_Rizqi kanaya putri_
Cast belong to their own
Trima kasih reviewnya. Membangun sekali,karna aku masih baru disini jadi gk terlalu paham sama pengaturan fontnya. Di catatan word aku batas2 tiap paragrafnya sudah dipisah dengan tanda untuk email itu lho,tapi sepertinya tidak terbaca di sini. ^^
Update capter 2 ditengah semua kesibukan tetek bengek urusan masuk perguruan tinggi yang ribet bgt. Mohon doanya semoga bisa lancar tanpa ada masalah yg berarti. Sekali lagi trima kasih.
~(^.^)~
"can I have my morning kiss?" tanyanya.
Kudekatkan bibirku ke telepon kemudian menciumnya pelan.
Aku tau tidak ada suara apapun yang timbul dari kegiatanku itu sebagai pertanda bahwa aku telah menciumnya,tapi entah kenapa aku merasa jika kami memang sangat dekat hingga aku bisa mencium pipinya langsung.
"baik-baiklah disana."
"ok. Kurasa ini cukup untuk membuatku bertahan 2 hari lagi disini."
Aku kembali tersenyum membayangkan wajah cemberutnya.
"bye,prince. I love you." Katanya sebagai akhir pembicaraan kami.
"I love you too."
~(-_-)~
Setelah menyelesaikan mandi terlama yang pernah kulalui akupun turun ke bawah dan mendapati kak siwon tengah menyantap sarapannya. Kusiapkan bekal yang telah kubuat dan memasukkannya pada tas kerjanya.
"makan ini di kantor nanti kak. Aku tidak mau kau menyisakan satu butir nasipun saat kau pulang." Ancamku padanya yang tengah memakan roti tawarnya dengan sebuah senyuman manis.
Setelah ia selesai menghabiskan makanan dan meminum susunya diapun telah siap untuk berangkat. Kuberikan tas kerjanya dan membenahi dasinya yang agak berantakan.
"nah. Hati-hati di jalan." Kataku padanya ketika semuanya sudah siap.
"apa kau selalu memperlakukan donghae seperti ini?" tanyanya seraya mengamatiku dalam.
"tentu saja,aku istrinya." Jawabku sambil memamerkan senyum tulus. Kulihat matanya sedikit membulat lembut. Seolah mengharapkan sesuatu.
"aku pergi." Katanya singkat.
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
Andaikan donghae yang berada di posisi kak siwon sekarang,aku pasti sudah memberinya sebuah ciuman di pipi kanannya. Kebiasaan kami yang membuatku hampir lupa jika yang berada di depanku ini bukan donghae.
Aku melambai ketika melihat mobilnya bergerak menjauh. Setelah kepergian kak siwon,susana rumah kembali sepi. Aku memutuskan untuk menyapu dan membereskan rumah sebelum jam 9 nanti pergi ke kampus.
~(-_-)~
Kyu sudah menungguku di depan kampus ketika aku datang.
"nanti siang,apa kau free?" tanyanya.
Aku menggeleng pelan.
"aku harus kerumah key." Jawabku.
"lalu kapan kita akan jalan-jalan?" kyu sedikit memelas dalam suaranya. Akupun memikirkan jadwalku hari ini.
Membersihkan rumah sudah. Menjadi guru privat key hanya 2 jam setelah kuliah hari ini. jadi mungkin aku bisa bebas nanti sore.
"sepulang dari rumah key. Bagaimana ?" tawarku.
Bibir kyu sedikit mendecak sebal. Tapi kemudian mengangguk.
"aku akan menjemputmu nanti." Katanya kemudian menggandengan tanganku untuk mengikutinya menuju kelas kami.
Kyuhyun memiliki jadwal kuliah yang nyaris sama denganku. Hanya di beberapa subject saja yang memisahkan kami. Jadi waktuku paling banyak kuhabiskan bersamanya.
Jadwal kuliahku tidak terlalu padat dihari rabu. Jadi aku memutuskan untuk menjadi guru privat anak SMA,dan itu cukup menyenangkan karna mereka mengingatkanku kembali dengan masa mudaku.
Aku menikah dengan donghae saat usiaku masih 19 tahun. Mungkin kalian menganggap itu terlalu muda bagi seseorang untuk memulai sebuah keluarga. Tapi entah kenapa aku tidak memikirkan itu semua saat donghae bertanya apa aku mau menikah dengannya.
Pikiranku terlalu terfokus pada donghae hingga tidak memikirkan jawaban apapun selain 'ya'.
"AAA." Kataku seraya menyuapai kyuhyun dengan bekalku saat istirahat.
Entah kenapa aku terlalu protektif soal makanan yang akan dimakan oleh orang-orang terdekatku.
Mungkin jika orang lain yang menyuapi kyuhyun dia akan menolaknya,atau bahkan langsung membuang makanan itu. tapi entah kenapa jika itu aku yang melakukannya dia selalu mau memakannya.
Kyuhyun itu orangnya dingin,dan egois. Dia akan melakukan apapun yang dia suka tanpa peduli orang lain.
"berhentilah memainkan PS-mu. Itu tidak baik untuk kesehatan mata." Kataku masih dengan telaten menyuapinya.
Kyuhyun mengacuhkanku dan tetap bermain dengan PS-nya.
Aku terlihat seperti seorang ibu yang tengah menyuapi anaknya yang bermain PS.
"kau mendengarku?!" tanyaku sedikit marah karna dia mengacuhkanku.
"ne. aku mendengarmu,cantik." Pipiku bersemu merah mendengarnya. Dasar anak ini. "hei,ayo suapi aku,jangan bengong atau aku akan menciummu." Lanjutnya yang semakin membuatku malu.
Kupukul pelan kepalanya dengan sendok yang kupegang.
"ittai! Kau benar-benar mau kucium eh?" ancamnya yang membuatku memukul kepalanya lagi dan lagi.
Ternyata asik juga melihatnya kesakitan seperti itu. aku tersenyum melihatnya yang mencoba menangkis seranganku.
Tanganku masih memukul-mukulnya pelan ketika dengan tangkas dia menangkapnya. Menyembunyikan tangan kecilku pada genggamannya. Kontan saja aku tidak bisa bergerak saat dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dapat kurasakan nafasnya yang berhembus menerpa wajahku. Kepalaku pusing dibuatnya.
"kyu," kataku kalem untuk menghentikannya.
Kulihat matanya menutup sejenak untuk mengontrol emosi. Dia menelan ludahnya pelan kemudian menjauhkan wajahnya dari wajahku.
"jangan tersenyum terlalu manis di depanku. Aku mungkin tidak bisa mengontrol diriku sendiri lain kali."
Aku hanya diam sebagai balasan. Menenangkan diriku sendiri dan nafasku yang masih memburu.
Lama kami terdiam dalam keheningan. Aku terlalu malu untuk memulai sebuah pembicaraan baru.
"suapi aku hyuk." Pintanya padaku.
Dengan tangan yang masih bergetar pelan aku kembali menyuapinya. Merasa tenang saat semuanya kembali seperti semula.
"kau tidak makan?"tanyanya.
"aku tidak lapar." Kataku seraya mengambil sesendok penuh potongan telur krmudian menyuapkannya pada kyu. Entah kenapa aku suka melihatnya makan banyak seperti ini. kyu itu cukup kurus sebagai seorang pria. Meskipun dia tinggi,tapi tetap saja dia harus memiliki badan yang bagus untuk menarik perhatian seseorang. Kyu memang tampan,aku akui itu,tapi akan lebih baik lagi jika tubuhnya sedikit berisi. Seperti donghae.
"kenapa kau tersenyum?" tanyanya.
Aku mengangkat bahuku sebagai jawaban. Masih dengan semangat menyuapinya.
"hei,kau sadar tidak kalau akhir-akhir ini kau jarang makan?" tanyanya.
Benarkah? Aku tidak menyadarinya.
"ayo,makan sedikit makananmu." Paksanya sambil menyodorkan secuil ayam goreng ke arahku.
"eunm! Aku tidak mau!" tolakku sambil menutup mulutku kuat.
"wae?!" jeritnya tak terima.
"itu membuatku mual! Aku tidak suka!"
Kali ini dia menyerah. Dengan matanya yang mendelik marah ke arahku aku hanya tersenyum menanggapinya. Mengambil sesendok makanan lagi dan menyuapinya.
~(-_-)~
Sepulang kuliah aku menuju ke rumah key. Anak didikku yang sudah sebulan ini menjadi tanggung jawabku. Meskipun aku hanya sebagai guru privat bahasa inggrisnya,tetap saja aku merasa bertanggung jawab pada pemuda 17 tahunan itu.
Dia itu terlihat sinis,sadis,dan sombong di luarnya. Tapi aku tau dia menjadi seperti itu hanya karna ia membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya.
Orang tua key terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Sang ayah sibuk mencari uang,dan sang ibu sibuk menghabiskan uang. Tinggallah key seorang diri di mansionnya yang mewah.
Saat aku sampai di rumahnya kulihat dia tengah duduk malas di depan televisi tanpa menoleh sedikitpun ke arahku yang menuntut perhatiannya.
"kay,saatnya belajar." Kataku tenang dan langsung mematikan televisi flat-nya.
"ya! Aku sedang menonton acara faforitku!" jeritnya.
"aku tidak peduli. Kita belajar sekarang." aku mengamati sekilas ruangan besar ini dengan jenuh. Aku tidak terlalu suka mengajar di ruangan yang terlalu mewah seperti ini. kulihat key masih mengomel tidak jelas. Tanganku menarik tangannya untuk mengikutiku.
Sesampainya di halaman belakang mansion yang terdapat beberapa tumbuhan rimbun nyaris seperti hutan aku mendudukkannya di antara akar pohon. Mengeluarkan peralatanku dan memulai sesi les kami.
Key memang tidak peduli pada awalnya,tapi setelah cukup lama aku mencoba menarik perhatiannya akhirnya ia bisa juga tenang dan mengerjakan soal-soal yang sudah kusiapkan.
Dia anak yang manis.
Kubelai pelan rambutnya yang sepucat susu. Mengagumi teksturnya yang lembut.
Mataku mengamati wajahnya yang tirus sedang serius-seriusnya mengerjakan soalku.
Kukeluarkan cemilan sehat buatanku sendiri di sampingnya saat kusadari jika key membutuhkan sesuatu untuk bisa mengalihkannya dari acara menggigit ujung pensilnya ketika serius.
"itu tidak sehat. Makan ini." kusuapi dia dengan kentang goreng butanku sendiri.
Dia hanya membuka mulutnya sekilas dan memakan makanan itu cepat. Matanya masih terfokus pada soalnya.
"senpai." Katanya.
"humm? Nani?"
Dia tidak menjawabku. Tangannya terus bergerak cepat untuk menyelesaikan soal-soal yang kuberikan.
Tiba-tiba dia berhenti. Mengamatiku dalam kemudian memberikan soal itu kembali padaku.
Aku mengeceknya sekilas. Dan tersenyum bangga saat dia bisa menjawab semua soal dengan benar.
"kau akan pergi sekarang?" tanyanya tiba-tiba.
Aku berpikir sejenak. Masih ada beberapa menit sebelum kyu menjemputku.
"kurasa aku bisa menikmati suasana ini sebentar lagi."
Akupun duduk bersandar di sampingnya. Menikmati indahnya tempat ini secara langsung.
"kenapa senpai menikah?" tanyanya.
"karna aku mencintai donghae." Jawabku pasti.
"apa semudah itu?"
Aku bingung harus menjawab seperti apa.
"cinta itu mudah. Kau hanya perlu merasakannya walaupun itu menyakitkan."
Darimana aku mendapatkan kata-kata bijak seperti ini?
Key mengamatiku kali ini. tangannya mengunci kedua pipiku dalam pandangannya.
"ak,aku menyukai senpai. Aku ingin senpai tetap disampingku. Selamanya." Wajahnya merona merah.
"key-kun." Kataku.
"ini pertama kali aku merasakannya. Kuharap senpai mengerti."
~(-_-)~
Kepalaku pusing memikirkan key. Tentang perasaannya yang membuatku bingung harus bagaimana. Berjalan bersama kyuhyun di pantai mati-matian aku memikirkan bagaimana cara terbaik untuk mengatakan bahwa aku hanya menganggapnya sebagai adik. Tidak lebih.
Byurr.
Ck,aku menggerutu sebal saat kurasakan celana panjangku basah terkena air laut.
Sementara kyu hanya terkikik geli disampingku.
"berhenti tertawa." Kataku padanya.
"salahmu sendiri kenapa melamun seperti itu." kyu menjulurkan lidahnya ke arahku.
Aku hanya mencebik sebal padanya.
Entah karna aroma air laut yang membuatku pusing,atau memang ada aroma lain yang membuatku mual.
Perutku mulai melilit mencoba mengeluarkan makanan yang berada di dalamnya. Padahal seharian ini aku tidak makan apapun.
Melihatku yang seperti mabuk laut kyu menyeretku menjauh dari bibir pantai. Dia membawaku ke semak-semak dan memijat leher belakangku pelan.
"kau baik-baik saja?" tanyanya entah yang keberapa kali.
Aku hanya menggeleng sebagai balasan.
"kau kenapa?" tanyanya lagi.
"ada bau. Hoek!" aku kembali memuntahkan cairan pahit dari perutku.
"aku tidak mencium bau apapun. Aku antar kerumah sakit,ok?"
Aku menggeleng lemah. Aku benci tempat itu. lagi pula selama ini aku selalu menerapkan pola hidup sehat dengan berolah raga dan menjaga pola makan dengan benar. Memang akhir-akhir ini aku sering melewatkan sarapan karna itu membuatku mual. Tapi tidak mungkin aku terkena penyakit sementara tubuhku terasa baik-baik saja. Hanya terkadang aku merasa mual dan pusing.
"aku harus bagaimana?" tanyanya panik.
"antarkan aku pulang."
Kyuhyun langsung memapahku menuju mobilnya. Mengendarai mobil itu sehalus mungkin untuk menjagaku dari mual yang bisa datang kapan saja.
~(-_-)~
Sesampai di rumah mual itu sudah menghilang. Aku merasa baik-baik saja seperti sebelumnya. Seolah mual itu tidak pernah terjadi.
Baiklah. Kurasa aku harus mencuci baju dan memasak makan malam.
Kuganti pakaian formalku dengan kaos pendek dan celana super pendek yang bahkan tidak menutupi ¾ pahaku. Aku sudah biasa memakai celana seperti ini ketika akan mencuci dan membersihkan kamar mandi,karna tidak mungkin juga kan aku berbasah-basahan dengan celana panjang?
Konyol.
Kumasukkan beberapa baju kotor ke dalam mesin cuci. Memencet beberapa tombol kemudian meninggalkannya menuju kamar mandi.
Kugosok lantai kamar mandi dengan kuat dan sepenuh tenaga. Membuat lantai itu kembali terlihat bersih tanpa noda. Kamar mandi di apartemen ini memang cukup luas sehingga butuh waktu yang cukup lama untuk membersihkannya.
Menyalakan air untuk mengisi bath up dengan air panas. Siapa tau kak siwon memerlukannya.
"kotoran menyebalkan." Omelku ketika mendapati sebuah noda yang sangat sulit kuhilangkan di lantai kamar mandi. Ck,menyebalkan.
Rambutku yang semula kering kini telah basah oleh keringat dan air shower. Dengan sedikit menggigil aku meninggalkan kamar mandi dan mulai menyiapkan makan malam.
Tentu saja aku sudah mengambil baju yang semula berada di dalam mesin cuci dan membawanya ke ruang jemur.
Kembali ke dapur untuk memotong ayam yang akan kugunakan sebagai bahan makanan malam ini.
Mengiris kecil bawang merah dan putih. Menumisnya hingga menimbulkan suara dan wangi yang menggugah selera.
Ught!
Tiba-tiba rasa mual itu kembali menyerangku.
Akupun berlari cepat menuju ke kamar mandi dan mulai menumpahkan isi perutku lagi.
Lemas. Ini benar-benar menghabiskan tenagaku.
"hyukkie,aku pulang." Kata kak siwon.
Aku ingin mengatakan selamat datang. Tapi tubuhku tidak bereaksi apapun selain terduduk lemas di kamar mandi.
"hyukie?" tanya kak siwon yang sepertinya sedang mencariku sekarang.
Kuusap pelan keringat dingin yang membasahi wajahku kemudian kembali ke dapur.
Kuberikan handuk pada kak siwon dan tersenyum ke arahnya.
"kakak mandilah. Aku akan menyiapkan makan malam." Kataku ke arahnya yang sedang melepaskan dasinya.
Kak siwon tidak mengamatiku. Tapi pandangannya tertuju pada pahaku yang terekspos memalukan. Segera saja wajahku bersemu malu karna lupa mengganti bawahanku.
"cantik." Komentarnya saat melihatku yang mencoba menutupi pahaku dengan apapun yang bisa menutupinya.
"kakak cepat mandi." Kudorong tubuhnya dari belakang sehingga dia tidak melihat pahaku sekali lagi.
Memalukan sekali.
Apa semua orang di keluarganya donghae itu pervert?
Masakanku belum selesai saat kak siwon sudah kembali di sampingku dengan aroma wangi yang menguar dari tubuhnya.
"tidak biasanya kau telat menyiapkan makan malam." Komentarnya seraya menyiapkan beberapa piring untuk tempat masakanku.
"gomen. Tadi ada sedikit masalah di kamar mandi." Kataku.
"apa? Kerannya macet?" tanyanya.
Aku tersenyum sekilas.
"anni. Bukan sesuatu yang penting."
Kak siwon hanya mengangguk pasrah saat aku kembali serius meneruskan masakanku.
Kak siwon membantuku. Siapa sangka jika dia lebih bisa memasak dari pada donghae.
"kakak tidak perlu membantuku. Kakak pasti lelah." Kuletakkan masakanku di meja makan. Bersiap menghadapi babak selanjutnya.
"tidak. lagi pula aku suka membantumu. Kau terlihat seksi dengan apron itu."
Kembali sebuah persimpangan muncul di pelipisku.
Wajahku bersemu merah kembali.
TBC
