Hinata memungut gantungan kunci yang tadi dibanting Naruto dengan kejam. Lalu membersihkannya dari salju yang menempel. Hinata memeluk gantungan itu sebentar sebelum berputar menatap punggung Naruto dengan kesal. Tanpa ancang-ancang terlebih dahulu, ia mengambil langkah seribu mendekati Naruto dan menggenggam bagian belakang mantel jingga Naruto dengan erat dan membuat Naruto berhenti berjalan.

Hinata merapatkan kepalanya pada punggung Naruto. ia memejamkan matanya dengan erat dan menghirup aroma Naruto sedalam-dalamnya sebelum menghembuskannya kembali. Kemudian dengan penuh keberanian, gadis itu berbisik perlahan. Sangat pelan sehingga hanya dapat di dengar olehnya sendiri dan Naruto.

"Suatu saat nanti, cepat atau lambat kau akan menyadari seberapa berharganya aku, Namikaze."

Setelah menirukan gaya bicara Naruto padanya kemarin, Hinata melepaskan genggaman tangannya pada punggung Naruto dan berlari melewati Naruto, melewati Sakura dan melewati Sasuke dengan menundukkan kepalanya. Meninggalkan mereka semua dalam keheningan salju putih yang mulai jatuh dari langit.

~'~"~'~

Hinata menghentikan larinya tepat saat ia telah berdiri di depan pintu rumahnya. Bukannya membuka pintu untuk masuk, tapi Ia justru membalikkan tubuhnya dan membelakangi pintu. Disandarkannya punggung mungil berlapis jaket itu pada muka pintu. Nafasnya satu-satu akibat berlari. Dan dari bibirnya yang memucat, gumpalan uap mengepul keluar. Tangannya yang memerah karena radang dingin yang diakibatkan suhu kala itu, ia kepalkan di depan jantungnya yang berdegup kencang. Di dalam kepalan tangannya, gantungan kunci berbentuk cup ramen tersembunyi.

Sejenak kemudian, ia mengangkat gantungan kunci yang berada di tangannya itu. Iris violet-nya memandangi benda itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedih, juga kesal.

.

.

.

~'~"~'~

Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Title :

~Keep My Promise! I Wanna Make You Cry!~

Author : Rurippe no Kimi

Type : AU (Alternative Universe), OOC Tingkat tinggi(Maybe?), Gaje, Typo(S). Lebay DLL,

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Friendship.

Main Character : Hinata and maybe Naruto

Other Character :Sakura and Sasuke

Warning :

.

If you Don't like , Don't read, Don't FLAME

If you Don't like , Don't read, Don't FLAME

If you Don't like , Don't read, Don't FLAME

If you don't like, don't read, don't FLAME

(Sudah Diingatkan 4 kali ya…!)

Enjoy please!^_^

.

.

.

~'~"~'~

.

.

.

Chapitre 3

.

.

.

Seperti pagi hari yang biasa, Hinata berjalan dari rumahnya menuju halte bus. Tak ada semangat di wajahnya. Ia melangkah sambil terus menatap ke bawah, kepada jalan putih akibat terlapisi salju tebal. Namun, pikirannya tak sependapat dengan pandangan matanya. Gadis itu tampak sibuk dengan pikirannya sendiri.

Hingga akhirnya, langkah kakinya membawanya sampai pada halte bus yang sepi. Hanya terlihat dua orang yang sedang duduk di tempat itu. Seorang lelaki paruh baya dengan jaket tebal abu-abu, sedangkan yang seorang lagi adalah seorang anak perempuan berambut pendek bermantel bulu yang tampak sibuk memainkan handphone-nya. Hinata kecewa. Sebenarnya, ia sempat berharap bahwa salah satu di antara kedua orang itu adalah Naruto.

Hinata putuskan ikut menunggu di halte bus itu. Tetap terlarut dalam keheningan, ia duduk dan kembali melayangkan pikirannya tentang kejadian yang baru saja terjadi akhir-akhir ini. Kaki mungilnya mulai mengaduk-aduk salju yang menumpuk di bawah bangku halte bus.

Entah sudah berapa lama ia termenung, akhirnya sebuah bus datang juga. Dua orang yang sebelumnya berada di sekitar halte bus itu sudah menaiki bus. Sementara Hinata tampak ragu. Antara naik atau tetap duduk di halte bus. Menunggu seseorang, menunggu Naruto…

Ah, dia lupa. Dia pernah membuat Naruto terlambat masuk kelas karena ia menunggu Naruto untuk naik bus bersama, sedangkan Naruto sendiri jelas-jelas tak ingin berdekatan dengannya. Sangat sakit kalau mengingat itu.

Akhirnya, ia putuskan untuk tidak menunggu Naruto.

~'~"~'~

"Ohayo…" gumam kecil Hinata sembari membuka pintu kelas secara perlahan. Tak dilihatnya siapapun di dalam. Gadis itu menghela nafas dengan panjang, lalu melirik jam dinding bulat yang menempel pada dinding kelas. 6.25. tentu saja kelas masih kosong. Siapa yang senang datang ke sekolah sepagi itu sedangkan kelas baru akan dimulai satu jam lebih kemudian?

Hinata menggantung tasnya pada gantungan yang ada di samping mejanya. Setelah itu, ia segera duduk di bangkunya dan membuka-buka buku pelajaran. Sekedar mengulang pelajaran yang beberapa minggu ini tak tertelan oleh otaknya.

~'~"~'~

Kelas akhirnya mulai penuh. Satu-persatu teman-teman sekelas Hinata berdatangan.

Sesosok anak manusia berambut matahari membuka pintu kelas seenaknya. Ia mengangkat salah satu telapak tangannya dan menyapa seisi kelas dengan ramai, "Yo! Ohayoooo minna-san…!"

Beberapa anak lelaki di kelas itu membalas sapaannya. Ada yang membalas dengan menyindir, membicarakan tentang Naruto-yang-tidak-telat-datang-ke-sekolah atau apalah, sebelum akhirnya menjadikan Naruto sebagai bahan candaan. Tentu saja Naruto-walaupun tidak terima dirinya di tertawakan- ikut bercanda dengan mereka.

Hinata terus memperhatikan sosok Naruto hingga akhirnya lelaki itu menyudahi acara tertawanya dan segera menghampiri bangkunya. Karena ia duduk di deretan belakang, ia harus melewati bangku Hinata terlebih dahulu sebelum bisa mendarat di bangku miliknya sendiri. Kesempatan itu digunakan Hinata untuk menyapanya.

"Ng… Ohayo, Naruto-kun…"

Naruto menoleh kepada Hinata. Hinata sangat terkejut saat Naruto mendengar sapaannya. Ia tersenyum senang pada Naruto. Gadis itu berharap Naruto akan menjawab sapaannya.

Sedang Naruto sendiri sibuk dengan pikirannya. Ia memang memandang Hinata, tapi pikirannya tidak pada Hinata. Ia teringat pada gantungan kunci-yang sepertinya- milik Hinata, yang ia temukan dan sejak itu terus bersemayam di kantung celananya. Sungguh ia ingin mengembalikan gantungan kunci itu. Tapi, tidak tahu kenapa, hatinya memberi perintah untuk tidak menyerahkan benda itu sampai ia berhasil membuat gadis di hadapannya itu menangis. Sampai ia memenangkan pertaruhan ini.

Naruto akhirnya mengembalikan posisi kepalanya ke tempat semula dan kembali berjalan ke kursinya tanpa berkata apapun. Sementara Hinata, mengikuti Naruto dengan ekor matanya.

"Ohayo!" Sebuah suara ceria terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu kelas. Seorang gadis berambut pink. Terdengar hampir seisi kelas membalas sapaannya. Hinata mengalihkan Amethyst-nya dari Naruto menuju arah suara itu. Rupanya Sakura.

Sakura berjalan menuju bangkunya. Tapi, dirinya tercegat oleh sapaan Hinata yang penuh senyum, "Ohayo, Sakura-chan."

Sakura menoleh pada Hinata dengan canggung. Melihat gadis ungu itu membuatnya harus mengingat kejadian kemarin. Juga membuatnya mengingat tentang kecurigaannya tentang perasaan Sasuke terhadap Hinata yang… entahlah. Sepertinya Gadis penggemar pink itu tak sanggup mengatakannya.

"Sakura-chan?" Suara Hinata kembali terdengar membuat Sakura tersedot kembali dari alam pikirannya.

"Eh, ng... Ohayo.." Jawab Sakura sekenanya. Ia segera duduk di tempatnya yang berada di belakang Hinata.

Hinata memutar tubuhnya dan berkata, "Sakura-chan, Ng… aku mau tany-"

"Gomen, Hinata-chan… aku mau ke toilet." Potong Sakura cepat dan segera berjalan meninggalkan bangkunya.

"Ah, Sakura-chan!" Panggil Hinata sekali lagi. "Sakura-chan…" yang Dipanggil –dengan berat hati- menahan langkah kakinya dan memutar kepalanya menghadap Hinata. "Ng, k-kalau boleh… Nanti kita makan bekal bersama lagi, ya?"

Sakura mengerjapkan matanya. Wajahnya tampak sulit diartikan. Setelah beberapa detik ia terdiam, ia menjawab, "Aku sudah janji makan bekal dengan orang lain. Gomen." Kali ini Sakura berlari agar Hinata tak memanggilnya lagi dan membuatnya menyesali keputusannya menolak ajakan Hinata.

Hinata cukup kecewa mendengar jawaban Sakura. entah mengapa dan entah bagaimana, ia merasa ada yang ganjil dengan tingkah Sakura kali ini. Seolah-olah gadis itu sedang berusaha menghindarinya.

'Sakura-chan…' Batinnya.

~'~"~'~

Beberapa detik yang lalu, pelajaran pertama telah selesai. Kini kelas mulai berdenging oleh suara para murid yang saling bercerita, Menunggu datangnya Sensei yang akan mengajar mata pelajaran selanjutnya.

Hinata menutup bukunya seusai sedikit merapikan catatannya. Ia mendesah pelan dan memandang papan tulis hitam yang dipenuhi tulisan kapur berwarna putih. Karena sepertinya tak ada yang berniat membersihkannya, Hinata berinisiatif untuk menghapusnya sebelum guru mata pelajaran kedua datang.

Ia bangkit dari duduknya, mengambil sebuah penghapus papan tulis dan mulai menghapus. Bagian bawah papan tulis hitam itu sudah berhasil ia bersihkan. Tidak dengan bagian atasnya. Ia mencoba menggapai bagian atas dengan berjinjit. Sesekali ia melompat. Namun, tak jua membuahkan hasil. Papan tulis itu terlalu tinggi baginya.

Tiba-tiba sebuah tangan dengan penghapus papan tulis menghapus bagian yang tak terjangkau Hinata tersebut. Hinata yang terkejut memutar tubuhnya 180 derajat untuk melihat siapa gerangan yang telah membantunya. Ia mendapati seorang lelaki bermata gelap…

"S-Sasuke-san…" Gumam Hinata. Sasuke yang mendengar gumaman itu hanya melirik kecil dan kemudian meletakkan penghapus itu di tempatnya semula. Sadar bahwa Sasuke akan kembali duduk, Hinata buru-buru berucap, "Arigatou…"

Sasuke melirik melalui celah bahunya dan menjawab, "Hari minggu. Jangan lupa." Tanpa menunggu jawaban Hinata, ia kembali ke tempat duduknya.

Hinata mengangguk sebagai jawaban. Walaupun dia tahu kalau Sasuke tak bisa melihat anggukannya karena lelaki Raven itu berjalan memunggunginya.

Kelas terlalu ramai sehingga tak ada yang melihat maupun mendengar Sasuke dan Hinata tadi. Tidak, kecuali dua orang yang sepertinya terlihat kurang menyukai kedekatan dua orang itu. Sakura dan Naruto.

Entah mengapa, Naruto kurang suka apabila ia melihat Hinata dekat dengan Sasuke. Tanpa ia sadari, ia menggenggam gantungan kunci-milik Hinata-yang berada di saku celananya, dengan erat.

Drrrt. Drrt…

Handphone oranye miliknya bergetar. Ia segera mengambil Handphone tersebut dan membuka flapnya. Sebuah email baru dari Sakura. Naruto melirik Sakura yang duduk tak jauh di depan bangkunya. Menyadari dirinya di tatap oleh Naruto, Sakura memberi isyarat pada Naruto untuk segera membaca email yang dikirimnya. Naruto memilih untuk menuruti perintah gadis merah muda itu dan membaca email darinya.

~'~"~'~

Esok kembali menyapa. Matahari sudah mengawang di langit sejak beberapa jam yang lalu. Namun sinarnya tampak remang akibat tebalnya gulungan awan di langit. Seorang gadis tampak sibuk bersiap-siap. Memakai kemeja polos berbahan tebal berwarna putih dipadu dengan rok selutut berwarna ungu. Ia memakai stocking hitam. Tak lupa ia membungkus tubuhnya dengan sebuah mantel cantik bermotif kotak-kotak berwarna ungu-pink. Rambut panjang sepunggungnya ia biarkan terurai begitu saja, dengan sebuah jepit rambut rajutan berbentuk pita ungu yang ia sematkan pada rambut bagian kirinya.

"Neji-nii, aku mau ke tempat Obasan. Neji-nii mau ikut?" Tanya gadis itu lembut sekeluarnya ia dari kamarnya. Ia sudah siap dengan menggendong sebuah tas mungil di bahu kanannya.

Neji yang baru saja akan masuk ke dalam kamarnya-yang kebetulan berada di seberang kamar Hinata- menatap Hinata sekilas dan menggeleng pelan. Sebelum ia masuk ke dalam kamar, ia berpesan pada Hinata, "Titip salam saja."

Hinata mengerti dan mengangguk kemudian menuju ruang keluarga dan duduk bersimpuh di depan pintunya. Ia membuka pintu ruang keluarga dengan cara menggeser pintu itu ke samping.

Tampak seorang lelaki paruh abad sedang duduk di depan sebuah meja dengan ribuan kertas tertumpuk di atasnya. Hinata memanggilnya dengan pelan dan sesopan mungkin, "Otou-sama."

Lelaki yang dipanggil ayah itu mengalihkan pandangannya menatap sang anak. Walau tatapan sang ayah begitu datar, namun Hinata dapat merasakan kehangatan dalam pancaran matanya.

"Hinata akan ke tempat Oba-san. Ada yang ingin Otou-sama titip untuknya?" tanya Hinata masih bersimpuh di depan pintu ruangan itu. Sang Ayah berdehem mengiyakan. Ia memberi isyarat kepada Hinata untuk menghampirinya. Hinata segera bangkit dan menghampiri Ayahnya.

Hyuuga Hiashi, sang pimpinan Hyuuga corporation sekaligus Ayah Hinata memberikan beberapa lembar uang dan berkata memerintah Hinata, "Belikan bunga bakung saja untuknya. Jangan lupa kunjungi Okaa-sama. Bawakan bunga juga untuknya. Bunga yang biasa Otou-sama berikan padanya. Katakan, bunga itu dari Otou-sama." Setelah itu, lelaki tersebut membenarkan posisi duduknya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Hinata tanpa banyak bicara menurut dan segera bangkit dari duduknya. Ia keluar ruang itu dan menutup pintu tersebut dengan cara menggesernya.

"Neechan?" Sebuah suara mengejutkannya. Hinata menoleh menghadap asal suara. Ditemukannya Hanabi sedang berdiri di belakangnya. "Mau kemana?"

"Ke tempat Oba-san. Otou-sama juga menyuruh Neechan mengunjungi Okaa-sama." Hinata bernafas mengambil jeda. "Hanabi-chan mau ikut?" Tanyanya pada adiknya yang masih duduk di sekolah menengah pertama itu.

"Sama siapa? Sasuke-nii?" Setelah Hanabi menyebutkan sebuah nama, Hinata mengangguk.

"Aku mau, tapi… ada tugas. Aku akan kunjungi mereka minggu depan saja. Akan ku ajak Neji-nii." Hanabi mengutarakan ketidak bisaannya. "Hati-hati, Neechan." Kemudian Hanabi berlalu.

Hinata bergerak menuju pintu keluar dan segera memakai sepatunya. Ia berkata dengan suaranya yang merdu, "Ittekimasu." Sebelum melangkah keluar rumah.

Terdengar jawaban dari hanabi yang berada di dalam rumah itu, "Itterasai…"

Di depan rumah dengan aksen jepangnya yang kental itu, Sasuke sudah menunggunya. Hinata dapat melihat sosok itu berdiri memunggunginya. Hinata menyapanya canggung, "S-Sasuke-san, menunggu lama?"

Yang ditanya hanya diam tak menjawab. Ia menatap Hinata sekilas sebelum kembali menatap jalan di sekitar situ. Tanpa bersuara, Sasuke berjalan meninggalkan tempat itu. Seolah mengerti ajakan Sasuke, Hinata mengekor di belakang.

"Otou-sama menyuruhku membeli bunga dulu. Kau bisa menunggu sebentar?" Hinata angkat suara. Sasuke melirik sekilas pada Hinata yang berjalan di belakangnya, kemudian ia berdehem mengijinkan.

Dari kejauhan, tampak seorang gadis berambut pink dengan kacamata hitam besar di sertai topi rajut merah, memperhatikan tindak-tanduk mereka dari jauh. Ia memandang mereka tak suka.

Sedangkan seorang lelaki tanpa penyamaran apapun berdiri malas di sampingnya.

"Kita ngapain, sih Sakura-chan?" Celetuknya dengan suara keras. Sakura mendesiskan bibirnya memberi tanda pada lelaki itu untuk diam.

"Kalau kita seperti ini, namanya kita Stalker. Nggak boleh lho, buntutin orang seperti ini." Cerocos Naruto sok memberi ceramah. Sakura kembali berdesis.

"Ssst, Naruto-Baka, seperti yang kukatakan dalam emailku kemarin. Aku cuma mau memastikan keadaan Hinata-chan aja." Sakura beralasan.

Naruto meletakkan kedua lengannya di belakang kepala kuningnya dan mencibir tak suka, "Hinata atau Sasuke-'kun'?" Naruto memberi penekanan pada kata 'kun'

"Diam dan ikuti aku saja, Naruto. lagipula dengan mengikutiku, kau bisa jalan berdua denganku, 'kan? Kau diuntungkan juga, tahu." Sakura terpaksa mengatakan alasan yang paling tidak ingin ia katakan. Naruto tersenyum sumringah mendengarnya.

~'~"~'~

"Sakura-chan, Di sana ada warung mie ramen. Ayo mampir!" Naruto menarik ujung mantel Sakura berkali-kali. Namun, Sakura masih asyik mengamati dua manusia yang berada di depan toko bunga. Sepertinya mereka sedang memilih rangkaian bunga.

Tanpa menjawab, Sakura menepis tangan Naruto dan kembali melanjutkan acara 'memata-matai'-nya. Naruto menekuk wajahnya kesal diiringi dumelan beruntun.

Sakura dapat melihat Sasuke menyerahkan rangkaian bunga mawar-yang sebelumnya ia pegang- kepada Hinata. Hinata menerimanya tanpa malu-malu. Kemudian kedua orang itu terlihat sedikit bercakap-cakap-sayangnya Sakura tak dapat mendengar isi percakapannya- sebelum kembali berjalan meninggalkan toko bunga. Jarak kedua insan itu tampak dekat. Sesekali Sakura melihat, lengan mereka tak sengaja bersentuhan.

Naruto yang sebenarnya melihat hal itu, merasa tak suka melihat kedekatan Hinata dan Sasuke. Ada perasaan tak rela melihat Hinata jalan beriringan dengan orang lain. Namun, ia segera menepis pikiran itu jauh-jauh dari benaknya. 'Kalau hubungan mereka lancar, Aku bisa mendekati Sakura-chan tanpa ada gangguan siapapun. Baik gangguan Hinata atau gangguan si Teme itu.' batinnya.

"Naruto." Sakura menyebut namanya. Naruto otomatis menghadapkan kepala oranye-nya pada Sakura yang sudah mulai berjalan membelakanginya. "Menurutmu, Apa hubungan Hinata-chan dan Sasuke-kun?"

Naruto yang tidak mau tertinggal di belakang, segera menyusul Sakura dan menyamakan langkahnya. Ia mengangkat bahunya tanda tak tahu. "Mana aku tahu. Mungkin, dulu mereka pacaran?" tebak Naruto.

Sakura memotong cepat, "Nggak mungkin! Kita teman Sasuke-kun sejak kita masih jadi anak ingusan. Dan nggak sekalipun pernah Sasuke mendekati perempuan selain ibunya. Ini pertama kalinya aku melihatnya bersama anak perempuan." Sakura membantah Naruto.

"Bisa saja, 'kan? Kau sebegitu menyukai Sasuke sampai nggak mau melihat kenyataan, Sakura-chan." Naruto berkata sambil menyetopkan sebuah taksi. Ia memberi isyarat pada Sakura untuk naik, agar bisa segera mengejar taksi Sasuke dan Hinata yang sudah lebih dulu melaju. Entah sejak kapan, ia ikut andil memata-matai Hinata dan Sasuke.

"Jangan mulai lagi, Naruto." Sakura menatap bebas pemandangan yang bergerak dibingkai oleh jendela taksi itu. tentu setelah mengambil tempat untuk duduk. "Kalau kau berkata seperti itu, ujung-ujungnya kau pasti akan mengatakan hal yang sama seperti beberapa hari yang lalu itu. Percakapan kita pasti akan berlanjut pada pernyataan –bla-bla-bla- mu itu." Sakura bergumam tak jelas. Ia semakin malas menanggapi Naruto.

"Tapi, Sakura-cha-"

"Sudahlah, Naruto. Tolong aku dengan cara mengunci mulutmu." Perintah Sakura menatap Naruto melalui refleksi yang di pantulkan oleh kaca jendela. Naruto mengalah dan memilih untuk diam menuruti keinginan Sakura. Ia menatap ke luar melalui jendela taksi yang lain.

~'~"~'~

Taksi berhenti tepat di depan sebuah plang bertuliskan 'Konoha's Graveyard.' Tampak seorang pemuda berambut Raven dan seorang gadis berambut Indigo turun dari kendaraan tersebut. setelah menyerahkan sejumlah uang kepada sang sopir taksi, Sang gadis yang tak lain adalah Hinata menyusul Sasuke-si pemuda- yang sudah lebih dahulu masuk ke tempat itu.

Sakura dan Naruto pun turun dari taksi mereka beberapa detik setelah dilihatnya Hinata dan Sasuke menghilang di balik jalan setapak tempat itu. Sempat terhenyak Sakura dan Naruto ketika melihat tempat pemberhentian kedua pasang manusia itu selanjutnya. Sakura berpikir, bahwa tempat mereka berhenti selanjutnya mungkin di bioskop, restoran keluarga atau tempat-tempat yang menimbulkan kesan romantis. Tapi ini…

"Si Teme itu syarafnya sudah rusak." Gumam Naruto lebih kepada dirinya sendiri. "Kencan di kuburan?"

"Ssst! Suaramu terlalu keras." Sakura menarik Naruto dengan kasar agar Naruto bergerak mengikutinya. Mereka kembali mengekori jejak Hinata dan Sasuke dengan sesekali bersembunyi di balik dinding atau pohon.

Hinata dan Sasuke tampak berjalan dengan lenggang. Kondisi mereka adalah Sasuke berjalan di depan dan Hinata berjalan di belakang. Hinata memeluk sebuah rangakaian bunga mawar yang cukup besar. Sehingga terlihat dengan jelas bahwa rangkaian bunga itu menghalangi pandangan Hinata untuk berjalan. Beberapa kali Hinata terseok oleh gundukan salju, namun tak sampai terjatuh. Naruto tanpa sadar menyunggingkan senyumnya melihat tingkah Hinata yang menggelitik perutnya.

Sang gadis Hyuuga dan pemuda Uchiha berhenti tepat di depan dua buah makam. Sasuke berlutut menatap salah satu nisan itu. Tangannya yang sempurna tanpa cacat mengusap butiran salju yang membeku di atas nisan itu. Sebuah nama dan tanggal kematian mulai tampak setelah ia menyingkirkan salju di nisan tersebut. Tatapan matanya yang semula dingin, kini melembut.

Sasuke memasukkan tangannya pada kantung jaketnya, dan tangan itu ia tarik keluar dari jaket dengan menggenggam dua tangkai mawar merah muda. Warna kesukaan sang wanita yang namanya tertulis di nisan tersebut. Ia meletakkan bunga itu di atas nisan tersebut kemudian tersenyum dan melirih, "Okaa-san."

"Oba-san, Ohayo gozaimasu." Sapa Hinata sopan setelah meletakkan bunga bakung pesanan Ayahnya di atas nisan yang berada di depan Sasuke. "Ini dari Otou-sama. Dan Neji-nii memberimu salam. Ia akan datang minggu depan bersama Hanabi-chan. Mengujungimu, oba-san. Juga mengunjungi Okaa-sama."

"Sasuke-san bilang, Itachi-niisan tidak bisa datang karena kuliahnya. Karena itu, Hinata menggantikannya menemani Sasuke-san." Lanjut Hinata lagi.

"Otou-sama menyuruhku mengunjungimu juga, Okaa-sama." Hinata akhirnya menurunkan rangkaian bunga mawar dan menaruhnya di atas makam yang berada tepat di sebelah kanan makam ibunda Sasuke. Makam itu berukirkan 'Hyuuga' dengan tanggal wafat yang sama persis dengan tanggal kematian di nisan ibu Sasuke.

Setelah kalimat Hinata itu, mereka cenderung diam. Bahkan hampir tak ada suara selama lima belas menit mereka berlutut di depan nisan ibu mereka masing-masing. Tak jarang awan putih mengepul dari mulut mereka karena perbedaan udara dalam tubuh dan luar tubuh. Angin tampak sesekali bermain dengan ujung rambut mereka. Terutama pada rambut panjang Hinata.

~'~"~'~

"Naruto, Apa kau bisa dengar apa yang mereka katakan?" Sakura berbisik setelah menyikut Naruto yang berdiri di sebelahnya. Setengah menyembunyikan badannya di balik pohon besar. Mereka memperhatikan Sasuke dan Hinata dari jarak yang cukup jauh sehingga tak dapat mendengar pembicaraan mereka.

Naruto memicingkan matanya guna memfokuskan pandangannya. Ia berharap, setidaknya dapat menerka isi pembicaraan Sasuke dan Hinata dengan cara membaca gerak bibir keduanya. namun sayang, mereka berdiri membelakangi Naruto dan Sakura. "Aku nggak dengar apa-apa."

Walau begitu, Naruto terus mencoba. Ia pertajam pendengaran dan penglihatannya. Beberapa kali, ia mencondongkan tubuhnya kedepan, mempersempit jarak antara dia dengan Sasuke dan Hinata. Terus sampai tanpa sadar…

Srag

BRUK!

"Uwaaa!" lelaki jingga itu terjatuh dalam tumpukan salju. Suaranya terdengar dengan kerasnya. Sakura yang melihat jatuhnya makhluk oranye itu, segera melipat kakinya untuk jongkok, menarik Naruto untuk bersembunyi di balik pohon dan membekap mulut Naruto dengan kedua telapak tangannya yang dilapisi sarung tangan wol senada dengan topi rajutnya.

"B-Baka!" Bisik Sakura kesal. Sebenarnya, ingin sekali rasanya Sakura meneriaki kecerobohan Naruto. Jika saja mereka tidak sedang menguntit, mungkin sudah ia laksanakan keinginan itu.

~'~"~'~

Srag

BRUK!

"Uwaaa!"

"A-apa itu…" Gumam Hinata pada dirinya sendiri. Ia terkejut karena kekhusyuannya berdoa untuk ibunya terganggu oleh suara misterius yang entah dari mana datangnya.

Hinata mengangkat tegak punggungnya dan menoleh ke kanan-kiri, mencari asal suara. Setelah tak mendapat jawaban yang ia inginkan, ia mengalihkan perhatiannya pada Sasuke yang masih berdoa. Sepertinya lelaki disampingnya tak terusik oleh suara itu.

Hinata menunggu sampai ia rasa Sasuke telah selesai berdoa. Masih dalam posisi jongkok di hadapan makam ibunya, Segera ia bertanya, "Apa Sasuke-san dengar suara barusan?"

"Mungkin kucing." Jawabnya singkat tanpa merubah posisi, tanpa menatap mata sang penanya. Cukup aneh manusia es sepertinya mau menjawab pertanyaan konyol yang dilontarkan Hinata.

"K-kucing?" Hinata kembali bertanya tak mengerti.

Dengan diiringi seringaian yang terlihat mengerikan dan tak dapat dimengerti oleh Hinata. Sasuke kembali menjawab pertanyaan Hinata dengan nada bicara datar "Ya. dua ekor kucing penguntit yang menyebalkan."

~'~"~'~

Setelah mengambil jeda beberapa saat untuk tidak mengintip, Sakura kembali melongokkan sebagian kepalanya untuk melihat kondisi Hinata dan Sasuke. "Kumohon, jangan dengar, jangan dengar, jangan dengar…" bisiknya berkali-kali bagai sebuah kaset rusak. Sedang Naruto, duduk disamping Sakura dengan mulutnya masih ditutupi tangan Sakura.

"Eh?" ucap Sakura spontan. Ia tak melihat siapapun lagi di tempat Sasuke dan Hinata sebelumnya berada. Kontan saja ia panik.

"N-Naruto… mereka nggak ada!?" Sakura akhirnya melepas tangannya dari Naruto. Naruto, menyempatkan diri untuk sedikit menggerutu karena bungkaman Sakura, kemudian ikut melongok dari balik pohon. Benar. Mereka tak ada di tempat.

"J-jangan-jangan mereka sadar…" Opini Sakura sambil terus menatap dari balik pohon.

"Nggak. Mungkin mereka sudah pulang." Naruto mencoba berpikir positif. Ia tidak ingin disalahkan oleh gadis bubble gum itu gara-gara kejadian tadi. Naruto-pun masih mengintip dari balik pohon.

"Gara-gara Baka-Naruto, sih!" Sakura mulai menyalahkan Naruto.

"Salahkan saljunya. Aku jatuh gara-gara saljunya terlalu licin!"

"Alasan apaan, tuh? Ngg-"

"Ehem…" sebuah deheman yang cukup keras memotong acara perang mulut mereka. Tunggu dulu. Sepertinya mereka mengenal suara tersebut. Sangat kenal malah.

Sekujur tubuh Naruto maupun Sakura kini menegang. Mereka merasakan thrill yang luar biasa dari arah punggung mereka. Keringat bercucuran di seluruh tubuh. Seakan-akan, yang berdiri di belakang mereka saat ini adalah dewa kematian yang siap merenggut nyawa mereka saat itu juga. Gugup benar-benar menguasai mereka.

Dengan perlahan, Naruto dan Sakura memutar lehernya, untuk melihat siapa gerangan yang sedang berdiri di belakang mereka. Tubuh mereka semakin kaku tatkala melihat pelaku yang telah menciptakan ketegangan pada mereka.

Lebih menyeramkan dari dewa kematian sekalipun.

"S-Sa-s-su-ke-kun…n…" ucap Sakura terbata-bata sedang Naruto, tanpa sengaja menggigit lidahnya sendiri saat akan menyebut nama temannya itu.

Sang Raven yang namanya baru saja disebut, membalas dengan tatapan dingin tak dapat dimaknai.

"Y-yo! Sasuke-Teme… Kebetulan ketemu di sini…" Ceplos Naruto tanpa pikir panjang. Sakura melirik Naruto kesal.

'Kenapa dia bicara seperti itu? ketahuan banget bohongnya!' Batin Sakura kacau. Antara panik dan jengkel.

Benar saja. Sasuke bergeming. Tetap diam tak menjawab basa-basi Naruto. Hanya bola matanya saja yang memberi jawaban pada kedua penguntit itu.

"Sasuke-san!" Dari kejauhan, Hinata berlari ke arah di mana mereka bertiga berada. Langkah kakinya yang kecil terkadang terseok akibat salju yang bertumpuk. "S-Sasuke-san, Tunggu…" Teriaknya lagi di sela sengalan nafasnya. Sasuke tak menatapnya sekalipun.

"Eh, Sakura-chan?" Ujarnya dengan nada bicara terkejut setelah akhirnya berhasil mengejar Sasuke dan berdiri selangkah di belakang punggung tegap Sasuke. "N-Naruto-kun…?" Sambungnya ragu-ragu saat melihat Naruto duduk di samping Sakura. "A-apa yang kalian lakukan di sini?"

"Ng…" Keduanya bergumam bersamaan. Bagai suara ribuan lebah yang berdenging dengan kerasnya. "Kami s-"

"Kalian sendiri sedang apa disini?!" Tanya Sakura memotong alasan yang akan diluncurkan Naruto. "K-k-KENCAN, ya?" Tuduhnya sembari menudingkan telunjuk kanannya pada wajah Hinata dan Sasuke.

Hening untuk beberapa saat. Hanya terdengar deru angin yang terkadang bersiul di telinga mereka. Sakura masih dalam keadaan menunjuk Sasuke dan Hinata. Hingga akhirnya hening dipecahkan oleh Sasuke. Ia menyerongkan kepalanya ke kiri, menutup sebagian wajahnya dengan salah satu tangannya. Ia tertawa kecil-hampir berbisik- mendengar tuduhan Sakura yang begitu kekanakan-menurutnya. Pemandangan langka. Justru Hinata yang menjawab pertanyaan Sakura dengan panik.

"B-bu-bukan, Sakura-chan… j-jangan salah sangka… a-aku dan Sasuke-sa-"

"Aku dan Hinata sepupu." Sasuke menyela Hinata. "Okaa-san dan Obasan saudara kembar. Aku sepupu Hinata dari Ibunya, sedangkan Neji adalah sepupu Hinata dari Hiashi-Ojisan."

Sakura terdiam mendengar Sasuke. Bukan karena pangeran es itu berbicara dua kali lipat lebih banyak dari biasanya, tetapi karena jawaban lelaki itu. "Sepupu?" Sakura mengulangi sepenggal kata dari kalimat Sasuke. Sasuke tak menjawab Sakura. ia hanya memandang Sakura tanda mengiyakannya.

Gadis berambut pink itu melepas kacamata -yang sebelumnya membingkai matanya- dengan asal dan memalingkan wajahnya yang memerah malu. Sedangkan sang pemuda berambut kuning hanya bisa menyengir dan menggaruk kepalanya dengan acak. "S-sudah kubilang, kan Sakura-chan…"

"S-Sudah! Naruto-baka!" Sakura menyikut Naruto jengkel. "Ng…Anoh, Sasuke-kun…" Sakura kembali bertanya. "Sejak kapan tahu kalau kami membuntutimu?" Sakura memain-mainkan ujung bajunya yang menyembul keluar dari jaketnya.

"Dari aku keluar rumah, menunggu Hinata di depan rumahnya, di toko bunga, turun dari taksi, sampai selesai kami memberi bunga pada Okaa-san dan Oba-san. Dari awal aku sudah sadar." Ujar Sasuke memutar tubuhnya menghadap kedua mata-mata itu. Berbicara dengan arogan, menatap dengan dingin.

Mendengar itu, Naruto semakin lebar menyengir sedang Sakura semakin kuat menarik-narik ujung bajunya.

"Sudahlah, aku lelah. Kalau sudah berhadapan dengan kalian berdua, aku jadi berbicara tiga kali lebih banyak dari biasanya." Sasuke mengantongi kedua tangannya dan bersiap untuk berbalik.

"Ng, Sasuke-kun!" Seru Sakura. Sasuke membalas panggilan Sakura dengan tatapannya. "Apa kau suka Hinata-chan?" Sakura kembali bertanya dan kali ini secara frontal.

Hinata menggeleng cepat. 'Ma-mana mungkin?!' ucapnya panik. Hanya saja ia mengucapkannya dalam hati.

"Nggak." Jawab Sasuke apa adanya.

"S-Sakura-chan." Hinata berusaha meluruskan kesalahpahaman tersebut. "Sasuke hanya menganggapku saudaranya. Terlebih karena aku, mirip dengan… kedua ibu kami yang sudah lama pergi."

"Benarkah? Beberapa hari yang lalu aku melihat kalian berdua…" Jeda Sakura ciptakan karena merasa tak rela mengucapkan kalimat selanjutnya. "… berpelukan. Di halaman belakang sekolah." Gadis pink itu merasa risih saat harus mengucapkan kata 'berpelukan'. "Selain itu, Sasuke-kun berkata bahwa dia merindukanmu, Hinata-chan…"

Sasuke dan Hinata saling berpandangan mendengar kalimat Sakura. Beberapa detik kemudian, mereka tertawa. Lebih tepatnya, Sasuke tersenyum dan iHiHinata tertawa sambil menutup mulutnya.

"S-Sakura-chan, sebenarnya begini…"

~'~"~'~

"Hinata."

Hinata mengangkat kepalanya untuk memenuhi panggilan Sasuke. Dan saat itu juga, matanya bersinar senang melihat gantungan kunci itu tergantung di salah satu jemari Sasuke. Ia berdiri dan menghampiri Sasuke dengan cepat.

Sasuke menyerahkan gantungan itu pada Hinata. Senyum lebar terlukis di wajah ayu gadis Hyuuga itu.

"Arigatou… Sas-"

Tangan Sasuke menarik Hinata hingga gadis itu jatuh ke dalam pelukan Sasuke. Sasuke memeluk Hinata dengan erat. Hingga Hinata dapat merasakan kehangatan mengalir ke dalam tubuhnya. Tangan mungil Hinata yang mengepal berusaha mendorong tubuh Sasuke agar menjauh darinya.

"Aku merindukanmu…" Sasuke mengeluarkan sepatah kata tanpa intonasi.

"Sasuke-san, A-aku…"

Belum selesai Hinata meneruskan perkataannya, Sasuke mengucapkan sebuah kata di telinga Hinata, yang membuat Hinata terhenyak mendengarnya.

"…Okaa-san." Sontak Hinata menghentikan pukulannya pada Sasuke.

"Sasuke-san…" Panggil Hinata sekali lagi. Sasuke masih memeluk Hinata. "Kau masih menganggapku seperti itu?" Tanya Hinata setelah mendengar Sasuke memanggilnya 'Okaa-san'. "Seperti Mikoto-Obasan?"

Sasuke diam tak menjawab. Ia tak sekalipun berniat melepaskan Hinata dari dekapannya. Sedang Hinata, iapun diam tak bergerak. Tak sekalipun berniat menolak Sasuke setelah mendengar sepatah kata yang di ucapkan Sasuke beberapa detik yang lalu.

"Dari dulu, pandanganku padamu tak berubah." Ujar Sasuke akhirnya. Menceraikan kesunyian ketika itu. "Kau selalu terlihat seperti Okaa-san."

"Ta-tapi kau tahu, 'kan kalau aku-" -Bukan Mikoto-Obasan. Sayangnya Hinata tak dapat meneruskan kalimat terakhirnya karena Sasuke memotongnya.

"Aku tahu." Sasuke dengan cepat. "Aku tahu kalau kau bukan Okaa-san. Karena itu hari Minggu, temani aku ke tempat 'itu'..."

"Tempat 'itu'?" Hinata menautkan alisnya. "Tempat 'Okaa-san'-mu? tempat yang… dulu?" Hinata kembali bertanya. 'Makam Mikoto-Obasan?' tanyanya dalam hati. Entah kepada siapa.

"Hn." Jawaban Sasuke terdengar samar.

"J-jangan-jangan… hari Minggu nanti adalah hari…"

"Hn." Sasuke tak ingin Hinata meneruskan kalimatnya dan membuatnya mengingat duka itu. itu sebabnya pemuda itu memotong cepat kalimat Hinata.

'Begitu rupanya. Hari berlalu begitu cepat. Aku bahkan tidak ingat kalau hari Minggu nanti adalah peringatan hari kematian Okaa-sama dan Oba-san…' Tutur hatinya. Ia merasa bersalah karena telah melupakan hari kematian ibundanya tercinta.

Akhirnya Hinata putuskan untuk mengangguk mengiyakan ajakan Sasuke.

~'~"~'~

Sakura mengangguk-anggukkan kepala pinky-nya setelah menyimak penjelasan Hinata. Sasuke sendiri hanya diam bagai patung yunani. Sedang Naruto, Ia-berusaha- memasang wajah mengerti.

"Ha~h…" Desah Sakura lega. "Yokatta, ne… kupikir…" Sambungnya sembari mengelus dadanya.

"Hn, Kau pikir apa." Kalimat tanya dari Sasuke yang tak terdengar seperti pertanyaan.

"Ng-Nggak-nggak-nggak-nggak." Sakura menggelengkan kepalanya dengan cepat diiringi kibasan tangannya di depan wajah manisnya. "Bukan apa-apa. Lupakan saja, Ahahahaha…" Gadis itu tertawa hambar dengan pipinya yang semakin merah karena memendam malu yang berlebihan.

"Teme, Chotto." Naruto merangkul Sasuke dan menjauh untuk sedikit memberi pertanyaan pada teman baiknya itu. Sakura sendiri menghampiri Hinata untuk membicarakan masalah pribadi-wanita.

"Hinata-chan, Gomen nee…" tukas gadis serba merah muda itu sambil sedikit membungkukkan tubuhnya. Menunjukkan keseriusannya dalam meminta maaf.

"E-eh? Kenapa minta maaf, Sakura-chan?" Hinata gelagapan. Tak mengerti makna polah-tingkah Sakura.

"Hinata-chan." Sakura kembali berdiri tegak. "Aku sudah berprasangka buruk padamu. Aku kira kau menyukai Sasuke-kun dan Sasuke-kun juga menyukaimu. Gomen!" Sakura kembali membungkukkan tubuhnya.

"Aaa…. Nggak apa-apa, Sakura-chan. Maafkan aku…" Hinata sedikit panik dan ikut membungkukkan badan.

"Aku yang salah, kenapa jadi kamu yang meminta maaf, Hinata-chan?" tanya Sakura masih dalam posisi tubuh membungkuk.

"E-e… K- karena… aku nggak pernah menceritakan hal ini padamu. Kalau aku menceritakannya, kesalahpahaman seperti ini nggak akan terjadi…" jawab Hinata. Tubuhnya pun masih membungkuk dengan kedua tangan ia sampirkan ke samping. Jadilah mereka bercakap-cakap dengan posisi ganjal seperti itu.

Pada akhirnya mereka menyadari keanehan itu dan kembali berdiri tegak serta menertawakan diri mereka sendiri.

~'~"~'~

"Aa!" Sakura menjentikkan jarinya pertanda bahwa ia mendapat sebuah ide. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" ujarnya setelah mereka keluar dari kawasan kuburan.

"Ee? Kemana?" Naruto membalas kalimat Sakura. Sementara Sasuke dan Hinata hanya menatap Sakura menunggu kelanjutan kalimat Sakura. Sakura tersenyum.

"Hmm…." Sakura memasang mimic berfikir. "Bagaimana kalau ke taman bermain Konoha Land? Aku sudah lama sekali tidak ke sana."

Deg!

Taman bermain? Konoha Land?

Hinata dan Sasuke saling pandang dengan tatapan yang sulit di terjemahkan.

"Terdengar menyenangkan." Celetuk Naruto penuh senyum.

"A..Ano…" Hinata berusaha menyela.

"Ya, 'kan?" Sakura membalas celetukan Naruto dengan ceria. Mereka tak mendengar Hinata.

"A…Ano…" Kembali Hinata berusaha menyela."K-kami tak bisa-"

"Nee, Hinata-chan… Ayolah. Menurutku, kalian terlalu serius belajar. Bermainlah sekali-sekali untuk menjernihkan pikiran…" bujuk Sakura sembari menatap Hinata dan Sasuke bergantian.

"D-Demo…"

"Tenang saja, Kami yang traktir. Sebagai tanda minta maaf sudah menuduh yang bukan-bukan." Naruto hampir menggerutu saat dirinya juga dilibatkan harus menraktir Sasuke dan Hinata. Untung saja Sakura sempat menyikutnya kembali sebelum lelaki jingga itu benar-benar menggerutu.

"Yosh!" Teriak Naruto penuh antusias. "Ayo kita pergi!" Naruto mengepalkan tangan kirinya ke atas. Sakura ikut mengangkat salah satu tangannya. Kemudian, ia menarik lengan Sasuke dan Hinata bersamaan. Sehingga mau tak mau, mereka harus mengikuti keinginan Sakura dan Naruto untuk mengajaknya ke taman bermain.

Hinata menatap Sasuke yang berjalan-diseret- Sakura. Sasuke terdiam. Namun, terlukis dengan jelas bahwa ia tidak suka dengan rencana ini.

~'~"~'~

"Kyaa~" Sakura berteriak kencang sesampainya mereka di depan pintu masuk taman bermain.

"Woooa! Sudah lama sekali nggak kesini!" Naruto sama antusiasnya dengan Sakura. Mata birunya terlihat berbinar memerhatikan ribuan wahana permainan yang ada di Konoha land itu. "Baiklah. Mulai dari mana?" Naruto meremas tangannya, menggemeretakkan tulang jarinya. Ia sangat tidak sabar ingin bermain. "Woa! Aku tahu! Ayo kita mulai dari roller coaster!"

"Baka! Tunggu dulu!" Sakura menarik ujung belakang jaket Naruto hingga langkah lelaki itu tertahan. Kemudian, Sakura menoleh menghadap Sasuke dan Hinata yang berdiri di belakang mereka dengan tanpa semangat sama sekali. "Ne, Sasuke-kun, Hinata-chan… Ayo!" perintahnya penuh senyum dan memutar tubuhnya kembali, berjalan di kanan Naruto menuju wahana Roller Coaster.

"Sasuke-san…" Tanya Hinata seraya memandang sepupunya itu. "B-bagaimana ini…"

Sasuke mendesahkan nafas tertahan. Ia, tanpa membalas tatapan Hinata, "Hn. Semoga mereka tak ke tempat 'itu'." dan berjalan membuntuti Sakura dan Naruto. Pun Hinata akhirnya menyeret kakinya mengikuti ketiga temannya itu.

~'~"~'~

"Selanjutnya, kita ke Photo Box!" Usul Sakura yang lebih tepat jika di sebut perintah. Naruto teriak setuju. Tapi tidak dengan Hinata dan Sasuke. Mereka hanya mengikuti keinginan Sakura dan Naruto.

"Sasuke-kun? Hinata-chan?" Sakura menghampiri mereka berdua. "Kalian lelah?" Hinata menjawab dengan gelengan kepalanya yang anggun. "Terus kenapa? Ayolah… Kita baru main roller coaster, merry-go-round, cangkir putar, rumah-rumahan hantu… kalian sudah lelah?"

Hinata diam. Ia tak tahu harus menjawab seperti apa. Sebenarnya, gadis violet itu sudah merasa lelah. Entah bagaimana bisa Sakura masih sanggup bermain setelah memainkan wahana-wahana yang disebutkannya tadi.

Naruto masuk terlebih dahulu. Diikuti Hinata dan Sasuke yang didorong oleh Sakura. Sakura masuk setelah mereka semua telah di dalam box foto.

"Yosh, sudah siap?" Tanya Naruto beberapa detik kemudian, setelah mereka mengetur tempat untuk berfoto.

"Chi-zu!" Koor keempat orang itu bersamaan.

~'~"~'~

"Yang terakhir, ayo kita naik Ferris Wheel." Usul Sakura menunjuk kincir putar. Lalu ia menghadapkan kepalanya pada Naruto, Hinata dan Sasuke yang sebelumnya asyik memerhatikan hasil foto mereka.

"Sudah senja, nih. Ayo kita naik Ferris Wheel dulu sebelum pulang. Kumohon…" rengek Sakura kepada ketiga temannya itu, bak seorang anak kecil yang meminta dibelikan permen oleh ibunya. Karena Sakura sudah meminta seperti itu, Hinata tak tega untuk menolak permintaan sahabat pinky nya itu. Lain dengan Naruto. Ia merasa tak keberatan selama ia bisa berlama-lama dengan Sakura. sedangkan Sasuke, ia memilih untuk mengikut saja.

Tepat di depan gerbong Ferris wheel, sang penjaga yang berdiri di depan gerbong itu berkata, "Satu gerbong hanya dapat diisi dua orang dewasa." Sambil mengangkat dua jarinya.

Keempat anak manusia itu kini saling memandang satu sama lain.

"Baiklah kalau begitu, aku akan naik duluan dengan Sakura-chan." Celetuk Naruto memutuskan seenaknya. Lelaki berkulit sedikit gelap itu menarik tangan Sakura menuju salah satu gerbong yang telah terbuka pintunya.

"Eeh?" Si gadis berambut pendek itu menarik tangannya dari genggaman Naruto. "Aku mau sama Sasuke-kun!" ia kembali merengek. "Sasuke-kun bagaimana? Kau mau dengan siapa?" Sakura menatap mata kelam milik Sasuke.

Sasuke menjawab, "Hn." Diiringi dengan gerakan mengengkat pundaknya. Ia seolah tak mengambil pusing dengan siapa ia akan naik gerbong ferris wheel itu.

"Eeh? 'Hn.'-mu itu memiliki seribu makna, Sasuke-kun…" Gerutu Sakura kesal. Kemudian, ia memutar kepalanya kepada Hinata. "Kalau Hinata-chan?"

Yang ditanya diam saja. Namun, ekor matanya melirik pada pemuda berambut matahari yang berdiri di belakang Sakura. Tanpa sengaja, Sapphire milik lelaki itu berpapasan dengan Amethyst-nya. Hinata memandang Naruto dengan penuh harap. Berharap lelaki itu mau naik dengannya. Berharap lelaki itu tak menolaknya jika ia berkata ingin naik Ferris wheel dengan Naruto.

Naruto yang menangkap gelagat itu dari pancaran mata Hinata, segera Naruto mengalihkan matanya agar tak terlalu lama berpandangan dengan Hinata. Bertindak tidak mengerti arti tatapan Hinata. Hinata kecewa dan menghembuskan nafas berat. Ia mengembalikan tatapan matanya pada Sakura dan menjawab pertanyaan gadis di hadapannya itu, "Terserah saja…"

"Uung!" Erang Sakura seraya mengerutkan mukanya. "Ada apa dengan kalian semua?" kesalnya.

Karena tak mendapat jawaban dari siapapun, Sakura-tanpa meminta persetujuan dari ketiga temannya yang lain- menarik lengan Sasuke kasar dan menyeretnya masuk salah satu gerbong kincir putar. Setelah ia dan Sasuke berada di dalamnya, ia menutup pintu dengan cepat dan memohon dengan berteriak kepada penjaga ferris wheel itu, "Cepat kunci pintunya!". Sang penjaga menuruti perintah Sakura dan menggeser gerbong dimana Sakura dan Sasuke berada menjadi gerbong kosong yang lain. Ia membuka pintu gerbong itu dan mempersilakan Naruto serta Hinata untuk naik.

"SAKURA-CHAN!" teriak Naruto dan hanya mendapat lambaian tangan dari Sakura yang sudah berada di atas.

Hinata memandang Naruto yang entah sejak kapan telah berdiri di depannya, memunggunginya. Ia tak berani mengambil selangkah kakipun untuk maju. Ia tak berani masuk ke dalam gerbong itu sebelum Naruto sendiri masuk dan mengajaknya. Tak berani berharap lebih.

Naruto bergeming. Tak bergerak sedikit pun. Hinata tak dapat mengetahui ekspresi apa yang sedang di tampakkan lelaki itu. Siapapun yang lihat kejadian mereka beberapa detik yang lalu, pasti dapat mengerti bahwa Sakura lebih memilih Sasuke dari pada Naruto. Naruto bagai dicampakkan oleh Sakura dengan terus terang.

Gerakkan kaki Naruto yang melangkah memasuki gerbong kincir putar itu membuyarkan lamunan Hinata yang semakin lama semakin tidak jelas. Hinata hanya memperhatikan Naruto saja. ia masih belum berani mengikuti Naruto untuk masuk. Bahkan, Naruto telah duduk di salah satu sisi gerbong, lelaki itu tak berusaha mengajak Hinata masuk ke dalam. Membuat Hinata semakin berkeringat dingin akibat dinginnya sikap lelaki itu.

"Nona." Panggil penjaga wahana Ferris Wheel yang mulai kesal karena Hinata tak segera masuk ke gerbong. "Anda jadi masuk atau tidak?"

Hinata –yang merasa tak enak- segera mengangguk dan masuk ke gerbong itu. ia duduk tepat di hadapan Naruto. Gerbong itu beruangan kecil sehingga kaki Naruto yang panjang bersentuhan dengan ujung lutut Hinata. Naruto tak peduli dan membuang muka. Ia memutar kepalanya menghadap gerbong di mana Sasuke dan Sakura berada. Sedikit lebih atas dari gerbong di mana Hinata dan Naruto berada.

Pintu gerbong mereka telah ditutup. Kini ferris wheel telah dijalankan.

Sunyi, senyap, Hening.

Tak satupun baik Hinata atau Naruto yang berusaha merusak kesunyian itu. Hinata memilih untuk menatap keluar jendela ferris wheel itu. Semakin lama, keberadaan mereka semakin tinggi. Dirinya dapat melihat kelipan lampu-lampu kota yang mulai menyala di antara hamparan selimut salju. Matahari yang berwarna samar mulai bersembunyi di balik perpotongan horizontal bumi. Pemandangan yang sangat indah dan sudah lama tak Ia lihat. Tapi tetap saja tak dapat menghangatkan hatinya yang telah beku karena pemuda dihadapannya itu. Pemuda yang selalu saja berhasil mengiris hatinya. Pemuda yang selalu berhasil mengoyak hatinya karena tingkah lakunya.

'Mungkin lebih baik jika aku tidak naik ferris wheel dengannya…' sesal gadis berambut panjang itu dalam hati. Walaupun matanya mengarah pada pemandangan luar yang dibingkai jendela, sesekali ia melirik Naruto.

"Kenapa harus denganmu." Kata Naruto yang sepertinya lebih ia tujukan pada dirinya sendiri. "Kenapa kau menghalangiku dengan Sakura-chan?" Naruto berkata pelan. Tak membentak Hinata sama sekali.

Hinata membisu. Tak dapat menemukan jawaban atas pertanyaan Naruto. Ia hanya menyandarkan kepalanya pada jendela ferris wheel yang memantulkan bayangan samar dirinya. Ia dapat melihat refleksi Naruto dari sana.

"Tidak." Hinata akhirnya menjawab asal. Ia sendiri bahkan tak tahu apa yang ia katakan. Ia melirik Naruto.

"Kenapa dia lebih memilih Sasuke?" Naruto mengabaikan jawaban Hinata dan kembali bergumam. Masih menatap gerbong di mana Sakura dan Sasuke berada. Tak tampak apapun selain ujung kepala milik keduanya.

Hinata lebih memilih untuk diam. Ia membiarkan kalimat Naruto mengambang di udara. Ia tak berusaha memberi jawaban pada lelaki di hadapannya. Apapun yang akan ia katakan ia rasa percuma saja. lelaki itu menganggapnya tak ada. Keberadaannya di tempat itu hanyalah udara yang tak terlihat. Ia hanya udara di sapphire lelaki itu. Gadis manis itu pada akhirnya ikut memandang gerbang di mana Sakura dan Sasuke berada.

Kini gerbong mereka telah berada di titik puncaknya. Sedang milik Sakura dan Sasuke berada sedikit di bawah mereka.

~'~"~'~

"Sasuke-kun?" Sakura sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, ke arah Sasuke yang duduk tepat di depannya. "Kau kenapa? Marah?"

Sasuke tak menjawabnya. Lelaki itu sibuk menatap pemandangan di luar jendela.

"Ne, Sasuke-kun…" Panggil Sakura sekali lagi. lelaki itu menjawab dengan sepenggal kata andalannya, "Hn."

Sakura menghela nafas dengan keras. Ia mengembalikan posisi duduknya hingga bersandar pada dinding gerbong. "Kau marah." Simpul Sakura.

"Tidak."

"Lalu?" Sakura kembali melontarkan pertanyaan. Yang ditanya kembali tidak menjawab.

"Sasuke-kun, kau marah gara-gara aku memaksamu naik ferris wheel denganku?" Sakura memperbaiki duduknya.

"Sudah kubilang aku tidak marah." Jawab lelaki itu datar, tanpa menoleh sedikitpun.

Sakura menyerah. Memerlukan tenaga yang begitu besar jika harus berbicara dengan sahabat masa kecilnya yang satu ini. Bicaranya terlalu irit. Akhirnya ia sendiri memilih untuk diam. Mencari topik lain yang sekiranya akan dijawab lelaki itu dengan semangat.

"Sakura." tiba-tiba saja Sasuke memanggilnya. Entah sejak kapan, Onyx-nya sudah menatap Sakura. Sakura dapat merasakan jantungnya memompa darah lima kali lipat lebih cepat dari biasanya. Sakura memandang Sasuke sebagai jawaban dari panggilan Sasuke.

Namun Sasuke tak mengatakan apa-apa. Hal ini menimbulkan rasa penasaran yang mendalam pada Sakura.

"Hn." Ucap Sasuke lagi. "Nggak jadi." Sambungnya.

"Eeeh?" Sakura setengah berteriak kesal. "Nggak jelas."

Kembali hening. Entah mengapa, situasi kali ini menjadi canggung.

Sakura memandang Sasuke dengan terus terang. Ia memperhatikan setiap lekuk wajahnya yang terlihat bergitu sempurna. Warnanya yang putih pucat tak merusak ketampanan wajahnya. Bahkan, saat ia tak sedang tersenyum sekalipun, auranya yang begitu cool terpancar keluar. Matanya yang bagai langit malam, memantulkan cahaya samar milik matahari di luar jendela ferris wheel.

Sakura membatin, 'Apa di Onyx-nya itu ada aku, ya?'

"Apa." Tanya Sasuke mendadak, membuat sakura terbangun dari dunia imajinasinya.

"Eeh?" Sakura gugup. "Apanya yang 'Apa'?"

Sasuke kini memandang Sakura. "Kau memandangku terus."

Wajah Sakura merona. Malu rasanya ketangkap basah sedang memandang seseorang yang disukainya. Terutama jika yang memergoki itu adalah orang yang sedang dipandangnya.

"Ng…" Sakura berpikir. "A-aku Cuma ingin tahu…" Sakura mengambil jeda sejenak dengan mengambil nafas perlahan. "Apa di matamu…"

"…Ada aku, Sasuke-kun?"

Kembali sepi.

Norak. Sakura merasa ia telah melakukan sebuah kesalahan fatal. Perkataannya barusan terdengar seperti ia sudah menembak pemuda di depannya. Sasuke-kun. Ia menunduk dalam-dalam. Seakan dengan menunduk dapat meredam rasa malunya.

Ia merutuki dirinya sendiri. Tentunya di dalam hati.

Beberapa saat berlalu hingga Sasuke menghela nafas. Sakura dapat mendengar helaan nafas Sasuke dengan jelas. Sangat jelas.

Sakura semakin merasa tertekan. Ia memilih untuk mencoba mengalihkan pembicaraan. Sakura mengangkat kepalanya untuk berkata, "A-aa… Lupakan saja perkataanku bar-"

Ia tak dapat meneruskan perkataannya. Sesuatu mengunci bibirnya. Sesuatu yang lembut dan hangat.

Bibir Sasuke menyentuhnya dengan lembut.

~'~"~'~

Hinata dapat melihat kepala Raven Sasuke bergerak perlahan mendekati kepala Sakura. Dengan cepat otaknya menafsirkan gerakan itu dengan…

"Naruto-kun! Jangan!" Hinata memutar cepat kepalanya pada Naruto. Ia memajukan badannya ke arah lelaki tersebut.

Naruto tak menggubrisnya. Lelaki itu justru berusaha setengah berdiri-karena gerbong ferrish wheel tidak setinggi tubuhnya- untuk melihat lebih jelas apa yang dilakukan Sakura dan Sasuke di gerbongnya. Ia berharap apa yang sedang dipikirkannya tidak terjadi.

"Naruto-kun!" panggil Hinata lagi, sambil mendongak menatap Naruto yang dalam posisi setengah berdiri. Kali ini tangannya menarik ujung jaket Naruto. "Jangan lihat mereka. Kumohon!" pinta Hinata. Lagi-lagi, Naruto tak menjawab.

Hinata mulai beranjak dari tempat duduknya. Ia masih setia menarik ujung jaket Naruto. salah satu tangannya ia gerakkan menuju wajah Naruto untuk menutup mata lelaki itu. "Ja-jangan lihat mereka! Naruto-kun akan sakit hati jika melihatnya!" Gadis itu merusaha menghalangi pandangan Naruto dengan tubuhnya. Ia menempatkan dirinya di depan Naruto.

"Minggir. Jangan menghalangi pandanganku!" perintah Naruto sedikit berteriak. Ia memandang dari sela bahu Hinata. Ia masih memfokuskan matanya pada Sakura dan Sasuke.

Dan apa yang paling ia takutkan terjadi.

Ia melihat wajah Sakura dan Sasuke terpaut begitu dekat. Hampir tak ada jarak sama sekali di antara keduanya. Sangat jelas ia melihat bahwa Sakura dan Sasuke saling menyentuhkan bibir mereka.

"ARGH!" Kesal Naruto. Ia merasakan amarah dalam dirinya memuncak. Dengan sekuat tenaga, ia memukulkan kepalan tangan kanannya pada dinding gerbong. Sontak hal itu membuat gerbong tersebut terguncang. Hinata kehilangan keseimbangannya dan terjatuh. Ia terduduk di lantai gerbong kincir putar itu, di bawah bangku gerbong. Bibirnya dengan perlahan memekik.

Naruto menjatuhkan dirinya ke atas bangku ferris wheel. Sedangkan Hinata, ia yang kini telah terduduk di lantai gerbong itu, salah satu tangannya masih menggenggam erat ujung mantel yang dikenakan Naruto. ia mendongak menatap Naruto.

"N-Naruto-kun…" gumaman Hinata yang terdengar bagai sebuah bisikan. Hinata dapat melihat kesedihan memancar dari air muka lelaki di depannya. "Sudah kubilang jangan melihat… mereka… " Suara Hinata semakin lama semakin menghilang.

Naruto kini memandangnya. Raut wajahnya berubah kesal. Tak ada lagi kesedihan di sana. "Lepaskan tanganmu dariku." Ujar Naruto dingin disertai dengan gerakan tangannya yang menepis tangan Hinata kasar.

"Akh!" Seru Hinata penuh kejut. Perih menguasai telapak tangannya.

Hening kembali larut hingga Ferris wheel tersebut menyelesaikan putarannya.

~'~"~'~

Tak ada satupun dari mereka yang berusaha memulai percakapan seturunnya dari kincir putar. Sakura terdiam karena pikirannya terpenuhi oleh kejadian antara dirinya dan Sasuke di gerbong ferris wheel. Sedangkan Sasuke, ia diam saja karena pada dasarnya, memang itulah pembawaannya. Hinata membisu karena ia masih takut akan kemarahan Naruto. Naruto sendiri memilih diam dan berjalan di posisi paling belakang setelah Hinata. lelaki it uterus memerhatikan gerak-gerik Sakura dan Sasuke.

Tak terdengar suara apapun selain suasana hiruk pikuk Konoha's Land.

Selain suara langkah kaki mereka yang tenggelam di dalam keramaian itu.

"Ng… A-ah! Aku lapar!" seru Sakura memecahkan keheningan mereka. "Ayo kita makan dulu sebelum pulang!" usulnya sambil menunjuk sebuah kafe terbuka tepat di seberang mereka. "Di sana..."

Deg!

Hinata terkejut melihat tempat yang ditunjuk Sakura. Tempat itu…

Ia memandang Sasuke dari belakang. Walau tak melihat wajah lelaki itu, Hinata dapat merasakan perubahan pada diri lelaki itu.

"Sa-Sakura-chan. Kita makan di tempat lain saja!" Hinata mendekati Sakura dan memberi ide lain. Sakura mengerucutkan bibirnya dan menggeleng.

"Aku sudah lapar. Lagipula, kafe ini makanannya enak-enak. Aku nggak mau yang lain!" Sakura bersikeras. "Ayo, Sasuke-kun…" Sakura menarik lengan Sasuke pelan.

Namun Sasuke tak beranjak dari tempatnya berdiri. Ia tetap mematung. Hal itu membuat Sakura tak mengerti.

"Sasuke-kun?" Sakura kembali menyebut nama Sasuke. Dan saat itu juga, dengan kasar Sasuke menarik tangannya dari Sakura. Sakura yang terkejut atas perilaku Sasuke, dapat melihat tatapan lelaki itu yang berubah dingin kepadanya. Sakura dapat merasakan kemarahan yang begitu meluap dari tatapan itu. Setelah itu, pemuda itu berjalan meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun.

"Sasuke-kun?" panggil Sakura lagi setelah ia melihat punggung Sasuke menghilang di antara kerumunan manusia di taman hiburan itu.

Hinata menghela nafas berat. "Dia marah."

Sakura memalingkan perhatiannya ke Hinata. "Dia? Sasuke-kun? K-kenapa?" Sakura memberi pertanyaan beruntun pada Hinata.

"Hari ini, lima tahun yang lalu, di tempat ini…" Hinata menunjuk kafe yang sebelumnya di tunjuk Sakura.

Sakura memandang Hinata dengan takut. Feelingnya berkata bahwa ia telah melukai perasaan Hinata serta Sasuke atas ajakannya tadi. "lima tahun yang lalu, Atas usul Sasuke-san kami mengadakan pesta ulang tahun Okaa-sama dan Oba-san, maksudku ibu Sasuke." Hinata memulai ceritanya. "Atas usul Sasuke-san juga, kami menyewa seluruh kafe ini agar mudah mendekorasinya. Setelah semua persiapan selesai, Sasuke-san meminta bantuan Oji-san-ayah Neji-nii untuk menjemput Okaa-sama dan Oba-san." Hinata mengambil nafas sebentar. Jarang sekali ia berbicara sebanyak ini. "Tapi di tengah jalan, mobil yang di pakai untuk menjemput Okaa-san dan Oba-san terlibat kecelakaan beruntun. Mereka berdua dan Oji-san, tak ada yang selamat satupun." Raut wajah Hinata berubah sendu.

Sakura terdiam. Entah apa yang harus ia katakan.

"Sasuke selalu menyalahkan dirinya atas kematian Okaa-san, Oba-san dan Oji-san. Ia tak menunjukkannya lewat kata-kata, tapi melalui sikapnya. Sejak itu, ia tak peduli dengan pesta ulang tahun. Ia tak pernah lagi menginjakkan kakinya di tempat ini… sampai hari ini-"

Tiba-tiba saja Sakura berlari meninggalkan Hinata dan Naruto, memotong cerita Hinata yang belum sempat diselesaikannya. Ekor mata Hinata mengejar Sakura.

"Sakura-chan!" Panggil Naruto akhirnya. Tetapi entah tak mendengarnya atau sengaja tak mendengarnya, Sakura tak memberi balasan apapun atas panggilan Naruto. ia terus berlari hingga hilang ditelan kerumunan manusia di Konoha's Land.

Naruto berlari mengejar Sakura. Hinata ikut berlari di belakangnya sebab langkah kakinya yang begitu kecil tak dapat menyamai lebar langkah Naruto dengan kaki panjangnya.

~'~"~'~

"Sasuke-kun, Sasuke-kun, Sasuke-kun…" gumam Sakura berkali-kali. Ia berlari melalui setiap jalan tikus yang ia temui. Mencoba mencari jalan tercepat menuju rumah Sasuke yang dekat dengan rumahnya. Tak ada tempat lain yang mampu ia pikirkan selain rumah Sasuke. Lelaki itu selalu kembali ke rumah jika ia merasa tak nyaman akan sesuatu.

Tepat setelah ia belok dari arah gang kecil yang ia lalui, matanya menagkap sosok Sasuke berjalan membelakanginya. Sesegera mungkin ia memanggil pemuda itu di tengah sengalan nafasnya. "Sasuke-kun!"

Lelaki itu tak menjawab. Menghentikan langkahpun tidak.

"Sasuke-kun, Gomenasai… maafkan aku!" Gadis itu membungkukkan tubuhnya. Sasuke menghentikan langkahnya setelah mendengar permohonan maaf Sakura.

"A-aku sudah mendengar semuanya dari Hinata." Sakura bangkit dari posisi bungkuknya. Mata Zambrud-nya menatap ujung jalan sementara tangan kanannya menggaruk lengan kirinya yang tak gatal. "Maaf karena aku sudah membuatmu mengingat kesedihan itu. gara-gara aku, kau harus mengingat tentang kec-"

Bagai de javu, bibir Sasuke yang menyentuh bibirnya membuat perkataannya terpotong. Ia tak mengerti lelaki di hadapannya itu. Sejak kapan lelaki itu sudah menghadapnya? Seingatnya, Sasuke berdiri membelakanginya.

"S-Sasuke-kun, kenapa?" tanya Sakura lirih setelah Sasuke melepaskannya.

Sasuke memindahkan bibirnya tepat ke samping telinga Sakura. Ia berbisik perlahan, "Kalau aku tidak 'Menutup' mulutmu, kau akan membuatku semakin mengingat kejadian itu."

Kalimat Sasuke membuatnya memerah.

"S-Sasuke-kun no Baka…" lirihnya sambil tersenyum.

~'~"~'~

Naruto berhenti berlari. Tiba-tiba saja kakinya begitu susah untuk digerakkan. Seolah-olah, beberapa saat yang lalu kakinya baru saja berubah menjadi batu.

Semua ini karena Sapphire-nya menangkap sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.

Untuk kedua kalinya, ia melihat kedua sahabatnya dalam posisi itu.

Ia melihat Sasuke dan Sakura kembali menyentuhkan bibir mereka.

Hatinya sesak. Sakit di ulu hatinya kembali menyerang. Bagai sebilah pisau telah mengiris hatinya menjadi potongan-potongan kecil.

Mengapa dalam satu hari, ia harus melihat adegan yang sama diputar ulang?

Mengapa harus kedua orang sahabatnya?

Mengapa harus Sasuke dan Sakura?

Mengapa harus Sasuke dan bukan… dirinya?

Dan masih banyak mengapa-mengapa lainnya yang mengambang di benak Naruto.

"Naruto-kun!" sebuah suara yang begitu lembut menyapanya sembari berlari. Namun, derapan langkah lari gadis itu berhenti saat ia melihat Sasuke dan Sakura dari balik badan Naruto. i-itu…

"N-Na-"

Belum sempat Hinata menghampiri Naruto, lelaki itu memutar badannya dan berlari melewatinya. Hinata bahkan tak sempat melihat wajah Naruto karena lelaki itu berlari sambil menundukkan kepalanya. Tanpa berpikir terlalu lama, Hinata mengambil langkah seribu mengejar Naruto.

'Naruto-kun…'

Senja telah bermetamorforsis menjadi malam, Diiringi dengan jatuhnya butiran-butiran es lembut dari langit. Seolah ikut berduka bersama lelaki berambut jingga yang tengah berlari itu.

~'~"~'~

"Hh.. hh…" Lenguhan nafas Hinata yang satu-satu, terdengar begitu jelas. Kepulan uap panas keluar dari mulutnya disebabkan oleh perbedaan suhu. Kepala gadis itu terus bergerak ke kanan-kiri mencari sesosok lelaki berjaket oranye. Tak di pedulikannya butiran salju yang berlomba-lomba meninju dirinya. Prioritas utamanya kini hanya satu. Naruto.

Hingga akhirnya ia melewati sebuah taman bermain anak-anak dengan beberapa sarana bemain seperti jungkat-jungkit, bak pasir dan sebagainya. Di salah satu ayunan, ia melihat siluet lelaki duduk di sana. Tanpa mengayunkan ayunan itu sedikitpun. Kepalanya terlihat menunduk.

Dalam pandangan matanya, Naruto terlihat menangis.

Punggung yang biasanya tegap itu menangis.

Hinata membuka tas mungilnya untuk mengambil sebuah payung andalannya. Payung lipat yang selalu ia bawa kemanapun, untuk berjaga-jaga.

Dibukanya payung itu dengan tergesa. Setelah mengambil nafas dalam, ia berjalan perlahan mendekati sosok lelaki yang ia yakini adalah Naruto. Lelaki yang dicarinya sejak tadi.

"N-Naruto-kun…" lirihnya saat telah berditri tepat di depan Naruto. Lelaki itu tak menjawab. Ia tetap menundukkan kepalanya. Di rambutnya, sedikit tertumpuk salju. Sedangkan di bagian pundak dan punggung, sebagian dari tumpukkan salju itu telah meleleh. Mengakibatkan jaket yang dipakai lelaki itu menjadi basah.

Hinata menjulurkan salah satu tangannya-yang tidak ia pakai untuk memegang payung- menuju pundak dan kepala Naruto. dengan telaten, Ia membersihkan daerah tersebut dari salju. Setelah itu, gadis nila itu menyodorkan payungnya agar Naruto terlindungi dari salju.

"Tolong jangan menggangguku." Usir Naruto tanpa menatap Hinata.

"A-aku… a-aku hanya ingin… menghibur…" Sudah berusaha seperti apapun, Hinata tetap saja gugup saat berbicara dengan lelaki ini.

"Menjauhlah. Aku akan terhibur kalau kau menjauh dariku." Ketus Naruto. "Kalau saja kau tak menggangguku, Sakura sudah menjadi milikku."

Hinata menghela nafas untuk kesekian kalinya. "Aku mengerti perasaanmu."

Naruto mengangkat wajahnya setelah mendengar pernyataan Hinata. "Mana mungk-" Naruto menghentikan kalimatnya sendiri. Sapphire-nya menangkap bayangan mata Hinata. dengan sangat jelas, ia dapat melihat pantulan dirinya telah direfleksikan oleh mata gadis itu. Mata sewarna Amethyst yang begitu teduh. Namun mata itu memandangnya dengan tatapan sedih.

"Aku… aku sangat mengerti rasanya menyukai seseorang, yang menyukai orang lain." Hinata mengalihkan pandangannya dari Naruto, berusaha mencari pemandangan lain yang disuguhkan taman itu. "Bahkan, walaupun dia mengetahui perasaanku, dia mengabaikanku…" kalimat Hinata selanjutnya lebih terdengar seperti gumaman untuk dirinya sendiri.

"… Jangan menyindirku …" Naru kembali menundukkan kepalanya. sesekali kakinya mengais salju di sekelilingnya.

"…mung-mungkin… kita sama-"

"Aku tak pernah mau sama dengan siapapun." Naruto menyela Hinata sebelum gadis itu berkata lebih banyak. "Kau hanya berusaha menarik simpatiku saja dan…" Naruto terus berkata panjang lebar dengan penuh emosi. Tak jarang ia membentak Hinata dengan keras. Memandang tajam Hinata, melontarkan kata-kata kejam yang menusuk hati Hinata. tetapi, gadis itu diam saja. tak sekalipun berusaha menjawab atau membalas ejekan Naruto padanya.

"Kenapa diam saja?" tanya Naruto pada akhirnya karena tak tahan terus-terusan didiamkan gadis di depannya. "Kau merasa semua omonganku benar?"

Hinata menggeleng perlahan. "N-Naruto-kun sedang kesal dan sedang mencari tempat untuk menumpahkan kekesalan Naruto-kun itu…" Hinata mengambil selangkah lebih dekat pada Naruto. "Karena itu, aku akan diam dan mendengarkan semua perkataan Naruto-kun sampai perasaan Naruto-kun tenang…"

Naruto terdiam. Ia tertegun dengan kata-kata Hinata. Sangat jelas ia menghina gadis di hadapannya itu, dan gadis itu bisa berkata seperti itu pada orang yang telah mengejeknya. Seakan ejekannya itu tak melukai hati gadis itu sedikitpun.

Naruto tak berusaha untuk berbicara lagi. Pun Hinata yang lebih memilih untuk tetap berdiri memayungi Naruto hingga lelaki itu bosan berada di situ, atau hingga salju lelah mengganggu mereka.

"A-apa… Naruto-kun tidak lapar?" Hinata mencoba membuka pembicaraan. "Kalau nggak salah, di sekitar sini ada kedai ramen yang en-"

Tanpa ba-bi-bu, Naruto menarik ujung mantel bercorak stripe ungu-pink milik Hinata sehingga membuat tubuh gadis itu lebih dekat dengannya. Dengan satu gerakan cepat, Naruto mameluk pinggang Hinata dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya hanya memegang ujung mantel Hinata. Lelaki itu menyembunyikan wajahnya pada Hinata. Ia menunduk dalam-dalam.

Hinata terkejut. Debaran jantungnya meningkat. Ia bahkan dapat mendengar suara jantungnya berdetak hebat. Bagaikan sebuah orchestra yang sedang memainkan sebuah lagu merdu bertempo cepat. Tak terhentikan.

"J-Jangan salah sangka!" usik Naruto masih menyandarkan keningnya pada bagian perut Hinata. "Tetaplah begini... sampai aku tenang… seperti katamu tadi…"

Hinata mengangguk mengiyakan perintah Naruto, walaupun ia tahu anggukannya itu tak dapat dilihat Naruto.

Hinata meregangkan tangannya yang memegang payung dan menyandarkannya pada salah satu pundak Naruto. Ia memejamkan matanya. Segaris senyum mengembang diwajahnya. Hatinya membatin,

'Aku berharap waktu dapat berhenti di saat-saat seperti ini…'

.

.

.

.

.

.To be Continue.

.

.

.

.

.

Special thanks :

, Kithara, putri Hyuuga Uzumaki,

rqm3490, aigiaNH4, ika chan, Ds, Abelcancer S. Uzucha, The Amethyst Hime, Ayaka The Colorful Flowers, suka snsd, Megu-Megu-chan, miss bawelll, Kakashillua, Tshirtcrackers, freyjadour, Neerval_Li, yessy lestari, lavender hime chan, kurirana , Kitami-minagawa, el corona, jovana, lee sica, Shiratobi, Bluemaniac, Acrew Namikaze, L, Gyurin Kim, Layla, Demaiko Sakakigara, OraRi HinaRa, , uzumaki mbah-ruto, Hanamoto Aika, cookies chocolate, amexki-chan, sasuhina-caem, Mrs. Cry cry, mi mi liauw, Hoshi no Nimarmine, wiedelicious, Hinata Chan, Erryeoo, Ryu, Yamanaka Emo, adetOxy, ayumi kido, Bluecloudz, yui doo-chan, Na Fourthok'og, Kuro Tenma, Anon, Seiba Artoria, Kaneko, Minami Eika, Nara Kazuki, namikaze blues, Kiriko mahaera, Nanaichi, DarkNoah, L Namikaze, Mongkichii, yeojaraku, ikki, Dhekyu, mysunshine hatake, zoroteucchi

(Maaf kalau ada yang namanya lupa saya tulis)

(Maaf saya ga bisa PM-in satu-satu…)

Author's Note :

Hehehe… Minna-chama, Saya update-nya cepet, 'kan? *PLAK!**Digampar karena sok Innocent. Gomen, Rippe dah kelas 3 SMA sekarang, mau ngetik kelanjutannya itu susah banget… susah nyari waktu senggang… beneran, deh… maafin Rippe, ya… minna san…

Kyaa! Apa-Apaan ini? Tambah hancuur! Sepertinya chapter kali ini nggak terlalu bagus ya… maklum, dah lama Rippe ga nulis…^^

Akhirnya sudah sampai chapter ini… mungkin 2 chapter lagi, ceritanya selesai… hehe

Yak… waktunya rereview~

.Hinata Chan: thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^…. Maaf nunggu lama, ini lanjutannya… semoga suka ^^

. : thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^…. Makasih dah setia nge-review, sampe bolak-balik bka fic ini… Rippe tersentuh banget ^^… hehe… nih lanjutannya… happy reading…

.wiedelicious : thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^…. Benarkah? Makasih sudah mau baca dan review. Rippe senang dengan reader yang santun sepertimu ^^. Sekali lagi, makasih dah mau menunggu cerita ini… ^^ sekarang dah update nih… jgn lupa di baca, ya… ^^

.erryeoo : thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….hehe, jangan gitu, donk… Hinatakan selamanya milik Nauto… ya, betul tuh… Naru jahat amet… huhuhu… gampang itu, bakal Rippe buat Naru menderita ^^

. Ryu : hehe, sudah terjawab penasarannya, kan? He? Ok… kita lihat endingnya nanti, ya… thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.putri hyuuga Uzumaki : hehe, sorry telat … amiin… semoga ajayang ngereview lebih dari 500, yanf ngefave lebih dari 600… makasih atas doanya… thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.Guest_kithara: thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^…. End.. makasih banyak dah rajin ngabsenin fic ini… Rippe terharu banget dengan kerja kerasmu… namamu akan Rippe ukir di dalam hati Rippe yang terdalam… takkan Rippe lupakan selamanya *PLAk*#di pukul karena lebay# nih, akhirnya doamu dikabulkan… fic ini sudah update… semoga ga lupa dengan jalan ceritanya, ya…^^ happy reading ^^

.miss bawelll : huueee… Rippe dibilang nggak bertanggung jawab… nih, dah update… thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.Kakashillua : hehehe… thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^…., n makasih dah mau menyukai fic nggak jelas ini… happy reading…^^ hmm… maunya apa? Happy ending? Sad ending atau Question Ending?

.tshirtcrackers: thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^…. Hehe… I keep your promise ^^…

.freyjadour : Hehe, dah buru-buru update, nih… *Plak* hem… happy ending, ya… gimana ya… bisa nggak ya… kasih tau nggak ya… *Plak* ehehe.. nggak maksa kok… kan kamu Cuma mengutarakan pendapat aja…^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.Neerval_Li : Halo, Neerval_Li alis Jimi-li… makasih dah mau repot-repot pake akun buat ngereview fic ini… Rippe terharu. Hm… Rippe belum sempat baca fic yang kau rekomendasikan… Rippe belum sempat… maaf, ya.. tapi pasti akan Rippe sempatkan membaca pas ada liburan nanti… ^^… selain itu, thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^…. Dah update, loh… jangan lupa baca, ya…

.yessy lestari : reader yang baik hati dan tidak sombong, fic ini sudah update nih… hehe… kerja keras banget yessy buat ngingetin Rippe… sampe banyak banget reviewnya.. Rippe terhatuuu ^^… thanks, ya dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.lavender hime chan : ini dah update… untuk saat ini, Rippe belum bisa ngasih tau bakalan happy ending atau nggak*Dilempar panci* kalau perubahan pair…Rippe …ng… *Di lempar wajan karena kelamaan ngomong.* hehe… gimana ya… hm…, thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.kurirana : thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^…. Hehe… pengakuan silent reader, nih..^^ *Nyikut-nyikut kurirana*

.kitami-minagawa : hehe… gimana nasib mereka? baca kelanjutannya aja, ya…^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.el corona : hehe… ok, Rippe nggak pernah lupa buat ngeupdate, kok… thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.jovana : Hontou? Beneran suka? Makasiiihhh ^^…. Dah di lanjutin, nih…. thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.lee sica : Hei, makasih sudah mau nyembetin baca…^^ hwa..hwa… iya, kasian banget Hinata-chan… hehe, Naruto seperti apapun emank tetep keren… yosh, nih dah lanjut… jangan lupa baca, ya…^^

.Shiratobi : Kyaa~ hehehe…. Aku jahat, ya… ngebuat kamu hampir nangis... semoga cerita selanjutnya juga menyentuh hatimu…*sokromantis*. thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.bluemaniac : okeee, dah di lanjutin.. ^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.Acrew Namikaze : thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….Hehe, gapapa… mau ngereview atau nggak kan sebenarnya hak reader… ^^… beneran? Makasih pujiannya*kepala Rippe membesar sahking GR-nya* makasih dah mau ngefave ^^ and thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.L :hehe… makasih, kk…

.Gyurin Kim : Hahaha… ceritanya ribet ya? huhuhu….NGGAK! *Teriak-teriak GAje* jangan berasumsi demikian! Kembalilah pada jalan yang benar, wahai anakku… (?) wahaha… kita lihat aja cerita ini, ya… semoga Rippe mampu membuatmu kembali berasumsi bahwa NaruHina itu lebih kereen dari SasuHina… ^^ Yosh! thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.Layla : gapapa… review seperti apapun akan Rippe hargai ^^… hehe… thanks pujiannya… Rippe akan berusaha membuat deskripsi yang lebih baik lagi.. mohon dukungannya, ya^^

.Demaiko Sakakigara : Kyaa~ *Ikut-ikutan teriak Gaje* beneran? Makasih dah suka sama cerita buatan Rippe… hmm… panggil aja Ririrea, atau Rippe, atau Rii, Atau nama asli saya, Ririn… mau pake embel-embel apa aja terserah… hehe… Rippe juga bingung mau manggil apa nih… kasih tau namamu juga ya…

.OraRi HinaRa : Yosh… makasih dah mau review^^ hehe…Rippe juga suka banget adegan yang terakhir di chapter sebelumnya itu… Rippe berpkir keraaas banget buat captain adegan itu sampe rasanya kepala Rippe ini mau pecah * *. Yosh… Rippe akan terus semangat ^^

. : hehe.. ga ada kata telat dalam ngasih review…(menurut Rippe). Wahaha… gampang itu… pokoknya tugas nya Rippe sebagai author adalah membuat Naruto-cayangku menderita selama-lamanya*RASENGAN!*… thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.uzumaki mbah-ruto : hehehe… thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.Hanamoto Aika : hehehe… yang sabar, ya Hinata… *ikut-ikutan ngelus kepala Hinata* hehe… maksih sudah bersedia ngereview… ^^ nih dah update kilat… *Aika : Kilat dari mana? 6 bulan nunggak gitu!?*

.cookies chocolate : Hai, Cookie-chan… namamu manis baget…^^ salam kenal ^^… makasih dah ngereview and sampe ngefave… nih dah update…. Jangan lupa baca, ya…^^

.amexki-chan : #bales peluk Amex-chan*… hehe, semua pertanyaanmu sudah terjawab di chapter kali ini, kan? thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.sasuhina-caem : hehe… biarin aja tuh orang… ngaak bakal bisa ngebuat Rippe down dan berhenti nulis kok… thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.Mrs. Cry cry : Oke… eeeh? Na-na-nangis? Hehe… oke.. Rippe aja jengkel sama Hinata di fic ini… mau maunya ngejar orang kayak gitu… hehe… gitu, ya? ok deh… thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.mi mi liauw : hehe… makasiha atas pujianna… thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.Hoshi no Nimarmine : hehe… apa yng terjadi selanjutnya? Silahkan di baca… ^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.Bluecloudz : hehe, makacii… ^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.naruto lover : hehe… tugas Author adalah mendengarkan dan menuruti permintaan readeer… apalagi reader yang baik hati dan santun sepertimu… ^^ biarkan saja Flamer di pojokan sana… ntar basi sendiri… thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.yui doo-chan : hehe… makasih… Naruto jahat karena dah tuntutan scenario yang Rippe ciptakan.. *Geplaked* hehe… thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.Na Fourthok'og : hehehe… makasih Neechan dah mau datang mereview… ^^ hahaha… Rippe sukses ngebuat hampir setengah pembaca fic ini galau… *bangga ga jelas* tebakan Neechan bener… mereka nengok makamnya mertua Rippe, Mikoto *Geplaked*. Hehe, oke… Rippe tunggu amukan Neechan selanjutnya… jangan lupa ngamuk-baca review- ya… ^^

.Kuro Tenma : wohoho… *ketawa gaje* ini sudah Rippe lanjutin… jangan lupa baca, ya… Salam kenal juga, Kuro-san… penggil aja aku Ririrea, Rii, atau Rippe… terserah saja.. ^^

.anon : haha… biarkan aja, non… abaikan aja orang nggak jelas itu… hm… anon-san mau manggil saya apa terserah aja… saya orangnya nrima apa yang diberikan kepada saaya (?)… makasih…. Rippe pasti bertanggung jawab. Rippe janji bakalan namatin fic ini… walau harus dengan update yang lelet sekalipun… *Kicked*. thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.Seiba Artoria : Amin… semoga cerita muter-muter ini Happy ending… oka, makasih dah mau menyemangati Rippe… ^^ ah, jangan panggil senpai gitu… kita semua kan sederajat… sama-sama masih belajar.. panggil nama aja… nih, dah update… cepet kan? Cuma selang 8 bulan dari update chapter sebelumnya, kok… *dilempar mobil karena sok nggak bersalah*

.kaneko : heee… sudahlah, biarkan saja dia.. Rippe akan terus semangat menulis…makasih dukungannya… ^^

.Minami Eika : hehe… makasih atas reviewmu… paling panjang di antara yang lain… tapi, Rippe seneng banget dapat review seperti itu… rasanya seperti sedang ngobrol dengan teman dekat… (?). eee? Rippe ini cewek tulen yang cantik dan baik hati… *Gepplak* hehe… nih dah di update… jangan lupa di baca, ya…^^

.Nara Kazuki : hehe…benarkah?

.namikaze blues : sankyuu, Next Chapter: telah di update!

.Laguna Stream : Makasih Hinaannya ^^

.Kiriko mahaera : hehe… bener juga, ya… kayaknya cowok" di fic ini suka nganiaya para cewek… buat para pembaca cowok, don't try at home!. Hehe… …^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.nanaichi : hehe… makasih… amin… semoga sperti yang nanaichi bayangkan..(emangnya yang kau bayangin itu kayak mana?). …^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.DarkNoah : makasih dah menyukainya… ^^ hehe… tuntutan scenario,tuh… …^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.L Namikaze : …^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….ssemoga capter ini menghapus rasa penasaran mu… ^^

.mongkichii : makasih atas jejaknya ^^. Hehehe… seperti apa ya^^ bisa kau tebak, kan? Hm… dan apa yang kau tebak itu, sepertinya sebagian besar benar… yosh, chekidot! ^^

.yeojaraku : hehe… thanks. …^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.ikki : makasih sudah mau datang lagi ^^ hehe… nih dah update…

.Dhekyu : rumnit banget, ya.. hehe…yosh! Dah update, nih… …^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.mysunshine hatake : ya tuh! Jahat banget Narutonya… hm… rencana end sekitar 2 chapter lagi, nih… mohon dukungannya~ …^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.zoroteucchi : Yeup! Kau pinter banget menebak cerita yang kubuat… …^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.ayumi kido: hehe… silent reader yang insyaf? Bahasa yang ayumi pake lucu, ah^^. Ehehe… makasih pujiannya… *GR mode: ON* oke, ayo kita rame" buat Naruto menderita n\dan menyesal~~~

.adetOxy : Hehe… Rippe baca ulang dan Rippe mengerti maksudmu… sepertinya memeang ada yang salah dengan adegan itu… ok, makasih atas koreksinya… mohon bantuannya untuk chapter kali ini ^^.

.Yamanaka Emo : boleh, boleh.. panggil aja Rurippe dengan Rippie-chan… bener tuh! Ayo kita bakar perkedel Naru rame-rame *Nyiappin tungku berisi minyak panas**Dilempar nuklir sama fans Naruto* hehe… Rippe juga suka kata-kata itu^^
Cengo ngeliat adegan mesra Key-chan dengan Key-kun

.Megu-Megu-chan : wkwkwk… dan kali ini dah update lagi, loh…

.suka snsd : teet! Seratus buat mu… hubungan mereka saudaraan! … nih, dah update, loh…

.Ayaka The Colorful Flowers : ehehe… jangan down gitu… ya itu, Naru jahat. Beneran nih, feelnya kerasa? Syukurlah…. Makasih buat dukungannya selama ini… ^^ ah, Rippe suka Review yang panjang, kok.. hehe…

.The Amethyst Hime : hehe… mereka ada pa, ya? huhuhu…. Kita liat kelanjutannya… ~

…^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.Abelcancer S. Uzucha : hehe… Rippe juga jadi bingung dengan cerita yang rippe buat sendiri… yosh, dah update, nih… jangan lupa baca… ^^

. Ds : Ehehe… gimana, ya… mungkin Rippe simpan idemu itu untuk di timbang-timbang… hm.. kira-kira ada 2 Chapter lagi, mungkin?

.ika chan : hehe… makasih pujiannya… …^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.aigiaNH4 : hehe… dah update secepat yang Rippe bisa. Kalau nggak, mungkin baru Rippe update bulan april, habis Rippe UAN SMA… *Nyari alasn* ehehe… fluffy, ya? hehe… nggak nyadar sampe kau bilang begitu… hehe… kau unik. Yang lain bilang mereka nangis baca fic eneh Rippe, tapi kau satusatunya yang ketawa… hehehe… …^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.rqm3490 : …^^ thanks dah nyempetin waktu buat review… ^^….

.

Maaf kalau ada kesalahan penulisan nama…

~YAK! Berakhirlah sesi Review kali ini! *Ngelap keringet yang udah berceceran di mana-mana.* beneran, deh. Hampir 3 jam sendiri buat ngejawab review kalian. Fyu~h…

Nah, bagi yang nggak keberatan, tolong tinggalkan Reviewnya, ya…^^

Dan makasih pada para silent reader yang telah menyempatkan waktunya untuk membaca fict ini. Semoga suatu hari hati kalian semua tergerak untuk memberikan review pada Saia…*Lebay mode : ON*

Yosh! Arigatou, minna-san…

.

.

.

Rurippe no Kimi

.

.

22 Oktober 2012