Hilang Dan Kembali created by me, Miyoko Kimimori
Disclaimer : Hiro Mashima
Warning : Semi-canon, OOC, Typos, rush, abal, gaje, EYD belum benar, dll
Saya tidak mendapatkan keuntungan materiil atau keuntungan apapun dari fic ini.
Pair : NatsuXLucyXEdo-Natsu dan beberapa pair lain di chapter berikutnya.
If you dont like, dont read!
Happy Reading (^O^)/
.
.
.
Earthland ...
Beribu bintang nampak berjatuhan dengan gemerlap indah ke seluruh penjuru dunia. Memancarkan cahaya biru yang begitu cantik juga begitu menyilaukan mata. Seharusnya ini adalah malam yang indah untuk berkumpul bersama. Tapi kenyataannya tidak. Bintang yang amat bersinar itu bukan hanya sekedar penghibur hati yang datang malam ini, tapi juga adalah bukti dari perjuangan seorang Seirei Madoushi. Menerima resiko terburuk dengan tubuh terlempar entah kemana untuk melepaskan jiwanya dari Kastil Infinity. Berjuang tak kenal menyerah, demi orang-orang yang telah meninggalkannya sendiri. Para bintang itu seakan menyimbolkan bahwa sebenarnya dia tidak sendirian. Begitu banyak orang di luar sana yang menyimpan rasa sayang dan juga kepedulian terhadapnya, sebanyak bintang yang kini berjatuhan dengan indah.
Pemuda pinkish yang mempunyai ikatan kuat dengannya sangat tidak menyetujui perbuatan konyolnya ini. Mengorbankan diri seolah perjuangan yang dilakukan semua temannya adalah sia-sia. Tapi itu tidak benar. Lucy Heartfillia hanya ingin menyelesaikan urusan ini sendiri. Ia tidak ingi melibatkan orang lain lebih dari ini. Dan mau tidak mau, pemuda itu rela untuk ikut menanggung resiko fatal yang telah diambil.
Sang Salamander terus menajamkan indera penciumannya. Kakinya kian berlari cepat menyusuri bukit berbatu. Sesekali ia mendongak, sedikit tersentak ketika mendapati siluet mungil terjun bebas dari ketinggian. Natsu Dragneel menyeringai. Berhasil menemukan Lucy setelah cukup lama mencari dengan mengamati satu persatu bintang jatuh dan mengandalkan indera penciumannya.
Terlalu senang dan terus menatap paras cantiknya dari bawah, tak sadar akan adanya batu besar membuatnya tersandung, berguling-guling di atas batu tajam, menambah rasa sakit atas luka yang telah ia dapat setelah mengeluarkan seluruh tenaga untuk menghadapi Enam Jenderal. Tapi Natsu tidak menyerah. Ia kembali bangkit disertai janji dalam hati. Janji bahwa ia akan menyelamatkan Lucy apapun yang terjadi.
Tanpa berpikir dua kali, Natsu melompat setinggi mungkin, dibantu dengan kobaran api di kedua kakinya untuk melawan gravitasi bumi. Tak memperdulikan hujaman-hujaman pada tubuhnya yang diakibatkan memaksa secuil kekuatan terakhirnya untuk menyelamatkan gadis itu. Kedua tangannya terulur, ingin menggapainya siluet pirang yang kini terlihat semakin dekat.
Seakan menjadi saksi, di bawah langit bertabur bintang, kedua insan itu kembali dipertemukan. Natsu menarik sosok yang telah ia gapai ke dalam pelukan erat. Tak ingin lepas, karena ini adalah resiko lain yang akan ia ambil. Terjun dari ketinggian sebagai 'tameng' agar tubuh Lucy tidak terluka. Natsu tidak menyadari, apa yang ia lakukan juga adalah perbuatan konyol. Meski begitu, ia tetap senang. Ia kembali mendapatkan Lucy, gadis yang menjadi tujuannya dalam misi kali ini. Tidak, melainkan, gadis yang menjadi tujuannya hidup di dunia ini.
Keduanya kian meluncur dengan cepat, membelah angin dengan tak segan, mendekati sebidang tanah yang dipenuhi bebatuan tajam. Natsu semakin menarik Lucy ke dalam peluknya. Tak akan membiarkan gadis itu terluka. Pemikiran itu masih tetap ada bahkan ketika kini tubuhnya telah bertabrakan dengan batu besar lalu berguling-guling di hamparan bebatuan kasar.
Yang bisa ia lakukan hanya mengerang nyeri dalam hati. Natsu menggigit bibir bawahnya, menahan teriakan agar tidak keluar. Tidak ingin Lucy mendengar teriakan penuh kesakitan darinya. Tidak ingin membuat wajah damainya terganggu. Namun, Natsu lepas kontrol, tidak tahan, akhirnya ia berteriak keras ketika punggungnya menabrak batu besar yang membuat tubuhnya berhenti berguling.
Nafasnya kian memburu. Cairan pekat berwarna merah mulai menetes dari setiap luka di seluruh tubuhnya. Kembali, Natsu tidak peduli. Ia berusaha menahan setiap kesakitan, juga mencoba menormalkan kembali detak jantungnya yang berpacu cepat.
Kali ini, pelukannya sedikit melonggar. Ditatapnya Sang Gadis yang masih menutup mata, seolah enggan menampakkan iris caramel indah dari dalam sana. Natsu mengerti. Diperlukan kekuatan penuh untuk melakukan pelepasan jiwa Lucy, dan nampaknya hal itu membuat Lucy benar-benar kehilangan tenaga lalu akhirnya tak sadarkan diri.
Kedua matanya menatap intens setiap inchi wajah si Mungil. Paras cantik itu sedikit ternodai debu karena insiden tadi. Ah, nampaknya Natsu terpaku, merasakan kedua pipinya menghangat. Beberapa saat ia berpaling, namun kembali memfokuskan matanya pada Lucy. Namun, kali ini ada yang aneh. Ada sesuatu yang ganjil dari ekspresi wajah gadis bernama lengkap Lucy Heartfillia itu.
"Luce?"
Hening.
Tak ada jawaban yang menyahut. Wajar saja karena orang yang diajak berbicara masih terbujur tak berdaya dalam peluknya. Dikiranya perlu beberapa usaha lagi untuk membangunkan Lucy. Setidaknya, ia harus memastikan bahwa Lucy benar-benar selamat, bukan hanya tubuh, tapi jiwanya. Dan Natsu pun kembali membuka suara. Berharap si Pirang membuka mata walau hanya sepersekian detik.
"Luce?"
Hening.
Natsu mengernyit heran. Gadis dalam pelukannya tetap bungkam, diam, tak merespon. Reflek, dekapannya semakin melonggar. Ditatapnya lekat wajah gadis itu yang seakan memancarkan cahaya. Namun, sedetik kemudian jantungnya nyaris berhenti berdetak saat menyadari bahwa wajah Lucy semakin memucat. Pucat pasi, seakan tak ada aliran darah segar di sana. Perkiraan terburuk pun mulai terlintas dan kian memenuhi benaknya.
"Lucy ... o-oi! Ayo bangun!"
Berusaha mengguncang pelan tubuh Lucy, namun tidak berhasil. Berusaha membuka satu persatu kelopak matanya, tetap tidak berhasil. Berteriak dengan nada memekakkan telinga pun tetap tidak berhasil. Sampai beberapa rekannya datang, Natsu masih kebingungan mencari cara membangunkan gadis di hadapannya.
"Natsuuuu~"
"Ada apa, Natsu?"
Derap langkah berat terdengar. Natsu menoleh, mendapati Sang Titania dan dua orang lainnya serta dua ekor exceed telah turun dari atas gurita dan tengah berjalan mendekat. Ekspresi khawatir terpampang jelas dalam raut wajah pemuda pinkish itu. Bibirnya terkatup, sekilas terlihat menggigit bibir bawahnya sendiri seraya mulai bangkit berdiri dan berjalan mundur beberapa langkah.
"Lucy ... apa yang terjadi padanya, Natsu?" ucap Happy yang kini melayang mendekatinya.
"Kenapa dengan Lucy?" sambung Erza dengan tegas.
"Erza ... Lucy, dia tidak bergerak sama sekali." Natsu menggeram dalam hati. Pandangannya tetap setia tertuju pada Lucy.
"Apa kau bilang, Flame Head?"
Seseorang dengan kebiasan topless itu menatap tajam ke arah Natsu, seolah meminta penjelasan lebih dengan cara yang terdengar agak menyebalkan. Namun, pemuda pinkish itu tak merespon. Nalurinya sudah megetahui hal selanjutnya yang akan terjadi jika ia memberikan jawaban, apalagi jika jawaban itu juga menyebalkan tentunya. Pertarungan antara kedua Madoushi Fairy Tail dalam keadaan seperti ini bukanlah ide yang bagus. Yah, mungkin saat ini mereka harus mengakui bahwa Natsu benar-benar peka terhadap sesuatu di sekelilingnya.
Tubuhnya sedikit bergetar. Aneh, Natsu mengangkat kedua tangan lalu menatapnya. Ada yang aneh. Ia merasa kehilangan. Namun, entah apa itu, Natsu tidak menyadarinya, sehingga memutuskan untuk melupakan pemikiran negatif itu.
Di sisi lain, karena merasa diabaikan, dan tak kunjung mendapat jawaban berarti, Gray lekas mendekati Lucy. Dipegangnya kedua bahu gadis itu, kemudian mengguncangnya pelan.
"Lucy, apa kau dengar aku? Ayo bangun!"
Hening.
"Lucy ... apa kau mendengarku, Lucy? Ini aku Happy. Ayo buka matamu."
Hening.
"Lucy-san ..."
Hening.
"Lucy, kau dengar aku? Lucy!"
Kembali tak ada respon. Dan itu membuat pikiran-pikiran yang sangat buruk menghampiri benak mereka semua, terutama Erza Scarlet. Gadis dengan julukan Titania itu mulai mengambil langkah. Dia berjongkok, menyesuaikan posisinya dengan Lucy. Sekilas manik matanya bergulir, mengikuti setiap lekuk tubuh si Pirang dari atas sampai bawah. Dengan sigap, diraihnya sebelah tangan Lucy, untuk memastikan denyut nadinya masih ada. Ia sangat berharap bahwa pemikiran buruk yang sempat terlintas tadi hanya firasat yang tidak berarti. Dan, dalam hati, ia inginkan sebuah kenyataan di mana denyut nadi Lucy masih berjalan normal dan gadis pirang itu hanya tak sadarkan diri atau semacamnya. Namun setelah beberapa saat, Erza menyadari bahwa hasilnya ...
Nihil.
Wajahnya seketika menegang. Pegangannya terlepas, membuat tangan Lucy ambruk ke bawah dengan bebas. Mulutnya ternganga, tak bisa menahan ekspresi tekejut yang baru ia dapat. Erza beranjak berdiri. Nafasnya mulai tak teratur. Walaupun tersirat berbagai kekhawatiran juga rasa tak percaya, namun hal itu tidak dapat menghilangkan kesan tegas dan tegar yang telah ia miliki sejak dulu. Dicobanya untuk tetap tenang, agar ia bisa menjelaskan semuanya dengan pasti pada mereka yang kini tengah menatapnya dengan heran.
Melihat Erza yang seperti itu, Gray yang notabene lebih pintar dibanding Natsu, sudah dapat memastikan kenyataan melalui ekspresi yang ditunjukkan Erza. Gray terlonjak kaget. Ditatapnya lagi wajah Lucy yang kian memucat. Tak lama, ekspresi yang sama juga dikeluarkan pemuda berambut biru gelap itu.
Sementara, gadis kecil yang sedari tadi kebingungan menatap Erza dan Lucy secara bergantian, kini mulai mendekat. Wendy Marvell, seorang Tenryuu no Dragon Slayer juga seorang penyembuh dalam Tim Natsu, gadis kecil itu menatap Lucy seraya menautkan telapak tangannya di depan dada. Ia mencoba menerka kondisi Lucy hanya dari wajahnya saja, itu wajar, lagi pula Wendy sudah lumayan terlatih dalam hal memprediksikan kondisi seseorang. Detik selanjutnya, ia terbelalak, sadar akan keadaan Lucy saat ini. Kembali, ekspresi yang sama juga tidak dapat ia sembunyikan. Rasa terkejutnya kian bertambah ketika matanya melihat kembali secara beberapa kali kilas sosok Lucy yang kini terbujur kaku.
Bingung, heran, ada apa ini sebenarnya? Mungkin itulah yang kini Natsu pertanyakan. Air muka kelima rekannya terlihat sama, terlebih, kelima pasang mata yang berbeda warna itu seolah memancarkan tatapan duka, dari sana Natsu sudah tahu pasti ada suatu hal buruk yang terjadi. Namun, entah kenapa kerongkongannya terasa tercekat, tak bisa berucap walaupun segudang pertanyaan telah mendesak benaknya. Yang bisa ia lakukan hanya kembali memutar bola matanya, fokus pada paras cantik si Pirang yang kian lama kian memucat.
"Jangan-jangan dia ..."
"Tidak mungkin. Lucy-san ..."
"Lucy ... dia ..."
Dentuman keras menghampiri hatinya. Natsu terpaku. Kalimat yang tidak diselesaikan mereka bertiga sudah menunjukkan bahwa hal buruk benar-benar terjadi pada Lucy. Tak sadar, ia lantas melangkah maju, ingin memastikan kembali keadaan gadis itu. Tak perlu waktu lama baginya untuk mendapat tatapan simpati dari temannya.
"Natsu, aku mohon, kau harus tenang." Erza menghetikan laju kaki pemuda pinkish itu selama beberapa detik. Mereka saling bertukar pandang, sebelum akhirnya Natsu kembali melangkah mendekati Lucy.
"Luce ... ini tidak mungkin."
"Natsu ... jangan salahkan dirimu," ucap Happy tiba-tiba, membuat Natsu sepintas menoleh, menatap mata exceed itu yang kini sudah mengalirkan cairan bening.
Ia kembali melangkah. Jalannya terlihat gontay, sedikit bergetar. Itu tidak aneh lagi, mengingat tubuhnya cukup mengalami luka berat akibat pertarungan, luka fisik, dan kini ia merasakan luka baru dalam dirinya, luka batin. Natsu merasakan berbagai hantaman kuat di dadanya. Ia ingin mengelak, namun semakin dekat ia dengan Lucy, hantaman itu semakin kuat. Terlihat jelas dari kedua matanya yang kini sedikit berkaca-kaca.
Pemuda berambut biru gelap itu lekas menyingkir saat sadar bahwa sosok Salamander telah berada di belakangnya. Gray membiarkan Natsu untuk segera melihat keadaan Lucy yang sebenarnya. Tak ada kata yang terucap ketika si Salamander berdiri tertegun di sampingnya. Gray hanya memalingkan wajah, tak ingin mengatakan hal terburuk pada Natsu.
Seketika Natsu ambruk ke bawah dengan kedua lutut yang menyentuh permukaan tanah. Sebelah tangannya nampak bergetar ketika hendak mengelus paras Lucy. Tatapannya tak berubah, masih memancarkan rasa tak percaya. Ketika bibirnya berucap sesuatu tanpa suara, setetes cairan bening meluncur cepat, membasahi wajah Lucy yang kini berada di bawahnya. Seiring dengan itu, tiba-tiba saja sekujur tubuh Lucy mengeluarkan cahaya putih. Tentu saja Natsu tersentak kaget, begitu pula dengan yang lainnya.
"O-oi! Luce ... Luce!" tanpa sadar Natsu kembali mengguncang tubuh kelu itu. "Luce! Luce!"
"Ada apa ini sebenarnya?" Erza mengernyit heran dengan rasa khawatir yang terus memenuhi ruang hatinya.
"Kenapa ... Lucy-san ..."
"Natsu, apa yang—"
Belum sempat Gray menyelesaikan perkataannya. Hal mengejutkan lainnya terjadi. Tubuh Lucy perlahan lenyap, digantikan dengan butiran cahaya yang membumbung tinggi ke langit. Natsu terhenyak. Dirasakan dadanya yang sesak, juga tenggorokannya yang tercekat. Hanya air mata yang mulai mengalir serta kedua tangannya yang terus mengguncang bahu Lucy, berharap bahwa semua ini hanya ilusi.
"Lu-Luce ... Lucy ... Lucy!"
Tak dapat mengontrol emosi, Natsu berteriak tak karuan. Perasaannya campur aduk tatkala melihat tubuh Sang Gadis yang telah menghilang separuh bagian. Tanpa berpikir panjang, ia lekas menarik Lucy ke dalam pelukannya lagi. Dalam kondisi seperti ini, mungkin ini adalah pelukan terakhir yang bisa ia rasakan bersama Lucy. Natsu tak pernah menyangka bahwa hal ini akan terjadi. Padahal ia sudah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melindungi gadis yang kini berada dalam pelukannya. Namun, semuanya berakhir tidak sesuai keinginan.
"Erza! Kita harus melakukan sesuatu! Kalau tidak, Lucy akan ..."
Teman-temannya terus memperhatikan Natsu dengan tatapan iba. Erza hanya bisa menahan air matanya yang mendesak untuk keluar dan tak sedikit pun membalas perkataan Natsu karena ia yakin bahwa apapun yang akan dilakukan itu tetap saja sia-sia. Sementara itu Gray tidak mampu untuk melihat Lucy dan juga kesedihan Natsu sehingga ia memutuskan untuk menatap ke arah lain, lalu Wendy, gadis kecil itu menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya, berusaha menutupi kesedihan mendalam yang ia rasakan. Tak lupa, dua ekor exceed di samping Wendy juga ikut menangis.
"Lucy! Lucy! Lucy!"
Hanya nama itu yang terucap. Natsu terus mendekap Lucy dengan erat, hingga akhirnya hanya kehampaan yang ia rasakan. Tubuhnya sudah menghilang keseluruhan, hanya meninggalkan butir-butir cahaya berwarna biru pucat yang melayang di udara. Pemuda pinkish itu menggigit bibir bawahnya, menyadari sosok itu sudah tiada. Tangannya masih tetap berposisi seolah mendekap seseorang, namun detik selanjutnya permukaan tanah telah menjadi sasaran pukulan keras dari Natsu.
"LUCY!"
Air matanya berlinang. Teriakan penuh penyesalan terus dikeluarkan olehnya. Natsu menggeram kesal. Ia merasa tidak berguna, bahkan hanya untuk menyelamatkan Lucy pun ia tidak bisa. Natsu yang kini terlihat shock berat, berusaha ditenangkan oleh Erza dan juga Gray. Walaupun mereka berdua juga tak mampu menahan agar air matanya tidak meleleh, tapi mereka harus menenangkan Natsu yang notabene seseorang yang amat dekat dengan Lucy dibandingkan dengan mereka.
"Natsu tenangkan dirimu!" ucap Erza yang berusaha mempertahankan sikap tegarnya. "Lucy tidak akan senang jika melihatmu seperti ini!"
Natsu berteriak. "Bagaimana aku bisa tenang! Sedangkan Lucy ... Lucy ... dia—"
BUAGHT!
Pukulan keras mendarat di pipinya dengan cepat. Membuat Natsu berhenti berteriak dengan cairan merah pekat yang terlihat menetes dari ujung bibirnya. Erza hanya memalingkan wajah tatkala insiden itu terjadi. Ia tidak bisa menyuruh Gray untuk tidak melakukan hal itu. Erza juga tahu bahwa Gray hanya ingin menenangkan Natsu, meski dengan caranya sendiri.
"Baka yarou! Kau pikir hanya kau saja yang merasa kehilangan Lucy? Kau pikir hanya kau saja yang merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Lucy? Lihat sekelilingmu!" pemuda berambut biru gelap itu mengepalkan tangannya sembari menatap Natsu dengan tajam. "Apa kau pikir kita semua terlihat senang, hah?"
Natsu terdiam. Ia mulai bangkit berdiri dengan kepala tertunduk. Tak merespon sedikitpun perkataan Gray barusan. Sementara itu, Gray mulai megusap jejak sungai kecil di wajahnya. Begitu pun dengan Erza yang kini tengah menenangkan Wendy. Tangisan yang mewarnai kepergian Lucy tak akan membuat semuanya kembali normal, Gray sadar akan hal itu. Meskipun satu anggota dari mereka sudah tiada, namun mereka harus tetap kuat seperti sebelumnya. Hal itu akan membuat Lucy senang, setidaknya itulah yang ada dalam pikirannya.
"Hoy! Temera! Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan?"
Tiba-tiba satu teriakan yang cukup keras menghampiri telinga Erza, membuat gadis berambut scarlet itu memalingkan pandangannya ke arah gurita raksasa. Manik matanya sedikit memicing, menatap Elfman yang kini menatap mereka dari kejauhan.
"Natsu-nii, cepatlah."
Sebuah suara kembali terdengar, namun kali ini nampak lebih lembut dibanding dengan suara milik Elfman. Erza menggulirkan bola matanya, terlihat jelas Romeo yang tengah melambaikan sebelang tangan, mengajak semuanya agar cepat kembali bersama Lucy. Dalam hati, Erza merasa nyeri, tidak tahu ekspresi apa yang akan dikeluarkan kedua teman satu guild-nya nanti ketika mengetahui Lucy telah mati—hilang.
Erza hanya bisa tersenyum samar dari kejauhan. Ibu jarinya terangkat ke udara, menandakan bahwa ia mengerti akan perkataan mereka berdua. Sementara itu, Gray dan Natsu hanya bisa memberi tatapan kosong ke arah mereka yang masih berada di atas gurita yang telah dijinakkan oleh Ichiya.
"Kalian dengar mereka? Kita harus kembali ke guild, sekarang." Erza segera bangkit, kemudian kembali melangkah mendekati gurita raksasa yang tak jauh di belakangnya. "Kita harus memberitahu mereka."
Gadis kecil berambut biru itu pun juga berusaha bangkit, dan segera menyusul Erza, walaupun tangisannya masih belum berhenti. Gray juga lekas beranjak meninggalkan tempat terakhir bagi Lucy, meski pun ia harus mati-matian menahan gejolak emosi di hatinya.
Di sisi lain, Natsu yang masih terdiam juga mulai menggerakan kedua kakinya. Walau rasanya berat, tapi perkataan Gray dan Erza tadi ada benarnya juga. Mau tidak mau, pemuda pinkish itu harus merelakan kepergian Lucy. Mencoba bersabar dan menghadapi kenyataan bahwa gadis yang selama ini mengisi harinya telah tiada.
Di tengah rasa pedih dan pilu yang ia rasakan, sebelah tangan Natsu terkepal erat, menggenggam satu-satunya benda peninggalan Lucy yang tadi sempat ia ambil dari permukaan tanah. Dalam hati, Natsu berjanji akan menyimpan benda itu baik-baik, akan menjaganya seakan dia tengah menjaga Lucy.
.
.
.
"Lucy-nee mana?"
Kalimat pertanyaan itu lekas terlontar dari mulut Romeo saat melihat sekelompok orang tengah mendekat. Kedua mata penyihir kecil itu sama sekali tidak dapat menemukan sosok yang telah ia tunggu, sosok gadis blonde yang ia tunggu tak kunjung menghampiri penglihatannya.
Erza memalingkan wajah ketika langkah kakinya semakin berjalan mendekati Romeo. Iris matanya terlihat sayu, sekilas ia menatap raut wajah Natsu yang berada di belakang.
"Apa yang terjadi?" Elfman nampak agak khawatir setelah merasakan perubahan ekspresi dari Erza. "Di mana Lucy?"
"Tidak usah banyak bicara, kita harus cepat memberitahu orang-orang di guild."
Gray berjalan sembari menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan ekspresinya yang menyedihkan. Pernyataan yang keluar dari mulut Gray beberapa detik lalu telah sukses membuat hal terburuk menghampiri pikiran Elfman dan Romeo. Sementara itu Ichiya terus sibuk mempertahankan pose tubuhnya sembari berusaha mencerna setiap perkataan yang terdengar oleh telinganya sejak tadi.
"Apa yang kalian bicarakan ini, Man?" tanya Ichiya tanpa bergerak sedikit pun.
"Jangan katakan Lucy-nee ..."
"Aku juga tidak percaya ini tapi ... Lucy telah ..." Gray cepat memalingkan wajah sebelum menyelesaikan perkataannya.
"Tidak mungkin!" Elfman berteriak dengan nada tingi, menahan emosi yang tiba-tiba datang menusuk ulu hatinya. "Ini tidak mungkin! Kita sudah mengalahkan Enam Jendral tapi kenapa Lucy—"
TAP!
Sebuah tangan gemetar menepuk pundak Elfman tak berdaya. Reflek, Elfman menoleh dan mendapati pemuda pinkish yang kini berdiri lemah di belakangnya. Sepintas Elfman dapat merasakan, Natsu seolah mengeluarkan aura menyedihkan dari dalam hatinya. Tentu saja iris matanya sedikit terbelalak ketika pandangannya semakin terfokus menatap raut wajah Natsu yang terus saja menghadap ke bawah. Mulutnya terlihat setengah menganga, menyadari bahwa ini pertama kalinya Elfman melihat Natsu dengan perasaan yang sangat drop akibat kehilangan Lucy.
"Aku mohon, aku ingin kembali ke guild sekarang juga."
Sebuah suara penuh penyesalan itu terdengar begitu parau dan lirih. Kini semua pandangan tertuju pada pemuda pinkish yang terus saja murung sejak insiden itu terjadi. Melihat keadaan mental Natsu yang seperti itu, Elfman benar-benar tidak ingin melanjutkan perkataan yang ia katakan barusan, ia memilih untuk diam lalu membalikkan tubuhnya.
"Maaf, Natsu," ucapnya sendu.
"Aku mengerti keadaannya sekarang." tiba-tiba Ichiya angkat suara, menghentikan kesibukkannya sendiri. "Aku turut bersedih untuk Lucy."
"Ah, aku serahkan padamu, Ichiya." Gray mulai duduk dengan sebelah tangan yang menopang kepalanya.
"Ok, Man!" ucapnya bersemangat. "Konoloa-kun, kita kembali ke guild Fairy Tail."
Detik selanjutnya, gurita raksasa itu kembali berjalan. Mengantarkan teman-teman barunya ke rumah mereka, juga mengantarkan kesedihan yang di bawa oleh masing-masing hati orang yang kini berada di atas tubuhnya.
=0=0=0=
Fairy Tail. Guild dengan bangunan sederhana setelah ditinggal 7 tahun lalu itu kini terpampang jelas di hadapan mereka. Sekilas terdengar suara gaduh dari dalam sana, menandakan keributan tengah berlangsung—seperti biasanya. Namun, ada juga teriakan kesakitan. Mungkin beberapa dari mereka masih menjalani pengobatan sehabis melawan Oracion Seis.
Setelah Waren melepas sihir telepatinya, semua orang sudah tidak sabar menunggu kepulangan tim utama yang ditugaskan untuk menyelamatkan Lucy dalam kasus Kastil Infinity, karena tim tambahan telah pulang terlebih dulu. Namun, nampaknya hari ini angin akan membawa berita duka seiring dengan kedatangan mereka.
"Apakah semuanya akan marah pada kita karena gagal menyelamatkan Lucy-san?" Wendy bergumam pelan dengan iris mata yang sudah berkaca-kaca—lagi.
"Ah, mungkin saja, tapi ... aku pikir rasa kehilangan akan lebih mendominasi perasaan mereka." Sang Titania menoleh ke arahnya. Sepitas menepuk lembut puncak kepala Wendy, berusaha membuat gadis kecil itu kuat.
Seekor exceed putih yang berdiri di dekatnya mendesah pelan sembari berpaling muka. "Wendy sudah kubilang kau jangan menangis, kau terlihat lemah."
"Tapi ..."
"Charlie, aku mengerti, kau juga pasti merasakan hal yang sama dengan Wendy termasuk kami 'kan?" Erza tersenyum tipis ketika menyadari bahwa kelopak mata exceed itu pun penuh dengan cairan bening.
"Kalian ... cobalah untuk kuat dan jangan biarkan semua orang bersedih terlalu dalam," ucapnya seraya mengepalkan tangan.
Erza menoleh. "Kau benar, Gray."
Gray mendengus pelan, meneguhkan hati yang sesungguhnya tergores dalam. "Kita tidak bisa terus berada di sini, ayo masuk."
Dengan air muka masam, Gray memutuskan untuk lebih dulu melangkah. Gadis berambut scarlet itu hanya menatap punggung Gray dengan sorot mata sendu sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikuti langkahnya.
Ketika dirinya tiba di hadapan pintu guild, Gray meneguk ludahnya sendiri. Sedikit ragu untuk membukanya. Namun, sebuah tepukan pengantar semangat terasa di bagian pundaknya. Ia yakin, itu Erza. Matanya mengerjap beberapa kali, menahan sesuatu yang coba menyeruak keluar dari matanya, dan kini tanpa keraguan, Gray membuka pintu itu dengan cepat.
CKLEK!
"Tadai—"
BUAGHT!
Kedua gadis dibelakangnya nampak terbelalak. Terkejut juga lucu mulai menghampiri mereka, tentu saja. Ketika pintu guild terbuka, entah dari mana sebuah meja kayu melayang dengan cepat dan telah sukses membungkam mulut Gray, bahkan seluruh wajahnya. Gray tertegun dengan tubuh sedikit bergetar. Serentak, semua pandangan tertuju ke arah pintu guild yang kini terbuka lebar, menampakkan beberapa orang anggota yang telah kembali dari tugas. Namun, sebenarnya bukan itu yang mereka lihat, melainkan mereka melihat wajah merah penuh emosi milik pemuda berambut biru gelap itu.
"Ya! Okaeri ..." Mira tersenyum tanpa dosa.
"Y-ya ... Gray, okaeri." Lisanna mencoba melambaikan tangan walau ragu.
"Yo! Gray, kau sudah pulang rupanya," ucap Wakaba sembari menghembuskan asap rokoknya.
"Okaeri minna ..." Levy juga ikut tersenyum, tak menyadari gejolak emosi yang Gray rasakan.
Semua orang nampak menyambut kedatangan mereka dengan riang. Suara tawa pun terdengar sesaat setelah acara penyambutan itu selesai. Sekilas nampak tengah duduk beberapa orang yang terluka ringan juga ikut tertawa merasakan hangatnya kebersamaan. Guild ini kembali ramai oleh perbincangan sampai perkelahian. Dari sudut paling ujung guild hingga pertengahan, penuh oleh segerombolan orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Sementara itu, Gray yang masih berkutat dengan emosinya mulai melangkahkan kaki berat ke pertengahan guild. Dengan kasar ia melepas kaos yang ia kenakan lalu melemparnya ke sembarang arah. Kepalan tangan milik pemuda itu lekas terangkat ke udara, disertai gigi yang menggeretak, kesal.
"Kono yarou! Siapa yang tadi melempar meja ke arahku, hah!" Gray menunjukkan paras wajahnya yang masih memerah akibat insiden tadi. "Kalau berani, keluar sekarang juga! Ayo kita bertarung!"
Hening.
Semua mata kini terfokus ke arahnya. Selama beberapa detik, tak ada yang menjawab, hanya tatapan heran dan bingung yang Gray terima. Tentu hal itu semakin membuat Gray geram. Awalnya hanya ada suara Wakaba yang menyeletukkan kata tak jelas, ditambah oleh Jet dan Droy, namun Gray tidak menanggapi perkataan aneh dari mereka hingga beberapa detik kemudian ...
SRETT!
Suara deritan kursi yang ditarik ke belakang begitu terdengar jelas. Pemuda yang hobi topless itu segera menoleh ke sumber suara.
"Ma, ma, jika kau memaksa ..." suara baritone terdengar dari arah sudut guild, nampak seorang pemuda berambut hitam dengan beberapa tindikan di wajahnya mulai mendekati Gray dengan langkah kaki santai. "Ayo bertarung!"
Gray menggeram sembari mengepalkan tangannya semakin kuat. "Gajeel!"
"Padahal cuma luka kecil seperti itu, ck. Lagipula aku tidak sengaja melemparnya," ucap Gajeel yang meregangkan otot lehernya.
"LUKA KECIL, KATAMU, HAH!" Gray berteriak keras dengan nada memekakkan telinga sembari menunjuk sosok pemuda besi yang berada di hadapannya dengan tajam. "Coba saja kau rasakan sendiri!"
Gajeel terkekeh pelan seraya mulai menyiapkan kuda-kuda. "Tunjukkan padaku."
Ditengah pertikaian tidak penting yang Gray lakukan bersama Gajeel. Mirajane Strauss—perempuan berambut putih yang tengah duduk di samping meja bar hanya tersenyum jahil, begitu juga dengan adik kandungnya, Lisanna Strauss.
"Ara-ara ... nampaknya akan ada pertarungan lagi." Senyumnya mengembang, nampak tidak memperdulikan kerusakan apa yang akan mereka lakukan nanti.
"Mou! Padahal mereka baru saja pulang!" ucap Lisanna setengah sweatdroped.
Sementara itu, Gray dan Gajeel sudah saling melemparkan tatapan tajam. Aura hitam mulai menyeruak dari dalam tubuh mereka. Sejenak, Gray menyeringai dengan tangan yang sudah siap membentuk sebuah jurus. Sedangkan Gajeel, sudah merubah lengannya menjadi besi, lalu selanjutnya ...
"Tetsuryuu no—"
"Ice make—"
"FUTARI TOMO YAMERO!"
Teriakan seorang gadis berambut scarlet menggelegar hingga sudut ruangan. Iris cokelatnya menatap tajam ke arah dua orang yang perhatiannya kini telah tertuju ke arahnya. Erza melangkahkan kakinya dengan geram, tidak tahan dengan sikap siap-bertarung-kapan-saja yang dimiliki kedua pemuda itu bahkan ketika keadaan sedang tidak baik seperti ini.
TAP TAP TAP!
Setiap derap langkah kaki gadis tersebut telah sukses membuat bulu kuduk Gray merinding, ditambah saat ia melihat sorot mata tajam di balik surai scarlet milik penyihir S-class itu.
"E-Erza ... aku ..." Gray terpaku, tak mau melepas pandangannya dari Sang Titania.
"Ck!" wajah pemuda besi itu berpaling menyadari pertarungannya tidak akan berlangsung, sedetik kemudian lengannya telah kembali menjadi normal.
TAP!
Langkah kakinya terhenti di depan pamuda berambut biru gelap itu. perlahan Erza mulai mengangkat wajah yang sebelumnya tertunduk. Sekilas, Gray merasa degup jantungnya berhenti, ia tidak tahu amukan monster seperti apa yang akan ia terima nanti.
"Erza ..." ucapnya agak ragu.
"Gray ..." wajahnya sukses terangkat, Erza sedikit mendongak, menatap wajah Gray yang sedikit lebih tinggi darinya.
Gray tersentak. Matanya membulat sempurna ketika Erza mendekatkan kepalan tangan kanannya tepat ke hadapan wajah Gray. Tubuhnya sedikit bergetar menyadari bahwa kelopak mata Erza kembali terpenuhi oleh cairan bening. Pemuda itu terdiam dengan mulut menganga tatkala dengan cepat Erza menunjuk seseorang yang kini masih berdiri di ambang pintu guild.
"Kau lihat? Tak bisakah kau diam dan mengerti perasaan orang itu saat ini?" ucap Erza dengan nada bergetar.
Tatapannya mulai terlihat sayu. "Natsu ..."
"Huh?" alisnya terangkat saat mendengar percakapan antara Erza dan Gray.
Gajeel mulai menatap kedua insan di hadapannya secara bergantian. Meskipun ia bukanlah tipe orang yang mudah peka terhadap perasaan seseorang, namun kedua iris matanya dapat melihat dengan jelas air muka Erza dan Gray yang nampaknya sedang dalam kondisi yang buruk.
"Apa yang kau maksud ini, Titania?" tanya Gajeel kemudian.
Erza menoleh, menatap raut wajah Gajeel yang terlihat bingung. "Aku akan menceritakannya jika Master ada di sini."
"Apa sesuatu telah terjadi? Ada apa dengan Si Salamander Bodoh itu?"
Erza tak menjawab. Gadis itu hanya menggelengkan kepala kemudian terdiam. Perasaannya kembali tercampur. Erza tidak tahu apakah ia harus menceritakan semuanya sekarang atau nanti ketika Master berada di sini. Sementara itu Gray yang telah melihat rivalnya masih terpengaruh perasaan nyeri akibat sepeninggalan Lucy segera membalikkan tubuhnya dengan sebelah tangan yang memegang kepala.
"Maaf, aku tidak sadar."
Dari ambang pintu seekor exceed biru tengah memperhatikan Gray dan Erza beserta semua orang yang kini seakan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Dengan segera manik matanya melirik ke arah sahabatnya yang memunggungi semua orang. Happy menghembuskan nafas berat. Kedua kakinya mulai melangkah mendekati Natsu.
"Natcu, apa kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada lembut.
Natsu menoleh, sejenak ia terdiam sebelum menjawab sembari mulai melangkah. "Aku akan ke apartemen Lucy. Apa kau akan ikut, Happy?"
Bibirnya bergetar, Happy hendak menjawab namun tenggorokkannya terasa tercekat. Sedetik kemudian, kedua sayap istimewa miliknya mulai nampak. "Aye ..." ucapnya lesu dengan tubuh yang telah melayang.
Romeo yang merasakan desiran angin bersamaan dengan kepergian Natsu lekas menggumamkan nama pemuda pinkish itu dengan pelan. Kembali, tatapan sayu yang sama seperti tadi ia lemparkan tepat ke arah punggung Natsu yang kini semakin menjauh. Seiring dengan itu, Mirajane nampak sangat bingung melihat tingkah beberapa orang dalam tim utama yang baru saja kembali.
"Ada apa dengan Natsu?" Mira mulai melangkah mendekati Erza.
"Oy, oy, rasanya ini aneh sekali," timpal Droy, memberhentikan aktivitas makannya.
"Kenapa dengannya?"
Kian detik, kian banyak celotehan yang keluar mengenai sikap Natsu dan juga ekspresi aneh dari timnya. Erza menggerutu dalam hati. Dalam sekejap ia telah menjadi objek yang didatangi berbagai pertanyaan. Tatapan heran dan air muka bingung mereka membuat Erza semakin tidak tahan. Ia lekas menaiki sebuah meja yang berada tak jauh darinya. Sebelum Erza menceritakkan apa yang telah terjadi, dalam hati ia sempat meminta maaf kepada Natsu.
"Dengar, aku yakin ini akan membuat kalian semua sedih dan tak percaya, tapi ... kami semua, tim Natsu gagal menyelamatkan Lucy Heartfillia."
"A-apa?"
"Kalian gagal?"
"Apa maksudnya ini?"
"Katakan bahwa kalian berbohong!"
"Kalian tidak mungkin gagal 'kan?"
"Di mana Lucy? Kalian pasti menyembunyikannya!"
"Jangan bercanda! Oracion Seis telah hancur, seharusnya Lucy selamat."
Sesuai perkiraan, ternyata semakin banyak pertanyaan bahkan penyangkalan untuk insiden itu. Mereka hampir tak sepenuhnya percaya bahwa tim Natsu gagal menyelamatkan Lucy, namun inilah kenyataannya. Erza hanya bisa meyakinkan mereka dengan berusaha untuk tidak meneteskan air mata saat mengingat detik-detik kejadian itu. Syukurlah, tak lama, Gray yang kini tengah duduk di sebuah kursi mulai angkat bicara untuk memperjelas keadaan.
"Lucy meninggal setelah melepaskan tubuhnya dari Kastil Infinity dan kami juga gagal untuk membawa jasadnya ke sini. Dia berubah menjadi cahaya dan menghilang," ucapnya dengan tangan yang menopang kepalanya. "Ini kebenarannya, kebenaran bahwa kita—termasuk aku gagal menyelamatkan Lucy."
.
.
.
Edolas ...
Hembusan angin kering terasa sangat panas. Hamparan pasir nan luas memenuhi pandangan mata. Berkelana di tengah padang pasir seperti ini cukup membuatnya lelah, namun belum cukup untuknya melupakan segala kejadian yang hampir membuatnya depresi.
Natsu Dragion, anggota Fairy Tail yang dikenal selalu bersikap dingin itu terduduk di jok mobil seraya menatap ke luar melalui pintu mobil yang ia biarkan terbuka. Dalam genggaman tangannya yang kuat terdapat sebuah ikat rambut berhias tengkorak putih kecil. Perasaannya kalut. Pemuda yang menyebut dirinya pria tercepat di Fairy Tail itu rela meninggalkan perkumpulannya dan mengembara seorang diri entah kemana.
Pemuda pinkish itu menghela nafas. Ini sudah hampir tiga tahun sejak ia kehilangan sosok yang berarti baginya, sosok keras kepala, kasar, namun terlihat manis di matanya, sosok seorang Lucy Ashley. Gadis yang sebenarnya begitu baik dan selalu memperhatikan dia.
Natsu Dragion mendekatan ikat rambut milik Lucy ke dadanya sambil bergumam, "Lucy ..."
Dan seketika itu juga ...
"Kyaaaaaaaaaa!"
Natsu tersentak. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba meyakinkan bahwa suara teriakkan melengking yang baru saja menghampiri indera pendengarannya bukanlah ilusi. Ia berusaha menajamkan indera pendengarannya, lalu sedetik kemudian suara itu semakin jelas terdegar. Natsu segera keluar dari mobilnya dan lekas mencari sumber suara itu. Manik matanya dengan cepat menatap ke segala penjuru arah. Namun, tak ketemu. Teriakkan itu masih saja menggema hingga akhirnya ia mendongak dan mendapati seseorang tengah melayang jatuh dari ketinggian.
"Siapa itu?" tanyanya entah pada siapa.
"Kyaaaaaa! Di maannnaaaa akuuuu? Kenapa aku jatuh di tempat seperti ini! NATSU TOLONG AKU!"
DEG!
Pemuda itu terpaku mendengar kata terakhir yang ia dengar. "Ini ... suara ini ..."
"NATSU!"
"Ini ... suara ... Lucy ..."
"Kyaaaaaa!"
Mata pemuda itu mulai menyipit menyadari bahwa suara itu amat familiar di telinganya. Sepintas ia nampak memperkirakan tempat yang tepat untuk menangkap siluet pirang yang masih saja terjun dengan cepat. Setelah beberapa detik mencari, akhirnya ia berhasil menemukannya. Natsu segera berlari menuju titik di mana Lucy akan jatuh tepat di sana. Kedua tangannya mulai terbuka lebar seiring mendekatnya tubuh mungil Sang Seirei Madoushi. Dalam hati ia berharap agar dapat menangkapnya hingga selamat serta berharap bahwa itu benar-benar Lucy, Lucy yang selama ini ia cintai, Lucy yang selama ini menemaninya dengan senyuman.
Kelopak matanya tertutup, merasakan hembusan angin bersamaan dengan kedatangan orang yang dicintainya, dan kemudian ...
"Kyaaaaa!"
BUGHT!
Tubuh mungil itu berhasil mendarat selamat tepat di atas tubuh Natsu dengan posisi berbaring. Keduanya merasakan denyut sakit di sekujur tubuh mereka karena beradu dengan tanah. Natsu mengigit bibir bawahnya menahan sakit, sementara itu Lucy hanya meringis sembari mendongak perlahan, ingin menatap seseorang yang telah ia tindihi ini.
"Lu-Lucy ..."
"Ka-kau ... Na-Natsu?"
.
.
.
Earthland ...
Natsu mendekatkan keningnya ke arah foto gadis blonde yang kini ia pegang sembari bergumam, "Ya, Luce ... ini aku."
Happy yang berdiri tak jauh di depannya hanya bisa menangis dalam diam melihat Natsu yang kini tengah duduk di sisi tempat tidur dengan sprei berwarna pink cerah itu. Happy merasa sulit sekali untuk menghentikan aliran cairan bening yang terus saja keluar, apalagi saat menatap Natsu yang seakan merasakan kehadiran Lucy hanya dengan menggenggam erat foto gadis itu.
"Luce ... aku tahu kau masih hidup."
TES!
Setitik cairan bercahaya itu sukses menelusuri wajahnya. Natsu tersenyum samar, menenggelamkan kenyataan di sekitarnya.
"Aku masih bisa merasakanmu di sisiku."
TBC
A/N: akhirnyaaaaaa! Fic ini update juga chap 1 nya \(^o^)/ maaf sudah menunggu dan membuat penasaran dengan prolog gaje yang aku publish beberapa bulan lalu :3
Bagaimana ceritanya? Berkenankah untuk mencurahkan isi hati(?) kalian di kotak review di bawah ini? Aku tunggu yak! ^^
