RizqiKanayaPutri
Lagi gk terlalu suka bicara,jadi selamat membaca aja deh buat lu semua. *sadis mode On
\(-_-)/
"selingkuh maksutmu?" dahiku mengernyit bingung.
"yeah,semacam itu. tapi aku lebih suka jika menyebutnya dengan, hubungan cinta antar sahabat di belakang suami."
Aku terkekeh geli mendengarnya.
Kudengar dia juga tertawa pelan. Tapi saat kami telah mencapai saat dimana kami harus serius. Kami kembali terdiam dalam pikiran kami masing-masing.
"jadi,aku kalah?" katanya.
Kali ini aku yang harus menghembuskan nafasku lelah.
"maaf." Jawabku pelan.
"saranghae hyuk."
Nadho saranghae kyuhyun-ah.
~(-_-)~
Di dalam mobil kyuhyun kami hanya diam. dia yang diam karna marah,dan aku yang diam karna terlalu sibuk dengan makan pagiku.
"nanas?" tanyanya bingung ketika melihatku yang memakan nanas di dalam kotak makanan yang sudah kusiapkan sebelum kami berangkat.
"kau mau?" tawarku.
Dia menggeleng sejenak.
"donghae kapan pulang?" Tanyanya masih terus mengemudikan mobil. Tidak mempedulikan sopan santun yang seharusnya ia gunakan untuk menyebut seseorang yang lebih tua darinya.
"nanti sore. Dia bilang ada sedikit masalah di bandara jadi mungkin telat."
Kuhisap sari dari nanas ini dengan kuat,merasakan kecutnya sang buah itu sendiri.
Aneh. Aku tidak pernah merasa sepuas ini ketika memakan sesuatu sebelumnya.
"dan kenapa kita ke rumah sakit?" tanyanya sekali lagi.
"beli obat penambah darah dan magh." Jawabku masih fokus dengan nanas. Kalau kau Mual dan lemas,apa lagi kalau bukan gejala magh dan anemia.
"masih mual?" kali ini kulihat kekhawatiran di matanya.
"sedikit."
"sudah kubilang kau harus menjaga kesehatanmu. Kau ini." dia mencebik sebal. Aku hanya mengacuhkannya dan memakan nanasku. Menggerogotinya seperti tikus kekurangan makanan. Mobil kyuhyun berbelok di sebuah tempat parkir luas. Sepertinya kami sudah sampai.
Setelah cukup lama berjalan menuju ruangan dokter,akhirnya kami menemukannya. Segera saja aku menceritakan semua gejala yang kualami.
Dokter mendengar ceritaku dengan cukup serius. Berkali-kali kepalanya mengangguk dan terkadang dia juga berdeham aneh. Aku tidak malu saat menanyakan detail-detail kecil tentang kesehatanku. Karna tidak mau penyakit seperti ini terulang kembali. Lagi pula,dari semua penyakit yang kutau,penyakit ini memiliki gejala yang berbeda dari yang lainnya.
Setelah mendengar ceritaku,sang dokter kembali berdeham aneh,membuatku semakin bingung dengan ekspresi wajahnya yang sulit di tebak.
Dia memeriksa denyut nadiku,menggunakan stetoskopnya dia juga mengukur kecepatan detak jantungku. Setelahnya dokter menyuruhku untuk tes urin.
Sedikit kebingungan pada awalnya,tapi akhirnya aku hanya bisa patuh dan membawa benda pipih ini ke kamar mandi. Mencelupkannya pada urinku dan kemudian memperlihatkannya pada dokter.
Saat melihat alat itu sang dokter berdehem sejenak kemudian tersenyum lebar.
"apa anda suaminya?" tanya sang dokter pada kyuhyun.
"bukan,saya hanya pacarnya."
Dokter mengamati kyuhyun dengan bingung. Sedangkan aku yang cukup sebal memukul perutnya kuat.
"maksut saya,saya hanya teman,sahabat,cinta terdekatnya." Lanjut kyuhyun.
Aku memutar bola mataku bosan.
"ah,baiklah. Selamat,teman,sahabat,cinta anda ini sedang hamil." Jawab sang dokter lengkap dengan cengiran usilnya.
Aku tidak mempedulikan kalimat awal yang dia ucapkan,pendengaranku hanya terfokus pada bagian dimana dia mengatakan kalau aku,hamil?
Mataku membelalak tak percaya. Begitupun kyuhyun yang tidak sempat memprotes omongan sang dokter.
"APA!" jeritnya.
"saudara hyukjae sudah mengandung selama 1 bulan. Untunglah belum terlambat anda membawanya ke rumah sakit,karna lambung hyukjae mengalami iritasi yang cukup serius disebabkan pola makannya yang sering memakan makanan masam."
Kyuhyun masih membuka mulutnya lebar. Kedua alisnya saling beradu tanda tak suka.
Sementara aku hanya bisa bergumam takjub pada diriku sendiri.
Otomatis tanganku menyentuh perutku yang masih datar. Merasakan sebuah kehidupan akan ada disana.
Bibirku membentuk sebuah senyuman ketika mataku mulai buram oleh air mata.
Apa aku sedang bermimpi?
"itu normal. Saat hamil semua makanan akan terlihat memualkan,tapi untuk masakan asam mempunyai kandungan yang berbeda sehingga membuat kita tidak merasa mual ketika memakannya. Tapi melihat kondisi hyuk yang hampir tidak pernah memakan apapun selain mangga dan nanas,itu berakibat buruk pada lambungnya. Kusarankan anda memenuhi kebutuhan nutrisinya mulai sekarang."
Aku mengangguk senang ke arah dokter yang juga tersenyum membalasku. Mengacuhkan kyuhyun yang masih berada di dunia paralelnya.
Seletah cukup mendapat penjelasan dari dokter aku memutuskan untuk segera pulang. Terlalu senang untuk menahan kebahagiaan ini seorang diri. Tapi,apa aku harus memberi tahu donghae?
Aku tidak tau bagaimana cara memberitahunya,dan aku juga bingung memikirkan reaksi apa yang akan donghae tunjukkan nanti.
Kutarik kemeja kyuhyun untuk mengikutiku meninggalkan ruangan sang dokter dan menuju ke tempat parkir.
Sepertinya kyuhyun benar-benar tidak berada di dunia ini sekarang,maka dari itulah aku yang mengambil alih mobilnya sementara waktu. Menyetir mobil volvo hitamnya dengan bibir yang terus tersenyum lebar.
Dalam perjalanan kyuhyun hanya memandang jalanan dengan tatapan dinginnya,mengacuhkanku yang sedari tadi mencuri pandang ke arahnya.
"kau ini kenapa sih!" marahku padanya ketika aku sudah Tidak tahan lagi dengan kediaman di antara kami.
Dia menggeleng pelan dan kembali terdiam.
"kau tidak suka aku hamil?"
"tidak." jawabnya masih tanpa ekspresi.
"kyu! Aku ini sahabatmu!"
"dan kau juga cintaku!" teriakannya membungkam mulutku.
Kali ini dapat kulihat kilatan kesakitan dari matanya.
"aku kalah. Bahkan sebelum berperang aku sudah mati. Selamat atas bayi kalian." Ucapnya pahit. Dapat kurasakan kegetiran dari ucapannya. Apa sesakit itu?
Aku hanya diam. tidak tau harus mengatakan apa.
Dia kembali menghindari pandangannya dariku dengan melihat ke arah kaca di sampingnya. Membuatku semakin terpuruk dalam kesendirian.
Selama ini Orang yang paling memahamiku adalah kyuhyun. Meskipun donghae itu suamiku,tapi kyuhyun jauh lebih bisa mengerti tentang karakterku yang sebenarnya.
Dimata donghae aku akan selalu menjadi istri terbaik yang bisa dibayangkan oleh semua orang. Istri yang penurut,baik,pengertian dan sempurna.
Tapi aku tidak sepenuhnya seperti itu. ada sisi lain yang selalu kututupi dari donghae.
Menjadi sempurna di depannya adalah kewajibanku.
Tapi kyuhyun,di depannya aku hanyalah seorang lee hyukjae. Laki-laki biasa yang pelupa,sinis,sadis,dan egois. Dia mengerti kedua sifatku yang berbeda,dan dia menerimanya.
Itulah kenapa melihatnya seperti ini juga membuatku sakit sendiri.
Bahkan saat kami telah mencapai rumahku,kyuhyun masih diam. tidak mengatakan apapun sampai aku akan turun dari mobilnya.
Tangannya menghentikan tanganku sebelum aku meninggalkannya. Dia menarikku ke dalam pelukan hangatnya. Memeluk tubuhku erat seolah tidak mau melepasnya.
Kurasakan bibirnya mencium puncak kepalaku dalam. Menghembuskan nafas sakit hatinya disana.
"selamat. Aku bahagia atas kehamilanmu." Ucapnya kalem. Memelukku semakin erat saat mengucapkan sesuatu yang menyakitinya.
Aku tersenyum sekilas kemudian membalas pelukannya. Menenggelamkan kepalaku pada dadanya yang bidang.
"semua akan baik-baik saja selama aku tidak memikirkan siapa ayah dari bayi ini." lanjutnya.
Kupukul perutnya pelan dan terkekeh geli.
Kulihat dia juga tersenyum dan memelukku semakin erat.
"akan kuanggap dia sebagai anakku." Katanya pelan kemudian mengecup puncak kepalaku sekilas. Tangannya yang bebas membelai perutku pelan. Merasakan tekstur kaosku dengan kalem.
~(-_-)~
Selesai menyiapkan makan malam aku menunggu kepulangan kak siwon dengan membenahi kamarnya. Menyiapkan air panas dan baju ganti untuknya,Serta mencuci sebagian baju rumah kami yang tidak akan hilang nodanya jika kumasukkan ke dalam mesin cuci.
Kuangkat setumpuk kain dalam gendonganku. Membawanya ke belakang untuk mencucinya.
Aku berhenti tepat ketika merasakan ulu hatiku yang sakit.
Rasanya Perih dan panas.
Kakiku nyaris limbung dan kehilangan keseimbangannya.
Nafasku mulai memburu merasakan perihnya lambungku yang terluka.
Keringat dingin mulai membasahi pelipisku.
"its ok. Ibu baik-baik saja." Kataku pelan seraya membelai perutku. Mencoba menahan rasa sakitnya yang membuat dadaku sesak.
Butuh beberapa saat untuk menenagkan diri sekedar mengurangi rasa sakitnya,dan saat semuanya kembali terasa cukup nyaman aku mulai mencuci baju-bajuku.
Sekitar sejam setelahnya kak siwon datang. Dia yang melihatku mencuci baju agak tidak tega juga,tapi setelah aku meyakinkannya bahwa aku sudah biasa melakukan ini,akhirnya dia luluh dan mau meninggalkanku seorang diri.
Setelah mencuci baju aku dan kak siwon menyiapkan makan malam. Membuat nasi goreng seafood untuk menyambut donghae.
Bibirku sedikit mengerucut kecut saat harus memisahkan diri dari nanasku sebentar. Dokter yang menyarankan agar aku tidak terlalu banyak mengkonsumsi makanan pedas dan masam untuk kebaikan lambungku.
Kucicipi nasi goreng buatanku langsung dari atas penggorengan. Meniupnya sejenak kemudian mengunyahnya lembut.
Sempurna.
Ini enak. Setidaknya sebelum aku kehilangan selera pada masakan masam lagi.
Kusendok beberapa butir nasi dan memberikannya pada kak siwon untuk dicicipi.
Dia,entah kenapa,sedikit meringis saat merasakannya.
"ini terlalu,masam. Kau menambahkan nanas berapa banyak?" tanyanya.
"satu buah. Mungkin." Jawabku.
Matanya membulat kaget melihatku.
Ahh,ok,sekarang aku mulai merusak karakter istri yang pandai memasak-ku.
Aku mulai mencari cara untuk mengurangi rasa masamnya,tapi setelah lama mencoba dan hampir membuat nasi gorengku menjadi bubur. Aku harus menyerah dan membuat nasi goreng lagi. Kali ini tanpa nanas di dalamnya yang justru terasa seperti nasi tanpa rasa di mulutku.
Kak siwon menyiapkan ayam goreng,dengan telaten dia membelah dan memotong daging itu dengan lihai. Hasilnya sungguh menakjubkan. Ayam gorengnya begitu renyah dengan kematangan yang sempurna.
Satu gigitan.
Cukup satu gigitan dari ayam goreng kak siwon dan aku harus berlari tunjang-lanjang menuju kamar mandi.
Berjongkok di closet dan memuntahkan cairan putih dari lambungku.
Kak siwon cemas. Dia nyaris memanggil ambulance hanya untuk memastikan aku mendapat perawatan saat itu juga.
Aku menghalanginya. Tidak mau lagi harus menuju ke tempat yang paling kubenci di dunia ini.
"kau kenapa?" tanyanya lagi dengan tangan yang memijat tengkukku.
Aku menggeleng dan terus muntah.
"kak." Kataku di sela-sela nafas yang memburu dan tubuh lemas.
"hmm?" matanya membulat khawatir. Sedikit syok dengan kelakuanku yang tiba-tiba.
Aku ingin mengatakan agar kakak menyiapkan makan malam. Tapi itu terlihat seperti bukan aku saja. Sekali lagi,tugasku untuk melayani donghae.
Akupun kembali ke dapur untuk meneruskan masakan kami.
Menyiapkan meja makan dan terakhir menunggu sang fishy pulang.
~(-_-)~
Aku sedikit,marah saat mengetahui tetanggaku menghancurkan pot kesayanganku tadi sore. Tepat setelah kepulanganku dari rumah sakit.
Dan entah kenapa aku baru merasakan amarahnya sekarang.
Ada semacam gejolak amarah yang ingin kuluapkan.
Tubuhku seperti terbakar merasakan sensasi meledak-ledak dalam perutku. Memanaskan semua indraku hingga aku ingin menghancurkan meja ini sekarang.
Tanganku mencengkeram pinggiran meja kuat. Berniat menghancurkannya dengan kekuatan remasanku yang luar biasa.
"hyukkie?"
Kata Kak siwon yang duduk di depanku,dia mengamatiku bingung.
Matanya berubah kaget saat aku menghadiahinya tatapan mengerikan khas seorang pyicho.
Sekejap aku mulai menyadari keadaanku.
Kututup wajahku dengan kedua tangan dan kembali menghadapi kak siwon dengan senyuman manis.
Apakah ini efek kehamilan?
Kata dokter aku akan mengalami keadaan-keadaan yang cukup sensitive karna hormonku yang tidak stabil. Katanya,aku akan lebih banyak menangis,tersinggung,dan marah di saat-saat seperti ini.
Ok.
Ini mengubah segalanya sekarang.
Aku mulai kehilangan kendali akan diriku sendiri.
"PRINCE!" seru sebuah suara yang mampu mengangkat wajahku dari atas meja dengan semangat. Segera aku mengamati pintu dimana seorang pemuda dengan rambut ravennya tengah tersenyum lebar ke arahku.
Bibirku hanya membentuk cibiran aneh yang tidak pernah kulakukan sebelumnya di depan suamiku.
Apa yang terjadi padaku?
Sedikit berjengit ngeri tentang sikapku yang di luar kebiasaan. Aku memberanikan diri untuk tersenyum pada donghae. Dia dengan cengiran khasnya mulai menghampiriku dan memelukku erat. Menarikku dari kursi tempatku duduk dan langsung menenggelamkanku dalam pelukannya.
Bibirku membentuk senyuman bahagia karna kehadirannya.
Memeluknya erat dan menyandarkan kepalaku pada bahunya.
Berkali-kali donghae mengecup puncak kepalaku. Mengirimkan sinyal kerinduannya yang membuatku geli.
"prince." Katanya kalem dengan sebuah senyuman manis.
Aku hanya diam dan mengangguk,tidak mengatakan apapun selain senyuman yang terukir sempurna di bibirku.
Tubuhnya masih kokoh seperti sebelum dia pergi ke tokyo,seharusnya aku tau itu,dia kan hanya pergi selama 3 hari.
Donghae mengangkat wajahku.
Mencium bibirku sejenak dengan lumatan-lumatan kecil yang menggoda.
"ehemm."
Aku menyadari kehadiran kak siwon di antara ciuman kami. Mendorong pelan dada donghae dan tersenyum ke arah kakak.
Satu kecupan donghae berikan pada pipiku,membuatnya bersemu merah seperti mawar.
"terima kasih kak. Kau sudah menjaga istriku selama ini." aku masih terus bergelayut manja pada donghae karna dia juga enggan melepaskan tangannya dari pinggangku. Mengamati kak siwon yang melihat kami dengan senyuman dewasanya.
Ternyata aku belum siap untuk memberi tahu donghae sekarang.
Entah kenapa aku jadi kebingungan sendiri harus berlaku seperti apa dalam situasi ini.
Ini bukan sesuatu yang penting meskipun ini penting.
Kurasa aku masih memiliki banyak waktu untuk memberitahunya. Aku ingin mengatakan ini pada situasi yang special. Lebih baik jika hanya aku dan kyuhyun yang tau soal ini sekarang.
Setelah makan malam dan cukup berbincang,dapat kulihat kilat kelelahan pada mata donghae.
Dari tadi dia tidak berhenti menguap dan mendesah lelah.
Setelah kusiapkan air panas untuknya. Akupun membantunya melepaskan kemeja yang digunakannya ketika kami telah berada di dalam kamar. Dia sempat tersenyum sekilas tapi langsung berhenti karna kelelahan yang dirasakannya.
"kau baik-baik saja?" tanyaku seraya melepas sepatunya.
"hanya lelah. Aku mengejar pesawat tercepat untuk sampai di rumah." Sebuah kecupan donghae berikan pada bibirku. Dia tersenyum sekilas kemudian meninggalkanku menuju kamar mandi.
Kubongkar kopernya dan mengeluarkan baju kotor yang berada di dalamnya. Membawanya ke tempat cuci dan membereskannya.
Saat aku kembali ke kamar,donghae telah tertidur pulas dengan mulutnya yang terbuka. Dengkuran keluar dari bibirnya yang lembut.
Aku hanya terdiam mengamatinya yang begitu tampan di saat-saat seperti ini. polos. Donghae terlihat seperti anak kecil sekarang.
Kulihat tubuhnya sama sekali tidak memakai apapun selain handuk yang sebelumnya kuberikan.
Ma,ma.
Sepertinya dia benar-benar lelah.
Akupun melepas handuk itu dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Mencium keningnya sekilas dan mengucapkan saranghae dengan pelan.
Tidak biasanya aku bersikap melankolis seperti ini.
Memalukan.
Sepertinya kehamilanku mengubah semua sifat alamiku yang dulu. Aku mungkin tidak akan mengenali diriku sendiri mulai sekarang.
TBC
