Tubuh mungil itu berhasil mendarat selamat tepat di atas tubuh Natsu dengan posisi berbaring. Keduanya merasakan denyut sakit di sekujur tubuh mereka karena beradu dengan tanah. Natsu mengigit bibir bawahnya menahan sakit, sementara itu Lucy hanya meringis sembari mendongak perlahan, ingin menatap seseorang yang telah ia tindihi ini.

"Lu-Lucy ..."

"Ka-kau ... Na-Natsu?"

.

.

.

Earthland ...

Natsu mendekatkan keningnya ke arah foto gadis blonde yang kini ia pegang sembari bergumam, "Ya, Luce ... ini aku."

Happy yang berdiri tak jauh di depannya hanya bisa menangis dalam diam melihat Natsu yang kini tengah duduk di sisi tempat tidur dengan sprei berwarna pink cerah itu. Happy merasa sulit sekali untuk menghentikan aliran cairan bening yang terus saja keluar, apalagi saat menatap Natsu yang seakan merasakan kehadiran Lucy hanya dengan menggenggam erat foto gadis itu.

"Luce ... aku tahu kau masih hidup."

TES!

Setitik cairan bercahaya itu sukses menelusuri wajahnya. Natsu tersenyum samar, menenggelamkan kenyataan di sekitarnya.

"Aku masih bisa merasakanmu di sisiku."

Hilang Dan Kembali created by me, Miyoko Kimimori

Disclaimer : Hiro Mashima

Warning : Semi-canon, OOC, Typos, rush, abal, gaje, EYD belum benar, dll

Saya tidak mendapatkan keuntungan materiil atau keuntungan apapun dari fic ini.

Pair : NatsuXLucyXEdo-Natsu dan beberapa pair lain di chapter berikutnya.

If you dont like, dont read!

Happy Reading (^O^)/

.

.

.

Earthland ...

"Natsu ... apa kau akan tetap seperti ini?"

Happy nampak tidak tahan melihat Natsu yang terus terdiam dengan sebuah foto yang enggan ia lepaskan. Bukannya ingin melarang, tapi ini sudah terlalu jauh, Natsu yang sekarang terlihat sangat berbeda di matanya. Happy tidak tahu bahwa kehilangan Lucy mampu membuat Karyuu no Dragon Slayer itu jatuh ke dalam titik kecil kemalangan yang kini sudah melebar.

BRUK!

Natsu menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur Lucy. kedua matanya menerawang ke arah langit-langit rumah. Natsu mendengus, merasakan dentuman-dentuman yang terus ia rasakan sejak tadi. Sepintas ia meringis menyadari bahwa dentuman itu akan terus ada sebelum ia dapat merelakan Lucy.

"Aku merasa sendirian," gumam pemuda pinkish itu dengan parau. "Aku merasa kosong. Happy bisa kau jelaskan mengapa aku merasa seperti ini?"

Tubuh Happy langsung bergetar saat mendengar penuturan singkat sahabatnya. Exceed biru itu segera menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis yang hendak keluar begitu saja.

"Natsu ..." Happy berusaha mati-matian menahan cairan bening yang lagi-lagi ingin menyeruak. "Ayo kita kembali ke guild. Lucy ... dia pasti tidak ingin melihat kita seperti ini terus."

Bibirnya melengkung, mengguratkan senyum miris yang belum pernah ia tunjukkan pada siapapun. "Ah, Lucy ... dia memang seperti itu, tidak ingin membuat kita mengkhawatirkannya berlebihan. Tapi ... aku tetap tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya, aku tidak bisa berhenti memikirkan Lucy."

Kedua tangannya terangkat. Happy menutupi wajahnya yang kini telah basah. Exceed biru itu jatuh terduduk di lantai dingin apartemen sahabatnya, ya, sahabat yang sangat disayanginya. Happy sudah tak peduli lagi dengan Natsu, dalam artian tanda kutip. Happy tak ingin lagi mengganggu emosi pemuda pinkish itu yang kini tengah meluap, karena dirinya pun sibuk mengatasi emosi dalam hatinya sendiri, emosi yang timbul akibat kesedihan karena kehilangan Lucy. Namun, jauh dari semua itu, Happy pun sebenarnya sama seperti Natsu, sama-sama 'masih mempercayai' bahwa Lucy masih hidup.

Sementara itu, Natsu mulai terdiam. Sekelibat bayangan mulai menghampiri pikirannya. Bayangan seorang gadis blonde yang tengah tersenyum sembari menunjukkan tato lambang Fairy Tail yang baru pertama kali ia dapatkan. Tanpa sadar, Natsu pun ikut tersenyum, namun senyumnya disertai setetes cairan bening yang kini telah sukses menelusuri pipinya.

.

'Kyaaaaa! Atashi no heyaaaa!'

.

'Natsu tolong aku!'

.

'Natsu ... Natsu ... Natsu!'

.

'Natsu aku mohon ...'

.

'Kau di mana Natsu?'

.

DEG!

Sedetik kemudian ada sesuatu yang seakan mengunci hatinya dengan sebuah keyakinan. Awalnya Natsu hanya bisa mengernyit heran, tak mengerti mengapa tiba-tiba saja ia merasa seperti itu, namun pada akhirnya seringai Sang Pembantai Naga kembali tergurat. Seketika tangan kanannya terkepal, Natsu mengangkat tinggi-tinggi tangan itu, kemudian mendaratkannya kembali di dada sebelah kiri.

"Aku tahu ... aku masih yakin, kau belum meninggal, Luce. Ya jauh di dalam hatiku ini, aku masih yakin kau masih hidup." Matanya berkilat, Natsu merasakan hal lain di dalam hatinya, sensasi hangat seakan bahwa kini tangan transparan tengah menggenggam lengan Natsu yang terkepal itu. "Demi apapun di dunia ini, aku bersumpah, aku akan menemukanmu dan membawamu kembali ke sini," ucapnya dengan tekad membara.

Hatinya nampak sudah menemukan satu tujuan. Tujuan untuk menemukan penyihir arwah itu. Walaupun Natsu tidak tahu di mana kini Lucy berada, namun kepercayaannya telah bulat, ia yakin—sangat yakin bahwa gadis itu masih hidup. Natsu percaya, Lucy tidak akan meninggal semudah itu. Karena Natsu tahu bahwa Lucy gadis yang kuat, Natsu tahu bahwa Lucy takkan pernah menyerah, dan Natsu tahu bahwa meskipun semua orang menganggap Lucy telah tiada namun ia yakin, pasti Lucy tengah menunggunya di suatu tempat yang amat jauh dari Fiore.

"Serahkan padaku, Lucy. Aku akan membawamu kembali. Moette kiita zo!"

.

.

.

Edolas ...

"A-apa ka-kau benar-benar, Na-Natsu?" ucapannya terdengar bergetar menahan sakit. "A—ku serahkan padamu. To-tolong bawa aku ke-kembali ke guild."

Kedua matanya mulai terpejam. Seluruh tubuhnya nampak lemas sekali. Gadis berambut pirang itu mulai hilang kesadaran secara penuh. Semua ini akibat rasa pening yang ia terima bersamaan dengan jatuhnya ia di atas tubuh Natsu. Pening bercampur rasa sakit akibat proses pelepasan tubuhnya dari Kastil Infinity yang ia lakukan tadi telah sukses membuat tenaganya terkuras habis. Sebenarnya, Lucy masih ingin terjaga, ia ingin memastikan tempat di mana sekarang ia berada, dan ia juga ingin memastikan bahwa seseorang yang kini berada dalam tindihannya adalah benar-benar Natsu, bukan orang lain. Namun, Lucy telah kalah melawan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya itu dan akhirnya ia jatuh pingsan.

Pemuda pinkish yang kini masih berada di bawahnya terlihat terkejut setelah mendengar suara khas dari gadis blonde itu. Ia begitu kenal dengan suara itu, rambut blonde itu, dan juga ia sangat hafal sensasi hangat yang selalu ia rasakan saat berdekatan dengan Lucy.

"Jadi ... ini ..."

Natsu mulai bangkit seraya menggeser pelan tubuh mungil Sang Gadis. Dengan sangat pelan kedua tangannya mengalihkan tubuh Lucy dari atas tubuhnya. Beberapa detik lalu, setelah Natsu mendengar perkataan Lucy yang terakhir, ia dapat merasakan setetes cairan yang jatuh dari iris mata Lucy dan itu membuat hatinya berdesir.

Ia mulai beranjak duduk. Perlahan sedikit mengusap kepalanya yang terasa agak berdenyut. Namun detik selanjutnya ia segera menoleh. Kedua iris matanya sedikit melebar kala bayangan paras cantik gadis itu tertangkap olehnya. Tubuh Natsu nampak bergetar.

"Lu-Lucy?"

Dentuman itu semakin terasa. Memori itu kembali berputar. Natsu mencengkeram dadanya dengan erat. Ia dapat memastikan bahwa kini perasaannya tengah tak karuan. Antara senang, bingung, dan sedih. Semua ini karena gadis itu, ya, karena Lucy. Lagi-lagi gadis itu mampu membuat Natsu merasakan hal seperti ini, sama seperti dulu. Walaupun sebelum gadis ini jatuh ke tanah, Natsu sempat berharap bahwa ini benar-benar Lucy tapi ... helo! Itu hanya sekedar harapan besar yang timbul akibat rasa putus asanya, karena jauh di dalam hatinya, Natsu percaya bahwa meski ia berharap dan berusaha keras Lucy tidak akan pernah kembali. Namun, ternyata … harapan itu …

"Ini ... benar-benar kau, Luce." Tak sadar, sebelah tangannya membelai lembut wajah Lucy, walaupun sedikit ragu. "Lu-Luce?"

Matanya mulai berkaca-kaca seiring dengan hembusan angin kering yang kini menerpa kulit pucatnya. Natsu terlihat sangat menahan emosinya. Ia masih sibuk berkutat dengan pemikiranya sendiri. Ia tidak yakin gadis itu adalah Lucy, namun perasaan yang kini ia rasakan, sama persis dengan apa yang ia rasakan saat bersama Lucy. Percaya atau tidak. Hanya kalimat itu yang memenuhi benaknya.

"A-aku tidak percaya ini. Kenapa bisa kau hidup—"

"Nngg ... Na-Natsu ..."

DEG!

Natsu tersentak. Matanya mengerjap beberapa kali dengan tatapan yang enggan ia alihkan dari Lucy. Sejenak, pemikiran mengenai Lucy yang berada di depannya ini adalah ilusi kian detik kian menghilang. Ini benar-benar Lucy, dan Natsu begitu tidak menduga hal ini. Gadis yang telah meninggalkannya tiga tahun lalu kini tiba-tiba datang dengan keadaan yang tidak bisa dibilang dalam keadaan yang menyenangkan. Lucy pingsan setelah jatuh dari langit. Tapi kenapa? Apa yang membuatnya jatuh dari langit? Bukankah seharusnya Lucy sudah meninggal? Mungkin seperti itulah gambaran beberapa pertanyaan yang kini kembali memenuhi benak pemuda pinkish itu.

Seketika sekelibat bayangan seakan terlihat jelas di depan matanya. Masa-masa saat ia bersama dengan Lucy dan bagaimana tentang bodohnya ia saat pergi menjalankan misi tanpa Lucy karena saat itu Lucy tengah sakit. Pada akhirnya, Natsu pun tidak tahu bagaimana detik-detik terakhir Lucy menjelang kematiannya di dalam apartemen.

Sebelah tangannya mulai mencengkeram erat kepala. Natsu menggigit bibir bawahnya kala rasa sakit mulai menjalar di bagian kepala. Sekilas, ia melirik ke arah Lucy dan tanpa sadar Natsu lekas menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

"Lucy ... Lucy ... maafkan aku ..." tubuhnya bergetar dengan air muka menyesal, Natsu menenggelamkan wajahnya di leher Lucy sembari menghirup aroma gadis yang sudah lama tak ia rasakan lagi. "A-aku ... aku menyesal meninggalkanmu saat itu. seharusnya aku berada di sampingmu, tapi ...tapi—"

.

"Jika suatu saat aku meninggal, aku ingin—tidak, maksudku aku akan bereinkarnasi, dan kau tidak usah terkejut jika bertemu denganku lagi. Ne, Natsu?"

.

Dentuman keras terasa sangat kuat di ulu hatinya. Natsu melepaskan dekapan itu dan lekas mencengkeram dadanya dengan erat. Perasaan itu, bayangan itu, semua perkataan itu telah sukses membuatnya tertegun, tak mengerjapkan mata barang 3 detik. Ekspresi wajahnya kian terlihat menyedihkan setelah suara yang seolah melantun lembut itu menghampiri telinganya. Namun, tak disangka sebuah guratan senyum simpul nampak jelas di balik ekspresinya itu.

"Apa ... apa ini semua yang dia maksud?" tanyanya entah pada siapa. "Jika benar begitu ... aku mengerti sekarang dan aku bersyukur karena ..." Natsu mendekatkan kepalanya ke arah Lucy. "Karena nyatanya sekarang kau sudah kembali seperti perkataanmu dulu. Okaeri, Luce," ucapnya lembut.

Samar, Lucy tersenyum walau kesadarannya telah hilang. Meski begitu senyum samarnya dapat terlihat jelas oleh Natsu. Pemuda itu pun ikut tersenyum sebelum akhirnya memutuskan untuk menggendong Lucy ke dalam mobil.

Dengan lembut Natsu membaringkan tubuh Lucy di jok belakang. Ia sempat menghela nafas panjang. Bukan karena merasa lelah, bukan juga akibat menggendong tubuh Lucy, namun karena Natsu sadar saat ini adalah waktu yang tepat untuk kembali ke guild. Setelah lama pergi, ia akan kembali. Sebenarnya masih ada secuil rasa tidak percaya bahwa gadis di depannya ini adalah Lucy, dan ia bertambah tidak percaya jika ia akan kembali ke guild bersama gadis ini—gadis yang sudah lama meninggal dan sudah dikenang oleh semua anggota guild. Namun, sekali lagi, pemuda pinkish itu menguatkan tekadnya.

"Aku harus segera kembali ke guild!"

.

.

.

Earthland …

Dengan semangat Natsu melangkahkan kakinya menuju guild setelah dengan berat hati meninggalkan apartemen Lucy. Diikuti seekor exceed yang melayang tak jauh di belakangnya, ia berjalan santai menuju Fairy Tail. Dari air muka pemuda pinkish itu dapat dilihat ekspresi semangat Sang Dragon Slayer.

Bayangan bangunan sederhana yang tadinya tidak terlihat, kini semakin nampak jelas dalam jangkauan pandangan matanya. Natsu merasa senang, namun bibirnya malah mengguratkan garis melengkung yang sepertinya tidak menyenangkan.

Pintu utama guild tertutup rapat.

Natsu menghentikan langkahnya sembari mengernyitkan kening saat dirinya tiba di depan pintu kayu berwarna cokelat itu. Happy yang kini telah berada di sampingnya mulai menajamkan mata pada secarik kertas yang menempel pada pintu.

"Ini … pesan dari Mira." Happy menoleh ke arah Natsu.

Pemuda itu mengangguk, perlahan ia mulai membaca tulisan lain yang berada pada ujung kertas tersebut. "Kami … akan melaksanakan upacara pemakaman di Gereja Kardia, untuk mengenang sahabat kami yang sudah meninggal."

DEG!

Hatinya terasa dilempar batu tajam, Natsu tercengang selama beberapa detik. Sekilas ia nampak menggeretakan giginya sebelum kepalan tangan itu mendarat dengan keras pada pintu guild. Natsu menggeram. Dapat terlihat cairan bening yang kini tertahan di ujung matanya.

Amarahnya muncul. Bagaimana tidak? Tepat disaat ia yakin dan ingin meyakinkan semua orang bahwa Lucy masih hidup, mereka malah melakukan upacara pemakaman tanpa memberitahunya terlebih dulu. Natsu tahu, mungkin mereka tidak ingin membuatnya bertambah sedih jika mereka memberitahukan hal ini, namun kenapa harus seperti ini?

"Aaaarrgghhtt!"

Tubuhnya berbalik, Natsu melangkahkan kakinya dengan cepat menuju gereja. Happy yang sejak awal merasakan firasat buruk saat pertama kali membaca pesan itu hanya bisa terdiam seraya mulai menyusul Natsu.

'Lucy … kenapa jadi seperti ini?' batin Happy.

=0=0=0=

Langit cerah hari ini entah mengapa berubah, penuh dengan gumpalan kapas hitam yang bermuatan listrik. Sinar matahari pun lenyap tertelan gelap. Setetes cairan bening perlahan jatuh menghujam bumi, kian detik tetesan itu kian bertambah banyak. Seakan tak ingin kalah, angin pun menghembuskan sisi dinginnya, menghantarkan kesuraman pada setiap orang yang kini tengah berteduh dari hujan deras.

Namun, beda halnya dengan pemuda pinkish itu. Ia rela berlari menembus rintik hujan. Di belakangnya terlihat Happy yang juga ikut berlari dengan nafas tersengal. Keduanya tetap berlari, tak memperdulikan tatapan aneh dari orang-orang yang mereka lewati. Tujuan mereka hanya satu, Gereja Kardia.

Setelah beberapa menit berlari, langkah kaki Natsu dan Happy terhenti tepat di depan halaman gereja. Natsu tertegun sembari berusaha mengatur nafasnya, begitu pun dengan Happy. Walaupun dalam keadaan seperti itu, tak sedetik pun Natsu kehilangan sosok Lucy dari dalam benaknya. Sosok itu masih tetap utuh, masih tersenyum untuknya, dan sekarang Natsu akan menunjukkan pada semuanya bahwa senyuman Lucy bisa mereka lihat kembali.

"Na-Natsu … apa ka-kau yakin?" Happy menepuk kaki kanan Natsu sembari mendongak.

"Jika hal ini menyangkut Lucy, aku akan selalu yakin," jawabnya dengan sorot mata penuh keyakinan. "Ayo kita masuk, Happy."

Happy mengangguk mantap. "A-Aye!"

Keduanya mulai berjalan memasuki gereja—lebih tepatnya berjalan menuju pemakaman yang berada di samping gereja. Dari jarak yang tidak terlalu jauh sudah dapat terlihat sekumpulan orang berbalut setelan serba hitam tengah menundukkan kepala mereka. Melihat hal itu, dengan cepat Natsu mendekati gerombolan itu. Semakin dekat, ia dapat mendengar suara berat dari Master Makarov, dan itu sukses membuat Natsu merasakan hantaman kuat di hatinya.

TAP TAP TAP!

"Lucy Heartfillia … dalam kasih karunia Tuhan dan takut akan Tuhan …"

TAP TAP TAP!

"Hatinya bersinar dikelilingi para bintang abadi ..."

TAP TAP TAP!

"Sosok lembut, penuh percaya diri, dan baik hati selalu terkenang dalam diri kita semua … gemerlap kasih yang ditebarkan pengendali bintang tetap bersinar dalam gelap." Makarov terdiam sejenak merasakan aliran air mata hangat yang menyeruak dari matanya. "Dia … dia sudah seperti anakku sendiri, dan aku—"

TAP TAP TAP!

"FUZAKENNA! HENTIKAN UPACARA INI SEKARANG!"

Teriakan itu menggelegar disertai kilatan petir dari langit. Natsu kini berdiri tegak sembari membentangkan kedua tangannya di depan makam Lucy. Dengan air muka lelah, Natsu berusaha menunjukkan ekspresi kesungguhannya dan ia mulai menajamkan tatapannya pada Makarov dan anggota guild.

"Lucy … LUCY BELUM MENINGGAL!" kobaran api kemarahan itu muncul dari dalam dirinya. Natsu menggeretakkan giginya kesal. "HENTIKAN SEMUA INI! AKU YAKIN LUCY MASIH HIDUP!"

"Nat—su …" Happy yang baru saja sampai hanya bisa menatap pemuda pinkish itu tanpa bisa melakukan apapun lagi.

Semakin lama, Happy semakin merasakan 'keyakinan' yang ada dalam diri Natsu. Tanpa sadar ia juga ingin membuat semua orang mempercayai Natsu. Namun Happy tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan ketika Natsu tengah berusaha mempertahankan Lucy seperti ini, Happy hanya bisa menontonnya saja.

Tangan mungil exceed biru itu pun terkepal. Ia meyakinkan hatinya sendiri bahwa ia juga akan berusaha mempertahankan keyakinannya tentang Lucy. Tanpa berpikir panjang, Happy segera berlari mendekati Natsu. Dengan segenap hati, ia pun berdiri di samping sahabatnya sembari menunjukkan ekspresi kesungguhan.

"MINNA! Aku mohon, percaya pada kami!" teriakan Happy sukses mengundang lebih banyak perhatian mereka. "Aku … aku mempercayai Natsu! Dan aku ingin kalian juga mempercayainya!"

"Natsu … Happy …" Erza sedikit melangkah maju, menampakkan dirinya dari kerumunan orang. "Kalian harus menerima kenyataan ini."

Natsu menggeram marah. "APANYA YANG KENYATAAN? KENYATAAN INI SALAH! INI TIDAK BENAR! AKU AKAN MENUNJUKKAN KENYATAAN SEBENARNYA PADA KALIAN!"

Pemuda berambut biru gelap yang sedari tadi menatap Natsu perlahan mulai mendekati Natsu dengan wajah tertunduk. "Happy menyingkir dari sana."

Happy menoleh. "Gray …"

"Natsu … kau pikir apa yang kau lakukan ini, baka yarou." Gray semakin mendekat, tak memperdulikan Happy yang tengah menatapnya. "Bukankah sudah kubilang padamu, jangan … jangan pernah … JANGAN PERNAH BERSIKAP SEPERTI INI LAGI!"

TAP TAP TAP!

BUAGHT!

Gray berlari cepat lalu melayangkan sebuah pukulan tepat di pipi kanan Natsu. Detik kemudian, sebelah tangannya lekas mencengkram erat syal pemuda pinkish itu, Gray tak peduli walau tangannya terbakar karena api yang Natsu keluarkan semakin berkobar. Kini kedua mata itu bertemu pandang, keduanya saling melempar tatapan tajam satu sama lain. Sementara itu, Natsu yang telah mendapat pukulan dari Gray hanya bisa terdiam seraya menatap sahabatnya itu. Natsu juga tak memperdulikan rasa sakit yang timbul akibat pukulan tersebut, yang ia pedulikan hanya rasa yakin yang ada di dalam hatinya tentang Lucy.

"Ck! Pukul aku sebanyak apapun yang aku mau, kuso Gray," ucapnya tajam.

"Apa kau pikir semua orang akan senang melihat tingkahmu yang seperti ini, hah!" Gray membentak pemuda pinkish itu dengan nada tinggi, hal itu mampu membuat semua orang yang kini berada di belakangnya tertegun melihat keduanya yang tengah beradu mulut.

Happy yang kini masih berdiri di samping Natsu, tubuhnya nampak bergetar. Kedua matanya menatap ke arah Natsu dan Gray secara bergantian. Sementara itu, Natsu tertunduk. Ia tahu, pernyataan Gray barusan memang benar, namun pernyataan seperti itu tak cukup kuat untuk melunturkan keyakinannya.

"Hey, Gray …" Natsu kembali mendongak, tatapannya berubah sendu. Api yang tadinya berkobar kuat kini menghilang, lenyap oleh air hujan. "Katakan … apa kau percaya jika gadis seperti Lucy akan mati hanya karena hal seperti itu?"

DEG!

"Eh?"

Aura emosi yang menguar pekat itu kini perlahan pudar. Tatapan tajam yang semula Gray lemparkan ke arah Natsu kini beruah menjadi tatapan heran.

"Apa maksudmu?" tanyanya sembari mendorong Natsu dengan pelan.

Hening. Semuanya memperhatikan. Tak ada yang bersuara, bahkan Master tak terlihat ingin angkat suara menyangkut hal ini.

"Lucy selalu berusaha menguatkan dirinya. Lucy selalu menghapus sendiri air matanya. Aku tahu, dia mungkin tidak sehebat Erza ataupun Gildarts, tapi …" Natsu menempatkan kepalan tangan kanannya di dada. "Di sini, dalam hatiku, aku tahu dia adalah gadis yang kuat!" sorot mata itu kembali berkilat. "Dia tidak akan mati semudah itu!"

Gray tercengang. Matanya membulat sempurna dengan mulut setengah menganga. Kata-kata itu seakan menusuknya. Gray ingin mengatakan sesuatu, namun tenggorokkannya serasa tercekat sesuatu. Ia hanya bisa terdiam dengan tubuh sedikit bergetar.

Di sisi lain, rupanya bukan hanya Gray yang terkejut dengan perkataan Natsu, bahkan Erza dan yang lainnya pun merasakan percikan cahaya hangat yang menggetarkan hati mereka. Master yang kini masih terlihat bungkam pun merasakan desiran angin hangat di dadanya, meskipun saat itu hujan masih mengguyur kota Magnolia.

"Jika kau—maksudku, kalian … jika kalian pikir Lucy akan menyerah dengan kematian seperti itu, kalian sa—"

"Cukup, Natsu." Setelah beberapa lama, akhirnya Master angkat suara. "Jangan bicarakan hal itu lagi, sebaiknya kita kembali ke guild."

Natsu tersentak. "Apa maksudmu, Ji-chan!" teriaknya kemudian.

"Aku bilang kembali ke guild, SEKARANG."

Sebuah cahaya putih keemasan seketika keluar dari tubuh Master. Atmosfer di sekitarnya nampak sedikit bergetar. Tentu saja hal itu sukses membuat Natsu berdecak kesal dan tidak mampu berbicara apapun lagi.

"Ya, Master benar. Aku akan kembali." Gray yang berada di hadapan Natsu lekas berbalik sembari menundukkan wajahnya.

"Natsu, maafkan aku." Erza pun melemparkan tatapan sayu sebelum akhirnya berbalik dan mulai berjalan menjauhi Natsu.

Satu orang, dua orang, kemudian tiga orang, kian detik orang-orang mulai pergi meninggalkan Natsu. Dan, sebelum mereka pergi, pasti ada saja tatapan sendu yang mengarah padanya. Natsu hanya bisa memalingkan wajah sembari mengepalkan tangan, tak ingin melihat raut wajah mereka yang nampak sangat menyedihkan di matanya.

.

.

.

Edolas …

Fairy Tail. Di mana pun itu, mereka selalu menguarkan rasa kebersamaan meskipun dengan cara yang cukup aneh. Di dalam sebuah bangunan—bagaimana aku menyebutkannya, ya? Seperti sebuah bangunan, namun juga nampak seperti pohon besar dengan akar-akar yang melilit hingga puncak. Yah, di dalam guild itu terdengar hiruk pikuk orang-orang yang beradu mulut seperti biasanya. Wajah-wajah senang, sedih, kesal, terlihat jelas di sana.

Mirajane, gadis cantik berambut putih berbalut long dress merah marun itu kini tengah mengantarkan minuman pada teman-temannya. Seraya tersenyum Mira mulai meletakkan satu persatu minuman di meja.

"Ini dia minumannya, maaf membuat kalian menunggu, Jet, Macao," ucapnya dengan manis.

"Ah, tak apa, Mira. Aku tidak keberatan," jawab Jet disusul anggukan mantap dari Macao.

"Ya sudah, aku akan mengantarkan ini ke meja lain dulu, ya."

Kaki jenjangnya mulai melangkah lagi. Ia berjalan menuju meja di mana Gray dan Elfman tengah terduduk sembari berbincang. Namun, belum sempat Mira sampai di sana, ada sebuah bayangan terlintas cepat dalam benaknya dan itu sudah cukup membuat langkah kaki itu terhenti seketika.

Mira nampak menundukkan kepala. Ia merasakan sesuatu. "Ini …"

"Mira-nee, ada apa?" adiknya—Lisanna—yang sedari tadi memandangi Mira dari meja bar lekas menghampiri Mira yang terlihat aneh.

"Aku tidak apa-apa, tapi … seperti ada sesuatu yang datang," ucapnya agak lemah.

Lisanna mengernyit heran. "Datang? Siapa?"

CKLEK! CIIIITTT!

Belum sempat Mira menjawab pertanyaan adiknya, pintu utama guild tiba-tiba saja terbuka, menampakkan seseorang yang kini berdiri tegak di ambang pintu. Keheningan terasa begitu pekat kala semua pandangan kini tertuju pada pintu guild. Mira yang masih tertunduk pun lekas menoleh ke sana dan sedetik kemudian matanya terbelalak dengan mulut menganga.

"I-itu … Natsu?"

Semua mata yang memandang pemuda pinkish itu merasa sangat terkejut—begitu terkejut. Banyak diantara mereka yang tanpa sadar berceloteh pelan karena saking terkejutnya. Kedatangan Natsu yang tiba-tiba ini sangat tidak bisa dibayangkan. Natsu yang sudah lama pergi meninggalkan guild akibat rasa kehilangannya terhadap Lucy, kini ia telah kembali tanpa diduga.

"O-oi, itu benar kau, Natsu?" Gray mengerjapkan matanya beberapa kali.

Pemuda itu pun tersenyum simpul ke arah sahabatnya. "Ya, ini aku … tadaima …"

Hening.

Tak ada satu pun yang bersuara setelah pemuda pinkish itu angkat suara. Seakan keterkejutan telah mendominasi otak mereka, tenggorokkan mereka pun serasa tercekat sesuatu. Namun, tak lama …

"Okaeri, Natsu!"

"Okaerinasai!"

"Natsu …"

"Itu benar Natsu! Okaeri!"

"Natsu telah kembali!"

"Dari mana saja kau, Natsu?"

Satu guratan senyum nampak terukir pada masing-masing wajah orang-orang yang kini tengah memandang Natsu. Teriakan kesenangan pun membahana tak karuan saat akhirnya pemuda pinkish itu kembali dari perjalanan jauh. Mereka senang Natsu kembali—mereka terlalu senang, hingga tidak menyadari sesuatu.

"Are … Natsu, siapa itu orang yang sedang kau gendong?" Mira mengernyit sembari menajamkan indera penglihatannya. Sosok seseorang yang kini berada di balik punggung Natsu seakan familiar.

"Ah, iya, aku sampai tak menyadarinya, kau membawa siapa, Natsu?" Tanya Lisanna kemudian.

Natsu hanya bisa tersenyum penuh. "Dia tunanganku."

DEG!

"A-apa?" Mira membulatkan matanya dengan kedua tangan yang menutup rapat mulutnya. "Jangan-jangan dia …"

"Jangan katakan itu …"

Natsu mengangguk. "Ya, ini Lucy."

"HEEEEE? LUCY?"

TBC