Declaimer: Masashi Kishimoto

.

.

Warning: AU, OOC, gaje, judul gak sama dengan isi, alur cepet, high school fic.
.

.
Summary: Hyuga Hinata, seorang siswi di Konoha High school. Dia berpikir bahwa kehidupan SMA akan biasa-biasa saja tapi, apakah dia masih berpikir begitu jika dia bertemu dengan Uzumaki Naruto?

Chapter 4: Seseorang yang penting.

Terlihat seorang gadis manis baru saja keluar dari sebuah Minimarket dipinggiran kota Konoha, dia adalah Hinata, Hinata Hyuga. Dengan memakai sebuah jaket berwarna ungu dan juga celana jeans selutut serta rambutnya yang diikat ponytail dia terlihat cantik, sangat cantik malah.

"Ternyata sudah jam segini, ini semua gara-gara Sakura-chan," Hinata berkata sambil melihat kearah jam tangan yang sudah menunujukan pukul 21:14, dengan menghembuskan nafas berat dia melangkahkan kakinya kearah apartemennaya.

Sebenarnya tadi sore Hinata keluar dengan niat untuk berbelanja bahan makanan yang sudah mulai habis, tapi saat masih berada dijalan, Handphone miliknya berbunyi dan mendapat pesan singkat dari Sakura yang berisikan, 'Hinata-chan! Tolong kesini sekarang aku dalam masalah, (Lovely café) ' dan Hinata hanya bisa menghela nafas saat tahu dirinya hanya dikerjai oleh Sakura, ternyata permintaan 'tolong' Sakura hanya alasan Sakura untuk membuat Hinata mau menemaninya dan mendengar semua ocehan tentang Uciha Sasuke selama 2 jam non-stop.

"Kyaaa! Tolooong!"

Dengan tersentak Hinata terbangun dari alam bawah sadarnya tentang Sakura,

"Aku mohon! Kalian bisa mengambil semua barang-barangku!" sekali lagi Hinata mendengar suara seorang wanita berteriak.

Dengan langkah cepat Hinata mencari asal suara tersebut, dan akhirnya suara itu membawa Hinata kearah sebuah gang kecil dimana terdapat tiga orang pria bertubuh besar dan satu wanita yang terlihat sangat ketakutan.

'Apa yang harus aku lakukan? Lari dan memanggil polisi atau menolongnya!' dengan bingung Hinata memikirkan apa yang bisa dia lakukan untuk menolong Wanita tersebut. Masih berpikir dengan keras Hinata melihat kearah sekumpulan pria tersebu, dan alangkah kagetnya saat melihat salah satu dari mereka mencoba untuk membuka baju si wanita.

"Hentikan!" tanpa Hinata sadari dia sudah berdiri tepat dibelakang kerumunan itu.

Reflek, ketiga orang tersebut langsung melihat kearah Hinata, 'matilah aku' itulah yang Hinata pikirkan saat melihat tatapan tiga orang itu.

"He? Apa kau bilang?" salah seorang pria yang memakai anting dibibirnya berkata kepada Hinata.

"Hahahahah sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan kita," dan pria yang memakai

kacamata hitam tertawa kegirangan saat melihat Hinata yang berdiri didepanya.

"Tangkap dia," ucap seorang yang memiliki tubuh paling besar diantara mereka.

Setelah mendengar perintah dari pemimpinya, kedua orang tersebut dengan cepat menangkap tubuh mungil Hinata.

"Apa yang kalian lakukan? Cepat lepaskan!" ucap Hinata dengan berusaha berontak dari kekangan mereka berdua.

"Hahahah kami tidak akan melepaskan kelinci kecil sepertimu nona, bukanya kau ingin bermain dengan kami? Buktinya tadi kau dating kesini." Pria beranting itu berkata meremehkan kearah Hinata.

Dengan tubuh yang gemetar Hinata masih mencoba untuk berontak, 'bodohnya aku, seharusnya aku tadi memanggil polisi saja' pikir Hinata menyesal akan tindakan bodohnya.

"Bruuhkk!"

Hinata merasa sakit dipunggungya, sekarang dia sadar bahwa posisinya terhimpit dengan tembok, sama malangnya dengan wanita disampingnya yang tadi ingin dia tolong.

"Tolong lepaskan aku," Hinata melihat kewanita disampingnya yang sudah bercucuran air mata.

"Kalian mengurus wanita ini, dan aku akan bersenang-senang dengan kelinci kecil ini," dan tubuh Hinata terasa lemas saat merasakan sentuhan tangan pria itu didagunya.

.

[][][][][][][]

.

"Hei," Hinata dan ketiga pria itu menoleh kearah suara tersebut.

"Bruuuaahkk!"

Dan alangkah kagetnya kedua pria tersebut saat melihat satu temanya sudah tersungkur ditanah dengan darah yang bercucuran dikepalanya.

"Hei apa-apaan ka-" belum selesai berbicara kedua pria itu langsung gemetar saat melihat Naruto yang memegang balok kayu yang penuh dengan darah.

"Apa aku menganggu?" ucap Naruto dingin dengan seputung rokok menyelip dibirnya.

Seketika muka kedua pria itu berubah menjadi pucat pasi.

"Ti-tidak Na-naruto-san!" jawab salah satu pria itu.

"Dan apakah kalian bersedia meninggalkan kedua wanita itu dan segera pergi?" Naruto berkata dengan pandangan dingin, sangat dingin. Dan tanpa dikomando dua kali, kedua pria itu'pun pergi dengan menggendong salah satu temanya yang sudah tak sadarkan diri.

Hinata menatap Naruto tanpa bisa berbicara sedikitpun, ya, dia hanya bisa merasa lega sekaligus takut melihat Naruto yang dating menolongnya.

"Te-terima kasih," terdengar suara pelan dari gadis yang berada disamping Hinata, dan Naruto hanya diam melihat wanita itu.

Dengan gerakan cepat Wanita itu langsung berdiri dan memeluk Naruto dengan sangat erat, dia merasa sangat lega dan senang karena telah diselamatkan oleh Naruto.

"Terima kasih tuan! Saya sangat berterima kasih!" ucap wanita itu. Entah kenapa saat melihat hal yang dilakukan wanita itu, Hinata merasakan sebuah getaran dihatinya, sakit, dan Hinata hanya bisa menunduk.

"Cepat lepaskan pelukanmu dan segera pergi dari sini," Naruto berkata dengan dorongan kecil untuk memisahkan wanita tersebut, dan setelah mengucapkan beberapa kata terima kasih, wanita itu'pun pergi dari tempat itu.

.

[][][][][][][]

.

'Perasaan apa ini?' Hinata berkata pada dirinya sendiri. 'Kenapa aku merasakan sakit saat melihat wanita itu memeluk Naruto-kun'.

"Nata… Hina… Hey Hinata!" seketika Hinata telonjak dari posisinya. Dengan cepat dia melihat kearah Naruto, dan pada detik itu juga dirinya serasa mau pingsan saat melihat Naruto mengacungkan balok kayu itu kearahnya.

"Eh iya ada apa Naruto-kun?" dengan tubuh gemetar dia bertanya kepada Naruto, 'kumohon jangan membunuhku' berulang kali Hinata berkata dalam hatinya.

"Kenapa kau malah melamun, ayo ikut aku." Naruto berkata dengan nada dingin kepada Hinata.

"Eh? I-ikut Na-naru-to-kun?" Hinata menjawab dengan gugup, karena pikiranya sudah dipenuhi adegan Gore yang akan Naruto lakukan kepadanya.

"Iya, atau kau lebih suka disini? Dan menunggu ada orang yang akan memperkosamu terus membunuhmu dan akan membuang mayatmu dipinggir jalan?" rasa takut dengan cepat memasuki pikiran Hinata saat mendengar kata-kata vulgar Naruto dan dengan cepat Hinata mengikuti kemana arah Naruto berjalan.

Dan disinilah Hinata sekarang, disebuah tempat dengan musik yang menggema diseluruh ruangan, asap-asap rokok berterbangan dan juga bau minum-minuman keras yang membuat kepala Hinata pusing, disebuah tempat yang bernama The Night Club.

"A-apa yang ki-kita lakukan di-disini?" Hinata berkata dengan sedikit mengeraskan volume suaranya, mengingat betapa bisingnya ditempat ini.

" Bisakah kau berbicara dengan lancer dan lebih keras?' bukanya menjawab Naruto malah menatap Hinata dengan tajam.

"Apa yang kita lakukan disini?' dengan takut-takut Hinata mengulangi pertanyaan Naruto.

"Sebenarnya apa fungsi dari kedua matamu? Apa kau tidak melihat kalau aku sedang berkerja?"

Iya, memang Hinata bisa melihat bahwa Naruto sedang melayani pesanan atau lebih tepatnya menyediakan minuman sebagai bartender.

"Ini adalah caraku memenuhi kebutuhan Hidupku, tidak seperti tuan putrid manja yang ada di depanku," Hinata hanya menggembungkan pipinya saat mendengar kalimat pedas Naruto, mau membalas'pun Hinata merasa takut akan terancam.

"Sebaiknya aku pulang saja," ucap Hinata sambil berdiri dari posisi duduknya.

"Terserah."

Tapi baru beberapa langkah niatnya untuk pulang dia urungkan karena, melihat senyum om-om yang melihat kearahnya, dan dengan cepat dia kembali duduk ditempatnya tadi. Naruto hanya bisa tersenyum kecil melihatnya.

"Ehmm… Naruto-kun?" Hinata membuka percakapan, karena mereka berdua sudah terlalu lama sibuk dalam kegiatan masing-masing.

"Hn?"

"Maap, aku belum bisa me-menjalankan hukuman yang Naruto-kun berikan." Ucap Hinata dengan menundukan kepalanya.

"Cih, kalau kau sudah merasa baikan, kau boleh datang lagi kerumahku." Sebenarnya setelah kejadian dimana Hinata pingsan di rumahnya, Hinata belum dating sama sekali ke rumah Naruto dan tidak masuk sekolah selama tiga hari pula.

"Ter-terima kasih."

"Tapi jangan berpikiran kalau aku akan meringankan Hukumanmu," dan Hinata hanya bisa menelan ludah dengan susah payah.

.

[][][][][][][]

.

"Naruto!"

Sebuah suara teriakan terdengar oleh kedua telinga Hinata, dan tidak berapa lama seorang laki-laki seumuran Naruto berjalan menghampirinya.

"Hei Shika!" sapa Naruto pada lelaki berposturtubuh tinggi, mempunyai model rambut dikuncir keatas berwarna hitam dan memakai antinng di kedua telinganya.

"Hei Nar, kau mau ikut kami berpesta?" Shikamaru berkata sambil menunjuk kearah sekumpulan anak seumuranya yang sedang meminum minuman keras di sebuah sudut Club.

"Maap tapi aku sedang-" tapi belum selesai Naruto berkata, sebuah tangan besar menepuk pundaknya.

"Kau pergilah, biar aku yang berjaga." Dan tanpa banya bicara Naruto beranjak dari tempat dia berdiri.

"Jadi sudah berapa lama kalian berpacaran?" pria itu bertanya kepada Hinata yang sedang sibuk mengaduk soda miliknya.

"Eh? Berpacaran?" dan Hinata hanya bisa tersipu dan menundukan kepalanya.

"Hahahah sebelumnya perkenalkan, aku adalah Jiraiya, aku adalah pamanya Naruto sekaligus pemilik Club ini." Jiraiya berkata sambil melihat kearah Hinata.

"Hinata, Hinata Hyuga." Jawab Hinata singkat.

"Kau belum menjawab pertanyaanku Hinata-chan, dan apakah kalian sudah melakukan 'itu'?" seketika muka Hinata berubah menjadi berwarna merah.

"Ka-kami ti-tid-tidak berpacaran! Dan ti-tidak –pe-pepernah melak-ukan apa, yang paman katakana!" Hinata berkata dengan keadaan yang sangat menggelikan menurut Jiraiya.

"Ow, apa aku boleh meminta sesuatu kepadamu Hinata-chan?" dan dengan tiba-tiba nada suara Jiraiya berudah menjadi sangat serius.

"permintaan?"

.

[][][][][][][]

.

"Tap tap tap"

"Tap tap tap"

Terdengar suara langkah kaki yang lebih terkesan menghentak didalam sebuah apartemen mewah.

" Kenapa Hinata-chan belum pulang juga?" ucap Neji kepada dirinya sendiri.

"Apa jangan-jangan dia diculik?"

"Apa aku harus memberitahukan Otou-san? Eh jangan-jangan, nanti dia malah menyuruh semua polisi Konoha untuk mencarinya."

"Dan kenapa telfonku tidak dia jawab!" dengan frustasi Neji berteriak dengan tidak elitnya didalam sebuah apartemen seperti orang gila.

.

[][][][][][][]

.

"Iya, aku mempunyai satu permintaan untukmu,"

"Apa itu?" Hinata bertanya dengan sedikit rasa penasaran.

"Aku ingin kau menjaga Naruto,"

"Eh? Menjaga Naruto-kun?" Hinata merasa bingung sekarang.

Jiraiya mengambil napas dalam, dan memandang Hinata dengan tajam dan membuat Hinata sedikit tidak nyaman.

"Iya aku ingin kau menjaganya. Dia memang terlihat seperti preman dan urakan. Tapi, dia merasa kesepian, dan dihantui rasa bersalah," Hinata hanya bisa mendengarkan apa yang kan Jiraiya katakana.

"Adhiku, atau lebih tepatnya ibu Naruto dia sudah meninggal saat Naruto kecil, dan mulai saat itu Naruto mulai menganggap kematian ibunya karena kesalahanya. Karna ku lihat Naruto berbeda saat bersamamu, jadi aku meminta hal ini kepadamu. Dan sepertinya Naruto menganggapmu sebagai orang penting dihidupnya." Mendengar kalimat akhir dari Jiraiya, Hinata merasakan tubuhnya tidak bisa bergerak dan kaku.

"Ba-baiklah." ucap Hinata lirih.

"Eh Hinata-chan sepertinya aku punya satu permintaan lagi."

"Apa kau bisa mengantarkan Naruto? Sepertinya dia sudah sekarat dan tidak bisa pulang sendiri." Jiraiya berkata dengan menunjuk kearah Naruto yang sudah tersungkur karena mabuk.

"He'em"

"Anggaplah ini sebagai latihan untukmu untuk menjadi seorang istri yang baik untuknya, hahahah ayo, akan kuangkat Naruto, dan tolong carikan taksi."

Dan tanpa banyak bicara Hinata langsung keluar dari tempat itu.

.

[][][][][][][]

.

"Haaa~" Hinata menarik nafas panjang saat berhasil membawa tubuh Naruto kedalam apartemen Naruto dan membaringkanya dikamarnya.

"Eh, sudah jam berapa ya?" dengan gerakan pelan Hinata melihat jam tanganya, dan bagaikan disambar petir Hinata hanya bisa melongo menatap jamnya yang menunjukan angka, 23:46.

Dengan gerakan patah-patah Hinata mengambil Handphone miliknya, dan Hinata hanya bisa merinding melihat, pesan masuk sebanyak 87, serta panggilan sebanyak 57 yang berasal dari Neji. Dan saat Hinata akan membalas pesan Hp nya bergetar tanpa panggilan masuk, dengan takut-takut Hinata menekan tombol hijau di layar Hp nya.

'Hei Hinata-chan, kau dimana? Apa kau tidak apa-apa? Kenapa jam segini belum pulang? dan kenapa telpon serta sms ku tidak ada yang kau angkat atau balas?" Neji melontarkan sederet pertanyaan yang mengharuskan Hinata sedikit menjauhkan letak Handphone miliknya dari telinga.

"Tenang Neji-nii, Hinata tidak apa-apa, sekarang Hinata ada berada dirumah Ino-chan, dan mungkin Hinata akan pulang malam ini." Hinata hanya bisa berbohong kepada Neji, karena kalau Hinata ingin pulang, dia takut karena sekarang sudah larut, dan kalau dia meminta Neji menjeputnya. Bisa-bisa Neji terkena koma karena tahu adhiknya berada dirumah seorang laki-laki.

"Kenapa tidak kasih tahu Nii dari tadi, apa ada masalah?"

"Tidak ada masala apa-apa kok, Neji-nii tenang saj-" belum sampai kata-kata Hinata selesai, sebuah tangan menarik tubuhnya hingga dia terjatuh kearah tersangkah penarikan, yaitu Naruto.

"Hinata~" Naruto mendesah dalam keadaan mata masih tertutup, dia mengigau.

Dengan cepat tangan Naruto memeluk tubuh mungil Hinata, dan membuat Hinata kesusahan untuk bernapas.

"Naruto-kun jangan memeluku terlalu erat, hah hah hosh…" Hinata berseru lirih kepada Naruto yang masih tertidur dengan pulas. Dan dengan usaha sekitar dua menit, akhirnya Hinata berhasil lepas dari pelukan Naruto dan segera menyingkir dari ranjang Naruto.

Dengan tak menghiraukan jantungnya yang berdetak sangat abnormal Hinata mengambil Handphone miliknya yang ada dilantai.

"Halo Neji-nii? Hah ha hah hosh" Hinata bertanya dengan napas yang masih ngos-ngosan.

"Bruuukhh!"

"Tut… tut… tut"

Bukanya mendapat jawaban, Hinata hanya bisa medengar dentuman benda jatuh, serta bunyi panggilan yang terputus.

Dan didalam sebuah apartemen mewah di daerah Konoha, terdapat tubuh kaku seorang Hyuga Neji dengan keadaan mengenaskan. Wajah pucat, dan mulut yang terbuka.

T.B.C

.

[][][][][][][]

.

Hai minna! #muncul dengan innocent *dehajar sekampung*

Maap-maap Fic Ini baru bisa saya Apdet! #goyang ngebor

Hahahah map jika membuat minna-san menunggu terlalu lama, *nggak ada yang nunggu woi*

Heheh sebelumnya maap karna saya sudah menelantarkan Fic ini selama 5 bulan lebih! Dan ini adalah Chapter yang menandakan seorang Jasinist sejati kembali lagi ke dunia per- Fanfikan! Hell yeahh! #salto.

Dan ini balesan REPIU buat yang kagak log-in.

Raiton kuropansa: ini udah apdet, tapi map apdetnya nggak secepat seperti yang Kuropansa-san minta! #Ojigi

Repiunya ditunggu!

Diana Aztajim: Hahahah mau jadi Hinata? Nikah dulu sama saya heheheh ini udah apdet #dihajar

Vidie: Ini udah apdet, map lemot! Ini udah full NaruHina malah #Ojigi again. Masih mau baca?

Fatiyah: iya Ini cinta segitiga, mau buat Cinta segi sepuluh tapi susah, #disate karna gaje. Oke ini udah update repiunya di tunggu.

Swiztara: Sasuke suka sama Hinata karena Hinata sexy! *bohong sebenarnya itu alasan Author* hahahah kalo nggak salah hukuman Hinata ada penjelasanya di chap 2, heheheh . saya juga mau bilang Arigato Gozaimasu! Udah mau repiu fic saya!

U. Dila-chan: aduh saya jadi malu, kalo kamu bilang begitu,,, #tutupin muka pake lumpur (?)

Ini udah apdet, semoga rasa penasaranya teratasi.

: Ini udah update, map lama hahah masih mau repiu? #lee face

Seperti biasanya, mau review. Konkrit, flame?

Semua diterima disini!

Jashin-sama with us!