Naruto meletakkan tangannya pada pundak Hinata dan mendorong tubuh mungil itu hingga terjerembab dan masuk ke dalam tumpukan salju yang dalam.
Bruk! Srak!
Hinata terduduk dengan sebagian tubuhnya tertimbun salju. Payung ungu kesayangannya yang sebelumnya ia genggam, terbang tertiup angin entah ke mana karena ia tak sengaja melepaskannya. Hinata mengaduh kesakitan di bagian belakang tubuhnya walaupun tak terlalu sakit karena salju telah berperan sebagai bantalan saat ia didorong jatuh tadi.
Naruto tak berkata apapun. Ia bahkan tak menoleh menghadap Hinata setelah ia menjatuhkannya. Ia terus berjalan hingga dirinya menghilang di ujung belokan gang.
Hinata merasa matanya memanas. Ia ingin menangis. Sungguh ingin menangis dan meluapkan semua isi hatinya. Tapi, ia tak bisa. Lebih tepatnya tidak boleh menangis atau ia akan kalah dari Naruto.
Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menggigit ujung bibir ranumnya, seolah dengan itu ia bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh.
"N-Naruto-kun… Dou-shi-te…" Hinata bergumam kecil. Ia masih dalam posisi duduk di tengah salju putih. Kepalanya ia tundukkan dalam-dalam. Tangannya mencengkeram salju yang berada di sekitarnya. "Doushite, Kenapa kau sebegitu bencinya padaku…" Hinata mulai berbisik.
"Doushite, Naruto-kun…"
"Doushite…"
~'~"~'~
.
.
.
~'~"~'~
Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Title :
~Keep My Promise! I Wanna Make You Cry!~
Author : Rurippe no Kimi
Type : AU (Alternative Universe), OOC Tingkat tinggi(Maybe?), Gaje, Typo(S). Lebay DLL,
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Friendship.
Main Character : Hinata and maybe Naruto
Other Character :「Sakura and Sasuke」
Warning :
.
If you Don't like , Don't read, Don't FLAME
If you Don't like , Don't read, Don't FLAME
If you Don't like , Don't read, Don't FLAME
If you don't like, don't read, don't FLAME
(Sudah Diingatkan 4 kali ya…!)
Enjoy please!^_^
.
.
~'~"~'~
.
.
Chapitre 2
.
.
.
"Hinata-Chan…!" Seseorang bersuara ceria menyebut nama Hinata. Segera saja Hinata mencari sang pemanggil. Ia menemukan seorang gadis bermata emerald berlari mendekatinya. Rambut gadis itu yang serupa dengan warna permen karet, berayun ke kanan-kiri seiring langkahnya.
"Sakura-" Tepat saat ia akan membalas seruan Sakura padanya, sesuatu terlintas di benaknya.
..
"Hanya karena Sakura sahabatku, jangan kau bawa dia ke dalam masalah kita!"
"Sahabat? Kau sudah berjanji padaku kau tidak akan mengganggu hubunganku dengan orang yang kusukai."
"Aku nggak mengganggu hubunganmu dengan 'dia', 'kan?"
"Kau mendekati orang yang kusukai, kemudian meng-klaim sebagai sahabatnya. Itu sangat mengganggu hubungan kami!"
Deg!
"Kau baru sadar?"
"S-Ss-Sa-Sakura…chan…?"
"Benar-benar baru sadar, rupanya."
..
"…-chan…" Hinata melanjutkan kalimatnya dengan bergumam. Pandangannya ia arahkan pada lantai di bawahnya dan ia menerawang lurus. Tiba-tiba saja ia teringat kejadian kemarin sore yang datang dalam bentuk flash.
"Hinata-chan." Akhirnya ia tersadar kembali saat Sakura telah berada di hadapannya. "Ayo kita makan bekal. Aku bawa bekal dari rumah dan aku membuatnya sendiri." Sakura memperlihatkan sebuah kotak makan berwarna merah marun sambil tersenyum. "Aku sering melihatmu makan bekal di kelas. Apa kau tidak bosan? Ayo ikut aku! Kamu harus ganti suasana." Sakura siap menarik tangan Hinata.
"A…Eh… Baiklah, kalau begitu, aku akan ambil bentoku dulu…" Hinata meninggalkan posisinya. Ia sebelumnya berdiri di luar kelasnya sambil membaca sebuah novel.
"Cepat, ya!" Sakura berkata setengah berteriak karena Hinata sudah menghilang ke dalam kelas.
~'~"~'~
Hinata menghampiri tempat duduknya dan membuka resleting tas sekolahnya. Ia mencari bentonya dan dengan cepat mengeluarkan benda itu dari tas sesegera setelah ia menemukannya. Setelah itu, ia kembali menutup tasnya.
Namun, kegiatannya terhenti saat ia melihat ke arah tempat duduk yang terpaut dua bangku di belakangnya. Bangku itu kosong. Naruto-sang pemilik bangku- sepertinya memilih beristirahat di luar ketimbang di dalam kelas.
Hinata yang berfikir bahwa ini adalah kesempatan emas, kembali membuka ranselnya dan mengambil lagi sebuah bento yang bentuk dan ukurannya tidak berbeda dengan yang sedang dibawanya. Setelah mengeluarkan sebuah kotak bekal lagi, ia menutup tasnya dan mengembalikan benda itu ke posisi semula.
Hinata mendekati tempat duduk Naruto dan menatapnya cukup lama. Keragu-raguan memeluknya dengan mesra. Ia takut kotak itu tak disentuh sama sekali oleh Naruto. Dan ia lebih takut lagi jika Naruto segera membuang kotak tersebut tanpa mempedulikan isinya sama sekali.
Gadis itu langsung menggelengkan kepala ungunya ke kanan dan ke kiri. Ia menghalau fikiran buruk yang ada. "Tidak, Naruto-kun bukan orang seperti itu…" Gumamnya pada diri sendiri.
Akhirnya tangannya bergerak juga untuk meletakkan bento itu di atas meja Naruto. Ia kembali memandang kotak bekal berbungkus sapu tangan Violet itu dengan seksama. Berharap benda tersebut akan sampai ke tangan orang yang di tuju.
"Hinata-chan?" Sebuah suara yang lumayan ia kenal kembali terdengar. Hinata sedikit memutar kepalanya untuk menatap orang yang memanggilnya. Ia melihat Sakura tengah berdiri di bibir pintu dan menatapnya.
"Kau lama sekali. Kau sudah ambil bentomu?" Tanya Sakura.
Hinata mengangguk dan buru-buru meminta maaf, "Gomenasai, Sakura-chan. Ayo…" Gadis itu tersenyum dan menghampiri Sakura. Sakura yang dihampiri oleh Hinata, belas tersenyum dan dengan gesit menarik tangan Hinata. Ia berlari dengan cepat. Membuat Hinata-yang tangannya digenggam Sakura- mau tak mau harus ikut berlar, menyeimbangkan langkah kakinya.
Sakura membawanya meninggalkan kelas dan menaiki tangga tertinggi hingga ke atap Konoha High School.
~'~"~'~
"Haah…" Sakura menghela nafas dengan keras setelah ia membuka pintu yang menghubungkan koridor sekolah dengan atap sekolah. Angin sejuk langsung saja menyapa kedua gadis cantik itu ketika berada di atap bangunan. Hinata saja sampai harus menahan hembusan angin yang berusaha menyingkap rok seragamnya yang setinggi lutut itu.
"Hinata-chan, Sini, sini…" Hinata dipanggil oleh Sakura yang ternyata sudah duduk di pojok atap dekat dengan pagar pembatas. Hinata mengangguk dan menghampirinya.
"Lihat bekalku. Lucu, 'kan?" Sakura menunjukkan isi bekalnya yang berupa nasi dan beberapa lauk yang terbuat dari makanan laut. Nasinya di hias dengan potongan rumput laut yang dibuat sedemikian rupa hingga berbentuk huruf kanji yang bertuliskan 'Sakura'.
"Kawaii, Sakura-chan." Hinata tersenyum dan mengangguk. Ia memang mengakui bahwa bekal itu terlihat lucu, Sederhana dan imut.
"Bekalmu? Bekalmu?" Sakura menggeser duduknya mendekati Hinata ketika gadis itu ikut membuka bekalnya. "Perlihatkan padaku bentuknya."
Hinata menyodorkan bentonya pada Sakura, agar Sakura dapat melihatnya. Beberapa potong onigiri berbentuk bintang yang terlatak di atas hamparan selada. Di setiap atas onigiri tersebut terdapat sebuah sosis yang dibentuk sedemikian rupa sehingga berbentuk kelinci. Sedangkan di salah satu sisi kotak makan itu, terdapat beberapa lauk tambahan seperti nugget dan kentang goreng. Di atas lauk tambahan tersebut dituangkan saus dan mayonnaise sebagai pelengkapnya.
Sakura terperangah melihat bento buatan Hinata. "Sugoi! Kawaii, Hinata-chan!" Sakura berseru penuh kagum. "Kau membuatnya sendiri, Hinata-chan? Ne, aku boleh mencicipinya, kan?" Sakura menatap Hinata penuh harap. Hinata mengangguk sebagai jawabannya. Sakura terlihat senang melihat anggukan itu.
"Apa aku juga boleh mencicipi bentomu, Sakura-chan?" Hinata membalikkan pertanyaan Sakura. Ia menatap lekat bento buatan Sakura. Sumpitnya mendekati bento Sakura setelah ia melihat Sakura mengangguk mengijinkannya.
"Em! Oishii..!" Seru Sakura hampir berteriak.
"Sakura-chan, Bento buatanmu juga enak!" Hinata ikut berseru-tidak berteriak- setelah menelan sepotong sosis berbentuk gurita dari bento Sakura. Akhirnya mereka berdua tertawa bersama.
"Ne, ne, Hinata-chan. Ayo kita tukeran email." Sakura menyikut lengan Hinata pelan. "Kemarin kita belum tukeran email, 'kan? Tadi malam aku mau mengirimimu pesan tapi aku tidak punya nomor ataupun alamat email-mu. Makanya, sekarang aku mau minta langsung darimu." Sakura membuka flap handphone merah mudanya.
Hinata ikut mengeluarkan handphone nilanya. Ia menyalakan infrarednya agar mereka bisa bertukar email.
"Yup!" ujar Sakura setengah berteriak setelah mereka bertukar email. Ia menutup flap Handphone-nya dan segera mengantonginya. Pun dengan Hinata yang ikut menutup flap handphone-nya dan menyimpannya sebelum ia kembali mengangkat sumpitnya dan melanjutkan acara makannya yang sempat terinterupsi.
"Ne, Hinata-chan…" Sakura-untuk kesekian kalinya- kembali memulai percakapan. Hinata memiringkan kepalanya menghadap Sakura. "Apa kau sedang ada masalah?"
Hinata tersentak mendengar ucapan Sakura. Setelah terdiam cukup lama, gadis itu membalas pertanyaan Sakura dengan gelengan kecil. "Tidak, kok."
"Bohong." Potong Sakura. "Kata-katamu kemarin meyakinkanku. Kemarin kau bilang kalau tanpa kusadari, aku sudah menghiburmu sehingga kau sedikit melupakan masalahmu dengan seseorang." Kalimat Sakura selanjutnya semakin mengejutkan Hinata. "Apa jangan-jangan ada hubungannya dengan badanmu yang penuh luka-luka itu?" Sakura menginterogasi Hinata. Hinata refleks menyembunyikan salah satu tangannya yang tertutup plaster anti luka.
Hinata diam tak menjawab. Ia sudah menganggap Sakura sebagai temannya. Bahkan sahabatnya. Memang terlalu cepat disebut sahabat mengingat umur persahabatan mereka baru dua hari. Tapi entah mengapa, ia merasa sangat nyaman dengan Sakura.
Karena itu, sebenarnya, Hinata ingin menceritakan segalanya pada Sakura. Segalanya. Mulai dari perasaannya pada Naruto. Dan perubahan sikap Naruto yang tiba-tiba saja dingin terhadapnya dan berkata bahwa lelaki itu akan membuatnya menangis dan membencinya, Naruto yang melarangnya mengganggu hubungan Naruto dengan orang yang ia sukai, Hingga sikapnya yang kasar padanya. Bahkan ia tak mengerti alasan dibalik sikap Naruto yang memperlakukannya seperti itu.
Tapi, ia tidak bisa menceritakannya pada Sakura, sahabatnya. Tidak bisa karena alasannya cukup jelas. Sakura adalah orang yang disukai Naruto. Jika ia menceritakan semuanya pada Sakura, artinya ia semakin menyulut api kemarahan di dalam diri Naruto.
Ia akan semakin di benci oleh orang yang ia cintai.
Ironis.
"Hinata-chan…" Suara itu menariknya dari lamunan. "Kumohon, ceritakan padaku. Aku... kita sudah bersahabat, 'kan? Apa artinya sahabat kalau nggak bisa saling cerita dan saling menolong?" Nada bicara gadis itu terdengar serius. Semakin membuat Hinata tertekan. Semakin membuat Hinata merasa bersalah karena tak bisa menceritakan masalahnya.
Hinata tetap tak menjawab. Ia semakin dalam menunduk. Tak mengerti apa yang harus dilakukannya.
"Hinata-chan…" Sakura kembali memanggil. Namun masih tak disahut oleh Hinata.
"Sakura-chan…" Akhirnya, "Aku nggak bisa… Gomen…" Jawab Hinata. Terdengar seperti lirihan di telinga Sakura.
"Onegai… ceritakan walaupun hanya satu patah kata. Dengan bercerita, aku yakin kau akan merasa sedikit lebih baik."
Hinata menghela nafas. Ia mengangkat kapalanya hingga ia berhadapan dengan langit. "K-kau… benar, Sakura-chan. Aku punya masalah." Akhirnya ia memutuskan untuk sedikit menceritakannya. "Aku sendiri nggak tahu awal mula masalah ini. Aku… nggak tahu. " Sakura menatap Hinata. ia masih tidak mengerti arah cerita Hinata.
Hinata menurunkan kembali kepalanya. Ia menutup bentonya karena nafsu makannya yang sudah menguap sejak beberapa menit yang lalu. "Tapi, aku nggak boleh menceritakan masalahku pada siapapun. Kalau aku boleh menceritakannya-pun… aku nggak tahu apa yang harus aku ceritakan."
"…" Sakura bingung. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan.
"Aku selalu merasa sakit di sini, Sakura-chan." Hinata menunjuk dadanya, tempat di mana jantungnya bernaung. " Aku…aku selalu ingin menangis…"
"Kalau begitu, menangislah, Hinata-chan. Menangis adalah kekuatan utama wanita. Dengan menangis, seorang wanita akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Menangis adalah sisi manis wanita. Menangis bukan berarti kita lemah. Menangis adalah bukti bahwa wanita itu kuat. Dengan menangis, wanita seperti kita akan kembali tersenyum. Tanpa menangis, wanita tidak akan mendapatkan kembali senyumnya." Sakura meletakkan bentonya di lantai dan mendekat pada Hinata. ia ingin menatap mata cantik gadis itu namun sedari tadi, Hinata tak sekalipun menghadapkan wajahnya.
"Kasusku berbeda, Sakura-chan." Hinata mengepalkan tangannya di atas pahanya. "Dengan menangis, aku semakin lemah. Dengan menangis, semua yang kuinginkan akan lenyap. Dengan menangis, aku… kalah." Hinata menghentikan kalimatnya sejenak. Sakura dapat melihat tubuh gadis itu bergetar. Ia dapat menangkap bahwa Hinata menahan tangisnya. "Karena itu…" lanjutnya.
"Aku nggak boleh menangis."
Hinata menghadapkan kepalanya pada Sakura. Ia berusaha memberi senyum terbaiknya pada Sakura. Ia berusaha menatap Sakura dengan pandangan bahagia. Ia berusaha terlihat baik-baik saja. ia berusaha terlihat normal. Meski apa yang dilakukannya semakin membuat Sakura yakin bahwa Hinata sedang tidak baik-baik saja.
Di Emerald Sakura, Hinata terlihat hancur.
Hinata menatapnya dengan senyuman pahit. Hinata memandangnya dengan tatapan penuh penderitaan. Di pandangannya, Amethyst Hinata terlihat basah. Terlihat berkaca-kaca. Seolah menahan tangis.
"Hinata-chan…" Sakura memeluk Hinata dengan erat. Hinata tak terkejut atau apapun. Ia hanya diam menerima pelukan sahabatnya itu. "Jangan sok kuat!" Bentak Sakura sambil tetap memeluk Hinata. menerima bentakan itu, Hinata sedikit terkejut. "Aku selalu melihatmu sendirian. Kita sudah bersama sejak kita SD. Walaupun dulu kita nggak pernah akrab, tapi aku mengenalmu. Kau selalu sendiri. Kau mandiri dan jarang meminta bantuan orang lain. Aku bahkan nggak pernah melihatmu menangis. Kau bertingkah seolah kau orang terhebat dan terkuat di dunia ini." Lanjut Sakura penuh emosi.
Hinata hanya diam mendengarkan. "Untuk kali ini saja, bersandarlah pada orang lain. Di dunia ini bukan cuma ada kamu aja. Ada aku juga, 'kan?" Sakura semakin mengeratkan pelukannya. "Menangislah di pundakku. Nggak akan ada yang melihat." Perintah Sakura. Tapi dirasanya Hinata menggelengkan kepalanya di leher Sakura.
"G-gomen… aku nggak boleh…" Gumam Hinata pelan.
Suasana menjadi hening. Tak ada yang berbicara di antara kedua gadis itu. keduanya masih dalam keadaan yang sama.
Tiba-tiba Hinata merasa bahunya basah. Ia merasa punggung Sakura sedikit bergetar. Ia merasa pelukan Sakura semakin dan semakin mengerat saja. Ia mendengar isakan keluar dari bibir Sakura.
"S-Sakura…-chan?" Hinata menyentuh punggung Sakura dengan lembut. Tapi yang dilakukannya justru membuat isak Sakura mengencang. "Sakura-chan, Ka-kau kenapa?" Hinata gugup.
"Biarkan aku! Aku menangis menggantikanmu, tahu!" Kata Sakura sedikit berteriak tepat di telinga Hinata. "Aku memang nggak begitu mengerti masalahmu karena kamu nggak menceritakannya secara spesifik. Tapi aku dapat merasakannya… sakitnya hatimu saat ini…" Sakura berkata panjang lebar di tengah tangisnya. "Makanya, setelah semua ini berakhir, kau harus merasa lega, kau harus tersenyum."
Hinata –lagi-lagi- dikejutkan oleh Sakura. Akhirnya gadis Indigo itu tersenyum.
"Arigatou, Sakura-chan." Hinata membalas pelukan Sakura. "Arigatou…"
~'~"~'~
"Kenyangnya~" Naruto masuk ke dalam kelas sambil menepuk-nepukkan perutnya. di belakangnya, Sasuke berjalan santai dengan wajah datarnya.
Naruto berhenti saat ia tepat di depan pintu. Ia melihat bangku Sakura dan ia dapati bangku itu kosong. Sakura sedang tak ada di kelas.
"Dobe. Kau menghalangi jalanku." Sasuke yang berada di belakangnya berkata dengan nada bicara datar. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia kesal dengan sahabatnya yang menyumbat pintu masuk sehingga ia harus berdiri di depan pintu kelas lebih lama.
"Temee…" Naruto memanggil Sasuke dengan nada –yang menurut Sasuke- aneh. "Sakura-chan nggak ada di kelas."
Sasuke menggeser tubuh Naruto agar ia bisa masuk ke dalam kelas. Ia hanya membalas kalimat Naruto dengan kalimat andalannya, "Hn." Membuat Naruto kesal dengan jawaban singkat itu.
Sasuke segera duduk meninggalkan Naruto yang masih berdiri di depan pintu masuk sebelum lelaki oranye itu berkicau lebih lama lagi. Ia sedang tidak ingin mendengar celotehan tak jelas yang selalu muncul dari bibir pecinta ramen itu.
Pandangan Sasuke sempat teralihkan saat ia sudah duduk dan menatap sebuah bangku yang terpaut satu bangku di depan bangkunya. Tampat seorang gadis bermarga Hyuuga biasa duduk menerima pelajaran.
'Hn. Hinata tak ada.' Batin lelaki itu sesudah meletakkan tangannya di depan wajahnya.
Saat Naruto akhirnya bergerak meninggalkan pintu masuk kelas-tentu saja karena ia sudah membuat antrian panjang murid-murid kelasnya yang berdiri di belakangnya karena ia terlalu lama berdiri di sana- menuju tempat duduknya yang berada di belakang bangku Sasuke, ia melihat sesuatu tergantung di pinggir tas Hinata. Sesuatu berbentuk cup kecil bertuliskan 'ramen' dengan sumpit kecil di atasnya. Entah mengapa, ia tak suka melihat benda itu bergantung di sana. Walaupun benda itu dulunya merupakan salah satu dari sekian banyak deretan benda faforitnya.
Naruto mendekati meja Hinata dan dengan kasar menarik benda itu hingga terlepas dari tas tersebut. Beberapa rantai gantungan itu terjatuh ke lantai hingga menimbulkan bunyi berdenting yang khas. Naruto menghampiri tampat sampah dan membuang benda itu begitu saja. Kemudian ia kembali ke bangkunya dengan wajah yang berbeda. Seolah kejadian itu tak pernah terjadi. Seolah tak ada seorangpun yang melihat 'kejahatan'nya.
Tidak seorangpun selain anak bungsu keluarga Uchiha.
Sekembalinya ia ke tempat duduknya, ia menemukan sekotak bento terletak begitu saja di atas mejanya. Wajah Naruto kembali mengecut. Tak perlu bertanya pada siapapun, ia tahu dari mana asalnya benda tersebut.
Naruto kembali berdiri dan berjalan keluar kelas. ia berniat membuang benda itu ke tempat sampah sebelum seseorang memanggilnya.
"Yo, yo, yo, Naruto!" Seorang pemuda berbadan agak-sangat- gempal menghampirinya dengan terburu-buru. Lelaki itu melihat bento yang dibawa Naruto dengan mata berbinar. "Bekal di tanganmu itu masih ada isinya, ya? Kalau nggak mau, buatku aja!" ujar lelaki itu lagi.
Naruto menyodorkan kotak bekal itu pada lelaki gempal tersebut. "Ya sudah. Buatmu aja, Chouji." Lanjut Naruto dengan senyum lima jarinya. Naruto kembali berjalan. Tapi kini ia menuju kelas yang terletak di sebelah kelasnya. Ia berencana menemui Kiba. Salah satu dari sekian banyak teman yang ia miliki.
~'~"~'~
Teet.
Teriakan bell pertanda jam sekolah telah habis. Suasana kelas menjadi ricuh. Mereka semangat mengakhiri pelajaran. Tak jarang terdengar ujaran-ujaran mereka seperti, "Senseeeei, waktunya habis!" atau, "Senseeei, pulang! Pulang! Pulaang!" dan saudara-saudaranya yang lain.
Sang Sensei tak punya pilihan lain selain membubarkan kelas. Tentu saja setelah memberi PR kepada para muridnya yang sangat ia cintai.
"Hinata-chan…" Sakura memanggilnya Hinata tepat setelah ia berdiri di samping Hinata yang masih sibuk membenahi buku-bukunya. "Kita belanja dulu, ya...!" Lanjut Sakura seraya memain-mainkan tas selempangnya. "Beli peralatan buat Valentine…" kalimat Sakura selanjutnya adalah bisikan.
"Em!" Hinata mengangguk dan menggerakkan tangannya untuk menutup zipper tasnya. Namun, ia terkejut saat benda yang biasa tergantung di zipper itu sudah tidak ada. Hinata sangat kalap dan segera jongkok untuk mencari benda itu di sekitar tempat duduknya.
"Hinata-chan? Ada apa? Kehilangan sesuatu?" Sakura melemparkan pertanyaan beruntun pada gadis Lavender itu. Hinata mengangguk sebagai jawaban. "Akan kubantu mencarinya." Sakura turut jongkok dan menari-narikan matanya di sekitar situ.
"Memangnya, apa yang hilang?" Sakura kembali bertanya setelah ia sadar jika ia tak tahu apa yang sedang dicarinya.
"Gantungan kunci milik Naruto-kun. Sakura-chan masih ingat bentuknya, 'kan?" Hinata menjelaskan sesingkat mungkin. Sakura mengangguk dan tanpa pikir panjang segera mencarinya.
"Memangnya kapan terakhir kali kau melihatnya, Hinata-chan? Apa jatuh pas kau ambil bento?" Sakura kembali bersuara. Masih tetap mencari.
"Sepertinya… Sepertinya masih ada."
"Saat kembali dari atap?" tanyanya lagi.
Hinata terdiam. Ia tak ingat apakah sekembalinya ia dari atap benda itu masih ada di tasnya atau tidak. Akhirnya Hinata menggeleng. "Aku nggak ingat. Saat itu Sensei sudah ada di kelas, jadi aku langsung ngeluarkan buku tanpa memperhatikan tasku."
Sunyi kembali. Mereka masih sibuk menjelajahi kelas untuk mencari benda itu. teman-teman mereka satu-persatu mulai menghilang, pulang ke rumah mereka masing-masing. Sepertinya hanya mereka yang tersisa di ruangan itu.
Pintu kelas yang semula tertutup, terbuka. Seorang lelaki masuk ke dalam kelas dengan perlahan. mendekati sosok gadis berambut panjang yang sedang merangkak di sekitar mejanya. Lelaki itu berdiri tepat di depan Hinata dan membungkuk. Ia meletakkan sebuah gantungan kunci yang terlihat basah oleh air, tepat di atas lantai di hadapan Hinata. Hinata terkejut saat melihat benda berbentuk cup, bertuliskan kanji itu berada di depannya. Benda yang sedari tadi dicarinya.
Ia mendongakkan kepalanya untuk mencari tahu siapa gerangan yang telah mengembalikan gantungan itu padanya. Dan yang ia temukan adalah sesosok punggung yang telah jalan membelakanginya.
'Sasuke-san?'
"Sasuke-kun…!" Sakura yang melihat itu segera memanggil lelaki tersebut. "Kau yang menemukan gantungan kunci itu?" Sakura -dengan setengah berlari menghampiri Sasuke yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Hn." Jawab lelaki itu datar.
"A-Ano!" Hinata ikut memanggil Sasuke. "Kenapa… kenapa benda ini basah?"
"Aku mencucinya." Jawab Sasuke ala kadarnya.
"Mencucinya? Kenapa?" Kali ini Sakura yang bertanya mewakili Hinata. "Sasuke-kun, Kenapa kalau bicara, kau irit sekali, sih?"
"Tadi ada di tempat sampah." Sasuke menjawab sekenanya. Tepat saat ia akan kembali melangkahkan kakinya, Sakura kembali memotong.
"Sasuke-kun, Kenapa kau berikan gantungan itu pada Hinata-chan?" Pertanyaan Sakura cukup menghenyakkan Hinata. "Maksudku, kenapa kau tahu kalau benda itu yang dicari Hinata-chan?" Walaupun Sasuke tidak menunjukkan keterkejutannya, sebenarnya ia sangat terkejut dengan pertanyaan Sakura itu. Sudah diduganya. Ia tidak bisa melakukan sesuatu secara sembrono di hadapan gadis yang satu itu. gadis Bubble gum itu terlalu sensitive untuk tidak menangkap hal ganjil sekecil apapun.
Sasuke masih terdiam. Ia tak menjawab apapun. Tingkah Sasuke yang seperti itu membuat Sakura sedikit takut. Ia membuat kesimpulan bahwa…
"Sasuke-kun, tentang Hinata-chan… Jangan-jangan kau-"
Belum sempat Sakura menyampaikan pendapatnya, Sang Raven segera menghilang dari ruangan itu. Tanpa berbicara sepatah katapun.
"Sakura-chan?" Hinata tak mengerti arti percakapan Sakura dan Sasuke barusan. Ia benar-benar tak menangkap setitikpun maksud percakapan kedua makhluk itu.
~'~"~'~
Naruto sudah sedari tadi keluar kelas tapi ia belum juga kembali ke rumah. Entah apa yang dilakukannya.
Saat ia berjalan keluar gedung dengan papan nama bertuliskan 'Konoha High School' itu, sebuah percakapan seorang anak laki-laki dengan perempuan tertangkap pendengarannya.
"Apaan, tuh? Kamu pakai itu kayak anak perempuan aja!" Ujar sang gadis mengomentari tas sang lelaki yang tergantungkan sesuatu.
"Ini? Aku menemukannya di lantai koridor kemarin lusa. Aku tanya sama temen-temen nggak ada yang ngaku. Jadi kupakai aja. Siapa tahu ada yang ngelihat aku pakai benda ini dan memintanya dariku. Aku juga sebenarnya nggak suka benda-benda seperti ini, kok." Jelas sang lelaki panjang lebar sambil menunjukkan sebuah benda dari tasnya.
Naruto yang tak sengaja mendengar percakapan itu, melihat gantungan yang bergelayut di salah satu Resleting tas ransel sang lelaki. Bentuknya hati berwarna perak dengan lambang huruf 'H' berwarna ungu di tengahnya. Ada lima titik kecil berwarna pink di pinggirnya. Entah mengapa, Naruto teringat seseorang saat melihat gantungan itu. Entah bagaimana, Naruto merasa ia harus mengambil kembali benda itu.
"Kau menemukannya?" Naruto dengan cepat ikut bergabung dengan percakapan itu. sang gadis dan sang lelaki menatap Naruto dengan kaget. "Gantungan Itu milikku!" Aku Naruto. "Tolong berikan padaku."
"Oh, Ok…" Sang lelaki melepaskan gantungan itu dari tasnya dan segera menyerahkannya pada Naruto. kemudian kedua manusia itu meninggalkan Naruto yang berdiam diri di depan pintu gerbang sekolah.
Ia tersenyum miris. Setelah memperhatikan bentuk gantungan itu, ia teringat pada Hinata. makhluk jingga itu teringat hari di mana ia membantu Hinata mencari gantungan kunci gadis itu yang hilang. Ciri-ciri gantungan kunci Hinata yang disebutkan oleh gadis itu kala itu benar-benar persis seperti apa yang sedang ia pegang saat ini.
Naruto mengantungi gantungan kunci itu di kantong celana seragamnya. Ia tersenyum mengejek pada dirinya sendiri. "Kenapa aku baik sekali, ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
~'~"~'~
Sebuah bus berhenti di depan sebuah halte bus yang kosong. Terlihat dua orang gadis turun dari bus tersebut dengan tangan mereka yang masing-masing membawa sekantong tas kertas belanja. Keduanya segera berjalan menuju sebuah gang perumahan yang berukuran sedang. Tidak terlalu lebar, tetapi juga tidak terlalu sempit.
Mereka berjalan beriringan dalam keheningan. Terdiam dengan jalan pikiran mereka yang tak bisa ditebak satu sama lain.
"A-ano… Sakura-chan…" Hinata berusaha memecah kesunyian di antara mereka. "Aku ingin tahu maksud perkataan kalian tadi. Kau dan Sasuke-san…"
Sakura sempat membisu sebentar sebelum menjawab. "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Tidak ada apa-apa kok!" Sakura tersenyum. Senyuman yang sangat sulit diterjemahkan oleh Hinata.
"Ne, Hinata-chan. Kau lihat rumah yang itu?" Sakura mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk sebuah rumah berukuran besar dengan catnya yang berwarna putih ber-ornament merah-kuning. Namun cat di dinding itu terlihat memudar dan sudah agak mengelupas. "Itu rumah si Baka-Naruto dua tahun yang lalu."
"Eh?" Hinata menatap lekat rumah yang di tunjukkan oleh Sakura.
"Lalu rumah yang di sampingnya itu…"
"Rumah Sasuke-san, 'kan?" Hinata memotong kalimat Sakura saat ia melihat rumah berukuran lebih besar dari –mantan-rumah Naruto. Rumah itu terkesan sederhana dan bergaya asia.
Sakura heran. Ia tak mengerti mengapa Hinata mengetahui bahwa rumah tersebut adalah rumah Sasuke. Bahkan, ia menyebutkannya dengan yakin.
Lamunan Sakura terpaksa buyar saat Hinata bertanya, "…'Haruno'… apa ini papan nama keluargamu, Sakura-chan?" Hinata membaca sebuah papan nama yang menggantung pada pagar besar yang melindungi sebuah rumah yang lumayan besar. Memang agak sederhana jika di bandingkan dengan rumah-rumah lain di sekitarnya.
"Eh?" Sakura menatap sekelilingnya. Ia terlalu asyik melamun hingga tak sadar bahwa mereka sudah sampai di depan rumahnya. "Iya, Ini rumahku. Tepat di seberang rumah Sasuke-kun." Ujar Sakura pada akhirnya. "Ah, ya sudah. Ayo kita masuk dan segera buat cokelatnya. Akan kuberi tahu cokelat seperti apa yang si Baka itu sukai…" Sakura akhirnya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Dia merasa harus percaya pada Hinata, pada sahabatnya itu.
~'~"~'~
"Hinata-chan…!" Sakura melambai-lambaikan tangannya dari kejauhan. Hinata melihat temannya itu, dengan segera ia menghampiri Sakura. "Jangan pulang dulu!"
"Sakura-chan." Hinata tersenyum setelah ia sudah dekat dengan Sakura.
"Sudah siap?" Tanya Sakura pada Hinata ketika gadis serba ungu itu sudah di dekatnya.
"Ng… Siap… apa?" Yang ditanya malah balik bertanya.
"Cokelat! Apa lagi? Apa kau sudah siap memberikan cokelatmu? Apa kau bawa cokelatmu?" Tanya Sakura sekali lagi.
"Em." Hinata mengangguk mantap. "Aku nggak tahu kalau ternyata Naruto-kun suka cokelat yang seperti ini…" Hinata memperhatikan bungkusan berbentuk hati di tangannya. Di dalam bungkusan itu sudah ia siapkan sebuah cake cokelat dengan isian essence jeruk lumer. "Arigatou, Sakura-chan, atas informasimu kemarin sore tentang buah kesukaan Naruto-kun…"
"Tentu! Tapi yang lebih hebat lagi itu kau, Hinata-chan. Begitu aku beri tahu sedikit tentang buah kesukaan si Baka, kau langsung bisa membuat cake secantik itu!" Sakura memuji Hinata sepenuh hati, membuat gadis yang dipuji hanya bisa memerahkan pipinya, malu. "Kemarin kau bilang namanya apa? Fondant… apa?" Sakura menanyakan nama cake buatan Hinata yang di buat gadis ungu itu dengan resep yang di bacanya dibuku. Dengan sedikit mengimprovisasikan resep itu, tentunya.
"J-jangan be-berlebihan, Sakura-chan…" Kebiasaan gugup Hinata kambuh kembali. "N-namanya Fondant Chocola d'Orange…" lanjut gadis itu lagi.
"Ya… itu dia!" Sakura menjentikkan jarinya. "Ne, kalau punyaku namanya Coffe Cinnamon Truffle. Tahun lalu Sasuke-kun memujiku karena aku memberi cokelat ini padanya. Kau tahu? Orang sedingin itu memujiku, Hinata-chan! Kya~" Sakura berkicau sendiri. Namun, Hinata tetap mendengarkannya dengan senang hati.
"Ah!" Kata Sakura saat ia melihat dua laki-laki yang mereka cari sudah ada di depan mereka. Hanya terpaut jarak beberapa meter saja. Kedua lelaki itu berjalan lurus memunggungi mereka. "Hinata-chan, Aku akan memberikannya pada Sasuke-kun lebih dulu. Kau perhatikan aku saja lebih dulu. Kalau aku sudah berhasil, baru kau datangi Naruto dan berikan cake cokelatmu padanya. Ok?" Sakura seakan memberi perintah pada Hinata. Hinata mengangguk saja.
"Ganbatte, ne Sakura-chan." Bisik Hinata sambil mengangkat kepalan tangannya di udara, memberi semangat pada Sakura. Yang diberi semangat hanya mengangguk mantap dan segera melangkah maju memanggil seorang pemuda berambut Raven.
"Sasuke-kun!"
Sasuke menghentikan langkahnya saat ia rasa sebuah suara yang sangat dikenalnya memanggilnya dari arah belakang. Ia sedikit mencondongkan kepalanya ke belakang, mencoba mencari sang pemilik suara.
Sedang Naruto langsung memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat saat didengarnya suara itu.
"Sakura-chan!" panggil Naruto semangat. Ia melemparkan senyum lima jarinya sambil melambai-lambaikan tangannya pada Sakura.
"Hn." Sedangkan Sasuke yang menjadi sasaran Sakura hanya menjawab panggilan itu dengan gayanya yang khas.
"Sasuke-kun, i-ini!" entah mengapa gadis berambut pinkish itu tiba-tiba menjadi gugup. Jantungnya berdebar kencang karena kegiatannya sendiri. Ia menyodorkan sekotak cokelat yang dibungkus kertas kado berpola strip pink biru pada Sasuke. "Happy Valentine Days, Sasuke-kun!" Seru Sakura selanjutnya.
Sasuke tersenyum pada Sakura. Senyuman kecil dan senyuman kilat. Hanya sepersekian detik sebelum senyum itu menghilang. Namun, hal itu sudah membuat Sakura senang.
"Haa! Sakura-chan, untukku mana? Kenapa Cuma buat Teme saja?" Naruto yang melihat kejadian itu segera merengek meminta jatah cokelat bagiannya. Menghancurkan feeling bagus di antara Sakura dan Sasuke.
"Baka! Kau ini ribut sekali!" Sakura justru membentaknya kesal. "Tuh, jatahmu!" Seru Sakura saat ia melihat Hinata sudah jalan mendekati mereka.
"N-Naruto-kun, A-Aku…" Perkataan Hinata terdengar bergetar. Gadis itu memang ragu untuk menyerahkan cokelatnya pada Naruto.
Naruto –yang sebelumnya memunggungi Hinata kini memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengannya. Posisi Naruto sekarang membelakangi Sakura. Karena itu, ia berani memberi tatapan tajam pada Hinata. Hinata refleks menghentikan langkahnya saat melihat sikap Naruto yang tidak bersahabat dengannya. Tetapi, sebentar saja sebelum keberaniannya terkumpul lagi dan dia kembali mendekati Naruto.
"Ini dariku. K-ku-kumohon, terimalah…" Hinata membungkukkan tubuhnya Sembilan puluh derajat dengan kondisi kedua tangannya ia arahkan ke depan, menyodorkan sebuah kotak ke arah Naruto.
Hinata tak perlu menunggu terlalu lama sebelum ia merasa kotak itu telah terlepas dari tangannya. Sepertinya Naruto sudah menerima kotak tersebut. Tentu ia akan tersenyum apabila Naruto tidak melakukan sesuatu.
Naruto sengaja menjatuhkan cokelat itu di depan wajah Hinata. Hinata terkejut melihatnya. Sudah diduganya, semua akan berakhir seperti ini. Seperti yang dulu-dulu.
"Aku benci makanan manis." Ketus Naruto akhirnya. Ia meletakkan tangannya ke dalam kantung celana seragamnya. Hinata segera menunduk dan membungkukkan badannya untuk memungut kotak cokelatnya yang dijatuhkan Naruto. Ia cukup bersyukur sebab isinya tak berhamburan keluar.
Sakura dan Sasuke-lelaki itu tak terlalu menampakkannya- benar-benar terkejut melihat ini. Selama beberapa tahun mereka bertiga-Naruto, Sasuke, Sakura- menghabiskan waktu bersama, mereka tak pernah melihat Naruto bersikap kasar seperti itu. Bahkan sekalipun lelaki itu sedang marah.
"Naruto!" Bentak Sakura sekuat tenaga. "Benci manis apanya? Bukannya tadi kau sendiri yang minta cokelat? Naruto no Baka!" Saat ia akan memukul Naruto, ia melihat Hinata sudah bangkit dari kegiatannya mengambil kotak yang dijatuhkan Naruto. Yang sangat mengherankan Sakura adalah Hinata tersenyum. Seolah apa yang dilakukan Naruto tidak menggores hatinya secuilpun.
"Kenapa… Nggak pernah bilang kalau Naruto-kun benci manis?" bukan tangisan yang keluar dari bibir ranumnya. "Ah, Aku tahu." Hinata mengeluarkan kotak lain dari dalam kantong rok seragamnya. Ukurannya lebih kecil dari kotak yang sebelumnya akan ia berikan pada Naruto. "Ini cokelat Extra Dark Coffe Bar. Cokelat batang yang sebenarnya akan kuberi pada Neji-nii, sepupuku yang satu tahun lebih tua dari kita. Tapi... buat Naruto-kun saja. Nanti Neji-nii akan kuberi cokelat yang sebelumnya buatmu ini…" Jelas Hinata panjang sembari menyodorkan sekotak cokelat berbentuk persegi pada Naruto. Kali ini pemuda itu mematung.
"Te-tenang saja. Aku membuatnya dari dark cokelat dan bubuk coffe. Nggak manis sama sekali." Tangan Naruto menerima cokelat pemberian Hinata. Namun kemudian, Tangan Naruto menarik lengan Hinata dan membawanya pergi dari tempat itu. Dengan kasar sehingga membuat Hinata sedikit terseret olehnya.
"Naruto!" Suara Sakura tak lagi dihiraukannya. Ia benar-benar sudak dibutakan oleh api kemarahannya sendiri.
Sasuke –dengan setengah berlari- mengikuti kedua manusia itu. Sakura mengekor di belakang si Raven.
~'~"~'~
"N-Naruto-k-kun…" Hinata merintih kesakitan disebabkan cengkeraman tangan Naruto yang kelewat kasar. Hinata dapat merasakan kuku-kuku Naruto seakan menancap kuat tak bisa dilepaskan. Sakit dan nyeri.
Mereka masuk ke dalam kelas yang sudah hampir kosong. Teman-teman mereka sudah meninggalkan sekolah untuk pulang. Naruto melepaskan genggaman tangan Hinata dengan kasar.
Mereka berdiri berhadapan setelah Naruto menutup pintu kelas. kini mereka hanya berdua dalam sebuah ruang tertutup.
"Hyuuga, Apalagi rencanamu?" Naruto angkat bicara. Sungguh, Hinata sudah dapat menerka ke arah mana pembicaraan ini akan berlangsung. Karena itu gadis itu memutuskan untuk diam dan tak menjawab pertanyaan Naruto.
"Aku bicara padamu, Hyuuga!" Nada bicara pemuda itu naik satu oktaf. "Aku sudah bilang, 'kan? Jangan ganggu aku dan orang yang aku sukai!" Perintah-nya.
Hinata memberanikan diri untuk berkata, "A-aku nggak mengganggumu. Aku hanya berusaha menepati janjiku padamu. Sama seperti Naruto-kun yang berusaha menepati janji untuk membuatku membencimu."
"Hah!" Dengus Naruto. "Yang kamu tahu cuma bicara indah." Naruto menggerakkan kakinya berniat menuju bangkunya yang terletak di belakang. Namun, kalimat Hinata menghadangnya.
"Kau takut, Naruto-kun." Hinata mengambil jeda sesaat sebelum menyambung kata-katanya. "Kau takut padaku." Hinata sengaja memilih kata yang singkat tapi memiliki seribu makna.
"Takut?" Naruto memutar badannya kembali menghadap Hinata. Dahinya mengernyit."Kata-katamu Ambigu. Aku nggak pernah takut apapun."
Hinata menggeleng lemah. "Kau takut." Ia menatap Naruto tepat di Sapphire-nya. "Kau takut akan jatuh padaku."
Naruto semakin kesal, "Hah? Bukannya kau yang takut kehilangan aku, Hyuuga?" Naruto memberi tatapan sinis pada Hinata. "Kau terus mengejar-ngejarku. Kau tetap membuatkanku bento padahal kamu sendiri tahu aku nggak akan memakannya. Kau tetap mendekatiku walaupun aku terus saja memperlakukanmu dengan kasar." Naruto kembali memutar tubuhnya, mengambil beberapa langkah hingga ia menyentuh meja Hinata-yang terletak paling depan di pojok kelas dekat jendela. Setelah tubuhnya menyentuh meja Hinata, ia kembali memutar tubuhnya lagi-lagi menatap Hinata yang terpaku di depan pintu kelas.
"Menurutku…" Potongnya sejenak. "Kau nggak mencintaiku. Kau hanya terobsesi… padaku."
Hinata merasa panas. Ia merasa harga dirinya baru saja diinjak. Ia tidak suka dengan kalimat Naruto yang terdengar sangat tidak menghargainya. Seolah usahanya selama ini tidak ada artinya sama sekali. tetapi, ia tidak mengerti kenapa tubuhnya tidak bisa mengeluarkan emosinya dengan bebas. Ia hanya dapat berkata dengan pelan, "Kalimat macam apa itu…?"
"Benar, 'kan? Kau nggak mencintaiku. Kau hanya ingin mendapatkanku."
"Nggak. Itu nggak benar." Dengan sedikit membesarkan volume suaranya, Hinata berkata, "Aku, men-mencintaimu. Bukan terobsesi padamu."
Saat ingin membantah pernyataan Hinata, tangan Naruto tak sengaja menyentuh tas Hinata yang saat itu berada di atas mejanya. Otomatis pandangan Naruto tertuju pada tas tersebut. Dan betapa terkejutnya pemuda itu saat menemui gantungannya tergantung di tas tersebut. Gantungan yang semestinya tidak ada lagi di tempat itu.
"Kenapa bisa ada di sini? Aku sudah membuangnya kemarin!" Geram Naruto.
"Naruto-kun yang membuangnya? K-kenapa?" Hinata mengambil langkah pertamanya mendekati Naruto.
"Aku membuangnya karena aku ingin membuangnya. Alasannya simpel, 'kan?" Naruto masih menatap gantungan itu dengan seksama. "Kenapa bisa ada di kamu lagi?"
"S-Sasuke-san yang mengembalikannya padaku." Langkah kedua dan Hinata hampir bersampingan dengan Naruto.
Naruto dengan kasar menarik gantungan itu hingga terlepas dari zipper tas Hinata. Hinata terkejut melihatnya dan segera memegang lengan Naruto. "Jangan!" Seru Hinata sedih.
Tanpa memedulikan teriakkan Hinata, Naruto mengangkat tangannya dan melempar gantungan itu keluar jendela. Gantungan berbentung cup itu langsung hilang ditelan gundukan salju halaman sekolah. "Barang itu punyaku. Aku bebas membuangnya kalau aku mau."
Tanpa Naruto duga dan tanpa menjawab ucapan Naruto, Hinata menaikkan kakinya ke jendela dan duduk di atas jendela tersebut. Kemudian, gadis cantik itu melompat dari jendela dan mendarat di atas tumpukan salju. Ia sedikit terjungkal ke depan sehingga menyebabkan salju di sekitarnya terhambur sembarangan. Namun Hinata tak mempedulikan itu. Dia segera bangkit dan bergerak menuju halaman belakang Konoha School untuk mencari gantungan ramen yang tadi di buang oleh Naruto.
Naruto memperhatikan Hinata melalui jendela. Ia hanya bisa membisu. Tak mengerti jalan pikiran Hinata.
"Naruto!" sebuah suara memanggilnya seiringan dengan terbukanya pintu kelas. Naruto menghadapkan kepalanya pada asal suara. Sakura berdiri di muka pintu dengan wajah kesal. Gadis itu mengambil langkah seribu untuk mendekati Naruto. begitu jarak di antara keduanya telah hilang, dengan sekuat tenaga, Sakura menampar pipi Naruto. Menimbulkan bunyi 'plak' yang berdengung di ruangan itu.
"Baka! Kenapa kau seperti itu?" Sakura menuding wajah Naruto. "Kau bukan Naruto yang kukenal. Naruto yang ku tahu itu orang yang ramah, baik dan hangat. Tapi, kenapa kamu jadi seperti ini? Ke mana Naruto yang kukenal?"
"Kau salah paham, Sakura-chan. Aku nggak-"
"Jangan cari alasan!" Sakura memutuskan kata-kata Naruto.
"Aku dan Sasuke…" Sakura memotong kalimatnya sebentar menghadap ke arah pintu kelas untuk mencari Sasuke. Seingatnya, Sasuke masih ada di sana sesaat yang lalu. Namun, kali ini ia tak menemukan siapapun di sana. Akhirnya ia berfikir, mungkin saja Sasuke sudah terlebih dahulu pulang meninggalkan mereka. "Aku dan Sasuke melihat semuanya dari jendela kelas. Kamu nggak usah mengelak."
Naruto tak menjawab. Dia hanya memandang batu Jade di mata Sakura.
"Padahal Hinata-chan sangat baik padamu. Aku tahu dia sangat menyukaimu. Kenapa kamu sejahat itu padanya? Kenapa kau jadi begini?" Sakura menaikkan nada bicaranya. Terdengar jelas dari suaranya bahwa ia penuh emosi.
"Aku menyukaimu." Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Naruto. Tapi hal itu tidak mengejutkan Sakura sama sekali.
"Apa karena itu alasanmu berbuat sekasar itu pada Hinata?" Tanya Sakura tak terima jawaban Naruto yang menurutnya terdengar tak ada sangkutannya dengan pertanyaan yang sebelumnya ia lontarkan. Tapi Naruto tak menjawab sedikitpun. Ia terus saja menatap Sakura.
"Kau ratusan kali mengatakan itu padaku." Cetus Sakura mengalihkan pandangannya dari Naruto menuju sebuah pohon tanpa daun yang berada di luar jendela kelas mereka. "Dan aku akan mengatakan jawaban yang sama ratusan kali juga."
"Maaf, Naruto. Aku menyukai orang lain." Sakura mengambil tasnya yang berada di belakang meja Hinata dengan cepat. Setengah berlari ia meninggalkan Naruto seorang diri dalam kesunyian kelas.
~'~"~'~
Sementara itu Hinata terus menyibakkan gundukan salju yang berada di depan matanya dengan kasar. Tak dipedulikannya lagi kedua telapak tangannya yang sudah memucat karena ia tak menyelaputinya dengan sarung tangan. Badannyapun menggigil akibat tak memakai mantel maupun syal. Telinganya terlihat memerah akibat dinginnya salju kala itu. Namun, semua rasa itu ia abaikan demi mencari gantungan kunci kesayangannya. Gantungan kunci replica ramen instan.
'Dimana? Dimana?' berkali-kali batinnya meresah, memikirkan hal yang sama.
Tiba-tiba, sebuah syal melingkar di lehernya yang jenjang. Melilit memberi sensasi rasa hangat yang dibutuhkan gadis ungu itu.
Hinata mendongakkan kepalanya dan ia menemukan sebuah Onyx menatapnya datar. Tapi, dapat Hinata rasakan kehangatan memancar dari tatapan lelaki itu.
"Sasuke-san…" Hinata menyebutkan nama itu di tengah bergetarnya bibir miliknya yang sudah hampir kehilangan warnanya.
Sasuke tak menjawab Hinata. Lelaki itu membungkukkan tubuhnya di depan Hinata dan ikut mengubrak-abrik salju-salju di sekitarnya. Hinata menatap Sasuke dengan pandangan tidak mengerti.
"Sasuke-san… apa yang kau lakukan?" Tanya Hinata pada akhirnya.
Sasuke bergeming tak menjawab. Hinata menyerah dan kembali menyari.
Tak berapa lama setelah itu, Sasuke mengangkat tangannya dari timbunan salju. Sesuatu terlihat tergantung di jari tengahnya. Lelaki itu memanggil Hinata.
"Hinata."
Hinata mengangkat kepalanya untuk memenuhi panggilan Sasuke. Dan saat itu juga, matanya bersinar senang melihat gantungan kunci itu tergantung di salah satu jemari Sasuke. Ia berdiri dan menghampiri Sasuke dengan cepat.
Sasuke menyerahkan gantungan itu pada Hinata. Senyum lebar terlukis di wajah ayu gadis Hyuuga itu.
"Arigatou… Sas-"
Tangan Sasuke menarik Hinata hingga gadis itu jatuh ke dalam pelukan Sasuke. Sasuke memeluk Hinata dengan erat. Hingga Hinata dapat merasakan kehangatan mengalir ke dalam tubuhnya. Tangan mungil Hinata yang mengepal berusaha mendorong tubuh Sasuke agar menjauh darinya.
"Aku merindukanmu…" Sasuke mengeluarkan sepatah kata tanpa intonasi.
"Sasuke-san, A-aku…"
Belum selesai Hinata meneruskan perkataannya, Sasuke mengucapkan sebuah kata di telinga Hinata, yang membuat Hinata terhenyak mendengarnya. Sontak Hinata menghentikan pukulannya pada Sasuke.
"Sasuke-san…" Panggil Hinata sekali lagi. Sasuke masih memeluk Hinata. "Kau masih menganggapku seperti 'itu'?" Tanya Hinata setelah mendengar sebuah kata yang tadi di ucapkan Sasuke padanya.
Sasuke diam tak menjawab. Ia tak sekalipun berniat melepaskan Hinata dari dekapannya. Sedang Hinata, iapun diam tak bergerak. Tak sekalipun berniat menolak Sasuke setelah mendengar sepatah kata yang di ucapkan Sasuke beberapa detik yang lalu.
"Dari dulu, pandanganku padamu tak berubah." Ujar Sasuke akhirnya. Menceraikan kesunyian ketika itu.
"Ta-tapi kau tahu, 'kan kalau aku-"
"Aku tahu." Sasuke dengan cepat memotong Hinata. "Karena itu hari Minggu, temani aku ke tempat 'itu'..."
"Tempat 'itu'?" Hinata menautkan alisnya. "Tempat 'itu'? tempat yang… dulu?" Hinata kembali bertanya.
"Hn." Jawaban Sasuke terdengar samar.
"J-jangan-jangan… hari Minggu nanti adalah hari…"
"Hn." Sasuke tak ingin Hinata meneruskan kalimatnya dan membuatnya mengingat duka itu. itu sebabnya pemuda itu memotong cepat kalimat Hinata.
Akhirnya Hinata putuskan untuk mengangguk mengiyakan ajakan Sasuke.
~'~"~'~
Jauh di balik dinding sekolah, Seorang gadis tampak menatap kejadian itu dengan pandangan yang sangat sukar untuk di artikan. Gadis itu meletakkan salah satu telapak tangannya yang mengepal di depan jantungnya. Seakan menahan amarah yang ingin ia luapkan. Tapi ia menahannya. Sehingga amarah itu hanya dapat menyeruak keluar sebagai tetesan air mata yang berlomba-lomba jatuh dari sudut emerald-nya.
Gadis itu mendengar semuanya. Mendengar setiap kata yang terlontar dari kedua manusia yang sedang berpelukan di tengah dinginnya salju. Sangat ambigu untuk di pastikan memang. Tapi, entah mengapa, gadis itu menerka bahwa kedua orang itu memiliki hubungan.
Memikirkan argument-nya sendiri membuat gadis berambut pink itu merasa sesak di dadanya.
Tak mau terlalu lama berdiam diri, gadis itu menghapus air matanya dengan kedua punggung tangannya yang berbalut sarung tangan berwarna merah. Ia segera melangkah menuju kedua orang itu dan menghampirinya, menyapanya seolah tak terjadi apa-apa.
"Sasuke-kun!" Panggilan sang gadis berambut pinkish itu membuat sepasang manusia di sana melepaskan pelukannya.
"Sakura." Gumam Sasuke pelan. Sedangkan Hinata diam tak menjawab. Sepertinya Amethyst gadis itu menatap sesuatu yang lain.
"Sasuke-kun. Aku kira kau sudah pulang duluan. Ternyata kau di sini. Ayo kita pulang…" Sakura memegang ujung lengan mantel Sasuke berakting seolah ia tak melihat kejadian antara Sasuke dan Hinata. Berharap Sasuke akan memandangnya dan mengiyakan ajakannya.
Sasuke tak bergeming. Ia menatap Sakura sesaat lalu kembali menatap Hinata.
Gerak-gerik Sasuke yang seperti itu menyakitkan Sakura. Gadis itu merasa ribuan jarum menohok ulu hatinya hingga memecahkan hatinya menjadi berkeping-keping. Meski tanpa suara, Sasuke seolah menolaknya dan lebih memilih Hinata ketimbang dirinya.
"Hinata." bibir Sasuke menyebut nama Hinata. Tapi Hinata tak menatapnya. Badan Hinata menghadap Sakura, tetapi ia tak memandang Sakura. Lebih tepatnya sesuatu yang berada jauh di belakang Sakura. "Hinata, Aku-"
"Naruto-kun!" Teriak Hinata dengan keras tanpa membalas Sasuke. Ia menatap Naruto yang berjalan jauh di belakang Sakura. Hinata segera berlari melewati Sakura dan mendekati Naruto. Hinata tersenyum dan menunjukkan gantungan kunci yang sudah ia temukan, bergantung di tengah jari manisnya.
Naruto –tanpa tersenyum- merampas gantungan kunci itu dan membuangnya-lebih tepatnya membantingnya- ke tumpukkan salju di bawah kakinya. Kemudian tersenyum. Tapi bukan kepada Hinata. Melainkan kepada…
"Sakura-chan!" Seru Naruto sambil melambaikan kedua tangannya pada Sakura. Sakura tak membalasnya. Ia terus memerhatikan Hinata dari kejauhan. Kebimbangan membalutnya. Ia ingin membantu Hinata dengan membelanya, tetapi sisi lain hatinya berkata untuk membiarkan Hinata seperti itu.
Naruto berjalan santai meninggalkan Hinata di belakangnya. Ia bergerak menuju Sakura.
Hinata memungut gantungan kunci yang tadi dibanting Naruto dengan kejam. Lalu membersihkannya dari salju yang menempel. Hinata memeluk gantungan itu sebentar sebelum berputar menatap punggung Naruto dengan kesal. Tanpa ancang-ancang terlebih dahulu, ia mengambil langkah seribu mendekati Naruto dan menggenggam bagian belakang mantel jingga Naruto dengan erat dan membuat Naruto berhenti berjalan.
Hinata merapatkan kepalanya pada punggung Naruto. ia memejamkan matanya dengan erat dan menghirup aroma Naruto sedalam-dalamnya sebelum menghembuskannya kembali. Kemudian dengan penuh keberanian, gadis itu berbisik perlahan. Sangat pelan sehingga hanya dapat di dengar olehnya sendiri dan Naruto.
"Suatu saat nanti, cepat atau lambat kau akan mengetahui seberapa berharganya aku, Namikaze."
Setelah menirukan gaya bicara Naruto padanya kemarin, Hinata melepaskan genggaman tangannya pada punggung Naruto dan berlari melewati Naruto, melewati Sakura dan melewati Sasuke dengan menundukkan kepalanya. Meninggalkan mereka semua dalam keheningan salju putih yang mulai jatuh dari langit.
.
.
.
.
.
.To be Continue.
.
.
.
.
.
Special thanks :
Naruto lover,
mysunshine hatake, naruto lover, L, suka snsd, mongkichi, vida jerry jonas, koneko, Nami Forsley, Jimi-li, Dhekyu, aigiaNH4, Ai' Ryuusuke Nara, Zoroutecchi, semuttt, Minami Eika, Yamanaka Emo, Megu-Megu-Chan, Hanamoto Aika, Mrs Cry cry, kiriko mahaera, Kazuki's girl, Koplak Namikaze, Afika, Namikaze Ray, amexki chan, Kaguya Hitsugaya, Angkhekak, sherry-chan akitagawa, Chiryousi Whitlefor, Asuna Riisuka, Natsu Hiru Chan, ikki, (Maaf kalau ada yang namanya lupa saya tulis)
(Maaf saya ga bisa PM-in satu-satu…)
Author's Note :
Hehehe… Minna-chama, Saya update-nya cepet, 'kan? *PLAK!**Digampar karena sok Innocent.
Kyaa! Apa-Apaan ini? Ceritanya makin hancur dang a berbobot! Rippe aja bacanya mau muntah sendiri. Parah! Kenapa juga tiba-tiba Sasuke jadi kayak gitu? Kayak bukan Sasuke aja.
Nah, nah, ada yang bisa nebak hubungan Hinata dan Sasuke itu apa? Yang pengen tau, tunggu chapter selanjutnya, ya…^^
Oke, time to rereview!
.naruto lover : ohoho… kau benar. Kayaknya Naruto keterlaluan banget, ya? emang authornya parah banget. Gomen, ne… apa lagi kau penggemarnya Naruto-kun… tenang aja, semua itu hanya tuntutan scenario belaka. Yup, saya suka banget manteranya. Sangat berpengaruh… thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.suka snsd : hahaha…! Nata-chan emang hebat. Yuhuuu!*Tereak ga jelas*. Eh? Kurang panjang? Hahahaa,*ketawa kecut* otak saya konslet di suruh nulis yang panjang-pnjang. Nulis segini aja udah frustasi sampe hampir masuk RSJ. Tapi, semakin berjalannya chapter, akan Rippie usahain memperpanjang words nya. Tapi kalau Rippi masuk rumah sakit, kau yang tanggung jawab, ya…^^. Oke, thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.ikki : thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Zoroteucchi : Ahahaha… Ada juga yang seneng kalau Naruto jadi penjahat dan Hinata tersiksa… kalau bicarain ending… entahlah… saya kasih happy end atau sad end, ya? bingung nih… *Geplaked*. thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Dhekyu : Kyaa~ ternyata kamu… NaruHinaLover. Senang bisa ketemu lagi…^^. Eh, kok jadi benci Naruto? jangan, dunk… ehehehe… benerkah, fict saya keren? Rippe aja ngerasanya fict ini terlalu maksa..(entah maksa dari segi mana…) kau benar! Hinata, Ganbatte!... oke deh… thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Mrs Cry cry : Jangan panggil Author gitu…. Panggil nama saya aja, sesukamu mau panggil apa… hehe… iya, ya? Naruto jahat banget. Hinata juga b*g* (Disensor agar saya tidak di basmi Hinata-lovers) kok mau sama orang jahat kayak gitu… (padahal saya yang buat ceritanya-_-) buat Naruto nyesel? Siiip, itu urusan gampang… ^^
Hm.. saya lihat reviewmu banyak sekali… sampe tiga butir, tuh… haha…oh iya, thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Ai' Ryuusuke 'Naara : Wkwkwkwkwk…. Emang orang bernama Rippe ini sangat tidak bertanggung jawab. Dengan seenaknya merubah character Naruto jadi OOC akut kayak begini. *Ketawa kecut ngebaca fict sendiri* .Baiklah, Rippe akan memanggilmu Ai-Chan. Gantinya, panggilnya jangan senpai dunk… kita semua kan sederajat, sama-sama masih belajar dan sama-sama masih punya kesalahan… saya malu kalau di panggil senpai… heheh… panggil aja Rippe atau Rippe-chan, atau Rippecchi, Atau Rippe-tan, atau Rippe-rin *Geplaked karena ngoceh sendiri*.. thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Megu-Megu-chan : OMG, Demi apapun thanks reviewnya, yah, Megu-chan… … kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^…
Ya tuh, lumat aja si Naruto-kun #*Rasen Shuriken!*
Ahaha… makasihudah maksa Rippe buat ngelanjutin fict gaje ini… Rippe tersanjung … (?)
.Nami Forsley : Nami-chan~
Saya juga kesel sama Naruto…(?) kok dia jahat betul… OOC banget…
Hm…. Rencananya sih… mungkin 5 chapter. Itu sih sebelum saya munculin Sasuke… tapi berhubung saya baru aja dapat ide buat masukkin Sasuke, jadi nggak tahu bakal jadi berapa chapter. Saya aja belum nulis kelanjutan fict ini. Tapi akan segera saya lanjutkan kalau ada waktu… hehehe… thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.mongkichi : Reviewmu paling berkesan di hatiku, lho… aku baca reviewmu langsung terhenyak. Aku langsung berfikir 'oh iya, ya…' dan 'benar juga…' apa lagi pas baca kata 'terobsesi'… jadilah chapter ini seperti di atas itu… makasih banyak ya… ^^. Reviewmu membantu sekali…^^.
Menurut Rippe, cinta dan obsesi itu berbeda. Terobsesi itu terlalu mengejar-ngejar. Kalau cinta, biasanya dia rela berkorban buat yang dia suka bahkan walaupun itu artinya dia harus ngiklaskan orang yang dia suka (Kok Rippe jadi terkesan menggurui, ya?). tapi buat cerita di atas, jangan pedulikan arti obsesi ini ya… hehehe… thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Asuna Riisuka : Boleh kook manggil aku kayak gitu^^… Aku boleh manggil kamu Rii-chan? *Puppy Eyes no Jutsu*
Gapapa, kok kalau baru review sekarang… review bentuk apapun bakal rippe hargain…^^.
Narutonya kurang jahat? Ekhe-khe-khe *Ketawa kayak penjahat-penjahat di sinetron Indonesia* Berarti Rippe boleh buat Naruto lebih jahat dari itu? *Buk!* Mau di Fave? Thanks ya… Rippe amat sangat benar-benar (?) tersanjung… oya, thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Jimi-li : Hei, jumpa lagi…^^. Senang rasanya kalau tau ada yang nunggu fic saya… padahal fic nya aneh gini… makasih, ya…^^. Narunya kejam banget dan Rippe emang berfikir pengen ngelihat Naru yang kejam. Karena itu lahirlah fic ini. Dan Hinata yang berjuang seperti itu yang Rippe suka… Makasih pujiannya, ya…^^ Rippe jadi tambah semangat buat ngelanjutin… maaf, ya, saya updatenya telat. Hehehe….saya udah update. Semoga nggak ngecewain, ya…^^ thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Natsu Hiru Chan : Ahahahaha…^^. Jangan panggil saya 'senpai' kayak gitu, ah! *Malu-malu kambing*. Kita semua kan sederajat. Masih sama-sama belajar. Makanya, panggil nama saya aja. Rippe kah, Rippi kah, Ririn(ini sih nama asli)-kah, mbak cantik kah*Gebuked karena ga serius*.
Gapapa kok kalau baru review sekarang. Karena bentuk review seperti apapun Rippe hargai, kok… thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^(sorry telat update)
.Chiryousi Whitleford : Namamu susah banget di tulis*ngelap keringet*. Hehehe… Fic ini ga sebagus itu, kok… wah, sepertinya Rippe dapat izin satu lagi buat nyiksa Naruto. hehehehe…*Ketawa ala penjahat* ok… thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.sherry-chan akitagawa : Sherry-chan, salam kenal juga…^^
Ehehe… kayaknya banyak banget yang kesel sama Naruto yang saya 'ciptakan'.. (Well, saya sendiri kesel sih sama Naruto yang saya 'ciptakan'). Buat Naruto nyesel? Ufufufu…(Ketawa ga jelas). Well, thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.L : Kya~ jangan panggggil senpai gitu deh… (Waduh, huruf 'g'-nya kebanyakan. Tapi karena saya males ngapus, jadi saya biarin aja kayak gitu. Hehehe…) panggil nama saya aja. Hehehe… maaf ga bisa update kilat. *Membungkuk 90 derajat penuh penyesalan*. Buat Naruto nyesel? Uufufufu…ok, thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.aigiaNH4 : hehehe… makasih reviewnya, yah…. Boleh, kok manggil saya kayak gitu. Saya dengan senang hati menerimanya… nah, saya manggil kamu apa, ya? intan-chan? Boleh?
Benerkah bagus? Padahal kalau yang baca saya, saya sendiri mau nangis sahking jeleknya…. Terlalu banyak pengulangan kata yang saya ketik… hiks…. Tapi, ok, sekali lagi thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Yamanaka Emo : Asyik nih, ada drama romance numpang lewat *Rippe makan popcorn sambil nonton Key-chan sama Key SHINee yang lagi lomba gombal-gombalan)
Amin… semoga hubungan NaruHina bisa sehangat hubungan kalian berdua…^^.
Eh, Rippe nggak papa manggil kamu dengan sebutan 'Key-chan' kan? Boleh ya?
Hehehe, buat aja Naru jadi perkedel. Aku ijinkan, kok. *Rasengan!*
thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.vida jerry jonas : Huaaa…. Iya, Naru tegaaaaaa… kacian Hina-tan…..*ikut nangis Bombay di samping vida-san* Oh, iya… aku panggil kau apa nih? Vida-chan boleh? … ok, thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.semuttt : Ahaha…. Namamu masih sering menggelitik perutku…^^. Wahaha… kayaknya kamu satu-satunya yang bilang kalau Naruto sok keren… kayaknya sih, saya mau ngasih 5 atau 6 chapter. Entahlah… semoga nggak membosankan buat kau baca, ya… thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Kaguya Hitsugaya : Wah, wah… nyantai aja, Kaguya-chan… gapapa kok kalau baru bisa review sekarang… saya menghargai berbagai bentuk review, kok… hehe…^^
Apa kau suka dengan Naruto yang dingin seperti ini? Dan Hinata yang ga mudah menyerah seperti ini? Hehehe….
Maaf nih, telat update… seharusnya 3 minggu yang lalu saya update. Oh ya, makasih kata-kata 'ganbatte' mu ya, saya jadi tambah semangat.. ^^ thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Hanamoto Aika : Kayaknya Naruto emang ga punya Hati… *Naruto : Rasen Shuriken!*. Rippe udah lihat lho, Aika-chan ngereview di fict Rippe yang "The Princesses Tales" ya… thanks, ya…^^
thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.amexki chan : Ehehehe… maklum, tuntutan Scenario dari author kita yang paling cantik sedunia (Narsis mode: ON)… thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Mysunshine-hatake : beneran? Feelnya kerasa? Syukurlah.. Rippe mati-matian ngejiwai character yang akan Rippe tulis sampe nggak nyadar kebawa ke dunia asli. Saya jadi marah-marahin adik saya gara-gara mau meranin Naruto. *Ehehe… thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Minami Eika : Minami-chan… jangan nangis… Rippe jadi merasa bersalah….makasih ya, dah setia baca fict ini sampe nangis…^^ thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.koneko : Wahaha…. Makasih ya, Koneko-chan… juju raja, Rippi juga tertekan banget waktu dapat review ga berperikemanusiaan kayak gitu. Rasanya terhina banget. Kesal banget. Kalau dia ngeflamenya bermutu sih, saya masih bisa nerima. Lha ini?...
Tapi untung aja Koneko chan ngasih semangat ke Rippe kayak gitu. Kalau nggak….
Oke de… thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.kazuki's girl : Hahaha…. Ya, rasanya percuma ya ngejar cowok yang udah jelas-jelas nolak kita(pengalaman nyata Rippe…). Tapi kalau ga gitu, fict ini ga jadi, kan? Hehe…. Justru di situ sisi menariknya…. Ok, thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Angkhekak : hehe… terlalu baik ya? kayaknya di dunia nyata nggak ada manusia sebaik itu ya…. thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Namikaze Ray : hehee… nih dah saya buat chap berikutnya…. Oh ya… jangan panggil kk gitu…. Panggil nama saya aja…^^ thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.kiriko mahera : Kya~ makasih udah nge-face, ya^^
Huhuhu… Naruto yang jahat emang T.O.P abis…^^(Ketawa nista) *Rasen Shuriken!* ehehe… makasih pujiannya… walau saya rasa, fic ini masih banyak kekurangan disana sini…. thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Koplak Namikaze : Ahaha… kau yang paling berjuang keras ya… ngereview saya dua kali… dan perasaanmu itu sampai pada saya, lho…. Pertamanya, saya niatnya Cuma baca review-review yang sudah terkumpul aja. Tapi begitu liat id mu sampe 2 kali muncul, saya terharu… dan langsung lanjutin kerjaan saya yaitu nulis chapter 3 fict ini…. Kasiannya kau lupa tidur… oh ya, panggil Rurippe atau Rippe aja, jangan nama belakang saya kayak gitu… trus sufixnya 'chan' aja… jangan terlalu resmi sama saya… hehe… thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.Afika:
Rurippe : Afiika… ada yang baru lho…
Afika : Apaan?
Rurippe : Chapter 3 nya 'KMP!IWMC'-nya Rurippe no kimi…
(lupakan kegajean di atas)… ehehe… galau emang lagi mewabah…. Hehe….oh ya… panggil Rurippe atau Rippe aja, jangan nama belakang saya kayak gitu… trus sufixnya 'chan' aja… jangan terlalu resmi sama saya… hehe… thanks reviewnya, yah… kalau ga keberatan, tolong di review lagi, yah…^^
.
.
Maaf kalau ada kesalahan penulisan nama…
~YAK! Berakhirlah sesi Review kali ini! *Ngelap keringet yang udah berceceran di mana-mana.*
Nah, bagi yang nggak keberatan, tolong tinggalkan Reviewnya, ya…^^
Dan makasih pada para silent reader yang telah menyempatkan waktunya untuk membaca fict ini. Semoga suatu hari hati kalian semua tergerak untuk memberikan review pada Saia…*Lebay mode : ON*
Yosh! Arigatou, minna-san…
.
.
.
Rurippe no Kimi
.
.
26 Maret 2012
