give me money part 2 (end)

pair: sasusai

main cast: karakter yg ikut masuk disini aja oke, cus bingung aye sebutin satu-satu

typo, gaje, garing, jelek (pake banget)

ff pertama sebagai author

happy reading

Saking sibuknya ia berfikir darimana ia mendapat uang sebanyak dua ratus juta ryo ia sudah masa bodoh dengan keadaan sekitar hingga seorang laki-laki duduk di sebelahnya dan mengamatinya sejak dari tadi hingga menepuk pundaknya.

Puk...

Sai menoleh pada laki-laki yang menepuk pundaknya.

"apakah kau Sai?" tanya pemuda itu pada Sai.

Sai hanya menganguk pelan pada laki-laki yang bertanya pada dirinya.

"kau butuh uang?" tanya laki-laki itu, dan sai terkejut dengan apa yang di lontarkan orang itu.

"ya begitulah" ucap Sai lirih sambil mendesah pelan.

Sejenak suasana hening tercipta disana, sedangkan laki-laki di sebelah Sai nampak berfikir.

part 2

give me money

Laki-laki yang duduk di sebelah Sai tersenyum tipis kemudian ia meraih tangan sai dan menggengamnya erat namun tidak begitu kuat.

"Aku bisa membantu mu, jika kau mau?"

Sai merasa heran dengan laki-laki ini, ia menarik tangannya yang di gengam oleh orang yang duduk di sebelahnya.

"maksud anda?"

"aku akan memberi mu lima ratus juta ryo?"

Sai semakin tak mengerti dengan perkataan orang ini, dia merasa bingung dan tak tau harus bagaimana berhadapan dengan orang yang ada di sampingnya itu.

"apa kau mau?"

Sai terdiam, ia mendesah pelan dan sepertinya Sai mulai berfikir orang ini adalah orang dari sebuah Bank yang memberi pinjaman, apa benar seperti itu?

"ehm.. Tapi saya tidak bisa menerima pemberian anda maaf Tuan" ucap Sai dengan di akhiri senyuman tipis di wajahnya.

"hahahahaha kau memang orang baik, aku memberi mu uang juga tidak gratis?"

"ehm saya tahu itu tuan?"

Orang yang duduk di sebelah Sai mendesah pelan sebelum ia membuka mulutnya dan melanjutkan perkataannya.

"kau boleh mengambil uang itu jika kau mau, tapi dengan satu syarat?"

"syarat, maksud tuan apa?"

Orang itu mendesah pelan kemudian ia mengeluarkan dompet dari saku celananya dan mengeluarkan secarik kertas.

"itu kartu namaku, hubungi aku jika kau benar-benar membutuhkan pertolongan" ucap orang itu sambil menyerahkan sebuah kartu nama pada Sai.

Sai menerima kartu itu, kemudian orang yang ada di sebelah Sai tadi berdiri dan mulai berjalan meningalkan Sai sendiri di bangku panjang itu, Sai mendesah pelan kemudian ia membaca huruf yang ada di kartu nama itu.

"Uciha Sasuke" gumam Sai sambil memasukan Kartu nama itu kedalam saku kemejanya, dan sepertinya ia pernah bertemu dengan orang itu. Sai mencoba mengingat-ingat lagi kapan ia bertemu dengan orang itu. Tiba-tiba saja Sai ingat kapan ia bertemu dengan Sasuke, saat itu ketika ia membesuk kakaknya sepulang kerja dan mendapati Sasuke dan Kabuto berada di kamar di mana Shin dirawat.

"ternyata orang itu?" Gumam Sai.

Sai bangkit dari duduknya kemudian dia mulai mengintip Shin yang tengah tidur pulas disana, rasanya miris melihat Shin yang masih bertahan hidup dengan alat-alat rumah sakit yang menopang hidupnya kini.

Lagi, Sai menitikan air matanya melihat Shin yang ada disana.

Puk

Sebuah tangan dengan pelan menepuk pundak Sai yang berdiri di depan pintu, Sai pun terlonjak Kaget. Kali ini seorang Dokter yang menangani Shin.

"maaf, apa anda keluarga dari tuan Shin?"

"ah iya saya sendiri, ada apa dok?"

"ehm, apa bisa kita mempercepat operasi pencangkok-an sum sum tulang belakang kakak anda, karena kami takut jika nanti akan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi pada kakak anda?"

"memangnya kapan dok, operasi itu di lakukan?"

"ya... Kalau bisa sekarang juga, karna kakak mu sedikit-sedikit mulai kehilangan kesadarannya, dan juga kakakmu mulai mimisan dari tadi?"

Perkataan dokter itu membuat Sai semakin bingung.

'Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?' gumam Sai dalam hati.

Sai merasa dirinya tersudutkan untuk saat ini, ia merogoh sakunya mengeluarkan kartu nama yang tadi ia terima dari Sasuke. Ia mendial nomor itu kemudian ia menempelkan handphone pada telinga kirinya, jantung Sai berdebar cepat ketika ia menunggu sambungan telphon itu. Ia menghela nafas berkali-kali agar rasa gugup di hatinya hilang dan pada akkhirnya terdengar suara Sasuke di seberang sana.

"moshi-moshi, apa benar ini Uciha sasuke-san?"

"ia saya sendiri, kalau boleh tahu ini siapa?"

"saya.. saya Sai orang yang tadi anda beri tawaran soal uang?" jawab Sai agak gugup.

"owh..?"

"etto.. Soal syarat yang tuan Sasuke katakan tadi, boleh tahu apa saja syaratnya?"

Terdengar seseorang mendesah pelan di ujung sana.

"kau.. Hanya perlu melayaniku malam ini itu saja"

Sai terlonjak kaget, dan matanya membelalak sempurna.

"apa tuan gila, maaf saya tidak mau?" tolak Sai.

"hahahahahahahaha terserah kau saja, aku harap kau akan memikirkannya"

tut...tut...tut

Sai memutus telphon itu, dan dia mulai mengumpat pada phonsell-nya.

"dasar dia pikir aku apa, brengsek!"

Sai membuang kartu nama itu kedalam tong sampah dengan kasar, ia merasa di lecehkan untuk saat ini. Apa benar seperti itu?

Sejenak ia ingat pada Naruto, ia segera mungkin menelphon Naruto. Belum sempat terdengar suara telphon di hubungkan Sai sudah memutuskan telphon itu, Sai sungkan pada naruto karena ia sudah berhutang terlalu banyak dan belum ia lunasi satu pun.

"Sasori" Gumam Sai, ia membuka fitur buku telphon di handphone-nya dan mencoba menelphon Sasori.

Lagi, Sai memutuskan telphon itu. Entah apa yang di fikirkan Sai saat ini, ia sudah terlalu sering membuat Sasori mengasihinya.

'bodoh bodoh bodoh... Apa yang ku lakukan sekarang' ia merutuki dirinya dalam hati sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.

Sai masih menangis, ia bingung harus apa sekarang karena ia tidak mau jika kakaknya pergi meningalkan dirinya untuk selamanya. Ia tak mau jika hidup sebatang kara.

Cukup sang kakek yang meninggalkan dia, naif mungkin kata ini tepat untuk Sai saat ini.

Sai masuk kedalam kamar dimana Shin di rawat, ia menyeret kursi kecil kedekat ranjang Shin. Di luar terdengar suara gemuruh halilintar dan sepertinya akan hujan, Sai melihat kearah jendela.

"sepertinya mau hujan" gumam Sai sambil menatap kakaknya yang tergeletak tak berdaya di atas ranjang.

Petir sepertinya menggelegar hebat, kilatan kilatan cahaya seperti lampu flash kamera. Begitu juga dengan Shin yang tengah tidur, tiba-tiba saja hidung Shin mengeluarkan darah di ikuti dengan tubuh Shin yang mulai mengejang hebat.

Panik, ya Sai benar-benar panik dan bingung ini kali kedua Sai melihat Shin seperti itu.

"kakak..." ucap Sai ketakutan sambil meraih-raih tombol bell emergency.

"kakak..." teriak Sai, dan Suaranya menggema dan terdengar menyayat mengerikan.

"kakak..." teriakanya semakin terdengar seperti seorang yg menjerit dalam hujan yang deras di malam yang gelap.

Sai duduk gemetaran ketika ia berhadapan dengan dokter berambut panjang dan bermata sipit, ia takut jika dokter itu akan megatakan sesuatu hal yang buruk tentang Shin. Tapi mau bagaimana lagi keadaan Shin sudah begitu memperihatinkan.

"Orochimaru-san, bagaimana keadaan kakak saya, apa dia baik-baik saja?"

Dokter itu mendesah pelan, kemudian ia melepas kaca mata yang terpasang di wajahnya.

"huft.. Kakak mu amat sangat kritis keadaannya, dan aku sarankan agar secepat mungkin untuk di operasi dan lagi pula sum sum tulang belakang untuk kakak mu sudah ada"

Sai menganguk pelan kemudian ia terdiam seperti patung, pikirannya berkecamuk antara operasi dan uang. Tabungannya juga belum mencukupi untuk melakukan operasi tersebut, ia menganguk pelan seolah-olah dia mengerti. Dia berpamitan pada dokter itu kemudian ia keluar dari ruangan dokter tersebut.

'apa yang harus aku lakukan sekarang' gumamnya dalam hati sambil berjalan mondar mandir seperti setrikaan.

Kali ini dia mencoba meminta pertolongan pada Naruto, dengan segenap kekuatan ia menghubungi temannya itu.

"moshi-moshi"

"oh.. Ya Sai, ada apa?"

"ehm.. Anu.. Naruto bisa tidak kamu menolongku?"

"menolong apa Sai?"

Sai terdiam, ia mendesah pelan kemudian ia mengumpulkan keberaniannya untuk bicara. Awalnya ia ragu untuk berkata sesuatu tapi demi kepentingan dan kelangsungan hidup Shin, ia pun nekat.

"Naruto, bisa tidak aku pinjam uang dua ratus juta ryo?"

"ehm..." naruto terdiam kemudian ia mendesah pelan.

"maaf Sai, uang segitu aku tidak punya"

"ehm.. Ya sudah terimakasih ya Naruto"

"sebenarnya ada, tapi itu uang Ayah ku Sai, jadi maaf ya tidak bisa membantu" ucap naruto dengan nada sepertinya menyesal tidak bisa membantu temannya itu.

"ah.. Tidak apa-apa kok Naruto, maaf sudah terlalu sering merepotkan mu"

Sai menutup phonesell flip-nya, kemudian ia berjalan mondar mandir lagi. Sekarang fikirannya benar-benar buntu dan harus bagaimana lagi dia menemukan uang sebanyak itu dalam waktu sesingkat ini, merapok Bank, menculik orang?

Dia sudah di buat pusing dengan semua ini, dunia tak adil padanya begitulah yang ia pikirkan.

Apa mungkin, melakukan apa yang dikatakan orang itu adalah jalan satu-satunya saat ini?

Pikiran Sai semakin berkecamuk, ia pusing tujuh keliling memikirkan darimana ia mendapatkan uang sebanyak itu saat ini.

"ya Tuhan... Apa yang harus aku lakukan ya Tuhan" ucap Sai sambil menangis terseduh-seduh.

Dia bersandar pada dinding dan merosot duduk di lantai, dia memeluk lutut dan menengelamkan kepalanya diantara pelukan pada kakinya.

Seperti memikul beban yg berat di pundaknya, dia sudah tak mampu memikul lagi, entahlah mungkin saja dia putus asa.

Tiba-tiba saja tawaran dari Sasuke berseliweran di otaknya, dia memikirkan tawaran itu.

Antara 'Ya' dan 'Tidak'?

Sai semakin bingung dengan ini, tapi ini satu-satunya cara agar dia dapat uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat dan cepat.

Hujan mulai turun kebumi, sejak tadi gemuruh halilintar menyambar-nyambar di langit dan menghasilkan kilatan-kilatan yang amat mengerikan. Sai mengamati keadaan di luar dari jendela tempat Shin dirawat.

"hujan.." gumam Sai lirih sambil menempelkan tangan mungilnya pada kaca yang berembun, ia mendesah pelan kemudian ia memutar tubuhnya dan berjalan kearah Shin yang sedang tidur.

"kakak.. Maaf.. Aku akan melakukan itu demi kakak" ucap Sai lirih di ikuti isak tangis.

Ia berulang kali membaca pesan dari Sasuke dimana ia di tunggu di sebuah apartemen kepunyaan Sasuke, ya sebelum hujan turun ia sudah menelpon Sasuke dan alhasil Sasuke memberikan alamat dimana Sasuke tingal.

Sai keluar dari kamar tempat Shin dirawat, sebelum keluar ia menatap dalam-dalam kearah kakaknya yang sedang berbaring tak berdaya disana.

"kak... Maaf.." ucapnya lirih dan mulai menutup pintu kamar itu pelan-pelan.

Dengan debaran aneh di hatinya ia berjalan keruang kerja Kabuto, dia meminta Kabuto untuk segera meng-operasi sang kakak tercinta.

Kabuto sempat bingung, padahal Sai bilang kalau dia tidak punya Uang. Tapi sekarang Sai sudah memiliki uang sebanyak itu.

-o0o-

Sai menggigil kedinginan saat ia berada di depan pintu apartemen Sasuke, jantungnya berdegub tak karuan antara percaya atau tidak.

"ya Tuhan maafkan aku?" gumam Sai lirih.

Dengan segenap hati ia mengetuk pintu itu hingga lama, hampir sepuluh menit Sai mengetuk pintu apartemen Sasuke. Tapi yang ia dapat hanya balasan dari Sasuke 'tunggu sebentar'.

Sai berfikir kalau apapun bisa di lakukan untuk orang yang kita cintai dan kita sayangi, terlebih lebih untuk saudara sendiri.

Ia tak menyesal akan apa yang sebentar lagi ia lakukan, melayani orang demi nafsu mereka dan mendapat uang demi kelangsungan hidup sang kakak.

Sai terjepit dalam kondisi yang sangat menyulitkan dan pelik?

Kalau pun ada pilihan lain ia tak akan memilih ini semua, tapi apa boleh buat. Takdir bukan kita yang mengatur tapi Tuhan.

CEKLEK..

Pintu apartemen Sasuke terbuka lebar, munculah sosok Sasuke dengan wajah dingin dan tampannya.

"masuklah..?" Sasuke menarik tangan Sai lembut, kemudian ia mendudukan Sai di sofa depan televisi.

"kau basah kuyup, pakailah ini?" ucap Sauke sambil melempar handuk dan baju mandi.

Sai mengambil handuk itu dan mulai pergi kekamar mandi setelah ia di beritahukan letak kamar mandi oleh Sasuke.

Baju handuk dengan model kimono berwarna biru itu harus ia kenakan, karna Sasuke juga memakai baju seperti itu.

Sai keluar dari kamar mandi, ia melihat keadaan sekitar dan ternyata sepi hingga ia menemukan Sasuke tengah berdiri di depan jendela apartemen, Sasuke tengah menikmati hujan yang turun.

"sudah selesai?" ucap Sasuke setelah ia mendengar bunyi langkah kaki Sai.

"ehm.. Tuan sasuke.."

"apa?"

Sai terdiam setelah ia melihat Sasuke berjalan kearahnya, Sasuke menuntun Sai kearah ranjang dan dia mendudukan Sai disana.

"ohya Sai, apa kau yakin mau melakukan ini?"

Sai terdiam sejenak sebelum ia membuka mulutnya, sedangkan Sasuke menggengam tangan Sai lembut dan menatap Sai dalam-dalam.

Sai menganguk pelan kemudian dia menundukan wajahnya, dia menghindari tatapan Sasuke yang begitu lembut dan terasa dalam.

Sasuke memeluk Sai lama dan hangat, jantung Sai berdegub cukup cepat. Hampir tiga menit Sasuke memeluk Sai, kemudian Sasuke melepas pelukannya tapi Sai masih menunduk. Sasuke menakup jangut Sai dan membuat Sai menatapnya juga.

"i love you" ucap Sasuke hampir berbisik lirih, ia mulai mengecup lembut bibir Sai tanpa nafsu. Sedangkan Sai memejamkan matanya pasrah. Suasana amat mendukung, hujan dan dingin itulah suasana saat ini dan sepertinya Sai mulai terbawa suasana itu.

Wajah Sai nampak memerah karena ciuman Sasuke, sedangkan sang pelaku hanya tersenyum lembut pada sang korban yang ada di depannya.

"aku tak akan berbuat kasar padamu, jadi tenang dan santai saja" bisik Sasuke di telinga Sai, dan itu membuat Sai merinding.

Sasuke mulai melumat bibir Sai dengan panasnya, sedangkan Sai hanya pasrah dengan apa yang Sasuke lakukan pada bibir merahnya itu.

Ayolah puaskan orang yang sudah membayar mu ini, Sasuke mulai menggigit bibir merah Sai kasar hingga Sai merasa kalau bibirnya bengkak.

Sedikit demi sedikit Sai mulai mengikuti permainan lidah Sasuke, melumat dan dilumat. Terasa kenyal dan membuat ketagihan, Sasuke menidurkan Sai di kasur dengan lembut tanpa melepas pagutan bibir mereka. Bulir air mata menetes di sudut mata Sai, dengan segera mungkin dia mengusap air mata itu. Dia takut jika Sasuke melihat air matanya, Sasuke mulai meraba-raba dada bidang Sai dan mulai memainkan puting merah kecil itu.

Terpaksa dan terpaksa, hina dan dosa. Sai merasa dirinya kotor dan sudah tidak berharga lagi.

'ya Tuhan, maafkan aku' batin Sai berbisik lirih.

'aku benar-benar hamba Mu yang kotor ya Tuhan, andai saja ada pilihan lain aku tak akan melakukan ini ya Tuhan' batin Sai.

-o0o-

Rasa pegal dan lelah bergelayut manja di tubuh Sai, ia tertidur pulas di kamar apartemen Sasuke. Sedangkan Sasuke menatap lembut pada pemuda yang tidur tenang diatas kamarnya.

Sauke mengambil handphonenya yang tergeletak diatas nakas dikamarnya, ia mulai membuka fitur phonebook dan mencari nama Kabuto disana.

"halo, Kabuto-san bagaimana operasi Shin, apa berjalan lancar?" tanya Sasuke pada Kabuto yang ada di seberang sana, sesekali ia melirik kearah Sai yang tidur pulas.

Sasuke tersenyum manis, ketika seseorang disana berkata sesuatu.

-o0o-

Sai mengerjapkan mata onyx-nya dengan cepat, ia merasa aneh dengan keadaan sekitar yang begitu asing untuknya.

Ia mencoba mengingat dimanakah ia sekarang, satu detik, dua detik ia baru ingat kalau saat ini ia berada di apartemen Sasuke. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok sang tuan rumah tapi ia tak menemukan Sasuke dimana-mana.

Ia segera bangun dari tempat tidurnya memunguti pakaiannya yang berhamburan tak karuan, dengan cepatnya ia memakai baju dan celana jeans itu.

Ia berlari kecil menuju pintu dan ingin secepatnya pergi dari tempat itu, ia ingin menemui Shin yang ada di rumah sakit. Ia juga ingin tahu keadaan Shin sekarang.

Tapi sekarang ia terkunci di kamar itu, ia menggedor-gedor berulang kali dengan cukup keras tapi tak kunjung terbuka.

Ia menangis merintih dan menjerit-jerit untuk di bukaan pintu, ia merosot ke bawah dan duduk di lantai ia menangis terseduh-seduh dan merasa kalau dirinya benar-benar mati konyol.

Ceklek

Terdengar pintu di buka, Sai dengan buru-buru mengusap air matanya. Ia berdiri kemudian ia mendapatkan Sasuke yang sudah masuk ke dalam apartement-nya.

"maaf tuan, bisakah anda minggir karena saya ingin segera menemui kakak saya dan ingin mengetahui kondisinya"

Sasuke tersenyum, kemudian Sasuke menarik tangan Sai kemudian ia mendudukan Sai di sofa bludru berwarna merah.

"duduklah, kakak mu sudah selesai di operasi nanti aku antar kau kesana?"

Sai nampak cemas, sedangkan Sasuke menutup pintu apartemen-nya lagi. Sai menatap Sasuke kesal karena ia tak kunjung di pulangkan.

"bisakah saya pulang sekarang tuan?"

Sasuke menghela nafas, kemudian ia duduk di sofa bludru dimana Sai duduk disana.

"baiklah kalau kau ingin pulang sekarang, kau tunggu sebentar aku akan mengambil kunci mobil dulu"

Sai merasa lega setelah mendengar perkataan Sasuke tadi, cukup lama menunggu Sasuke yang ada di dalam kamarnya. Sai duduk di sofa sambil menaik turunkan telapak kakinya, ia cemas dan sudah tak sabar ingin bertemu Shin.

Sasuke keluar dari kamarnya dengan senyum manis, kaos v neck berwarna biru dan celana jeans membalut tubuh bungsu Uciha, ia mengambil kunci mobil di gantungan diatas nakas telphon kemudian ia mengerlingkan mata onyx-nya pada Sai.

"ayo, aku antar kau ketempat kakak mu?"

-o0o-

Jalanan kota konoha pada pagi ini begitu macet, kepulan asap dari knalpot tiap-tiap kendaraan membumbung tinggi kelangit. Udara yang tak sehat?

Sedangkan di dalam mobil merah maroon tengah duduk dua laki-laki tampan yang terjebak macet, sang sopir hanya diam kadang dia mencuri pandang pada orang di sampingnya. Ia nampak gemas pada sosok laki-laki di sebelahnya yang nampak cemas itu, ingin sekali dia tertawa karena melihat wajah orang di sebelahnya itu berwajah cemas dan tidak sabaran.

Bukan keluarga Uciha jika tidak bisa menyembunyikan perasaan bukan?

"kau tenang saja, kakak mu sudah berhasil di operasi, jadi kau tenang saja?"

Sai memutar kepalanya menghadap si bungsu Uciha itu dengan tatapan kesal, terang saja Sai kesal lantaran ia amat sangat di perlambat oleh Uciha Sasuke.

Hampir tiga puluh menit Sai sampai di pelataran rumah Sakit, ia keluar dari mobil Sasuke dan berpamitan pada Sasuke.

Sai berlari kecil di pelataran sedangkan Sasuke menatap pemuda itu dengan senyuman manis, Sai nampak berkilau dimata Sasuke. Cahaya pagi yang terang dan segar.

"arigatho Sai-kun" gumam Sasuke dengan tetap menatap kearah Sai yg sedikit demi sedikit mulai jauh darinya.

(satu minggu kemudian)

Sai menatap kesal pada ban sepedanya, pasalnya ban sepeda itu tadi tidak apa-apa tapi sekarang ban itu mengalami kebocoran dan kehilangan angin. Dengan sangat terpaksa ia menuntun sepeda butut itu.

Sepanjang perjalanan Sai hanya menggerutu berkali-kali, karena sang kakak berulang kali mengiriminya pesan singkat.

Pesan yang berisi tentang agar ia cepat pulang karena ini sudah larut malam, Sai tak bisa membalas pesan singkat sang kakak. Karena pulsa Sai tidak mencukupi untuk mengirim pesan.

Ha... Maklum saja hari ini pertengahan bulan, jadi dia belum menerima gaji. Sebenarnya ia masih memiliki uang tiga ratus juta ryo tapi ia tak mau menggunakan uang itu, uang hasil dia melayani seorang anak bangsawan. Seseorang yang pernah membuat dia sedikit trauma.

Kadang ia berfikir untuk mengembalikan uang itu, tapi ia tak bisa mengembalikan uang tersebut pada Sasuke.

Berulang kali dia menyatroni apartement Sasuke tapi dia tak kunjung menemukan Sasuke, bahkan resepsionis apartement itu bilang kalau Sasuke sudah menjual apartement itu.

Ya sudahlah mungkin uang itu akan hanya jadi bantal saja.

"huft... Menyebalkan" Sai merutuki ban-nya yang bocor itu, ia duduk di halte sambil mengeluarkan botol air mineral di dalam Tas slempangan.

Ia meneguk air yang ada di dalam botol tersebut dengan perlahan dan hati-hati agar tidak tersedak, setelah minum Sai melanjutkan perjalanan menuju rumahnya dengan tetap menuntun sepeda butut kesayangannya itu.

Jarak dari tempat kerja menuju rumah Sai lumayan jauh, ia kelelahan dan dia berhenti cukup lama. Dia duduk di trotoar di samping sepedanya dan mengeluarkan botol air mineral lagi, dan betapa sialnya air mineral itu hanya tingal sedikit.

Ia meneguknya dan mulai menggerutu pada dirinya sendiri.

"akh... Ini menyebalkan" gumam Sai sambil mengacak rambutnya frustasi.

Sebuah cahaya silau menerpa dirinya, cahaya dari sebuah mobil dan berhasil membuat mata Sai silau karenanya.

Sai menutup matanya menggunakan punggung tangan dan sambil mengintip kearah mobil itu. Yang terlihat sebuah tubuh tinggi dengan rambut seperti pantat ayam.

"kenapa dengan sepeda mu?"

Sai mendongak menatap laki-laki yang berdiri di sampingnya, Sai tersenyum manis pada orang itu.

"ban sepedaku bocor"

THE END