DON'T LIKE, DON'T READ

Title : Pilihan Menjebak

Disclamer : Masashi Kishimoto

Warnings : OOC, AU, Typo (s), Miss typo, Rumit, Rate M untuk bahasa, Chapter panjang, NO LEMON, dll

Maaf kalau jelek :)

Story by: Bii Akari

Enjoy~

.

.

.


NORMAL POV

"Pagi~" sapa Sakura ramah saat memasuki ruang makan dan duduk di depan meja panjang yang kokoh itu. Tanpa sadar, Sakura langsung megambil tempat di samping Itachi, membuat Sasuke yang duduk di depan Itachi agak sedikit terkejut. Ah, wajar saja Sakura duduk di sana. Mengingat kejadian kemarin yang telah membuatnya akrab dengan pemuda tampan itu.

"Pagi," jawab ketiga kaum lelaki keturunan Uchiha itu dengan datar. Ini Uchiha, jangan harap kau mendapatkan sambutan yang hangat.

Tak memerdulikan itu, si gadis tercantik di ruangan itu—sudah pasti—tampak masih setia dengan senyuman manisnya. Mau tahu apa yang membuat gadis berambut pink itu berbunga-bunga pagi ini?

Ah, sederhana, hanya sebuat pesan singkat yang berbunyi...

'Sakura, apa kabar?'

Isinya singkat, bukan? Hanya tiga kata. Tapi bagi Sakura, itu sudah lebih dari cukup. Apalagi alasannya kalau bukan dari sang pengirim? Hem, pemuda tampan berambut cerah itulah yang mengirimkannya pagi tadi. Rupanya, semenjak berbulan-bulan tanpa kabar, Gaara masih ingat pada Sakura—bahkan sampai mengiriminya SMS duluan. Biasanya Sakura-lah yang sibuk mengingatkan Gaara untuk makan dan istirahat yang cukup, itupun hanya dibalas 'Hn' saja. Terakhir kali Sakura mengiminya SMS adalah saat Ibu Sakura meninggal dunia, Sakura hanya sekedar mengabari Gaara saja. Dan setelah itu, Sakura sudah tidak menggubris isi pesan yang dikirim oleh si charming itu.

"Sakura, sampai kapan kau akan memandangi makananmu sambil senyam-senyum seperti itu?"

Dan teguran halus bernada dingin dari sang pangeran mesum kita berhasil menyadarkan Sakura dari lamunan syahdunya. Dengan cepat, gadis cantik itu memperbaiki posisi duduknya—serta sedikit merapikan senyum absurdnya tadi—sambil bergumam singkat, "M-maaf."

Sudahlah, toh hanya Sasuke yang memperhatikanmu, Sakura. Sang kepala keluarga beserta putra sulungnya sibuk menghabiskan makanan mereka. Ah, berbicara tentang itu, tampaknya Sasuke sangat sering memperhatikan Sakura, ya? Pasti, pikiran si Uchiha bungsu itu sudah melenceng ke mana-mana—lagi.

"Baiklah, aku sudah selesai."

Wow. Tak disangka. Justru Sasuke-lah yang duluan selesai? Padahal sejak tadi Sasuke terlihat lebih berkonsentrasi pada bib—err, maksudnya Sakura—dibanding dengan makanan di hadapannya. Sebegitu besarkah nafsuh—makan—mu hari ini, Sasuke?

"Hm, kau berangkat bersama Sakura, Sasuke. Tunggulah Sakura sel—"

UHUK UHUK

"Kau baik-baik saja? Cepat minum dulu, Sakura," sergah Itachi cepat, sambil menyerahkan segelas air putih pada Sakura.

Sakura dengan wajah yang merah padam hanya bisa mengangguk pelan usai meminum air putih itu. Jujur, Sakura bukannya tidak berani berangkat sekolah bersama Sasuke—meski sekolah mereka sama. Hanya saja, apa tidak berbahaya berada dalam satu mobil dengan pemuda setam—ralat, semesum Sasuke?

Tak ingin berlama-lama menjadi pusat perhatian, Sakura pun bergegas buka mulut. "M-maaf, Tou-san? Apa aku tidak salah dengar?"

Fugaku tersenyum kecil, merasa geli saat melihat tatapan cuek Sasuke yang hanya berselang sedetik dengan iris emerald Sakura yang mendelik sempurna. Ah Fugaku, kau membuat calon menantumu shock pagi ini.

"Ya, kalian 'kan satu sekolah. Jadi, wajar saja kalau kalian berangkat bersama," ucap Fugaku santai. Uh, lagipula apa yang mungkin terjadi dalam perjalanan singkat ke sekolah itu? Ha, kena kau Fugaku. Tampaknya kau tidak melihat putra bungsumu menyeringai kecil sesaat yang tadi. Dan tampaknya kau tidak menyadari calon menantumu menelan ludah dengan takut-takut setelah bertatapan langsung dengan putramu itu.

"Tap—"

"Kurasa kau juga sudah selesai makan. Ayo kita pergi, Sakura."

Dan tatapan penuh intimidasi dari Sasuke itu sukses membuat Sakura mengangguk pasrah bak anak baik.

.

Alunan musik barat yang merdu sedikit membuat Sakura merasa nyaman di mobil Sasuke. Ya, mereka sekarang tengah berduaan. Dan aroma maskulin khas Sasuke yang menguar bebas di dalam mobil mewah itu membuat Sakura sedikit gerah. Entah bagaimana, Sakura merasa bahwa jarak antara Sasuke dengannya kini nyaris tidak ada. Salahkanlah pewangi mobil itu yang membuat Sakura merasa Sasuke berada di mana-mana. Ke manapun Sakura berpaling, aroma maskulin itu tetap ada. Semakin lama, Sakura semakin gelisah. Takut membayangkan hal yang mungkin saja dilakukan Sasuke padanya—tunggu, mengapa sekarang Sakura yang jadi mesum?

"Sakura."

DOR

Benar 'kan? Bahkan suara Sasuke pun sudah terdengar serak-serak sekarang, menggoda iman Sakura.

Sambil mengumpulkan keberaniannya, Sakura pun menjawab. "I-iya?"

"Sebelum pergi ke sekolah, aku akan memperkenalkanmu pada teman-temanku dulu. Tak apa 'kan?"

'Sudah kuduga. Jangan-jangan dia ingin membawaku ke tempat yang sepi, lalu...kyaa~' pikir otak mesum Sakura, yang entah mengapa malah ketularan Sasuke. Apa ini efek samping akibat terlalu lama berduaan bersama pemuda berambut raven itu?

"Tak usah takut, Sakura. Aku tidak akan melakukan 'apa-apa' padamu."

Uh, ini aneh. Sasuke jelas-jelas berkata bahwa dia tidak akan melakukan 'apa-apa' pada Sakura. Tapi, mengapa kedengarannya justru seperti Sasuke akan melakukan 'apa-apa' pada Sakura? Ah, gadis beriris emerald itu menjadi semakin curiga.

"Ya, meski sebenarnya semua itu tergantung padamu. Kalau kau berminat aku akan dengan senang hati me—"

"TIDAK!" tolak Sakura dengan terang-terangan, sambil menahan semburat merah itu agar tidak muncul sedikit pun di wajahnya. Oh no, seringai Sasuke tadi membuat Sakura sedikit tergoda. Heihei, Sakura, sadarlah, ingat Gaara, ingat Itachi, ingat Fugaku~

"Tenanglah, aku juga tidak suka memaksa. Asal kau tahu, aku hanya akan 'melakukan itu' pada gadis yang mau saja. Dan aku yakin, suatu saat nanti kau pasti akan memohon padaku," tegas Sasuke, lengkap dengan seringai jahilnya. Tak tahukah kau Sasuke, ucapanmu itu telah membuat Sakura memikirkan hal yang aneh-aneh tentangmu. Ya, setelah dinobatkan sebagai pemuda mesum, di-blacklist dari daftar pilihan, sekarang kau bahkan dicap tidak perjaka oleh gadis bersurai indah itu. Malang sekali nasibmu, Sasuke.

Takut nasibnya akan sial—terjebak di tempat tak dikenal bersama pemuda tampan yang mesum, cool, sexy, hot, dan err apa ini masih bisa dibilang sial?—Sakura pun memutuskan untuk menolak ajakan Sasuke secara halus. Ya, jika ditolak dengan kasar, kemungkinan besar kaum lelaki akan menjadi semakin agresif—jangan tanya Sakura tahu dari mana.

"Sasuke-kun, membolos itu tidak baik. Lagipula, kita bisa bertemu dengan teman-temanmu di sekolah nanti, setelah semua murid serta guru-guru tiba. Ehm, maksudku, sebelum masuk kelas nanti, kita bisa bertemu dengan teman-temanmu itu," tutur Sakura, lengkap dengan senyum manisnya. Sasuke sedikit terpesona saat menangkap bayangan gadis itu dari kaca spionnya. Uchiha Sasuke mungkin sebentar lagi akan jatuh hati pada sang gadis.

"Kita tidak membolos, Sakura-ku. Kita hanya pergi ke suatu tempat dulu sebelum ke sekolah. Kujamin kita tidak akan terlambat. Oke?"

Mendengar kata 'Sakura-ku' keluar dari bibir Sasuke, mau tidak mau Sakura hanya bisa menahan diri karena tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh di sekitar perutnya. Perasaan tak terduga yang mendadak muncul di dalam dirinya tadi.

"B-baiklah, janji tidak akan lama."

Dan, entah apa yang terjadi pada otak Sakura hingga berani berkata seperti itu.

.

Matahari masih jauh dari puncaknya, artinya hari masih pagi. Mobil yang dikendarai Sasuke berbelok masuk ke dalam gang kecil. Cukup kecil hingga hanya ada satu mobil yang dapat lewat. Sakura yang sejak tadi berusaha menghafal jalanan yang mereka lewati tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang buruk. Ah, teman-teman Sasuke ada di tempat seperti ini? Sakura tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk 'teman-teman' yang Sasuke maksud tadi.

Sejenak, Sakura melirik Sasuke dengan ragu, sekedar mencuci mata dari pemandangan gang yang sempit dan remang itu. Dan yang didapatinya adalah, wajah datar Sasuke yang serius—Sakura blushing—hingga sesaat kemudian Sasuke memamerkan smirk andalannya lagi. Ha, kali ini Sakura menjadi semakin blushing dan takut. Bagaimana jika Sasuke berbohong? Bagaimana jika Sasuke benar-benar melakukan 'apa-apa' padanya?

Uhuh, Sakura menggeleng-geleng dengan cepat, berusaha keras menepis dugaan buruk itu jauh-jauh. Tidak, Sasuke memanglah mesum, tapi dia bukanlah seorang pembohong.

"Kita sampai."

Dan dua kata itu memancing Sakura untuk buru-buru mengangkat kepalanya kembali, memandangi lokasi di mana mobil Sasuke masih melaju. Karena sejak tadi Sakura tidak lagi memperhatikan jalanan—akibat pikiran-pikiran negatifnya—jadi Sakura tidak tahu pasti bagaimana caranya gang yang sempit itu terhubung ke lapangan yang luas seperti sekarang. Terlebih lagi, keberadaan bangunan megah yang berdiri beberapa meter di depannya sekarang. Gedung yang megah itu tertutupi oleh gedung-gedung pencakar langit yang berada di sekelilingnya. Ya, lokasi yang strategis untuk membuat markas rahasia. Tunggu, markas rahasia?

Sakura kembali memandang Sasuke dengan bingung, dan hanya dijawab dengan ajakan ringan dari Sasuke. "Ayo masuk, Sakura."

DEG

Inikah, markas rahasia Sasuke? Di sinikah, teman-teman Sasuke berada?

Ribuan pertanyaan mulai berputar-putar di dalam kepala Sakura. Jika boleh, Sakura ingin bertanya sepuas-puasnya dulu pada Sasuke, sebelum keluar dari mobil hitam itu. Tapi sungguh, kerlingan mata Sasuke tadi seakan meng-genjutsu Sakura untuk mengekor di belakang Sasuke dengan mulut yang tertutup rapat. Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di hadapan pintu gedung yang besar itu.

Sakura dapat melihat dengan jelas bermacam-macam ritual yang perlu dilakukan Sasuke agar bisa masuk ke dalam gedung itu. Sasuke tadi sempat meletakkan jempolnya di sisi kanan pintu. Artinya, ini bukanlah tempat sembarangan. Untuk masuk saja, harus melakukan pemeriksaan mata dan sidik jari—serta password. Jika tidak begitu, orang asing seperti Sakura pasti tidak akan bisa masuk. Ya, untuk masuk saja susah Sakura, apalagi keluar.

GLEK

Sakura menelan ludahnya dengan susah payah. Masuk artinya terperangkap di tempat yang 'entah seperti apa' bersama dengan orang-orang 'asing' yang disebut 'teman-teman' Sasuke. Dan juga, Sasuke bebas melakukan apapun pada Sakura di dalam sana. Ah, Sakura menjadi semakin uring-uringan saja sekarang.

"Ayo cepat, Sakura."

Dan dengan satu tarikan, Sasuke berhasil memaksa Sakura masuk ke dalam markasnya. Sebenarnya, apa yang disembunyikan Sasuke di dalam sana? Bersabarlah sedikit lagi, karena kita akan segera mengetahuinya.

.

CKLIK

Pintu terbuka. Dan pemandangan pertama yang disaksikan Sakura adalah... seorang gadis cantik berambut indigo. Gadis itu berdiri kaku di dekat pintu, dan hanya memandangi Sakura dengan tatapan terkejut. Sayangnya, sedetik kemudian gadis itu roboh. Ya, dia tiba-tiba saja pingsan.

"Hinata! Hei, Hinata, sadarlah!"

Sasuke yang juga ikut menyaksikan detik-detik terakhir sebelum si gadis cantik bersurai indah itu pingsan bergegas menghampiri Hinata. Sakura yang masih terkejut karena aksi spontan Hinata yang mendadak pingsan hanya bisa memandang mereka dengan pandangan kosong. Sasuke sekarang sedang berusaha mengangkat tubuh Hinata a la bridal style. Uh, melihat itu Sakura kembali terlempar ke dunia nyata.

'Apa Sasuke ada hubungan khusus dengan gadis itu?' pikir Sakura bingung, masih sambil memerhatikan Sasuke dan Hinata dari tempatnya berpijak. Hei, ini bukan saatnya cemburu, Sakura.

Belum sempat melengkah se-sentipun, seorang pemuda bersurai panjang tiba-tiba muncul dari arah lain. Dengan panik, pemuda itu menghampiri Sasuke dan merebut Hinata dari Sasuke. Setelah itu, sang pemuda beriris lavender lalu berteriak-teriak histeris sambil menyebut-nyebut nama Hinata dan menggendongnya berlari entah kemana, meninggalkan Sasuke yang hanya bisa menggeleng-geleng pelan di tempat. Ah, ada apa sebenarnya?

"Ayo, tak perlu khawatir, Sakura. Hinata memang sering pingsan, sebentar lagi dia pasti akan sadar," tegur Sasuke, kembali menyadarkan Sakura dari lamunannya. Sakura baru saja melangkah memasuki gedung yang mewah dan megah itu, namun pertistiwa aneh sudah terjadi di depan matanya? Bagaimana mungkin Sakura tidak merasa, ragu?

Sasuke kembali mengamit tangan Sakura. Kali ini, Sasuke menggenggamnya dengan erat. Entah apa maksud dari perlakuan Sasuke ini. Yang pasti, saat hendak untuk protes, seorang gadis tiba-tiba saja datang dan mendahului Sakura. "Hai Sasu—eh, kau membawa seorang gadis, Sasuke?!" pekik si pirang, sambil memandangi Sakura dengan intens.

'Apa lagi kali ini?' batin Sakura sweatdropped.

"Heihei, cepat ke sini, Minna~ Sasuke membawa seorang gadis loh!" seru si gadis pirang riang, bagaikan ibu-ibu penjual tomat yang sedang mempromosikan dagangannya.

Dari arah yang berbeda-beda, keluarlah beberapa orang remaja. Mereka kira-kira seumuran dengan Sakura. Terlebih lagi, mereka mengenakan seragam sekolah yang sama. Sudah sangat jelas sekarang, mereka adalah teman-teman yang Sasuke maksudkan tadi.

"Hei, Sasuke benar-benar membawa seorang gadis?!"

"Ah, kau pasti pacar Sasuke 'kan?"

"D-dia..cantik.."

"Hai, pacar Sasuke. Ah, mau kripik kentang?"

"Hoaam~ aku pikir ada apa, ternyata hanya seorang gadis, mendokusai."

"Hai~ selamat datang, Nona."

"Hn, ternyata dia gadis sungguhan."

TOENG

Kalimat terakhir yang terdengar dari pemuda berkaca mata hitam itu sukses membuat seisi ruangan cengo—termasuk Sakura.

"Shino, apa maksudmu? Apa kau meragukan Sasuke, hm?" selidik si gadis pirang bak Barbie itu. Sang pelaku yang mengenakan jaket parasut tebal di ujung ruangan hanya mengangkat bahu dan tersenyum tipis, "Aku hanya bercanda."

DOR

Hahahaha—sungguh tawa yang dipaksakan. Sudahlah, selera humor Shino memang agak buruk. Jadi jangan menyalahkannya.

Ehm, kini Sakura duduk di sofa empuk bersama sembilan orang lainnya. Ruangan besar ini cukup untuk menampung mereka semua—sangat cukup. Dan tatapan menyelidik dari delapan pasang mata di sana membuat Sakura menjadi semakin gugup. Syukurlah Sakura tidak tahu apa yang dipikirkan oleh sembilan manusia pilihan itu.

'Ini pertama kalinya Sasuke membawa seorang gadis ke markas. Dia pasti spesial..'

'Jadi, Sasuke ingin memamerkan pacarnya, heh? Baiklah, lain kali aku juga akan membawa Akamar—maksudku seorang gadis. Ehm, lihat saja nanti..'

'Ah~ gadis itu benar-benar cantik. Dia bagaikan malaikat~"

'Tampaknya ini akan lama, kurasa aku butuh tambahan kripik kentang lagi..'

'Apa pula ini? Kenapa aku juga harus ikut? Merepotkan saja..'

'Selera Sasuke tidak buruk..'

'Hn, aku akan tetap tenang hingga ada yang buka mulut..'

'Hihi..Sasuke tampaknya punya hubungan spesial dengannya. Ini bagus, setidaknya dengan adanya dia, mungkin Sasuke akan berhenti bermain-main..'

'Ini baru permulaan, tapi Sakura sudah terlihat gelisah seperti itu. Dasar, mungkin aku harus lebih memperjelasnya lagi..'

Makin lama, para remaja labil di sekitar Sakura mulai memikirkan hal yang aneh-aneh, mulai dari persoalan pribadi mereka, sampai hubungan yang mungkin saja dijalin oleh Sasuke dan Sakura. Ya, jika dibiarkan terlalu lama, ini tidak akan baik.

"Oke, sebelumnya akan kuperkenalkan terlebih dahulu. Namanya Haruno Sakura, dia anak baru di sekolah kita," jelas Sasuke pendek. Terlalu pendek hingga membuat nakama-nakama-nya tidak puas dan hendak mengajukan rentetan petanyaan lainnya.

"Tunggu, jadi Sakura ini pacarmu 'kan, Sasuke?" tanya gadis bercepol dua dengan semangat. Ah, Sakura tentu saja ingin menyangkal, hanya saja, bisikan Sasuke di telinga kanannya seketika membuatnya bungkam.

"Tentu saja, Tenten. Kau lupa kata-kata Sasuke dulu, ya?" jawab Ino, mendahului Sasuke yang hendak mengulur-ulur waktu menjawab—berniat membuat suasana menjadi semakin mendebarkan.

Tenten tampak belum puas. Bagaimana tidak? Yang menjawab pertanyaannya adalah Ino—si gadis pirang. Sedangkan yang ditanya oleh Tenten adalah Sasuke. Jadi, biar bagaimanapun, Tenten tetap akan menunggu Sasuke menjawab pertanyaannya.

Tak suka dipandangi dengan tajam oleh beberapa nakama-nya, Sasuke pun terpaksa angkat bicara. "Hn, bisa jadi."

Uh, Sasuke, ini bukan acara kuis di TV.

Dan dengan itu, suasana riuh khas markas rahasia Sasuke kembali membahana. Ah, rupanya ada yang ketinggalan di sini. Dan tampaknya Sakura tidak menyadari itu semua. Kini Sakura sudah benar-benar terjebak di sana. Menyangkal pun dia tidak berani, apalagi kabur? Mau lewat mana Sakura melarikan diri, heh? Di tengah-tengah kepasrahannya, tiba-tiba terdengar suara aneh. Semua perhatian pun tercuri ke arah datangnya suara itu.

TIT TIT TIT TIT

"Ayo berangkat, sebentar lagi masuk."

Sakura hanya celingak-ceinguk saat Sasuke dan teman-temannya mulai bangkit dari duduk mereka. Bingung ingin melakukan apa, Sakura pun hanya ikut-ikutan berdiri sembari memperbaiki rok pendeknya.

"Ahya, aku lupa memperkenalkan diri, namaku Yamanaka Ino. Salam kenal, Sakura," ujar sang gadis pirang, sambil tersenyum manis.

Si gadis bercepol dua juga ikut nimbrung, "Aku Tenten," ucapnya ramah.

"Hai, Sakura-chan~ Namaku Rock Lee, kau bisa memanggilku Lee~" ucap Lee semangat, sembari memamerkan giginya yang menyilaukan.

Di samping Lee, Kiba tersenyum lebar, "Aku Kiba, dan dia Akamaru," jelasnya singkat, sambil menunjuk seekor anjing berbulu putih yang berlari riang ke arahnya.

Dari arah pojok, Shino tersenyum tipis. "Aku Aburame Shino."

Tak mau kalah, si pemuda dengan badan yang terlihat lebih sehat dibanding yang lain ikut memperkenalkan diri, "Aku Akamichi Chouji, dan dia Shikamaru Nara," jelas Chouji ramah, lengkap dengan senyum lebarnya. Setelah itu, Chouji sibuk membangunkan pemuda yang ditunjuknya tadi—Shikamaru—yang terlihat tertidur pulas di kursi.

Kali ini, pemuda yang sejak tadi terus-menerus menebar senyuman, "Aku Shimura Sai, pacar Ino," ujar pemuda berkulit pucat itu, masih dengan senyum—palsu—nya.

Ah, ternyata mereka orang yang ramah. Sakura pun hanya menanggapi mereka semua dengan seulas senyuman manis yang sangat dipaksakan—beruntung tak ada yang menyadarinya. Seperti kata pepatah, diam itu emas. Dan saat ini, Sakura benar-benar menganut prinsip itu.

Sebenarnya, ada banyak pertanyaan yang ingin Sakura ajukan pada teman-teman barunya itu, hanya saja sepertinya ini bukan saat yang tepat. Sebab, sang pemuda tampan di sebelah Sakura sudah terlebih dulu menarik tangannya untuk pergi—entah ke mana.

Sakura yang tidak punya pilihan lain akhirnya ikut saja—sambil berusaha melepaskan genggaman Sasuke. Ini baru hari kedua mereka bertemu, dan Sasuke sudah berani menggenggam tangannya? Ah, apa yang akan terjadi pada Sakura di hari-hari selanjutnya?

Mereka pun perjalan berbondong-bondong bagaikan rombongan haji menuju sebuah koridor di bagian utara gedung itu. Siapa sangka, ternyata di gedung megah itu ada sebuah jalan rahasia. Lebih tepatnya lorong rahasia, yang dengan segala ke-rahasiaannya berhasil menghubungkan mereka dengan sebuah pintu rahasia. Tertera jelas di depan pintu itu.

'Secret Door'

Sungguh, lelucon macam apa—

"Ini adalah ruangan Ketua Osis," terang Sasuke, tentu saja pada Sakura—yang terbengong-bengong dengan wajah heran.

—ini.

Ini bukan lelucon. Pintu tadi memanglah pintu rahasia.

"T-tapi, bagaimana?"

"Sst, ini jalan rahasia Sakura. Aku sudah bilang, kita tidak akan terlambat."

Dan seringai jahil Sasuke kembali membuat Sakura blushing—sambil memegangi bibirnya yang disentuh Sasuke seaat tadi. Hei, tadi tangan, sekarang bibir? Selanjutnya apa, Tuan Sasuke?

.

"Aku berada di kelas A, jika beruntung mungkin kita akan satu kelas. Ahya, ingat baik-baik ucapanku tadi, Sakura. Aku tidak main-main."

GLEK

Lagi, Sasuke berhasil membuat Sakura merinding karena mengingat bisikannya tadi. Uh, jangan terlalu tegang Sakura. Ini baru hari pertamamu.

.

"Pagi~ namaku Haruno Sakura, salam kenal, Minna~"

"Hai~"

Hm, Sakura cantik, ramah, riang, mudah bergaul, dan pintar. Tipikal gadis idaman. Jadi wajar rasanya jika pada hari pertamanya saja Sakura sudah terkenal. Beberapa pemuda telah mengajaknya berkenalan—bahkan ada yang mengajaknya berkencan. Namun, semenjak istirahat makan siang tadi, semuanya mendadak berubah. Para anak laki-laki mulai takut mendekati Sakura dan mulai ragu untuk menyapa gadis itu. Apa lagi alasannya kalau bukan dia—si pemuda berambut raven.

Kejadian saat istirahat makan siang tadi masih terputar jelas di otak Sakura. Jika bisa, Sakura ingin mengulang waktu dan bersembunyi sejauh-jauhnya dari makhluk tampan itu. Karena hal yang terjadi tadi benar-benar memalukan. Bahkan sampai sekarang, wajah Sakura masih tetap merona karenanya.

.

.


FLASHBACK

NORMAL POV

Usai memperkenalkan diri pada teman-teman sekelasnya, Sakura pun dapat bernapas lega. Sepertinya dia tidak berada di kelas yang sama dengan teman-teman Sasuke—apalagi Sasuke—tadi. Ya, meski pemuda pirang di belakangnya cukup mengganggu saat proses pembelajaran berlangsung. Pemuda pirang itu bernama Namikaze Naruto, dan dia memperkenalkan diri dengan sangat percaya diri. Sebenarnya Sakura bersyukur tadi Naruto pindah ke kursi di sampingnya. Karena dengan begitu, pemuda-pemuda yang lain tak berniat dekat-dekat Sakura. Lagipula, Naruto itu baik, lucu, dan err—lumayan tampan.

Uh, Sakura menggeleng pelan seraya memainkan pulpennya kembali. Dengan resah, Sakura kembali melirik pemuda di sampingnya—yang sembunyi-sembunyi sedang makan ramen, di balik buku tulisnya yang dibiarkan berdiri di atas meja. Setidaknya Naruto tidak semesum Sasuke. Err, berbicara tentang itu, Sakura sebenarnya berpikir Naruto ini cocok menjadi salah satu anggota geng Sasuke itu. Naruto unik, sepertihalnya teman-teman Sasuke yang lain.

"Naruto, apa kau mengenal Uchiha Sasuke?" tanya Sakura pelan, memaksa Naruto memasang cengiran lebarnya.

"Haha, tentu saja, Sakura!"

Ups, ini di kelas Naruto. Seharusnya kau sadar, kau tidak pantas berteriak dengan kencang seperti tadi.

"Namikaze-san, aku masih mengajar di sini. Kau lupa?"

Teguran dingin dari sang guru bernama Asuma tadi membuat Sakura bergidik ngeri. Dengan cepat—dan diam-diam—Sakura meletakkan buku catatannya di atas meja Naruto, berjaga-jaga jika saja sang guru hendak meminta Naruto untuk mengerjakan soal di papan itu.

"Maaf, Asuma-sensei."

Asuma menyesap rokoknya dengan penuh nikmat, lalu memandang Naruto dengan tatapan jahil, "Maaf saja tak cukup, Namikaze-san. Tolong kerjakan soal di papan itu."

'Sudah kuduga..' batin Sakura puas. Ya, puas karena tadi Naruto segera menyerempet buku catatannya dan mengerjakan soal yang ditulis Asuma tanpa kesulitan sama sekali. Sakura itu gadis yang smart. Soal seperti itu bukan apa-apa baginya. Dan berkat bantuan Sakura, Naruto kini bersikeras memaksa untuk mentraktir gadis berambut pink itu di kantin saat istirahat. Ha, di sinilah masalahnya bermula.

.

Keren. Satu kata yang mendeskripsikan kantin a la Konoha High School. Sebenarnya, tempat ini lebih tepat jika disebut restorant. Siswa-siswa hanya perlu duduk manis di salah satu meja, dan pelayan akan datang dengan sopan menuju meja mereka. Tinggal memesan makanan, menunggu sejenak, dan semuanya beres.

Kini, Sakura tengah duduk di salah satu meja bersama sang pemuda beriris shappire. Beberapa gadis menatap Sakura dengan pandangan menusuk. Rupanya, Naruto cukup terkenal di kalangan gadis-gadis di sini. Terutama gadis berambut pirang pucat itu. Sejak tadi, si gadis bertubuh indah itu terus-menerus menghujam petir dari tatapannya. Jika lengah sedikit saja, mungkin dia akan menarik rambut Sakura dan menyeret gadis itu pergi dari sana. Ah, sudahlah, lagipula Sakura tidak ada hubungan apa-apa dengan Naruto. Tanpa kehadiran Naruto saja, masalah percintaan Sakura sudah rumit. Jadi sudah pasti, Sakura tidak akan menambah persoalan lagi.

Konsentrasi Sakura yang sejak tadi dicuri oleh gadis di meja depan tiba-tiba teralihkan begitu mendengar jeritan-jeritan histeris dari arah pintu masuk kantin. Uh, jeritan seperti ini sering Sakura dengar dulu di sekolah lamanya. Ya, Gaara dulunya juga adalah pangeran sekolah. Dan juga, Sakura pernah ada di antara gadis-gadis yang menjerit heboh itu. Sakura memang tidak terlalu fanatik dengan Gaara—karena hanya akan menjerit saat sang pangeran cool itu lewat. Untungnya, nasib Sakura jauh lebih mujur dibanding gadis-gadis yang lainnya. Buktinya saja, Gaara bisa jatuh hati padanya. Ah, itu dulu, Sakura. Berhentilah mengenang masa lalu.

"Kyaa~ Sasuke-kun!" jerit seorang gadis dengan suara menggelegar. Dan karena mendengar itulah Sakura menjadi sempoyongan.

'Ternyata Sasuke punya banyak penggemar. Wajar saja sih, dia tampan..' pikir Sakura enteng.

"Ahya, kau tadi bertanya tentang Teme 'kan, Sakura?" tanya Naruto, di sela-sela kegiatannya—makan ramen.

"Teme?" tanya Sakura balik.

Naruto pun menyesap habis ramen ke-empatnya lalu tersenyum puas ke arah Sakura. "Ya, Sasuke Uchiha."

Sakura hanya mengangguk-angguk paham, rupanya Naruto memanggil Sasuke dengan sebutan Teme. Jadi, apa hubungan mereka yang sebenarnya?

Tanpa perlu repot-repot bertanya kembali, Naruto sudah terlebih dahulu menjelaskannya pada Sakura. "Teme itu adalah sahabat sekaligus rival-ku sejak dulu. Kalau boleh tahu kau apanya Teme, Sakura?"

Sakura hanya tersenyum kikuk mendengar pertanyaan polos Naruto. Ah, dibilang teman? Bukan. Sahabat? Tentu saja bukan. Keluarga? Ah, belum. Pacar? Uh, jangan ber—

"Dia ini milikku, Dobe."

—canda.

PIIUU

Sakura meleleh dengan gemulai. Err, sejak kapan Sasuke berada di sana, hah?

"Hahaha~ aku tidak tahu Sakura adalah pacarmu, Teme."

"Tungg—"

CHUUU~

Ini dia, kejadian tak terduga yang memalukan bagi Sakura. Bagaimana bisa Sasuke menciumnya dengan santai di depan umum? Ya, itu memang hanya ciuman pipi. Tapi tetap saja, itu adalah ciuman yang membuat seisi kantin tercenang hebat—termasuk Sakura. Heh, sang pelaku? Sasuke hanya menyeringai nakal sambil berbisik sesuatu di teling Sakura. Yang anehnya, malah membuat Sakura menjadi semakin blushing.

END OF FLASHBACK

.

.


Jadi, demi melindungi harga dirinya—agar tidak dilecehkan lagi oleh Sasuke. Sakura memilih kabur dari Sasuke. Ya, tekadnya sudah bulat untuk pulang sendirian. Dan karena itulah, sekarang Sakura tengah mengendap-endap di koridor sekolah. Demi suksesnya misi ini, Sakura rela membolos untuk pelajaran terakhir. Yang penting dia bisa bebas dari Sasuke.

"Hei, kau lihat tadi? Sasuke-kun mencium seorang gadis di kantin."

"Benarkah? Ah, siapa gadis itu?"

Sakura cepat-cepat mencari tempat perlindungan, sebelum kedua gadis yang asyik mengobrol itu berbelok dan mendapatinya mengendap-endap di koridor.

HUP

Sakura segera menyusup masuk ke dalam ruang keseniat di sisi kirinya. Karena kelihatannya ruangan itu kosong, jadi Sakura berani masuk ke dalamnya. Namun siapa sangka, justru di dalam sanalah Sakura tanpa sengaja melihat sesuatu yang tak terduga. Iris emerald-nyayang jernih terbelalak sempurna, disertai dengan gerakan jemari-jemari lentik-nya yang buru-buru menutup mulutnya dengan tak percaya. Kini, di hadapannya tampaklah sepasang kekasih yang sedang berc—sebut saja bermesraan. Sang lelaki terlihat tak asing. Tunggu, itu Sai! Dan, gadis yang duduk di pangkuannya itu adalah... Ino! WTH? Mengapa mereka bisa melakukan hal seperti itu di sini?

"E-ee?"

Sakura ingin menjerit, melampiaskan keterkejutannya. Tapi yang keluar hanyalah sebuah gumaman tak berarti. Namun berkat itu, Sai yang sedang sibuk berkutat dengan leher jenjang Ino—dengan tangan yang sibuk membuka kancing kemeja gadisnya—tersadar dan menghentikan sejenak aksi nakalnya itu.

"Sakura?"

Sai tersenyum. Di saat seperti ini dia masih bisa, tersenyum?

Mendengar itu, Ino kembali membuka matanya dan mengarahkan pandangannya mengikuti arah pandang Sai. Di depan pintu, terlihatlah sesosok gadis berambut pink yang tengah memandang mereka dengan wajah merona dan terkejut, dengan satu tangan yang menutupi mulutnya dan satu tangan lainnya yang menggenggam erat tas sekolahnya. Hei, gadis itu mau ke mana? Bel pulang masih lama berdering.

"Sakura, maaf membuatmu terkejut," ucap Ino berbasa-basi, sembari bangkit dari pangkuan Sai. Dua kancing teratas Ino yang terbuka lebar membuat bra ungunya terlihat jelas, serta beberapa tanda kepemilikan yang ditinggalkan Sai di lehernya tadi.

Sakura tak tahu harus merespon seperti apa. Ini pertama kalinya dia melihat hal menakjubkan seperti itu. Dengan cepat, Sakura berlari meninggalkan ruangan itu. Yang terpaksa disusul oleh Ino dan Sai yang terlihat keheranan. "Hei, mau ke mana, Sakura?" teriak Ino.

Sakura yang sudah kalang kabut segera berbelok di koridor depan dan menyusup masuk ke dalam toilet. Ah, setidaknya dia bisa aman sejenak di sini. Berniat menengankan diri di dalam toilet, Sakura pun memandangi pantulan dirinya pada cermin di hadapannya. Rambutnya sedikit acak-acakan, wajahnya merona merah, dan napasnya terpenggal-penggal. Kejadian hari ini benar-benar membuat Sakura shock. Dan jika dihubungkan, itu semua karena Sasuke.

"Ini semua karena Si Mesum itu. Argh, aku harus menjaga jarak dengannya."

"Siapa yang kau maksud itu, Nona Pengganggu?"

"Siapa kau?" tanya Sakura sarkastik, begitu mendapati seorang gadis berdiri di belakangnya dengan seringai kejamnya. Uh, tak hanya gadis berambut pirang itu. Di samping kiri dan kanannya, dua orang gadis lainnya juga menyeringai sama kejamnya. Sepertinya, ini semua belum berakhir Sakura.

"Siapa aku? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Gadis murahan. Ini baru hari pertamamu, tapi kau sudah membuatku terusik,"omel gadis bersurai panjang itu.

Sakura yang merasa tidak terima atas perkataan gadis itu segera menyangkal. "Gadis murahan? Tidak salah? Ha, mumpung ada cermin di sini. Coba lihat baik-baik dirimu. Sepertinya, kau lebih terlihat seperti gadis mura—"

BYUUUR

Dari arah depan, gadis berambut gelap—pengikut gadis tadi—mendadak menyiram air ke arah Sakura. Dan akibatnya, kini kemeja Sakura basah sepenuhnya. Dikuasai amarah, gadis beriris emerald itupun menatap tajam gadis di hadapannya.

"Dasar, murahan!"

PLAK

Satu tamparan untuk sang gadis berambut pirang. Dua-tiga dorongan untuk gadis-gadis yang menghalangi jalan Sakura. Ya, mencari masalah dengan Haruno Sakura artinya kau harus siap menanggung siksaan fisik. Sakura itu, sebenarnya cukup galak dengan kaum wanita, waspadalah.

Sakura berjalan dengan brutal, tak memperdulikan teriakan gadis-gadis pengganggu tadi. Sakura tak peduli, yang ingin dilakukannya sekarang hanya pergi. Menjauh dari tempat ini dan mengurung diri sendirian di kamar.

Langkah kaki Sakura yang terburu-buru menggema sepanjang koridor. Dan itu, dapat ditangkap dengan jelas oleh pemuda berambut gelap itu.

GREESS

Dengan sekali tarik, Sakura terhuyung ke dalam pelukan sang Uchiha muda. Di koridor yang sepi itu, kini Sasuke mendekap lembut Sakura. Setelah dihubungi oleh Ino beberapa saat yang lalu, Sasuke segera keluar kelas dan bergegas mencari Sakura ke mana-mana. Bagaimanapun juga, Sakura adalah tanggung jawabnya—selama di sekolah. Jadi, sudah sepantasnyalah Sasuke menjaga Sakura seperti sekarang.

"Lepaskan," geram Sakura penuh penekanan, sembari mendorong Sasuke menjauh. Namun tentu saja, Sasuke tak mengizinkannya pergi. Tidak jika Sakura dalam keadaan seperti ini.

"Jangan bodoh. Kau terlihat kacau."

"Le-paskan, hiks, lepaskan, Sasuke-kun."

Dan sepanjang menit-menit yang berarti itu, Sakura terus mendesah tak karuan. Sakura memang menangis, dan ajaibnya Sasuke berhasil membuatnya tenang.

.

"Itu hukuman untukmu karena berani kabur dariku."

"Apa kau bilang? Aku tidak kabur darimu, aku hanya menghindar, Sasuke-kun."

"Itu sama saja."

"Tidak, itu berbeda."

"Sama."

"Tidak."

"Sudahlah, lebih baik kau mengganti bajumu yang basah itu kalau tidak ingin semua orang melihat bra pink-mu itu. Huh, kau membuat kemejaku jadi ikut basah juga," keluh Sasuke, sembari melepaskan kemeja luarnya hingga membuat kaos putihnya yang polos terlihat jelas.

Sakura segera berlalu dari ruang tengah markas rahasia Sasuke sebelum Sasuke benar-benar membuka semua pakaiannya dan berbicara mengenai warna bra-nya lagi.

Dengan seenaknya, Sakura langsung menyusup masuk ke ruangan pertama yang dia lewati itu. Siapa sangka, Sakura justru masuk ke dalam sebuah kamar. Kamar itu cukup besar dan kesannya tetap elegant seperti ruangan-ruangan yang lainnya, hanya saja kamar ini terlihat jauh lebih nyaman. Ditambah lagi dengan aromanya yang memabukkan.

"Tunggu, ini seperti aroma Sasuke-kun," gumam Sakura pelan. Ssemakin dihirup, Sakura semakin yakin bahwa ini adalah aroma khas si Uchiha bungsu itu.

"Ah, ini pasti kamar Sasuke-kun," tebak Sakura yakin. Dipandanginya lagi seisi kamar itu—kali ini lebih menyeluruh. Cat temboknya yang berwarna tua, ranjang berukuran king size yang diletakkan di tengah-tengah ruangan, serta foto telanjang dada Sasu—hei, apa-apaan Sasuke?

"D-dia sudah gila? Foto tanpa busananya dipajang di sini? Sudah begitu ukurannya juga tidak tanggung-tanggung, besarnya nyaris satu dinding penuh," ucap Sakura terkagum-kagum, sambil memandangi foto Sasuke yang bergaya cool tanpa mengenakan selembar kain pun itu. Ha, beruntung ini hanya foto setengah badan, jika tidak mungkin Sakura akan mempeloto—mengalihkan pandangannya dengan segera.

Sudahlah, daripada berlama-lama menghayati tubuh Sasuke yang lumayan sixth pack, Sakura lebih memilih cepat-cepat menuju kamar mandi. Tak apa 'kan? Sakura hanya akan menumpang sebentar untuk membersihkan kemejanya. Hanya itu.

"Astag—" tanpa sadar, Sakura nyaris saja berteriak ketika beranjak memasuki kamar mandi Sasuke. Bukan karena kamar mandi itu mewah bak hotel berbintang lima. Tapi karena hal pertama yang ditangkap oleh iris jernihnya. Benda asing yang belum pernah tersentuh oleh Sakura. Si 'benda terlarang' itu kini berjejer rapih di dalam lemari penyimpanan Sasuke. Tampaknya 'benda terlarang' itu bukanlah 'benda terlarang' sembarangan. Dilihat dari tampilannya, sepertinya benda itu harganya mahal, mungkin kualitasnya berbeda dengan yang lainnya. Ah, sepertinya Sasuke sering 'melakukan hal itu', sampai-sampai 'benda terlarang' itu tersusun begitu banyak di kamar mandinya.

Sakura menggeleng cepat begitu imajinasi liarnya kembali beraksi. Di khayalannya, Sasuke akan menyeringai sembari mengambil salah satu kon**m itu dan berjalan ke sisi ranjangnya yang sudah diisi oleh gadis-gadis cantik. Hei, sadarlah Sakura, mungkin Sasuke hanya ingin berjaga-jaga saja—untuk hal-hal yang tak terduga.

'Tidak, sebaiknya aku cepat-cepat membersihkan ini..' batin Sakura gugup.

Gadis itu kemudian membuka kancing kemejanya satu persatu lalu melepaskan kemejanya seutuhnya. Hingga kini, bra pink-nya yang manis terpampang jelas.

BLUSH

Sakura mengingat perkataan Sasuke sebelumnya. Ternyata memang benar, Sasuke sungguh melihat warna bra-nya. Apa pengelihatan Sasuke se-sensitif itu?

Sakura lalu mengacak lemari penyimpanan Sasuke yang lain—di samping benda terlarang tadi. Namun sayang sekali, Sakura tidak menemukan hair dryer di sana. Hm, kemungkinan Sasuke memiliki benda khas wanita itu memang sangat kecil. Tapi tetap saja, melihat dari model rambut Sasuke yang gaya, tidak menutup kemungkinan dia memilikinya, bukan?

Tak punya pilihan lain, Sakura pun terpaksa mengangin-anginkan kemejanya saja. Dengan malas, Sakura menggantung kemejanya pada gantungan baju di balik pintu itu. Dan karena tak punya kerjaan lain, Sakura pun hanya terdiam sambil mengamati pantulan dirinya di cermin. Sakura sadar, dadanya tidak sebesar dada Ino yang dilihatnya tadi—ups. Dilihat dari manapun, dada Sakura ukurannya biasa saja. Mungkin si mesum itu tidak akan puas jika melihatnya.

'Tidak! Apa yang kupikirkan, sih?! Lagipula, meski dadaku tidak teralu besar, setidaknya aku punya tubuh yang proporsional, serta kulit yang mulus. Aku tidak begitu buruk untuk ukuran seorang wanita..' batin Sakura dalam hati, mencoba meningkatkan rasa percaya dirinya.

CKLIK

Saat sedang asyik-asyiknya mengagumi keelokan tubuhnya sendiri, Sakura tiba-tiba saja dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka.

WUUUUSSSHHHH

Dan pandangan tajam dari iris gelap itu membuat Sakura mematung.

Heihei, Sakura! Ini berbahaya! Dadamu! Sasuke terus memandangi dadamu! Mayday~ Mayday~

"Kyaaa~ berhenti menatapku, Sasuke-kun!" teriak Sakura heboh, sambil melindungi dadanya dari sepak terjang mata Sasuke. Sakura segera berbalik, menyembunyikan emerald-nya dari hadapan sang onyx.

"Cepat pergi, Sasuke-kun! Jangan berdiri di sana!" teriak Sakura lagi, karena tak juga mendapatkan tanggapan dari pemuda di ambang pintu itu.

"Sakura, tali bra-mu terlepas."

TOENG

'Sial...aduh bagaimana ini? Oke, aku harus tenang, fuh, aku bisa melakukannya..' batin Sakura panik. Dengan menahan semburat merah di wajahnya, Sakura segera menutup kelopak matanya dan kembali berbalik menghadap Sasuke—masih sambil menyembunyikan dadanya.

"Karena itulah cepat pergi, Sasuke-kun!" teriaknya lagi, kali ini dengan wajah yang berkali lipat lebih merona. Naasnya, Sasuke masih tetap berdiri di sana—masih setia memandangi Sakura.

'Ini sangat memalukan...' batin Sakura frustasi, karena tak juga berhasil mengusir pemuda beriris onyx itu.

"Aku bisa membantumu memasangkannya Saku—"

DUAGH

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Uchiha Sasuke sudah terhempas keluar, dengan darah yang mengalir bebas dari hidungnya. Kurasa kejadiannya sudah sangat jelas, bukan?

.

Di dalam kamar mandi, Sakura mengatur napasnya dengan susah payah, sambil bersandar pada pintu kayu itu—agar tidak bisa dibuka dari luar. Padahal dia tidak perlu susah payah seperti itu, toh Sasuke juga tidak berniat mendobraknya—Sasuke tidak semaniak itu.

"Ini memalukan, tidak~ keperawanan dadaku~"

Sakura terus mengeluh mengenai dadanya yang sudah dilecehkan oleh pandangan mesum Sasuke tadi. Ya, Sakura merasa dilecehkan.

Dengan cepat, Sakura merampas kemejanya dari gantungan, lalu segera memakainya. Usai itu, Sakura merapikan sedikit dandanannya dan bersiap berjalan keluar kembali. Uh, hal tadi sudah sangat memalukan baginya. Karena Sasuke adalah pemuda pertama yang melihatnya dalam keadaan hampir setengah telanjang seperti itu. Meski jika dipikir-pikir ini semua sebagian besar adalah salah Sakura juga. Ah, mana Sasuke tahu bahwa di dalam kamar mandinya ada seorang gadis yang hanya mengenakan bra? Ini semua murni kecelakaan. Dan karena itulah Sakura memutuskan untuk memperjelas itu semua pada Sasuke, agar tidak terjadi kesalahpahaman.

CKLIK

"E-ee? Sasuke-kun!"

.

Sakura kini berpapasan langsung dengan gadis beriris lavender—yang pagi tadi pingsan—saat berjalan keluar dari kamar Sasuke. Kebetulan sekali, gadis itu sedang lewat dan sepertinya hendak masuk ke sana, bersamaan dengan keluarnya Sakura dari sana. Saat emerald dan lavender itu bertemu, Sakura tersenyum sopan, sembari sedikit menunduk dan berlalu pergi. Awalnya, sang gadis bersurai panjang seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun segera diurungkannya, begitu melihat Sakura menjauh darinya. Berselang sedetik, pemuda berambut raven itu keluar dengan wajah yang agak berantakan. Selain itu, Sasuke juga hanya mengenakan kaos polos, membuat gadis berambut gelap itu kebingungan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sasuke segera berjalan mengejar langkah Sakura—meski pandangan mereka sempat bertemu sesaat tadi. Ha, pasangan berambut unik itu memang benar-benar membingungkan.

Sakura yang merasa sangat malu pada Sasuke terus saja berlari, menghempaskan diri di sofa, lalu menenggelamkan wajahnya pada telapak tangannya. Ah, mana sanggup dia menatap wajah Sasuke yang sedikit berantakan karena ulahnya itu? Ketika di kamar mandi tadi, Sakura memukul wajah Sasuke dengan kasar hingga terlempar keluar. Dan akibatnya, hidung mancung pemuda tampan itu berdarah. Karena itulah Sakura panik dan segera membantu Sasuke menghentikan pendarahannya. Anehnya, saat pendarahan Sasuke berhenti, Sakura justru keluar dan berlari—menghindar dari Sasuke. Padahal sungguh, Sasuke tidak melakukan apapun pada Sakura.

"Sakura, kau tak ap—"

"Menjauh dariku, Sasuke-kun!"

"Hei, kau kenapa?"

"Aku bilang menjauh."

"Katakan dulu kau kenapa?"

"Menjauh dulu, Sasuke-kun."

"Tenanglah dulu, Sakura."

"Bagaimana aku bisa tenang kalau kau terus menempel padaku seperti ini? Beri aku space, Sasuke-kun. Jangan duduk terlalu dekat denganku."

Hampir Saja Sasuke menjawab omelan Sakura dengan guyonan konyol yang pernah didengarnya, 'Need Space? Join NASA' tapi tentu saja itu dibatalkannya. Memangnya Sasuke rela jika bagian tubuhnya yang lain menjadi korban amuk Sakura, lagi? Tidak.

"Baiklah, aku duduk di sini. Sekarang jelaskan, ada apa?"

Sakura berbalik membelakangi Sasuke, masih sambil menutupi wajahnya yang merona. "I-itu masalah tadi. Itu hanya kecelakaan, kita lupakan saja. Anggap saja kau tidak melihat apapun, oke?"

Sasuke tertawa geli mendengar penuturan gadis di sampingnya itu. "Tenang saja, Sakura. Aku tidak akan bilang-bilang pada siapapun ukuran bra-m—"

BUK—Sakura PUNCH~

"Ugh, tak bisakah kau bersikap sedikit lebih manis padaku, hm?"

Sakura hanya mendengus kesal sambil bersandar pada sofa yang didudukinya. Ya, semua hal ini membuat Sakura nyaris gila. Dan sekarang, gadis manis itu tengah kelelahan. Sesaat saja, Sakura hanya ingin istirahat sebentar saja.

Tanpa sadar, Sakura menutup kedua iris indahnya, membuat Sasuke menatapnya dengan pendangan heran. Namun sesaat kemudian, Sasuke kembali menyunggingkan smirk andalannya. Beruntung, wajah lembut Sakura yang sedang tertidur berhasil membuat Sasuke tidak tega mengerjainya lagi. Sebentar saja, Sasuke akan membiarkan Sakura beristirahat di pundaknya.

.

Satu jam telah berlalu, tapi Sakura masih tertidur nyenyak di sofa—sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sasuke. Di ruangan itu, kini telah berkumpul anggota kelompok rahasia yang dijuluki NINJA. Mengapa Ninja? Mungkin karena ketelitian mereka dalam bertindak—sangat halus. Dan lalu, sebenarnya mereka itu apa? Sedikit informasi, Ninja adalah kelompok yang dibuat dari generasi ke generasi, biasanya hanya akan ada dua atau tiga anak setiap tahunnya—yang tergabung dalam Ninja. Tapi kali ini, Ninja dipegang oleh dua belas orang sekaligus. Ini rekor terbanyak anggota Ninja. Ya, semua yang tergabung dalam Ninja itu memiliki status sosial yang tinggi—terkecuali Ino yang bergabung karena alasan tertentu. Karena itulah, Sasuke, Naruto, Sai, Kiba, Shino, Hinata, Neji, Lee, Tenten, Shikamaru, Couji, dan Ino tidak bisa dianggap remeh. Ha, sebenarnya yang mengendalikan KHS dari balik layar adalah mereka. Mereka menentukan, mengawasi, menjaga, dan menertibkan segala hal-hal yang berkaitan dengan KHS. Tak hanya itu, di balik kata Ninja—yang selalu bertindak di balik bayangan—mereka juga membangun sebuah ikatan kekeluargaan. Rata-rata mereka memang bernasib sama. Misalnya saja, Shino, Sai, Shikamaru, dan Sasuke, mereka kurang mendapat perhatian dari orang tua mereka. Dan karena mengerti perasaan satu sama lain seperti itulah mereka bisa menjadi sangat akrab seperti sekarang.

Sasuke memandangi nakama-nya satu per satu, menunggu respon mereka atas ucapannya tadi.

"Jadi, kau tidak ingin memasukkan Sakura di Ninja?" tanya Ino tak percaya. Jika dilihat, mereka berdua—SasuSaku—adalah pasangan yang sangat serasi. Tapi, bagaimana mungkin Sasuke menolak memasukkan Sakura menjadi salah satu di antara mereka?

"Ya, aku tidak ingin dia terlibat lebih jauh lagi."

"Memangnya kenapa? Kita tidak melakukan hal yang salah, Sasuke," elak Kiba.

"Justru karena itulah. Kita tidak perlu melibatkan Sakura sama sekali. Dia tidak perlu tahu dan ikut campur."

"Tap—"

"Sakura itu, masih naive. Dia sangat mudah terpengaruh. Kalian mengerti maksudku 'kan?"

Para remaja itu—kecuali SasuSaku—tampak berpikir sejenak, "Kau takut Sakura ketularan Tsunade-sama?" tebak Neji jitu.

Dan anggukan singkat dari Sasuke pun memperjelas semuanya.

.

Sakura terbangun dengan gontai. Hm, sekarang Sakura tengah terbaring di atas ranjang. Tunggu, bukankah tadi dia tertidur di sofa? Mengapa sekarang dia terbaring di ranjang dengan—err, baju tidur? Ke mana perginya seragam sekolah Sakura?

"Aku di mana?" gumam Sakura parau—efek bangun tidur. Sakura memperhatikan ruangan yang ditempatinya. Dinding merah marun, ranjang yang empuk, TV layar datar, foto telanjang dada Sasuke—ah, ini kamar Sasuke.

'Tunggu, ini kamar Sasuke?!' batin Sakura panik, kesadarannya pun mendadak pulih sepenuhnya.

"Kau sudah bangun, Sakura?"

DOR

Dan kini, Uchiha Sasuke tengah berbaring santai di samping Sakura. Membuat Sakura mendadak merinding dan berteriak kencang. "Kyaa~ apa yang kau lakukan di sini?!"

Dengan cepat, Sakura bergeser sejauh yang dia bisa. Kedua tangan Sakura menarik badcover di ranjang itu hingga menutupi seluruh tubuhnya yang tengah meringkuk ngeri. Di dalam sana, Sakura terus-menerus mengoceh tak karuan, melafalkan segala macam doa yang diketahuinya agar terhindar dari kemesuman Sasuke.

"Jangan seperti anak kecil, Sakura. Tadi kau ketiduran, jadi aku membawamu ke kamarku," jelas Sasuke pelan, lelah menghadapi sikap Sakura yang terlalu anti padanya.

"Pergi dari sini, Sasuke-kun!" teriak Sakura dari balik badcover. Sasuke hanya bisa mendengus pasrah.

"Kemarin kau mau-mau saja dipeluk Aniki. Tapi sekarang, aku hanya duduk di sisi ranjang tanpa menyentuhmu sedikit pun, tapi responmu sudah lebay seperti ini."

JDEG

Uh, Sasuke ngambek? Karena merasa Sakura lebih 'suka' dengan kakak lelakinya dibanding dirinya?

Sakura sedikit tersentuh mendengar penuturan Sasuke. Ya, dia benar juga. Sakura memang bersikap agak berlebihan pada Sasuke. Hei, itu karena jantung Sakura yang berdetak tak karuan saat berada di samping pemuda tampan itu—jangan menyalahkan Sakura.

Sakura pun perlahan keluar dari persembunyiannya, lalu menatap geli Sasuke yang masih berbaring di sebelahnya. "Jadi, kau cemburu pada Aniki-mu itu?" ledek Sakura, sambil tertawa kecil.

Sasuke segera memalingkah wajahnya yang—sangat—sedikit merona, "Bukan begitu."

"Lalu apa, Sasuke-kun? Ayolah, katakan saja kalau kau cemburu~"

Terdengar helaan napas kesal dari Sasuke—yang masih memalingkah wajahnya ke arah lain. "Aku belum pernah melihat Aniki memeluk seorang gadis sebelumnya."

EEEIIIT

Jangan bilang, Sasuke...

"Kau cemburu padaku? K-kau cemburu karena aku dekat dengan Itachi-nii?" pekik Sakura tak percaya. Ha, ternyata dugaan Sakura tadi keliru. Kena kau sekarang, Sakura.

Sasuke yang sudah tak tahan dengan sikap Sakura akhirnya berbalik dan kembali memandang emerald yang indah itu. "Sudah kubilang, aku hanya belum pernah me—"

Namun, tatapan tak terdefinisi dari Sakura berhasil menghentikan ucapan Sasuke. Iris yang jernih itu kini berkaca-kaca—seakan ingin menangis. Dan sinar keterkejutan terpancar jelas dari sana. Ah, apa mungkin Sakura, sakit hati? Kecewa karena ternyata Sasuke sangat mencintai kakaknya?

"S-sakura?"

"A-aku tak menyangka, Sasuke-kun. T-ternyata kau Brother Complex?! Hahaha~"

Dan hal itu sukses membuat image seorang Uchiha Sasuke menjadi semakin rendah di mata Haruno Sakura. Sampai kapan hal konyol ini akan berlanjut? Sampai Sakura berhenti mengejek Sasuke, karena menurutnya Sasuke itu menderita Brother Complex. Kita tunggu saja sampai gadis itu puas.

.

"Sakura, kalau kau masih tidak mau berhenti tertawa, aku benar-benar akan menciummu."

Hening. Sasuke menyeringai puas.

"Hahaha~ jika kau berani menciumku, maka aku akan mencium Itachi-nii jug—mmphhh."

Hei, Sasuke tidak main-main, Sakura. Dia, bersungguh-sungguh. Dan sekarang, Sasuke benar-benar membuktikan kata-katanya.

"—mmph, lepaskan!" dengan sekuat tenaga, Sakura mendorong Sasuke menjauh darinya, sebelum dia sempat terlena oleh ciuman maut Uchiha tampan itu.

Dengan wajah merah padam, dan napas yang tak teratur, Sakura memandang Sasuke dengan tajam. Ya, dia kesal karena ciuman pertamanya harus direbut oleh pemuda di sampingnya itu. Padahal Sakura sengaja menyimpannya untuk suaminya kelak. Kasihan sekali nasib Sakura.

"A-apa yang kau lakukan, Uchiha Sasuke?!"

"Menciummu," jawab Sasuke santai, lengkap dengan seringai nakalnya.

Sakura menjadi semakin gelagapan, "A-aku t-tahu itu, maksudku kenapa kau menciumku, hah?"

Sasuke memutar bola matanya dengan bosan, "Aku sudah memperingatkanmu tadi."

SYUUT

Seketika itu juga, nyali Sakura ciut. Mulai sekarang dia tidak akan berani mengacuhkan perkataan Sasuke lagi. Sungguh tak disangka, Sasuke ternyata benar-benar nekat menciumnya. Padahal, tadi Sakura hanya bercanda soal—

"Dan sebaiknya kau membuktikan ucapanmu tadi, Haruno Sakura."

—mencium Itachi.

GLEK

Mau pura-pura lupa, tidak bisa. Mau kabur, lebih tidak bisa lagi. Sakura sudah terlanjut basah—karena ciuman Sasuke. Dan hal yang paling dibenci Sakura adalah ini, sebuah tantangan dari orang seperti Sasuke. Ya, Sakura benci tantangan, karena dia tahu pasti bahwa dia tidak akan bisa menolaknya. Apalagi jika Sasuke sudah tertawa mengejek seperti sekarang. Uh, jiwa liar Sakura pun bangkit.

"Siapa takut, Uchiha Sasuke."

Dan seringai licik di wajah Sakura itu, membuat sang Uchiha berhenti tertawa. Ha, rupanya kau belum menang, Sasuke.

.

.

.

TBC


Author's line:

Hiyaaaa~ *muncul entah dari mana* panjangnya~ *.* GOMEN~ *lari-lari bawa poster telanjang dada Sasuke dengan tulisan, 'BERANI COBA, DIJAMIN PUAS'* #LOHLOHLOH APA INI? #digoreng Sasuke fc

Sekali lagi, maaf karena chapter ini kepanjangan, sudah gitu alurnya lama banget lagi *nunduk-nunduk* maaf ya, saya sudah mencemari mata readers XP

Makasih buat yang sudah review-follow-fave-chapter kemarin, siders juga ^^ Ini balasannya, yang lain kubalas lewat PM yaa :)

sasusaku kira: iyaa, salam kenal juga yaa~ ini sudah dilanjut, hehe maaf nggak kilat #plak

sasuke-is-mine: hoho, sekarang sudah kukurangin kok *apanyaa?* yosh ini update :)

Yume-chan: okesip, disini Sasuke jadi makin mesum kok wakakak

mako-chan: siap-siap aja, ntar Sasuke jadi makin mesum XP

Yosh, ada yang ingin memberiku saran? Silahkan~ kritik dan tanggapan juga diterima. Kita sama-sama belajar di sini, jadi tak ada salahnya memberikanku sekotak REVIEW, kan? hihi XD

REVIEW yaaa~ ^^

Arigatou :)