DISCLAIMER :
Togashi-sensei
PAIRING :
Absolutely KuroPika
WARNING :
AU, OOC (kuharap tidak terlalu), FemPika, dan karakter alter-self milikku sebagai OC di sini...sebatas pendukung cerita sebagai fans berat KuroPika
A/N :
Sepertinya ini update tercepat sejak pertama kali membuat multichap, hanya berjarak dua hari. yah, mumpung mood sedang mendukung xDa
Untuk chapter kedua ini, berisi tentang Kuroro POV.
Pembukanya terinspirasi dari beberapa lirik lagu yang kudengarkan (berkali-kali!) untuk menemukan feeling dalam Kuroro POV, yaitu Yesterday – The Beatles dan The Truth – Kris Allen.
.
Enjoy...
Yesterday, love was such an easy game to play
Until there's something wrong between us
And we pretend that we don't see it
Now I need a place to hide away and think
Suara decit ban terdengar memasuki basement gedung apartemen mewah itu, nampak mobil sedan hitam berhenti di salah satu tempat parkir yang masih kosong. Sosok yang berada di dalamnya, Kuroro Lucifer, segera melangkah keluar dan masuk ke dalam lift. Dia menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya untuk sampai ke tujuani karena sengaja mengambil jalan memutar.
Ingatan ketika Kurapika melangkah menjauh tanpa menoleh sedikitpun, memasuki halaman rumah mereka dan tanpa ada dirinya di samping wanita itu, terus terbayang di benak Kuroro. Mungkin pikirannya sedang agak kacau saat ini.
Semua sudah diputuskan bersama...tapi entah kenapa terasa salah.
Suara denting pintu lift yang terbuka membuat Kuroro tersadar dari lamunannya yang ia anggap mulai terasa berlebihan—menurut standar Kuroro sendiri, tentu saja.
'Akan lebih salah lagi jika diteruskan,' ia meyakinkan diri sambil melangkah keluar lift.
Kuroro berjalan dengan tegap menuju ke apartemennya. Sebentar, dia memendarkan pandangannya ke sekeliling tempat yang bergaya modern dan ditata rapi, tempat di mana ia tinggal sebelum menikah dulu.
'Sudah lama...aku tak datang ke sini,' batinnya.
Kuroro melepaskan dasi dan jasnya, lalu melemparkannya begitu saja ke sofa. Sambil tangannya sibuk membuka seluruh kancing kemeja yang ia kenakan, Kuroro melangkah ke kamarnya. Raut wajahnya terlihat tanpa emosi...namun kelelahan terlihat cukup jelas di sana.
Kuroro menyalakan lampu kamar itu yang bernuansa hitam putih dengan sedikit aksen merah. Ketika akan melepaskan kemejanya, Kuroro tiba-tiba menghentikan tangannya dan menurunkannya kembali. Pria itu terdiam. Matanya yang gelap tertuju ke tempat tidur king size di tengah kamar.
Dia teringat...saat itu...
Sungguh cuaca yang buruk. Pergantian cuaca yang akhir-akhir ini terasa ektrim membuat banyak orang jatuh sakit karena flu dan gangguan saluran pernapasan. Kuroro yang jarang sakit pun kali ini terkena imbasnya. Dia menderita flu yang cukup berat.
"Dokter minta agar Anda banyak istirahat, Tuan Muda," kata Leorio, sekretaris pribadinya.
Kuroro memicingkan matanya pada pria berkacamata itu, membuat Leorio bergidik ngeri. Beristirahat lebih dari tiga hari sungguh membosankan! Ia pun terus teringat akan beberapa pekerjaan yang belum dia selesaikan. Setelah masa istirahatnya selesai, bukankah nanti dia juga yang kerepotan?
Namun hari itu seolah tiba-tiba menjadi cerah ketika Kuroro menoleh ke arah pintu...melihat seseorang yang tak ia sangka sebelumnya akan datang secara mendadak di waktu seperti ini, lalu melangkah dengan anggun memasuki kamarnya.
Gadis cantik berwajah malaikat dan helaian rambut pirangnya yang halus...Kurapika Clementine, tunangannya, putri dari Kerajaan Pulcheria nun jauh di sana.
"Kurapika...?" Kuroro tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Kurapika tersenyum dengan pipi merona. Gadis itu datang khusus untuk menemui Kuroro, berusaha memberikan perhatian ketika dia sedang jatuh sakit, membuat Kuroro membalas senyumannya dengan senyuman lembut yang tak kalah menawan.
Kuroro POV
Aku segera menggelengkan kepalaku, seolah berusaha menghentikan setiap syaraf di otakku ini untuk melanjutkan kenangan itu.
Tak ada gunanya lagi.
Kulepaskan sepatuku sembarangan, menghempaskan punggungku ke atas tempat tidur yang terlihat begitu mengundang, seolah mampu membuat tidurku nanti senyaman mungkin.
Tiga tahun...
Rasanya seperti lebih lama dari itu. Entah kapan terakhir kalinya aku merasakan kebahagiaan pernikahan bersamanya...
Kurapika, benarkah sebelumnya kita pernah merasakan kebahagiaan? Kebahagiaan murni yang berasal dari hati masing-masing, bukan sekedar rasa yang ditimbulkan oleh euforia yang terjadi tanpa henti di sekeliling kita saat itu?
End of POV
Kuroro sedikit terusik ketika merasakan getaran kecil yang berasal dari ponsel yang tergeletak di sampingnya. Tak mau repot melihat nama Si Penelepon, Kuroro langsung menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Ya," ucapnya pendek dengan mata terpejam, bukan sapaan yang biasa ia katakan saat menerima panggilan telepon, berjaga-jaga jikalau yang meneleponnya adalah pihak yang berkaitan dengan urusan perusahaan.
"Kuroro..." terdengar suara Si Penelepon, membuat yang dipanggilnya membuka mata kembali seketika.
Kuroro memikirkan sejenak kalimat apa yang akan ia ucapkan...yang sekiranya tak menimbulkan kesedihan dan kekhawatiran berlebih. Terutama bagi orang yang begitu berarti baginya.
"Benarkah kalian akan bercerai...?" Suara itu terdengar lagi, suara milik Ny. Lucifer...wanita yang telah melahirkan Kuroro ke dunia ini, mendidiknya hingga dewasa dan berperan dalam perjodohan antara pria tunggalnya itu dengan Putri Kurapika Clementine.
Kuroro beranjak duduk di tepi tempat tidur, dengan sebelah tangan bertumpu pada lututnya, dan surai rambut hitam berkilau itu sedikit menutupi wajah karena posisi kepalanya yang menunduk.
'Tak perlu kutanyakan lagi...Ibu pasti sudah menghubungi Kurapika sebelum meneleponku,' ia menyimpulkan di dalam hati.
"Tadinya kuharap apa yang kudengar adalah mimpi...Sungguh, ini benar-benar mimpi buruk. Bahkan ayahmu pun terlihat murung sekarang..."
Suara isakan terdengar. Kuroro menghela napas. Bagus sekali, tak bisakah ibunya bersikap lebih pengertian, dengan tidak membuatnya merasa bersalah? Dia tak suka membuat ibunya menangis. Kuroro mengangkat sebelah tangannya yang bebas dan memijit pelipisnya.
'Oh Tuhan, aku jadi tertekan dibuatnya.'
"Apakah ini...karena salahku dan ayahmu? Karena menjodohkan kalian berdua...Andai kau berkata jujur jika tak menginginkannya—"
'Oke, kurasa ini sudah terlalu berlebihan.'
"Kami hanya melihat kalian begitu cocok, sempurna...atau—"
"Ibu," akhirnya Kuroro berkata, dengan nada suara yang membuat ibundanya langsung diam seketika dan menunggu apa yang akan dikatakan pria itu kemudian. "Bisa kita bicarakan nanti saja?"
"Tapi—"
Kuroro mengerang kesal...ataukah putus asa? Ny. Lucifer terkejut mendengarnya, tak pernah putranya bersikap seperti itu jika mereka tengah berbicara, baik secara langsung maupun melalui telepon.
"Ibu...," lanjut Kuroro, "Itu baru saja terjadi hari ini."
Mengertilah.
Hening...karena di seberang sana, seorang ibu baru saja tersadar bahwa ia telah memaksakan emosinya tanpa mengingat kondisi putranya, atau seperti apa perasaan yang ia rasakan saat ini.
Ya, baru hari inilah keputusan Pasangan Lucifer diucapkan pada orang lain, di mana orang itu merupakan konsultan pernikahan yang mereka temui secara berkala sejak beberapa bulan terakhir ini.
Kami sepakat untuk bercerai.
Terdengar helaan napas Ny. Lucifer, menyiratkan penyesalannya. "Maafkan Ibu," ia berkata, yang hanya ditanggapi dengan keheningan. Ny. Lucifer merasa bingung seketika tentang apa lagi yang harus dikatakannya. "Baiklah...kita bicarakan lagi nanti."
Kuroro memencet tombol di ponselnya yang berfungsi untuk mengakhiri panggilan, tanpa mengucapkan salam kali ini—semoga ibunya mengerti dan tidak menganggap tindakannya itu sebagai sikap yang kurang sopan. Kuroro kembali membaringkan tubuhnya ke tempat tidur sambil melipat kedua tangannya di belakang kepala sebagai bantal. Dia sedikit menyayangkan kenapa Ny. Lucifer menyinggung masalah perjodohan antara dirinya dan Kurapika dulu—awal dari kisah mereka—sebagai penyebab perceraian yang mungkin akan terjadi sebentar lagi?
Saat itu, mereka sendiri yang saling memilih.
Sejak awal, terlepas dari perjodohan itu, memang Kuroro dan Kurapika sendirilah yang memulai kisah ini. Tak ada kaitannya dengan pihak lain...baik orangtua, saudara, teman maupun rekan bisnis.
'Ini hanya tentang kita.'
Kuroro teringat setelah pertama kali mereka berdua menyadari ada yang salah...pada tahun kedua pernikahan. Apa yang terjadi dalam keseharian mulai terasa seperti rutinitas, hingga keduanya saling menjauh dan merasa lebih nyaman dengan diri mereka masing-masing. Sebagai pasangan suami istri, tentu Kuroro masih menyentuh Kurapika walau sesekali saja, lagipula itu adalah kewajibannya. Momen pribadi yang kehilangan hasrat dan kehangatan.
Tentu Kuroro dan Kurapika tidak langsung menyerah. Kuroro mengajak istrinya berlibur ke tempat di mana mereka berbulan madu dulu. Seingatnya, bulan madu saat itu cukup indah, maka ia pun berpikir idenya mampu mengembalikan hubungan mereka.
Tapi dia salah...
Entah bagaimana awalnya, terjadi perdebatan kecil antara Kuroro dan Kurapika di villa yang terletak di tepi pantai itu, hanya karena hal sepele. Rasa tak nyaman mulai terasa sejak awal Kuroro menyampaikan niatnya untuk mengajak Kurapika bulan madu yang kedua kalinya di tempat yang sama dengan bulan madu pertama, mengharapkan keajaiban nostalgia.
Kurapika yang biasanya tak pernah murung, selalu tersenyum pada suaminya, saat itu menampakkan ekspresi yang bercampur antara kesal, marah dan putus asa. Kuroro menganggap reaksi wanita pirang itu terlalu berlebihan. Mereka pun bertengkar...untuk pertama kalinya.
Kuroro POV
Aku masih ingat malam itu setelah bertengkar dengannya, diam-diam aku melihat istriku termenung dan memandang jauh ke luar jendela. Aku tak pernah melihat raut wajah itu sebelumnya.
Aku melihat luka di matanya yang biru.
Ah Kurapika, pasti kau merasa tersiksa. Aku pun begitu. Dan empat hari liburan berakhir begitu saja dengan sia-sia. Kita tak pernah lagi membahasnya...namun tak membuat masalah lenyap begitu saja.
Undissolved matters...masalah yang tidak diselesaikan.
End of POV
Setelah mulai berkonsultasi dengan Whity, seorang konsultan pernikahan, Kuroro baru menyadari bahwa tindakannya salah. Nostalgia memang ampuh, namun pada kasus tertentu, kadangkala harus ditambahkan sedikit perbedaan agar lebih terasa segar dan berwarna, seolah menunjukkan masih ada kesempatan dalam masa depan pernikahan Kuroro dan Kurapika. kurapika pun keliru karena tidak menyatakan penolakannya atas ide yang diajukan Kuroro. Konsultasi saat itu menyemangati Kuroro dan Kurapika, tapi sepertinya masih banyak yang harus diatasi sebelum kembali mencoba.
Kuroro mencoba berpikir lebih dalam...sedikit lagi saja, sebelum membiarkan seluruh tubuh dan otaknya beristirahat malam ini.
'Kurapika, selama ini...apakah yang kulihat di wajahmu itu benar-benar senyuman?' Dia mulai melontarkan pertanyaan yang pertama kali muncul di benaknya yang berkabut. 'Apakah memang menyiratkan kebahagiaan?'
Pria itu berpikir lagi.
Tidak saling memahami...tidak mencoba, dan tidak berniat untuk mencobanya. Berharap kesempurnaan yang terjadi sejak awal akan terus mengiringi.
Berharap semuanya akan terus terasa mudah.
Berpura-pura tidak menyadari adanya percikan api, dengan menyelimuti janji suci melalui kepura-puraan yang membawa kehancuran.
Kuroro mengambil dompetnya dari saku celana, menatap potret Kurapika yang ia simpan di dalamnya. Potret Kurapika yang tersenyum—tanpa Kuroro pernah bertanya, apalagi memahami, ada apa di balik senyum manis itu. Dan tanpa Kurapika pernah mengajaknya untuk itu.
'Seperti apapun takdirnya nanti, kau berhak mendapatkan lebih dari ini...'
Merasa tak ada gunanya menunda lebih lama atas keputusan yang telah disepakati di antara mereka, Kuroro kembali meraih ponselnya dan menghubungi nomor tertentu. Nampak nama 'Leorio' di layar ponsel itu. menunggu orang yang ia hubungi menjawab panggilan teleponnya, Kuroro Lucifer mendengarkan nada sambung yang terasa bagai detik-detik penentuan di telinganya.
"Atur kembali jadwalku besok," ucap Kuroro setelah terdengar jawaban. "Beritahu pengacaraku untuk datang ke kantorku pada pukul satu siang."
TBC
A/N :
Aku senang membaca review pada chapter lalu...ini balasannya ya :
hana-1emptyflower :
Pastinya, KuroPika FOREVER...dan hikmah merupakan sisi lain dari cobaan untuk mencapai kebahagiaan sejati, cobaan yang mungkin bisa jadi semacam shock therapy!*wink*
Moku-Chan :
Udah aku kasih tau lewat pm ya...termasuk tentang translate fic. I'm trying here...hehe!
Hidan gak bisa mati :
Wow, makasih untuk reviewnya ya...entah kenapa aku punya kesimpulan klo Hidan tipe yang terhibur dengan fic hurt/comfort, angst, sad ending... *sweatdrop*
Shizuku M2 :
Salam kenal juga...ah, tentang ide divorce yang seperti ini aku juga emang rasanya belum pernah baca, tapi ga mau GR dulu ah...hehe! Kutunggu Shizuku ikut meramaikan pair KuroPika dengan review dan karyanya. Baca yang lain, ya! *promosi sekaligus sebarin virus KuroPika*
Natsu Hiru Chan :
Gyaaa...terima kasih, Natsu xD Aku senang orang seperti Natsu (?) ternyata bisa merasakan feeling fic ini *menangis terharu*
Yah memang kurang panjang dari fic aku pada umumnya. Mungkin karena fic ini lebih mengutamakan POV tokoh daripada banyaknya scene dalam satu chapter.
Dan setiap kali menulis, baik multichap maupun one shot, akan aku tutup saat feeling-ku bilang 'ini saatnya untuk berhenti'.
Thanks for review ya buat semuanya *bow*
Review please...^^
