By Rizqikanayaputri

Trimakasih reviewnya ^^

Maaf tidak bisa membalas reviewnya satu-satu,saya ambil beberapa saja ne^^

Humm,masalah kapan ada adegan haehyuknya,mohon bersabar dan menunggu sampe chapter ke5 atau ke4,karna bahkan di chapter inipun saya tidak berhasil menghasut donghae untuk segera pulang ke kyoto. Gomen. ^^

Lalu masalah penggunaan kata 'kakak'. Saya lebih suka menggunakan kata kakak karna menurut saya itu tidak terlalu manja seperti penggunaan hyung,cocok dengan karakter hyuk yang saya buat sedikit jauh dari manja. Saya menggunakan 4 bahasa dalam ff ini,bahasa indonesia,sedikit inggris,sedikit jepang,dan sedikit korea. Bahkan castnya yang berasal dari korea saya setting tempatnya menjadi di jepang. Semata-mata untuk menggabungkan ciri khas anime dan boyband.

Trima kasih perhatiannya. ^^

~(^.^)~

Ught!

Tiba-tiba rasa mual itu kembali menyerangku.

Akupun berlari cepat menuju ke kamar mandi dan mulai menumpahkan isi perutku lagi.

Lemas. Ini benar-benar menghabiskan tenagaku.

"hyukkie,aku pulang." Kata kak siwon.

Aku ingin mengatakan selamat datang. Tapi tubuhku tidak bereaksi apapun selain terduduk lemas di kamar mandi.

"hyukie?" tanya kak siwon yang sepertinya sedang mencariku sekarang.

Kuusap pelan keringat dingin yang membasahi wajahku kemudian kembali ke dapur.

Kuberikan handuk pada kak siwon dan tersenyum ke arahnya.

"kakak mandilah. Aku akan menyiapkan makan malam." Kataku ke arahnya yang sedang melepaskan dasinya.

Kak siwon tidak mengamatiku. Tapi pandangannya tertuju pada pahaku yang terekspos memalukan. Segera saja wajahku bersemu malu karna lupa mengganti bawahanku.

"cantik." Komentarnya saat melihatku yang mencoba menutupi pahaku dengan apapun yang bisa menutupinya.

"kakak cepat mandi." Kudorong tubuhnya dari belakang sehingga dia tidak melihat pahaku sekali lagi.

Memalukan sekali.

Apa semua orang di keluarganya donghae itu pervert?

Masakanku belum selesai saat kak siwon sudah kembali di sampingku dengan aroma wangi yang menguar dari tubuhnya.

"tidak biasanya kau telat menyiapkan makan malam." Komentarnya seraya menyiapkan beberapa piring untuk tempat masakanku.

"gomen. Tadi ada sedikit masalah di kamar mandi." Kataku.

"apa? Kerannya macet?" tanyanya.

Aku tersenyum sekilas.

"anni. Bukan sesuatu yang penting."

Kak siwon hanya mengangguk pasrah saat aku kembali serius meneruskan masakanku.

Kak siwon membantuku. Siapa sangka jika dia lebih bisa memasak dari pada donghae.

"kakak tidak perlu membantuku. Kakak pasti lelah." Kuletakkan masakanku di meja makan. Bersiap menghadapi babak selanjutnya.

"tidak. lagi pula aku suka membantumu. Kau terlihat seksi dengan apron itu."

Kembali sebuah persimpangan muncul di pelipisku.

Wajahku bersemu merah kembali.

~(-_-)~

Aku mengamati kak siwon yang makan dengan lahapnya. Seolah ketika ia makan adalah tontonan terbaik yang pernah kulihat.

"kau tidak makan?" tanyanya yang melihatku diam tak bergerak.

Aku menggeleng pelan. Masih terus mengamatinya makan.

"kau kenapa hyukkie? Sakit?" tanyanya khawatir.

Aku kembali menggeleng.

"lalu kenapa tidak memakan makananmu?" satu pertanyaan lagi.

Aku mengangkat bahu.

"mangga. Aku ingin makan mangga muda kak." air liur seperti menetes di sudut bibirku ketika aku membayangkan buah masam dan kecut itu. pasti enak sekali.

"eh? mangga muda?" tanya kak siwon tak mengerti.

"belikan aku mangga muda! Aku mau mangga muda kak! Sekarang!" jeritku marah. Tidak biasanya aku seperti ini. tapi entahlah. Aku ingin mangga muda!

Bibirku mengerucut sebal dan berkali-kali menelan air liurku sendiri membayangkan rasa manis kecut buah mangga muda segar.

Pasti enak sekali!

"kakak belikan aku sekarang! aku mau mangga muda!" rengekku ke arahnya yang masih menatapku bingung.

"ne,ne. kakak belikan sekarang. jangan kemana-mana sebelum aku kembali ok?"

Aku mengangguk semangat dengan senyuman manisku.

~(-_-)~

Kumakan dengan rakus mangga muda yang sudah di dapatkan kak siwon satu jam yang lalu. Saking antusiasnya dengan buah satu ini aku bahkan langsung memakannya tanpa mengupas kulit buahnya terlebih dahulu. Memakannya seperti kelelawar yang menghisap darah seseorang.

"kau baik-baik saja kan hari ini?" tanya donghae.

Tanganku memindahkan handphonku untuk kujepit di antara pundak dan telingaku hanya agar aku bisa memakan buah ini lebih semangat lagi.

"humm. Aku baik-baik saja." Jawabku masih terus menggerogoti buah yang nyaris tinggal bijinya.

"kau sedang apa sekarang?"

"tiduran sambil makan buah dan menelponmu." Jawabku lengkap. Setengah memutar bola mataku malas mendengar pertanyaannya.

Kudengar dia tertawa sebentar di sana.

"1 hari lagi aku akan pulang prince." Katanya halus.

"iya." Jawabku.

"bunyi apa itu?" tanyanya.

"apa?"

"itu. apa kau sedang makan sesuatu?"

"humm,mangga."

Satu gigitan besar membuatku memejamkan mata menikmati enaknya mangga muda ini.

"sejak kapan kau suka mangga?" tanya donghae. Dia pasti tengah mengernyitkan sebelah alisnya membayangkanku yang memakan sesuatu yang sangat jarang kumakan.

"sejak tadi sore."

Kuambil satu mangga baru lagi untuk kuhabisi. Memakan sekaligus beserta kulitnya karna sudah tidak tahan untuk sekedar mengupasnya. Lagi pula,dalam kulit buah kan juga mengandung vitamin-vitamin yang diperlukan tubuh.

"jangan bersuara seperti itu prince. Kau membangunkan adikku."

Aku terkekeh geli mendengarnya.

"itu karna kau sendiri yang pervert." Kujulurkan lidahku ke arah telepon.

"tapi kau suka,kan?"

Kali ini kudengar tawanya yang membahana ketika aku tidak mengatakan apapun karna malu.

"good night,love. Saranghae." Ucapnya dengan sebuah kecupan yang masih bisa kudengar cukup jelas.

"good night."

~(-_-)~

"kakak. Ayo bangun." Kutepuk pipi kakak iparku yang tampan ini pelan. Mencoba membangunkannya yang masih terlelap dalam tidur nyamannya.

Kak siwon menggeliat pelan dan langsung membuka matanya. Setidaknya dia lebih baik dari donghae dalam masalah bangun pagi.

Hal pertama yang dilakukan kak siwon adalah mengamatiku aneh.

"ternyata hanya mimpi." Katanya pelan seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

"he?" tanyaku tak mengerti.

Dia hanya tersenyum dan mencium pipiku sekilas.

Pipiku kembali bersemu merah saat aku sadar apa yang telah dilakukannya.

"morning." Katanya dengan senyum memikat yang membuat siapapun tahluk.

"eum. Kakak mandilah,aku sudah menyiapkan sarapan." kuberikan handuk berwarna biru itu kepadanya. masih dengan senyumannya kak siwon menuju ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Sementara aku yang belum mengerti sepenuhnya tentang apa yang baru saja terjadi memutuskan untuk menganggap semua itu bukan apa-apa. Kutarik selimut dari atas kasur kak siwon kemudian menatanya rapi kembali. Melipatnya dengan telaten hingga tempat tidur itu terlihat sempurna seperti sebelumnya.

Setelah semuanya sudah siap,aku membuka lemari untuk memilihkan baju yang akan dipakai kak siwon nanti. Kali ini pilihanku jatuh pada kemeja biru tua dengan jas dan celana hitam. Sepertinya cocok dengan tubuh kakak.

Untuk dasi akan menarik jika warnanya sesuai dengan jasnya,jadi aku memilih warna hitam.

Sepatu sudah siap di bawah kasur,kaos kaki,jam tangan,dan . . .

Itu sudah semuanya,kan?

Aku memiliki sedikit masalah dalam mengingat sesuatu. Terkadang aku tidak bisa mengingat hal-hal kecil yang berada dalam pengawasanku. Tahun-tahun terakhir ini bahkan aku mulai lupa kata-kata yang biasa kugunakan untuk menyampaikan sesuatu. Nama benda,dan huruf-huruf.

"kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya kak siwon setelah keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan sebuah handuk.

Wajahku bersemu merah melihat bentuk tubuhnya yang sempurna. Sengaja aku mengalihkan pandanganku dari hal menakjubkan tersebut sebelum sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi.

"eum. Aku sudah menyiapkan semuanya."

Aku hendak berbalik meninggalkan kak siwon ketika tangannya menghentikanku.

Aku masih terlalu takut untuk melihat tubuh kak siwon sekarang.

"ada apa kak?" tanyaku masih menunduk.

Akhirnya tangannya melepaskan tanganku pelan.

"terima kasih." Katanya.

Akupun mengangguk sekilas kemudian meninggalkannya.

Untunglah.

Kupegangi dadaku yang rasanya seperti mau copot.

Apa yang terjadi denganku?

~(-_-)~

Tepat sebelum aku memasuki kampus kyuhyun sudah menjemputku. Memberondongku dengan berbagai pertanyaan tentang kondisiku.

"aku baik-baik saja." Ucapku untuk entah yang keberapa kalinya. Dia sepertinya belum puas sampai aku meneriakkan kata itu tepat di samping telinganya.

"aku menghawatirkanmu." Katanya seraya memelukku. Aku hanya diam merasakan aroma tubuhnya. Hangat dan nyaman,siapa yang bisa menolak sesuatu seperti ini? tentu saja bukan aku.

"kau sudah sarapan?" tanya kyuhyun yang kembali mengamati wajahku dari jarak yang sangat dekat.

Aku menggeleng.

"wae?! Kita sarapan sekarang!" tangannya menarikku untuk mengikutinya. Tapi aku menahannya di tempat.

"sudahlah. Aku hanya malas sarapan." Rengekku ke arahnya. Kembali dia mengamatiku marah tapi kemudian menghembuskan nafasnya kuat.

"jangan membuatku takut hyukkie ah. Akhir-akhir ini sikapmu aneh. Kau menjadi lebih tentramental dan sensitive kau tau."

"benarkah?" tanyaku tak percaya.

"jangan membuatku khawatir,ok. Kau hidupku." Katanya sambil memelukku erat.

Kuputar bola mataku bosan mendengar kata-katanya yang berlebihan. Meskipun diam,aku senang mendengarnya mengucapkan hal itu.

"kita harus ke kelas sekarang." kataku sambil menusuk-nusuk pelan perutnya dengan telunjukku hingga dia tertawa geli.

Akhirnya dia melepaskan pelukannya dan menggandeng tanganku memasuki kelas.

~(-_-)~

Hari ini kelas cukup sepi. Mungkin karna besok hari libur,jadi banyak anak yang sudah terlalu malas untuk sekedar menghargai dosen di depan kami dan memilih asyik dengan dunianya sendiri. Merencanakan kencang ganda dan sebagainya.

Begitupun dengan kyuhyun. Sejak tadi dia hanya bermain-main dengan rambutku. Sama sekali tidak mempedulikan aku yang sedang sibuk mengerjakan tugas kelompok kami di depannya.

Tangannya bermain di helaian rambutku,entah menilinnya atau bahkan terkadang menciumnya.

Tangan kiriku yang tergeletak miris di atas meja menjadi bahan mainannya untuk menghabiskan waktu kali ini. dia menautkan jari-jari kami. Menyentuh ujung-ujung jariku dengan jarinya dan menggenggamnya erat.

"hyukkie." Katanya.

Aku terlalu serius menghadapi soal ini dan mengacuhkan semua yang dia lakukan. Termasuk ketika dia mencium atau malah memainkan bibirnya di jariku.

"whit,atau with?" tanyaku padanya yang masih setia bermain dengan jari-jari mungilku.

"with. Ingat itu,'H'-nya dibelakang." Katanya.

Tanganku bergerak menghapus tulisanku dengan kuat. Sedikit mendecik sebal tentang kesalahan yang sepele tapi mematikan.

Kalau seperti ini terus aku bisa mendapat nilai F untuk mata kuliah utamaku.

"sudah selesai?" tanyanya dengan telunjukku yang dia tempelkan ke bibirku sendiri. Membuatku mau tidak mau harus tertawa melihat tingkahnya.

"akan lebih cepat jika kau mau membantuku." Cibirku ke arahnya yang hanya mengedikkan bahu malas.

Kami kembali diam. terlalu fokus dengan 'pekerjaan' kami masing-masing.

"kau tidak merasa terganggu dengan tingkahku yang seperti ini?" tanyanya yang kini sudah mulai menciumi ujung jariku.

Aku hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban.

"pernahkah kau,berpikir untuk pacaran denganku?" tanyanya.

Kali ini kuhentikan tanganku yang masih menulis kata-kata dan mengamatinya dalam. Kyuhyun hanya memasang wajah cool-nya dan mengamatiku dengan sebelah alisnya yang terangkat.

"what?" tanyaku sambil tersenyum meremehkan padanya.

"pacaran denganku. Date,hang out,and kiss may be."

Aku hanya tertawa melihatnya yang juga menertawai omongannya sendiri.

Dasar bocah ini.

"aku serius. Kau kan belum pernah mencoba pacaran dengan orang lain selain donghae." Katanya menuntut perhatianku yang telah kembali berkutat dengan tugas kami.

"kenapa aku harus melakukannya?" Tanyaku balik.

Kurasakan kyuhyun menarik tanganku lebih erat agar aku menghentikan pekerjaanku.

"karna aku ingin kau yakin,kalau kau juga mencintaiku." Kyuhyun mendekatkan wajahnya padaku. Memiringkannya sekilas dan hampir menyentuhkan bibirnya ke bibirku. Sebuah tarikan nafas panjangnya membuat kyuhyun mendaratkan ciumannya di pipiku yang bersemu,membatalkan tujuan awalnya yang pasti akan membuatku marah.

Kuamati dia yang kini nyengir mengerikan. Kemudian menggeleng.

"kau terlalu naif hyuk. Orang polos sepertimu yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan donghae dan langsung menerima tawarannya untuk menikah,apakah itu tidak lucu?"

"tidak." Jawabku sambil tersenyum singkat. Kulihat kyuhyun memutar bola matanya.

"kau seharusnya mencoba berpacaran dengan orang lain agar kau yakin jika donghae memang yang terbaik untukmu. Siapa tau di luar sana,ada orang lain yang bisa lebih membahagiakanmu."

Tanganku berhenti bergerak beberapa saat. Terlalu terkejut dan menyadari kebodohanku sendiri selama ini. pasalnya,aku memang sedikit terburu-buru saat donghae melamarku. menikah di usia yang semuda itu membuatku tidak melihat dunia remaja cukup lama. Tidak mengalami apa itu putus dan lain sebagainya. Karna sebelum aku mencoba mempelajari masa remajaku,aku sudah menikah dengan donghae. Faktanya,aku hanya seorang remaja yang sedang tumbuh. Banyak yang perlu kuketahui tentang hidup sebelum memutuskan untuk menjadi milik seseorang. Terlalu naif. Kata yang tepat untuk menggambarkan itu semua.

"hyukkie, maukah kau menjadi pacarku?" kata kyuhyun dengan senyuman bahagianya yang membuatku melongo. Mataku tidak berhenti mengamatinya yang masih setia menunggu jawabanku.

Aku . . .

~(-_-)~

Kepalaku menjadi lebih sering pusing akhir-akhir ini. setelah menyelesaikan semua tugas rumah aku bisa bersantai sejenak dan menyetrika baju. Merilekskan otot-otot kakiku yang rasanya seperti digerogoti semut-semut kecil.

Di saat seperti ini pusing di kepalaku semakin memperburuk kondisi tubuhku yang lemas karna seharian tidak makan apapun kecuali mangga.

Mual dan muntah juga lebih sering terjadi. hingga terkadang,aku merasa takut kalau sesuatu memang telah terjadi padaku.

Kulipat kerah leher kemeja kak siwon sebelum menyetrikanya dengan rapi. Membentuknya menjadi susunan yang sempurna sebelum memasukannya kembali ke lemari.

Pikiranku memang tidak terlalu fokus pada setrikaan karna lebih sering membayangkan apa yang kyuhyun katakan.

Ck,ini menyebalkan.

"hyukkie." Seru kak siwon.

Kuambil handuk di sampingku dan beranjak menghampiri kakak di bawah.

Kuambil tas yang dibawanya dan membuka dasi yang masih mengikat lehernya. Dia sedikit mendesah lelah saat berhasil membuka bagian atas kemejanya. Matanya terlihat sayu dan wajahnya lebih muram kali ini.

"kakak baik-baik saja?" Kuambil jas yang melekat di tubuhnya dan segera ke dapur untuk mengambilkan minum pada kakak.

Dengan sebuah senyuman lemah kakak menerima minuman dariku dan meneguknya.

"kakak mandilah. Jangan membawa masalah pekerjaan di rumah." Wanti-wantiku ketika melihatnya yang tertunduk lesu.

"kak," kuangkat wajahnya yang semula menunduk lesu. "ada apa?" lanjutku.

Dia hanya diam dengan matanya yang terus mengamati mataku. Tangannya membelai pipiku pelan.

Bibirnya seperti akan mengatakan sesuatu. Tapi ia hanya mendesah kemudian menggeleng pelan. Tangannya terjatuh begitu saja dari wajahku saat dia pergi meninggalkanku seorang diri.

Ada apa lagi sekarang.

~(-_-)~

Malam hari saat donghae menelponku aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk menanyakan ada apa dengan kak siwon. Dan Seperti yang dilakukan sang kakak,donghae sepertinya juga enggan berbagi cerita denganku.

"kau tidak mau memberitahuku?" tanyaku sedikit marah.

"bukan begitu,prince. Aku hanya tidak ingin kau terluka." Jawabnya.

Aku hanya diam. cuping hidungku mulai kembang-kempis menahan amarah.

"prince. Kau percaya padaku?" tanyanya.

Aku menahan nafasku sejenak. Mengontrol amarah yang siap meledak kapan saja.

Aku istrinya. Sudah sepantasnya aku percaya pada suamiku.

"ne. aku percaya padamu." Kataku akhirnya.

"terima kasih."

Donghae mulai menceritakan kegiatannya hari ini.

Dia sangat tertarik pada tumbuhan sakura yang tumbuh lebat di tokyo bahkan sampai berencana membawanya pulang ke kyoto untuk kutanam. Aku tersenyum senang mendengar ide gilanya,kuingatkan sekali lagi padanya kalau kami tinggal di apartement yang tidak memiliki taman. Dia mendecih sebal dan pada akhirnya memintaku untuk mengijinkannya membeli tanah di daerah pegunungan saat dia menjadi direktur nanti. Aku hanya tersenyum dan mendoakan yang terbaik untuknya. Setelah sakura, kebanyakan topik yang kami bicarakan adalah kepulangannya besok. Aku dapat melihat antusiasme Donghae dari cara berbicaranya yang penuh semangat. Kebahagiaannya yang meluap-luap membuatku lupa sejenak dengan masalah yang dialami kakak.

Air liur sedikit menetes di sudut bibirku ketika membayangkan nanas.

Pasti enak kalau aku bisa makan nanas sekarang.

kuamati jam beker disampingku yang baru menunjukkan jam 8 malam. Swalayan masih buka kan?

"cepatlah tidur." Kataku sengaja agar donghae memutuskan teleponnya. Tidak mungkin aku menyuruhnya dengan tegas untuk menutup telepon kami,kan?

Donghae terdiam sejenak,tapi kemudian dia menyetujui usulanku dan mematikan sambungannya. Segera setelah donghae menutup teleponnya aku berlari ke lantai bawah. Kuketuk keras pintu kamar kak siwon dengan terburu-buru.

"kakak! Belikan aku nanas!"

~(-_-)~

Tidak ada jadwal kuliah pada hari sabtu dan minggu. Jadi 2 hari 'bersejarah' itu biasa kugunakan untuk berkebun. Karna kami tinggal di apartemen,jangan bayangkan jika kau akan menemukan taman yang luas dimana terdapat berbagai macam tumbuhan,yang ada hanya pot-pot kecil di depan jendela balkon yang kuisi dengan kaktus. Tanaman faforitku.

Kupotong pelan cabang-cabang kaktus yang telah mati. Mencabuti rumput-rumput di sekitarnya dan memastikan tanaman-tanaman itu mendapat cahaya matahari yang cukup.

Kak siwon sudah berangkat kerja,dan untuk donghae,dia baru pulang nanti sekitar jam 5 sore.

Bibirku bersenandung pelan sambil merapikan tatanan tanamanku.

Membuatnya terlihat simple tapi tetap berkelas.

Handphoneku bergetar di dalam saku celana pendek yang kugunakan. Dengan tangan yang masih berlumur tanah akupun mengangkatnya.

"moshi,moshi." Kataku.

"kau sudah memikirkan tawaranku?" Jawabnya.

Aku tersenyum sejenak membayangkan wajah nakalnya yang menggoda.

"eumm,molla." Jawabku dengan sebuah senyuman senang karna berhasil menggodanya.

"kau sengaja mempermainkanku,eh?"

Aku benar-benar tertawa senang sekarang.

"aku sudah mempunyai suami,mana mungkin aku berpacaran denganmu." Jelasku pada siapa lagi kalau bukan sahabatku yang kemarin telah menyatakan perasaannya padaku. Kyuhyun.

Jariku sedikit berjengit ketika duri dari kaktus melukaiku. Segera saja kujilat ujung telunjukku yang masih mengeluarkan darah.

"ck,kau kejam hyuk." Desisnya marah.

"sudahlah. Begini lebih baik. hei,bisa kau kesini sekarang?"

Dia terdiam sejenak.

"iya,aku kesana sebentar lagi."

Aku tersenyum,tidak mengatakan apapun lagi karna dia juga mendiamkanku.

"kenapa diam?" tanyanya.

"karna kau diam." jawabku pelan. Saat kurasa kediaman semakin kelam di antara kami akupun mulai buka suara. "aku sudah terikat dengan donghae. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkannya." Lanjutku.

"kau tidak harus meninggalkannya."

"selingkuh maksutmu?" dahiku mengernyit bingung.

"yeah,semacam itu. tapi aku lebih suka jika menyebutnya dengan, hubungan cinta antar sahabat di belakang suami."

Aku terkekeh geli mendengarnya.

Kudengar dia juga tertawa pelan. Tapi saat kami telah mencapai saat dimana kami harus serius. Kami kembali terdiam dalam pikiran kami masing-masing.

"jadi,aku kalah?" katanya.

Kali ini aku yang harus menghembuskan nafasku lelah.

"maaf." Jawabku pelan.

"saranghae hyuk."

Nadho saranghae kyuhyun-ah.

TBC