Declaimer: Masashi Kishimoto

.

.

Warning: AU, OOC, gaje, judul gak sama dengan isi, mengecewakan.
.

.
Summary: Hyuga Hinata, seorang siswi di Konoha High school. Dia berpikir bahwa kehidupan SMA akan biasa-biasa saja tapi, apakah dia masih berpikir begitu jika dia bertemu dengan Uzumaki Naruto?

.

Chapter 2: Hukuman?

Pagi 'pun tiba, burung-burung kecil bernyanyi menunggu datangnya sang penguasa dunia. Matahari.Semua manusia bangun dari semua tidur lelapnya, dari ibu rumah tangga yang menyiapkan keperluan keluarganya sampai anak-anak remaja yang bersiap-siap pergi ke sekolah.

Tapi, ada satu sosok gadis cantik yang masih meringkuk di dalam kamarnya, bahkan dia enggan untuk melepaskan diri dari hangatnya selimutnya. Dia adalah Hyuga Hinata. Karena tindakan heroic yang dia lakukan kemarin, dia harus berurusan dengan seorang preman sekolah. Uzumaki Naruto.

Hinata bahkan sempat berpikir untuk bolos sekolah, tapi apakah dengan cara itu dia bisa berhasil lari dari Naruto? Bagaimana jika Naruto mencarinya dan akan memukuli dia jika berhasil menemukanya? Hinata hanya bisa meneguk ludah sebanyak-banyaknya.

"Haaaaaa~ kenapa pagi cepat sekali datang sih? Sungguh aku tak bersemangat untuk menjalani hari ini!" Hinata mengeluh pada dirinya sendiri. Dengan muka kusut, dia mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.

.

.

Seoarang Hyuga Neji sedang makan dengan santai. Dia terlihat berwibawah dengan kontur muka yang dingin, namun tegas. Dengan santai dia menoleh kepada adhik perempuanya yang baru turun dari lantai dua apartemenya.

"Pagi Nii-san," sapa Hinata kepada kakak tercintanya. Sebenarnya Hinata tinggal bersama kakanya Hyuga Neji, mereka tinggal di sebuah apartemen mewah yang ada di daerah Konoha. Biar mandiri katanya.

"Ada apa denganmu Hina-chan?" Bukanya menjawab Neji malah bertanya kepada Hinata, dia sedikit risih melihat muka tertekuk Hinata.

"Tidak ada apa-apa kok Nii-san, Hinata berangkat dulu ya!"

"Eh? Apa kamu tidak sarapan? Bukanya bisa berangkat denganku nanti?"

"Tidak, nanti aku makan di sekolah saja." Dan dengan itu Hinata meninggalkan apartemen kakaknya.

.

.

Di dalam sebuah rumah yang masih gelap, terbukti dari lampu ruangan yang belum di nyalakan terlihat seorang pemuda berambut kuning cerah yang masih terlelap di dalam mimpi indahnya. Tapi semua itu musnah sudah oleh sebuah ketukan pintu yang cukup untuk mengganggu mimpi indahnya.

Dan di sinilah Hinata berada. Di sebuah apartemen kecil dan juga... yang tidak lain dan tidak bukan adalah rumah senpai-nya. Uzumaki Naruto. Dan jika kalian ingin tahu kenapa Hinata bisa mendapatkan alamat rumah Naruto, berterimah kasihlah kepada Ino yang tahu segalanya.

Tak lama setelah Hinata mengetuk pintu, pintu terbuka dengan cara di banting.
"Siapa sih bertamu sepagi ini?" Naruto bertanya sambil mengucek matanya yang masih buram sehabis bangun tidur.

"Ma-maaf se-senpa-i a-aku yang senpai su-suruh ke-kesini kemari." Hinata menjawab dengan jantung yang berdetak kencang. Dia takut karena mendapat sambutan yang kurang hangat dari tuan rumah.

"Oh kau yang kemarin, ayo masuk!" Tanpa banyak bicara Hinata mengikuti Naruto yang sudah masuk terlebih dahulu. Tapi, setelah Hinata mengangkat kepalanya. Dia hampir saja pingsan, bagaimana tidak, ternyata dari tadi Naruto hanya memakai celana boxer! Dengan muka memerah Hinata hanya bisa menunduk lebih dalam lagi.

.

.

.

Setelah masuk kedalam rumah Naruto, yang dapat di lihat oleh Hinata hanya sampah, sampah, dan celana dalam yang berserakan, apa ini sebuah rumah? Dan itulah yang ada di fikiran Hinata.

"Hei kau! Siapa namamu?" Naruto bertanya dengan nada suara keras, yang malah membuat tubuh Hinata merinding disko.

"Hai! Nama Hyuga Hinata, umur 16 tahun, berat badan 45 kg, tinggi 160 cm." Ucap Hinata ngawur saking takutnya kepada seorang Naruto. Dan Naruto hanya geleng-geleng kepala.

"Oh iya! Aku menyuruhmu kesini bukan untuk mengobrol tapi, aku ingin menghukumu karena kau telah membuatku di skorsing selama 2 minggu dan mendapat Hukuman untuk menjadi tukang bersih-bersih!"

"Ma-maaf senpai." Hinata menunduk semakin dalam, dan hanya mengucapkan kata maaf dengan sangat pelan.

"Cih! Apa kau kira dengan kata maafmu hukumanku akan dicabut. Dan mulai sekarang Hukuman yang aku beriakan kepadamu adalah..." Hinata merasa seperti akan di hukum mati oleh sebuah pengadilan, baginya kalimat yang akan di ucapkan Naruto adalah hal yang sangat tidak ingin di dengarnya.

"Setiap pagi kau harus datang kerumahku, bersih-bersih, mencuci semua bajuku, memasak. Apa kau mengerti?!"

"Ta-tapi senpai, aku..."

'kreteeeek kreeek kraattt'

Ucapan Hinata terpotong oleh Naruto yang menggretak 'kan buku-buku jarinya. Hinata hanya bisa mengangguk dengan lesu. Dia masih sayang kepada kesehatan dirinya dan tidak ingin tangan besar Naruto mendarat di pipinya.

Setelah itu, Naruto pergi meninggalkan Hinata yang sedang menyapu ruangan tengah Naruto. Dan Hinata bisa mendengar deburan air dari arah kamar mandi.

"Hinata! Bisa kau kesini!"

"Iya senpai!" Setelah mendengar Naruto memangil Hinata langsung pergi ke arah kamar mandi'

"Bisakah kau ambilkan celana dalam ku yang ada di lemari!"

"Ce-celana da-dalam?"

"iya! Apa kau tuli ha?"

"Baik senpai!"

.

.

.

Setelah Hinata selesai menyelesaikan semua semua 'hukuman' yang di berikan oleh Naruto, dia berangkat ke sekolah dengan naik angkutan. Dengan langkah yang berat Hinata berjalan menuju ke dalam kelas. Di dalam kelas sudah ada dua sahabat super cerewet Hinata. Ino dan Sakura.

"Kenapa mukamu di tekuk seperti itu Hina-chan?" Sang rambut pink bertanya kepada Hinata

"Iya kenapa kau seperti orang yang habis lari maraton mengelilingi Konoha?" Dan sang pirang juga menuntut penjelasan kepada Hinata.

"Aku mendapat sebuah musibah, Ino-chan, Sakura-chan!"

"Apa itu?!" Sakura dan Ino berteriak kepada Hinata.

"Jadi begini..."

Setelah Hinata menjelaskan semuanya ceritanya, muka Ino dan Sakura malah cengengesan.

"Bukanya kamu beruntung Uzumaki senpai nggak memukulimu Hina-chan? Pffft ptfffft" Sakura bertanya dengan menahan tawa.

"Bahkan Naruto-senpai menjadikanmu seorang istri! Hahahahah." Muka Hinata memerah sepenuhnya karena di ledek habis-habisan oleh kedua sahabatnya. Terutama ucapan Ino.

"Sudah di-diam!" dan Hinata hanya bisa menunduk sejadi-jadinya.

"kyaaaaa Sasuke-senpai!"

"Sasuke-sama!"

"Sasuke-kun!" Tak lama terdengar suara teriakan-teriakan lebay dari arah luar kelas Hinata.

"Kyaaaa pig sepertinya Sasuke-kun, sudah tiba!

"Iya jidat ayo kita keluar!"

Hinata menghembuskan nafas lega karena dia tidak lagi mendapat ledekan dari duo cerewet itu. Untung saja mereka berdua adalah fans dari leleki tertampan di sekolah ini. Jadi Ino dan Sakura langsung lupa segalanya.

Iseng-iseng Hinata melihat kearah pintu depan dimana kerumunan manusia (fans sasuke) tadi berkumpul. Dan Hinata bisa melihat bahwa sang pangeran sekolahnya sedang melihat ke arah Hinata. Sangat lekat. Dengan cepat Hinata menundukan kepalanya.

'Kenapa Sasuke-senpai menatapku seperti itu...'

T.B.C

.

HAHAHAHAHAH akhirnya bisa update juga maap ya sedikit telat #telat banget hoi!

Maap-maap sebenarnya ini fic udah kelar sampai akhir, tapi karena lagi masa-masa UTS jadi nggak ada waktu buat ngetik heheheheh. Dan ini balesan review yang gak log-in.

Dvanolix: ceritnya pasaran kok, heheheh makasih udah review! #ojigi

DNB: biasa aja kok, mau review lagi?

Hyuna toki: iya makasih saranya. Saya akan berusaha semaksimal mungkin buat membasmi (?) typo dan kawan-kawanya!

Yang log-in aku bales lewat PM,

masih bersedia review, konkrit atau flame?
Saya terima semuanya!