DON'T LIKE, DON'T READ

Title : Pilihan Menjebak

Disclamer : Masashi Kishimoto

Warnings : OOC, AU, Typo (s), Miss typo, Rumit, Rate M untuk bahasa, Chapter panjang, NO LEMON, dll

Maaf kalau jelek :)

Story by: Bii Akari

Enjoy~

.

.

.


NORMAL POV

Mentari bangkit dari tidur lelapnya, hendak menyinari bumi dengan kehangatannya. Tapi sayang sekali, sekomplotan awan-awan lebat tak berniat menyingkir dari singgasananya. Kali ini, pagi tidak begitu cerah. Begitu pula dengan perasaan pemeran utama kita—Sakura Haruno.

Dengan berat hati, Sakura memasuki mobil Sasuke dan duduk di jok belakang. Sasuke yang menyadari kelakuan aneh Sakura, hanya mendengus kecil sembari menatap tajam sang gadis di kursi belakang. Ya, tentu saja Sakura dapat merasakan pandangan tajam itu. Tapi tetap saja, kekerasan hati—dan kepala—Sakura masih lebih kuat.

"Ehm," Sasuke berdahem pelan, mencoba menegur Sakura dengan cara yang lebih halus. Namun siapa sangka, gadis itu justru berpura-pura tuli dan tetap menyamankan diri di belakang.

Tak ingin mengalah, Sasuke pun akhirnya buka mulut. "Kau pikir aku supirmu, hm?"

Mendengar ucapan bernada dingin Sasuke itu, mau tidak mau Sakura menjadi tidak enak hati. Ah, kau terlalu lembut Sakura. Mana kekerasan hatimu tadi? Kau bertekad akan menjauh dari sang Uchiha bungsu, bukan?

"Maaf, Sasuke-kun."

Dan dengan itu, Haruno Sakura resmi luluh oleh pandangan menggoda Sasuke. Uhm, apa ini berarti sesuatu, Sakura?

.

Dalam perjalanan menuju sekolah, Sakura tak banyak bicara—bahkan nyaris tak berbicara. Sasuke pun tampak tak cukup enjoy dengan suasana hening ini.

'Apa Sakura marah karena hal kemarin?'

'Uh, aku tidak nyaman berdiam diri seperti ini..'

"SasuSaku—"

Dua kata yang berbeda terdengar dalam dentingan detik yang sama. Ya, mereka berdua ternyata se-hati.

"Kau duluan."

"Tidak, kau saja."

"Tak apa, duluan saja, Sakura."

"Tidak perlu, Sasuke-kun saja yang duluan."

Dan sekarang, mereka saling melempar giliran satu sama lain. Ah, sungguh kompak.

Sasuke melirik Sakura, begitu pun sebaliknya. Karena Sakura tetap bersikeras tidak ingin buka mulut, Sasuke pun dengan gantle-nya berbicara duluan.

"Uhm, soal ciuman kemarin, aku minta maaf."

DOR

Uchiha Sasuke minta maaf? Ha, Sasuke memanglah pemuda yang gantle. Jika dia salah, dia pasti akan minta maaf—kepada siapapun. Hanya saja, Sasuke minta maaf untuk sebuah, ciuman? Bukankah ini keterlaluan baginya? Justru biasanya, Sasuke-lah yang menerima ucapan 'Terimakasih' dari gadis-gadis yang diciumnya. Tapi sekarang? Demi seorang Sakura Haruno, Sasuke rela minta maaf?

Sakura hanya terdiam. Dipandanginya wajah pemuda tampan itu dalam-dalam, mencoba mencari ketulusan di sana. Dan sesaat kemudian, gadis itu tersenyum manis.

"Karena, sepertinya itu adalah ciuman pertamamu," potong Sasuke cuek, sebelum Sakura sempat merespon ucapannya tadi. Muncul perempatan kecil di jidat Sakura.

"Dan kemarin aku merebutnya dengan begitu mudah."

Kepulan asap mulai terlihat mengepul dari kepala gadis berambut pink itu.

"Jadi, Saku—"

Ucapan Sasuke terputus, mulutnya terkunci rapat saat melirik gadis di sampingnya itu. Sakura sudah berada di ambang batasnya, urat-urat emosinya mulai muncul di mana-mana, wajahnya pun sudah memasuki tahap pemanasan tingkat akut. Uh, Sakura Haruno, marah.

"Sasuke-kun!"

Dan dengan itu, rambut emo nan keren milik sang Uchiha terpaksa menjadi pelampiasan mutlak amukan Sakura.

.

Waktu terus berlalu, dan kini Sakura tengah duduk termenung di dalam kelasnya. Sakura memang belum tahu siapa gerangan teman sebangkunya itu. Karena kemarin dia hanya duduk sendirian—ditemani Naruto.

Namun sesaat yang tadi, pemuda pirang itu berkata bahwa teman sebangku Sakura akan masuk hari ini. Katanya, kemarin gadis itu tak bisa masuk karena tidak enak badan. Ah, alasan yang klasik. Dan hal itu membuat Sakura memutar otaknya dengan cepat. Dalam hitungan detik, Sakura sudah bisa menebak, siapa teman sebangkunya itu.

Seingat Sakura, gadis bernama Hinata kemarin pagi tiba-tiba saja pingsan. Jadi kemungkinan besar, gadis itulah teman se-bangkunya yang dikatakan Naruto. Memikirkan hal itu entah mengapa membuat Sakura menjadi sedikit lemas. Sakura takut kali ini Hinata akan pingsan lagi jika melihatnya—seperti kemarin.

"Sakura, ada yang mencarimu di luar," tegur seorang anak perempuan berambut pendek—teman sekelas Sakura. Karena penasaran, Sakura pun berjalan ke luar kelasnya. Dalam hati Sakura berdoa, semoga itu bukan Sasuke. Semoga. Karena Sakura masih trauma akibat kejadian di kantin kemarin.

"Kau?"

Dan ucapan sinis itu mengalir begitu saja dari bibir Sakura. Sakura menatap gadis di hadapannya dengan tatapan jijik. Ya, Sakura tidak takut sama sekali dengan gadis ini. Tak peduli siapa dia yang sebenarnya. Yang ingin Sakura lakukan kali ini hanyalah menjauh darinya—menjauh dari masalah.

"Heh, berani juga kau datang ke sekolah."

Sakura memutar bola matanya dengan sinis. Jika gadis pirang itu hanya ingin mengoceh, Sakura lebih memilih pergi.

"Sudahlah, cepat katakan apa maumu."

Sejenak, iris unik sang gadis pirang melebar, kaget karena menyaksikan sendiri nyali Sakura yang begitu besar—sampai berani membentaknya seperti itu.

"Diam, dan ikut saja denganku," ancam gadis pirang itu, sembari menarik tangan Sakura menjauh. Sakura? Gadis itu hanya melirik sejenak jam tangan di pergelangan kirinya lalu menepis genggaman gadis itu dengan kasar.

"Aku bisa jalan sendiri."

.

Di sebuah ruangan kosong yang tak terpakai, empat orang gadis berkumpul membentuk sebuah formasi, dengan si gadis pink yang berada di tengah-tengahnya. Namun uniknya, tak ada rasa takut sedikit pun yang tercermin dari iris emerald itu. Iris indah itu tetap menantang seperti biasa.

"Jadi, apa maumu? Waktuku tak banyak."

Ketiga gadis itu mendecih kesal. Gadis cantik di hadapan mereka benar-benar sombong—menurut mereka.

"Jauhi Naruto-kun."

DOR

Sakura yang sejak tadi terus bertahan berdiri dengan pose menantangnya akhirnya cengo dengan tidak elit.

'Naruto? Jadi alasan ini semua hanya karena Naruto?' batin Sakura tak percaya. Dengan penuh tanda seru, Sakura menatap gadis pirang di hadapannya sambil mengedipkan matanya beberapa kali, masih tak percaya.

"Dia itu milikku sejak dulu. Jadi, jangan berani mendekatinya," tegas gadis itu sekali lagi, karena tak kunjung mendapat anggukan pasti dari Sakura.

Sakura yang telah pulih dari keterkejutannya tanpa sadar tertawa kecil. Ah, kau membuat gadis di hadapanmu tersinggung, Sakura.

"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Naruto, sungguh. Jikapun ada, itu bukanlah hubungan seperti yang kau pikirkan," elak Sakura, mengakhiri tawa kecilnya tadi.

Si gadis pirang kemudian berkecak pinggang. "Kau tidak sedang mempermainkan aku 'kan, Haruno Sakura?" selidiknya.

"Percaya padaku. Aku tidak ada hubungan spesial dengan Naruto, hanya teman."

Dan dengan itu, wajah si gadis pirang pun mendadak menjadi berseri-seri. Ha, cinta memang memabukkan.

Namun siapa sangka, gadis berambut gelap di sampingnya justru berkomentar sinis. "Jadi, gosip tentangmu dan Uchiha Sasuke itu benar?"

DUG

Mood Sakura berubah drastis begitu mendengar nama Sasuke disangkutpautkan dengannya—meski kenyataannya memang begitu.

"Itu bukan urusanmu."

"Jadi itu benar."

"Sudah kubilang, itu bukan urusan kalian."

"Ya, ternyata memang benar."

Sakura yang nyaris memasuki mode 'Iblis' mulai mengeluarkan aura-aura tidak enak. "Sudah selesai 'kan? Aku mau pergi," potong Sakura kasar, hendak menerobos celah di antara gadis-gadis itu berdiri.

Namun tentu saja, tak ada yang mengizinkannya pergi dulu. Hei, ini kesempatan bagus untuk mendapatkan gosip baru.

"Tak perlu terburu-buru, Sakura," sergah gadis pirang itu, sambil menahan pergelangan tangan Sakura. Teman-temannya yang lain juga ikut ambil bagian. Ada yang memegang pundak Sakura, bahkan ada yang berjaga di belakang Sakura.

"Urusan kita sudah selesai. Soal hubunganku dengan Sasuke-kun, itu tidak ada kaitannya denganmu. Jadi lebih baik, kau tidak perlu tahu."

Mendengar omongan dingin Sakura, si gadis pirang pun menyeringai kecil. Dengan perlahan, gadis itu mendekatkan kepalanya ke arah Sakura, hingga bibirnya berada tepat di samping telinga kanan Sakura.

"Sedikit saran untukmu. Jika kau tidak ingin terluka, lebih baik jauhi Sasuke Uchiha," bisiknya pelan, membuat Sakura tersentak kaget.

Menjauhi Sasuke? Bukankah Sekarang Sakura sedang melakukan hal itu?

Dengan cepat, Sakura menarik dirinya menjauh dari kumpulan gadis tadi—karena mereka sempat lengah sesaat yang lalu. Dan setelah itu, Sakura kemudian tersenyum lebar.

"Terimakasih atas saranmu, Nona."

Si gadis pirang balas tersenyum—terlihat sedikit sinis. "Shion, cukup panggil aku Shion."

.

Sakura berjalan dengan cepat menuju kelasnya. Bel tanda masuk sudah berbunyi sejak tadi, dan karena harus terpaksa berlama-lama dengan Shion, Sakura jadi lupa waktu seperti sekarang.

Sepanjang koridor yang lebar itu, tak ada siswa-siswa lain yang berkeliaran—termasuk Shion and the gang. Menurut Shion—yang berada di kelas yang sama dengan Sasuke—Sakura lebih baik menjauh dari sang pangeran sekolah. Kenapa? Karena Shion juga mengincar Sasuke? Uh, tidak se-simple itu. Karena tadi, Shion berkata bahwa Sasuke itu, playboy. Pemuda yang kerjanya hanya bergonta-ganti pasang—bukan, Sasuke tak pernah pacaran dengan mereka. Ah, pokoknya begitulah.

Jujur, Sakura juga sempat melihat Sasuke sebagai sosok pemuda yang playboy. Ya, dia tampan, kaya, jenius, cool, sexy, tenar, dan mesum. Gadis mana yang tidak tergoda dengannya?

Sakura menggeleng pelan sambil berlalu mempercepat larinya. Ah, ini baru hari keduanya dan Sakura tidak ingin membuat image-nya rusak dengan membolos—meski tadi Shion sempat mengundangnya untuk ikut bolos bersamanya.

Dari kejauhan, Sakura dapat melihat pintu kelasnya yang terletak di ujung koridor itu. Namun sebelum menuju ke sana, Sakura harus melewati kelas A—kelas Sasuke. Secara spontan, Sakura kembali teringat akan perkataan Shion tadi. Dan tanpa direncanakan sama sekali, Sakura menguping di depan pintu kelas Sasuke.

Kelas itu cukup ribut—tidak mencerminkan kelas A. Apa sistem tata kelasnya memang acak? Buktinya saja, Sasuke berada di kelas yang sama dengan Shion.

Dikerumuni rasa penasaran, Sakura pun tak punya pilihan lain selain mengintip. Sakura bertingkah seolah-olah hanya melintas lewat saja. Dengan penuh spekulasi, Sakura memalingkan wajahnya ke sebelah kanan, dan melihat langsung ke dalam jendela di sisi kelas itu.

Hm, Sakura melihatnya. Uchiha Sasuke sedang duduk dan mengobrol santai bersama seorang—Hinata. Ya, Sakura tahu rambut indigo itu—meski hanya dari samping. Sesaat, langkah kaki Sakura terhenti, fokus perhatiannya tercuri penuh oleh Sasuke yang tengah tertawa kecil sehabis mendengar bisikan dari Hinata. Dan semburat merah di pipi gadis bersurai indigo itu memperjelas semuanya.

DEG

Sakura segera memalingkan tatapannya, dan berjalan kikuk menjauh—begitu pandangannya bertemu dengan Sasuke. Entah karena apa. Tapi kali ini, Sakura ingin segera pergi dari sana. Karena itulah dia berlari.

Sesampainya di depan kelasnya sendiri—kelas B. Sakura langsung saja menyerobot masuk.

Hening sesaat. Semua siswa memandang Sakura dengan datar. Dan sedetik kemudian, mereka kembali sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ah, rupanya guru yang mengajar pagi ini belum masuk sampai sekarang. Karena itulah, Sakura bisa berjalan masuk dengan santai ke dalam kelasnya.

Betapa terkejutnya Sakura begitu mendapati seorang gadis pirang duduk manis di samping bangkunya. Hm, Sakura mengenal gadis itu. Dan saat ini, gadis pirang itu tengah melemparkan senyum manisnya ke arah Sakura—yang dengan cepat dibalas oleh Sakura.

"Hai, Sakura~ ke mana saja daritadi?"

Sakura tersenyum kecil sambil melambai-lambaikan tangannya dengan santai, "Hanya urusan kecil, Ino," jawabnya.

Ino pun mengangguk maklum. Sekarang Sakura paham, definisi 'tidak enak badan' menurut Yamanaka Ino adalah 'hal seperti itu'.

Baru saja Sakura menyamankan diri di bangkunya, Naruto sudah memanggilnya dari bangku belakang. Sakura pun berbalik. "Hm? Kau bilang sesuatu tadi, Naruto?"

Naruto memasang cengiran lebarnya. "Ya, aku hanya bilang, pasti urusan kecilmu itu berkaitan dengan Teme 'kan, Sakura?"

BUK

Uh, Naruto. Kau membuat Sakura menjadi kesal. Ya, baru saja mood Sakura terombang-ambing karena manusia yang satu itu, dan kini kau malah menyebut-nyebut namanya lagi.

"Ugh, kau kenapa sih, Sakura?!" pekik Naruto kesal, sambil mengelus-elus kepalanya yang baru saja menjadi korban KDRK (Kekerasan di Ruang Kelas) Sakura. Sementara sang pelaku hanya memalingkan wajahnya dengan cuek.

"Aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Jadi, jangan berkata seperti itu lagi," tegas Sakura.

Sai—yang duduk di samping Naruto—ikut angkat bicara. "Kalau kalian memang tidak ada hubungan apa-apa, apa maksud ciuman Sasuke di kantin kemarin?"

BLUSH

Argh, Sakura nyaris gila jika gosip itu semakin menyebar ke mana-mana.

Sambil meneguhkan hati, Sakura pun menjawab dengan mantap. "Sasuke-kun hanya bercanda saat itu. Lagipula itu hanya ciuman pipi saja."

Sai kembali tersenyum, entah apa maksud dari senyum pemuda berkulit pucat itu. "Lalu, yang kemarin di kamar Sasuke itu, apa?"

DOR

Kau ketahuan Sakura. Pemuda yang duduk di bangku belakangmu itu melihatnya!

"I-i-itu-u—" karena tak kunjung menemukan alasan yang bagus, Sakura pun mengalihkan pembicaraan. "B-bagaimana bisa kau melihat kami berciuman?!" pekiknya heboh, membuat perhatian seisi kelas tercuri penuh oleh dirinya.

Sai pun menyeringai—tersenyum—puas, "Ah, rupanya kalian benar-benar berciuman? Tak kusangka."

JLEB

Sai? Sai mengerjaimu, Sakura! Dia tidak melihat apapun. Dia, menjebakmu!

"Apa maksudmu, Sai? Jangan bilang kau benar-benar membodohiku? Kau tidak melihat apapun kemarin 'kan?"

Dan senyum lebar Sai memperjelas semuanya. Ha, kau tertipu, Sakura. Sekarang, mereka semua tahu tentang ciuman kalian kemarin. Uh, gosipmu dan Sasuke tampaknya akan semakin hangat saja.

"Tak apa, Sakura. Cinta tidak harus dibuktikan dengan sebuah status. Kalian tak harus berpacaran dulu sebelum melakukan hal seperti itu," celutuk Ino, sembari mengangguk-angguk bak seorang pengangguk sejati.

Sakura menggeram ringan sembari mengacak rambutnya dengan frustasi. Sampai kapan nama baiknya akan tercemar seperti ini? Siapa yang tahu.

"Huh, oke, sekali lagi aku tegaskan. Aku bukanlah pacar Sasuke-kun. Dan kami tid—"

"Lalu, Sasuke itu apamu? Maksudku, kalian berangkat sekolah bersama, bukan? Pasti ada alasan di balik semua itu."

DOR

Kau terjebak lagi, Sakura.

'Aku tidak mungkin mengaku sebagai pembantu Sasuke, sangat memalukan. Mengaku teman lama juga tidak bisa. Tetangga? Rasanya terlalu mencurigakan. Temannya teman Sasuke? Ah, tidak terlalu buruk..'

"Aku hanya teman dari teman Sasuke."

Tidak, Sakura. Itu jawaban yang buruk. Kenapa? Karena Sasuke tidak pernah memiliki kawan selain teman-teman sekolahnya. Tatapan menyelidik pun dihadiahkan pada Sakura oleh ketiga pasang mata di sana.

"Teman apanya Sasuke?"

"T-teman TK."

"Teme tidak pernah TK, dia terlalu jenius."

"A-ar, Sasuke-kun pernah mencobanya sehari."

"Dalam sehari bisa menjadi temannya Sasuke?"

"Y-ya, dia orang yang mudah bergaul."

"Masalahnya Sasuke adalah orang yang tertutup."

"Ya, aku saja butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa akrab dengan Teme."

"E-entahlah, aku hanya temannya saja."

"Kau juga teman TK-nya?"

"B-bukan, teman SD-nya."

"Lalu, bagaimana ceritanya dia bisa menjadi cukup dekat dengan Sasuke sampai sekarang?"

"D-dia juga satu SD dengan Sasuke-kun, setelah pindah dari SD-ku."

"Teme selalu bersamaku sejak SD, dia pasti mengenalku juga."

"M-mungkin saja."

"Bukan mungkin, harus. Aku cukup mencolok waktu SD."

"Y-ya, sampai sekarang kau masih mencolok."

"Ya, kau benar, Sakura."

"Hm, setuju."

"Haha, kalian bisa saja~"

DUAR

Percakapan itu menjadi semakin aneh saja. Topik pun mulai melenceng ke arah 'betapa mencoloknya Naruto, dari lahir hingga tua nanti'. Saat sedang asyik-asyiknya mengatai Naruto mencolok, tiba-tiba saja Ino teringat akan tujuan awal mereka. Mereka seharusnya menyudutkan Sakura agar mengaku, bukannya malah memuji-muji kemencolokan Naruto.

"Jadi Sakura, apa artinya Sasuke bagimu?"

BOM

Sakura gugup, bola matanya yang indah berkelana kesana-kemari. Berharap bisa menemukan jawaban dari sekitarnya. Tapi sayang sekali, dia tidak berhasil. Kau harus lebih kreatif, Sakura.

Ehm, apa arti Sasuke bagi Sakura? Ada yang bisa menjawabnya? Silahkan, ayo bantu Sakura dari situasi mendesak ini.

Sakura pun berpikir keras, apa dia harus mengatakan yang sebenarnya? Mengakui bahwa Sasuke hanyalah salah satu dari dua kandidat calon suaminya kelak? Tidak. Jangan gila, Sakura.

"A-ahaha, maaf terlambat, Minna~"

PUUUH

Kau beruntung kali ini, Sakura. Berkat guru muda yang terlambat masuk itu, kau terselamatkan dari pertanyaan tajam Ino. Untuk pertama kalinya, keterlambatan Kakashi akhirnya berberkah juga.

.

TRIIIIING

Bel tanda pulang berbunyi. Para siswa pun mulai berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing. Dengan malas, Sakura membereskan buku-bukunya yang masih berserakan di atas meja. Seharian ini, Sakura memang bad mood. Dan parahnya, Sakura tidak tahu jelas alasannya mengapa. Ah, mungkin karena pemuda berambut raven yang digosipkan dengannya itu. Sebab semakin Sakura mengelak, semakin curigalah orang-orang di sekelilingnya. Ya, pasrah saja, Sakura~

"Sakura, kami duluan ya," pamit Ino, sambil mengamit tangan Sai dan berjalan keluar. Uh, sepasang kekasih itu selalu ber-lovey dovey ria setiap saat, membuat mood Sakura sedikit uring-uringan. Hem, mereka serasi. Ino cantik, dan Sai tampan. Pasangan yang mampu membuat makhluk single di manapun iri—termasuk Sakura.

Naruto juga ikut melenggang pergi sesaat kemudian, setelah menawarkan tumpangan pada Sakura. Ehm, tentu saja Sakura menolaknya—padahal Sakura sangat ingin menerimanya. Apa lagi alasannya kalau bukan karena hawa misterius yang menguar dari gadis pirang yang mengintip diam-diam dari jendela luar itu? Uh, Sakura tidak ingin menambah masalah baru.

Usai membereskan barang-barangnya, Sakura segera melenggang keluar. Namun, langkahnya tiba-tiba saja terhenti ketika mendapati sesosok pemuda tengah bersandar dengan santai pada tembok di samping pintu kelasnya. Ya, Sasuke bersandar di sana, dengan mata yang terpejam dan gaya cool-nya yang mempesona. Bagaikan model cover majalah saja.

"Ayo pulang, Sakura."

Jujur, saat ini Sakura sangat ingin berkata 'Tidak' dan menjauh pergi dari pemuda itu. Namun, tatapan Sasuke yang terkesan dalam, membuat Sakura tak berdaya. Mana bisa dia menolak ajakan Sasuke?

.

Sepertihalnya kemarin, Sasuke kembali membawa Sakura ke markas rahasianya. Ya, tentu saja melalui ruangan ketua OSIS. Hei, jangan berpikir yang macam-macam. Sasuke sama sekali bukan ketua OSIS, anggota OSIS saja bukan. Sang ketua OSIS yang sebenarnya adalah si pemuda dingin yang tampan dan mempesona itu. Ehm, dialah penyandang gelar ketua OSIS dengan rambut terindah sepanjang masa.

Dan tadi, tanpa sengaja Sakura mendapati sang ketua OSIS berduaan bersama sekertarisnya—Tenten. Mereka memang tengah sibuk mengurus sesuatu—entah apa. Tapi kelihatannya, itu adalah hal yang sangat penting.

Dengan langkah malas, Sakura memasuki ruang tengah markas rahasia itu. Rupanya, di sana sudah terkumpul member-member Ninja yang lain. Ahya, Sakura hanya tahu sedikit mengenai Ninja—Sakura juga baru tahu bahwa Naruto adalah salah satu di antaranya. Itupun karena saat jam istirahat tadi Ino menceritakan sedikit hal mengenai markas rahasia mereka itu, dan itu semua menyangkut Ninja. Setahu Sakura, Ninja adalah organisasi rahasia yang tak terikat oleh sekolah—karena bersifat terselubung. Ninja berkedudukan tinggi, lebih tinggi dari OSIS. Bahkan yang menentukan susunan anggota OSIS adalah Ninja itu sendiri. Hm, sepertinya Ninja memang sangat spesial.

"Mana Dobe?" tanya Sasuke santai, sambil duduk di salah satu kursi di sekitar sana. Sakura hanya mengekor di belakangnya dan ikut duduk di samping Sasuke.

Shikamaru tetap cuek. Chouji lebih memilih menghabiskan kripik kentangnya. Sai hanya tersenyum. Lee sejak tadi hanya sibuk tebar pesona pada Sakura, dengan kerlingan matanya dan kilauan giginya. Hinata tetap terdiam di pojokan. Kiba lebih memilih bermain kejar-kejaran bersama Akamaru. Shino mengedikkan bahunya. Intinya, tak ada yang berniat merespon pertanyaan singkat Sasuke, membuat Ino akhirnya mendengus pasrah.

"Mungkin dia disibukkan oleh gadis itu lagi," jawabnya malas, sambil mengamati cat kukunya yang baru saja dia poleskan kemarin.

Sejenak, Sasuke melirik Hinata di pojokan. Dan gadis cantik itu hanya tertunduk sambil menyembunyikan wajahnya. Sasuke pun menyandarkan punggungnya kembali di kursi yang didudukinya.

"Maksudmu Shion?" bisik Sakura pelan. Ino—yang duduk di samping Sakura—hanya mengangguk kecil.

Dari respon Ino serta semua penghuni ruangan itu, sepertinya tidak ada yang setuju jika Shion berhubungan dengan Naruto. Bahkan sepertinya Naruto juga beranggapan hal yang sama.

Tak lama kemudian, Neji beserta Tenten memasuki ruangan itu dengan langkah perlahan. Sangat perlahan, sampai-sampai mereka terlihat bagaikan pasangan pengantin yang berjalan menuju stage. Neji dan Tenten pun duduk berdampingan di kursi kosong, membuat beberapa orang berbisik-bisik curiga.

"Kita punya masalah."

Seketika itu juga, perhatian seluruh orang di sana tertuju pada sang ketua OSIS.

"Tsunade-sama berulah lagi?" tebak Kiba sarkastik. Neji hanya mengangguk sekilas.

Dan bersama dengan itu, dengusan kesal mulai terdengar di mana-mana. Sakura yang tak tahu menahu mengenai 'masalah' yang dibahas hanya bisa cengo di tempat.

"Biar aku saja kali ini, sekalian akan kucari Dobe. Serahkan saja pada kami."

Sasuke bangkit dari duduknya lalu menatap Sakura sejanak. "Tunggu sebentar di sini, Sakura. Aku janji ini tidak akan lama."

Bingung ingin bagaimana, Sakura pun hanya mengangguk. Membuat Sasuke refleks tersenyum tipis dan mengacak-acak rambut Sakura dengan nakal.

"CIIIIEEEE~"

Dan siulan beserta teriakan-teriakan heboh pun dihadiahkan untuk mereka berdua. Uh, gosip semakin menghangat~ Lee pun hanya bisa pundung di pojokan.

.

Setelah Sasuke pergi, para member Ninja yang lain mulai sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Shikamaru tampak asyik bermain shogi bersama Neji—dengan Lee sebagai supporter setianya. Kiba sibuk mengobrol bersama Akamaru dan Shino. Chouji masih setia bersama kripik kentanganya. Hinata juga terlihat sedang berbincang ringan dengan Tenten. Dan tentu saja, Sai ber-lovey-dovey ria bersama Ino. Sakura? Dia tanpa sadar terasingkan.

.

Satu jam berlalu, dan kini Sakura terlihat bersiap beradu panco dengan Kiba. Jangan tanya bagaimana bisa hal ini dapat terjadi. Karena semua itu terjadi secara spontan. Sakura mengeluh bosan, Lee berniat menghibur Sakura, Chouji mengeluh lapar, Shikamaru menguap lebar, membuat Neji bergeleng-geleng syahdu. Dan tiba-tiba saja, Kiba berteriak kencang—menantang mereka untuk beradu panco. Hmm, ada yang ingat kebiasaan buruk Sakura? Ha, kali ini penyakit Sakura kembali kambuh. Dan dengan penuh percaya diri dia menerima tantangan Kiba. Jadilah mereka berua berpose sambil saling menggenggam tangan.

"Aku bertaruh pada Kiba," ujar Sai.

"Tidak, Sakura yang akan menang. Ayo, berjuanglah, Sakura~" tentang Ino.

"Iya, buktikan bahwa kau lebih kuat," ucap Tenten.

"Kiba, jangan kalah dari seorang gadis," nasehat Shino.

"Mendokusai, mengalah saja, Kiba," keluh Shikamaru.

"U-hm, berjuanglah, kalian berdua," pinta Hinata.

"Baiklah, kalian siap?" teriak Lee semangat. Kedua petarung itupun mengangguk yakin.

"Yosh, bagus. Cepat hitung, Neji," perintah Lee, sambil menyikut lengan Neji pelan.

"Oioi, kenapa aku yang menghitungnya?" protes Neji tak terima. Hei, dia seorang ketua OSIS, mana mungkin Neji bisa terima disuruh-suruh oleh seorang pemuda seperti Lee?

"Lakukan saja, Neji. Kau ini ketua OSIS, harusnya kau memberi contoh yang baik."

JLEB

Lee malah berbalik menasehati Neji. Malas meladeni Lee, Neji pun segera menghitung mundur. Dimulai dari 100—ehm, maksudnya 10.

"Sepuluh..sembilan..delapan..tujuh..enam..lima..em pat..tiga..dua..satu..nol..minus satu..minus dua..minus tig—"

"Hentikan!"

Dan dengan ini, Neji resmi di-bully beramai-ramai. Uhm, panco-nya? Berakhir dengan tragis.

.

Sakura melangkah dengan perlahan mengelilingi markas rahasia itu. Ada beberapa ruangan yang memang dikunci. Dan hal itu membuat Sakura penasaran sejak tadi. Sudah hampir satu jam Sakura berkeliling di sekitar sana, mencari hal-hal menarik. Tapi tetap saja, rasa bosan Sakura tidak bisa terobati. Padahal teman-teman barunya itu sudah menghiburnya sejak tadi.

"E-eh, Ino?"

Sakura terbelalak kaget, begitu melihat sosok gadis pirang itu keluar dari sebuah ruangan dengan rambut yang acak-acakan serta baju yang tak terkancing rapih. Ino pun buru-buru memperbaiki dandanannya lalu tersenyum manis ke arah Sakura.

"Hai, dari mana saja? Berkeliling ya? Mau kutemani?" tawarnya hangat. Sebenarnya, tadi Tenten juga menawarkan hal yang sama pada Sakura, hanya saja mendadak Tenten mendapat panggilan dari Neji. Dan akhirnya mereka berdua malah menyelinap pergi entah ke mana. Saat itu, Sakura hendak mengajak Hinata untuk berbincang-bincang, namun entah sejak kapan Hinata sudah tak berada di sana lagi. Mereka memang benar-benar Ninja.

"Tak perlu, aku juga sudah selesai kok," tolak Sakura halus, masih dengan senyum manisnya. "Ahya, ini kamarmu, Ino?" lanjutnya cepat, sebelum Ino sempat merespon ucapannya yang sebelumnya.

"Iya."

"Boleh aku masuk?"

"T-tidak, e-er maksudku, jangan sekarang. Maaf Sakura, tapi lain kali saja, ya?"

"Kenapa? Memangnya ada apa di dalam?"

DOR

Ino semakin gelagapan, iris aquamarine-nya bergerak ke mana-mana. Sampai akhirnya, gadis pirang itu menunduk malu. "E-err, di dalam, ada Sai."

"Lalu?"

Ino menatap Sakura dengan tak percaya. Ternyata omongan Sasuke kemarin ada benarnya. Sakura memang sangat polos. Bahkan hal seperti inipun tidak dimengerti olehnya.

"Kami baru saja tidur bersama, Sakura."

BLUSH

Tidur bersama. Artinya..

"K-kalian m-melaku-kan i-i-i-i-it—"

"Ya, dan dia sekarang sedang tertidur."

"..."

"Sakura?"

"..."

"Sakura? Kau mendengarku?"

"A-akh, m-maaf, kalau begitu aku pergi dulu."

Ino segera menarik tangan Sakura, sebelum gadis itu sempat menjauh selangkah.

"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Sakura."

Sakura terpaku. Kakinya mendadak kaku. Pikirannya pun terkunci pada sosok pemuda yang sangat dekat dengannya belakangan ini. Dan pertanyaan Ino itu terus berputar-putar di kepala Sakura.

"Entahlah, Ino. Aku juga tidak mengerti."

Dan jawaban penuh ketidakjelasan dari Sakura tadi akhirnya membuat gadis berambut pirang itu tersenyum kecil, dan segera menarik tangan Sakura untuk berlari. Ya, mereka berlari-lari kecil menuju balkon atas. Dan saat itulah Sakura sadar, dia belum benar-benar menjelajah di seluruh bagian gedung itu.

.

Di sisi lain, Sasuke tengah mengamati sekelilingnya dengan cermat, mencari-cari sosok pemuda berambut pirang itu. Semenjak tadi, sang Uchiha terus-menerus mengedarkan pandangannya. Namun tetap saja, sahabat kecilnya itu masih tak terlihat di setiap sudut sekolah. Ke mana sebenarnya Naruto dibawa pergi?

Kantin. Ya, kantin. Satu-satunya tempat yang mampu membuat Naruto betah berlama-lama adalah di sana. Dengan cepat, Sasuke berlalu menuju kantin demi mencari nakama-nya yang meski menyebalkan tetap ngangenin itu.

BINGO

Sasuke menemukannya. Dan sekarang, Naruto tengah duduk berduaan dengan seorang gadis pirang ber-body indah. Uh, Sasuke, tahan dirimu~

"Eh, Teme?" ucap Naruto tak percaya, begitu melihat sosok Sasuke berdiri di sampingnya dengan pandangan acuh tak acuh.

"Dobe, ikut aku sekarang juga. Ini penting," tegas Sasuke, sambil memandang tajam Naruto yang asyik menghabiskan ramen-nya. Shion yang masih duduk di samping Naruto pun menggerutu kecil.

"Sekarang? Baiklah, nah sampai jump—"

"Tidak, Naruto-kun sudah berjanji akan menghabiskan sepuluh mangkok ramen denganku. Jadi sebelum habis kau tidak boleh pergi dulu," protes Shion dengan manja, sambil memeluk-meluk tangan Naruto dengan kedua lengannya.

Sasuke yang melihat hal itu pun mulai berpikir yang macam-macam. Hmm, tangan kiri Naruto kini berada dalam dekapan Shion, dan tentu saja dapat bersentuhan langsung dengan dada Shion yang cukup besar. Uh, Sasuke. Naruto saja merasa nyaman dalam pose begitu—tentu saja—tapi mengapa kau yang merasa aneh?

"Kuberi waktu satu menit, Dobe. Tinggal dua lagi 'kan?"

"Ya, akan kuhabiskan sebelum satu menitmu itu usai."

GLUP GLUP SYUUURP

Naruto makan dengan lahapnya, membuat Shion menjadi kaku dan lemas. Ah, moment-moment langkanya bersama sang pujaan hati terpaksa akan berakhir dalam waktu satu menit.

"Selesai. Sampai jumpa, Shion."

Sedetik kemudian, Naruto sudah menghilang dari balik pintu. Menyadarkan Shion akan kenyataan pahitnya. Uh, pilu rasanya melihat Shion tertunduk lemas bersama jejeran mangkok-mangkok ramen yang kosong di atas meja, beserta selembar kertas bill yang menanti dibayar.

.

"Fuh, terimakasih, Teme. Hampir saja aku terjebak bersamanya," ujar Naruto santai, sambil mengekor di samping Sasuke.

Sasuke pun tersenyum tipis. "Tak masalah, lagipula jika memang kau tidak menyukainya, mengapa kau tidak mengatakannya secara terang-terangan saja?"

Mendengar itu, Naruto pun tertawa lebar. "Aku tidak tega menyakiti hati gadis-gadis, Teme. Kau tahu sendiri bagaimana aku ini 'kan?"

"Jadi kau lebih suka membuat mereka menunggu bersama segala harapan palsu yang kau berikan?"

Uhuh, Sasuke mulai melankolis. Hei, sejak kapan Sasuke peduli pada perasaan gadis-gadis? Padahal dia sendiri sering bermain-main bersama gadis yang berbeda-beda.

"Ehm, setidaknya aku tidak mencium mereka."

"..."

"Dan juga aku tidak pernah menggoda-goda mereka."

"..."

"Apalagi sampai me—"

"Hei, apa maksudmu berkata seperti itu?"

"Bukan apa-apa, Teme. Aku tidak sedang membicarakanmu, kok."

TOENG

Untuk yang kedua kalinya, Naruto mendapat KDKS (Kekerasan di Koridor Sekolah) oleh Sasuke Uchiha. Selamat menikmati, Naruto~

.

Sasuke dan Naruto memarkir mobil mereka di depan sebuah gedung yang megah. Hmm, jam segini, gedung megah itu belum ramai oleh pengunjung—meski ada beberapa mobil mahal yang terparkir di sana. Tak berapa lama, Sasuke dan Naruto keluar dari mobil mereka. Hei, anak sekolah tidak diizinkan masuk ke sana. Karena itulah mereka berdua sudah siap dengan penyamaran mereka.

"Maaf, wanita hamil dilarang masuk."

Naruto sedikit terkejut akan ucapan sang penjaga yang brewokan itu. Tapi berkat bakat acting-nya yang legendaris Naruto bisa tersenyum manis sambil mengelus-elus perutnya yang sedikit buncit—akibat makan ramen tadi.

"Maaf, aku sudah menjalani diet. Tapi tampaknya belum berefek juga. Apa terlihat seperti sedang hamil, Tuan?" ucapnya manja, sambil memilin-milin rambut palsunya dengan genit.

"Sudah kubilang 'kan? Seharusnya kau bisa menjaga bentuk tubuhmu sepertiku, Nanako," ucap Sasuke, ikut memanaskan suasana dengan kerlingan matanya yang menggoda.

Sang penjaga pun menahan napasnya sambil menguatkan diri agar tidak mimisan di tempat.

"A-ah, maaf Nyonya. Silahkan masuk. Maaf membuat Anda tersinggung."

Dan pintu masuk pun terbuka lebar untuk kedua wanita jadi-jadian itu.

Sesampainya di dalam, Naruto dan Sasuke berjalan dengan gaya mereka yang biasa—meski dandanan mereka tetap seperti tadi. Dengan cepat, mereka memutari seluruh Casino itu, hingga akhirnya berhasil menemukan target yang mereka cari. Hm, seorang wanita berambut panjang.

Wanita itu tampak sibuk bergelut dengan mesin-mesin gambling yang berjejeran di hadapannya. Tak merasakan hawa menusuk yang berasal dari arah belakang.

"Ah, sial," umpat wanita itu dengan kesal, begitu sang mesin mengeluarkan bunyi aneh yang bermakna negatif. Ha, lagi-lagi dia kalah.

"Tsunade-sama.."

Dua suara berat yang menyapa Tsunade membuat wanita muda itu merinding. Suara itu sangat dikenalnya. Dan kali ini, saat dia berbalik, sosok yang dikenalnya itu tengah memasang smirk andalan mereka dengan kompak.

GLEK

"K-kalian, bagaimana bisa kalian menemukanku di sini?"

"Anda kabur dari rapat penting dengan alasan sakit perut. Itu sangat mencolok, Tsunade-sama," ucap Sasuke, bersamaan dengan aura kelamnya yang menguar bebas kesana-kemari.

"Sebaiknya sekarang kita kembali, Tsunade-sama."

Berakhir. Masa-masa indah Tsunade di Casino itu—yang hanya bertahan selama beberapa jam—harus usai sekarang. Ucapkan selamat tinggal, Tsunade.

.

Sakura mengamati sekitarnya dengan takjub. Balkon atas terlihat sangat indah, terutama bagian langitnya. Di sana, ada sebuah gazebo yang sangat besar. Dan kini, Ino dan Sakura tengah duduk santai di dalam gazebo tersebut. Keduanya sempat terdiam untuk sementara waktu.

"Sakura, kau tahu apa hubunganku dengan Sai?" tanya Ino lembut, sambil mengamati gestur tubuh Sakura dari samping.

Sakura tersenyum kecil, "Kalian berpacaran 'kan?" tebaknya yakin.

Ino pun tertawa kecil. "Err, tidak se-sederhana itu, Sakura," jeda sesaat, Ino tampak menerawang ke atas langit. Entah ada apa di dalam diri Sakura yang mampu membuat orang seperti Ino luluh sampai rela membocorkan rahasia kecilnya pada gadis bermanik emerald itu. "Aku punya rahasia, Sakura. Tapi kau harus berjanji jangan membocorkannya. Oke?" lanjutnya semangat, sambil melekatkan telunjuk kanannya di depan bibir.

Sesaat, Sakura terlihat heran. Tapi dengan cepat, gadis itu bisa mengerti dan lalu tersenyum lebar. "Janji," tegasnya lekas, sambil mengangkat kedua jarinya hingga membentuk tanda 'V'.

"Sebenarnya aku dan Sai sudah...menikah."

JDER

Sakura jawdropped saking kagetnya. Dipandanginya dengan lekat-lekat gadis pirang yang sedang blushing itu.

"B-bagaimana bisa?" tanya Sakura tak percaya. Ah Sakura, kau lupa akan dirimu sendiri? Kau juga akan segera menikah~

Ino lalu tersenyum lembut, sedikit merapikan helaian rambutnya yang digoda-goda oleh angin nakal sejak tadi. "Ceritanya panjang, Sakura.."

Sakura ikut tersenyum lembut, menanti gadis di sampingnya melanjutkan ucapannya lagi. Hingga akhirnya, sang gadis kembali menerawang ke langit, mencoba merangkai deretan kata-kata itu menjadi kalimat-kalimat yang berwarna.

"Aku lahir di keluarga yang kurang mampu. Dan jujur, saat itu aku sangat membenci orang kaya. Bagiku, orang kaya itu kerjanya hanya memeras orang-orang seperti kami saja. Setiap hari Ibuku dipaksa bekerja di bawah kaki mereka. Bahkan Ayahku yang kala itu sedang sakit keras pun dipaksa untuk tetap membanting tulang di tambang mereka. Rasanya miris memikirkan masa laluku itu.."

Ya, Ino lahir di desa yang kecil. Desa yang dikuasai oleh orang-orang egois yang gila harta.

"Malam itu, Ayahku menangis. Dia berkata padaku, agar jangan pernah membenci saiapapun. Jangan pernah membenci nasib—apalagi Tuhan. Karena katanya, semua ini hanyalah cobaan. Dan suatu saat nanti, kami pasti dapat melaluinya bersama," jeda sesaat, Ino menarik napas pendek. "Tapi naasnya, penyakit Ayah semakin parah, dan akhirnya dia dapat beristirahat dengan tenang.."

Ino belajar dari tempat yang begitu keras. Dari pengalaman yang tragis itu, Ino mencoba untuk tetap bertahan. Tetap percaya pada apa yang diajarkan oleh kedua orang tuanya. Ya, Tuhan melihat perjuangan mereka. Tuhan tidak pernah tidur.

"Sebulan setelah itu, giliran Ibu yang dipanggil oleh-Nya. Ibu juga pergi dengan damai. Sepertihalnya Ayah, Ibu juga berpesan padaku. Agar tidak membenci keadaan, takdir, bahkan para pendosa itu.."

Hari-hari Ino mulai semakin keras. Tak ada lagi sosok perkasa yang selalu melindunginya. Tak ada lagi tawa-tawa renyah yang biasanya terdengar dari kedua orang yang dikasihinya itu.

"Saat sadar, hidupku sudah begitu hancur. Aku seorang penyendiri, jarang berbicara, dan terlalu sering berkhayal. Hei, kau tahu Sakura. Meski kedua orang tuaku berpesan untuk tidak membenci mereka. Aku tetap tidak bisa. Aku, tidak sekuat Ayah dan Ibu. Dan mungkin, karena itulah Tuhan mengujiku dengan cobaan yang lebih besar lagi.."

Ino itu, bagaikan emas yang bercampur dengan tanah, susah ditemukan. Tapi sekali lihat, semua orang pasti menyadarinya. Karena dia, begitu berkilau.

"Mereka menendangku dengan kasar, tapi aku masih bisa sadarkan diri. Mereka memukul kepalaku, hingga kepalaku berdarah. Saat itu, aku pikir hidupku akan berakhir. Dan jujur, aku sebenarnya sudah pasrah untuk mati. Tapi begitu merasakan tangan-tangan kotor mereka menyentuhku, kesadaranku mendadak pulih sedikit demi sedikit. Aku, tidak ingin mati dalam keadaan kotor dan terhina, Sakura.."

Ino memberontak, menendang, memukul, mencakar, memaki, pokoknya Ino melakukan segala hal yang dia bisa saat itu. Namun, hidup ini memang terkadang menyakitkan. Karena sekeras apapun Ino melawan, lelaki-lelaki bejat itu tetap bersikeras merobek pakaiannya.

"Ketika aku sudah nyaris kehilangan harapan. Tuhan menjawab segala doaku. Saat itulah aku benar-benar yakin. Tuhan, selalu melihatku dari atas sana.."

Ino sekarat. Dia berada di ambang kematiannya. Namun, suara asing itu kembali menyadarkannya ke kehidupan nyata.

"Saat itulah Sai datang. Dia menyelamatkanku, dia menculikku pergi, dan dia menampungku, Sakura. Kau tahu, Sai bagaikan pangeran berkuda putihku. Aku percaya, Tuhan sengaja mengirimnya untukku. Dialah, harapan pertamaku.."

Harapan. Maknanya luas, mencakup segala hal yang ada. Saat itu Sai tengah berlibur, dan kala sedang berjalan-jalan di hutan, Sai tanpa sengaja mendengar teriakan Ino. Itu adalah teriakan terpilu yang pernah di dengarnya. Dan tanpa berpikir panjang, Sai segera menghabisi lelaki-lelaki tak tahu diri yang nyaris menggerayangi tubuh gadis elok itu. Saat itulah, pertama kalinya mereka bertemu.

"Aku, trauma Sakura. Saat sadar, aku terus-menerus berteriak dan mencakar Sai setiap kali dia berniat mengajakku bicara. Aku, takut. Aku takut karena bayangan Sai terlalu menyeramkan di mataku.."

Seiring dengan berjalannya waktu, Ino mulai pulih. Meski sikap kasarnya masih berlaku pada orang-orang kaya yang dilihatnya—terutama Sai.

"Sai menyadarkanku, Sakura. Sai, menarikku dari dasar terdalam menuju permukaan. Hingga akhirnya, dia berhasil membuatku kembali bangkit. Aku, ingat. Saat itu aku ingat, bahwa Sai adalah satu-satunya pangeran dalam hidupku, dialah harapan kecilku.."

Sakura merasa miris mendengar penuturan Ino. Sakura tahu betul bagaimana rasanya kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidup kita. Karena itulah, Sakura mengelus lembut pundak Ino yang sedikit bergetar.

"Aku tahu, gadis sepertiku tak pantas bersanding dengannya. Dia terlalu tinggi, sulit untuk kuraih. Namun, kenyataannya ternyata tidak serumit itu. Ibunda Sai, tahu akan perasaanku. Dan beliau, memintaku menikah dengan Sai. Hei, beliau orang yang sangat baik. Katanya, satu-satunya cara agar aku dapat membalas kebaikan mereka hanyalah, dengan menyerahkan hidupku untuk keluarga Shimura. Dengan kata lain, aku harus memercayakan diriku pada Sai. Aku, resmi dilamar olehnya.."

Itu adalah sebuah keajaiban. Gadis desa yang tak punya apa-apa, akhirnya menjadi bagian dari sebuah kerajaan. Menjadi pendamping hidup sang pangeran. Kupu-kupu yang selalu menyembunyikan sayapnya, kini dapat terbang dengan leluasa. Ya, kisah nyata ini terdengar bagaikan sebuah dongeng. Serupa, dengan ending yang begitu manis.

.

Sakura tersenyum lemah, mencoba menegarkan dirinya yang mendadak merasa pilu. Gadis periang itu ternyata memiliki masa lalu yang kelam—jauh dari kata bahagia. Hei, tapi lihat dia sekarang. Hidupnya kini benar-benar sempurna. Hidup yang dimilikinya sekarang, setimpal dengan segala penderitaannya dulu.

Angin yang berhembus pelan, kembali membelai helaian rambut Sakura dan Ino dengan lembut. Kesejukan itu merasuk ke dalam tubuh mereka. Menjadi penguat bagi jiwa mereka berdua yang rapuh sesaat tadi.

"Aku...sudah dijodohkan, Ino."

Pengakuan yang jujur, dari gadis berambut pink itu.

"Orang tuaku sudah meninggal. Dan kini, aku tinggal di rumah Sasuke-kun. Maaf sudah membodohi kalian. Tapi kumohon, jangan mengatakan hal ini pada siapapun."

Ino mengelus punggung tangan Sakura dengan hangat, sambil tersenyum meng-iyakan.

"Mereka memintaku memilih. Itachi-nii atau Sasuke-kun," lanjut Sakura pelan, nyaris seperti berbisik.

Iris jernih Ino seketika membulat. Namun dengan cepat, pancaran matanya kembali meredup seperti semula.

"Sampai saat ini, siapa yang akan kau pilih, Sakura?" tanyanya hati-hati.

Sakura menunduk dalam-dalam, memainkan jari-jarinya, dan akhirnya kembali menatap Ino dengan sendu. "Entahlah, mungkin Itachi-nii."

.

Kedua gadis itu saling menukar pandangan, berupaya agar alasan di balik perkataan Sakura tadi dapat dimengerti oleh Ino—tanpa perlu mengucapkannya dengan kata-kata. Namun, takdir tampaknya sedang ingin mempermainkan mereka. Karena ucapan Sakura tadi, terdengar jelas oleh pemuda di ambang pintu itu. Dengan cepat, pemuda itu berlalu pergi. Meninggalkan kedua gadis yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya.

.

"Sakura, kalau aku boleh tahu. Mengapa harus Itachi-nii? Mengapa bukan Sasuke saja?" tanya Ino heran.

Sakura menengadahkan wajahnya, dan awan putih di atas sana menyambutnya dengan ramah. "Aku rasa, dia ada hubungan spesial dengan Hinata."

.

.

Waktu terus berputar. Bagaikan sebuah simfoni kehidupan yang terus berlalu. Sakura perlahan mulai membiasakan diri dengan kehidupan barunya. Di sekolah, Sakura sering berbaru dengan teman-teman barunya, termasuk Sasuke. Meski sampai sekarang, kebiasaan Sasuke yang selalu menggoda-godanya tak kunjung berubah juga.

Ya, Uchiha sibling itu benar-benar membuat Sakura kelimpungan. Entah sejak kapan Sakura mulai akrab dengan kedua pemuda tampan itu. Itachi, pemuda yang penuh dengan kebijaksanaan dan kelembutan, selalu mampu membuat Sakura melting karena ucapan maupun perilakunya yang sangat perhatian—manis. Dan Sasuke, pemuda yang mesum dan hot itu tak henti-hentinya membuat jantung Sakura berdetak dengan tak karuan setiap kali berada di sampingnya. Jadi, di mana hati sang putri akan berlabuh? Sang kakak yang dijuluki Mr. Perfect atau sang adik yang menyandang julukan Mr. Pervert?

.

.

Sore yang indah. Matahari bersinar terang dari ufuk barat, menyilaukan beribu pasang mata yang menatapnya dari jauh. Saat ini, Sakura tengah berjalan bak sebuah robot. Ya, kaki-kakinya memang bergerak maju, tapi pikirannya entah terbang ke mana. Dengan kaku, Sakura menutup pintu kamarnya dari dalam, dan bersandar lemah di sana.

Sedikit demi sedikit, tubuh Sakura mulai merosot ke bawah. Hingga, kakinya benar-benar terasa lemas dan tak berdaya—bahkan untuk berdiri pun ia tak mampu. Apa alasannya? Hanya karena sepatah kalimat yang keluar dari sang kepala keluarga Uchiha sesaat yang lalu.

"Pilih salah satu, Sakura. Itachi harus berangkat beberapa minggu lagi untuk mengurus perusahaan baru di luar negeri. Jika kau benar-benar serius memilih Itachi, kau harus segera menikah dengannya, sebelum Itachi berangkat.."

Menikah. Ya, umur Sakura memang sudah memenuhi persyaratan hukum untuk menikah. Hanya saja, haruskah masa remajanya luntur karena sebuah ikatan pernikahan? Pernikahan yang diiming-imingi kedua orang tuanya?

Jika memilih Itachi berarti menikah, maka memilih Sasuke adalah satu-satunya cara menghindari semua itu. Ya, Sasuke belum diizinkan untuk menikah oleh Fugaku. Karena itulah, jika Sakura memilih Sasuke maka dia diperbolehkan untuk berpacaran dulu dengan Sasuke. Menikahnya? Nanti, setelah mereka lulus kuliah.

Sebenarnya, pilihan ini tidak memerlukan pemikiran sama sekali. Sakura hanya perlu mengerti akan perasaannya yang sebenarnya. Siapa, yang ada di dalam hatinya saat ini. Siapa, orang beruntung yang akan dipilihnya.

'Gaara...apa yang harus kulakukan sekarang?'

.

"Jadi Ayah Sasuke meminta jawabanmu? Ah, kalau aku jadi kau, aku juga pasti akan kebingungan, Sakura," ujar Ino pelan, ketika mereka tengah duduk berdua di kantin sekolah.

Sakura mendengus halus, "Ya, kau punya saran, Ino?"

Kedua pribadi yang berbeda itu masih baru saling mengenal, belum sampai setahun mereka menjalin hubungan pertemanan. Tapi sekarang, mereka sudah saling berbagi rahasia. Bagaikan sepasang sahabat yang sudah saling mengenal sejak dulu.

"Bagini saja, coba jauhi dulu mereka berdua. Jika suatu saat kau merasa rindu pada salah satu di antara mereka, itu atinya kau mencintai orang itu."

Sakura mengangguk setuju, saran Ino boleh juga. Meski tingkat keberhasilannya memang sangat kecil. Hei, Sakura tidak punya banyak waktu. Jadi segala cara yang ada mutlak dicobanya.

.

.

Jam dinding masih menunjukkan pukul 05.30, namun gadis berambut pink itu sudah tampak siap dengan seragam sekolahnya. Sepertihalnya kemarin, Sakura berniat melarikan diri dari Sasuke. Sayangnya, kemarin usaha Sakura—yang berpura-pura lupa pergi sekolah dengan Sasuke—berhasil digagalkan oleh sang pelayan setia—Yamato. Dengan penuh perhatian, Yamato menegur Sakura saat hampir lolos kabur menuju pintu depan. Padahal, tinggal sedikit lagi misi Sakura itu sukses.

Hari ini pun, Sakura tengah bersiap-siap dengan tas jinjingnya. Dengan perlahan, Sakura membuka pintu kamarnya, memeriksa keadaan sekitar, lalu akhirnya berjalan keluar. Masih sambil mengendap-endap, Sakura terus memerhatikan sekelilingnya—berjaga-jaga jika saja dia kembali bertemu dengan Yamato.

Lantai 1. Sambil menuruni tangga, Sakura mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan. Dalam hati, Sakura terus memohon agar aksinya ini jangan sampai terlihat oleh satu orang pun penghuni rumah. Karena jujur, jika kedapatan Sakura sama sekali tidak memiliki alasan untuk mengelak. Jadi, semoga semuanya berjalan dengan lancar.

Sambil mengamati sekitar, Sakura berharap-harap cemas, ini adalah daerah yang paling rawan. Karena di sekitar sinilah para pelayan biasanya berkumpul. Ah, semoga belum ada yang bangun. Atau paling tidak, semoga tidak ada yang menyadari keberadaan Sakura di sana.

Nyaris saja Sakura berhasil melangkah menuju pintu depan, namun emerald-nya yang indah mendadak menangkap sesuatu yang ganjil. Ya, ruang kerja. Biasanya, ruang kerja itu digunakan Fugaku saat pulang ke rumah. Itupun hanya dimulai sejak sore hingga malam hari—Sakura tahu semua itu dari Yamato. Karena Fugaku akan lebih senang mengurung diri di dalam kamar jika malam telah larut—entah itu untuk melanjutkan pekerjaannya atau untuk beristirahat. Entahlah, tak ada yang tahu—bahkan Yamato—karena belum pernah ada satu orang pun yang berani mengusik Fugaku di waktu tidur itu—terkecuali mediang Isterinya dulu.

Tapi, subuh-subuh seperti ini? Rasanya Fugaku tidak semaniak kerja itu. Lalu kalau begitu, siapa yang ada di dalam? Siapa yang memakai ruang kerja itu sampai-sampai pintunya pun tak tertutup rapat. Ahya, jika Fugaku yang ada di dalam, pasti pintunya tertutup rapat, itulah kebiasaannya. Jadi sudah pasti yang di dalam itu bukanlah Fugaku.

Karena penasaran, Sakura pun mengintip dengan hati-hati dari celah-celah pintu yang terbuka itu. Sakura mengerutkan keningnya dengan kesal. Dia tidak puas. Karena pemandangan yang dilihatnya tidak berarti apa-apa. Hal yang mampu ditangkap oleh irisnya dari celah kecil itu tidak mampu menjawab pertanyaan utamanya.

Dengan sangat perlahan, Sakura mendorong pintu itu sampai terbuka sedikit lebih lebar lagi. Kali ini, Sakura bebas menyeludupkan kepalanya ke dalam. Sedikit saja, dan Sakura berjanji akan segera pergi begitu tahu makhluk apa yang dengan rajinnya bekerja sepagi ini.

"Sedang apa kau, Sakura?"

JDER

Suara itu, Sakura kenal baik suara dingin itu.

Dan benar saja, setelah berbalik dengan robot style, Sakura mendapati langsung sosok pemuda tampan itu berdiri di belakangnya—tetap dengan gaya cool-nya. Pemuda itu balas menatap Sakura dengan sama datarnya—seperti biasa. Sementara perasaan Sakura sudah sangat shock, bagaikan maling yang tertangkap langsung sedang mencuri oleh sang pemilik rumah. Sudah Sakura bilang 'kan, dia tidak punya alasan apapun untuk menyangkal.

Tak punya pilihan lain, Sakura pun hanya tersenyum kikuk. Ha, cara terbaik untuk menghindar dari masalah adalah dengan tersenyum. Karena terkadang, senyum bisa menyelamatkanmu dari situasi separah apapun, itu menurut Sai—si ahli senyum.

"Kau mengintip Aniki?" tebak Sasuke asal, karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Sakura.

Siapa sangka, tuduhan Sasuke itu justru berhasil menjawab pertanyaan besar Sakura tadi. Jadi, yang ada di dalam sana adalah Itachi? Tapi, bukannya Itachi sangat mudah terganggu? Lalu mengapa dia tidak merasa terusik begitu mendengar suara Sasuke tadi? Padahal dulu saja, Itachi mampu menangkap suara tangisan Sakura dari dalam kamarnya. Tapi kali ini, ada dua orang yang berbincang-bincang di depan ruangannya, dan dia sama sekali tidak sadar?

Sakura pun memberanikan diri untuk bertanya, "J-jadi, Itachi-nii ada di dalam?"

"Hn."

Sakura menyeringai licik begitu mendengar jawaban Sasuke. Hei, ada yang ingat perjanjian mereka beberapa minggu yang lalu? Ha, inilah saatnya. Sakura akan membalas dendam atas ciuman Sasuke. Rasakanlah, Itachi~ Tunggu, bukankah mereka sudah sepakat untuk melupakan kejadian itu? Lalu, apa mau Sakura yang sebenarnya?

"Jangan bilang kau?"

Tak perlu kata-kata bagi Uchiha Sasuke untuk menyadari maksud dari seringai Sakura itu. Otak jenius sang Uchiha sadar dan mengerti akan hal itu.

"Ingat perjanjian kita, Sasuke-kun?"

Sasuke menatap lekat emerald yang berkilat di hadapannya, terlihat penuh dengan ambisi. "Kupikir kita sepakat melupakannya?"

Sakura tertawa dalam hati melihat reaksi Sasuke. Ya, Sakura memang berkata untuk melupakan ciuman itu—bukan perjanjian itu. Lagipula, ini sama saja seperti kata pepatah, 'Sambil menyelam, minum air'. Di satu sisi, Sakura bisa membuktikan bahwa dia adalah orang yang sangat memegang teguh perkataannya. Dan di sisi lain, Sakura bisa mencoba memahami perasaannya sendiri—dengan mencium Itachi. Ya, mudah, bukan? Jika Sakura tidak merasakan apapun setelah mencium Itachi, itu artinya dia tidak punya perasaan apapun pada Itachi. Inilah jalan pintas yang dipilih Sakura.

"Kau yakin?" tanya Sasuke ragu.

Hei, yang ingin mencium Itachi itu Sakura, tapi mengapa malah Sasuke yang terlihat gugup? Ayolah, jangan cemburu, Sasuke~

"Akan kubuktikan bahwa aku bukan loser," tegas Sakura. Untuk hal seperti ini, Sakura yakin bahwa dia bisa melakukannya—demi memperjelas perasaannya.

Sesaat kemudian pandangan Sasuke kembali datar seperti biasa. "Baiklah, lakukan saja."

Hm, kau yakin, Sasuke? Kau yakin tidak akan menyesali ini?

Sebenarnya, Sasuke masih ragu akan keberanian Sakura mencium kakak lelakinya. Namun, kepercayaan diri Sakura yang terpancar jelas saat ini seketika membuat Sasuke panasaran. Akankah, gadis sepolos Sakura bisa melakukan hal itu? Ckck, kau belum benar-benar mengenal Sakura, Sasuke.

"Lihat baik-baik, Sasuke-kun."

Dengan yakin, Sakura melangkah memasuki ruangan yang dipenuhi buku-buku serta dokumen-dokumen itu. Sakura bukanlah gadis bodoh yang datang tanpa persiapan. Sakura punya alasan sampai merasa seyakin itu pada keputusannya. Ya, Sakura tahu pasti, bahwa di dalam sana Itachi sedang...tertidur.

DOR

'Benar 'kan? Sudah kuduga...' batin Sakura puas.

Sesaat, Sakura menatap Sasuke dengan pandangan menantang, menikmati ekspresi Sasuke yang sedikit terkejut ketika mendapati kakaknya sedang tertidur pulas di tengah-tengah tumpukan dokumen di atas mejanya.

Sambil mengendap-ngendap, Sakura mendekati Itachi yang masih tertidur di atas kursinya. Kepala Itachi tersandar pada meja di hadapannya, sementara kedua tangannya menggenggam lemah kumpulan kertas-kertas penting itu.

Uh, wajah Itachi saat tertidur terlihat sangat manis. Tak ada tatapan tajamnya yang menusuk, serta tak ada kesan dingin yang terlihat dari irisnya saat ini. Wajahnya, terlihat damai, bagaikan anak kecil yang tertidur pulas. Uh, Sakura menjadi gregetan sendiri. Ingin rasanya dia mengusap lembut pipi menggemaskan itu. Sungguh, Itachi yang sedang tertidur benar-benar membuat Sakura tak tega mengerjainya. Ehm, bukan berarti Sakura tidak ingin menciumnya, loh. Sudahlah, berhenti menatapnya seperti itu dan lekaslah melaksanakan misimu itu, Nona Sakura.

DEG

Sakura mulai gugup, Sasuke berharap-harap cemas. Sakura menelan ludah, Sasuke melotot. Baiklah, kini Sakura sudah siap. Dengan slow motion, Sakura mendekatkan wajahnya ke arah Itachi, bersiap menutup matanya, lalu...

CHUUP~

Kecupan ringan itu mendarat di bibir Itachi. Ringan, singkat, dan penuh makna—ehm, penuh niat terselubung.

Sakura segera menjauhkan diri dari Itachi—takut jika pemuda tampan itu terbangun. Dan sedetik kemudian, Sakura bisa bernapas lega, rupanya ciuman singkatnya tadi tidak mengusik tidur Itachi.

Dengan puas, Sakura berbalik ke belakang, berharap bisa menemukan sosok Sasuke yang melihatnya dengan pandangan tak percaya. Tapi siapa sangka, angan Sakura itu harus pudar begitu saja. Karena sang 'penantang' ternyata tidak ada di sana. Hei, ke mana Uchiha Sasuke pergi?

Karena bingung, Sakura pun bergegas keluar—dengan langkah perlahan—dan mencari pemuda berambut raven itu ke mana-mana. Jangan bilang Sasuke tidak melihat kejadian tadi?

'Sial, ke mana sih dia? Huh, awas saja jika setelah ini dia memintaku me-reka ulang kejadiannya. Aku tidak akan mau lagi...' omel Sakura dalam hati, kesal karena Sasuke tiba-tiba saja pergi dari sana.

Sakura memutuskan untuk berputar-putar di sekitar rumah, namun gadis cantik itu masih belum berhasil juga menemukan orang yang dicarinya. Karena kesal, Sakura pun berjalan ke luar rumah. Entah ke mana kaki jenjang Sakura kini melangkah. Yang pasti, tidak di dalam rumah itu, karena sepertinya si Uchiha bungsu tidak ada di dalam sana.

Dengan langkah yang sengaja disentak-sentak, Sakura berjalan mengelilingi taman, berputar melewati air mancur, dan akhirnya sampai di depan sebuah gedung besar. Ya, gedung itu terlihat biasa saja dari luar. Tapi lagi-lagi, karena dikuasai rasa penasaran, akhirnya Sakura berjalan mengikuti instingnya. Saat sampai di depan pintu, Sakura sedikit mengintip melalui kaca jendela di sisi pintu itu. Rupanya, di dalam sana ada sebuah kolam renang yang sangat besar.

Berniat melihat lebih jauh, Sakura pun memutuskan untuk masuk. Baru saja Sakura mendorong pintu kokoh itu, tapi suara percikan air dari arah kolam renang sudah menyambutnya dengan ramah. Itu artinya ada seseorang yang sedang berenang sekarang. Siapa? Apa mungkin itu, Sasuke?

Ah, Sakura ingat. Saat pertama kali Sakura bertemu dengan Sasuke, pemuda tampan itu mengatakan bahwa dia habis berenang. Mungkin Sasuke memang hobi berenang. Dan mungkin itulah alasan pemuda beriris gelap itu bangun sepagi ini. Ya, masuk akal juga.

Sakura berjalan santai mendekati kolam renang itu, lalu duduk di salah satu kursi di sisi kolam. Dari sana, Sakura dapat melihat langsung siapa gerangan orang yang sedang bermain air itu. Dan ternyata memang benar, itu dia, orang yang sejak tadi dicari-carinya.

Sasuke yang sama sekali tidak menyadari keberadaan Sakura terus berenang hingga ke tepi. Dan saat kepala Sasuke menyembul keluar dengan gaya cool-nya, tanpa sengaja iris onyx-nya menangkap bayangan Sakura—yang tengah duduk manis di hadapannya. Ah, kau tertangkap, Sasuke.

Sasuke menyibak rambutnya a la iklan shampoo di TV, lalu beranjak keluar dari kolam renang dengan santai. Tetes-tetes air yang membasahi tubuh Sasuke menambah kesan sexy pada dirinya yang kini—lagi-lagi—setengah telanjang. Perlahan tapi pasti, Sasuke mendekati Sakura yang entah bagaimana tiba-tiba merasa tidak nyaman karena pandangan Sasuke.

Sasuke mendekat, Sakura mulai gelisah. Sasuke semakin mendekat dan semakin memandang Sakura dengan lekat-lekat. Sakura semakin gugup dan mulai ragu-ragu untuk memandang tubuh menggoda Sasuke.

TAP TAP TAP

DEG DEG DEG

Langkah kaki Sasuke berpacu seiring dengan degupan jantung Sakura. Keduanya saling mengimbangi, hingga Sasuke berhenti tepat di hadapan Sakura. Dengan takut-takut, Sakura memandangi pemuda setengah telanjang di hadapannya itu, hingga Sasuke akhirnya menjulurkan tangannya ke arah Sakura.

'Tidak.. jangan-jangan Sasuke ingin...'

Belum sempat menyelesaikan khayalan ngaconya, Sasuke sudah terlebih dahulu menarik dirinya kembali, setelah mendapatkan barang yang diinginkannya. Sasuke hanya ingin mengambil selembar handuk yang terselip di belakang kursi Sakura. Rupanya Sakura salah paham.

"Kau mengikutiku ke sini?" tanya Sasuke dingin, sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang diambilnya tadi.

Sakura menelan ludah menyaksikan pemandangan indah itu.

"T-tidak, aku tadi mencari-carimu, Sasuke-kun. Rupanya kau sedang sibuk berenang di sini," ujar Sakura dengan penuh penekanan.

Namun rupanya, Sasuke masih ingin berpura-pura tidak tahu. "Hn, jadi kenapa kau mencariku, Sakura?"

Sakura memutar bola matanya dengan kesal, jadi Sasuke mencoba mempermainkannya sekarang?

"Aku sudah mencium Itachi-nii. Dan kita impas," tegas Sakura, sambil tersenyum puas.

Sasuke hanya menatapnya dengan pandangan datar dan dingin seperti biasa. Meski di balik kekelaman onyx itu, ada seberkas kilatan amarah yang terlihat. Ya, air dingin di kolam renang itu rupanya tidak cukup efektif untuk menyegarkan pikiran Sasuke yang mulai tidak karuan. Bahkan hanya dengan memikirkan Sakura mencium Itachi saja, sudah cukup ampuh untuk membuat Sasuke meremas kuat handuk di genggamannya.

"Hn, kita impas," ucapnya setuju.

Sakura terbelalak kaget saat mendengar ucapan Sasuke itu. Sakura tak menyangka, Sasuke akan percaya begitu saja dengan kata-katanya. Padahal Sakura sendiri ragu, apakah tadi Sasuke benar-benar melihat kejadiannya?

"Kita, impas?" tanya Sakura tak percaya. Membuat Sasuke mendengus kesal.

"Hn."

"Kau yakin?"

"Hn."

"Tapi bagai—"

"Kau sudah menciumnya, bukan?" potong Sasuke cepat. Sakura pun mengangguk kecil.

"Kalau begitu semuanya impas."

Dengan cuek, Sasuke melangkah menjauhi Sakura. Namun tentu saja, Sakura belum bisa membiarkan persoalan ini terselesaikan begitu saja. Baginya, ini sangat janggal. Sasuke yang biasanya pasti akan menggodanya dengan kata-kata mesumnya. Atau minimal mengolok-oloknya karena ciuman tadi. Tapi, kini Sasuke yang ada di hadapannya terlihat sangat berbeda.

"Tunggu, Sasuke-kun," sergah Sakura dengan gesit, sembari menahan pergelangan tangan Sasuke.

Sasuke menatap Sakura dengan tajam. Sementara Sakura hanya terdiam—masih sambil menggenggam tangan Sasuke—seraya memandangi onyx Sasuke dalam-dalam. Mencoba menembus masuk ke dalam kegelapan manik Sasuke.

CHUUP~

Dengan satu gerakan, Sasuke menarik kepala Sakura dan mencium lembut bibir merah muda gadis itu. Sakura terkejut. Tapi gadis itu tidak menolak, tidak pula membalas. Sakura hanya terdiam, membiarkan Sasuke bermain dengan bibirnya.

Ciuman lembut itu tidak berlangsung lama, mungkin cuma sembilan detik. Karena Sasuke segera sadar akan kekhilafannya dan menjauh dari Sakura. Sasuke menarik dirinya mundur dan segera berbalik membelakangi gadis itu.

"Argh, berhenti menatapku seperti itu. Kau membuatku nyaris gila," gerutu Sasuke—masih dengan posisi yang sama—sambil berjalan pergi meninggalkan Sakura.

Sakura? Tak ada yang mampu dilakukannya saat ini. Pandangannya kosong, terpaku pada sosok Sasuke yang menjauh. Dan degupan jantungnya yang memburu membuat pergerakannya terkunci. Entahlah, Sakura sendiri juga bingung dengan dirinya.

.

Uchiha Sasuke berjalan dengan langkah yang brutal. Sosok yang biasanya sangat tenang dan stay cool itu kini terlihat kelimpungan. Ada apa dengannya?

"Sasuke," sapa Itachi, saat berpapasan dengan adik kecilnya itu.

Respon Sasuke? Membuang muka ke arah lain. Ha, sudah jelas sekarang, ada yang salah dengannya.

Sasuke segera menyegarkan diri ketika sampai di kamar miliknya. Dinyalakannya shower dengan tak sabaran, lalu dibiarkannya air yang dingin itu menyapu permukaan kulitnya. Ah, semua hal ini membuat Sasuke sedikit tertekan. Semuanya berubah sejak negara api menyera—ehm, sahabat kecilnya itu datang kembali di kehidupannya.

Memori tentang kejadian tadi pagi kembali berputar di kepala Sasuke, saat kedua onyx itu terpejam menikmati dinginnya air yang mengalir di tubuhnya. Memang benar, Sasuke tidak melihat langsung kejadian tadi—saat Sakura mencium Itachi. Karena ketika gadis itu mulai mendekatkan wajahnya ke arah kakak lelakinya, Sasuke sudah memalingkan wajahnya dan berlalu pergi. Terserah, Sasuke tidak peduli jika Sakura benar-benar mencium Itachi. Dan Sasuke merasa, dia tidak perlu menyaksikan semua itu. Tidak penting.

Namun semua itu terus terbesit di benaknya. Karena itulah Sasuke beranjak pergi untuk berenang, sekedar untuk menyegarkan pikirannya. Namun siapa sangka, Sakura dengan segala kehebatannya mampu menemukannya di sana. Saat itulah emosi Sasuke kembali naik. Apalagi ketika mendengar pengakuan Sakura—bahwa dia telah benar-benar mencium Itachi. Ha, itulah yang memicu tindakan nekat Sasuke tadi. Tindakan yang sudah membuat wajahnya merona sesaat. Memikirkan omongan Sakura—yang mengatakan bahwa mereka impas—membuat Sasuke tidak sudi. Ya, Sasuke tidak sudi jika di bibir Sakura masih tersisa bekas-bekas ciumannya dengan Itachi, karena itulah Sasuke tadi menghapusnya. Menghapus bekas itu dengan caranya sendiri.

.

.

.

TBC


Author's line:

Uh, maaf, rasanya chapter ini tidak memuaskan *pundung* Ini kesalahanku, murni salahku. Karena sebenarnya, konsep awalnya fic ini nggak begitu rumit, sekarang jadinya malah complicated seperti ini *pundung lagi* Argh, rasanya aneh aja kalau SasuSaku menyatu dengan begitu mudah—tanpa konflik yang berarti. Karena menurutku, sesuatu yang sulit diraih itu, pasti akan bertahan lama :) Makanya, SasuSaku-nya harus melalui banyak cobaan dulu, gomen ^^

Yosh, sepertinya semuanya mulai jelas sekarang, benar 'kan? Sudah sangat jelas bahwa Sasuke itu telah jatuh hati pada Sakura—hanya dia belum MAU menyadarinya saja. Dan sudah jelas bahwa Sakura MASIH berharap pada suamiku—ehm, Gaara #dihajar Gaara fg

Ehm, ada yang request GaaSaku? Hihi, okelah, akan kupinjamin suamiku nanti ^^

Yosh, masih sudikah para readers yang baik hati memberikanku, sekotak REVIEW? Saran, kritikan, keluhan, semuanya kuterima kok ^^ soalnya chapter ini rasanya garing banget -_-"

Insyaallah PM apdet setiap Sabtu/minggu, jadi silahkan berkunjung di hari-hari itu aja XP

Yosh, makasih buat siders dan readers yang sudah memberikanku review di chapter kemarin :) Tanpa kalian, fic ini tidak akan ter-update seminggu sekali *eh* Oke, ini balasannya, yang log in kubalas lewat PM yaa :)

QRen: Hehe, maaf karena nggak bisa membuat fic ini minim konflik *jleb* tapi tenang saja, Itachi nggak akan salah paham dan mencoba menggait Sakura. Tidak kok, SasuSaku tetep berjaya di setiap chapter *loh* hidup SasuSaku XD *mulai gaje*

Sasusaku 4ever: Hahaha, mau? Mau aja atau mau banget? *dijambak* Gampang kok, minta aja copy-annya sama fotografernya Sasuke *loh* Ini lanjut~ ^^

Koibito cherry: Hahaha, makasih ^^ Maaf ya, ItaSakunya di pending, kepanjangan kalau dipaksain masuk disini, hehe. Okesip, nanti Gaara muncul kok, hihi *smirk gaje* Heihei, untuk yang satu itu, dengan sangat terpaksa kukatakan 'tidak' maafya? hoho, minggu ini aja saya lagi MID *curcol* Jadi, rada susah curi-curi waktu buat ngetik fic ini. Seminggu sekali aja susah, apalagi seminggu dua kali? *pundung dengan hati yang pilu* #dibakar

chokyu parkji: Huwaaah~ *lompat kodok (?) bareng Itachi* kau jatuh cinta pada fic-ku? Kau membuatku jatuh cinta pada dirimu~ *eh* Hoho, seperti kataku di chapter kemarin, ficnya di update sekali seminggu (Minggu/Sabtu) jadi nantikan aja di hari-hari ituya, hehe.

Michiko Haruno: Hohoho, chapter ini lebih panjang lagi, kuharap kau lebih senang lagi *loh* Hihi, ada alasan dibalik itu semua *sok misterius* nanti juga kebongkar kok, hihi XD Hahaha, soal itu, dimatanya Sakura, memang ada hint SasuHina. Tapi sekali lagi, itu cuma dimata Sakura aja~ Hoho, ItaSaku cuma buat lucu-lucuan aja kok ^^ Ofcourse *sok* Suamiku *dijitak* akan muncul nanti, setelah klimaks permasalahan antara SasuSaku usai *kejam* Nggak papa kok, lain kali satu pertanyaan bayar seribu ya~ #plak

Itzuka: Makasih ^^ Iyaa, ini lanjut~ maaf lama XP

Sampai ketemu sabtu/minggu depan \^o^/

REVIEW yaaa~ ^^

Arigatou :)