"Aku juga merindukanmu. Tentu saja aku masih menempati rumah ini. Baiklah, aku akan menunggumu, Sakura Hime."

"Baiklah!"

FLIP!

Sakura menutup handphone-nya dengan cepat dan lekas memasukkannya kembali ke dalam saku. Gadis itu nampak sangat senang. Kedua kaki mungilnya pun lekas berlari menghampiri Sasuke dan segera memeluk tubuh pemuda Uchiha itu dengan erat. Tentu saja, Sasuke juga terkejut saat kedua tangan Sakura mendekapnya dengan tiba-tiba.

"Kau kenapa?"

Gadis Haruno itu tak menjawab. Ia malah segera melepas pelukan itu, lalu mulai menarik lengan Sasuke dengan senyum yang terus terpampang di paras cantiknya.

"Ayo cepat! Setelah menyimpan barang-barang ini ke rumah, aku ingin pergi ke suatu tempat!" matanya menyipit dengan pipi merona.

'Suatu tempat?' batin Sasuke seraya memicingkan mata.

Cahaya Redup Kembali Terang created by me, Miyoko Kimimori

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warn : AU, OOC, EYD berantakan, Typos, dll.

This is the sequel fic of 'Aku Benci Mengakui Ini'

Pair : SasuSaku, mungkin ada pair lain di chap berikutnya.

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Rate : T

Dont Like? Dont Read!

Happy Reading!

.

.

Sasuke tak habis pikir, tempat seperti apa yang akan didatangi gadisnya ini. Terlebih, dia tidak tahan melihat ekspresi senang yang terus ditunjukkan Sakura sepanjang jalan setelah tadi sempat menaruh barang belanjaan ke rumahnya. Iris hitamnya terus saja terfokus ke samping, di mana kekasihnya itu tengah berjalan sembari bersenandung pelan.

"Sebenarnya kau ingin aku mengantarmu ke mana?" tiba-tiba saja Sasuke memutuskan untuk berbicara setelah beberapa detik lalu ia terdiam.

"Aku akan mengunjungi temanku di rumahnya, di Jl. Harukichi Blok A no. 11, sebentar lagi juga sampai." Sakura menoleh, sepintas tersenyum sebelum akhirnya kembali memfokuskan matanya ke depan.

"Teman … ya?" bisik Sasuke pelan.

TAP!

Langkah kaki gadis itu seketika terhenti. Sasuke agak tersentak, reflek ia segera menoleh ke arah Sakura. Dilihatnya gadis musim semi itu membalikkan tubuh hingga ke hadapannya. Emerald milik Sakura nampak berkilat. Sasuke yang melihatnya seakan heran karena merasakan aura tidak menyenangkan yang dikeluarkan Sakura.

"Sasuke-kun …" perlahan Sakura mulai mendekat.

"Hn."

"Bukankah hari ini kau ada janji untuk latihan basket bersama Naruto?"

"Memangnya kenapa?" Sasuke mulai merasa semakin aneh, ditambah ketika hujaman keras terasa di hatinya. Ia hanya bisa mengepalkan tangan, menahan emosi tiba-tiba yang entah kenapa datang begitu saja.

"Umm … ya … menurutku, lebih baik sekarang kau segera pergi ke tempat latihan. Aku yakin Naruto dan yang lainnya sudah menunggu," ucap Sakura setengah manja.

Onyx hitam itu memicing. "Apa maksudmu?"

Sakura memutar bola matanya sebelum akhirnya menjawab, "Maksudku, kau tidak perlu mengantarku. Aku akan pergi sendiri, dan kau sebaiknya latihan untuk persiapan lomba nanti."

Sasuke tercengang setelah mendengar pernyataan yang Sakura lontarkan. Aneh. Tidak biasanya Sakura berkata seperti itu. Sasuke tahu, Sakura pasti akan selalu merengek padanya untuk diantar ke suatu tempat seperti tadi saat mereka baru saja pulang berelanja. Namun kali ini …

"Hn."

Tanpa berpikir panjang, jawaban singkat itu telah terlontar dari mulut Sasuke. Pemuda Uchiha itu lekas membalikkan tubuhnya, lalu berjalan dengan arah yang bertolak belakang dengan Sakura. Sementara emerald hijaunya menatap punggung Sang Kekasih yang semakin menjauh, tidak ada secuil pun rasa aneh yang terlintas di hatinya, bahkan ketika Sasuke mengatakan hal singkat tadi. Sebelum Sasuke membalikkan tubuhnya pun, Sakura tak menyadari, ada sebuah senyum masam yang tergurat jelas dalam raut wajah pucat Sasuke.

Kini, setelah bayangan Sasuke menghilang sepenuhnya, Sakura lekas tersenyum girang sembari mulai berlari. Pikirannya telah dipenuhi oleh sesosok pemuda pirang yang sangat ia rindukan sejak lama. Seseorang yang ingin ia temui saat ini juga.

"Tunggu aku di sana …" ucapnya di sela nafas yang memburu.

=0=0=0=

Tubuhnya tiba-tiba terpaku ketika langkah kakinya terhenti begitu saja di depan rumah kediaman Haruno. Pemuda berambut emo itu merasakan denyutan tak wajar di dalam hatinya. Reflek, onyx hitamnya melirik ke arah kamar gadisnya yang berada di lantai dua. Hatinya semakin berdenyut nyeri. Ada yang aneh.

"Sakura …" gumamnya tanpa sadar.

Air muka Uchiha bungsu itu masih saja terlihat datar, dingin, meskipun kian detik dentuman keras itu kian menyakitinya. Sasuke merengkuh dadanya sembari menghembuskan nafas berat, berharap rasa sakit tak jelas itu segera menghilang. Namun, kenyataannya lain. Dadanya semakin sesak. Sasuke semakin tidak mengerti mengapa ia merasakan hal bodoh seperti itu.

Sebenarnya ia ingin mengabaikan perasaan itu, namun entah kenapa ia tak bisa. Perasaan sakit itu seakan menariknya, memaksanya untuk tenggelam di dalamnya. Sasuke pun berusaha untuk menghilangkannya sekuat tenaga. Ia mencoba berjalan kembali seraya sesekali mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.

"Ck! Sejak kapan aku menjadi seperti i—"

TES!

Sasuke tersentak. Tubuhnya sedikit bergetar. Barusan itu, tiba-tiba saja sesuatu mengalir cepat dari kelopak matanya. Tentu saja hal itu mampu membuatnya tertegun selama beberapa detik.

Rasa terkejut dan heran mulai menguasai pikirannya. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja setetes air mata mengalir dari matanya setelah perasaan aneh yang baru saja ia rasakan.

"Aku … bodoh. Pasti ada sesuatu yang tidak beres." Sasuke lekas menghapus jejak air mata itu sembari membalikkan tubuhnya.

Ia mulai berjalan cepat. Tak peduli dengan tatapan orang lain yang seakan heran dengan sikap Sasuke. Tentu saja ia tak memperdulikan semua itu, yang ada dalam benaknya sekarang adalah baru kali ini ia merasakan hal tak mengenakkan hingga seperti ini. Hatinya seolah terdesak, semakin sesak, seakan sulit bernafas. Sasuke hanya bisa mengepalkan tangannya kuat untuk meredam apa yang ia rasakan saat ini.

Ia memutuskan untuk tidak mengikuti latihan basket—atau lebih tepatnya ia bahkan lupa untuk latihan basket dengan Naruto. Sasuke tak peduli. Yang terpenting sekarang, ia ingin memastikan sesuatu yang sejak tadi sangat mengganggunya, ia ingin menemui seseorang, kekasihnya, Haruno Sakura.

=0=0=0=

Sudah berkali-kali gadis merah muda itu mencoba menenangkan diri. Untuk kesekian kali, ia menghembuskan nafas pelan, alhasil degup jantungnya mulai berdegup seperti biasanya. Sakura yang kini telah berhadapan dengan sebuah rumah yang lumayan megah nampak begitu gugup, bahkan untuk menekan bel saja ia terlihat ragu.

"Aku hanya tinggal menekannya saja. Ayolah Sakura, hanya tinggal sedikit lagi kau bisa bertemu dengannya!" ucapnya dengan nada bergetar, ia berusaha menyemangati dirinya sendiri, namun tetap saja nihil.

Sakura mendengus kesal. Ia mengerucutkan bibirnya sembari bertolak pinggang. Rasa gugupnya itu benar-benar membuatnya sebal. Padahal ia ingin bertemu dengan orang yang selama ini hilang dari pandangannya, padahal hanya tinggal satu langkah kecil. Namun, 'gugup' menggagalkan segalanya.

"Sial! Kenapa aku harus gugup tingkat tinggi seperti ini sih?" Sakura mengangkat kedua tangannya dan mendapati tangannya itu bergetar tak karuan.

Sakura menggeram, dan karena kekesalannya, Sakura menendang kaleng bekas yang berada tak jauh darinya. ia mengepalkan tangan kuat, lalu dengan sebal melipat tangannya di depan dada.

"Padahal aku sangat ingin bertemu dengannya tapi—"

TAP!

"Hey, kau Sakura 'kan?"

Sebuah suara baritone terdengar jelas dalam indera pendengarannya. Di samping itu, Sakura hampir melonjak karena kaget. Ia pun segera membalikkan tubuhnya ke belakang untuk melihat orang yang telah menepuk pundaknya tadi. Setelah ia berbalik, emerald-nya membulat menangkap bayangan wajah yang amat familiar dalam pandangannya, lalu sedetik kemudian …

"Kyaaaaaaaa!"

DEP!

Tanpa berpikir panjang, gadis itu lekas berhambur memeluk pemuda berbalut setelan jas hitam yang kini berdiri tegap di depannya dengan erat. Pemuda berambut pirang itu pun tersenyum penuh melihat reaksi Sakura yang seperti itu, dan ia pun mulai membalas dekapan Sakura.

"Ternyata ini benar kau, Hime …"

Sakura menggigit bibir bawahnya yang bergetar. "Aku … aku merindukanmu, Dei-kun."

Tiba-tiba saja setetes cairan bening menyeruak cepat dari balik kelopak mata Sakura yang kini tertutup. Gadis itu semakin menenggelamkan wajahnya dalam pelukan pemuda bernama Deidara itu.

"Aku juga merindukanmu, Hime. Kau tidak berubah," ucap Deidara dengan lembut seraya mengelus puncak kepala Sakura.

"Hn. Jangan tinggalkan aku lagi …"

Keduanya tenggelam dalam pelukan hangat. Di bawah langit senja, akhirnya Sakura dapat bertemu kembali dengan Deidara—orang yang selama ini meninggalkannya. Sakura tidak menyangka bahwa Deidara akan kembali ke Konoha setelah sekian lama ia pindah ke Tokyo, dan Sakura sangat bersyukur dapat memeluk pemuda itu lagi.

Di samping itu, mereka berdua tak menyadari sesuatu. Sepasang onyx hitam mengawasi keduanya dari jauh. Manik hitam itu nampak sedikit berkaca-kaca kala mendapati sosok gadis musim semi itu dalam pelukan orang lain. Pemilik gelar Uchiha bungsu itu hanya mengepalkan tangannya sembari menutup kelopak matanya. Ia pun mendengus kemudian berbalik dengan iris hitam yang berkilat.

"Tak ada yang harus aku lakukan di sini …"

Sasuke berjalan pulang ditemani angin senja yang berhembus dingin. Di tengah rasa kecewa yang kini mendera hatinya, ekspresi wajahnya tetap sama, ia masih bertahan untuk tidak mengeluarkan rasa sakitnya dalam ekspresi wajah yang berlebihan. Sasuke yakin, esok pagi, saat ia menjemput Sakura untuk berangkat sekolah, gadis itu akan menjelaskan semuanya.

Sementara itu, Sakura yang kini masih berada dalam pelukan Deidara seketika melonggarkan dekapannya. Wajahnya yang basah kini terangkat, ia lekas menoleh ke arah jalan. Ada hal aneh yang seakan membuatnya ingin melihat ke sana. Namun, di sana tidak ada siapapun, hanya jalanan kosong yang bertabur daun kering.

"Sasuke …"

TBC