… Previous Chapter…
.
.
"Sstt… Semua akan baik-baik saja chagi" Hankyung mengelus bahu Heechul dengan lembut, penuh kasih sayang. "Percayalah padaku" ucap Hankyung sambil mengecup kening Heechul cukup lama.
Heechul yang mulai melunak dengan perlakuan Hankyung hanya mengangguk mengiyakan sambil memejamkan matanya. Mencoba untuk meyakini ucapan Hankyung sambil menikmati ciuman Hankyung di keningnya.
.
.
.
.
.
~ New Year Eve ~
[Sekuel Jealous?]
.
By Mei Hyun15
.
Genre : Romance
Main Pair : HaeHyuk
Disclaimer :
Saya hanya meminjam nama mereka. Tapi fict ini milik saya dan murni hasil imajinasi saja.
Rate :T
Warn : BL, gaje, typo(s), abal, aneh dsb
.
.
Enjoy reading all ~ ^^
.
.
~ Chapter 5 ~
.
.
"Jadi bagaimana dengan kejutannya hyung? Kau suka?" goda Kibum pada Sungmin yang duduk di seberangnya.
"Ya! Kau ini jahat sekali Kibummie! Aku dan Hyukkie benar-benar ketakutan setengah mati. Pabbo! Untung saja aku dan Hyukkie tidak punya penyakit jantung" omel Sungmin lagi untuk yang kesekian kalinya.
Kibum tertawa cukup keras mendengarnya sedangkan Eunhyuk dan Siwon hanya mengulum senyum mereka.
"Chagi… Ini hari ulang tahunmu… Kenapa kau mengomel terus sedari tadi? Hm?" bujuk Kyuhyun sambil membelai lembut kepala Sungmin.
"Dasar Cho pabbo! Kau pikir aku tidak tahu? Aku tahu kalau rencana 'horor' yang tadi itu adalah rencanamu. Iya kan? Mengaku saja!"
Well… Beginilah seorang Lee Sungmin… Sekali mood-nya rusak, dia akan terus mengomel hingga suasana hatinya kembali membaik.
Kyuhyun menghela nafasnya berat, sementara tiga orang lainnya terkikik geli melihat raut frustasi yang mulai menyelimuti wajah evil magnae itu.
"Baiklah chagi… Aku mengaku salah… Aku minta maaf… Tapi tolong jangan begini… Ini hari ulang tidak suka melihatmu seperti ini di hari bahagiamu" ucap Kyuhyun dengan wajah serius.
Sungmin yang melihat ekspresi itu sedikit tidak tega juga melihatnya. Ya… Kyuhyun benar. Memangnya namjachingu macam apa yang suka melihat kekasih mereka mengomel dan ber-mood buruk disepanjang hari ulang tahun mereka?
Sungmin perlahan menundukkan kepalanya sambil memainkan jari-jarinya. "Mianhae Kyu… Habisnya kau—"
"Gwenchana…" Kyuhyun segera membawa tubuh mungil Sungmin itu ke dalam dekapan hangatnya. "Aku hanya ingin melihatmu bergembira di hari ulang tahunmu ber-mood buruk dan mengomel seperti ini" ucap Kyuhyun sambil mengecup lembut kepala Sungmin. "Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu Min… Aku mengaku salah… Saranghae Min… Jeongmal"
"Hmm… Nado saranghae Kyu" Sungmin membalas pelukan Kyuhyun sambil memejamkan matanya. "Arra… Aku akan menikmati pesta ini dan bergembira bersamamu dan yang lainnya Kyuhyunnie… Aku—"
"Yaa~! Jangan bermain drama dihadapanku!" hardik Kangin yang tiba-tiba saja sudah bergabung bersama mereka.
Kyuhyun dan Sungmin yang tersentak kaget refleks saling melepaskan pelukan mereka dan membuat jarak diantara tubuh mereka yang sempat melekat erat itu.
"Ya! Hyung! Kau ini menyebalkan sekali! Kenapa kau mengganggu momen manisku dengan Sungmin-ku?" protes Kyuhyun tak terima. Ia berdecak sebal sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Mwo? Sungmin-ku?" ulang Kangin dengan nada mengejek. "Dengar ya bocah evil, Sungmin itu milik kedua orangtuanya, bukan milikmu" ejek Kangin sambil menunjuk-nunjuk wajah Kyuhyun dengan telunjuk tangan kanannya.
"Tapi dia kekasihku hyung! Dia milikku!" protes Kyuhyun tak terima.
Sungmin, Kibum, Siwon dan Eunhyuk hanya terkekeh geli melihat adu mulut tak penting Kangin dan Kyuhyun.
"Iya… Jadi milikmu kalau kalian berdua sudah menikah"
Blush…
Dan perkataan Kangin sukses membuat wajah Kyuhyun dan Sungmin memerah, yang membuat pasangan SiBum menggoda mereka.
Eunhyuk terkikik geli melihat tingkah teman-temannya itu sampai ia tersadar bahwa ponselnya bergetar, menandakan adanya panggilan masuk.
"Emm… Maaf semuanya… Aku harus menerima panggilan ini dulu" ucap Eunhyuk sambil memperlihatkan ponselnya kepada teman-temannya.
"Gwenchana Hyukkie… Pergilah…" sahut Sungmin sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Eunhyuk.
"Gomawo hyung" ucap Eunhyuk sebelum beranjak dari posisinya.
Pip!
"Yeoboseyo" Eunhyuk menerima panggilan tersebut setelah ia merasa posisinya cukup nyaman untuk menerima telepon. Yah… Maklum saja… Dorm itu menjadi sangat berisik gara-gara pesta tahun baru mereka sekaligus pesta ulang tahun Sungmin.
"Yeoboseyo. Apa benar ini saudara Lee Eunhyuk?" tanya sang penelepon.
"Nde, ini saya Lee Eunhyuk. Ada apa?"
"Begini Eunhyuk-ssi… mm… Apakah anda mengenal saudara Lee Donghae?" tanya si penelepon ragu-ragu.
Deg!
Tiba-tiba saja jantung Eunhyuk berdegub kencang saat sang penelepon menyebutkan nama kekasihnya.
"I-Iya… Saya temannya" bohong Eunhyuk. "Ada apa dengannya?" tanya Eunhyuk dengan nada sedikit khawatir.
"Emm… Begini Eunhyuk-ssi… Saudara Lee Donghae… Dia…"
"Kenapa? Ada apa dengannya?" tanya Eunhyuk semakin tak sabar.
"Mm… Saudara Lee Donghae… Dia… mm…"
"Ya! Sebenarnya apa maksud anda menelepon saya?" bentak Eunhyuk emosi. Tidak dapat dipungkiri bahwa hatinya merasa semakin tak enak mendengar nada ragu-ragu di setiap ucapan orang yang meneleponnya tersebut. "Cepat katakan apa yang ingin anda katakan pada saya! Ada apa dengan Lee Donghae?" bentaknya lagi.
"Begini Eunhyuk-ssi… Saudara Lee Donghae… Dia… mengalami kecelakaan lalu lintas saat dalam perjalanan dari bandara menuju dorm-nya dan kini kondisinya kritis"
Tes!
Air mata Eunhyuk jatuh menetes begitu saja ketika telinganya mendengar berita tidak mengenakkan itu.
"A-apa? Donghae kecelakaan?" ulang Eunhyuk tak percaya.
"Nde Eunhyuk-ssi… Saudara Lee Donghae mengalami kecelakaan dan kondisinya—"
"Tidak mungkin!" potong Eunhyuk. "Hyung-ku bilang dia masih ada jadwal di China bersama sub group barunya. Tidak mungkin tiba-tiba dia sudah berada di Korea saat ini. Dan lagi, kecelakaan kau bilang huh? Tidak mungkin! ITU TIDAK MUNGKIN! Kau pasti berbohong!" teriak Eunhyuk penuh emosi.
Rasa sesak benar-benar telah memenuhi seluruh rongga dadanya hingga membuatnya kesulitan untuk bernafas. Ia benar-benar tidak percaya jika namjachingunya itu baru saja mengalami suatu kecelakaan lalu lintas.
"Harap tenangkan dirimu Eunhyuk-ssi… Kami harap anda segera datang ke rumah sakit sekarang juga" ucap sang penelepon sebelum mengakhiri panggilannya.
"Hiks… Tidak mungkin… Hiks… Ini tidak mungkin…" Eunhyuk menggelengkan kepalanya pelan. "TIDAK MUNGKIN!" jeritnya sebelum tubuhnya jatuh merosot ke lantai.
Eunhyuk menangis sesenggukan dengan kedua tangan yang masih memegang ponselnya di depan dada. Wajahnya telah basah oleh air mata yang kembali keluar setelah satu setengah jam yang lalu berhasil ia hentikan.
Sungguh… Hatinya benar-benar sakit menerima kenyataan ini. Bagaimana mungkin orang yang selalu ia nanti-nantikan kedatangannya kini kembali dengan keadaan kritis setelah mengalami suatu kecelakaan lalu lintas?
"Hyukkie!" Sungmin berteriak panik begitu ia membuka pintu yang menghubungkan ruangan tempat pesta diadakan dengan ruangan tempat Eunhyuk menerima panggilan teleponnya tadi ini. "Ada apa denganmu Hyuk—Astaga… Apa yang terjadi?" Sungmin segera menghampiri tubuh Eunhyuk yang masih terdiam kaku di tempatnya dan memeluknya perlahan.
"Hiks… hiks…" Eunhyuk tak menjawab pertanyaan Sungmin. Hanya isakan yang cukup keras yang keluar dari bibir kissable itu.
"Hyukkie… Katakan pada hyung… Apa yang sebenarnya terjadi?... Ada apa denganmu? Kenapa tadi kau berteriak kencang?... Lalu kenapa kau menangis seperti ini Hyukkie?... Katakan pada hyung" bujuk Sungmin sambil mengelus-elus kepala dan punggung Eunhyuk yang bergetar karena isakannya yang cukup keras.
"Hae, hyung… Hiks… Hae… Hiks…"
Sungmin mengerutkan keningnya. "Hae? Ada apa dengannya?" tanya Sungmin bingung. "Kyuhyun bilang Hae masih harus menyelesaikan pekerjaannya bersama—"
"Tidak hyung… Hiks… Tidak…" Eunhyuk menggelengkan kepalanya. "Dia sudah kembali hyung… hiks…"
"Mwo? Sudah kembali?" Sungmin kembali menatap Eunhyuk bingung. "Tapi tadi Kyuhyun dan Hankyung hyung bilang… Hae sekarang—"
"A-aku harus kesana sekarang juga hyung… hiks…" potong Eunhyuk sambil melepas pelukan Sungmin dan menyeka air matanya.
"Mwo? Apa maksudmu?" tanya Sungmin bertambah bingung. "Harus kesana? Kau mau kemana? Apa yang sebenarnya terja—YA! EUNHYUKKIE!" teriak Sungmin saat Eunhyuk tiba-tiba berlari keluar dari ruangan tersebut.
.
.
Eunhyuk segera berlari sekuat tenaga dari dorm Super Junior menuju lift yang akan membawanya ke basement untuk mengambil mobilnya. Perasaan cemas dan takut begitu mendominasi hatinya saat ini yang membuat pikirannya hanya tertuju pada satu sosok yang amat dicintainya, Lee Donghae.
Sungguh demi apapun… Saat ini yang ada di pikiran Eunhyuk hanya cepat-cepat menuju basement untuk mengambil mobilnya dan segera pergi ke rumah sakit. Bila perlu secepatnya ia harus sudah sampai disana. Ia benar-benar ingin memastikan bahwa namjachingu yang amat dicintainya itu dalam keadaan baik-baik saja, bukan kritis seperti yang dikatakan oleh seseorang yang meneleponnya tadi.
"Hah… Hah… Hiks… Aku harus cepat" ujarnya disela-sela isakan yang masih meluncur dari bibirnya dan juga helaan nafas berat yang putus-putus karena berlari.
Namun tanpa disadarinya, sebuah mobil hitam yang berisi dua orang namja bertubuh tinggi dengan setelan hitam dan kaca mata hitam telah mengintainya sejakia keluar dari pintu gedung apartemen yang cukup mewah tersebut.
"Apa itu orang yang bernama Lee Eunhyuk?" tanya namja pertama pada namja kedua sambil menunjuk Eunhyuk dengan dagunya.
"Hmm… Dilihat dari perawakan dan ciri-cirinya, sepertinya iya" namja kedua itu mengangguk yakin sambil membandingkan sosok Eunhyuk dengan sosok namja manis yang tercetak di selembar foto yang sedang digenggamnya.
"Kau yakin dia yang dimaksud oleh bos kita?" tanya namja pertama pada namja kedua, tanpa melepaskan pandangannya dari sosok Eunhyuk yang kini terlihat kebingungan merogoh saku celana dan saku jaket yang dikenakannya.
"Hmm… Aku yakin sekali" angguk namja kedua sambil meraih gagang pintu mobil dan hendak membukanya. "Kajja kita jalankan misi kita sebelum ada yang memergoki aksi kita" ajak namja kedua pada namja pertama.
"Ne… Baiklah" angguk namja pertama. "Jangan sampai gagal" ucapnya pada namja kedua sebelum mereka berdua keluar dari dalam mobil.
Sementara itu Eunhyuk masih terlihat gelisah. Dengan perasaan kalut, ia terus meraba-raba saku jaket, saku baju, dan saku celana jeans yang dikenakannya.
"Ck… Dimana kunci mobil itu?" guraunya panik dengan air mata yang masih mengalir di pipi putihnya. "Sepertinya aku harus kembali ke dalam" ujarnya sambil menghapus air matanya dan bersiap untuk berlari masuk kembali ke dalam gedung apartemen. Namun sebelum kakinya sempat bergerak dari posisinya, sepasang lengan kekar tiba-tiba melingkupi tubuhnya yang membuat Eunhyuk tersentak kaget. "Ya! Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?" ucapnya cukup keras.
Eunhyuk terus meronta-ronta meminta untuk dilepaskan, namun cengkraman tangan yang begitu kuat di tubuhnya itu tak mampu membuatnya untuk terlepas dari sepasang lengan kekar itu.
Saat Eunhyuk berusaha melepaskan dirinya dari kungkungan sepasang lengan kekar itu, tiba-tiba saja sekelebat bayangan tentang kejadian yang dialaminya beberapa hari yang lalu terlintas di otaknya. "Aku tahu siapa kau!" teriaknya cukup lantang. "Lepaskan tanganmu Hae, aku merasa se—"
"Siapa yang kau sebut Hae itu?"
Suara seorang namja yang terdengar sangat berbeda dengan warna suara kekasihnya membuat Eunhyuk membulatkan matanya lebar.
"Apa kau berpikir jika temanku ini kekasihmu, eum?" seorang namja lain dengan setelan serba hitam lengkap dengan kacamata hitamnya menyeringai pada Eunhyuk yang masih terlihat shock sambil memainkan tali tambang yang berada dalam genggaman tangannya. "Jangan bermimpi Lee Eunhyuk-ssi" ucap namja tersebut sambil berjalan mendekati Eunhyuk.
Eunhyuk yang mulai menyadari situasi berbahaya ini berusaha menstabilkan deru nafas dan badannya yang mulai bergetar ketakutan. "Ma-mau apa kalian?" Eunhyuk berusaha untuk memberanikan dirinya menanyakan hal itu pada kedua namja itu.
"Apa mau kami, hm?" Namja pertama yang mengunci pergerakan Eunhyuk dengan kedua lengan kekarnya itu makin mengeratkan cengkraman tangannya pada tubuh kurus Eunhyuk itu.
"Akh!" rintih Eunhyuk yang makin merasa sesak karena namja itu benar-benar mendekap erat tubuhnya dan mengunci semua pergerakannya.
"Mau kami adalah…" Namja kedua itu mulai membentangkan tali tambangnya. "Kami menginginkanmu" Namja kedua itu menyeringai senang sambil mengikat kedua tangan Eunhyuk ke belakang setelah namja pertama sedikit menggeser tubuhnya untuk memudahkan pekerjaan partnernya itu.
"Apa maksud kalian? Kenapa kalian melakukan hal ini padaku? Apa salah—Akh!" Eunhyuk memekik kesakitan saat namja kedua dengan sengaja mengikat kuat-kuat kedua tangan Eunhyuk.
"DIAM!" bentak namja pertama. "Ikuti saja permainan kami, dan kau akan selamat tanpa luka sedikit pun" ancam namja pertama.
"Lepaskan aku! Hiks… Kumohon… Namjachingu-ku sedang sekarat di rumah sakit. Aku harus kesa—"
"Lee Donghae eoh?" potong namja kedua.
Eunhyuk membelalakkan matanya kaget. Bagaimana bisa namja yang berdiri di hadapannya ini mengetahui fakta bahwa ia adalah namjachingu Lee Donghae? Padahal setahunya, ia, hyungdeul dan saengdeulnya sudah menutup rapat-rapat rahasia ini dan memastikan bahwa hal ini tidak diketahui oleh siapa pun kecuali oleh teman-teman dan kerabat dekat mereka. Ia juga percaya bahwa teman-teman dan kerabat dekat mereka tidak akan membocorkan rahasia ini pada siapa pun. Lalu, bagaimana bisa kedua namja ini mengetahuinya?
"Si-siapa kalian sebenarnya? Apa mau kalian?" tanya Eunhyuk dengan air mata yang mulai menetes lagi dari mata indahnya.
Sungguh hatinya sangat takut jika hal ini bisa sampai bocor ke masyarakat bukannya takut dicemooh, dihina, atau apa. Ia hanya tidak mau karir yang selama ini dibangun susah payah oleh namjachingunya itu tiba-tiba hancur begitu saja jika masyarakat mengetahui hubungannya dengan Donghae yang masih terbilang tabu di masyarakat.
"Mau kami?" Namja kedua itu mengangkat dagu Eunhyuk perlahan. "Kau akan tahu nanti sayang" ucap namja kedua sambil mengusap pelan bibir kissable Eunhyuk.
"Lepaskan aku brengsek!" umpat Eunhyuk penuh emosi.
"Hm? Melepaskanmu?" Namja kedua itu menyunggingkan seringaiannya lagi. "Itu tidak mungkin sayang… Kami bersusah payah mendapatkanmu. Bagaimana mungkin kami melepaskanmu begitu saja?"
Eunhyuk menggeram kesal mendengarnya. "Kalau kalian tidak mau melepaskanku, aku akan berteriak sekarang juga" ancam Eunhyuk serius.
Namja kedua itu tertawa mendengarnya. "Apa? Berteriak? Hey… Ini tahun baru. Semua orang pasti sedang bersenang-senang saat ini. Dan kau lihat sendiri bukan? Ini sudah jam 1 dini hari. Orang-orang pasti sudah setengah sadar bahkan tertidur karena kelelahan berpesta atau mabuk"
"Aku tidak main-main dengan ucapanku. Aku akan berteriak sekarang juga" ucap Eunhyuk sebelum ia mempersiapkan dirinya untuk berteriak keras-keras. "TOLONG~~ TOLONG AK—Hmmmpphhh"
Namja kedua yang terlonjak kaget dengan tingkah tiba-tiba Eunhyuk itu segera memberi kode pada namja pertama untuk membekap bibir Eunhyuk dengan sebelah tangannya dan segera membawa tubuh kurus itu masuk ke dalam mobil mereka.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Eunhyuk terus meraung-raung sambil menggerak-gerakkan badannya gelisah ketika kedua namja itu memasukkan paksa tubuhnya ke dalam mobil hitam kedua namja itu.
"DIAM!" bentak namja pertama kesal.
"Lepas! Lepaskan aku! Lep—"
"Atau kau mau terjadi hal yang tidak kau inginkan pada namjachingumu yang sedang sekarat itu?" ancam namja kedua sambil menolehkan wajahnya ke jok belakang mobil tempat Eunhyuk berada saat ini.
Eunhyuk segera mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Aliran bening perlahan jatuh kembali membasahi kedua pipinya. Sungguh ia benar-benar takut jika sampai terjadi apa-apa pada namja yang sangat dicintainya itu. Ia lebih memilih dirinya tersiksa daripada melihat namja yang sangat dicintainya itu menderita.
"Apa… Apa kalian yang menyebabkan Hae kecelakaan?" tanyanya lirih disertai isakan halus yang keluar dari bibirnya.
"Kalau iya, memangnya kenapa?" sahut namja pertama tanpa beban dengan pandangan yang masih terfokus dengan jalanan yang ada dihadapannya.
"Kalian jahat… Hiks… Kalian tega sekali melakukan hal ini pada kami… Hiks… Apa salah kami?" isakan Eunhyuk semakin menjadi-jadi saat mendengar ucapan tersebut.
"Kau tidak salah sayang… Hanya saja hubungan kalian akan menguntungkan untuk kami" ucap namja kedua sambil menyunggingkan senyum puasnya.
.
.
Sementara itu di tempat lain, seorang namja tampan tengah berjalan mondar-mandir. Hatinya yang gelisah dan perasaannya yang tak menentu membuat ia tidak bisa duduk diam di atas sofa putih yang ada di ruangan tersebut.
"Hhh…Kenapa perasaanku mendadak menjadi tidak enak begini? Apa telah terjadi sesuatu di luar sana?" gumamnya sambil membuka jendela ruangan tersebut. Lama ia terdiam melamun sampai akhirnya ia tak tahan lagi untuk menghubungi seseorang.
Pip!
"Yeoboseyo"
"…"
"Hyung, ini aku Hyukkie disana?"
"…"
"Mwo? Keluar? Kemana?"
"…"
"Aku sudah berusaha menghubungi ponselnya tadi. Tapi sepertinya ponselnya tidak aktif. Apa terjadi sesuatu dengannya?"
"…"
"MWOYA?"
"…"
"Geurae, aku akan mencarinya"
"…"
"Nde. Aku sudah sampai 2 jam yang lalu hyung"
"…"
"Hmm... Gomawo hyung"
Pip!
"Hhh…" Donghae mendesah pelan setelahia memutuskan line teleponnya. "Aku harus segera mencarinya sebelum rencana kejutanku gagal" ucap Donghae sebelum bergegas keluar dari dalam ruangan tersebut.
.
.
"Bagaimana ini?" Dua orang namja dengan setelan hitam yang membalut tubuh mereka menatap bingung namja manis yang tergolek di jok belakang mobil mereka.
"Dia tertidur… Sepertinya karena kelelahan menangis" gumam salah satu dari kedua orang namja tersebut setelah melihat lelehan air mata yang belum mengering di kedua pipi namja manis itu.
"Apa yang harus kita lakukan padanya setelah ini? Dimana bos?" tanya namja satunya tanpa melepaskan pandangannya sedikit pun pada namja manis itu.
"Molla… Kita tunggu sa—Ah! Chakkaman!" Namja itu tiba-tiba menghentikan ucapannya ketika merasakan getaran di saku celananya. "Bos" ucapnya setelah melihat ID caller di layar ponselnya.
Pip!
"Yeoboseyo"
"…"
"Nde. Kami sudah tiba di tempat yang kau inginkan. Apa yang harus kami lakukan pada Lee Eunhyuk? Dia tertidur di jok belakang" jelas namja kedua pada sang penelepon.
"…"
"Meninggalkannya disini?" Namja itu sedikit mengerutkan alisnya.
"…"
"Nde… Arraseo"
Pip!
"Meninggalkan Lee Eunhyuk?" tanya namja pertama pada namja kedua, setelah namja kedua mengakhiri panggilannya dengan bos mereka.
"Nde" angguk namja kedua. "Biarkan saja Eunhyuk di mobil ini. Sebentar lagi 'dia' akan datang kemari" Namja kedua itu melirik Eunhyuk sekilas sebelum menolehkan wajahnya lagi pada namja pertama. "Cha kita pergi sekarang" ajak namja kedua sambil membuka pintu mobil yang berada di sisi kanan tubuhnya.
"Kau yakin meninggalkan Lee Eunhyuk dan mobil ini disini?" tanya namja pertama agak ragu.
"Nde… Gwenchana… 'Dia' sudah dekat" jawab namja kedua. "Kajja kita menunggu di tikungan itu" Namja kedua itu menunjuk tikungan yang dimaksud. "Kita akan menyerahkan kunci mobil ini pada'nya' disana"
"Lalu setelah itu?" tanya namja pertama sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu saja kita pulang pabbo! Tugas kita sudah selesai" Namja kedua itu memukul bahu namja pertama cukup keras hingga namja pertama tersebut mengerang tertahan. "Kita akan bertukar mobil dengan'nya' dan tentu saja menikmati malam tahun baru kita yang tertunda. Cha!" ajak namja kedua sambil merangkul namja pertama dan berjalan menuju tikungan yang ia maksud tadi.
.
.
Sesosok namja manis tampak menggerak-gerakkan tubuhnya gelisah. Tubuhnya yang terasa lumayan pegal membuatnya memaksakan matanya yang masih mengantuk itu untuk terbuka.
"Ungh…" lenguhnya pelan saat matanya menangkap pancaran sinar yang menyilaukan, yang membuatnya harus mengerjapkan matanya beberapa kali untuk membiasakannya. "Ini dimana?" gumamnya bingung saat menangkap keadaan yang terasa sangat ganjil baginya.
Ia mencoba untuk menggerakkan tubuhnya yang terasa lumayan pegal itu, namun sesuatu yang terasa dipergelangan tangannya membuat ia tersadar dan teringat dengan situasi yang dialaminya sebelum akhirnya ia jatuh tertidur tadi.
'I-ini…' batinnya panik saat ia merasa tali tambang itu sangat terasa mengikat di kedua pergelangan tangannya. Ia kemudian mengalihkan dan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. 'Ini… Taman?' batinnya saat melihat keadaan di sekelilingnya. 'Tapi… Dimana kedua namja tadi?' batinnya lagi sambil mengerutkan keningnya.
Tanpa pikir panjang lagi, ia segera menggerak-gerakkan kedua tangannya, berharap agar tali tambang yang mengikat kedua tangannya itu bisa segera terlepas.
'Aku harus segera melepaskan tali sialan ini sebelum mereka datang—Argh! Sial! Mereka juga mengikat kakiku' batin Eunhyuk ketika ia tak sengaja menggerakkan kakinya.
"Ergh… engh… emmpphh" geram Eunhyuk. Ia berusaha keras untuk melepaskan tali tersebut. Namun cara itu sama sekali tidak berhasil. Tali itu bukannya terlepas atau semakin melonggar. Tali itu sama sekali tidak bergeming dari posisinya, benar-benar mengikat kuat kedua tangannya. "Argh! Sial!" umpatnya kesal.
Kali ini ia mencoba untuk menggerakkan kakinya yang juga terikat, berharap agar ikatan pada kedua kakinya itu berhasil terlepas. Namun lagi-lagi ia gagal. Tali itu sama sekali tidak lepas bahkan tidak melonggar sedikit pun.
"Argh! Apa sebenarnya mau mereka?" teriaknya cukup keras. Tak ada yang bisa dilakukannya lagi… Ia sadar… Mau ia berteriak sekeras apa pun, itu tidak akan membantunya sama sekali. Taman ini begitu sepi dan penerangannya pun cukup minim. Belum lagi ia berada di dalam mobil yang menggunakan kaca film dengan keadaan mobil terkunci. Ia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Argh! Kenapa semuanya menjadi seperti ini? jerit Eunhyuk keras. Ia kemudian menundukkan wajahnya dalam. Air mata yang tadi sempat mengeringkini kembali turun membasahi kedua pipi putihnya. "Hiks... Hae... Aku harus bagaimana sekarang?" isaknya pelan. Ia terus menangis dengan wajah tertunduk sampai suara ketukan membuatnya tersadar dari tangisnya dan mendongakkan wajahnya untuk menatap orang yang telah mengusik kegiatannya itu.
Tok, tok, tok
Seorang namja dengan pakaian serba hitam dengan topi dan kacamata hitam yang menghiasi wajahnya mengetuk jendela mobil disebelah Eunhyuk sambil mengulas seringaiannya.
Eunhyuk mengerutkan keningnya sejenak sebelum ia menatap benci pada namja itu. "Siapa kau? Dan apa maumu?" ucap Eunhyuk kasar.
"Ckckck sayang sekali..." Namja itu menggelengkan kepalanya pelan sambil memutar kunci dan membuka pintu mobil tersebut. "Manis manis begini ternyata galak sekali... Aigoo" ucap namja tersebut yang terdengar sok manis di telinga Eunhyuk sambil mengelus lembut pipi kiri Eunhyuk.
"Jauhkan tangan kotormu itu dari pipiku!" Eunhyuk menggerakkan kepalanya untuk menampik tangan namja itu dari pipinya.
"Aigoo..." pekik namja tersebut dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat, yang membuat Eunhyuk ingin memukul wajah namja itu. "Calm down baby... Jangan marah seperti ini" Namja itu menyentuh dagu Eunhyuk. "Karena sebentar lagi kita akan bersenang-senang" lanjut namja itu sambil menyunggingkan smirk-nya.
"Cih! Aku tidak butuh bersenang-senang dengan orang asing sepertimu! Cepat lepaskan aku!" jerit Eunhyuk sambil menggerak-gerakkan tubuhnya.
"Hmm... Orang asing eoh?" Namja itu lagi-lagi menyunggingkan smirk yang membuat Eunhyuk semakin emosi melihatnya. "Bagaimana kalau orang asing ini menjadi kekasihmu? Bahkan kalau bisa langsung menjadi suamimu... Hem? Bagaimana?" Namja itu mencolek sekilas dagu Eunhyuk.
"Cih! Bermimpi saja sana!" dengus Eunhyuk. "Aku bahkan tidak sudi melihat wajahmu yang tertutup kacamata hitam kebesaran itu" ucap Eunhyuk sambil tersenyum mengejek pada namja asing yang sudah menculiknya itu.
"Apa kau bilang?" Namja itu mengangkat dagu Eunhyuk dengan tangan kanannya dan menekannya cukup kuat. "Kau akan menjadi kekasihku... Dan itu HARUS!" ucap namja tersebut tegas.
Eunhyuk menggeliat tak suka dan menggerak-gerakkan kepalanya agar tangan namja tersebut melepaskan cengkraman tangannya pada dagunya. "Kau gila hah? Apa-apaan kau ini?" geram Eunhyuk marah. "Menyuruh orang untuk menculikku, membawaku kesini, dan sekarang memaksaku untuk menjadi kekasihmu" Eunhyuk tersenyum meremehkan. "Aku sudah punya kekasih, dan kau juga mencelakai kekasihku! Dasar namja gila! Kau—"
"Ya! Aku sudah gila! Dan aku gila karenamu!" teriak namja itu di depan Eunhyuk."Karena aku mencintaimu... Sangat..." lanjut namja itu lirih.
"Cinta huh?" gumam Eunhyuk dengan nada mengejek. "Makan saja cintamu itu! Aku tidak membutuhkannya!" umpat Eunhyuk kasar. "Aku harus segera pergi ke tempat kekasihku. Cepat lepaskan aku!" teriak Eunhyuk lagi.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu!" tolak namja itu cepat.
"Kekasihku dalam keadaan kritis, cepat lepaskan ikatanku sekarang juga!" teriak Eunhyuk lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
"DIAM!" Namja itu membentak Eunhyuk keras. "Sekarang, ikut denganku!" ucap namja itu sambil menarik tubuh Eunhyuk agar keluar dari dalam mobil tersebut dan berdiri setelah sebelumnya ia melepaskan ikatan di kaki Eunhyuk.
"Tidak! Aku tidak mau!" tolak Eunhyuk mentah-mentah.
Namja itu mendecih kesal sebelum melepaskan ikatan di tangan Eunhyuk dan menarik paksa tangan Eunhyuk agar berjalan mengikutinya. "Cepat ikut aku! Jangan menolak!" ucapnya sambil tetap menyeret tubuh ringkih Eunhyuk.
"Kalau aku bilang tidak mau, ya tidak mau! Apa kau tuli?" jerit Eunhyuk kesal. "Lepaskan aku!" Eunhyuk meronta-ronta hebat agar tangan kanannya yang ditarik paksa oleh namja itu terlepas dari cengkraman kuat tangan namja itu.
"Diam dan ikuti saja!" bentak namja itu kesal. "Atau, kau mau keadaan namjachingu-mu itu lebih parah dari kondisinya saat ini? Hm?" ancam namja itu yang membuat Eunhyuk seketika menghentikan rontaannya.
"Baik. Aku akan ikut denganmu" ucap Eunhyuk menyanggupi. "Tapi jangan lakukan apapun lagi padanya" lanjut Eunhyuk sambil menundukkan wajahnya dan memejamkan matanya. 'Hae... Mianhae aku tidak bisa menemanimu saat ini... Tapi aku berjanji... Setelah aku menyelesaikan ini semua dengan namja brengsek ini, aku pasti akan segera pergi menemuimu' lirih Eunhyuk dalam hati dengan setetes air mata yang jatuh dari mata kanannya.
.
.
"Sampai" Ucapan namja tersebut membuat Eunhyuk tersadar dari lamunannya dan mendongakkan kepalanya.
Air mancur yang masih memancarkan airnya tinggi-tinggi, bangku-bangku panjang di sekeliling kolam air mancur tersebut, lampu-lampu taman disekeliling tempat itu dengan sinar lampu yang temaram... Namja ini ternyata membawanya ke pusat taman.
"Mau apa kau membawaku kemari?" tanya Eunhyuk dingin.
"Tentu saja berkencan dengan kekasih baruku" ucap namja tersebut sambil merangkul bahu Eunhyuk.
"Sudah kubilang aku tidak sudi untuk—"
"Diam dan ikuti saja atau kau memilih kondisi namjachingumu lebih buruk lagi dari yang sekarang ini?" ancam namja itu lagi.
Eunhyuk menghela nafasnya dan menundukkan kepalanya lagi. 'Sial! Kenapa orang ini terus-terusan mengancamku dengan ancaman seperti itu?' umpat Eunhyuk kesal dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
"Kenapa masih diam disana?" ucap namja itu agak keras pada Eunhyuk. "Cepat duduk disini!" perintah namja itu sambil menepuk salah satu bangku yang didudukinya.
"Ck!" decak Eunhyuk kesal sambil memaksakan kakinya untuk melangkah mendekati namja tersebut dan duduk di tempat yang diinginkan namja tersebut.
"Apa kau mencintai namjachingumu?" tanya namja tersebut tiba-tiba, yang membuat Eunhyuk menolehkan wajahnya pada namja tersebut.
"Mwo?" Eunhyuk mengerutkan keningnya. "Tentu saja aku mencintainya. Sangat malah" ucap Eunhyuk penuh penekanan.
"Jeongmal?" tanya namja itu lagi.
"Tentu saja" jawab Eunhyuk yakin. "Memangnya kenapa? Kau tidak suka?" tanya Eunhyuk dengan nada menyindir.
"Tentu saja aku tidak suka. Kau namjachinguku mulai saat ini" Namja itu tiba-tiba memutar tubuhnya menghadap Eunhyuk dan mencengkram kedua bahu Eunhyuk kuat-kuat. "Lupakan dia dan mulailah belajar untuk mencintaiku!" ucap namja tersebut penuh penekanan dan pemaksaan.
Eunhyuk membulatkan matanya kaget mendengarnya. Astaga… Apa orang yang ada di hadapannya ini adalah seorang—Argh! Ia tak sanggup lagi membayangkan orang seperti apa namja yang ada dihadapannya ini.
"Lepaskan!" Eunhyuk menggeliat resah. "Lepaskan aku!" jeritnya lagi.
"Diam!" Namja itu mengunci pergerakan kedua tangan Eunhyuk serta tubuh Eunhyuk dengan kedua tangannya. "Ayo kita nikmati malam pergantian tahun yang indah ini dengan penuh cinta chagi" Namja tersebut mencondongkan tubuhnya ke arah tubuh Eunhyuk. Menipiskan jarak diantara mereka berdua dan mencoba untuk meraih bibir kissable Eunhyuk dengan bibirnya. Namun…
Plakk!
Tangan Eunhyuk yang berhasil terlepas dari kungkungan namja tersebut langsung menampar pipi namja tersebut sebelum namja tersebut berhasil menempelkan bibirnya pada bibir Eunhyuk.
"Apa yang kau lakukan?" jerit Eunhyuk marah.
Namja tersebut menggeram kesal sebelum ia mencengkram kedua lengan Eunhyuk lebih kuat lagi. "Kau menantangku eoh?" Namja tersebut mengulas seringaiannya lagi. "Baiklah kalau itu maumu" ucap namja tersebut sebelum namja tersebut mencondongkan tubuhnya lagi ke arah Eunhyuk.
Eunhyuk menggeliatkan tubuhnya resah. Berkali-kali ia mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman namja tersebut. "Lepas! Lepaskan aku!"
"Diam!" bentak namja tersebut sambil terus memajukan tubuhnya, berusaha untuk menggapai bibir Eunhyuk dengan bibirnya.
"Hiks… Kumohon lepaskan aku… Lepaskan…" mohon Eunhyuk lirih dengan isakan halus yang mulai keluar dari bibirnya.
Namun bukannya melepaskan Eunhyuk, namja itu malah semakin gencar ingin mengerjai bibir Eunhyuk dengan bibirnya.
"Hiks… Hiks—emmpphhtthh" Dan namja tersebut berhasil menggapai bibir Eunhyuk dengan bibirnya karena tenaga memberontak Eunhyuk melemah lantaran namja manis tersebut menangis hebat karena rasa takut dan rasa sakit yang begitu mendominasi hatinya saat ini.
Bagaimana tidak? Bibir yang selama ini ia jaga hanya untuk namjachingu yang amat sangat dicintainya kini dikecup dan dilumat oleh namja asing gila yang menculiknya. Rasa takut akan namja yang sedang menciumnya saat ini dan rasa sakit karena merasa telah menghianati namja yang amat sangat ia cintai benar-benar mendominasi hatinya hingga membuatnya makin terisak hebat, yang membuat kedua pipi putihnya semakin basah oleh air mata yang keluar semakin deras.
'Hiks… Hae… Mianhae… Saranghae…'
.
.
.
.
.
.
.
Annyeong~ ^^
Gimana, gimana?
Sesuai janji… Ini udah lebih panjang kan?
Terlalu panjang malah kalau menurut saya #plakk XD
Semoga suka ya?
Hehehe… :p
Mian yah telat update lagi, habisnya modem saya limit, dan ini publishnya numpang di tempat kerja umma saya alias pake wifi gratis #plakk
.
Huhuhu… Sedih banget nih readers… Ga bisa nonton SS5 secara live baik Day 1 maupun Day 2… :'( *peluk poster*
Padahal momen-nya bagus banget tuh dan jarang banget ada (read : Day 2, Anniv ELF) T,T
Sumpah! Ngiri berat saya sama yang beruntung nonton live disana
Saya mah cuma bisa nge-live via facebook n twitter *ngenes* *pundung*
Tapi senengnya, ada banyak banget moment HaeHyuk disana!
Kya~ Kya~ *mulai sarap*
*oke, abaikan* #plakk
.
Oh iya readers, saya rencananya mau hiatus lagi nih! Soalnya saya belum dapet universitas dan harus ngikutin tes tulis buat dapetin universitas dan jurusan yang saya inginkan. T.T
Mohon dimaklumi ya?
Ini demi masa depan saya soalnya
Ga papa kan?
Nanti setelah tes SBMPTN, kira-kira tanggal 20-an gitu, saya baru bisa lanjutin fict ini lagi.
Sebenernya cerita untuk next chap udah jadi setengahnya, tapi berhubung umma mau nyita lappy ini mulai besok, saya jadi ga bisa ngelanjutin lagi T.T
Diharap kemaklumannya yah readers *bow* 17 hariii… aja… ok?
Yah, yah, yah? *pinjem puppy eyes-nya Hae*
Mohon doa-nya juga ya~
Supaya saya bisa diterima di universitas dengan jurusan yang saya inginkan ^^
Gamsha ^^ *bow*
.
Dan… Emm… Ada bocoran dikit nih untuk chap depan
Di chap depan HaeHyuk udah ketemu dan saya akan berusaha untuk membuat momen mereka lebih manis lagi dari momen-momen yang sebelumnya ^^
Maybe full of HaeHyuk untuk chap depan. Yeay!
*kibar bendera polarise*
Dan untuk yang minta NC, sabar ya?
Maybe saya naruh NCnya di chap depan ;)
Harap sabar menunggu sampai tanggal 20 ne? *wink*
.
Oke, ini balesan untuk yang sudah mereview di chap sebelumnya ^^
Guest : Gitu ya? Hehe… Saya juga ngerasa kayak gitu kok :p Tapi kalo ide saya seperti itu dan saya pengennya nulis kayak gitu gimana dong? Semboyan disini Unleash Your Imagination kan? Jadi suka-suka saya dong mau nyampein imajinasi saya kayak gimana. Kalo anda ga suka, boleh exit kok. Ga usah maksain baca, karena saya menulis untuk orang-orang yang membaca dan menghargai karya saya dengan cara mereview ^^ Jadi, ga usah buang-buang energi anda untuk membaca karya abal saya ini, ok? ^^ Thanks for review ^^
haelvoe : Hehehe… Ga papa ^^ Ini udah lanjut, semoga suka ^^ HaeHyuknya di chap depan yah? Tunggu 17 hari lagi, ok? ;)
Yudha Namja ELFishy : Annyeong~ Ne… rencananya saya mau bikin NC untuk chap depan. Harap sabar menunggu ne? ^^ Ini udah lanjut, semoga suka ^^
Haiiro-Sora : Hahaha… Maaf yah chingu *bow* Disini juga HaeHyuk belum ketemu loh? Eotte? *tampang melas* HaeHyuk-nya baru ada di chap depan. Sabar ne? ^^
myfishychovy : Iya ^^ Ini sekuelnya "Jealous?", maaf yah jarak antara ending Jealous dengan hadirnya(?) fict ini terlalu lama *bow* HaeHyuknya di chap depan ne? Janji deh bakal usahain bikin momen yang lebih sweet lagi \/ ^^
ELF : Annyeong~ Wah… Terima kasih ya ^^ Saya jadi tersanjung nih :-) Moment HaeHyuk-nya ditunggu yah? Next chapter udah ketemu mereka, ok? ^^
Devie : Wah… Terima kasih ya ^^ Ini udah lanjut, semoga suka ^^
nurul p putri : Huahahaha… Ga sabar minta NC #plakk Oke sip! Sweet NCnya bakal ada di chap depan. Tapi nunggu-nya yang sabar yah? #plakk XD
Rianti-HaeHyuk : Iya… Di chap ini juga masih belum, soalnya masih fokus ke Hyuk. Tunggu di chap depan ne? ^^ Miaann… *bow*
Jewels1295 : Wah… Miaann… Permintaanmu baru bisa dipenuhin di chap depan *bow* Ga tau chingu… mungkin ini sampai chap 7. Hehe :p
HaeHyuk Love : Maaf yah baru bisa update sekarang *bow* NCnya di chap depan chingu. Sabar ne? :p
niknukss : Yah… HaeHyuknya masih di chap depan. Mian yah? *bow* Masalah review, ga papa… Yang penting kamu udah mau ninggalin review, jadi saya bisa lebih semangat lagi nerusin fict ini ^^ Gomawo ^^
fitri flames : Ini udah lanjut, semoga suka ne? ^^ Ok! Beres! NCnya di chap depan. Ditunggu aja ne? ^^
anggitas1 : Ini udah lanjut, semoga suka ^^ Wah… nagih NC juga nih! Siipp… Tunggu chap depan ne? ^^
.
Terima kasih banyak untuk yang sudah meninggalkan review, mem-follow dan mem-favorite fict ini ^^
Bagaimana dengan chap ini?
Yang mau lanjut,
Review pleaseee~~
GamshaHAE
.
-Mei Hyun-
.
