DISCLAIMER :
Togashi-sensei
PAIRING :
Absolutely KuroPika
WARNING :
AU, OOC (kuharap tidak terlalu), FemPika, dan karakter alter-self milikku sebagai OC di sini...sebatas pendukung cerita sebagai fans berat KuroPika.
A/N :
Sorry for the very late update, pembuka chapter kali ini aku buat sambil mendengarkan lagu Goodbye – Air Supply.
.
Enjoy...
We can't live a lie anymore
There's nothing left to try
Though it's gonna hurt us both, hurt them
There's no other way than to say goodbye
Di siang hari yang terik, suasana ramai kota itu terlihat menambah semrawutnya kesibukan yang ada. Suara bising kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan terdengar jelas, termasuk dari salah satu lantai sebuah gedung bertingkat yang megah. Kuroro Lucifer tengah duduk di kursinya yang nyaman, membelakangi meja kerjanya yang besar dan terbuat dari kayu terbaik, menghadap ke dinding yang seluruhnya terbuat dari kaca. Tatapan matanya dingin, raut wajahnya datar tak menunjukkan emosi apapun. Sesekali dirinya melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul satu siang.
Langkah pertama akan segera dimulai.
Sebagai seorang sekretaris pribadi yang sudah sangat memahami majikannya, Leorio yang turut berada di sana dan baru saja memberitahukan jadwal Kuroro untuk sisa hari itu pun langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Setelah berbicara sebentar dengan seseorang, dia pun berkata,
"Raito Nostrad akan segera tiba, Tuan Muda."
Kuroro tidak menanggapi. Dia hanya menautkan kedua tangan dan memejamkan matanya, lalu seakan-akan ucapan Leorio adalah sebuah isyarat, telepon di mejanya pun berbunyi—memberitahukan tentang kedatangan Raito Nostrad. Hanya dalam hitungan detik, pria setengah baya itu melangkah masuk ke ruangannya.
"Selamat siang, Kuroro," ia menyapa.
Kuroro memutar kursinya dan berdiri, dengan sikap yang sempurna dia menjabat tangan Raito lalu mempersilakannya duduk di hadapannya. Dengan patuh, Leorio kembali duduk di sofa. Dia tahu bahwa dia harus mendengarkan pertemuan ini dan mencatat beberapa hal penting yang akan mereka bicarakan.
"Bagaimana kabar ayahmu? Aku terakhir bertemu dengannya dua bulan yang lalu," Raito sedikit berbasa-basi. Dia sudah menjadi pengacara bagi Keluarga Lucifer sejak lama.
Kuroro memberikan seulas senyum tipis. "Ayahku baik," jawabnya singkat, lalu melanjutkan dalam hati, 'Setidaknya kurang lebih begitu.'
Nada bicara Kuroro menunjukkan keengganannya untuk melanjutkan topik basa-basi itu lebih jauh, dan Raito mengerti. Dia tahu bahwa Lucifer Muda ini memiliki sifat yang mirip dengan ayahandanya yang tak lain adalah teman baiknya. Cerdas dan luwes dalam bergaul, namun juga tegas dan disegani. Maka Raito pun memilih untuk mengikuti keinginannya.
"Tuan Nostrad, aku dan Kurapika sepakat untuk bercerai," Kuroro langsung menyampaikan maksudnya.
Ekspresi berseri-seri di wajah Raito langsung berubah seketika, berganti dengan ekspresi terkejut yang luar biasa. "A-Apa? Kau bilang apa?!"
"Kuulangi, aku dan Kurapika sepakat untuk bercerai."
"Tapi Kuro—"
Mendengar sanggahan Raito yang belum selesai diucapkan, Kuroro segera mengangkat sebelah tangannya, memberi tanda bagi pria itu untuk berhenti bicara. Dia menatap Raito tepat di matanya lalu berkata, "Aku mengundangmu ke sini untuk membicarakan langkah-langkah apa yang harus ditempuh dalam proses perceraian ini. Aku tak mau mendengar berbagai pendapat tak perlu yang menentang keputusan kami."
Raito tak bisa berkata-kata, dia menatap Kuroro dengan tatapan seolah tak percaya. Kuroro, yang beristerikan seorang Putri Pulcheria, sejauh yang dia tahu tak memiliki masalah dalam kehidupan perkawinannya. Setidaknya, itulah yang terlihat dari luar. Setiap pasangan suami isteri pasti memiliki masalah dalam perkawinannya namun dia tak menyangka ternyata bagi Kuroro dan Kurapika, masalah itu akan mengantar keduanya melangkah menuju perceraian.
"Sekali lagi, kami telah sepakat. Aku harap kau mengerti."
Yang Kuroro coba tegaskan di sini adalah, dia dan Kurapika telah melalui beberapa tahapan dan berpikir masak-masak sebelum sampai pada keputusan tersebut. Tak ada lagi yang harus diperdebatkan, tak ada lagi yang harus diluruskan. Sekarang waktunya menghadapi kenyataan dan menggunakan logika yang disertai dengan kepala dingin.
Raito berdehem, seolah kerongkongannya hampir saja tersedak. Dia segera mengendalikan diri dan berusaha untuk kembali bersikap profesional meskipun sebagai sahabat Keluarga Lucifer, ada banyak pertanyaan yang muncul di benaknya.
"Baiklah," Raito mulai bicara walau masih terlihat agak canggung. "Pertama, kita harus mengajukan pembatalan pernikahan yang disertai dengan adanya pernyataan kesepakatan darimu dan dari Putri Kurapika, lalu dilanjutkan dengan mengajukan perceraian ke pengadilan. Sedangkan mengenai jumlah harta yang diberikan—"
"Rumah kami, kuberikan padanya. Dia pun berhak atas saham di semua perusahaan Lucifer dengan persentase yang lebih besar daripada sebelumnya. Dan Leorio sudah membantuku menghitung jumlah uang yang akan kuberikan padanya..."
Kuroro memberikan beberapa berkas yang ia kumpulkan dalam sebuah map mengenai semua perincian itu. Sikapnya begitu teratur, terkendali, dan tetap elegan; seolah dia tak merasa terganggu sama sekali atas semua hal tentang perceraian tersebut. Sebenarnya, Raito sedikit terkejut dengan hal ini. Dia jarang sekali menemui pria yang setenang ini saat akan menghadapi perceraian—mengingat sepertinya tak ada masalah fatal yang mengusik rumah tangga keduanya.
"Ah...jumlah ini, tidakkah ini sedikit terlalu besar?" Tanya Raito sambil menunjuk salah satu perincian dalam berkas itu.
Kuroro menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, aku sudah memutuskannya. Bisa kita lanjutkan?"
Pertemuan itu pun berlanjut, dan tak ada yang luput dari perhatian Leorio. Dia menuliskan pokok-pokok penting pertemuan tersebut dengan hati bertanya-tanya, menyayangkan, dan tak menentu. Oh, itu sudah jelas, mengingat dia tahu betul tentang hubungan Kuroro dan Kurapika sejak awal kisah mereka bermula. Sebenarnya, dia sudah merasakan ada sesuatu yang salah—walau tak tahu pasti apakah sesuatu itu. Namun awalnya Leorio mengira hal itu akan menghilang seiring dengan berjalannya waktu yang berlalu dan bertambah dewasanya pasangan suami isteri tersebut.
'Sepertinya aku salah, hanya menilai dari luarnya saja.'
Dua jam kemudian, pertemuan selesai. Kuroro mengucapkan terima kasih sembari menjabat tangan Raito lagi, lalu kembali duduk di kursinya. Dia menghela napas berat, walau hampir tak terlihat. Dengan penuh pengertian, Leorio berdiri hendak melangkah keluar dari ruangan itu dan bertanya sebelumnya, "Tuan Muda, apakah kau mau agar aku mengosongkan jadwal untuk setengah jam kemudian?"
"Ya, aku akan sangat menghargainya," Kuroro menanggapi sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, seolah dia mencoba untuk lebih merilekskan tubuhnya yang tegang. "Terima kasih."
Leorio pun menganggukkan kepalanya. Tanpa berkata apapun lagi, dia melangkah keluar dari sana.
Kuroro perlu waktu. Leorio tahu itu.
Begitu dirinya tinggal sendiri dalam ruangan yang luas itu, Kuroro mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Dia pejamkan matanya lagi sembari mengatur helaan napasnya.
Langkah pertama telah terlewati.
'Ya, ini keputusan yang tepat. Tak ada lagi usaha yang bisa dicoba...semua itu hanya semakin memperburuk apa yang terjadi di antara diriku dan Kurapika.'
Kerajaan Pulcheria...
Seorang wanita dengan gaun indah dan mahkota di kepalanya duduk di ruang kerja pribadinya. Tak ada yang ia lakukan saat itu—hanya diam setelah menerima kabar yang mengejutkan mengenai putri bungsu yang tinggal jauh bermil-mil jaraknya dari Pulcheria. Masih di ruangan yang sama, seorang pria muda yang tampan dengan rambut keemasan berdiri di balkon. Dibandingkan dengan Sang Ratu yang berwajah tenang, pria itu—Pariston—terlihat gusar dan tidak tenang.
"Pasti Lucifer itu melakukan sesuatu yang buruk pada Kurapika," katanya geram.
Ratu memijit keningnya. "Tidak, Pariston. Kurapika sama sekali tidak mengatakan sesuatu tentang itu," ia menyanggah.
Mendengar hal itu, Pariston segera berbalik. "Dan Ibu percaya?! Ayolah Bu, Ibu tahu Kurapika itu seperti apa. Dia akan menyimpan masalahnya sendiri."
"Ya, aku tahu. Karena itulah, juga ada kemungkinan bahwa masalahnya tidaklah seburuk yang kau kira."
Ada penegasan dalam ucapan Sang Ratu, membuat Pariston urung untuk kembali menyanggah. Sebenarnya, dia sendiri pun tahu Kuroro itu seperti apa, dia tahu Kuroro tak mungkin menyakiti adiknya. Ucapan Kurapika di telepon tadi terus terngiang di dalam benaknya:
"Kakak, justru dengan terus bersama, aku dan dia akan terus saling menyakiti satu sama lain."
Sepertinya Kurapika cukup tegar dengan masalah ini, namun Ratu dan Pariston bisa tahu bahwa wanita muda itu pun terguncang. Ada suara gemetar dalam nada suaranya. Dia yang baru saja berusia dua puluh satu tahun, akan segera bercerai, belum lagi keduanya merupakan public figure dan sosok panutan pasangan ideal, tentu ini sangat membuat batinnya begitu kewalahan.
Ratu melirik foto keluarga yang terpasang di dinding ruangan itu, tatapannya tertuju pada seorang gadis cantik berambut pirang yang tak lain adalah Kurapika.
'Kurapika, apakah ini terjadi karena aku menjodohkanmu dalam usia yang terlalu muda? Maafkan aku...'
Ratu menghela napas berat. Seluruh rakyat di Kerajaan Pulcheria akan tahu. Bahkan, seluruh dunia akan tahu. Pihak Kerajaan harus memberikan penjelasan mengenai hal ini. Ratu mengingatkan dirinya untuk memanggil Perdana Menteri guna membicarakan masalah tersebut sebentar lagi.
"Ibu, lalu apa yang akan dilakukan Kurapika nanti? Dia akan kembali ke sini, bukan?" Tanya Pariston tiba-tiba.
Ratu hanya menoleh dan menanggapinya dengan senyuman. Dia belum tahu tindakan apa yang akan diambil Kurapika selanjutnya setelah proses perceraian selesai. Tak ada yang dimiliki putrinya itu di sana selain Kuroro dan keluarganya. Tapi sungguh, Kurapika tidaklah serapuh kelihatannya. Dia wanita yang kuat dan cukup dewasa untuk menentukan hidupnya sendiri.
"Pada saatnya nanti, Kurapika pasti akan mengambil keputusan untuk itu dan kita akan selalu mendukungnya," Sang Ratu memberikan jawaban yang menenangkan, menutupi keinginannya yang teramat sangat untuk mencaritahu mengenai hal yang sama. Sekali lagi, percakapan di telepon tadi terngiang di dalam benaknya—benar-benar mimpi buruk yang selama ini ternyata berselimut kebahagiaan semu.
"Ibu, maafkan aku...Aku dan Kuroro akan bercerai."
Ratu tak mengerti kenapa Kurapika harus meminta maaf, padahal dia pun tahu bahwa yang terjadi saat ini adalah di luar keinginan dan kuasanya. Tapi putrinya itu memang seseorang yang bermoral tinggi, dan sangat mengerti bahwa keputusan itu akan memberikan kesedihan bagi mereka yang menyayanginya. Ratu menghela napas lagi. Dia teringat pada orang tua Lucifer. Tak pelak lagi, mereka pun pasti tengah mengalami hal yang sama dengan dirinya—termasuk bertanya-tanya kesalahan apa yang telah mereka lakukan hingga bisa membuat Kuroro dan Kurapika memutuskan untuk bercerai.
Lamunan Sang Ratu mendadak buyar saat dia merasakan sentuhan lembut tangan seseorang di bahunya. Ratu menoleh dan mendongak. Putranya, yang tadi tampak berapi-api dan menghadapi cobaan yang tengah menimpa adiknya dengan emosi, kini menatapnya lembut dan penuh kasih sayang. Keturunan kerajaan atau bukan, mereka tetap keluarga. Keluarga yang sebenarnya dan bukan hanya status semata—bukan hanya penampilan luar saja. Bukankah itu yang paling penting?
Mansion Keluarga Lucifer...
Ny. Lucifer meletakkan piring yang berisi makanan ke atas meja, dengan sedikit merasa kesal. Dia menatap pria setengah baya di hadapannya yang duduk di atas kursi roda dan terus menatap dingin keluar jendela.
"Kumohon, makanlah, kau bisa lemas kalau terus begini," kata Ny. Lucifer putus asa sambil menutup mata hatinya. Karena jauh di dalam sanubarinya dia tahu alasan apa sebenarnya yang membuat Tn. Lucifer mogok makan dan diam sepanjang hari. "Kau tahu Kuroro tak suka kau bersikap seperti ini, membahayakan kesehatanmu sendiri dan—"
PRANG!
Belum juga Ny. Lucifer menyelesaikan kalimatnya, Tn. Lucifer menggerakkan tangannya yang kaku karena serangan stroke dan menjatuhkan piring berisi makanan hingga pecah berkeping-keping. Ny. Lucifer pun kaget bukan kepalang, dia segera berdiri.
"Archie! Oh Tuhan, apa yang kau lakukan?! Kau bisa terluka!" Pekiknya.
Segera saja, seorang pelayan datang menghampiri, memastikan semuanya baik-baik saja dan memunguti pecahan piring yang berserakan. Ny. Lucifer mengawasi pelayan itu melakukan tugasnya, lalu menoleh dan menatap suaminya dengan tatapan yang penuh dengan kesedihan. Perlahan, dia melangkah menghampiri dan menggenggam sebelah tangan Tn. Lucifer dengan lembut.
"Aku tahu, ini mengecewakan. Sangat. Tapi kurasa kita harus mengerti, Archie...dan mendoakan yang terbaik," bisiknya pelan, lalu ia akhiri dengan mengecup kening suami tercintanya.
TBC
A/N :
Terima kasih atas semua review yang telah diberikan pada chapter lalu, aku g bisa balas satu per satu karena semalam kurang tidur jadi sekarang sudah sangat mengantuk ==a
Terima kasih ya, untuk hana, Nekomata Angel of Darkness, Natsu Hiru Chan, Sends dan October Lynx yang sudah memberika review chapter lalu.
Again, sorry for the very late update.
.
Leave your review please...?^^
~ KuroPika & WS FOREVER ~
