Silla Kingdom
Rate: T
Pair: Wonkyu, Yunjae, Haehyuk
Genre: Drama, Romance
Chapter: 1
Warning: yaoi! (BoyXBoy), Fic Drama kolosal, TYPO(s), M-PREG, pedophil.
Disclaimer: Gue! (Nico Febryan Lim). Yang plagiat, gw tndangin butt lu satu" #smirk
P.S: ada perubahan Plot di chap pertama ini. Semoga, ceritanya semakin nggak aneh yaa -,-
Flashback
"Oekk.. Oekkk.."
Tangisan bayi terdengar, pertanda bahwa saat yang ditunggu-tunggu sang keluarga kerajaan telah tiba.
Jaejoong, sang ibu sekaligus Ratu kerajaan terbaring lemah di kasur. Matanya tertutup, menandakan bahwa pemiliknya sedang tertidur.
Terlihat pula sang Raja tengah mengobrol serius dengan tabib Lee yang menggendong bayi mungil didekapannya.
"Maafkan saya yang Mulia, anak anda... Laki-laki," ujar sang tabib sambil memasang wajah menyesal dan turut prihatin. Ya, tabib Lee lah yang membantu Jaejoong dalam proses melahirkan tanpa dibantu oleh tabib lain. Jujur, ia sedikit merasa aneh dengan permintaan Rajanya yang tak ingin ada orang lain yang membantu sang Ratu dalam proses melahirkan.
Yunho sang Raja pun hanya mampu menatap sendu ke arah anaknya dan istrinya secara bergantian. Setelah bergelut kepada pikirannya, ia pun mengambil langkah ekstrim yang mungkin dapat menghancurkan nama, keluarga dan kerajaannya. Tapi, ia yakin bahwa ini adalah satu-satunya cara agar ia dapat mempertahankan buah hatinya.
"Tabib Lee, saya ingin kau merahasiakan tentang hal ini. Aku tahu ini menentang perintah kerajaan. Tapi, aku ingin kau umumkan pada masyarakat dan keluarga kerajaan, bahwa anakku adalah seorang Puteri," ujar sang Raja dengan tangannya yang bergerak untuk mengambil gundukan kecil di dalam pelukan sang Tabib.
Tabib Lee menatap tak percaya pada Rajanya. Namun, apa daya? Ia hanya seorang tabib yang sudah mengabdi selama lima belas tahun pada kerajaan, "baiklah yang Mulia," ia tahu hanya itu yang dapat ia sampaikan pada sang Raja.
Sang Raja menatap puas pada sang tabib, namun tidak pada dirinya sendiri. Ia benar-benar tak tahu apakah ini jalan terbaik atau bukan. Membohongi rakyat dan kerajaan bukanlah perkara mudah dan enteng untuk ia langgar. Tapi, selama ini ia lakukan untuk keluarganya, ia akan berkorban segalanya demi kebahagiaan keluarganya. Apa pun itu dan apa pun yang terjadi.
"Oh ya, satu lagi Tabib Lee. Saya ingin kau menjadi pengasuh pribadi Puteraku ini. Tak ada satu pun yang boleh mengetahui kalau ia adalah seorang Lelaki, meski orang itu adalah keluarga kerajaan sekali pun," ujar sang Raja dengan nada tak terbantah.
Sang tabib pun membungkuk hormat dengan tihtah sang Raja.
"Emmhhh...," terdengar lenguhan sang Ratu yang telah membuka matanya dengan perlahan, "yunn?"
Sang Raja memberi aba-aba pada sang Tabib untuk pergi meninggalkannya berdua dengan Ratu. Setelah sang tabib hilang dari pandangan, sang Raja membawa buah hatinya menuju istrinya yang terbaring lemah.
"Yunho-ah?" Ujar Jaejoong lemah pada suaminya. Ia memandang gundukan kecil yang berada di dekapan Yunho, memastikan apakah itu adalah buah hatinya atau bukan.
Yunho tersenyum menatap Ratunya. Dibaringkannya bayi mungilnya di sebelah sang Ratu, "ne Boo," ujarnya seperti tahu apa yang dipikirkan Jaejoong.
Jaejoong mengelus lembut kepala bayi mungil yang berada di sisi sebelah kanannya itu. Tapi, beberapa detik kemudian, ia tatap mata Yunho dengan pandangan khawatir, "Yun, jangan bilang kalau..."
Yunho langsung memotong perkataan Jaejoong, "benar, Boo. Bayi kita laki-laki. Tapi, aku sudah merencanakan sesuatu untuk kita," ujar Yunho.
Yunho pun, memberi tahu semua rencananya kepada Jaejoong. Pertama kali, Jaejoong memang menolak atas usul Yunho dan memarahi Yunho. Ia tak habis fikir dengan jalan pikiran suaminya itu. Tapi, akhirnya pun Jaejoong luluh, dan menerima saran Yunho.
Mulai sekarang, Jaejoong berjanji pada dirinya sendiri, apa pun yang akan terjadi kedepannya, ia akan bertaruh demi anak dan suaminya.
Flashback off
Lima tahun kemudian.
Terlihat sepasang kaki mungil berlari di dalam koridor istana. Pakaian Hanbeok berwarna merah muda dengan ukiran bunganya terlihat pas dan cantik untuk tubuh mungil yang memakainya.
'Gadis' mungil itu berlari dengan kesusahan karena setelan hanbeoknya memiliki rok yang panjang. Terlihat di belakang sang 'Gadis' mungil itu para dayang-dayang yang mengejar sang puteri.
Ya, dialah 'Puteri mahkota' bernama Choi Kyuhyun yang kelahirannya menjadi kebahagiaan bagi masyarakat lima tahun lalu, tanpa mereka ketahui kebenaran dan rahasia Raja. Anak lelaki berkedok perempuan itu masih berlari, pertanda tak ingin diasuh oleh sang dayang.
'Puteri mahkota' Cho Kyuhyun memang tidak suka kalau ada yang menjaganya kecuali Ibu, Ayah, Kakak laki-lakinya, Donghae, dan Tabib Lee. Mungkin ia merasa sangat risih dengan kehadiran orang asing di dekatnya.
Kyuhyun masih saja berlari dengan lincah tanpa memandang ke depan. Matanya sedari tadi melihat ke belakang untuk memeriksa keberadaan sang Dayang-dayang yang menurutnya 'mengganggu'.
"Yang Mulia, awass!" Teriak sang dayang karena melihat seseorang yang berada di depan 'Tuan Puteri' mereka.
"AP-"
BRUK
Kyuhyun menutup matanya, bersiap-siap akan rasa sakit di badannya yang menabrak sesuatu. Tapi, setelah beberapa detik, ia tak merasakan sakit atau pun nyeri di bagian tubuhnya.
Dengan perlahan, Kyuhyun membuka matanya dan pandangannya langsung disambut oleh wajah kakak laki-lakinya yang membungkukkan badan untuk menatapnya.
Mau tak mau, Kyuhyun pun blushing dan salah tingkah. Entah mengapa, ketampanan kakak laki-lakinya itu membuat dirinya berbunga-bunga, "emm...," gumam Kyuhyun.
Siwon menggerakan tangannya untuk menyentuh pipi bulat adiknya, "kenapa berlari-lari, eoh Kyunnie?" Tanyanya. Dan, sedetik kemudian, tangan yang semula bergerak untuk mengelus pipi tembam adiknya itu berubah aliran menjadi mencubit pipi adiknya. Sontak, hal ini mendapat teriakan gratis dari Kyuhyun.
"OPPA! APOYO! Lepaskan! Ini sakit. Hiks...," Kyuhyun kecil menangis dan mata bulatnya meneteskan sebutir air mata.
Siwon yang melihat itu pun, merasa bersalah. Dilepaskannya tangannya yang tadi digunakan untuk mencubit pipi adiknya, "yah, jangan menangis Kyunnie. Oppa minta maaf, ne?" Sesal Siwon sambil membawa adiknya ke dalam gendongannya.
Kyuhyun menggembungkan pipinya imut. Jejak-jejak air mata masih terlihat samar-samar di pipi tembamnya.
Siwon yang mengerti bahwa adiknya sedang ngambek pun, mencium pipi adiknya, "Kyunnie marah sama oppa, ya?" Ujar Siwon dengan tampang -pura-pura- sedih.
Kyuhyun yang merasa pipinya dicium oleh 'oppa' kesayangannya pun hanya dapat tertunduk malu, "tidak, Kyunnie tidak marah," ujarnya dengan kedua tangan yang memegang kedua pipinya.
Siwon yang merasa pose adiknya sangatlah menggemaskan pun mencium lagi pipi adiknya itu dengan durasi yang lumayan lama.
Setelah memberikan kecupan pada adiknya, pandangan Siwon mengarah pada dayang-dayang yang sedari tadi tertunduk, "kalian boleh pergi. Aku akan menjaga Kyuhyun sampai jam lima sore nanti. Dan, kalau sudah pukul lima, tolong kalian panggilkan Donghae dan HyukJae untuk menjaga Kyuhyun, karena aku ada pelatihan Taekwondo. Satu lagi, jangan terlalu paksakan Kyuhyun kalau dia tak mau kalian yang menjaganya, Kalian bisa memintaku, Donghae, HyukJae atau tabib Lee untuk menjaga Kyuhyun, arra?" Perintah Siwon pada dayang-dayang yang tadi sempat bermain kejar-kejaran dengan adiknya.
"Ne yang Mulia," ujar dayang-dayang itu serempak, setelah sebelumnya menunduk hormat dengan waktu yang bersamaan pula.
"Baiklah, kalian boleh pergi," ucap sang pangeran dengan pandangan yang masih mengarah ke dayang-dayang pengasuh adiknya.
Setelah dayang-dayang yang menurut Kyuhyun mengganggu itu pergi, Siwon pun memandang adiknya yang sekarang sedang melihat kepergian dayang-dayang itu dengan pandangan senang.
"Gomawo oppa!" Ucap Kyuhyun senang dan mengecup kilat pipi kakak laki-lakinya itu.
Siwon yang mendapat kecupan pun hanya menatap adik perempuannya yang sebenarnya berkelamin laki-laki itu dengan bibir yang tersenyum, "ne, Cheonma Kyunnie."
Kyuhyun tersenyum dan menampakan gigi putihnya, "oppa, Kyunnie ingin ikut saja ya nanti, kalau oppa latihan Taekwondo!" Ujarnya semangat dengan mata yang menyerupai tatapan boneka.
Siwon tidak berani memandang mata adiknya. Jadi, ia lebih memilih untuk melihat ke arah lain, "tidak boleh Kyunnie. Kyunnie harus ingat, Kyunnie masih kecil dan seorang... Perempuan. Jadi, kyunnie harus bersikap seperti Puteri, arra?"
Kyuhyun memasang wajah sedih, "tapi, Kyunnie ini laki-laki, Wonnie Hyung," ujar Kyuhyun dengan mata sembab yang akan mulai menitikan air mata lagi. Ia memanggil Siwon dengan panggilan Hyung agar kakaknya itu mau memperlakukannya selayaknya anak lelaki, bukan perempuan.
Siwon menatap tak tega pada Kyuhyun. Ia sedikit tahu, pasti sangat tak enak untuk memakai baju perempuan seperti itu. Ditambah lagi, Kyuhyun harus memanggil orang seperti panggilan anak perempuan kepada orang lain. Contohnya saja, Kyuhyun harus memanggilnya dengan sebutan Oppa. Tapi, ini semua demi Kyuhyun-nya juga. Kyuhyun adiknya yang manis, manja, nakal, dan imut di saat yang bersamaan.
"Kyunnie, dengarkan Oppa, ne. Kyunnie adalah Puteri mahkota di kerajaan ini. Dan, Kyunnie sebagai Puteri, tentunya tak mau kan mengecewakan rakyat Kyunnie? Maka dari itu, Kyunnie harus bersikap selayaknya Puteri, arra?"
Kyuhyun lagi-lagi menggembungkan pipinya, "arraseo OPPA," ujarnya dengan penekanan di kata 'oppa'.
"Anak pintar," ujar Siwon sambil mengecup pipi adiknya.
.
.
Terlihat seorang pemuda yang berumur sekitar belasan tahun yang sedang mengitari hutan dengan kuda berwarna coklatnya.
Di belakangnya pun terlihat dua puluh orang prajurit yang setia mengikuti langkahnya.
Mata pemuda itu sering kali bergerak ke sana-sini. Sikap siaga ia perlihatkan dari gerak gerik tubuhnya.
Pemuda tampan itu ternyata bernama Donghae, putera tunggal panglima kerajaan. Donghae sekarang memang tengah dalam misi.
Misi ini sangatlah penting, karena menyangkut masa depannya. Ia sudah bertekad untuk menjadi panglima kerajaan seperti ayahnya dan ia harus membuat itu menjadi kenyataan. Ya, dia memang orang yang ambisius dalam apa yang ia usahakan.
Karena misi ini menyangkut masa depan beberapa orang, misi ini bisa dibilang misi yang memerlukan kemampuan yang luar biasa secara personal mau pun kelompok.
Donghae yang sedari tadi fokus untuk memantau para musuhnya, terusik oleh suara semak-semak yang berbunyi.
Ia tajamkan pengelihatan mau pun pendengarannya. Matanya mencari-cari, sekiranya dari mana suara itu berasal.
"Donghae. Anak seorang panglima kerajaan yang bisanya hanya mengandalkan jabatan Ayahnya. Seorang bocah yang tak akan pernah bisa mendapatkan apa yang ia impikan, tapi masih dengan sombongnya menyatakan bahwa dirinya bisa. Benarkan, Donghae-ssi? Aku bahkan yakin sekali kalau perkataanku tak ada yang meleset sedikit pun," Ujar suara sinis yang sudah tak asing lagi di telinga Donghae.
Donghae menggeram. Tangannya mengepal, memperlihatkan buku-buku jarinya yang memutih. Giginya menggertak, menambah bukti bahwa sang pemilik sedang marah.
Donghae masih tak ingin berbalik untuk menatap musuh yang berada di belakangnya itu, "apa mau mu, Seunghyun-ssi?" Balas Donghae dengan nada yang tidak kalah sinis.
Orang yang dipanggil Seunghyun tadi tertawa lebar menampakan giginya yang rapih, "apa kau bilang? Apa mauku? Apa mauku, kau bilang?! Hah! Dasar bodoh, tentu saja aku akan memenangkan misi ini. Tapi, sayangnya jalanku dihalangi oleh orang yang bahkan tidak mempunyai sopan santun sedikit pun. Bahkan ia tak melihat lawan bicaranya saat sedang berbicara."
Donghae membalikan badannya dan pandangannya langsung disambut oleh lelaki yang menunggangi kuda berwarna hitam, dengan prajurit sebanyak dua puluh orang di belakang lelaki itu.
"Kau tahu Seunghyun-ssi, kadang-kadang apa yang kita lihat bukanlah seperti yang orang lain lihat. Mungkin kau melihatku dari cara pandangmu saja, tapi bagaimana dalam pandangan orang lain? Kau mengiraku tidak sopan. Tapi maaf, aku hanya tidak sopan pada orang yang tidak sopan denganku," ujar Donghae dengan nada sinis.
"Benarkah? Terserah padamu saja, Donghae-ssi. Lebih baik kita selejaikan ini secara jantan! Serang!"
TRANG
.
.
.
"Aw. Pelan-pelan, Hyukkie. Itu sakit."
Dan, di sini lah Donghae sekarang. Di dalam pavilliunnya dengan luka-luka yang berada di hampir sekujur tubuhnya. Luka-luka itu ia dapat dari hasil pertempurannya dengan Senghyun dan anak buahnya di hutan. Tapi, ia tak menyesal karena pada akhirnya pun dia akan selalu menang.
Seorang pemuda manis yang dipanggil Hyukkie tadi hanya berdecih dan malah menambah tekanannya pada luka-luka Donghae.
HyukJae atau Hyukkie adalah anak dari tabib Lee yang sebentar lagi akan menjadi tabib istana menggantikan Ayahnya setelah masa pelantikannya selesai.
Dengan bibir yang mengerucut, ia berkata, "makanya, jangan lakukan itu lagi. Kau tahu itu berbahaya, Hae. Kau hanya membuatku cemas kalau seperti itu."
Donghae menghela napas, "tapi, kau tahu Hyukkie, misi ini adalah satu dari sekian banyak misi penting yang harus aku jalani. Ini semua juga demi masa depanku. Kau tahu kan, kalau aku ingin menjadi seperti ayahku?" Ujar Donghae yang sekarang tengah memegang tangan yang terasa mungil di dalam genggamannya.
Eunhyuk melepaskan tangannya dari genggaman Donghae secara perlahan, "asalkan kau tahu, Hae. Satu kali kau mendapat misi tingkat tinggi, bahkan harus mengorbankan nyawamu. Maka, seribu kali lah do'a keluar dari bibirku," ujar Hyukjae dengan pandangan berkaca-kaca.
Donghae menggerakan tangannya yang tidak terluka untuk mengusap surai lembut sahabatnya, "maafkan aku, Hyukkie. Tapi, aku yakin, dengan seribu do'amu tadi lah aku akan selalu berhasil," ujarnya dengan senyuman khas.
HyukJae hanya mampu merona. Terlihat dari pipinya yang sedikit berubah warna, "kau selalu berhasil membuatku tenang. Namun, kau juga selalu berhasil membuatku khawatir sampai badanku seperti mati rasa," ujarnya sambil menunduk dan membereskan obat-obatan yang digunakannya untuk menyembuhkan luka-luka milik donghae tadi.
Donghae terkekeh pelan, "berarti aku hebat, kan?" Godanya pada sahabatnya itu.
HyukJae mengangkat kepalanya dan mengangkat sebelah bibir atasnya serta berdecih pelan, "apanya yang hebat?"
"Tentu saja aku hebat. Aku hebat karena aku dapat membuat lelaki manis sepertimu mengkhawatirkanku," godanya lagi pada sahabat karibnya itu.
HyukJae memerah, ia kerucutkan bibirnya, "aku keluar saja kalau begitu," katanya, lalu berlalu dari hadapan Donghae tanpa memberi salam.
Ia memang selalu seperti itu saat dia berdua dengan Donghae. Dan, kali ini ia benar-benar harus pergi lagi untuk meneyembunyikan rona merah yang ada di pipinya agar Donghae yang sekarang sedang tersenyum tidak jelas itu, tidak mengetahui masalah semburat merah yang akan selalu hadir menjadi pemanis di antara kedua sahabat yang tak bisa mengartikan perasaan mereka sendiri-sendiri. Setidaknya belum.
.
.
Siwon dan Kyuhyun bermain bersama di dalam pavilliun milik Siwon. Terlihat keduanya yang sedang membaca buku di atas kasur Siwon dengan posisi, Siwon yang merebahkan kepalanya ke paha adiknya yang kecil dan Kyuhyun nyaman-nyaman saja dengan hal itu.
Kadang-kadang keduanya mengernyit saat menemukan kata-kata yang tidak dimengerti. Namun, tak jarang pula mereka mengangguk-angguk mengerti dengan apa yang mereka baca.
"Oppa. Apa kau tahu maksud gambar ini?" Tanya Kyuhyun sambil menatap mata Siwon.
Siwon mengernyit, "apa yang tidak kau mengerti, Kyunnie?" Kata Siwon sambil tersenyum dan mengusap pipi adiknya.
Kyuhyun menggembungkan pipinya. Sepertinya, ia benar-benar kesal karena sama sekali tidak mengerti dengan gambar yang ada di buku itu, "ini, oppa," katanya sambil menunjuk satu gambar di buku itu.
Dan, sedetik kemudian mata Siwon terbelalak kaget melihat isi dari buku itu. Ia mendudukkan dirinya yang semula berbaring di paha adiknya.
"Kyunnie dapat dari mana buku ini?" Tanya Siwon pada adiknya.
Sebenarnya, Siwon tidak berlebihan. Hanya saja, gambar dan materi buku itu sama sekali tidak boleh dibaca oleh anak-anak. Di buku itu, tepatnya di gambar yang Kyuhyun tunjuk tersebut, menggambarkan seorang wanita *sensor* dengan lelaki *sensor* di atasnya.
Kyuhyun memasang raut wajah bingung yang menggemaskan dengan jari telunjuk yang berada di bibirnya, "eum, sebenarnya Kyunnie..."
Flashback
Siwon dan Kyuhyun sedang memilah-milah buku di ruang perpustakaan instana untuk mencari bacaan yang sekiranya dapat mengsi waktu luang keduanya.
Siwon yang sedang fokus memilih berbagai macam buku pun, tidak memperhatikan adiknya yang sudah melangkah menuju rak tersudut.
Rak itu menampung buku-buku yang usam, berdebu, dan terlihat sudah tua. Sepertinya memang ada alasannya rak buku itu di letakkan di sudut dan terlihat tak pernah di jamah. Namun, itu lah yang membuat Kyuhyun penasaran dan akhirnya memutuskan untuk mengambil salah satu buku di rak itu.
Setelah mendapatkan satu buku yang lumayan tebal, Kyuhyun melangkah mendekati kakaknya yang sekarang seperti orang kebingungan.
"Kyunnie? Ah. Kau membuat oppa hampir pingsan. Ku kira kau menghilang. Nah, kau sudah menemukan buku yang kau cari? Jja, kita pergi, aku juga sudah mendapatkan buku yang aku cari," ujar Siwon sambil menuntun adiknya keluar perpustakaan.
Flashback off
"Hah~ Kyunnie-ya, lain kali kau tidak boleh membaca buku seperti ini, ne?" Nasihat Siwon pada adiknya yang masih memasang tampang polos.
"Arasseo. Tapi, kenapa Kyunnie tidak boleh membacanya?" Tanya Kyuhyun dengan penuh keingin tahuan yang tinggi.
Siwon menggigit bibirnya, ia bingung untuk menjawab. Topik seperti ini seharusnya belum pantas dibicarakan mereka berdua, "eum... Ah, kyunnie, bagaimana kalau kita pergi ke taman saja?" Tanya Siwon, mengalihkan pembicaraan.
Kyuhyun pun hanya mengangguk semangat. Huh, setidaknya Siwon beruntung kali ini. Ia letakkan kembali buku 'aneh' itu di atas mejanya. Mungkin nanti saja ia kembalikan buku itu ke perpustakaan, pikirnya.
.
.
.
Di dalam pavilliun Ratu, terlihat Jaejoong yang fokus memilah-milah beberapa lembar foto di tangannya. Sering kali dahinya mengernyit, tetapi tak jarang pula ia tersenyum melihat foto di tangannya.
Di foto itu, terlihat beberapa foto gadis cantik yang berumur dikisaran sebelas sampai lima belas tahun. Gadis-gadis itu bukan untuk dirinya, namun untuk puteranya.
Ya, Putera mahkota sudah bisa di bilang cukup matang walaupun masih berumur 13 tahun. Dan, tak ada salahnya jika ia memilihkan seseorang yang akan mendampingi puteranya kelak. Tapi, ia sedikit tak yakin mengingat sifat puteranya yang sedikit acuh tak acuh itu. Namun, ia tak akan memaksakan kehendak jika puteranya tidak mau. Jaejoong tahu ia juga harus mengerti perasaan puteranya yang berumur belasan dan masih ingin bebas.
Jaejoong yang sudah membaca dan memilih-milih gadis yang sekiranya pantas bersanding dengan puteranya pun, hanya tersenyum puas atas hasil yang sudah ia dapatkan. Gadis-gadis itu adalah sepuluh wanita cantik yang berkepribadian baik, berwibawa dan memiliki latar belakang yang jelas.
Jaejoong yang senang pun, akhirnya memutuskan untuk langsung memberitahukan gadis pilihannya pada anaknya itu.
Dilangkahkannya kaki jenjang miliknya yang ditutupi setelan pakaian Hanbeok biru dengan sulaman indah yang terbuat dari benang perak. Setelah kurang lebih dua puluh tiga menit berjalan menuju pavilliun puteranya dengan dikawal dengan sepuluh pengawal dan dua belas dayang yang mendampinginya, akhirnya pun ia sampai.
Setelah memasuki pavilliun, ia sedikit heran mengapa tidak ada dayang atau pun pengawal yang sekiranya ditugaskan untuk berjaga di depan pintu pavilliun, mau pun di depan pintu kamar anaknya. Tapi ia tak ambil pusing dengan hal itu.
Dilangkahkannya kakinya memasukki kamar anaknya, setelah sebelumnya membuka pintu. Pandangannya menjelajahi isi kamar anaknya. Kosong. Tak ada seorang pun yang berada di sini. Mungkin, ia bisa memberi tahu anaknya lain kali tentang gadis-gadis itu.
Jaejoong pun berbalik, berencana untuk meninnggalkan kamar anaknya. Namun, matanya tak sengaja melirik buku bersampul merah polos yang terlihat sedikit usam di atas meja anaknya. Entah mengapa, ia merasa sedikit asing dengan buku itu.
Akhirnya, ia putuskan untuk melihat isi buku itu. Dan, sedetik kemudian, mata besarnya terbelalak ke tingkat termaksimum.
"MW-Mwo?!"
Apa-apaan ini?! Untuk apa Siwon membaca buku ini?!
TBC
A/N: WEE, gw gak nyangka yang review bakal sebnyak ini. Semoga yang chap ini juga gak berkurang ya, kalao prlu nambah ;D #PLAK
emm.. ada sedikit perubahan plot di sini hahahahahah semoga nggak ngebuat lu pada ngerasa aneh membaca fic ini -_- sbnernya gw mau pub chap ini dari 2 hari yang lalu, tapi gw lagi bnyak tugas dari dosen -_- Jadi, maap kalo gw telat publish :D
Bales" Review:
*Ini Incest?
Answer: emmmmmm... ya! :D
*Apa gak ngerasa jijik ngetik FF yaoi mengingat lo cowok?
Answer: emm.. ada sih sedikit perasaan jijik. Well, sebenernya nggak jijik, tapi agak aneh :D
*Knp pilih cast wonkyu sebagai main?
Answer: Krena, pair yang prtamakali gw tau itu ya wonkyu :D
Nah, sekarang gw yang nanya-_-
kenapa kalian pada manggil gw Lim? Itukan nama marga wkwkkw kalo mau, panggil gw Nico aja, ok? Soalnya, kalo kalian mnggil gw dengan marga, gw ngerasa Awkward :D
ok, kita ketemu lagi di chap selanjutnya :D
BROFIST!
