DON'T LIKE, DON'T READ
Title : Pilihan Menjebak
Disclamer : Masashi Kishimoto
Warnings : OOC, AU, Typo (s), Miss typo, Rumit, Rate M untuk bahasa, Chapter panjang, NO LEMON, dll
Maaf kalau jelek :)
Story by: Bii Akari
Enjoy~
.
.
.
NORMAL POV
KRUUUUK~
Sakura terbangun dengan perut yang keroncongan. Jangan tanya alasannya mengapa, karena gadis itu sangat tidak ingin membahasnya. Jika saja Sasuke tidak melakukan hal seperti 'itu' padanya, mungkin Sakura tidak akan merasa selapar ini sekarang.
Usai mencium Sakura dengan seenaknya kemarin, Sasuke tiba-tiba saja merasa tidak enak badan, dan batal pergi sekolah. Akibatnya, gadis berambut pink itu harus berangkat ke sekolah bersama Yamato. Tapi tenang, bukan itu penyebab Sakura menjadi bad mood sejak kemarin. Ha, mood Sakura sudah terlebih dahulu 'hancur' akibat perlakuan sang Uchiha bungsu itu. Dan kehilangan nafsuh makan adalah salah satu gejalanya.
"Sakura, hari ini Sasuke berangkat duluan, katanya dia punya urusan. Kau tidak keberatan berangkat bersama Yamato lagi 'kan?" tanya Fugaku hati-hati, tepat ketika isi piringnya telah habis sepenuhnya.
Sakura cukup terkejut, namun sesaat kemudian gadis itu tersenyum lemah. "Ya, aku tidak apa-apa."
"Tou-san, aku bisa mengantar Sakura pagi ini, kok. Kau mau 'kan Sakura?" tawar Itachi ramah. Sakura yang mulai merasa dirinya terombang-ambing pun hanya bisa mengangguk kecil.
Tapi, bukankah ini yang kau inginkan, Sakura? Kau memang ingin menjauh dari Tuan Mesum itu, bukan?
.
Berbeda dengan suasana di mobil Sasuke. Mobil Itachi lebih terlihat simple dan teratur. Seperti kata Yamato, Itachi tidak begitu suka dengan kebisingan, karena itulah di mobil Itachi hanya terdengar suara alunan musik instrumen yang merdu. Dan suasana yang sepi itu mulai membuat Sakura merasa tidak nyaman.
"Itachi-nii?" panggil Sakura pelan, sedikit mencuri perhatian Itachi.
"Hn?"
"Apa Sasuke-kun pergi tanpa mengatakan apapun, tadi?"
Uh, Sakura menggigit bibir bawahnya dengan kesal. Bagaimana mungkin dia bertanya hal seperti itu? Sejak kapan suaranya bisa keluar sendiri tanpa terkonfirmasi dulu oleh otaknya?
"Tidak," jawab Itachi singkat, sambil melirik Sakura dari ekor matanya. Dan Itachi dapat menangkap langsung sang emerald yang spontan meredup.
"Kalian bertengkar?"
Entah virus KEPO dari mana yang cukup ampuh merasuki sang Uchiha sulung yang tampan itu. Sungguh, dan apa-apaan senyum menggodanya itu, hah? Seolah-olah Sasuke dan Sakura adalah sepasang kekasih saja.
"T-tidak," jawab Sakura cepat, meski terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaan Itachi yang tiba-tiba tadi.
"Kau bisa cerita padaku, Sakura. Tak perlu malu-malu."
"E-ee?"
Sakura panik, takut, ragu, dan mulai gugup. Karena semakin lama, ucapan Itachi semakin menjurus dan ter-arah. Yang dengan segala ketajamannya mampu membuat Sakura menjadi gelisah.
"B-bukan begitu aku dan Sasu—"
"Aku mengenal Sasuke dengan baik, Sakura. Dan aku tahu, ada yang mengusik dirinya sejak kemarin."
DOR
Kode keras, Haruno Sakura~ Kau masih ingin keras kepala menyangkal?
"Oke, kau menang, Itachi-nii," jeda sesaat, Sakura mendengus pasrah sambil menyandarkan dirinya di jok mobil Itachi. "Aku dan Sasuke-kun memang sedikit bermasalah kemarin. Tapi tak apa, semuanya baik-baik saja, kok," sambung Sakura, lengkap dengan senyum manisnya.
Itachi tersenyum kecil, dalam hati pemuda itu membatin, 'Tak kusangka, masalahnya akan serumit ini...'
"Jika itu masalah ciuman kemarin, aku akan coba membantumu berbicara dengan Sasuke."
TOENG
Kau dengar itu, Sakura? Itachi membahas masalah ciuman! Ciuman~ Itu artinya, dia menyadarinya~
"I-Itachi-nii—"
"Tak perlu terkejut seperti itu, Sakura. Aku tidak masalah, kau tenang saja," potong Itachi cuek, sembari memandang Sakura dengan geli. Ha, Itachi cukup menikmati ekspresi Sakura yang lucu itu. Cukup menghiburnya.
"T-tapi, bagaimana bisa, Itachi-nii? Bukannya kau sedang tertidur?" tanya Sakura tak percaya.
Itachi kembali tersenyum kecil. "Ah, mudah saja. Saat aku terbangun, bibirku terasa manis. Hmm, seperti rasa, cherry~"
BLUSH
Sakura pun tertunduk malu. Ya, malu karena kemarin dia dengan seenak dengkulnya mencium pemuda tampan di sampingnya itu. Argh, jika bukan karena taruhan konyolnya dengan Sasuke—ditambah desakan Fugaku—hal seperti ini pasti tidak akan terjadi.
"Lalu, mengapa kau yakin bahwa itu, aku?" tanya Sakura lagi, masih belum bisa menerima alasan Itachi yang sangat simple.
"Siapa lagi yang cukup berani menciumku, hm?"
BLUSH
"Lagipula, para pelayan tidak diizinkan memakai lipgloss." Itachi mengerling menang, sebelum ia menambahkan, "Dan aku tidak mungkin memakai benda seperti itu." Tawanya pecah.
Uh no, kini kau tidak bisa mengelak lagi, Sakura.
"M-maaf, Itachi-nii," ucap Sakura tulus, bercampur rasa takut dan malu yang berkecamuk di dalam dirinya. Itachi pun mengganguk penuh pengertian.
"Tak apa, lagipula kau juga pasti punya alasan tersendiri sampai nekat melakukannya," ujar Itachi, lengkap dengan senyum mautnya yang mempesona. Ha, tak salah Itachi dibilang jenius. Dia bahkan jauh lebih bijak dari umurnya.
Sakura pun tertawa kikuk. Uh, untung Itachi tidak mempermasalahkan persoalan itu.
"Arigatou. T-tapi, kurasa kau tidak perlu membicarakan ini dengan Sasuke-kun. Aku bisa menyelesaikannya sediri kok, tak perlu repot-repot, Itachi-nii," sergah Sakura, bersamaan dengan lengkungan bibirnya yang tertarik pelan ke atas, membentuk seulas senyum tipis yang sangat manis.
"Hn, terserah kau saja. Tapi, jangan ragu meminta bantuanku jika kau butuh, Sakura."
.
Sakura turun dengan perlahan dari mobil Itachi. Huh, di saat seperti ini, sebenarnya yang Sakura butuhkan hanyalah sosok seperti Itachi—yang sudi menjadi tempatnya berkeluh kesah. Ya, Itachi sangat cocok menjadi seorang kakak, sikapnya bijak dan dewasa. Uh, gadis mana yang tidak ingin punya kakak sepertinya? Author saja mau #eh
Ehm, oleh karena itulah, Sakura sekarang jadi berpikir keras menganai hubungannya dengan Itachi. Apa mereka bisa disebut sebagai sepasang kekasih? Err, mungkin lebih tampak seperti sepasang saudara. Karena dilihat dari manapun, Sakura masih terlalu 'kecil' untuk bisa bersanding dengan pemuda seperti Itachi. Hmm, begitulah kira-kira.
Sambil berjalan menuju kelasnya, Sakura terus-menerus berpikir mengenai perjodohannya itu. Jika memang Sakura tidak memiliki rasa apapun—cinta—pada Itachi, maka gadis itu tidak ingin menyia-nyiakan hidup Itachi untuk dirinya. Sakura, tidak ingin merugikan Itachi sedikit pun.
Tapi, jika bukan Itachi, itu artinya. Yah, tak ada pilihan lain. Satu-satunya pilihan yang tertinggal hanyalah pemuda berambut raven itu—yang telah resmi ter-blacklist dari daftar pilihan. Uh, Sakura merasa aneh sendiri jika memikirkan dia dan Sasuke menjadi sepasang—
"Hei, Sakura~"
"Kyaaa~ Aku tidak mencintai Sas—ups!"
—kekasih.
Ino terlihat heran, meski tangan kanannya masih tetap merangkul pundak Sakura dari samping seperti tadi. "Kau kenapa, Sakura?" tanyanya bingung.
Sakura pun menjadi salah tingkah. Sudah sangat beruntung dia tidak menyebutkan nama 'orang yang dimaksudnya' tadi. Jika tidak, mungkin gosip akan semakin menyebar dan menjalar dalam waktu singkat.
"T-tidak kok, Ino," elak Sakura lekas, sebelum wajahnya merona karena menahan malu.
Ino menatap Sakura dengan pandangan menyelidik. Hm, Ino gadis yang cerdas, dan dia tahu ada yang salah dengan tingkah Sakura pagi ini.
"Sas? Ha, maksudmu Sasuke? Hahaha~ tak kusangka kau begitu mencintainya, Sakura~" ledek Ino, lengkap dengan juluran lidahnya.
Uhuh, Sakura hanya bisa terdiam di tempat, sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam karena malu. Bagaimana tidak? Suara Yamanaka Ino kini menggelegar sepanjang jalan, memancing beribu pasang mata menatap Sakura dengan pandangan yang berbeda-beda.
.
Bel masuk telah berbunyi sejak tadi, namun guru tampan yang baru berusia 20-an itu masih belum tampak sampai sekarang. Ya, Hatake Kakashi kelihatannya masih tersesat di jalan hidupnya—lagi.
"Sakura, ke kantin, yuk?" tawar Ino ramah, sembari mengamati wajah bosan Sakura dengan lekat. Sementara sang lawan bicara hanya mendengus pendek dan menggeleng singkat.
"Malas," gumamnya datar.
Tidak salah lagi, Sakura masih bad mood.
Ino menatap Sakura dengan heran, berniat membaca apa yang ada di pikiran gadis bersurai merah muda itu. Dan sejurus kemudian, gadis pirang itu tersenyum puas. "Kau pasti masih memikirkan Sas—"
"Kita bicara di kantin."
Belum sempat menyebut nama sang 'tersangka' yang berhasil membuat Sakura uring-uringan sejak kemarin, Sakura sudah terlebih dulu melempar death glare dan menarik paksa tangan Ino keluar kelas, menuju kantin.
Sesampainya di kantin, Ino segera memesan minuman pada si pelayan dan lalu kembali memandang Sakura dengan tatapan herannya. Nah 'kan, lagi-lagi Sakura terlihat merenung.
"Kau benar-benar kepikiran Sasuke?" tanya Ino to the point, membuat Sakura memandangnya dengan pandangan tidak-aku-cuma-lagi-kepikiran-Sai.
"Baiklah-baiklah," jeda sesaat, Ino tampak melambai-lambaikan tangannya dengan santai, sembari mengangguk-angguk mengerti. "Bagaimana jika kau duluan yang mengajaknya bicara?"
Sakura langsung saja melempar pandangan tajamnya ke arah Ino. Gadis itu sudah gila? Sakura diminta 'berbicara' duluan? Padahal yang seharusnya berbicara—minta maaf—adalah sang Uchiha, bukan Haruno!
"Uh, kau tahu, Sakura. Terkadang, laki-laki itu sulit dimengerti. Namun, jika kau sedikit lebih menyipitkan matamu lagi, kau bisa membaca mereka dengan jelas."
Sakura sedikit termenung, memikirkan ucapan gadis pirang yang tengah asyik menyeruput jus jeruknya itu.
Sejenak, Sakura mengaduk-aduk minumannya dengan perlahan, masih memikirkan ucapan Ino. "Memangnya, apa yang bisa kubaca dari seseorang seperti dia?"
Pertanyaan yang menarik. Ino pun tak kuasa menahan senyum menantangnya.
"Entahlah, mungkin kau bisa tahu apa maunya, atau pikirannya," jeda lagi, Ino memasang smirk andalannya sembari melirik ke langit-langit atas. "... atau mungkin, perasaannya."
JLEB
.
Sakura berjalan dengan terburu-buru melawan arus. Bel istirahat baru saja berbunyi dan Sakura tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Dia harus cepat, jika tidak ingin terlambat.
Belakangan ini, Uchiha Sasuke selalu menghindar darinya. Sakura memang telah menyadarinya sejak kemarin-kemarin. Hanya saja, Sakura tidak berpikir hal ini akan berlangsung begitu lama. Hei, sudah tiga hari mereka tidak bertemu. Mana tahan Sakura berdiam-diaman seperti ini? Uhm, bukan berarti Sakura 'rindu' padanya, ya—Sakura bersikeras tak ingin mengakuinya. Tapi sungguh, Sakura hanya ingin menyelesaikan perkaranya ini secepat mungkin.
Berniat mengikuti saran Ino kemarin, Sakura pun segera mengambil kesempatan emas—saat jam istirahat—untuk bertemu dengan Sasuke. Semoga saja Sasuke belum pergi ke mana-mana—semoga.
Sakura terpaksa mengintip dari celah jendela, sebab beberapa siswa tampak berdesak-desakan di ambang pintu, tak menyisakan sedikit tempat untuknya agar dapat menyusup masuk.
"Huh," dengusan kesal Sakura terdengar berat, dan wajah kecewa gadis itu memperjelas semuanya. Ini sungguh menyebalkan—bagi Sakura. Susah payah gadis itu menyelundup keluar secepat mungkin dari kelasnya, bahkan ia sampai berlari-lari kecil melewati koridor, tapi hasilnya... nihil. Sasuke tidak ada di sana.
"S-sakura-san?"
Seorang gadis bersurai gelap tengah berdiri di samping Sakura, sembari menatap Sakura dengan bola mata lavender-nya.
Sakura yang sedikit terkejut hanya bisa memasang senyum kikuknya. "A-aa—"
Ketahuan. Kau ketahuan, Sakura. Dan kini, gadis di sampingmu itu—mungkin—akan mencurigaimu yang tidak-tidak.
Hinata menunduk, menandakan bahwa dia masih malu berbicara dengan gadis yang sebelumnya sempat membuatnya pingsan itu. "K-kau mencari Sasuke-kun?" tanyanya pelan, sambil memainkan jari-jarinya dengan gugup.
Sakura terbelalak. Terbongkar sudah niatmu itu, Sakura.
"Kau melihatnya, Hinata?"
Jujur, saat ini bukan itu yang ingin dikatakan Sakura. Tapi, waktunya sudah tidak banyak lagi—Itachi sebentar lagi akan pergi ke luar negeri—dan Sakura harus buru-buru menyelesaikan permasalahannya dengan Sasuke, sebelum memutuskan apa pilihannya.
Dengan takut-takut, Hinata mengangkat sebelah tangannya dan tersenyum kikuk. "S-sepertinya, tadi Sasuke-kun pergi ke atap sekolah." Telunjuk lentiknya mengarah ke tangga kecil yang terletak di bagian paling pojok koridor.
Emerald Sakura kembali berkilat, menandakan sang empunya merasa puas mendengar jawaban Hinata. Sesaat kemudian, Sakura tersenyum manis, "Arigatou, Hinata."
Dan meninggalkan Hinata dengan wajah yang tertunduk. Entahlah, mungkin gadis pemalu itu menyesal karena telah memberitahu kebenarannya pada Sakura. Hmm, kau terlalu jujur, Hinata.
.
Angin bersemilir ringan, menerbangkan beberapa helai daun yang telah rapuh termakan usia. Mentari tetap bersinar cerah, tak peduli bahwa sinarnya kini tengah asyik dikonsumsi oleh pemuda berambut raven itu.
Sasuke memejamkan matanya, menikmati setiap senti wajahnya yang dikecup mesra sinar mentari. Tangannya sedikit terangkat, berusaha menikmati cahaya mentari pagi yang menyapa seluruh tubuh berbalut seragam sekolahnya. Lelah, dua kancing teratasnya dengan buru-buru ia buka, guna menghilangkan rasa penat yang sejak beberapa hari yang lalu mengerubunginya. Namun sayang, alih-alih merasa lebih longgar, perasaan pemuda tampan itu justru semakin tak menentu.
'Aku sudah mencium Itachi-nii, dan kita impas.'
Kalimat—yang demi apapun juga—sangat tidak enak di telinga Sasuke kembali berdengung. Pemuda itu bahkan lebih memilih mendengar teriakan fangirl-nya selama berjam-jam dibanding mendengar kalimat penuh penekanan itu mengalun dari bibir gadis yang—ehm—mungkin adalah jodohnya itu.
Sasuke menarik napas lagi, bibir tipisnya menggumamkan sesuatu—terlalu absurd hingga tak terbaca. Sesaat kemudian, pemuda tampan itu menyentuh dada bidangnya, mencoba mendeteksi rasa sesak yang menyelimutinya belakangan ini.
"Sasuke-kun~"
Sang onyx kembali menampakkan wujudnya, menyapa si pengganggu dengan pandangan tidak suka. "Mau apa kau ke sini?"
Setajam-tajamnya onyx itu melirik, gadis berkacamata—Karin—itu tetap bersikukuh mendekat ke arah sang pangeran sekolah, masih dengan senyum menggodanya. "Aaa~ Jangan menatapku seperti itu, Sasuke-kun. Aku hanya ingin menghiburmu, karena sepertinya kau sedang ada masalah," alibi Karin, setengah jujur. Setengah lagi terselubungi niat untuk menjerat Sasuke agar mau menjadi miliknya—hanya miliknya seorang.
Sasuke mengalihkan tatapannya dengan dingin, kedua tangannya kini ia masukkan ke dalam saku celananya. Sedetik kemudian, Sasuke bangkit dari duduknya—tepat saat Karin mendaratkan pantatnya di samping Sasuke.
"Tunggu, Sasuke-kun~ Kau mau ke mana, hm?"
Dengan kecepatan tinggi, Karin bergegas berdiri kembali, meraih salah satu lengan Sasuke lalu memeluknya dengan erat-erat—membuat sang empunya merasa risih tak ketulungan.
"Lepaskan."
Karin menggerutu pelan, merasa sebal karena sikap pangeran pujaannya itu berubah semakin dingin padanya akhir-akhir ini—tepatnya ketika si pangeran digosipkan dekat dengan seorang murid baru berambut merah muda. Karin mendengus kesal, begitu otaknya kembali menyimpulkan bahwa ini semua adalah salah dari anak baru itu.
"Ayolah Sasuke-kun~ Jam istirahat masih panjang, lagipula aku kosong kok hari ini," goda Karin manja, masih sambil menempelkan diri pada dada kiri Sasuke. Dielus-elusnya lengan kiri Sasuke dengan lembut, mencoba meruntuhkan pertahanan sang Uchiha. "Kita sudah lama tidak jalan bersama, temani aku hari ini. Oke, Sasuke-kun?"
Sasuke mendengus, sama sekali tak berniat menatap atau sekedar melirik Karin yang bergeliat manja di sampingnya. Pandangannya tetap kosong, melayang pada gadis merah muda yang selalu hadir dalam pikirannya belakangan ini.
'Aku sudah mencium Itachi-nii, dan kita impas.'
"Kau tahu, aku sangat kesal ketika mendengar kabar kedekatanmu dengan anak baru itu, Sasuke-kun. Bahkan gosipnya, kau telah menciumnya di kantin pada hari pertamanya, benarkah itu, Sasuke-kun?"
Sasuke tak menjawab, tubuhnya pun masih tetap mematung seperti tadi. Memancing Karin untuk kembali melanjutkan curhatan tidak pentingnya.
"Dan meski tidak melihatnya secara langsung, aku tetap cemburu. Aku cemburu karena kau telah mencium gadis lain di depan um—"
Ucapan Karin terhenti, diintrupsi oleh ciuman ganas yang diberikan Sasuke untuknya. Posisi mereka pun kini telah jauh berubah dari sebelumnya. Sasuke mencengkram kedua bahu Karin dengan kuat-kuat, menahan emosinya yang seakan ingin meledak-ledak. Sementara Karin tampak kewalahan menangani permainan lidah Sasuke yang sangat kasar dan brutal—tapi justru inilah yang disukai Karin. Dengan mesra, Karin melingkarkan kedua lengannya di tengkuk Sasuke, merasa semakin gila karena ciuman panas mereka berdua.
'Memangnya kenapa kalau kau mencium dia? Aku juga bisa mencium gadis lain selain dirimu, Haruno..'
Dan siapa sangka, pikiran seorang Uchiha dikala galau ternyata sedangkal ini. Ciuman dibalas ciuman. Cinta dibalas cinta. Se-sederhana inikah hidup? Jika iya, maka gadis berhelai merah muda itu seharusnya tidak berdiri di ambang pintu saat ini—seharusnya dia tidak menyaksikan ini semua secara live. Seharusnya dia... tidak ada di sana. Tapi takdir berkata lain, hidup itu tidak se-sederhana konsep antaberantah Sasuke tadi.
.
Gadis berhelai merah muda itu berlari dengan bringas, ia bahkan tak memerdulikan nasib orang-orang yang ditabraknya tadi. Yang diinginkannya sekarang hanyalah seseorang—seseorang yang tahu betul seluk-beluk permasalahannya sekarang.
Dengan napas yang ngos-ngosan, serta peluh yang melumuri pelipisnya, Sakura mendobrak pintu kelasnya dengan ganas. "Mana Ino?!"
.
"Tenanglah, Sakura. Aku tahu kau cemburu tap—"
"Aku tidak cemburu, Ino," potong Sakura cepat, seraya melipat kedua tangannya di depan dada—tak terima pada ucapan Ino tadi. "Aku hanya tidak menyangka Sasuke bisa melakukan itu pada Karin. Kau ingat apa yang dilakukan Karin padaku dulu 'kan?"
Ino mendengus pendek seraya mengangguk pelan. Ya, mana mungkin ia lupa pada apa yang dilakukan oleh Karin—ketua Sasuke fanclub—itu berbulan-bulan yang lalu. Keterlaluan memang—Karin memasang kamera mikro di ruang ganti saat Sakura hendak berganti baju. Namun karena Sakura berhasil membaca akal bulus Karin, maka keadaan menjadi berbanding terbalik. Ehm, Sakura menghancurkan kamera super mahal milik Karin dan malah balas menampar dan menarik baju Karin hingga sobek kala itu—beruntung sudah lewat jam sekolah, jika tidak mungkin Sakura akan mendapat masalah.
Dan yang membuat Sakura tak terima adalah, Sasuke tahu pasti bahwa Karin-lah yang melakukan hal itu pada Sakura. Sasuke tahu Karin jahat, tapi Sasuke malah berciuman dengannya? Apa Sasuke sadar?
Seraya berdecak kesal, Sakura pun melempar pandangannya ke sembarang arah. Dan berkat bantuan takdir—lagi—kali ini sang emerald dipertemukan kembali dengan sang lavender. Hyuuga Hinata tampak berjalan memasuki areal kantin, dengan gugup gadis itu tersenyum ramah begitu pandangannya bertemu dengan Sakura.
"Dan kau tahu parahnya apa, Ino?" desah Sakura dingin, masih sambil menatap garang Hinata di ujung sana. "Yang menyuruhku ke atap adalah Hinata. Dia pasti sudah tahu semua ini. Coba pikir, apa maksudnya dia menga—"
"Hinata bukan orang yang seperti itu, Sakura," potong Ino cepat, merasa bahwa ucapan Sakura kali ini sudah kelewatan. Ino pun mengikuti arah pandang Sakura, dan melambai kecil pada sosok gadis keturunan bangsawan itu. "Kalau kau tak percaya, kita tanya saja langsung."
Tanpa menunggu lebih lama lagi, sang Hyuuga telah dipersilahkan duduk oleh Ino di bangku mereka. Hinata tersenyum canggung, sambil memainkan jari-jarinya lagi.
"Kau sudah tahu 'kan kalau Karin dan Sasuke berada di atap?"
Pertanyaan langsung Sakura yang tak dibumbui basa-basi sama sekali seketika itu juga membuat Hinata tersentak. Gadis cantik itu lalu mengangguk pelan, dan dengan ragu-ragu kembali menatap sang lawan bicara. "I-iya Sakura-san. Karin-san juga menanyakan hal yang sama padaku sesaat sebelum kau datang," jawab gadis itu jujur, Sakura pun menaikkan sebelah alisnya—menantang dengan setengah tak percaya.
"Lalu, mengapa kau menyuruhku ke atap? Kau sendiri pasti tahu bahwa mereka berdua sedang ber—"
"Sakura!"
Teguran tegas Ino dengan sukses membungkam mulut Sakura, gadis itupun mendesah pendek—diam sesuai perintah si pirang.
"Maaf, Hinata. Tapi, apa kau tahu apa yang dilakukan Sasuke dan Karin di atas atap?" tanya Ino sopan, disertai senyuman tipisnya yang langka.
Hinata terlihat sedikit heran, namun sesaat kemudian gadis berambut panjang itu hanya menggeleng pelan. "Karin-san tidak bilang apa-apa."
Dan kedua gadis di hadapan Hinata itu hanya bisa saling pandang-pangandangan dengan penuh arti. Rupanya Hyuuga Hinata masih lebih polos dibanding Haruno Sakura—bersyukurlah Ino berhasil mendidik Sakura selama berbulan-bulan ini.
.
.
Seminggu tak bercakap dengan Haruno Sakura rasanya bagai pil pahit yang harus ditelan Sasuke sekali setiap detiknya. Entah sejak kapan, tapi eksistensi Sakura telah menjadi candu bagi pemuda keturunan Uchiha itu. Sasuke kembali menyesap rokok yang terselip di antara himpitan bibirnya dengan nikmat—kebiasaan barunya sejak seminggu yang lalu. Tidak buruk juga, pikirnya.
Seperti sejak awal masuk ke KHS, rooftop selalu menjadi tujuan utama Sasuke—terlebih lagi ketika hatinya tengah gundah gulana seperti sekarang. "Cih." Sasuke mencabut paksa puntung rokok itu dari mulutnya, menyemburkan asap rokok melalui celah hidungnya, lalu mendecih pilu. Sasuke hancur seperti ini hanya karena seorang wanita—sungguh memalukan.
Mentari yang terik masih berjaya di atas sana, seolah menertawakan Sasuke atas aksi pengecutnya yang hanya berani memandang Sakura dari jarak jauh—dari tempatnya sekarang. Onyx sekelam malam itu kembali menunduk, melirik diam-diam gadis berhelai merah muda di bawah sana. Tak begitu tampak jelas, memang. Tapi cukup ampuh untuk mengikis secuil rasa rindu Sasuke.
Sampai kapan dia akan seperti ini?—Itu juga merupakan pertanyaan besar baginya, mengingat perasaannya tak kunjung membaik dan pulih juga—malah mungkin semakin parah. Lihatlah ia sekarang, bersandar santai dengan kedua siku yang menopang tubuhnya di tembok pinggir rooftop sekolahnya. Bajunya keluar separoh, kancing atasnya terbuka dua biji, wajahnya kusut—setidaknya, begitu kata Itachi pagi tadi—dan yang terparah, sebatang rokok yang terjepit di sela-sela jemarinya. Uchiha Sasuke belum pernah terlihat separah ini sebelumnya.
Hendak menengok keadaan Sakura lagi, Sasuke pun menarik onyx-nya dari gumpalan awan-awan tebal yang semula ia amati. Sial. Sakura memergokinya dengan telak. Terkejut, Sasuke pun membalik badannya dengan segera—meski sempat terjadi adu tatap antara mereka berdua.
Sakura memicingkan matanya dengan lebih fokus, sedikit tak percaya pada apa yang baru saja ia lihat. Sasuke? Dengan sepuntung rokok yang masih menyala di tangannya? Yang benar saja, Sasuke pernah bercerita mengenai kebenciannya pada benda mematikan itu—terlebih lagi, di keluarga Sasuke memang tak ada satu orang pun yang suka merokok. Tapi sekarang? Sasuke berdua-duaan bersama sebatang rokok?
Dengan sekali hentak, Sakura memacu sepatu ketsnya menaiki tangga—tak memerdulikan teriakan teman-teman sepergaulannya yang protes karena mendadak ditinggal begitu saja. Meski tak begitu cepat, tapi Sakura yakin masih bisa menyusul Sasuke di atas sana. Sedikit lagi, tunggulah sedikit lagi.
Suara dobrakan kasar Sakura terdengar jelas, menghantam dinding beton di belakang pintu berpanel besi itu. Napas Sakura terpotong-potong, ditumpunya kedua telapak tangannya tepat di kedua lututnya—berusaha keras menepis rasa pegal pada sepasang kakinya. Pandangannya mengedar, dan langsung bertumbukan dengan onyx Sasuke di depan sana. Pemuda itu tak terlihat terkejut sama sekali—tampak sudah memprediksi kedatangan Sakura.
Seolah telah mendapat kekuatannya kembali, Sakura mengayunkan kakinya mendekati Sasuke dengan langkah tegas. Dagunya terangkat tinggi-tinggi, menunjukkan bahwa harga dirinya memang sangat besar. Gadis itu terus berjalan, tak peduli pada tatapan dingin yang dilayangkan pemuda yang menjadi tujuan utamanya itu. Sakura mendekat, menyejajarkan dirinya dan Sasuke yang kini hanya terpaut jarak satu jengkal saja. Emerald-nya menatap galak sang onyx yang berkilat diam. "Kau jauh lebih bodoh dari yang kupikir," cela Sakura, menyambar kasar sebatang rokok yang masih menyala dari tangan Sasuke. Sekali mendengus, gadis itu langsung menjatuhkan rokok Sasuke di lantai dan menginjak-injaknya dengan penuh dendam.
Sasuke menyeringai sinis, tetap berdiri angkuh dalam posisinya semula. "Aku masih punya banyak," kilahnya santai, tak ingin kalah duluan dari gadis di hadapannya. Tepat ketika Sasuke mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya, saat itu juga tangan cekatan Sakura beraksi. Merebut paksa benda milik Sasuke itu dan meremas-remasnya dengan kuat, sembari memandang Sasuke penuh kesal. Bayangkan jika rokok dalam cengkraman Sakura itu adalah Sasuke, hancur sudah model rambut chicken butt kebanggaannya.
Sasuke kembali mendecih, harga dirinya terasa terinjak-injak atas aksi Sakura tadi. "Apa maumu, hah?" tanyanya sarkastik, menantang dengan sebelah alis yang terangkat naik.
Sakura tersenyum sok manis, "Mauku?" tanyanya balik, seraya melipat tangan dan membalas tatapan remeh yang ditujukan Sasuke untuknya. "Seharusnya aku yang bertanya begitu," balasnya. Gadis bersurai panjang itu kini berjalan dengan lagak santai, menyingkir dari hadapan Sasuke lalu ikut menyandarkan diri pada tembok putih di belakangnya—tepat di sisi kiri Sasuke. Kaki kirinya terangkat sedikit, hingga alas sepatu shocking pink-nya mendarat mulus pada tembok di belakangnya. Masih dengan tangan yang disilang, Sakura bertanya pelan, "Apa maksudmu menghindariku seminggu ini?"
Sasuke tetawa sinis, kini ia tampak seperti orang psycho yang dituduh sebagai ketua aliran sesat. "Menjauhimu?" Tawa menyedihkannya kembali terdengar. "Itu hanya perasaanmu saja," dalihnya malas. Kedua sikunya lagi-lagi bersandar pada dinding pembatas di belakangnya—bedanya, kali ini ia berdiri dalam posisi berbalik.
Sakura menoleh, menatap prihatin Sasuke yang terlihat sangat frustasi. "Jangan menyiksa dirimu sendiri, Sasuke-kun," nasehatnya pelan. Tak puas dengan pemandangan dinding-dinding polos di depannya, Sakura pun memutar badannya—menghadap ke arah langit biru yang membentang gagah. Tepat di sebelah kirinya, Sasuke masih tampak nyaman dengan posisinya—tak berniat meniru gaya Sakura sama sekali. "Ada apa sebenarnya?" tanya gadis itu lagi, kali ini terdengar lebih lembut dibanding sebelumnya.
Sedikit terenyuh dengan perubahan sikap Sakura—biasanya gadis itu akan menjaga jarak dengannya dan hanya bisa bertengkar tiap kali bertatap muka dengannya—Sasuke pun mendesah perlahan, onyx-nya ia tutup sesaat, menyiapkan diri atas jawabannya nanti. "Tak ada," bohong Sasuke. Suaranya terdengar datar seperti biasa, membuat Sakura berpikir bahwa memang tak ada apa-apa yang terjadi. Tidak, secepat kilat, Sakura menepis dugaannya itu. Tak mungkin tak ada apa-apa, pikirnya yakin.
"Soal yang kemarin..." Sakura menggantung ucapannya, tak sadar bahwa perbuatannya itu sangat berefek pada tubuh Sasuke yang mendadak menegang. Pikirannya melayang pada hari itu—hari terakhir kala dirinya dan Sakura bertukar kata. "Bagaimana jika kita lupakan saja?" Gadis cantik itu menoleh, melempar senyum menawannya pada pemuda berpenampilan berantakan di sebelahnya. Terselip sedikit kekecewaan dari cara Sakura tersenyum padanya, namun Sasuke tak ingin memperpanjang masalah. Jika memang itu yang Sakura mau, Sasuke akan menurutinya—toh dia juga ingin melupakan kejadian itu.
"Kau tahu, itu pasti cuma euforia kita karena terlalu terbawa suasana," kekehan kecil Sakura—yang agak dipaksakan—terdengar. "Kita berdua sama-sama masih labil, karena itu kita tak sadar telah bermain terlalu jauh," sambung gadis itu lagi, dengan gaya menopang dagu.
Kening Sasuke merapat, menciptakan guratan-guratan kecil di bagian atas pangkal hidungnya. "Apa maksudmu?" tanyanya langsung, dengan nada yang agak tinggi.
"Apa lagi Sasuke-kun?" Sakura memandang Sasuke bosan, emerald-nya berputar kecil—merasa pertanyaan Sasuke sangat tidak bermutu. "Segalanya," desah Sakura akhirnya, kali ini tak sambil menatap Sasuke dari samping. "Ciuman di kantin itu, kejadian di kamarmu, gosip miring tentang kita, taruhan konyol kita berdua, dan..." Dengan suara yang cukup serak—entah karena apa—Sakura melanjutkan, "Hal yang terjadi di kolam renang waktu itu," tutupnya, mengakhiri penjelasan singkatnya.
Sasuke tercenang, sadar bahwa bagi Sakura ternyata semua itu hanyalah 'euforia berlebihan' yang cukup wajar jika dialami kaum remaja ababil seperti mereka. Benar memang, mengingat hampir seluruh dari semua hal-hal yang disebutkan Sakura tadi terjadi karena spontanitas semata. Ya, spontanitas mereka berdua—mungkin terkecuali yang terakhir.
Bagai hidup di gurun Sahara, tenggorokan Sasuke terasa begitu kering—bahkan untuk membasuhnya dengan saliva miliknya saja terasa sangat berat. Ada sesuatu di dalam diri Sakura yang dapat memicu amarah Sasuke, jika kembali teringat pada ucapan Sakura kala itu. Sesuatu yang... sampai sekarang Sasuke belum mengerti betul.
"Sasuke-kun?" Sakura mengayun-ayunkan tangannya santai di depan wajah Sasuke, sekarang posisinya sudah kembali seperti semula—berdiri memunggungi langit. Ditatapnya Sasuke—yang baru pulih dari lamunannya—dengan bingung. "Kau setuju 'kan?" desaknya lagi, hendak memulai segalanya kembali dari awal.
Sasuke menatap Sakura sebentar, sebelum mengangkat kakinya pergi dari sana. "Terserah kau saja," gumamnya acuh di depan pintu.
Sakura memandang punggung Sasuke yang mulai tertelan tangga. Tatapannya berbeda, sangat berbeda dibanding sebelumnya. Tangannya meremas kuat ujung rok mini yang dikenakannya. Sejurus kemudian, gadis itu mengangkat wajahnya, menatap kanvas langit yang terlukis menarik di atas sana. Bibir ranumnya terbuka kecil, "Dia kenapa, sih?" dengusnya setengah jengkel.
.
.
Singkat cerita, Sasuke dan Sakura sudah berbaikan—meski terlihat hanya secara sepihak saja. Namun di balik itu, tak dapat dipungkiri oleh mereka berdua, bahwa ada sebongkah dinding es yang telah mencair kembali di antara mereka. Meski masing-masing masih mempertanyakan pikiran mereka satu sama lain, tapi secara tidak langsung mereka sepakat untuk berbaikan.
Setelah sempat menghindar, menutup diri, bersembunyi, bahkan men-stalk Sakura selama berhari-hari, kini Sasuke merasa begitu bebas karena dapat berangkat pulang-pergi bersama Sakura lagi—meski agak sedikit canggung di awal.
Sasuke menutup pintu mobilnya dengan cepat, tepat ketika Sakura melangkah masuk di kursi samping kemudi. Sambil memasukkan CD lagu koleksinya, Sasuke melirik Sakura dari ekor matanya. Gadis itu tampil menarik seperti biasa, Sasuke tak pernah meragukan selera fashion Sakura. Tanpa sadar, bibir tipis Sasuke menyunggingkan seulas senyum.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" Sakura bertanya dengan nada geli, diiringi dengan kikikan tawanya sedetik kemudian. Di balik kemudi, Sasuke bergumam singkat—malas meladeni Sakura.
Sedikit-sedikit, Sasuke melirik Sakura lagi—menikmati perjalanan lima belas menit mereka menuju sekolah. "Kau tahu," ucap Sakura, mendadak membuka percakapan setelah sebelumnya sibuk berkutat dengan jalanan-sepi-kendaraan yang tersaji di depan matanya. Sasuke sedikit tidak siap dengan perbincangan tiba-tiba itu. Jadi dia hanya mengangkat sebelah alisnya sembari bergumam ringan.
"Itachi-nii akan berangkat minggu depan."
"Aku tahu," respon Sasuke kalem.
Sasuke tahu itu. Tapi Sasuke sama sekali tidak tahu mengenai desakan Fugaku yang berulang kali dirasakan Sakura, karena itulah pemuda itu tetap adem ayem meski tahu sang kakak akan berkelana ke negeri seberang pekan depan.
Sakura mendesah, kali ini berhasil mencuri perhatian Sasuke. Sekali lirik, Sasuke sudah dapat menangkap aura negatif dari gadis di sebelahnya. "Ada masalah dengan itu?" tanyanya pelan, meski terdengar sedikit tak enak di telinga Sakura.
Sakura tak langsung menjawab, gadis itu melempar wajahnya ke jendela di sisinya sebelum—akhirnya—menatap Sasuke dalam diam. Pandangan itu tak biasa, dan Sasuke sadar akan hal itu. "Entahlah," jawab Sakura ambigu. Dengan iseng Sakura memainkan jari-jarinya di sepanjang ujung-ujung rambutnya yang ia biarkan terurai. "Aku hanya merasa sedikit... khawatir," tambahnya perlahan, masih dengan nada penuh keragu-raguan.
Sakura berbohong, dia tidak merasa khawatir. Tidak, lebih tepatnya, ia merasa takut. Takut jika Itachi pergi dengan keputusan bodohnya, atau takut karena jika ia memilih Itachi, semuanya tak akan berjalan dengan baik. Sakura takut dua-duanya adalah pilihan yang salah, sebab hatinya masih menomor satukan sang mantan.
Dalam hati, Sasuke mencibir jawaban absurd Sakura tadi. Mood-nya berubah buruk, hanya karena topik kepergian Itachi yang dengan sangat ajaib mampu membuat Sakura merasa khawatir, bahkan terlihat sangat kalut seperti itu. Hanya karena Itachi, batinnya tak sudi. Jika Sakura berpikir begitu, lebih baik Sasuke saja yang pergi ke luar negeri, menggantikan Itachi. Toh Sakura juga tak peduli padanya, hanya Itachi-lah yang ada dalam kepala merah muda gadis itu.
Mendesah perlahan, Sasuke menertawai kedangkalan pikirannya dalam hati. Bodoh sekali dia sempat memikirkan hal sempit seperti itu. "Dia akan baik-baik saja," ucap Sasuke akhirnya, kontan menuai kembali perhatian sang Haruno. Sasuke tersenyum tipis, "Aniki bisa menjaga diri," lanjutnya lagi, masih dengan intonasi yang sama.
Sakura membulatkan mata, sejak kapan laki-laki di sampingnya bisa berbicara begitu bijak seperti ini? Mengapa ia tak pernah sadar bahwa Sasuke memiliki sisi dewasa seperti kakaknya juga?
Sadar akan keterpakuannya yang terlalu lama, Sakura pun mengangguk sekilas. "Hm.. aku tahu itu."—karena bukan itu yang kukhawatirkan. Dan perjalanan lima belas menit itu langsung berakhir, begitu Sasuke memarkirkan kendaraannya sambil berujar ringan pada Sakura—mengajaknya untuk bergegas turun.
.
Senyum simpul Sakura dan wajah datar Sasuke berhasil menyita perhatian seluruh penghuni ruang tengah markas Ninja. Ino berhenti dari gerakan memoles kukunya, mulutnya separoh terbuka ketika kedua sejoli itu masuk beriringan dari pintu depan. Kiba dan Akamaru menoleh dengan kompak, dan langsung tersedak makanan mereka begitu melihat pemandangan yang menjadi pusat perhatian itu.
Hanya ada Ino, Sai—yang tampak tak terpengaruh dan masih setia dengan senyum andalannya—beserta Kiba dan Akamaru. Ah, dan Hinata di ujung koridor—baru saja bergabung. Kiba cepat-cepat meneguk air minum di sisi meja kecilnya, lalu kembali melempar tatapan kagetnya pada sepasang manusia di ambang pintu.
"Kalian..." Shino berkomentar singkat dari ujung ruangan, menyadarkan Ino dan Hinata dari keterkejutannya—beruntung Hinata tidak jatuh pingsan, lagi. Ups, keberadaan Shino di sana rupanya berhasil mengejutkan Kiba sampai-sampai pemuda bertato merah itu harus meraih cepat-cepat air putih di samping piring makannya. Karena Akamaru tak diizinkan masuk ke ruang makan—Ino melarangnya mati-matian dengan alasan kebersihan—Kiba selalu sarapan di ruang tengah, bersama Akamaru tentu saja.
"KALIAN SUDAH BERBAIKAN?" Ino langsung berseru kencang-kencang, mengalihkan perhatian seluruh anggota Ninja—terkecuali Sakura. Ya, gadis itu tampak lebih prihatin pada Kiba yang secara spontan menyemburkan air dari mulutnya begitu teriakan Ino terdengar.
Sakura dan Sasuke mengangguk pelan, Sakura disertai senyuman kecil sementara Sasuke tetap berlagak cool seperti biasa. Dirangkulnya pundak Sakura dari arah samping, bergaya sok akrab dengan gadis berbandana merah di sampingnya. "Dia tak bisa berlama-lama jauh dariku," dalihnya pede, lengkap dengan senyuman percaya dirinya. Sakura menatapnya angker, baru saja dia berpendapat bahwa Sasuke sudah sedikit lebih dewasa dibanding sebelumnya. Tapi nyatanya, sekarang sikap playboy-nya kumat lagi.
Ino tertawa kencang-kencang, tak peduli pada tawa sang suami yang kalem di sampingnya. Sedetik kemudian, gadis itu memekik kesal akibat cat kukunya yang melenceng ke arah yang tak seharusnya—Kiba menertawainya dengan puas.
Sakura bergegas berlalu dari sana, membiarkan Sasuke berdecak sebal begitu rangkulannya terlepas. Chouji sudah pasti berada di ruang makan, sementara Shikamaru mungkin masih tertidur di rumahnya, Tenten dan Neji dapat Sakura pastikan sedang sibuk mengurus hal-penting-entah-apa di ruangan OSIS, dan terakhir, Lee yang setiap paginya selalu mendekam di ruang olah raga. Yang menjadi target Sakura hanya satu, si kepala kuning yang kadang dapat hadir pagi-pagi buta tapi juga bisa tiba dengan tergopoh-gopoh di kelas sedetik sebelum bel masuk berdering. Ada hal yang perlu ia katakan—cukup genting.
Tak kunjung menemukan Naruto di mana-mana—Sakura sudah menggeleda tempat-tempat yang sering digentayangi Naruto dalam markas rahasia itu, bahkan kerap menghubungi handphone-nya berkali-kali—bagai sebuah pukulan keras bagi Sakura. Bagaimana ini? Gadis itu mulai panik tak karuan. "Ada yang lihat Naruto?!" serunya nyaring, tepat ketika kepala merah mudanya menyembul muncul dari balik daun pintu. Ruang tengah sudah ramai sekarang—hanya tinggal Naruto saja yang masih belum terlihat batang hidungnya.
"Naruto sepertinya akan datang terlambat, Sakura-chan. Ada apa memangnya?" Rock Lee menjawab penuh semangat, sukses mengundang desahan napas panjang Sakura—bersamaan dengan robohnya tubuh gadis itu di sofa panjang tepat di balik punggungnya.
"Ini gawat."
Seluruh pasang mata spontan memicing heran.
.
Usai menenangkan diri dengan dikipasi Ino dan meminum ocha hangat buatan Hinata, Sakura pun menarik napas panjang. Ia paling tidak bisa menghadapi situasi gawat seperti ini—melihat Naruto belum muncul-muncul juga. Sakura tidak suka dengan 'sesuatu' yang hanya diketahui oleh dirinya itu, rasanya ia ingin memindahkan seluruh informasi dalam otaknya langsung memakai bluetooth atau infrared pada semua mata yang terus memandangnya penuh tanda tanya di sana—agar tak perlu merasa setegang ini.
"Tenang dulu, Sakura-san." Hinata mengusap pelan pundak Sakura, memberi sedikit kekuatan pada gadis itu. Semenjak perbincangan mereka kemarin di kantin, Sakura dan Hinata perlahan-lahan semakin dekat. Dan berhubung Sakura orang yang mudah bergaul, Hinata sekarang sudah tak gugup lagi tiap kali bertatap mata dengannya.
Dengan melankolis, Sakura memandang teman-temannya satu per satu. Berbagai tatapan didapatinya, dan hal itu makin memperkelu lidahnya untuk mengeluarkan suara—sesuai tuntutan penonton. "Baiklah... baiklah.." Tenten menggenggam erat gelas ocha Sakura yang masih enggan disentuh gadis itu lagi. "Minum dulu, Sakura," tawarnya gelisah, sembari menarik tangan Sakura agar meminumnya lagi. Sakura menurutinya.
"Pelan-pelan saja," tegur Sasuke cepat, begitu melihat cara minum Sakura—yang berada tepat di sofa depannya—begitu tergesa-gesa. Tepat sekali, Sakura sekarang tengah duduk memunggungi Sasuke. Pemuda jangkung yang berdiri di belakang sofa Sakura itu kini mencengkram erat punggung sofa Sakura. "Sekarang tarik napas yang panjang, lalu ceritakan apa yang kau maksud dengan 'gawat' itu, Sakura," tuntun Sasuke pelan, dengan nada rendah penuh penekanan. Yang lain ikut menimpali dengan anggukan singkat mereka—bahkan Shikamaru yang baru bangun pun tampak tertarik di kursi kayunya.
Sakura memejamkan mata, mulutnya terbuka kecil untuk mengambil napas panjang—sesuai intruksi pemuda di belakangnya. "Naruto dalam bahaya."
Dan sepatah kata itu berhasil membuka baut yang berada pada masing-masing rahang setiap orang di sana. Tak ada yang tak terkejut mendengarnya.
.
"DIA GILA!" Ino-lah yang paling pertama buka suara usai Sakura menjelaskan segalanya—meski dengan sedikit terbata-bata. Gadis pirang itu bangkit dari posisinya, dadanya naik-turun—tak dapat mengatur napasnya dengan stabil. Tepat di sebelah kirinya, Sai meremas pundak Ino lembut. Cukup ampuh, sebab yang bersangkutan langsung duduk kembali di tempatnya semula.
"Ulang tahun Naruto itu besok," gumam Sasuke datar. Tentu saja, semua orang sudah tahu itu—terkecuali Sakura, karena itu dia tadi cukup panik.
Seraya menghembuskan napas lega, Sakura pun berujar, "Berarti masih ada kesempatan untuk mencegahnya."
Tenten menggeleng cepat, iris coklatnya kembali menatap Sakura. "Kita tak punya waktu banyak. Naruto akan sangat sibuk menjelang pesta ulang tahunnya—terlebih lagi ini yang ke-tujuh belas. Hari inipun tampaknya dia tidak masuk sekolah, kalian tahu sendiri bagaimana sifat orang tuanya," jelas gadis bercepol dua itu.
Chouji menganggguk setuju. "Ingat pesta mereka tahun lalu? Kita tak punya kesempatan untuk mengundangnya hadir dalam pesta kejutan yang susah payah kita rancang," sahut pemuda betubuh gempal itu. Tangan kanannya merogoh pembungkus kripik kentang miliknya—yang selalu punya cadangan lebih. Sebelum memasukkan kripik kentangnya ke dalam mulut, Chouji menambahkan argumennya, "Semua ramen itu jadi terbuang percuma." Terselip candaan dalam komentar jujurnya itu. Tak ada orang yang mencintai ramen melebihi Naruto di dunia ini, karena itulah mereka nekat memesan banyak ramen buatan koki-koki idola Naruto demi pesta kejutan itu—meski hasilnya nol.
Semua orang tampak berpikir, tak terkecuali Sakura. "Yang dapat kita lakukan sekarang ada dua." Seluruh mata memandang Shikamaru yang tampak memasang ekspresi seriusnya. "Pertama, mencegah Shion bertemu dengan Naruto. Meski aku yakin Shion cukup pintar dengan mempersiapkan rencana lain, menyewa seorang bartender untuk mencampur obat tidur itu—misalnya. Kedua, mencegah Naruto memakan atau meminum apapun yang ada di sana—ini akan sangat sulit, kalian mengerti sendiri sebabnya." Beberapa orang terkikik geli membayangkan wajah polos Naruto yang kesusahan menahan air liur, akibat makanan-makanan enak yang tersaji di pestanya.
"Aku rasa, kita hanya perlu melakukannya seperti biasa—kalian pasti mengerti maksudku." Neji tersenyum menantang, dibalas oleh tawa kecil dari berbagai rekannya—terkecuali Sasuke dan Sakura, tentu saja.
Tenten bangkit, mengintip sejenak jam tangannya sebelum mengangkat dagunya santai—memberi kode bahwa sebentar lagi bel masuk akan berdering. "Yaaa~ tampaknya kali ini kita punya misi penting," pandangannya beredar dari kiri ke kanan—dan berhenti tepat di emerald Sakura. "Terimakasih untuk infonya Sakura," dibalasnya senyum lebar Tenten dengan Seulas senyum tipis—perasaan Sakura masih belum tenang. "Kau mau ikut?" tanya Tenten kemudian.
Sakura cengo, memasang wajah polosnya dengan tanpa sadar. Dari arah belakang, melayang sebuah jitakan di jidat Sakura. Sang gadis menoleh, melempar tatapan kesal pada Uchiha di belakangnya. "Kenapa memasang wajah bodoh seperti itu, hm?" kesal Sasuke. Sakura tak menjawab, mau bagaimana lagi, ia sendiri tak sadar dengan perbuatannya tadi.
"Sasuke, kau mengijinkan Sakura ikut?" Ino bertanya dengan semangat, tak memerdulikan adegan konyol yang sempat terjadi tadi. Diliriknya Sasuke yang tetap memasang wajah datarnya, sebelum akhirnya Sasuke bergumam singkat.
"Hn," respon Sasuke. Semuanya berseru girang—oke, cuma beberapa saja yang girang. Sementara orang yang dibicarakan sama sekali tidak paham. Ikut? Ikut apa? pikirnya bingung.
Mengacuhkan wajah kebingungan Sakura, Tenten pun berujar ceria, "Yosh, ayo kita lindungi ketua kita~"
Sakura semakin heran, dia makin tak mengerti—tunggu, Sakura paham. "Ketua? Naruto ketua kalian?" tanyanya tak percaya, dengan suara melengkingnya yang khas. Dan anggukan pasti Tenten nyaris membuat Sakura kehilangan keseimbangannya. Bocah pirang seberantakan Naruto adalah seorang ketua Ninja? Yang benar saja?
.
.
.
TBC
Author's line:
MAAAAF~ *sungkeman satu-satu* Saya tau, udah gaada toleransi lagi untukku. Hiatus selama berbulan-bulan memang nggak bisa jadi alasan, I knew. Terimakasih sebesar-besarnya untuk kamu-kamu yang masih sudi baca lanjutan PM *tears* Saya tau, saya nggak pantes minta toleransi kamu lagi, kamu udah terlalu baik T^T
Yosh, ficnya jadi agak melenceng dari kerangka yang sebelumnya, maaf :') Tapi tenang, plotnya tetep jalan seperti niat awal kok. Pas pertama balik lagi dari kuburan webe, saya belum dapet feel buat bikin fluff *jedukin kepala* jadinya garing gini, maaf. Diksiku berubah lagi? Kuharap nggak ToT
Alurnya agak ngebut kayaknya, saya tau ada banyak kekurangan dari chapter ini—sepertihalnya chapter-chapter kemarin. Karna itu, kritik, saran, dan komentarnya sangat kunanti :)
Thanks to fic kak Hanaruppi yang berjudul 'Life isn't Like a Joke' yang telah menginspirasiku kembali sampai-sampai webeku ilang / seneng bangeeet bisa balik ke ffn lagi XD
Chapter depan ada sedikit aksi dari Ninja, ItaSakunya nggak muat, jadi nyusul dichapter depannya lagi hihi :''3
Ini balasan buat yang review kemarin, makasih XD yang log in, cek pm yaa XP
sasusaku kira: gapapa, kamu review aja, saya udah seneng kok :3
Guest: cuma dua kata buat kamu, 'makasih' dan 'review lagi yaaa~' ^o^ #itu empat woi
neria: *gelindingan* sampe gituuu? O.O wakakak, sama persis XP pikiran kita samaaa~ #ifyouknowhatImean err, soal Asuma itu, memang salah ketik, ntah kenapa saya selalu mikir Azuma, bukan Asuma #malahcurcol
Koibito cherry: Aasshaa, maaf, ItaSakunya mungkin nyusul dichapter kedepan :'( GaaSakunya masih lama, kayaknya fic ini jadi makin ribet deh. tanganku gatal mau jadiin pair yang lainnya juga, soalnya *dijewer* okesip XP chapter kedepan Sasuke makin sering cemburu buta~
endless night: ItaSakunya kayaknya nyusul dua chapter kemudian deh, maaf jadi plin plan gini, mau nunggu Sasuke bener-bener panas dulu wkwkwk~ gapapa kok, kamu review aja, saya udah seneng XD ahya, maaf baru sempet apdet :')
pichi: siaaaaaaap~ XP makin banyak nih, makin banyak~ *tebar-tebar duit*
Haruno Michiko: maaf, pendingnya lamaaaa banget ToT ngenes saya kena webe yang berkepanjangan *kuburin diri*AMIIN XD makasihyaa ^^
F. A: AMIN XD makasih ^^ maaf telat T^T
my dreams: AMIIN XD ini akhir apaya? Juni atau Juli? *digerek* telaaaaat dua bulaaaaaan *lari-lari keliling komplek* maaf T^T *ojigi*
Merrychibi2: maaf baru apdet T.T *ngumpet di kolong meja*
pink cherry: makasih untuk pengertiannya :') saya kelewatan emang, maaf T^T ahya, sukses buat ujiannya (telat banget) semoga hasilnya memuaskan, AMIN XD
chokyu parkji: makasih *tears* *ngelap air mata di kaos Chokyu* #ditendang saya jatuh cinta padamu~ *terjang Chokyu* lagi ujian juga? sukses yaaa (telat banget) semoga hasilnya memuaskan AMIN XD
yulia: AMIN, kamu juga semoga sukses yaa ^^ ini apdeeeeet *terjang yulia* kamu setia nunggu sampai dua bulaaan ini? T^T *ngenes di dalam kubur*
Nekoki: ini lanjut~ *kalem* #dibakar
Sakumori Haruna: maaf, baru sempet apdet T^T saya kena webe kemarin, lamaaa banget *ngenes* sekarang udah sembuh, tenang, jadi bisa apdet rutin lagi XP whaaaat? Itachi-nii dan Gaara milikku :3 *kunciin Itachi-nii&Gaara di kamar* :3 ahya makasih XD
Spesial big thanks buat semuanyaa, yang ngefave, alert, reviewer, siders, semuanyaaa~ *cipok satu-satu* saya nggak berharap banyak masih ada yang mau baca PM, tapi tetep, saya bener-bener berterimakasih untuk kamu-kamu semuaaa~ \^o^/
Ahya, FYI, ada beberapa perubahan pada tiga chapter sebelumnya (karena keteledoranku) buat yang nggak baca ulang kuringkas aja; Nama Naruto jadi Namikaze Naruto, Azuma seharusnya Asuma, 'Nii-chan'nya Sasuke jadi 'Aniki', dan segala tanda tanyanya '(?)' udah kuhapus semua. Maaf karna PM masih berantakan banget :') saya udah ngedit semuanya XP dan makasih buat saran-sarannya XD
Mulai sekarang, kuusahain update rutin tiap minggu lagi~ ^^
Arigatou :)
