama isi fict nya… Rippe berusaha keras banting otak buat nyari summary yang cocok. Dan karena bingung, saya memakai seadanya saja… ironis. Tapi syuukurlah… ternyata nyambung, ya…

Ini chapter selanjutnya dah update. Makasih reviwnya… Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.Hanamoto Aika : Makasih Reviewnya… and makasih sudah nge-like fict gaje ini…^^ Ini chapter selanjutnya dah update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya… Hanamoto-chan^^

.Mrs cry cry : Gyaa! Aku membuat nangis readerku… gimana ini… maafkan daku… ehehe…

Karena kau benci 'slow' karena itu chapter selanjutnya dah saya update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^ Ne, cheonmaneyo…^^

.kiriko mahaera : Wokeh, Kiriko-san. Saya sudah berusaha sampai titik darah penghabisan untuk membuat fict yang menyedihkan. Semoga saja kali ini bisa menyentuh perasaanmu yang lembut itu… *Gombal mode: ON* Ahahaha…

Ini chapter selanjutnya dah update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

.kazuki's girl : Thanks Riviewnya… Begitu ya… karena belum prolog jadi belum terasa… oke, Ini chapter selanjutnya dah update. Kalau nggak keberatan, minta reviewnya lagi, ya…^^

Maaf kalau ada kesalahan penulisan nama…

~YAK! Berakhirlah sesi Review kali ini! *Ngelap keringet yang udah berceceran di mana-mana.*

Nah, bagi yang nggak keberatan, tolong tinggalkan Reviewnya, ya…^^

Dan makasih pada para silent reader yang telah menyempatkan waktunya untuk membaca fict ini. Semoga suatu hari hati kalian semua tergerak untuk memberikan review pada Saia…*Lebay mode : ON*

Yosh! Arigatou, minna-san…

.

.

.

Rurippe no Kimi

.

.

26 February 2012