~(-_-)~
Aku menarik tangan kak siwon dan donghae dengan kuat agar mereka mengikutiku.
Donghae hanya mendesah pasrah dengan senyumnya yang seolah seperti permintaan maaf pada sang kakak yang mengamatiku bingung.
Ini pertama kalinya untuk kakak,sedangkan donghae,kalau kami ada waktu senggang biasanya aku akan mengajaknya ke tempat ini. tempa perkumpulan para cossplayer di kyoto.
Donghae sudah hapal kemauanku yang akan mendadaninya menjadi tokoh anime faforitku. Dia tidak menyukai anime,dan sama sekali tidak tertarik dengannya. Tapi donghae selalu mau kubuat sebagai object imajinasi liarku dalam cossplayer. Seperti biasa. kami akan menjadi pasangan cossplayer yaitu riki dan lason. Sementara kak siwon,aku akan membuatnya menjadi darrs.
Setelah mendapat bantuan dari para cossplayer lainnya dan corat-coret disana-sini,akhirnya aku benar-benar bisa terlihat seperti riki dalam ai no kusabi. Donghae yang harus memakai rambut palsu berwarna pirang panjangpun tetap terlihat tampan,jauh lebih menawan bahkan. Kak siwon sedikit lebih baik dari donghae karna dia tidak perlu memakai rambut palsu,hanya mengecat sedikit rambutnya dan jadilah seorang darrs yang tampan.
Kami berfoto bersama dan tertawa lucu melihat diri kami masing-masing. Semakin lama,banyak yang meminta kami berfoto bersama mereka. Kebanyakan adalah wanita penggemar anime yaoi. Aku sedikit jijik juga pada mereka. Mereka wanita,tapi kenapa mereka menyukai hubungan sesama laki-laki. Bukankah itu menjijikkan?
Kaka siwon sedikit kewalahan ketika mendapat permintaan yang cukup banyak dari orang-orang yang meminta foto bersamanya. Begitupun donghae yang selalu tersenyum pada wanita-wanita di sekitarnya.
Aku menghembuskan nafasku kuat dan berjalan nyaris menghentak ke arahnya. Kutarik tangannya mengikutiku ke tempat sepi. Dia masih mengamatiku dengan senyum manisnya yang membuatku marah kali ini.
"ada apa,prince?" tanyanya.
Aku hanya mengedikkan daguku ke arah sekumpulan wanita yang menunggunya kembali. Banyak di antara mereka yang melambai ke arah donghae.
Sikap mereka membuatku mual saja.
"hoek!"
Dengan segera aku mengambil kantong plastik di dalam tasku dan mulai serius dengan sesuatu yang keluar dari mulutku.
Kepalaku terlalu pusing untuk menjawab semua pertanyaan donghae yang tidak ada habisnya. Sebelum semuanya menjadi semakin kacau kuangkat salah satu tanganku untuk menghentikan semua kekhawatiran donghae. Kali ini dia benar-benar membeku melihat isyaratku.
Aku menghembuskan nafasku lega setelah semuanya berakhir. Kumasukkan kantong plastik bekas muntahanku itu ke dalam tempat sampah. Dan kembali pada donghae yang masih membuka mulutnya takut.
"aku baik-baik saja." Kataku yang langsung di balas seringaian tanda tak kepercayaannya.
Kupegang tangannya lembut. Berusaha menyampaikan kalau aku benar-benar baik-baik saja.
"ok. Kali ini aku mengalah,prince. Tapi kalau sesuatu terjadi padamu,jangan salahkan aku jika aku akan tegas lain kali."
Aku hanya memutar bola mataku.
Kuhembuskan nafasku sekali lagi untuk menenangkan emosi yang membuatku berbeda dari hyukie yang dulu.
"aku tidak suka melihatmu bersama mereka." Ucapku dengan bibir yang sedikit maju beberapa senti.
Mata donghae membulat takjub dan kemudian berkedip-kedip tak mengerti.
"love,kau. Cemburu?" tanyanya tak percaya.
Aku ingin donghae berhenti mengatakan kata-kata melankolis seperti itu. tapi pada akhirnya aku hanya bisa diam dan menatapnya yang tersenyum dengan lebarnya.
"prince. You really are,cute."
Pipiku kembali memanas mendengar nada bicaranya yang membuatku malu.
Bibirku membentuk senyuman senang ketika tangannya menarikku untuk berada dalam dekapannya dimana beberapa fans dadakannya seperti terkena serangan jantung melihat kebersamaan kami.
Rasakan itu.
Donghae is mine.
~(-_-)~
Setelah pulang dari perkumpulan kami berjalan-jalan sebentar di taman kota. Menikmati musim semi dengan sakura yang berjatuhan dimana-mana.
Sakura.
Itu mengingatkanku pada satu orang.
Orang yang paling sering mengibaratkanku dengan sakura.
"kawai ne! look prince. beautyful,isn't it?" tanya donghae ketika kami berjalan di antara pohon-pohon sakura yang tengah berguguran. Donghae yang berada di samping kiriku tersenyum manis ke arahku. Membuatku merasa seperti orang paling beruntung di dunia ini. tangannya yang sedari tadi menggenggam tanganku terus mengayunkannya pelan tapi semangat. Sementara kakak,dia yang sedari tadi juga menggenggam tanganku yang lainnya hanya terdiam dengan wajahnya yang datar.
"kita akan membeli rumah yang dikelilingi sakura nanti." Impian donghae benar-benar melambungkanku. Membuatku berpikir mungkin ini saat yang tepat untuk memberitahunya.
"bukankah mawar lebih bagus?" tanyaku padanya.
"mawar tidak sesuai denganmu,love. Kau lebih mirip dengan sakura."
Mawar itu kau,hae.
"eumm,kalau nanti kita memiliki anak,apa yang akan kau lakukan?" tanyaku mengamatinya dengan serius.
Dia terdiam sejenak,tapi kemudian tersenyum kembali.
"aku akan mendidiknya hingga ia menjadi manusia terbaik seperti ibunya."
Pipiku kembali bersemu merah mendengar omongannya. Menolehkan pandanganku pada kak siwon saat rasanya pipiku seperti terbakar.
Aku tidak sebaik itu kau tau.
Kuangkat kedua tangan yang menggenggam tanganku,menempelkannya pada perutku yang masih rata.
Donghae mengamatiku bingung,begitupun dengan kakak yang juga melihatku aneh.
Aku menarik nafas sejenak dan memikirkan bagaimana kata untuk mengawali ini semua.
'aku hamil.' Ahh,itu terlalu simple dan aneh.
'ada bayi dalam perutku' konyol.
'kau akan menjadi ayah,hae' terlalu memalukan.
"mari kita didik anak kita bersama-sama." Kataku dengan senyum kebingungan yang menakjubkan karna aku seperti menemukan kata-kata yang tepat.
Donghae dan kak siwon membelalak menatapku. Mereka sama-sama tidak mengatakan apapun sampai aku tersenyum menanggapi kebisuan di antara kami.
"prince,kau." Kata donghae masih bingung.
"ak,aku. Ayah? Kau. Anak. Perut?" kata donghae yang mulai tidak bisa menyusun semua kata-katanya dengan benar.
"hyuk,kau hamil?" tanya kak siwon sama tak percayanya.
Aku mengangguk pelan dan menunggu reaksinya.
"PRINCE!" jerit donghae kuat dan langsung memelukku. Tangannya mengguncang bahuku kuat untuk meluapkan kebahagiannya.
Setelah melepaskan pelukannya dia terus menciumku dengan cukup kasar. Mengecupnya kuat hingga aku nyaris hancur karna ciumannya.
"I love you,love." Katanya masih dengan bibir yang tertarik sempurna. Setelah dia puas dengan berita yang kusampaikan ia langsung berlari ke tengah taman dan meneriakkan bahwa istrinya hamil. Membuatku semakin malu saat beberapa orang bertepuk tangan ke arahku dan mengucapkan selamat. Aku hanya bisa menundukkan wajahku dan membungkukkan badan tanda terima kasih. Setelah beribu teriakan dan kehisterisan dari donghae kamipun pulang dengan aku yang berubah warna menjadi merah,sedangkan kakak dan donghae yang bersemu bahagia.
~(-_-)~
Waktunya merasakan kebersamaan kami yang tertunda.
Aku bergeliat manja dalam dekapan hangat donghae yang juga tengah mengecupi leherku. Membuat beberapa perasaan geli bercampur nikmat yang menentramkan.
Kak siwon sudah pulang saat kami kembali dari taman kota tadi sore. Dia mengecup puncak kepalaku dan mengucapkan salam perpisahan dengan wajah sedihnya.
Aku sedikit tidak tega melihatnya seperti itu.
"katakan padaku tentang kakak." Kataku pada donghae yang masih bermain dengan leherku.
"kenapa dia terlihat sedih akhir-akhir ini." lanjutku saat donghae tidak merespon sedikitpun pembicaraanku. Kuangkat wajahnya dari leherku dan mendapati matanya yang juga berbinar sedih.
"aku tidak ingin menyakitimu,prince." Katanya.
"its ok. Aku akan baik-baik saja." Bujukku.
Tangannya membelai pelipisku pelan,menyingkirkan beberapa helaian rambutku disana.
"kakak akan menikah minggu depan."
Aku mengernyit bingung mendengar bahwa kakaku yang jomblo itu akan menikah. Kapan? Kenapa kakak tidak memberitahuku tentang pacarnya. Aku tau aku bukan siapa-siapanya,tapi menyembunyikan hubungan semua itu dengan keluarganya sendiri bukanlah hal yang bijak menurutku.
"dia dijodohkan." Jawab donghae saat melihat kilau penasaran dari mataku.
"siapa? Dan,kenapa?" tanyaku tak percaya.
"ini sedikit rumit prince,aku benar-benar tidak ingin mengatakannya padamu."
Kugenggam tangannya yang masih mencoba menutupi wajahnya yang tidak bisa berbohong.
"aku mencemaskan kakak. Aku menyayanginya. Bagaimana mungkin aku akan diam saja mendengar masalah ini?" jelasku agar dia mau kembali meneruskan ceritanya.
Bibirnya membuka seakan ingin mengatakan sesuatu,tapi pada akhirnya dia hanya terdiam dan menghembuskan nafasnya kuat.
"hae,kumohon." Pintaku.
Kembali sebuah hembusan nafas donghae keluarkan untuk menghilangkan sedikit tekanan dalam suaranya.
"kakak menyetujui perjodohan ini untuk kita. Dia rela menukar kebebasannya hanya agar kita tetap bisa bersama."
"apa?"
"namanya henry lau. Tunangan kakak sekaligus tunanganku. Sebelum ayah merestui hubungan kita,aku telah di jodohkan dengan henry sebagai usaha untuk memperluas kekuasaan ayah di bidang teh jepang. Dia sengaja menyuruhku dan kakak untuk berteman dengan henry saat kami masih kecil ,agar nanti saat kami dewasa,henry akan memilih salah satu diantara kami untuk menikah dengannya. Dan Dia memilihku. Aku terkejut tentu saja. Karna selama ini aku hanya menganggap henry sebagai adik. Tidak lebih. Kemudian aku bertemu denganmu,menikah,dan bahagia. Tapi sebagai gantinya,kakaklah yang akan menikah dengan henry. Itulah kenapa kakak tidak pernah menjalin hubungan dengan seseorang. Dari awal,hidupnya sudah terikat. Dia tidak memiliki hak untuk mengatur dunianya sendiri."
"tentu dia punya hak. Kenapa dia harus melakukan semua ini."
Kuamati wajah donghae yang juga mengamatiku. Tangannya kembali membelai rambutku halus.
"aku sudah mengatakan hal itu padanya,tapi ini pilihannya sendiri. Jadi ku harap kau bisa menghargainya,prince." Wanti-wantinya padaku yang sedang cemberut. Telunjuknya membelai bibirku pelan. Tersenyum senang melihatku yang sedang ngambek.
"kalau anak kita lahir nanti,aku akan menamainya dengan marga keluarga kita." Kata donghae senang dengan tangannya yang membelai halus perutku.
"lee?" tanyaku sedikit tidak suka.
"tentu saja. Dia harus menjadi penerus keluarga kita dengan nama 'lee'." Katanya.
"sekarang kita tidak menggunakan cara kuno seperti itu. tidak ada lagi nama marga-marga aneh yang digunakan." Tentangku mendengar idenya.
"lalu kau ingin yang seperti apa prince?"
"eumm,riki. Aku ingin memanggilnya dengan riki."
Donghae memutar bola matanya bosan ketika aku mengusulkan salah satu tokoh anime faforitku sebagai nama anak kami nanti.
"tambahkan juga yuuki! Karna dia pasti manis sekali." Kataku semangat.
"prince,menggabungkan riki dengan yuki mungkin agak sulit. Aku tidak tau apa kita bisa . . ." Jawab donghae dengan matanya yang seperti memohon agar aku mengubah keinginanku.
"anni. Itu nama yang bagus." Jawabku dengan senyum pasti yang membuat donghae lagi-lagi menghembuskan nafasnya. Dia tertawa pelan melihat tingkahku yang menurutnya lucu.
"lee yuuki kirisaki. How 'bout that?" tawarnya.
"tidak ada kata riki di dalamnya." Bibirku kembali mempout sebal mendengar usulannya.
"ki-ri-sa-ki. Jika kau menghilangkan 'ki' dan 'sa',kau akan menemukan kata riki di dalamnya."
Aku mencerna sejenak apa yang ia katakan,kemudian tersenyum senang. Nama yang bagus. Lee yuuki kirisaki.
Kurasakan donghae mulai menggerayangi perutku seduktif. Tangannya yang semula berada di atas perutku kini mulai bergerak ke atas. Membelainya lembut dan menggoda.
Nafasku mulai memburu. Kututup mataku dengan tanganku agar tidak melihat apa yang donghae lakukan sekarang. aku masih terlalu malu untuk menunjukkan ekspresiku sendiri ketika donghae melakukannya. Jadi aku hanya bisa pasrah menerima apapun yang akan dia lakukan. Dan tetap terpejam.
~(-_-)~
Aku mengamati kyuhyun yang nyengir lebar di depanku. Pandanganku beralih dari wajahnya menuju ke kantong makanan yang ia letakkan di depanku.
"apa ini?" tanyaku.
"the breakfast for my beloved boy friend." Katanya dengan gerakannya yang berlebihan seolah seperti chef yang menyajikan masakan terbaiknya pada sang raja.
Aku hanya memutar bola mataku.
Kukeluarkan bekal yang kubawa dari rumah dan meletakkannya tepat di samping makanan kyuhyun.
"aku sudah membawa makananku sendiri." Kataku.
Saat tanganku akan membuka kotak bekalku kyuhyun menghentikannya. Menarik kotak itu menjauh dan menggantinya dengan bekal miliknya.
"Hei. Aku akan memakannya." Protesku padanya.
Dia menggeleng halus dan tersenyum manis ke arahku,tangannya kembali mendekatkan bekalnya ke arahku untuk kumakan.
"my,my. Ibuku menyiapkan makanan itu saat aku bilang pacarku hamil anakku. Dia bilang kau harus menghabiskannya karna itu sehat." Jawabnya enteng.
What!
"kyu,makananku juga sehat." Elakku. Kyuhyun mengamatiku dalam,matanya menyelidik kebenaran di mataku.
"ini kau bilang sehat?" tanyanya seraya menunjukkan isi bekalku yang hanya terdiri atas mangga,jeruk kuning,dan nanas.
Aku hanya menelan ludahku melihat makanan kesukaanku di sandera oleh sahabatku sendiri.
"kau bisa memakannya nanti kalau menghabiskan makananku,Sayang." Godanya dengan senyuman mengerikan di wajahnya. Aku hanya bisa mendengus sebal dan mulai makan.
~(-_-)~
Lagi-lagi aku harus mengernyitkan mataku bingung melihat keadaan apartemen kami ketika pulang.
"kau pulang lebih cepat." Komentarku pada donghae yang tengah mengebor beberapa dinding apartemen kami untuk ditempeli kain tebal halus warna-warni.
"prince,kau sudah pulang. Eumm,aku mengambil cuti hari ini,agar aku bisa memasang semua kain ini."
Jawabnya di tengah-tengah suara mesin yang membuatku harus mengeluarkan suara agak keras untuk berkomunikasi dengannya.
"what for!" tanyaku.
"aku tidak ingin anak kita nanti terbentur dinding saat bermain." Jawabnya dengan suara yang juga di tinggikan.
Mulutku melongo semakin lebar.
Damn. Aku baru hamil 5 minggu dan mereka memperlakukanku seperti ini?
Oh,great.
"kau mau makan apa?" tawarku ke arahnya.
"nothing prince. I'm fine. Aku bisa membuatnya sendiri." Jawabnya.
"hae,can u just stop that thing!" jeritku.
"no. I'm sorry. I'll finish it in a few moment." Jawabnya yang membuatku semakin pasrah.
"hae,kurasa ini berlebihan. Aku baru hamil beberapa minggu." Kuangkat bahuku sebagai tanda bahwa aku masih hyukjae yang dulu sebelum hamil.
"I know. Tapi aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk mempersiapkan semuanya dengan sempurna." Jawabnya dengan wajah polos yang selalu mampu membuatku bernafas lega. Kuhampiri dia yang kini menghentikan sejenak kegiatannya. Kupeluk tubuhnya dari belakang dan bergelayut manja padanya.
"aku ingin melakukan apapun demi bayi kita." Katanya tepat didepan mataku yang membulat haru. Bibirku menerima ciumannya yang dalam penuh dengan kebahagiaan.
"but please. Jangan memaksakan sesuatu jika kau memang tidak bisa melakukannya." Ancamku ke arahnya yang nyengir menyetujui. Aku hanya bisa membalas senyumnya dan kembali memeluknya erat.
~(-_-)~
Inilah kenapa seharusnya aku tidak membiarkan donghae berada di dapur. Alih-alih membantuku menyiapakan makan malam,donghae justru membuat dapurku menjadi semacam medan perang.
Mengerikan.
Gambaran sempurna untuk dapurku yang berantakan.
Aku hanya menyuruh donghae untuk merebus kentang dan itu semua berakhir dengan panciku yang nyaris terbakar hangus saat donghae memanaskannya dengan api biru berkekuatan penuh.
Kuolesi telunjuknya dengan minyak obat saat secara tidak sengaja donghae menggunakan jarinya untuk mengetes seberapa panas api biru itu dengan cara memasukkan tangannya ke dalam api.
Aku hanya bisa mendengus lelah di sela-sela bibirku yang membentuk senyuman lucu.
"prince,aku minta maaf. Aku hanya ingin membantu." Ucapnya padaku yang kini duduk bersimpuh di hadapannya dengan telaten merawat luka bakar di telunjuknya.
"aku yang salah. Sebagai istri aku benar-benar tidak berguna hingga membiarkan suamiku terluka." Jawabku dengan senyuman manis seraya mengamatinya yang kini juga tersenyum mengamatiku.
Tangannya mengangkat wajahku untuk mendekatinya. Memiringkan wajahnya sejenak dan menyatukan bibirnya di bibirku.
Lumatan-lumatan kecil,hingga akhirnya bibirnya membuka mencoba untuk meraup bibirku lebih dalam lagi. Otoritas yang mengalir dalam darahnya membuat ia juga berkuasa dalam setiap ciuman kami. Membimbingku memasuki dunia yang kami ciptakan sendiri.
Semakin dalam,dan dalam.
. . .
KENTANG!
Kudorong tubuh hae cepat dan kembali berhambur ke dalam dapur. Mengamati kentang rebusku yang meleleh bahkan sebelum aku menggilasnya.
Huh,
Kuamati donghae yang membalas tatapan marahku dengan senyuman minta maafnya.
Tangannya membentuk semacam tanda peace agar aku memaafkannya.
Dasar.
TBC
