DON'T LIKE, DON'T READ
Title : Pilihan Menjebak
Disclamer : Masashi Kishimoto
Warnings : OOC, AU, Typo (s), Miss typo, Rumit, Rated M untuk bahasa, Chapter panjang, NO LEMON, dll
Maaf kalau jelek :)
Story by: Bii Akari
Enjoy~
.
.
.
NORMAL POV
Udara lembab khas gudang tua menyambut Tenten ramah begitu gadis berhelai gelap itu tiba. Dari dalam tas jinjingnya, Tenten mengeluarkan sebuah laptop, lengkap dengan kabel-kabel penghubung dan beberapa alat lainnya—yang tampak asing bagi orang-orang awam. Dengan cekatan, gadis bergaun biru langit itu melepas high heels yang dikenakannya, seraya memasang earphone di kedua telinganya dengan tangannya yang bebas. Tenten mengambil posisi pojok seraya menepi di ujung tembok, kakinya terjulur lurus—memangku laptop hitam miliknya tadi. Meski tempat yang dimasuki Tenten kini adalah gudang, tapi jangan salah sangka, gudang keluarga Namikaze jauh berbeda dengan gudang-gudang biasa lainnya. Pendingin ruangan bekerja baik, meski aroma tua dari barang-barang lama yang tak terpakai di sana masih lebih mendominasi peredaran udara. Sambil menunggu proses loading yang cukup memakan waktu, Tenten menusuk beberapa kabel dan alat-alat pada setiap colokan yang tersedia di laptopnya. "Uuuu~" seru Tenten girang, begitu prosesi bajak-membajaknya siap ia mulai. Telapak tangannya saling menggosok penuh ketertarikan, bersama dengan munculnya simbol-simbol aneh di desktop laptopnya. Jemari-jemarinya menari, mengetik cepat rumus-rumus hack yang dikuasainya.
"Tenten?" Suara berat Shikamaru menyusup masuk di telinga Tenten—beserta sebelas remaja yang lain. Gadis itu bergumam singkat, menyahut dengan enggan.
"Oke, aku sudah siap," ucap Tenten sesaat kemudian. Di layar laptopnya, Tenten sudah berhasil membajak nyaris seluruh informasi di rumah Naruto—termasuk sistem keamanan, CCTV, dan saluran listriknya.
Shikamaru menyeringai puas, itu yang mereka harapkan dari hacker jenius seperti Tenten. "Kerja bagus," pujinya. Di ujung sambungan; Lee, Chouji, Sasuke, dan Shino serempak mematikan earphone mereka—ucapan Tenten tadi bagai tanda start bagi mereka.
Di ruangan khusus yang terletak di pusat markas Ninja—tepat di lantai teratas—Shikamaru dan Neji duduk berdampingan, menghadap ke puluhan monitor-monitor berukuran 14 inchi yang mewakili setiap kamera pengintai di kediaman Namikaze. Neji dan Shikamaru, yang berperan sebagai pemikir di balik layar terus mengamati setiap monitor, mencari secuil kejanggalan yang ada—meski ini masih terlewat awal bagi mereka untuk mendapat petunjuk.
"Naruto adalah incarannya, lebih baik kita fokus ke Naruto saja," usul Neji, mengganti tampilan gambar pada monitor terbesar yang terpajang di tengah—yang semula menampakkan suasana pintu gerbang megah di kediaman Naruto.
Shikamaru mengangguk, "Kau awasi Naruto, aku urus Shion."
Neji setuju, mereka pun berbagi tugas dengan cukup adil. Semenjak Sakura mengatakan segala hal yang ia ketahui kemarin—tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan Shion dengan teman-temannya—semua rencana ini langsung mereka susun dengan sangat rapih. Shion berniat buruk pada Naruto, hendak menarik paksa Naruto ke dalam dekapannya. Tentunya, dengan cara yang tidak baik. Rencana besar Shion adalah menjebak Naruto dalam keadaan yang sulit. Membuatnya mabuk, lalu dengan diam-diam membawanya ke hotel—atau tempat lainnya—agar kelak, Naruto terbangun dengan rasa bersalah yang tinggi. Sungguh ironis, jika sandiwara itu benar-benar terwujud. Mereka sepakat tak memberitahukan hal ini pada Naruto karena takut lelaki itu akan bereaksi berlebihan—mengingat Naruto sering seperti itu—lagipula, ini adalah pesta Naruto. Mana mungkin mereka tega melihat teman yang telah mereka anggap seperti saudara mereka sendiri itu harus bersikap waspada dan gelisah di pestanya sendiri—setidaknya, mereka ingin membantu Naruto sebisa mungkin. Dan, terpikirlah ide ini. Dicetuskan oleh Shikamaru, meski dengan lagak mengantuknya.
Mulai terganggu dengan earphone di telinganya—yang terus-menerus memperdengarkan celotehan ringan Ino—Shikamaru pun mengeluh malas. "Mendokusai," awalnya, menarik sepasang lengannya ke belakang kepala. "Putus sambungan earphone-mu, Ino. Jika kau hanya ingin bergosip saja." Di lantai utama pesta, Ino menggigit pelan bibir berbalut lipstick merahnya. Rambut pirangnya yang ia urai tampak anggun dengan gaya keriting gantung yang dibentuk sendiri olehnya sore tadi. Berlagak hendak memperbaiki tatanan rambutnya, Ino pun menekan tombol off pada earphone di telinga kanannya—dan melanjutkan obrolannya lagi.
Begitu suara mengganggu Ino—setidaknya, itu menurut Shikamaru—hilang, detik terasa sepi. Konsentrasi Neji dan Shikamaru kembali tercuri penuh oleh gambar-gambar di depan mereka.
"Aku tidak yakin, Sasuke-kun." Suara merengek Sakura menyusup masuk di telinga duo tampan itu—Shikamaru menguap bosan.
"Cepatlah Sakura, lepaskan saja atau kau ingin aku yang melepaskannya." Sayup-sayup, suara Sasuke juga terdengar, meski tak sejelas Sakura tadi—tampaknya, bukan dari earphone Sasuke.
"T-tapi aku malu, Sasuke-kun. Di sana banyak orang," terselip rasa gelisah dalam pelafalan Sakura, sekaligus nada malu-malunya yang mengundang siapapun yang mendengar pertengkaran mereka untuk berpikir ke arah yang sama.
"Aku tidak peduli. Kain itu benar-benar mengganggu, Sakura. Lepaskan saja agar semua orang bisa menatapmu apa adanya."
Oke, ucapan Sasuke sepertinya benar-benar berdampak fatal kali ini. Konsentrasi Neji dan Shikamaru buyar seketika.
"Tap—"
"Tadi kau baik-baik saja begitu memperlihatkannya padaku, mengapa sekarang jadi seperti ini, eh?" Sai, Tenten, dan Kiba mulai ikut terganggu, pikiran mereka mulai ero akibat mendengar ucapan Sasuke barusan—meski tak ada satupun di antara mereka yang berniat mengintrupsi. Ya, semuanya tetap terpaku dengan telinga yang menajam.
"I-itu ..."
"Sudahlah Sakura, tak ada yang salah denganmu." Sasuke mendesah, terdengar sedikit frustasi.
"Bukan begitu, masalahnya, ini di depan umum."
"Jadi kau cuma mau membukanya jika kita hanya berdua saja?" Hening merajalela. "Kau yang memaksaku, Sakura." Dan yang selanjutnya terdengar hanyalah suara pekikan Sakura, dan suara gaduh lainnya.
"Hentikan Sasuke-kun! K-kau gila! Mobilmu sangat mencolok, orang-orang bisa melihat kita, Sasuke-kun!"
"Aku tidak pe-du-li. Aku sudah tidak tahan. Sudahlah, cepat buka sekarang!" Mata para pendengar melotot. Apa? Apa yang dibuka? Pekik mereka kompak dalam hati masing-masing.
"Oke-oke, aku buka sekarang. Tapi cepat menyingkir dulu, kau membuatku terjepit di jok Sasuke-kun."
Suara gaduh terdengar lagi, kali ini lebih seperti suara kain-kain yang saling bergesekan. "Sudah, puas sekarang?" Terdengar jelas nada ketidaksukaan Sakura yang sengaja ia paparkan dalam setiap tutur katanya.
"Bagus," Sasuke menyeringai. "Sekarang ayo kita pamerkan keindahan tubuhmu di depan semua orang."
"TUNGGUU!"
Sakura bergegas melepas earphone di telinganya, sakit sekali rasanya—bagaikan tertusuk lebah tepat di bagian gendang telinganya. Sasuke yang sudah nyaris membuka pintu mobilnya pun menoleh heran ke arah Sakura yang memekik kecil. "Ada apa lagi?" tanyanya tak sabaran.
Remaja-remaja lainnya melakukan hal yang tak jauh bedanya dengan Sakura—mencopot cepat-cepat earphone mereka yang berbunyi nyaring sedetik yang lalu. Ya, Shikamaru, Neji, Tenten, Kiba, dan Sai memang berteriak berbarengan tadi—pikiran mereka mulai menjurus ke arah yang tidak-tidak.
Dengan agak terburu-buru, mereka ber-enam kembali memasang earphone mereka. "Aku tidak tahu, mereka tiba-tiba berteriak kencang tadi." Sasuke mengernyit, menatap Sakura dengan penuh selidik.
"Kau tidak mematikan earphone-mu?" Sakura menggeleng, kontan Sasuke langsung menyalakan kembali earphone-nya. Mereka pasti salah paham, tebaknya yakin.
Tepat ketika Sasuke bergabung—tanpa diketahui siapapun—suara heboh Tenten langsung menyambutnya. "Apa yang kalian lakukan di sana? Jawab aku, Sakura. Sasuke tidak melakukan hal-hal aneh padamu, 'kan?" desaknya panik, laptop di hadapannya ia abaikan begitu saja.
Sakura terkekeh pelan. "Tidak kok, kami hanya sedikit bertengkar saja," sembari melirik Sasuke dari ekor matanya. Pemuda itu tetap setia dengan stoic face-nya, berpura-pura tidak mendengar apapun dari earphone-nya.
"Kau yakin?" Nada suara Sai terdengar tak percaya. "Kau tidak perlu takut Sakura, katakan saja pada kami," lanjutnya, disetujui oleh yang lain.
"Apa maksud kalian? Memang pertengkaran kami terdengar sangat parah, ya?" Sakura bertanya dengan nada polos, tak merasa ada hal yang salah atas apa yang baru saja terjadi antara dia dan Sasuke.
Membatin dalam hati, Sasuke pun mengambil alih keadaan. "Aku tidak melakukan hal yang kalian pikirkan," cerocosnya dingin, di ujung sana Shikamaru tersedak kopi yang diminumnya—buru-buru ia mematikan earphone-nya.
"Lalu apa maksudmu dengan 'Sekarang ayo kita pamerkan keindahan tubuhmu di depan semua orang' itu?" tuntut Kiba dengan wajah merah padam, sedikit terbawa emosi—sedikit juga terpengaruh khayalan ngaconya.
Sasuke bergegas melempar pandangannya ke sisi yang tak tertangkap manik Sakura. Rona merah menjalar di wajah aristokratnya. Oke, kini dia sadar ucapannya tadi memang agak vulgar. Di markas pusat, Shikamaru membatin penuh syukur begitu melihat ekspresi Neji menjadi tegang dan sedikit bersemu merah. Sungguh mendokusai kalau sampai dia juga ikut memasang ekspresi seperti itu—akibat mendengar percakapan gila-entah-se-mendokusai-apa yang terputar di sambungan earphone mereka sekarang.
Wajah Sakura juga tak jauh bedanya dengan Sasuke—malah lebih parah. Cepat-cepat ia memalingkan wajahnya ke sisi berlawanan. Di balik kemudi, Sasuke berusaha men-stabilkan dirinya. Begitu merasa telah cukup tenang, pemuda ber-tuxedo putih itupun kembali buka mulut. "Aku hanya ingin melepaskan selendang tebalnya saja," dalih pemuda itu, disusul oleh anggukan Sakura.
"Iya, itu tidak seperti yang kalian pikirkan, kok," bela Sakura sedikit malu.
Helaan napas lega terdengar, berjamaah dari setiap pasang telinga yang mendengar penyelesaian masalah tadi. Berdeham sesaat, Neji pun memberi arahan dengan bijak. "Kalau begitu, matikan earphone-mu Sakura. Konsentrasi kami pecah gara-gara ini."
.
Suara musik jazz yang dimainkan oleh sekelompok grup ternama mengalun merdu di tengah-tengah ruangan utama keluarga Namikaze—yang telah disulap menjadi ball room indah. Ratusan tamu undangan yang terdiri atas keluarga, rekan-rekan penting, serta teman-teman dekat dari keluarga kaya raya itu berbondong-bondong memenuhi lantai pesta. Jejeran patung-patung es mempermanis suasana, menambah anggun mangkok kristal super besar yang sengaja diletakkan di setiap meja panjang tepi ball room.
Sakura berjalan anggun dengan gaun malam berwarna pastel-nya, sangat cocok dengan kulitnya yang putih bersih. Sedikit tidak nyaman, Sakura tampak beberapa kali menutupi bagian dadanya yang agak sedikit terbuka dengan tangannya yang bebas—tangannya yang satu sibuk menggandeng pemuda tampan di sampingnya.
"Turunkan tanganmu," desis Sasuke pelan, tahu betul apa yang sejak tadi menjadi sumber kesibukan Sakura. Dengan sangat terpaksa, Sakura menurunkan tangannya. Gaun berbahan lembut itu memang dipilih khusus oleh Sasuke, dikarenakan undangannya yang datang terlambat—Sakura bahkan baru tahu kapan ulang tahun Naruto kemarin. Beruntung Sasuke memiliki stylish yang handal. Upik abunya—begitu cara Sasuke menyebut Sakura siang tadi—kini menjelma menjadi Cinderella cantik.
Pasangan muda-mudi yang baru menginjak lantai marmer bercorak biru laut itu seketika berhasil menjadi pusat perhatian. Seluruh mata tertuju pada mereka, beberapa bahkan mendecih iri akibat keserasian figur pasangan yang baru masuk itu. Ya, tak ada yang tak berpikir demikian.
Sebelum ini, Sakura sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Entah itu karena warna rambutnya yang mencolok, tingkahnya, atau pakaian yang dikenakannya—ia sudah pernah merasakan semuanya. Masih sambil menggandeng Sasuke, Sakura melirik pemuda di sampingnya dengan sekali sapu—diperhatikannya Sasuke mulai ujung kaki sampai ujung rambut. Pasti dia yang menyebabkan kami menjadi pusat perhatian, putusnya sepihak. Dalam hati, Sakura memuji-muji keelokan wajah pasangannya malam ini itu, sangat wajar jika banyak gadis yang tergila-gila padanya—Sasuke memang tampan.
"Jangan menatapku seperti itu," tegur Sasuke dengan nada bercanda. Sakura bergegas berpaling, pura-pura menatap sesuatu yang lain. "Kau tahu Sakura, aku ingin sekali mengecilkanmu dan menyimpanmu baik-baik di dalam sakuku sekarang juga." Spontan Sakura terpengarah, gadis itu kembali melempar fokus emerald-nya menuju Sasuke. "Coba lihat semua laki-laki itu. Cara mereka memandangmu terlihat begitu menjijikan. Kujamin pikiran mereka sudah dipenuhi oleh hal-hal mes—"
"Itu adalah pikiranmu sendiri, Sasuke-kun." Buru-buru Sakura memotong, sebelum Sasuke sempat menuntaskan ucapannya. "Kau lupa siapa dirimu, hm?" lanjut gadis itu penuh penekanan. Sakura membuang pandangannya pada seluruh kaum adam yang ada di sana—tak bapak-bapak, tak anak muda, semuanya seakan terbius olehnya. "Oke, mereka memang agak keterlaluan," gumam Sakura ngeri. Di sampingnya, Sasuke terkekeh menang. "Tapi kau sama saja. Coba perhatikan cara gadis-gadis—bahkan wanita-wanita-entah-lajang-atau-tidak—itu memandangmu. Aku merasa bagai daging siap makan di tengah rebutan macan-macan betina yang ganas." Kekehan Sasuke semakin menjadi.
Tepat ketika diskusi kecil mereka usai, Naruto langsung menyapa mereka dari arah depan. Saling bertukar sapa, mereka bertiga pun mengobrol ringan sejenak.
"Tenten, Shikamaru, Neji, Sai, Chouji, Lee dan Kiba sudah datang sejak tadi." Pemuda pirang itu tampak benar-benar senang, wajah tampannya tak henti-hentinya memetakan lengkungan lebar di bibirnya. "Tapi sayang aku tidak melihat mereka sejak beberapa menit yang lalu. Kerumunan tamu sangat merepotkan, terlebih lagi aku tidak mengenal kebanyakan dari mereka," keluh Naruto, diakhiri dengan kekehan pasrahnya di ujung kalimat. "Ah, Ino juga baru saja muncul sesaat tadi, tampaknya dia pergi bergabung bersama gadis-gadis kenalannya," oceh Naruto lagi, baru teringat pada teman sesama pirangnya itu.
"Dia pasti sibuk bergosip lagi, entah kali ini tentang apa." Sakura berkomentar terlalu jujur, mengundang tawa renyah Naruto kembali.
"Siapa yang kau bicarakan, Nona?" Dari arah belakang, Ino mengamit tangan Sakura dengan cekatan. Tatapan intimidasinya ia kirim langsung ke sepasang emerald yang menatapnya lurus-lurus itu.
"Yang pasti bukan kau," jawab Sakura asal, ditambah dengan senyum manisnya. Cubitan kecil Ino mendarat mulus di lengan Sakura. Jawaban Sakura tadi benar-benar kentara sengaja menyinggungnya.
"Ahya," dengan tiba-tiba, Ino menepuk telapak tangannya ringan. Mata aquamarine-nya menatap Naruto lekat-lekat. "Shino bilang dia akan datang terlambat, dia ingin aku menyampaikan permintaaan maafnya padamu," sambung gadis pirang itu.
Lengkungan di bibir Naruto kembali terukir, "Tak apa, yang penting dia mau datang," katanya dengan wajah yang berseri-seri. Obrolan kembali berjalan, mengalir penuh canda seperti kebiasaan mereka sehari-hari.
Begitu instrumen merdu ber-genre jazz yang tadi menjadi back sound di dalam ball room ditutup dengan manis, suasana menjadi hening—hanya obrolan para tamu undangan yang terdengar. Naruto melirik para pemusik yang disewanya, dan mereka hanya mengedikkan bahu atas tatapan Naruto yang terkesan heran.
Dari ujung tangga, suara hentakan sol-sol sepatu terdengar jelas, mencuri perhatian seisi ball room—terkecuali Naruto yang masih saling melempar tatapan dengan pemain musiknya. Dari atas tangga putar berkarpet merah itu, Namikaze Kushina melangkah anggun sembari mengamit lengan suaminya. Pasangan suami-isteri itu saling melempar senyum sebelum beralih memamerkan lengkungan indah mereka ke berbagai penjuru. Tampaknya, mereka sangat senang dengan suasana pesta yang tercipta sekarang—sesuai dengan rencana mereka. Tepat di sebelah kiri Kushina, seorang gadis manis berhelai panjang juga beranjak turun dengan langkah gemulai. Wajah ayunya terus menunduk, tak perduli pada beribu pasang mata lelaki yang menatapnya penuh damba.
Kushina meremas lembut pundak Hinata dari samping, kemudian kembali melempar senyumnya ramah begitu langkah mereka terhenti di pertengahan tangga. "Naruto," panggil Minato penuh wibawa, berhasil membuat anak semata wayangnya menoleh terkejut ke arah mereka—rupanya Naruto tak terbawa suasana mengagumkan tadi akibat terlalu serius berdebat mata dengan para pemusiknya.
Naruto cengengesan, mendekat ke arah Ibunya sesuai intruksi tangan Kushina. Pemuda tampan itu melempar senyum lebarnya ke arah Hinata, sebelum berdiri tegap di sebelah gadis emas Kushina itu. Benar, Kushina memang sangat menginginkan anak perempuan yang manis dan lembut seperti Hinata—dia mengharapkan gen itu datang dari sang suami. Sayangnya, anak yang keluar justru keterbalikannya. Dari luar mirip Minato, sementara dalamnya asli turunan Kushina. Tapi, tentu itu tak menyurutkan rasa sayangnya pada Naruto. Hanya saja, sejak awal pertama Naruto memperkenalkan Hinata padanya—saat acara penyambutan untuk mereka digelar—Kushina langsung jatuh hati pada gadis cantik itu. Tutur katanya yang lembut serta sikap tenang dan pemalunya selalu membuat Kushina bermimpi Hinata dapat menjadi menantunya—berhubung gadis itu terlahir di keluarga Hyuuga, bukan keluarganya.
Sekarang, mereka tampak bagai pasangan kekasih yang siap untuk ditunangkan—sungguh. Semua hadirin mulai menduga-duga asal, apa mungkin Hinata sengaja didatangkan khusus bersamaan dengan kedua orang tua Naruto karena ingin diperkenalkan sebagai calon menantu mereka?
Gelas-gelas sampanye berbadan langsing dibagikan dengan telaten oleh para pelayan. Tak sampai lima menit, semua tamu sudah resmi menerima gelas mereka masing-masing—tak terkecuali tuan rumah. Minato berdeham singkat, kebiasaan lamanya sebelum bicara di muka umum. "Terimakasih atas kedatangan Anda semua di pesta ulang tahun anak kami. Ini merupakan suatu kebanggaan bagi kami." Minato kembali tersenyum penuh bahagia. "Di kesempatan ini, mari kita bersulang untuk putra tunggalku. Bersulang untuk kesuksesannya, kesuksesan kita." Diangkatnya gelas kaca dalam genggamannya tinggi-tinggi, bersama dengan gelas-gelas kaca lain yang juga ikut diangkat oleh para hadirin.
"Cheers~" Suara dentingan gelas terdengar, saling berbenturan, diiringi kekehan tawa pelan. Usai itu, suasana kembali riuh seperti semula. Suara musik waltz mengalun lembut memenuhi ball room. Para pria mengayunkan tangan mereka, mengajak wanitanya berdansa di lantai pesta.
Sasuke meletakkan gelas miliknya, lalu mengulurkan tangannya pada Sakura. "Shall we dance?" ajaknya lembut, disertai senyum yang memesona dan gaya berlutut a la pangeran dongeng yang sukses membuat gadis-gadis di sekitar sana melting.
Sakura tersenyum manis, merespon positif ajakan dansa Sasuke. Tangan Sasuke memeluk erat pinggang ramping teman dansanya itu. Onyx dan emerald terus saling melempar tatapan. Tak memerdulikan Ino yang telah hilang entah ke mana. Di dekat sana, Naruto mulai dikerubungi gadis-gadis cantik, secara telak Hinata langsung tersingkir lumayan jauh. Melihat sang pengeran pesta—Naruto—tak kunjung mengajak Hinata berdansa, belasan laki-laki lajang langsung menerjang gadis cantik itu. Beruntung Kushina datang tepat waktu.
"Maaf Tuan-Tuan, gadis ini sudah memilki pasangan dansa," tutur ibu satu anak itu, sembari melirik pemuda ber-tuxedo hitam di ujung sana. Dengan cepat, Kushina menarik tangan Hinata menuju arah kerumunan—menerobosnya dengan tak segan-segan.
Naruto tersenyum lebar begitu ibunya menawarkan Hinata menjadi pasangan dansanya, sementara para gadis-gadis yang lain langsung mendecih sinis dan berlalu pergi. Kushina meninggalkan mereka berdua, setelah sempat mengerling penuh arti pada Naruto.
Lepas mengusap-usap bagian belakang kepalanya yang tak gatal, Naruto memasang cengiran lebarnya lagi. "Mau berdansa denganku, Hinata?" ajaknya ramah, mengundang rona merah di wajah Hinata. Gadis berhelai indigo itu mengangguk malu. Memutuskan harapan kecil yang digantung oleh pria-pria yang mendambanya dari jauh.
Tepat di bagian belakang ball room, Chouji memantau setiap pelayan yang berlalu-lalang di sekitarnya. Seluruh stand makanan telah disinggahinya sejak tadi, mencomot setiap jenis sajian untuk ia uji dengan alat khusus miliknya—secara sembunyi-sembunyi, tentunya. Benda elektronik berukuran persegi empat kecil itu berguna untuk mendeteksi racun atau obat-obatan berbahaya yang terkandung dalam makanan maupun minuman. Berhubung bobot Chouji di atas rata-rata, maka tak ada tamu yang heran melihat kelakuan Chouji yang mencicipi setiap makanan yang ada.
Chouji mengaktifkan earphone-nya, mata sipitnya menatap awas sekitar. "Tak ada yang salah dengan makanannya," bisiknya pelan, lengkap dengan improvisasi mengunyahnya. Pudding coklat dalam piring kecil Chouji kembali ia potong, untuk kemudian ia masukkan lagi ke dalam mulutnya.
"Minumannya?" Shikamaru tampak menginterogasi. "Minuman yang diteguk Naruto tadi?" tambahnya cepat.
"Baik-baik saja," jawab Chouji. Usai menelan pudding terakhirnya, Chouji kembali buka mulut. "Dapur dan para pelayan juga clear, tidak ada yang mencurigakan."
Neji bergumam kecil. "Dan tak ada satu orang pun yang menawarkan minuman atau makanan pada Naruto," ucapnya. "Dia bahkan tampak sangat menikmati dansanya dengan Hinata." Neji menyeringai, sedikit mencairkan suasana.
"Bagaimana denganmu, Lee?" Kali ini Shikamaru yang kembali mengambil alih keadaan. Menunggu sesaat, Shikamaru tetap mengunci pandangannya pada setiap monitor di hadapannya. "Kelihatannya Shion belum muncul." Manik Shikamaru berpindah, menjumpai Lee di layar kiri pojok.
Pemuda bersetelan hitam-hijau itu tampak agak mencolok, memang. Tapi tak masalah, itu justru bagus bagi mereka. Lee yang mudah bergaul dengan siapapun memberi manfaat lebih di saat seperti ini. Dengan gampangnya, pemuda beralis tebal itu sudah masuk ke dalam perkumpulan pria-pria jombol di dekat pintu masuk utama. Meski terlihat serius mengobrol, mata bulat Lee terus terfokus pada sejumlah hadirin yang memasuki ball room—mencari-cari kejanggalan. Lee berpamitan sebentar pada teman-teman barunya, berjalan memutar ke stand minuman untuk memperlebar waktu tempuh. "Belum ada yang mencurigakan. Seperti katamu, Shion memang belum muncul," desis pemuda itu hati-hati.
"Bagaimana dengan Shino?" Sasuke bertanya dari pusat ball room, masih sambil berdansa dengan Sakura. Toh orang-orang pasti mengira ia sedang berbincang dengan Sakura—meski nyatanya tidak demikian.
"Belum ada kabar," jawab Kiba, dari dalam mobil sport berkaca gelapnya. Kiba sengaja memarkir mobilnya beberapa meter agak jauh di sekitar kediaman Naruto. Tugasnya, sebagai agen luar yang harus siap siaga. Berhubung dia punya Akamaru, dan paling jago ngebut di antara mereka semua.
Shino memang sengaja tidak mengaktifkan earphone-nya. Sebagai mata-mata yang bertugas mengawasi kediaman Shion, Shino harus benar-benar total agar tak mengundang kecurigaan siapapun.
Keheningan merambat sebentar, sebelum akhirnya terpecah oleh Sai. "Aku menemukannya," seringai pemuda berambut eboni itu terdengar jelas. "Tepat seperti dugaanku, Shion memesan tempat di hotel Kagushi—yang letaknya paling dekat dari rumah Naruto."
Lengkungan tipis tercetak serempak di seluruh wajah muda-mudi itu. Terbesit kelegaan super besar di hati mereka. Setidaknya, satu masalah selesai.
"Dan aku sudah memesan tempat tepat di depan kamar yang di-booking Shion," lanjut Sai lagi. "Aku tahu kau mendengar ini, Ino." Tak ayal, gadis pirang yang sedang sibuk menghabiskan strawberry shortcake-nyaitu langsung tersedak oleh potongan kuenya. Buru-buru ia mematikan earphone-nya sebelum wajahnya bertambah panas.
"Ayolah, jangan membahas ini di sini," Tenten mengeluh bosan, sibuk menembus akses menuju kamera mikro terselubung yang terdapat di kamar pribadi masing-masing anggota rumah—sekedar berjaga-jaga.
Sai kembali terkekeh, "Bilang saja kalau kau cemburu, Tenten." Di ruangan gelap bersuhu rendah itu, Tenten mengerucutkan bibir. "Kau tahu, aku bisa mereservasi kamar lagi jika mau. Bagaimana, Neji?" Dan di markas sana, Neji langsung terjatuh dari kursi putarnya. Shikamaru menatapnya geli.
"A-apa yang kau bicarakan!" Tak kuasa, pemuda Hyuuga itu sedikit membentak Sai di seberang sana. Wajah Tenten ikut-ikutan memanas.
"Kau tidak mau?" Sai masih setia mengolok-olok Neji. Takut kehilangan konsentrasi, Tenten pun mematikan earphone-nya.
"Aku saja, kalau Neji tidak mau." Dengan enteng, Sasuke menyelundup masuk dalam percakapan absurd itu. Onyx-nya mengerling nakal gadis di depannya.
Sakura menunduk, wajahnya terasa panas sekarang. "Kenapa melihatku seperti itu!" pekik Sakura tak terima.
"Kenapa?" Sasuke mendecih. "Jangan berlagak dingin seperti itu, Sakura. Aku tahu kau tak bisa menolakku."
Sakura mengangkat wajahnya, memasang senyum manis bak malaikat andalannya. "Sasuke-kun, sekarang aku benar-benar ingin ..." Sasuke tersenyum penuh arti. "Menendang milikmu puluhan kali," desis gadis berhelai merah muda itu. Sasuke berjengit sedikit.
"Sudahlah-sudahlah~" Kekehan tawa Kiba terdengar lepas. "Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan sejak tadi, saat aku kembali Sakura sudah bilang begitu," kekehan tawa lagi. "Kau ditolak mentah-mentah, Sasuke," ejeknya terang-terangan. Sebelum Sasuke sempat ambil suara lagi, Kiba cepat-cepat memotong. "Shino sudah menghubungiku, sekarang Shion sudah dekat. Persiapkan diri kalian, ancaman sebenarnya baru saja akan datang."
Atensi kembali teralihkan. Tenten, Lee, dan Chouji akhirnya kembali menyalakan earphone mereka—setelah sebelumnya menerima pesan khusus di handphone mereka dari Kiba. Hanya Hinata dan Shino yang belum bergabung. Karena takut salah bicara, maka Hinata belum mau menyalakan earphone-nya—berhubung ia sedang berduaan dengan Naruto. Sementara Shino, masih mengendap-endap mengikuti mobil Shion.
.
Langit malam tampak begitu kelam, dibumbui bintang-bintang kecil yang berpijar kerlap-kerlip. Awan-awan gelap terlihat berlalu ke arah timur, menjauh dari kawasan dimana pesta Naruto diadakan. Tampaknya, cuaca sedang berpihak pada mereka. Shion menyeringai antusias begitu high heels setinggi delapan senti miliknya resmi menapak karpet merah di depan kediaman Namikaze. Ia tampil cantik dengan dress hitamnya yang sexy, memancing kedipan-kedipan takjub dari sekumpulan kaum pria.
Ini sebabnya aku benci pesta tanpa Sai, batin Ino dalam hati. Begitu seorang laki-laki—lagi—datang menghampirinya dan mengajaknya berkenalan. Siapa yang tak jatuh hati pada gadis pirang bak Barbie hidup itu, eh?
Shion melangkah mendekati Naruto—yang tampak berbincang hangat dengan Hinata. Gadis itu langsung menyerobot masuk di tengah-tengah pasangan dansa itu. "Naruto-kun, maaf aku terlambat datang," ucapnya penuh penyesalan. Senyum Naruto mengembang, menggeleng cepat sebelum menjawab permintaan maaf Shion.
"Tak apa, pesta juga baru dimulai."
Meski berulang kali mendapat tatapan tak suka dan lirikan tajam dari Shion, Hinata tak tergerak sedikit pun untuk menyingkir dari sana. Bukannya apa, tapi satu-satunya orang yang dapat izin langsung dari Kushina untuk terus menempel dengan anaknya hanya dia. Jadi Hinata tidak boleh mengacaukan rencana mereka—Hinata bertugas menjaga Naruto dari jarak dekat. Meski gemuruh jantungnya terus menggebu-gebu sejak tadi, wajahnya tak henti-hentinya menyemburkan rona merah, Hinata tetap bertahan agar tak jatuh pingsan sekali pun. Tak boleh, ini misi penting mereka.
.
"Bagaimana?" Kiba mematikan earphone-nya sebelum bertanya langsung pada pemuda berkulit pucat yang baru saja masuk ke dalam mobilnya. Shino melonggarkan dasi kupu-kupunya sedikit, lalu menyandarkan punggungnya di jok mobil.
"Shion memang agak aneh," jelasnya singkat. Kacamata hitamnya menutupi iris gelapnya yang jarang tampak.
"Aneh? Dia 'kan memang aneh," cibir Kiba tanpa dosa. Di sebelahnya, Akamaru menggeram berat—entah setuju atau tidak. "Jadi?" tanya pemuda bertato segitiga terbalik itu lagi.
"Dia tidak datang bersama gengnya. Aku yakin ada yang mereka sembunyikan," lapor Shino, tepat ketika earphone-nya aktif kembali. Seluruh tim Ninja—ditambah Sakura—kompak meningkatkan kewaspadaan mereka.
Setelah berbasa-basi dengan Naruto, Shino langsung kembali ke mobil sport hitam milik Kiba. Tugasnya telah usai, meski hasilnya tidak begitu memuaskan—mengingat mereka tidak tahu di mana teman-teman gaul Shion berada.
Pesta dansa telah usai bermenit-menit yang lalu. Meski tak terlibat perbincangan lagi dengan Naruto, tapi Hinata masih setia mengawasi pemuda berkulit tan itu dari jarak dekat. Naruto pun tak keberatan menggandeng Hinata ke mana-mana—tentu saja, itu adalah perintah dari Kushina.
Di bagian barat ball room, Sakura dan Sasuke tampak terlibat perbincangan serius. "Kau tak berpikir ini aneh?" Sakura membuka suara, earphone-nya ia matikan sementara—Sasuke pun demikian. "Pesta hampir usai dan Shion masih belum melakukan apapun," lanjut gadis itu, begitu mendengar trade mark 'Hn' dari Sasuke.
Sasuke memotong tiramisu di piringnya, "Itu artinya, dia mengandalkan orang lain."
"Siapa?"
Sasuke mengedikkan bahunya santai. Onyx-nya kembali ia lempar ke arah Naruto yang sedang cengar-cengir tidak jelas di tengah sana. "Siapapun bisa kita—"
"Hai, tampan~" Seorang gadis berambut panjang merangkul Sasuke mesra dari belakang. Mini dress merahnya tampak senada dengan helaian miliknya yang ia biarkan terurai.
Sasuke mendengus, kesal dengan pose menjijikan Karin di sebelahnya. "Apa maumu, Karin?" tanya pemuda berambut raven itu malas. Di depannya, Sakura tampak menyibukkan diri dengan potongan kue-kue manisnya—berusaha tak memikirkan ciuman panas Sasuke dan Karin tempo hari.
"Aku ingin bicara sebentar," pinta Karin. Iris uniknya melirik Sakura sepintas. "Berdua saja denganmu," lanjutnya lagi. Tak kunjung mendapat jawaban dari Sasuke, Karin pun kembali memaksa. "Ini penting, Sasuke-kun."
Merasa sangat enggan, Sasuke pun hendak menolak tawaran Karin. Namun belum sempat suara baritone-nya keluar langsung, Karin tiba-tiba berbisik di telinganya. Sakura melirik mereka diam-diam dari ekor matanya. "Baiklah." Sasuke berdeham pelan. "Sakura, aku tinggal sebentar, ya?" Dan Sakura hanya mampu mengangguk mengerti, makin kesal begitu Karin menatapnya remeh sembari menggandeng Sasuke menjauh.
Tak tahu harus melakukan apa, Sakura pun beranjak pergi dari stand makanan itu. Perempuan berusia tujuh belas tahun itu melangkah menuju balkon luar, tepat di sisi seberang kolam renang besar yang ada di sana.
Pantulan sinar bulan tampak beriak-riak di atas permukaan air kolam yang jernih. Tempat itu lumayan sepi, hanya ada beberapa pasang manusia yang berdua-duaan di suasana remang itu. Rumput basah yang dipijak Sakura menggeliat kecil begitu high heels gadis cantik itu tercabut dari sana, mengayun menuju ayunan kecil yang terletak di bagian sisi kanan.
Sakura tak begitu mengerti dengan apa yang dilakukannya kini. Dia memang bertugas mengamati suasana di dalam pesta, bukannya bermain ayunan bak anak kecil di taman belakang kediaman Naruto. Entah bagaimana, tapi Sakura tiba-tiba jadi ingin keluar dari ball room yang penat itu. Udara di luar masih jauh lebih sejuk dibanding udara hasil jerih payah AC di dalam sana. Lagipula, di taman juga suasananya tenang—tak sebising di dalam tadi.
Tak berapa lama kemudian, seorang pemuda jangkung datang menghampirinya. Rambut hitam pemuda itu dikuncir rapih di bagian belakangnya. Tuxedo hitam yang dikenakannya juga tampak serasi dengan dasi panjang berwarna putih yang sengaja ia pakai. Bibir tipisnya tersenyum lembut, berhasil menenangkan hati Sakura yang semula agak gelisah.
"Itachi-nii~" sapa gadis itu riang. Telapak tangannya menepuk-nepuk tempat di sebelah kirinya—meminta Itachi agar duduk di sampingnya. Pemuda tampan itu menurut. Lepas mendaratkan bokongnya di kursi ayunan kayu itu, Itachi melempar kembali senyum menawannya pada Sakura. Diperhatikannya baik-baik penampilan gadis di sampingnya itu. Rambut Sakura yang digulung modern agak rendah menambah nilai plus penampilannya—terlebih lagi, gaun tanpa lengannya juga terlihat pas di badan Sakura. Cantik, tak berlebihan.
"Kau cantik sekali malam ini, Sakura," puji Itachi tulus. Senyum Sakura mengembang lebar. "Sulit sekali mendekatimu, bocah nakal itu terus menempel padamu sejak tadi," tambah Itachi santai, dengan kekehan tawa di ujung kalimatnya.
"Maksudmu Sasuke-kun?" tanya Sakura menahan tawa. Itachi tersenyum simpul. "Tenang saja Itachi-nii, sekarang dia sedang sibuk dengan pacarnya."
Uchiha Itachi mengernyit heran mendengar ucapan Sakura. Pacar? Sejak kapan Sasuke punya pacar? Meski terus menatap Sakura dengan pandangan menuntut penjelasan, namun gadis itu sama sekali tak ada niat untuk memperjelas ucapannya.
"Ah, maksudmu Karin?" tebak Itachi akhirnya. Sakura mengangguk lesu. "Dia bukan pacar Sasuke, Sakura." Suara berat milik Itachi menarik perhatian Sakura kembali. Gadis itu menatap balik Itachi dengan emerald indahnya. "Dia hanya bisa merayu Sasuke saja. Kau tahu sendiri bagaimana sifat gadis sepertinya."
"Tapi tetap saja, Itachi-nii. Mereka selalu bermesraan dalam setiap kesempatan."
Itachi tertawa kecil. "Kau cemburu?" tuduhnya tajam.
"Tidak," elak Sakura lekas. "Mana mungkin aku cemburu dengan Si Mesum itu." Sakura mengerucutkan bibirnya dengan sebal. Dari arah samping, Itachi menatapnya penuh arti.
"Mau mempermainkannya juga?" bisiknya, tepat di telinga Sakura—beruntung bukan di telinga tempat earphone-nya terpasang. Dan selanjutnya, hanya gelak tawa mereka berdua yang terdengar. Memancing suara gemeretak gigi dari mulut pintu, Uchiha Sasuke tampaknya salah paham.
.
Satu jam sebelum pesta berakhir, para hadirin sudah banyak yang pergi meninggalkan ball room. Wajar saja, ini sudah nyaris tengah malam. Naruto yang melihat kondisi inipun langsung menyerbu stand makanan bagaikan anak kucing malang yang belum makan selama seminggu. Pemuda pirang itu terus mencicipi setiap sajian yang masih menggunung tinggi di pestanya. Di sisinya, Hinata tersenyum maklum. Naruto memang belum sempat makan sejak tadi—Kushina benar-benar memperingatinya agar tak mempermalukan diri sendiri.
Sembari menemani Naruto mengisi perut, Hinata melempar pandangannya pada siluet Sasuke dan Sakura di sisi kolam. Bibir merah muda gadis itu tertarik, tersenyum tipis melihat sepasang anak manusia di balik jendela raksasa itu. Sakura berbeda, Hinata tahu itu dari awal pertama berjumpa dengannya. Waktu itu ia sangat terkejut sampai jatuh pingsan. Dan jujur, Hinata berharap mereka berdua dapat benar-benar menjalin hubungan asmara.
Sebelum mengenal Sakura, Hinata tahu betul kebiasaan jelek Sasuke. Sekali pun, pemuda itu belum pernah menjalin hubungan pacaran dengan gadis manapun. Meski kedekatan Sasuke dengan gadis-gadis di sekelilingnya tampak bagaikan pasangan kekasih. Itulah yang tak disukai Hinata. Sasuke terlalu menggampangkan perasaan kaum hawa. Namun sejauh ini, cara Sasuke memperlakukan Sakura berbeda. Sesekali, sahabat lamanya itu memang senang menggoda Sakura, namun semuanya hanya sebatas candaan semata. Cara Sasuke menatap Sakura juga terlihat lain. Bahkan pertengkaran-entah-apa yang sempat terjadi di antara mereka berdua tempo hari sungguh berakibat fatal pada mental Sasuke. Hinata belum pernah melihat Sasuke seberantakan waktu itu—dan semuanya hanya karena Sakura.
"Teme dan Sakura serasi, ya?" Naruto mengelus-elus perutnya yang sudah tak meraung-raung lagi. Iris shappire-nya menatap kedua manusia yang ia maksud di taman belakang rumahnya.
Tanpa melepas lavender-nya dari sana, Hinata mengangguk kecil. "Iya, kupikir juga begitu," jawab gadis itu kalem.
Naruto sedikit tersentak mendengar jawaban Hinata, sebenarnya kalimat tadi merupakan pertanyaan spontan yang keluar langsung dari mulutnya. Terpengarah sesaat, pemuda tampan itu menatap Hinata lumayan lama. Senyum lima jari Naruto kembali muncul begitu Hinata melempar senyum menawannya padanya. Dia ternyata salah kaprah, mengira di antara Hinata dan Sasuke sempat terjalin hubungan khusus. Ya, tak heran. Mereka berdua—meski terhitung sepupu jauh—selalu tampak akrab sejak dulu. Saat awal Naruto mengenal Hinata pun sudah begitu. Takut mengganggu hubungan mereka, Naruto pun tak berani maju meski selangkah—padahal Ibunya sudah berulang kali mendesaknya.
"Hinata, aku—"
"Naruto!" Sekumpulan bule datang menghampiri Naruto dengan cengiran lebar yang mengembang. Cara mereka memanggil nama Naruto memang agak aneh, khas orang barat.
Hinata melangkah sedikit mundur begitu kawan-kawan lama Naruto itu langsung menghambur pelukan Naruto. Pemuda pirang itupun tampak larut dalam obrolan heboh mereka. Ya, sewaktu SMP, Naruto sempat pindah ke luar negeri—tidak begitu lama. Tapi cukup untuk memabangun persahabatan kecil dengan kawan-kawannya itu. Buktinya, mereka menyempatkan diri datang menghadiri pesta teman lamanya.
Hinata meletakkan gelas berisi minuman non-alkohol-nya di atas meja. Pandangannya menerawang. Begitu teringat, Hinata langsung menyalakan earphone di telinga kanannya. Gadis itu melangkah sedikit menepi dari gerombolan Naruto.
"KAU BERCANDA?!" Pekikan Shikamaru menyambut kedatangan Hinata. Gadis itu mengernyit, berusaha menelaah permasalahan yang terjadi.
"Shion dan teman-teman gengnya berhenti di sebuah club malam." Kali ini, suara dingin Shino yang terdengar. "Aku akan masuk, Kiba tetap berjaga di mobil."
"Ini aneh, apa dia sudah menyerah?" Neji ikut berkomentar. "Tetap waspada, Kiba, Shino." Yang disebut langsung menyahut mengerti.
"Aku dan Sakura akan berkumpul dengan yang lainnya—yang masih tersisa di rumah Naruto. Kami tunggu di taman belakang, sisi kanan kolam."
"Mana Sai?" Ino bertanya tiba-tiba. Di ujung sambungan, Sai menyahut singkat.
"Aku merasakan firasat buruk, ini belum berakhir." Ino kembali berpendapat. "Tetap awasi yang di sana, Sai."
"Err, teman-teman," panggil Tenten pelan. "Pesta berakhir lima menit lagi," beritahu Tenten. "Sebaiknya kita pastikan Naruto tak ke mana-man—"
"Hinata, kau di sana?!" Neji berteriak sedikit kencang. Hinata langsung tersadar dan menyahut gugup. "Naruto pergi, bersama teman-teman bule-nya itu. Susul dia, cepat," perintah Neji dengan buru-buru.
Hinata bergegas membalik badan dan langsung menyergah lengan Naruto yang—beruntung—sempat berhenti berjalan di mulut pintu. "M-mau ke mana, Naruto-kun?" Agak gugup, Hinata berbasa-basi ringan.
Naruto tersenyum lebar. "Club malam, Hinata. Mereka memaksaku," jawab Naruto jujur. Di sebelahnya, pria-pria berkulit pucat tadi terkekeh pelan—mulai berbisik-bisik pelan dengan sesamanya.
Hinata menelan ludah. Di telinganya, suara Neji dan Sasuke terdengar saling adu argumen. Neji tak mengijinkan Hinata ikut ke night club, sementara Sasuke berpendapat akan sangat aneh jika dia tiba-tiba datang dan menawarkan diri untuk ikut—sesuai saran Neji. Perang mulut pun terjadi.
"A-ano ... ." Hinata menatap Naruto takut-takut. "A-apa aku boleh ikut?" Dan kini, wajahnya cantiknya bergegas ia sembunyikan di balik tirai rambutnya. Naruto sedikit heran. Sungguh langka Hinata ingin ikut ke tempat semacam itu. Tak ingin Hinata kecewa, Naruto pun segera menarik lengan gadis cantik itu.
Neji menggeram halus melihat adegan di monitor utama. Perlahan, tuas kamera CCTV di ball room itu kembali ia putar balik. Sasuke dkk tampak sudah berkumpul di sudut lain. Sementara Hinata benar-benar pergi bersama Naruto. Gadis itu memang nekad kalau sudah bertekad kuat.
Usai berdiskusi sebentar, mereka sepakat untuk membagi tim menjadi dua bagian. Sasuke dan Lee menyusul mobil Naruto, sementara sisanya kembali ke markas. Sai masih menetap di hotel Kagushi. Dugaan kuat mereka, Naruto sengaja digiring oleh teman-teman asingnya itu menuju ke club malam yang didatangi Shion tadi. Entah bagaimana, tapi kemungkinan besar, Shion mungkin sudah kenal dengan mereka. Satu-satunya hal yang mereka takutkan sekarang adalah Hinata. Gadis itu ikut masuk ke dalam limousine Naruto yang dihuni oleh pemuda-pemuda berkewarganegaaran lain tadi. Meski Naruto ada di sana bersamanya, kekhawatiran Neji dan yang lainnya masih tetap ada.
.
Bau memabukkan alkohol tercium jelas oleh sejumlah pengunjung yang baru saja masuk di club malam itu. Lampu berbentuk bola kristal besar di langit-langit tengah ruangan memancarkan sinar mengkilap, sedikit terlihat glamour di balik kesan dunia malamnya. DJ berkulit hitam yang berdiri sok asyik di lantai dua sana tampak melambai penuh semangat pada gadis berkulit seputih salju yang tanpa sengaja melirik ke arahnya. Gadis itu bergegas berpaling.
Suara dentuman musik menggema di sepanjang lantai dansa. Kepala Hinata sudah cukup penat sekarang, meski baru sampai lima menit yang lalu. Naruto baru saja memanggil seorang butler ke meja mereka, meminta laki-laki berompi itu agar menyiapkan minuman non-alkohol untuk teman-temannya—yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh para bule itu. Mereka tanpa segan langsung menyebutkan merk botol minuman asing yang belum pernah didengar Naruto. Tak kuasa menolak, Naruto pun cuma diam membiarkan butler itu berlalu membawa pesanannya.
Semakin tak tahan dengan suasana yang ada—terlebih lagi, ia tak dapat mendengar dengan jelas apa yang diperbincangkan teman-temannya melalui earphone di telinga kanannya—Hinata pun pamit sejenak. Berlalu ke toilet yang terletak di pojok kiri lantai dansa.
Cahaya minim yang sengaja dipasang oleh pihak night club mempersulit Hinata melewati puluhan orang yang asyik menghibur diri dengan berjoget menghentak-hentak. Berulang kali gadis itu menyelip di antara kerumunan manusia yang menghalanginya. Mendadak, sesosok tangan menahan pergelangan Hinata. Gadis itu memekik kecil seraya berbalik menatap sang tersangka.
"Mau ke mana, Cantik?" Seorang pria mabuk dengan baju berbahan kain yang sudah cukup basah. Pada bagian luar, pemuda itu mengenakan sehelai rompi jeans yang tampak lusuh. Beserta celana jeans berwarna senada dengan rompinya. Matanya setengah terbuka, namun tenaganya benar-benar kuat.
Hinata menarik tangannya sekuat tenaga. Pergelangan tangannya terasa sakit akibat cengkraman pria bertindik itu. "Temani aku sebentar," paksa pria tadi, masih tak rela melepas kepergian Hinata—yang terus-menerus memberontak dari cengkramannya.
Bau alkohol yang menusuk memaksa Hinata untuk bergegas menutup hidungnya dengan tangannya yang masih bebas. Ia bergumam, "Maaf," sejenak sebelum kembali berupaya menarik tangannya lagi. Lavender Hinata mengintip Naruto yang duduk di meja dekat pintu masuk. Suaranya keluar, hendak meminta tolong meski seluruh teriakannya teredam oleh dentuman musik sang DJ.
Hinata yakin earphone-nya masih aktif, jadi dia terus meminta tolong lewat sana—meski tak dapat menangkap baik respon teman-temannya di sisi lain. Takut dibawa kabur oleh pria mabuk tadi, Hinata pun mengumpulkan keberanian dan kekuatannya. Dengan sekali hentak, perempuan berbalut long dress itu menarik kasar dirinya. Naas, tubuh Hinata malah terhuyung dan menubruk seseorang.
PRANG
Suara pecah belah terdengar sedikit samar di lantai dansa—namun sepakat diacuhkan oleh seluruh penghuni tempat itu. Seorang gadis pirang mendecih kesal begitu gelas dalam genggamannya terjatuh. Iris miliknya menatap galak perempuan yang menubruknya tadi. "KAU TIDAK PUNYA MATA, HAH?!"
Hinata terkejut bukan main. Bukan karena makian yang terlontar dari mulut berbisa gadis yang tanpa sengaja ditubruknya, namun karena keterpanaannya pada sosok gadis yang tengah sibuk marah-marah tak jelas itu. Dia kenal siapa gadis pirang itu.
"KAU?" Shion melirik sinis Hinata yang masih berdiri membisu di depannya. Buru-buru gadis keturunan Hyuuga itu ber-ojigi sopan sambil meminta maaf. Namun sayang, Shion sama sekali tak peduli dengan permintaan maaf Hinata. Ia kesal setengah mati.
"Kau memang benar-benar serangga pengganggu," omel Shion lagi, kali ini sambil melipat tangan di depan dada. "Kesalahanmu kali ini sudah sangat fatal, Nona Pengganggu. Sebagai hukumannya, akan kuberi kau sedikit pelajaran berarti." Shion menyeringai keji, tangan kanannya menjambak rambut Hinata dengan kasar.
"Lepaskan!" Hinata memberontak, mencengkram erat tangan Shion dengan kuku-kuku miliknya—gerakan refleks Hinata.
Sedetik kemudian, Shion melepas jambakannya. Sial, tangan kanannya terasa perih sekarang—ia jamin Hinata sengaja menggores tangannya tadi. Ditatapnya Hinata dengan penuh dendam. Mendecih lagi, Shion dengan gaya super santainya mendorong bahu Hinata cukup kuat. Hinata jatuh, jika saja Naruto tidak berdiri menahan bobotnya yang nyaris membentur meja bartender di punggungnya. Wajah Naruto mengeras, tatapan tajamnya menghujam Shion yang bergedik kaget—sama sekali tak menyangka Naruto akan muncul menolong Hinata.
"Kau tak apa-apa, Hinata?" tanya Naruto khawatir, memperhatikan baik-baik wajah Hinata yang sedikit pucat sekarang. Seraya mengembalikan keseimbangannya kembali, Hinata mengangguk pelan. Naruto semakin geram melihat respon Hinata. "Ayo kita pergi." Dan dalam hitungan detik, mereka berdua telah hilang di balik pintu keluar club malam itu.
.
Di sudut pojok, Shino dan Sasuke saling bertukar pandang. Sebelumnya, mereka sempat ingin maju begitu melihat seorang pria tak dikenal berbincang dengan Hinata. Tapi mereka batalkan, karena dari arah lain, Naruto tampak bangkit dari duduknya—berjalan mendekati Hinata. Sesaat setelah Naruto dan Hinata keluar dari tempat itu, Lee muncul dari arah pintu masuk. Dia membawa perintah dari Neji dan Shikamaru—yang tak tertangkap earphone Sasuke dan Shino—untuk meminta mereka segera mundur. Naruto sudah aman, dalam perjalanan pulang bersama Hinata.
Sebelum benar-benar pergi dari sana, Sasuke melirik teman-teman asing Naruto tadi sejenak. Mereka tampak mabuk sekarang, dengan berbotol-botol minuman yang ditraktir Naruto tadi. Mendadak, Shion melintas. Pergelangan tangannya ditahan secara sepihak oleh salah satu bule itu, dengan galak Shion melepaskan dirinya dalam sekali hentak. Dia berteriak kencang—entah apa—ke arah bule-bule yang menyeringai itu sebelum pergi ke meja tempat teman-teman akrabnya menunggu. Sasuke yakin sekarang, kedatangan bule-bule itu pasti karena ulah Shion. Tak ia sangka, Shion sampai bertindak sejauh ini hanya demi memperjuangkan cintanya untuk Naruto. Apa cinta perlu sememaksa kelakuan Shion ini? Sasuke mempertanyakan hal itu pada dirinya sendiri, apa racun cinta memang seberbahaya ini?
Menggeleng cepat, Sasuke menepis dugaannya tadi. Hinata juga mencintai Naruto, tapi gadis itu tidak pernah menyusun rencana apapun agar Naruto membalas cintanya. Hinata malah terkesan pasrah, membiarkan waktu yang menjawab semuanya. Ada juga cinta yang tulus seperti itu, pikir Sasuke.
Benar, tak semua cinta perlu cara ilegal seperti yang dilakukan Shion. Sai dan Ino, misalnya. Mereka disatukan dalam ikatan sakral beratas namakan cinta. Mereka menikah tanpa pemaksaan sama sekali, berbeda dengan kasus Sasuke. Pemuda itu teringat lagi akan dirinya sendiri, mungkin ia akan dijodohkan lagi dengan wanita lain—selain Sakura—jika Itachi-lah yang menjadi pilihan gadis berambut merah muda itu. Dada Sasuke terasa sesak memikirkannya. Ketimbang melayani sensasi tak enak di dalam dirinya, Sasuke lebih memilih cepat-cepat memacu mobil yang dikendarainya kini.
.
.
.
TBC
Author's line:
Actionnya kurang dapat, ya? :/ Maaf *ojigi* SasuSaku-nya cuma sempet kumunculin dikit, ItaSaku-nya lebih dikit lagi wakakak *ditendang* tapi lumayanlah, ada NejiTen, NaruHina, dan SaIno-nya juga :3 Ada yang req ShikaTema dan KibaShion XD kuusahain yaa nanti ^^
Ini udah lewat 6k+ nggak enak kalo terlalu panjang, makanya scene selanjutnya kupindahin di chapter depan aja XP Semoga chapter depan fluffnya dapet T^T Ahya, karna konfliknya nambah, kayaknya PM bakal close di chapter 8/9 liat nanti aja deh :/ #gaje
Chapter depan gajanji apdet cepet, lagi miskin ide, terlebih lagi ini bulan Ramadhan, gabisa ngetik yang 'menjurus' dulu =,= *plak* malam pun, saya gabisa ngetik karna ngantuk abis tarawih T^T *ngenes* paling lama apdet pasca lebaran XP lagi ngurus perihal sekolahan juga, soalnyaa ^^
Nggak nyangka kotak reviewnya bakal pecahin angka 100 :'''3 *terharu* makasiiiih semuanyaaaa XD *peluk satu-satu*
Ini balasan buat yang review chapter kemarin XD makasih yaa~ yang lain cek PM ^^
Sakumori Haruna: Maaaap *sungkeman* T^T saya lagi sibuk di RL-nya, maapyaaa~ wakakak, namanya aja anak muda :3 *ditendang* Karin keenakan? hihi, gapapalah sekali-sekali XP garelaaaa~ jangan sentuh punya gueeeh *masukin Itachi-nii ke kamar* fufufu~ ini udaaah, mulai terbakar api cemburu nihnih :p yaudah, Runa-chan bawa pulang aja Kiba, sepaket ama Akamaru tapinyaa XP *plak* apdeeet~ ^^
Benrina Shinju: *sundul Indah* ngapaiin peyuk-peyuk Itachi-nii, hm? *death glare* #puasawoi err-bukannya kamu lagi jalan sama Orochi ya? :/ kok sekarang ngebet pengen dicium Sasucake? XP *smirk* wakakak, emang maunya baikan dengan cara gimana? cipika-cipiki gitu, In? XP nggak aaah~ romensnya masih banyak, menanti di chapter-chapter selanjutnya XP *alibi* gapapa bangeet XP ini puasa jadi gabisa bales kecup :p apdeeet~ ^^
Minri: Apdeeeet~ ^^
Natsumo Kagerou: rooftop XD maaf~ saya yang salah kok XP ntar kuperbaikin yaa, makasiih ^^ nah, itulah Sasuke, dari situ dia akan belajar jadi makin dewasa lagi, samaaja dengan Sakura yang serba labil gajelas XP *alibi* makasihyaa apdeeet~ ^^
sunny: wakakak~ kamu nungguin lemonnya? :3 maaaap, sesuai summary, gaada lemon di sini, meski saya pake rated M (cuma untuk bahasanya aja) maafyaaaa~ hihi XP apdeet~ ^^
RM: ada koook XP mereka kan kujadiin slight pairing, karna banyak yang minta XD abis baca chapter ini, pasti makin eneg sama Shion? XP *gelindingan* makasiih, ini apdeet~ ^^
kagami natsu: makasih :3 ini apdeeet~ ^^
Mau bantu saya biar semangat apdetnya? XP REVIEW yaaa ^^
Arigatou :)
