Minna, gomen ne haha updatenya bolot, leptop lagi somvlak abis. (reader: kasihan kau nak... *pukpuk) Oke, baca aja. Gue lagi males basa-basi. Buat yang udah review makasih sebelumnya. Have fun and leaving review! #belepotan

- Kujyou SasoDei: Makasih, nee ^^ Ini udah aku usahain update. Have fu ya nee ^o^/

- CCloveRuki: Ceilah bete. Gomen deh nee. Ini hepi ending kok buat SasoDei ;) Makasih buat reviewnya nee :D

- Kyori SasoDei: Tenang aja nee. Si Sasori gak suka kok sama Suckura. Ntar dia nyadar kok, tapi yg nyatain si Dei. Kan valentine nee. Makasih ripiunya nee :)

- LaChocho Latte: Yah gitu nee. Namanya juga femes nee. Mana lagi dia kan senpai disana. Makasih sebelumnya. Ini udah apdet, moga gak mengecewakan nee ^^

- deshitiachan: Si Dei kan cewek super (?) nee. Jadi dia gak terlalu repot ngurusin tuh cowok-cowok. Makasih reviewnya ya nee..

- Akbar123: Ebuset, disantet nee. Ajangan dong... ntar gak kelar ceritanya :P Makasih untuk reviewnya :)

Btw eyang subur tuh si zetsu gak sih nee? #plak

- Anisa Phantomhive: Sankyuu reviewnya nee! Nasibnya si Suckura ada dibawah... moga aja jelas :P (yang nulis aja gak paham) #plak

- Tikasomnia: Kan udah dibilang di awal nee.. "Mungkin beberapa dari kalian udah ada yang pernah baca". Seharusnya dari judulnya udah ketauan dong. Lagian ini fic cuma percobaan nee. Kamu aja yang kurang teliti. Makasih deh buat review kritiknya nee.

- Miss Sinead: Makasih reviewnya! Bdw itu review atau curhatan hati?

- Furikaze Aizawa: Yap, sekarang sudah update. Silahken~


Title: Pure Heart Chocolate

Disclaim: Naruto © Masashi Kishimoto

Chocola no Mahou © Mizuho Rino

Rate: T

Warn: For SasoDei, anti-SasoSaku. Typo(s), typo(s) everywhere. DLDR. Wajib review. You flame, you burn.


-=Pure Heart Chocolate :: Muahaha Girl=-

"Dia kabur!" Deidara makin memacu kakinya agar labih cepat. Sakit hati! Aku hanya bisa kabur... Deidara berlari tanpa tujuan. Semuanya gara-gara Haruno!

"Haah... haah... ah.." Deidara berhenti berlari. Kehabisan nafas. Saat mendongakkan kepalanya, didepannya sudah ada beberapa cewek yangg berkerumun didepan sebuah bangunan megah, sebuah toko. "Ini..." diatas gerbang terdapat papan berukirkan nama toko tersebut. Chocolat Noir.

"Ini ya toko cokelat yang bisa mengabulkan permohonan un?" Deidara bertanya pada salah satu cewek disana. Cewek itu mengangguk. "Tapi kayaknya tutup."

"Sayang sekali un." Deidara mendongak menerawang kedalam bangunan. Mungkin pemiliknya tahu soal Haruno!

Deidara maju kedepan gerbang, lalu membuka gerbang dengan paksa. GREK! GREK! GREK!

"Buka!" Deidara masih memaksa gerbang tersebut. Beberapa orang dibelakangnya menenangkannya dengan cemas. "Hei, tenang..."

"Ada yang ingin kutanyakan un! Buka pintu!" Deidara tidak menggubris orang-orang disekitarnya. Dia masih saja memainkan gerbang, memaksa masuk. GREK! GREK! GREK!

"Hentikan, nanti pagarnya rusak." Suara dingin menegurnya. Didepannya sudah berdiri seorang gadis cantik, dengan jubah goth loli yang membalut tubuhnya. Wajahnya datar, tidak perduli. Namun tatapan matanya tajam.

"Kau pemilik toko ini un?!" Deidara masih terbawa emosi. Gadis itu hanya menjawab singkat. "Ya."

"Apa Haruno datang kesini un?!" Deidara menyahut tidak sabar. Chocola tetap tenang meladeni Deidara. "Ya, dia kesini."

Terbayang satu wajah dibenak kedua pihak. "Dia beli temptation rose untuk menarik hati para lelaki." Deidara terkejut mendengar penjelasan gadis goth loli itu.

"MENARIK HATI LELAKI?! JADI ITU YANG BIKIN SASORI BERUBAH UN?!" Deidara naik pitam. "GARA-GARA KAU, AKU JADI BEGINI UN!"

Chocola hanya diam, namun tatapannya tajam pada Deidara. Dia terlihat tersinggung dengan perkataan Deidara. "Buat apa kau datang ke sini?"

"Kau datang untuk protes padaku?" Kalimat telak dari gadis itu membuat Deidara mati kutu. Meski suaranya pelan, namun datar dan sangat menusuk. "Kalau ingin menyalahkan orang, pulang saja."

Deidara mematung. Kata-kata sang pemilik toko memang benar adanya. "Kalian semua pulang saja, tiap tanggal 14 Pebruari tokoini libur." Chocola berbalik kembali ke toko, meninggalkan semua orang yang berkumpul disana.

"Lho, ditutup?"

"Padahal aku mau beli cokelat untuk hadiah."

"Tahun ini bikin cokelat sendiri, deh..."

"Aduh, tokonya tutup..." semua orang yang sedari tadi mengantri saling mengeluh bersahutan. Mereka terlihat kecewa dan keberatan. "Kalau nggak cepat-cepat, valentine keburu selesai, nih."

"Aku mau nembak cowok nih..." Kemudian satu per satu dari mereka meninggalkan tempat itu, kecuali Deidara. Dia masih memikirkan perkataan Chocola padanya. 'buat apa kau datang kesini?' masih terdengar jelas dipikiran Deidara. Deidara menyandarkan diri pada salah satu sisi pagar. Tubuhnya merosot hingga terduduk memeluk lutut. Buat apa aku datang kesini?

Sakit hati karena Haruno menjerat Sasori...tahu-tahu saja sampai kesini. Deidara menatap salju yang berjatuhan disekellingnya. 'Kalau ingin menyalahkan orang, pulang saja.' Dia benar... akhirnya begini karena aku tak bersikap jujur. Kalau saja aku jujur pada Sasori... TAK AKAN JADI BEGINI!

Deidara merutuki dirinya sendiri. Hatinya berteriak dalam kepalanya, menyesali perbuatannya. Dia terus saja duduk diam didepan Chocolat Noir, mengacuhkan salju menumpuk diatas kepalanya dan pundaknya.

Di jendela atas bangunan megah itu, terlihat seekor kucing hitam mengintip keluar, memperhatikan Deidara yang sedari tadi diam diluar. "Gadis itu masih ada disana," ujarnya menunjuk kaca jendela.

"Kalau di situ terus, dia bisa mati kedinginan." Lanjut kucing hitam itu menatap Chocola disampingnya. Chocolatier itu hanya diam melihat keluar jendela. Sementara diluar, Deidara mulai menggigil. Jemarinya kisut dan mati rasa, begitu juga telinga dan cuping hidungnya. Dia menatap nanar jemari tangannya, menyesal kenapa tidak sempat memakai baju hangat.

Perlahan pandangannya mulai mengabur. Tiba-tiba salju berhenti disekitarnya. Dia merasa ada orang sedang berdiri disampingnya. Deidara menoleh pelan, melihat sang pemilik toko sedang memayungi dirinya.

"Apa keinginanmu?" ucap Chocola lembut.

"Aku..." Dengan sisa kesadaran yang dimilikinya, Deidara menjawab sebelum akhirnya dia terjatuh pingsan. "Ingin menolong Sasori..."

-=Pure Heart Chocolate :: Muahaha Girl=-

Deidara membuka matanya, siuman dari pingsan. Dia memperhatikan sekeliling, terasa asing baginya. Lho? Aku dimana?

"Kau sudah siuman?" seseorang menghampirinya, lalu berlalu. "Ikut aku."

"Un?" Deidara memegang kepalanya yang masih terasa sedikit pening. Karena penasaran akhirnya dia mengikuti Chocola, sosok tadi.

Mereka terus berjalan, hingga akhirnya memasuki ruangan besar. Disana terdapat banyak sekali peralatan memasak yang tertata rapi. Selain itu disana juga bersih dan teratur. Bau cokelat lembut memenuhi ruangan.

"Wah, hebat un..." Deidara mengedarkan pandangan ke setiap sudut dapur. Terkesan nyaman dan menyenangkan. Lalu matanya kembali memperhatikan Chocola yang sedang mengambil beberapa benda. Apa yang dia lakukan?

"Kekuatan sihirku tak mudah hilang," Chocola membawa beberapa mangkuk dan pengaduk. Lalu menyodorkannya pada Deidara. "Jadi kau harus membuat cokelat sendiri untuk membuyarkan sihirku."

EH?! Sontak mata Deidara membulat. "Aku nggak bisa masak un!" Deidara menolak terang-terangan. Chocola hanya tersenyum licik. "Ya sudah kalau tak mau."

HUH! Deidara merasa tersinggung. Deidara menyambar mangkuk dari tangan Chocola. "Baiklah un! Aku bisa bikin cokelat apapun!" Chocola hanya tersenyum simpul.

"Pertama, potong cokelat menjadi serpihan kecil." Chocola memberi intruksi kepada Deidara. Deidara mematuhi arahan Chocola."Potongan harus sama, tidak boleh ada serpihan besar."

"Lelehkan cokelat potong dengan air panas." Deidara memasukkan mangkuk berisi cokelat kedalam mangkuk yang lebih besar, berisi air panas. "Jaga jangan sampai ada air yang masuk kedalam cokelat." Deidara mengaduk cokelatnya hingga meleleh. Dia mengabaikan cipratan cokelat yang mengenai wajahnya.

"Selanjutnya, tempering. Buat suhu cokelat tidak lebih dari 30 derajat." Deidara memasukkan pengukur suhu kedalam mangkuk, lalu menunggu beberapa menit.

"Lalu, tahap yang paling penting, saat membentuk cokelat, bayangkan dia baik-baik. 'perasaan' adalah inti cokelat sihir," Chocola memberitahu. "Tuangkan seluruh perasaanmu padanya." Lanjutnya. Lalu dia meninggalkan Deidara untuk menyelesaikan tahap akhir itu.

Perasaanku pada Sasori... Deidara memejamkan matanya. Terlintas bayangan wajah Sasori di benaknya. Dia menuang cokelat pada cetakan perlahan, dengan terus membayangkan Sasori. Aku suka Sasori...

Tangannya lentur membentuk hiasan diatas cokelatnya. Dia terus menghias, mengukir nama Sasori di permukaan cokelat yang susah payah dibuatnya. Lalu.. "Se-selesai un!"

"Ya, pure heart chocolate selesai." Chocola tersenyum disamping Deidara. Sejenak Deidara merasa ragu, "Apa tidak terlalu biasa un?"

"Cepatlah pulang, sebentar lagi valentine usai." Chocola mengingatkan. Lalu Chocola membantu Deidara membungkus cokelatnya, dan bergegas pulang. "Iya, makasih un!"

-=Pure Heart Chocolate :: Muahaha Girl=-

"Sasori, kumohon! Makanlah cokelatku un!" Deidara berlari kecil dibelakang Sasori. Namun cowok satu itu tetap keras kepala, menolak permohonan Deidara. "Tak mau, aku tak mau mengecewakan Haruno-senpai."

Sasori terus berjalan, tidak memperdulikan Deidara sama sekali. Namun Deidara tetap bersikeras agar Sasori memakan cokelatnya. "Tolonglah, segigit saja!"

Sasori menghela nafas. Dia berbalik, mengambil cokelat dari tangan Deidara dan mencobanya segigit. Bekerja. Cokelat itu menyadarkan Sasori. Sasori memegang kepalanya, menatap cokelat digenggamannya dengan bingung. "Lho?"

"Lho? Aku?" Sasori masih bingung. Tiba-tiba Deidara melompat kearahnya hingga mereka berdua jatuh terduduk. Deidara memeluknya dengan mata yang sembab. "Lho, Deidara?!"

"Danna, danna... " Deidara menangis dipundak Sasori. Sasori merasa pipinya bersemu mendengar panggilan Deidara padanya. "Da-Danna—?"

"Danna, aku suka kamu!" Deidara makin erat memeluk Sasori. Menyadari hal itu, Sasori membalas pelukan Deidara dengan hangat. "Deidara..."

Danna... Sasori-danna kembali seperti semula!

-=Pure Heart Chocolate :: Muahaha Girl=-

Esok paginya disekolah...

PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi kiri Sasori. Di hadapannya tengah berdiri Haruno Sakura yang sedang beringas. Melihat Sasori ditampar, Deidara yang berada dibelakangnya menjadi emosi. "Danna!"

"APA-APAAN KAU, BILANG SUDAH JADIAN DENGAN DEIDARA?!" Sakura naik pitam. Deidara ingin membela Sasori, namun ditahan olehnya. "Biar saja, Deidara."

"Apapun alasannya... aku memang sudah nembak Haruno-senpai. Kalau mau pukul aku, pukullah sepuasmu." Terang Sasori. Mendengar hal itu, Sakura terperanjat. "Tapi aku sayang Deidara lebih dari siapa pun. Perasaanku tak akan berubah." Lanjutnya.

Deidara bersemu mendengar penjelasan Sasori. Namun tidak pada Sakura, dia merasa tersinggung. Ia menggeram, kembali akan meluapkan kemarahannya. "Kau.. menghinaku...—"

"Sakura, kan ada aku." Seseorang memotong kalimat Sakura. Sakura menoleh kebelakang, kearah sumber suara. Disana sudah berdiri cowok berambut blonde. "Lupakan saja dia!"

"Kau akan menghiburku?" Sakura berpindah posisi kesamping cowok itu, sok imut tebar pesona. Dengan tampang cool cowok itu mengiyakan. "Tentu saja. Didunia ini hanya kau yang kucintai."

"Tunggu, aku suka Sakura!"

"Jangan sentuh Sakura!"

"Aku suka Sakura!" semakin banyak cowok yang berkerumun merebutkan Sakura. Sakura merasa senang sekaligus kerepotan menghadapoi mereka semua, sementara Sasori dan Deidara sudah menghilang entah kemana. Sakura berusaha melerai mereka semua. "Jangan bertengkar, aku akan kencan dengan kalian bergantian."

"Kalau begitu, aku yang pertama."

"Tidak, tapi aku."

"Bukan, aku!"

"Aku!"

"Aku!" semua murid saling berebut mendapatkan Sakura, semakin mendekat dan berdesakan. Sakura menjadi panik, tidak bisa melarikan diri. "TIDAAAK!"

"Setelah 3 hari, pengaruh temptation rose akan membuat orang tidak sadarkan diri," tak jauh dari kerumunan, seorang chocolatier goth loli mengawasi sambil tersenyum miring. "Orang yang tak tau soal cinta... jatuhlah dalam kegelapan."

"TIDAAK!" terdengar teriakan Sakura dari dalam kerumunan. Namun tak ada yang mendengarnya, meskipun dia tengah menangis ketakutan. Sebelum berlalu, Chocola mengambil bayaran dari cokelat yang dimakan oleh Sakura. "Kuambil... kegembiraanmu dicintai."

-=Pure Heart Chocolate :: Muahaha Girl=-

Sepulang sekolah, terlihat Deidara dan Sasori sedang kencan. Mereka tampak bahagia, melihat-lihat aksesoris yang dipajang dietalase sebuah toko ditepi jalan.

"Danna, yang ini bagus!" Deidara memegang sebuah benda dan menunjukkannya pada Sasori. Dengan senyum mengejek, Sasori menggoda Deidara. "Seleramu payah!"

Disana juga ada seseorang yang tengah mengawasi mereka. Chocola, tersenyum simpul melihat keduanya. Alasanku menutup toko pada saat valentine...

Karena aku tak ingin, Chocola bertolak pergi. Mereka bergantung pada sihirku.

Jangan lupa.. kau bisa membuat sihir cinta dengan segenap perasaanmu.

-=END=-

Yay! Tepuk tangan semuanya! *krik krik*

Gimana endingnya? Kurang kah? Tidak nyambung kah? Gaje kah? Absurd kah? Membingungkan kah? Well, gue cuma ngucapin... masa bodoh lah *Dihajar*

Moga aja tidak mengecewakan #kalem

Ini fic percobaan kok. Cuma pengen liat kualitas fic romance gue tuh level berapa nee. gitu nee. apa deh.

Eh, kalo bingung kenapa ada "nee" dibelakang kalimat, itu kebiasaan gue nee. Gatau nih ketularan Dei dengan "un"-nya, Naruto dengan "-ttebayo"-nya, dan Kushina dengan "-ttebane"-nya =...=a

Udahlah, tidak penting. Yang penting keep love SasoDei (y) *confetti