Disclaimer: bukahkah seluruh karakter dalam Naruto milik Masashi Kishimoto?
Genra:Com-Rom(Comedy-Romence), Hurt/Comfort.
Main Chara: Ino Yamanaka and Shikamaru Nara
Warning: author amatiran, abal tak terkira, banyak kesalahan dalam penulisan, payah EYD, bergelimpungan typo(s), hanya berharap maklum dari para readers.
Summary: aku sangat menyukai bulan septermber, karena di bulan itu aku dilahirkan sebagai seorang gadis dari keluarga yang mencintaiku. Tapi semuanya sedikit berubah, saat di awal september kali ini ayahku mengatakan bahwa aku akan dijodohkan dengan seorang yang tak kukenal. Lalu dari semua yang kulakukan, kuharap septemberku akan menjadi lebih baik.
Sweet September
Untuk kesekian kalinya, kuharap aku salah dengar. Yang benar saja, Shikamaru adalah orang yang selama ini sudah ditunangkan denganku. Tersenyum hambar pada keempat orang tua di hadapanku, sesekali aku mengalihkan netra pada Shikamaru. Ia nampak jauh berbeda denganku, expresinya datar dan tidak terlihat terkejut parah sepertiku. Sungguh, semua ini jadi sangat kaku untukku.
Aku merasa ambigu dengan keadaan ini, di mana satu sisi aku yakin pendengaranku tidak salah tangkap apa yang baru saja diucapkan oleh para orang tua itu, tapi sisi yang lain rasanya ingin meniadakan. Terdiam kembali, hanya bisa memberikan seulas senyum yang kupaksakan agar terlihat natural. Biar bagaimanapun, sandiwara ini tetap tidak boleh ketahuan. Kepalang basah, walau tidak ada gunanya.
Sebenarnya sama saja, mau mengaku atau tidak, Shikamaru tetap orang yang selama ini menjadi calon tunanganku. Mungkin yang berbeda hanya konteksnya, bila aku berkata berjujur bahwa Shikamaru bukan kekasihku, tetap saja Shikamaru pria yang dijodohkan denganku. Di opsi lain, saat melanjutkan kebohongan ini, sekali lagi sama saja Shikamaru subjeknya.
"Masa sih? Wah, kalau begitu benar saja pilihanku,"aku berbicara asal. Berusaha terus saja melanjutkan kebohongan yang telah kuciptakan. Kurengkuh lengan Shikamaru, secara kontinue memberikan bentuk runcingan bibir yang sama. Kudapati kedua orang tuaku juga orang tua Shikamaru menggangguk bersamaan, yang entah apa artinya dari gerakan kepala naik turun itu.
"Kalau begitu, tidak perlu ada acara pertunangan segala. Bagaimana kalau kalian langsung menikah saja? Bukankah sudah cukup waktu bagi kalian untuk mengenal satu sama lain?"suara ayahku terdengar, memberikan saran yang menurutnya tentu amat sangat baik. Kontan ketiga orang yang berada satu direksi denganya kembali menganggukan kepala, senyum manis mereka terlihat begitu mengerikan untukku.
"Iya, bagaimana kalau acara pernikahan kalian dilangsungkan akhir bulan ini saja?"ibuku ikut memberikan masukan.
"Benar, sekalian anggap saja merayakan hari ulang tahun kalian?" perkataan dari bibi Yoshino membuatku tersentak pelan, aku lupa bahwa hari ulang tahunku hanya berbeda sehari dengan Shikamaru pada bulan september. Kusenggol pelan lengan Shikamaru, bermaksud menyuruhya untuk ikut bersuara. Berharap ia dan otak jeniusnya bisa mencari jalan keluar untuk permasalahan ini.
Ia sedikit melirikku dengan ciri picingan mata pemalas khasnya, yang kubalas malah dengan membulatkan secara sempurna kedua indera visualku. Ancaman klasik, yang tentunya hanya berhasil untuk diberikan pada anak kecil. Kutahu ia menghela napas pelan, sepertinya dalam hitungan detik aku akan mendengarnya berbicara.
"Begini paman, hubungan kami memang sudah lama, namun hanya sebagai teman."Akhirnya ia bersuara juga, ia berkata dengan kalimat yang sepertinya terdengar menggantung. Aku harap begitu, karena bila hanya itu kalimat yang ia berikan, maka bisa ketahuan sandiwara amatiran ini.
"Cuma, hubungan kami yang lebih intens ini baru berjalan sekitar..."ia melanjutkan, syukurnya kata-katanya berisikan penyelamatan. Alih-alih melanjutkan fonemnya, ia malah melirikku. Aku mengerti, kuberikan kode dengan mengibaskan rambut dengan kelima jari di tangan kananku.
"Baru berjalan sekitar lima bulan. Jadi, kamu butuh waktu untuk lebih mengenal satu sama lain." Shikamaru meneruskan rasionalisasinya setelah mendapatkan bantuan kecil dariku. Kubantu alasan yang ia berikan dengan anggukan kepala yakin, ditambah dengan sebentuk bibir yang mencuatkan kesungguhan. Tersenyum manis.
Para orang tua itu percaya saja, mereka kembali menganggukan kepala secara massal dan balas tersenyum untuk aku dan Shikamaru. Keempatnya mungkin sudah tidak menaruh minat terhadap acara barbeque mereka. Saat ini, dijamin seluruh atensi yang mereka miliki lebih berpusat padaku serta pemuda nanas di sampingku.
"Bagaimana, sekarang kalian berkencan saja? Sekedar lebih saling mengenal."Sekali lagi, ayahku memberikan saran mati untukku. Sama sekali ia tidak tahu, bahwa lima tahun sudah aku gunakan untuk mengetahui seluruh kebiasaan si jenius itu, yang tentunya Shikamaru pun begitu terhadapku.
"Silahkan kalian untuk berjalan-jalan,"kini ayah Shikamaru ikut bersuara, tangan kirinya menengadah di udara, berpose selayaknya orang yang menawarkan untuk pergi. Aku terdiam, mati kamus. Sialnya, begitu pula pada Shikamaru. Tidak ubahnya berbeda denganku, ia sama sekali tidak bisa bersuara apa-apa.
"Tapi, kami baru saja datang. Masa diusir lagi?"aku sadar, kata 'usir' yang kusebutkan sama sekali tidak cocok untuk diungkapkan. Hanya saja, aku sama sekali tidak memikirkan pasokan verbal lain selain itu.
Kali ini, empat orang tua itu tidak memberikan sumringah seperti sebelum-sebelumnya. Mereka memberikan tatapan serius dan saling mengalihkan netra satu sama lain, mungkin mencoba mempersatukan persepsi mereka. Menyamakan sudut pandang, yang aku yakin tak lama lagi di salah satu dari mereka akan membahasakan hasilnya.
"Bawa saja Shikamaru ke dalam rumah,"ibu Shikamaru berkata, dan benar saja prediksiku.
"Atau, kau bisa saja membawa calon suamimu ke kamar. Itu tidak jadi masalah besar buat kami." Aku menganggukan kepalaku pelan mendapati ibuku berujar seperti tadi. Jadi, ini hasil perundingan kilat mereka? Amazing..!
"Tidak, tidak..! Sebaiknya kami keluar saja," bukan aku yang memberikan penuturan itu, melainkan Shikamaru. Tidak tahu apa maksud si pemalas satu ini, yang jelas rasanya itulah hal terbaik dari otak briliantnya. Ia lantas menarikku untuk menjauhi empat orang yang stagnan saja di tempat. Sedikit aku sempatkan untuk menoleh ke belakang, mendapati semua orang-orang itu malah memberikan lambaian tangan.
Tepat adanya bahwa Shikamaru ingin mengajakku pergi dari alokasi menyebalkan ini. Ia mengajakku memasuki mobilnya, memberikan digit pengaman immobilizer pada kendaraanya, dan menjalankan roda empat yang notabene milik ayahnya ini. Aku juga tidak memberikan tanya padanya mengenai ke mana ia akan membawa pergi. Namun, ada satu keyakinan yang sedari dulu aku percaya...
Bahwa jika seorang Shikamaru Nara yang membawaku pergi, aku tidak perlu mencemaskan apapun. Karena, aku akan baik-baik saja bersamanya.
o
O
o
Aku tidak tahu ke mana arah ia menjalankan mobilnya, sampai aku mendapati sebuah bangunan menjulang tinggi dan ia membawaku memasuki kawasanya. Menghentikan mobilnya sesaat untuk memberikan konfirmasi kedatangan pada petugas staff pengaman yang berjaga di pos, lalu kembali melanjutkan jalanya kendaraan untuk ia parkirkan pada tempat khususnya. Aku sedari tadi amat tidak mendominasi seperti sebelumnya, bungkam saja tanpa ada niatan untuk mengatakan apa-apa. Sungguh, aku kaget mendapati fakta barusan.
Seorang Yamanaka Ino yang biasanya bossy, kali ini tetap saja diam saat seorang pemuda membawanya memasuki bangunan yang asing bagiku. Bahkan, aku hanya bisa melihati gerak-gerik Shikamaru dari menarikku berjalan mengikutinya, menekan tombl fungsi pada lift, hingga kudapati kami di depan pintu yang bertuliskan angka duapuluh tiga.
Pintu terbuka, yang sebelumnya menerima informasi sandi dari detektor canggih oleh kartu slot pengunci milik Shikamaru. Dari beberapa detail tadi, bisa disimpulkan bahwa sekarang aku berada di apartement kepunyaan Shikamaru Nara. Entah kapan ia mulai pindah untuk tinggal sendiri seperti ini. Karena setahuku, orang tuanya tidak pernah mengizinkan untuknya meninggalkan kediaman Nara sebelum menikah.
Hmm...baru dua tahun berlalu, dan aku sudah banyak ketinggalan informasi mengenai mantan kekasihku ini. Kusadari aku membatu, tidak mengerti kenapa ada rasa aneh di dalam dadaku. Mungkin harus kuakui, aku tidak rela kehilangan segala hal tentang Shikamaru. Sekarang aku memberikan tanya pada diriku sendiri, masihkah aku mencintai pemuda ini? Tidak, mungkin aku salah menilai perasaanku.
"Ino," tegur Shikamaru, sontak membuatku terjaga dari lamunan dan pikiran mengada-ngadaku. Memberikanya tatapan terkejut, ia malah agak heran mendapatiku dengan respon itu, "ayo masuk!"ajaknya dengan melangkahkan kakinya terlebih dahulu memasuki ruangan itu. Aku menutup pintu, lalu hanya dapat mengikuti jejaknya dari belakang, dan terhentinya langkahku untuk mendudukan diri di sofa yang berhadapan denganya.
Masih tidak tahu apa yang bisa kukatakan, aku menundukan kepalaku dengan jemari memainkan ujung dress cocktail berwarna tosca-ku. Benar-benar nampak seperti bertemu dengan seseorang yang tidak dikenali sama sekali.
"Mau minum?"Shikamaru bertanya, yang kuresponi dengan anggukan pelan terlebih dahulu sebagai tanggapan awalku," iya."
"Ambil sendiri di kulkas!" bukanya meranjak untuk sekedar memberikan air mineral, ia malah balik menyuruhku. Kontan, kepalaku terangkat untuk menatapnya.
"Kau seperti orang yang ditangkap alien saja,"celutuknya, membuatku mengembungkan kedua pipiku secara bersamaan. Kesal, karena ia malah mengejekku.
"Di mana kulkasnya?"
"Dapur."
"Dapurnya sebelah mana?"
"Cari saja sendiri!"
"Shika!" suaraku kali ini meninggi, bosan juga aku dengan basi-basinya seperti itu. Alih-alih membalas ucapanku, ia lebih memilih menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, menyilangkan kedua tanganya di depan dada sembari memberikan tatapan cuek khasnya.
"Dari sini lurus, lalu belok kanan." Senyumnya tersimpul dengan diikuti kalimat demikian. Aku beranjak berdiri, melangkah ke direksi seperti yang ia katakan tadi. Bukanya terus menyusuri jalanku, begitu di tengah koridor aku malah terhenti, melihati dua buah pintu di sudut yang saling berhadapan satu sama lainya.
"Kamarmu yang sebelah mana?"tanyaku dengan tangan terentang menunjuk kedua pintu di kanan dan kiriku.
"Kanan."
"Oh, oke!" destinasi jejak kakiku kuubuh total untuk mendekati pintu di sudut yang ia sebutkan sebelumnya.
"Mendokusai..!" Shikamaru berseru, dan spontan menyergahku yang bermaksud memasuki kamarnya. Tubuh tegapnya menghalangiku dengan kedua tangan terangkat, benar-benar melarangku untuk lebih dekat dengan tujuanku.
"Kenapa kau, Shikamaru?"
"Kau yang kenapa? Seenaknya mau masuk ke kamar orang lain," setelah ia mengatakan kalimatnya, aku langsung memberikan rengutanku padanya.
Aku tahu bahwa tidak sepantasnya aku begitu terhadap orang lain, karena aku pun tidak suka ada yang seenaknya memasuki wilayah pribadiku. Jujur saja, aku tidak akan seperti ini pada lelaki manapun bila bukan Shikamaru orangnya. Rasa ingin tahuku melebihi segalanya, lagipula aku ini teman baik sekaligus mantanya. Jadi rasanya tidak perlu terlalu privasi, kan?
"Apa yang kau sembunyikan?"aku seolah mendesak untuk memasuki kamarnya.
"Kamarku berantakan."
"Silahkan beri aku alasan lain, karena yang tadi tidak akan menghentikanku."
Shikamaru kulihat menghela napas pelan, menggunakan otaknya untuk memikirkan rasionalisasi yang tepat, "kalau kau memaksa masuk, percaya saja aku akan memperkosamu!"ancamanya sontak membuatku terdiam. Aku menatapnya dan sedikit bergindik ngeri, speachless karena seorang Shikamaru Nara bisa berkata seperti itu.
Aku tidak lagi melanjutkan aksi desakanku, dengan tanpa menunggu Shikamaru melanjutkan kalimatnya untuk memerintahkanku meneruskan langkah ke dapur, aku terlebih dahulu merealisasikanya. "kau aneh, Shikamaru,"sempat saja aku mengumpat seperti itu padanya.
Aku membuka kulkasnya, mengambil sebotol minuman elitrolit dan langsung membuka segel kemasan untuk kuminum cairan yang memiliki rasa amat jauh berbeda dengan air mineral biasa. Sesekali mengalihkan pandangan pada jalan akses menuju posisiku saat ini, karena kupikir Shikamaru akan menyusulku. Salah, karena yang ada aku tidak mendapati apa yang sebelumnya kuprediksikan. Berbeda dari apa yang kukirakan, ia malah tidak mengikutiku kemari.
Aku kembali berjalan mengikuti ruteku tadi, tepat pada tempat pemberhentian langkahku sebelumnya, aku celingukan. Mengalihkan pandanganku ke kiri dan kanan, bertujuan mendapati sosok Shikamaru. Kesimpulanku, orang yang kucari tentunya berada dalam ruang pribadinya. Dengan keusilan yang kupunya, aku berjalan mengendap-endap mendekati pintu, secara mengagetkan kuputar knopnya dan pintu terbuka.
Tepat bersamaan Shikamaru memberikan atensinya padaku, dengan menendang pelan sesuatu ke kolong kasurnya. Ia seperti habis merapikan kamarnya sendiri, dan barang yang ia sembunyikan itu mampu menarik rasa penasaranku berlipat ganda.
"Apa itu, Shikamaru?" tanyaku seraya melangkah untuk mendekatinya.
Shikamaru sendiri, ia malah menarik tanganku dan menghempaskan tubuhku pada kasurnya. Spontan aku terkaget, saat kurasakan tubuhku beradu pada benda penunjang tidur ini. Belum habis rasa terkejutku, Shikamaru sudah ikut naik ke atas tempat tidurnya dan langsung menempatkan dirinya di atas tubuhku. Menjatuhkan hampir sebagian berat tubuhnya, yang sebagianya lagi ia tahan dengan menggunakan kedua tanganya.
Ia lantas tak tinggal diam, tangan kirinya yang pertama bekerja untuk menurunkan resleting dressku yang terletak di bawah ketiak kiriku. Aku jelas meronta-ronta, dengan tangan mencoba memukul-mukul dada bidangnya. Kedua kakiku tidak bisa bergerak banyak, karena sepenuhnya ia menekan pahaku dengan duduk di atasnya.
Sedikit kesulitan untuk membuka dressku, ia menarik tubuhku untuk duduk dan menahan berat tubuhku dengan rengkuhan tangan kanan yang juga menghimpit lengan kananku. Aku terus memberontak, tangan kiriku yang bebas menarik-narik kemeja putih Shikamaru hingga beberapa kancing bajunya terlepas.
Aksi rontaku sama sekali tidak menghentikanya, ia malah semakin liar dan berhasil menurunkan gaunku hingga ke perbatasan perut dan pinggul. Membuat bra dark burnette-ku terekspos bebas, dan ia meneruskan kegiatan sintingnya. Ia memulai dengan menciumi leherku, lalu turun keperbatasan dengan pundak. Aku yakin ia memberikan tanda kepemilikan di sana, yang biasa disebut kissmark. Secara perlahan ia membaringkan tubuhku kembali, masih saja melakukan hal yang sama padaku.
"Shikamaru..!"aku mencoba menghentikanya. Terus meronta dan ia sendiri melanjutkan hal yang tak berbeda dengan sebelumnya, dengan hanya area kecupnya yang berpindah. Jika ia bosan dengan yang kanan, ia akan berpindah ke sebelah kiri, terus dilakukanya berulang-ulang. Ia seperti menutup telinganya rapat-rapat, tidak peduli bahwa aku sudah sedikit meringis karenanya. Aku masih saja memanggil-manggil namanya, berupaya membuatnya tersadar dari apa yang ia lakukan.
Aku tidak mengerti, lama-kelamaan tubuhku tidak seperti yang kuharapkan. Terkadang di sela gerakan berontak pelan, tubuhku malah seperti menikmati. Otakku sama sekali tidak mau hal ini terjadi, tapi badanku merespon untuk meminta lebih. Seperti benar-benar menginginkan hal ini untuk terealisasi. Apa mungkin tubuhku merindukanya bersikap seperti ini? Aku tidak tahu.
"Shi-Shikamaru..!"terdengar bukan seperti orang yang berteriak, melainkan mendesah. Sesaat ia mendengarku berkata seperti itu, Shikamaru menghentikan ulahnya. Ia memberikan arah netranya padaku, yang aku bingung sendiri kenapa saat aku mengerang baru ia berhenti. Shikamaru menatapku intens, bibirnya memberikan senyum tipis.
"Apa kau akan pasrah saja seperti ini bila lelaki lain memperlakukanmu seperti tadi, nona?" aku terdiam sesaat mendapatinya memberikan tanya. Lantas dengan cepat menggeleng yakin. Ia memberikan seringai kecil, mengecup bibirku ringan. Kupikir ia akan melanjutkan kelakuan nakalnya, namun untuk kedua kalinya estimasiku salah. Ia beranjak dari posisinya semula, membebaskanku dari beban tubuhnya.
Untuk sementara mendudukan diri di tepi ranjangnya, "kalau sekali lagi kau melanggar laranganku, percaya saja kau akan mendapatkan perlakuan yang jauh dari ini." Shikamaru kembali mengeluarkan ancamanya tadi. Ia berdiri, lalu melakukan sedikit perenggangan dengan mengangkat tinggi-tinggi kedua tanganya. Pandanganya lantas terarah pada bajunya yang berantakan, lalu netranya berpindah padaku. Si pelaku.
Tidak berkata apa-apa, ia malah berjalan mendekati lemari pakaianya untuk mengambil kaos berwarna serupa dengan braku. "Sama, kan?" tanyanya dengan memarkan kaos itu padaku. Entah mengapa, aku merasa harga diriku di ujung tanduk, dan percayalah hanya gadis yang mencari masalah saat melakukan hal yang sama denganku. Sebab...
"Sedari dulu, hanya sampai di situ keberanianmu, Shikamaru!" tantangku dengan melempar dress cocktail-ku ke arahnya. Berdiri di atas kasurnya dengan mengacak pinggang, sombongnya. Ia sendiri sukses menangkap gaunku, tersenyum mendapatiku berujar demikian. Tidak berkata apa-apa, malah memakai kaosnya terlebih dahulu sebelum berjalan mendekatiku. Kali ini, aku sudah siap dengan segala konsekuensi dari prilakuku.
Benar saja, ia berjalan mendekatiku. Bukan untuk kembali menyerang, ia malah mengembalikan dressku, "cepat benahi riasanmu, setelah itu kuantar ke manapun yang kau mau," ia berkata seperti itu, lalu berjalan bermaksud meninggalkanku sendiri di kamarnya.
Aku, sepeninggal Shikamaru hanya terdiam menatap nanar arah perginya ia. Kepeluk dressku sesaat, lantas entah kenapa aku tersenyum. Ia tidak berubah sedikitpun, Shikamaru bukan pria jahat yang akan melakukan hal buruk seperti ini pada wanita mana saja. Sekalipun yang ia lakukan tadi memang keterlaluan, aku tahu bahwa ia tidak akan lebih dari itu.
Maka, tak salah bila aku mengatakan akan baik-baik saja selama bersamanya.
To Be Continued...
A/N:
setelah sekian lama, akhirnya fic ini up-date juga. Syukurlaaaahhh..! jujur saja, sebenarnya fic ini satu-satunya karya saya yang paling tidak memiliki kejelasan konsep, maka jangan kaget bila up-datenya lama banget. Awalnya saya juga 'agak' bermalas-malasan untuk mengerjakanya, tapi begitu sadar sudah hampir dua bulan tidak dilanjutkan, maka saya langsung semangat 45!*ada yang curhat ga sesuai tempat.
Terimakasih pada: Yola-ShikaIno, Natsuya32, zeroplus , Saqee-chan, Flo Deveraux, Hee-RinA, nianara, Chika, crystahime yang sudah memberikan tanggepan di chapter pertama fic ini.Thanks juga kepada teman-teman yang memberikan icon mengikuti dan favorite pada karya saya ini.*tebar senyum innocent Alleth!
maaf, karena saya tidak bisa janji bisa update Foolish Heroic dan Edoseika Flowers dalam waktu cepat, soalnya saya diharuskan untuk ikut ambil andil bagian humas kegiatan yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Tapi tenang aja, bukan berarti kedua fic itu discontinue, saya pasti akan melanjutkan apapun yang saya kerjakan.*alasan biar ga ditimpuk readers, cari aman.
tentunya saya minta pendapat semua teman-teman yang telah membaca fic ini. Mohon berbaik hati untuk memberikan tanggapanya, yaaa?!
So, review pleaseee...
