disclaimer: characters isn't mine, no profit taken.

warning: au/ooc/YAOI/typo(s)/diksi abal /cerita pasaran/Sulay & Sudo.

.

.

"... Sekali kau merekam sosoknya dalam ingatanmu, sekali kedua bola matamu menangkap sosoknya itu, akan sulit bagimu untuk mengalihkan pandangan darinya..."

.

.

Dan Ketika...

.

.


Bab 2

.

Disana.

Tiga pria yang hari ini dipertermukan oleh takdir berdiri disana. Di sebuah airport bertaraf internasional, di depan deretan bangku tunggu, di tengah-tengah keremunan manusia lainnya. Dua diantaranya saling menatap dalam kebisuan.

Joonmyun merasa seakan nafasnya tercekat di tenggorokan. Jantungnya berhenti berdetak. Sedikit pun ia tidak mau melepaskan tatapannya dari pria itu. Tak ambil pusing dengan deru nafasnya yang menjadi berat, tidak peduli dengan kulitnya yang mendingin dan memanas bersamaan. Tidak peduli dengan apapun.

Yang ia ingin, hanya tenggelam dalam lautan cokelat bening itu.

.

Dan kalau ia boleh berharap, ia ingin waktu berhenti.

.

Waktu berhenti untuk mengabadikan momen ini.

Pria ini. Pria bersurai kecokelatan dengan pancaran kedua bola mata yang lembut. Parasnya yang… indah. Hidung mancung dengan bibir plump sewarna merah muda. Kulit putih bersih serupa boneka porselen.

Ada yang lain.

Ia tahu ada yang lain. Ada sesuatu yang lain dari pemuda ini yang membuat Joonmyun meledak-ledak. Yang membuat kulitnya seakan tercubit keras.

Tapi…

.

…apa?

Dua pria itu masih saling mencermati bola mata di hadapannya. Saling berusaha menjamah dengan bahasa non verbal. Saling berusaha menerjemahkan arti dari tatapan yang diberikan. Saling tidak bisa melepaskan pandangan,

dan saling mengetahui kalau sebenarnya ini,

salah.

.

"…ho. Suho?"

.

Snap! Joonmyun menjadi yang pertama memutus kontak mata. Dan pada kedipan pertama, ia langsung dihadapkan dengan kedua bola mata Kyungsoo yang menatapnya penasaran. Kedua bola mata yang memancarkan kehangatan tak biasa. Yang membuatnya merasa nyaman dan tenang karena sorotnya.

Kedua bola mata yang membuatnya berhasil keluar dari hal yang tak sepatutnya terpikirkan. Sepasang bola mata yang seketika membuatnya disesaki rasa bersalah. Penyesalan tak terkira.

"Yeah, tidak ada apa-apa," ucapnya lamat-lamat, berharap kalimatnya mampu menyakinkan Kyungsoo. Atau sebenarnya, menyakinkan dirinya sendiri bahwa yang tadi itu hanya ilusi. Hanya sesaat.

Di sisi lain, Yixing hanya bisa mengerjapkan mata. Sekali, dua kali. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Mencoba menormalkan detak jantungnya yang tak terkendali. Mencoba mengingat-ingat sepasang bola mata indah yang sempat membuainya tadi. Mencoba memahami perasaan asing yang singgah di hatinya kini.

Kyungsoo mengangkat alis, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Joonmyun, berbisik, "Lalu kenapa kau tidak bersalaman dengan Yixing-ssi?"

Joonmyun terhenyak. Kedua bola matanya membulat, "A-apa? Kenapa harus?"

Kyungsoo menyikut perut tunangannya itu lumayan keras, "Sejak kapan kau bersikap tidak sopan begini?" Kedua bola matanya menyipit, pura-pura mengancam, "Ayo cepat."

Joonmyun menegak salivanya banyak-banyak. Sungguh ia tak pernah bisa menolak permintaan Kyungsoo. Dan ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia berharap agar tanah dibawahnya membelah dan menelannya bulat-bulat detik itu juga.

Joonmyun menghembuskan nafas. Ia menjulurkan tangannya dan mencoba tersenyum walau sukar, "H-hai. Aku Kim Joonmyun" —tarik nafas—"Senang bertemu denganmu."

Ragu-ragu Yixing menjabat tangan yang terulur itu, "Senang bertemu denganmu juga, Joonmyun-ssi."

Jabatan tangan mereka lemah, namun anehnya kuat disaat bersamaan. Kedua mata mereka terkunci lagi untuk sepersekian detik dan—oh shit, perasaan terkutuk itu datang lagi. Joonmyun memutuskan untuk mengalihkan pandangan dan menarik tangannya secepat kilat. Tak ingin terbuai dalam kesalahan yang sama.

Kyungsoo berjalan mendekati Yixing dan merangkul akrab pemuda itu, "Kau pasti lelah kan Yixing-ssi? Lebih baik kau istirahat dulu," Ia tersenyum, "Kita bisa mulai planning besok pagi saja. Kami sudah memesankan kamar hotel untukmu."

Yixing balas tersenyum kaku dan mengangguk mengiyakan. Ia pasrah saja diseret Kyungsoo menuju pintu keluar bandara.

Sementara Joonmyun masih terdiam di tempatnya, sedikit pun tak melepaskan tatapannya pada punggung Yixing yang telah berjalan mendahuluinya bersama Kyungsoo.

Joonmyun menghela napas berat.

Entah kenapa tiba-tiba ia merasa begitu lelah.

.


.

Yixing bukan seorang yang berasal dari kalangan atas, berumah mewah dan kaya raya. Tapi pengalamannya dalam bekerja sebagai wedding organizer membuatnya terbiasa berhadapan dengan kaum seelite apapun. Jadi, ia sudah biasa berada di sebuah gedung yang mewah , mengkoordinasi desain, dekorasi, dan dokumentasi serta segala tetek bengek yang berhubungan dengan pesta-pesta pernikahan berskala besar.

Namun kali ini, Yixing dipaksa untuk takjub ketika keesokan paginya ia dibawa masuk ke dalam rumah—atau sebenarnya lebih tepat jika disebut istana—milik keluarga Joonmyun. Ya, sebuah istana mewah nan megah serupa kastil Eropa yang klasik namun elegan. Begitu besar dan luas dengan bangunan serupa menara-menara yang menjulang tinggi. Berdesain ruangan yang cukup modern meski dari luar tampak klasik.

"Jadi, apa kalian sudah menentukan tanggalnya?"

Yixing, Joonmyun, dan Kyungsoo memutuskan untuk membahas planning pernikahan di sebuah gazebo yang terdapat di taman belakang, tepat dibawah lindungan rindangnya pohon ek yang tertanam menjulang tinggi di ujung danau kecil. Sedang tak jauh dari tempat mereka terdapat sebuah taman bunga besar berbentuk lingkaran, yang di tengahnya berdiri air mancur besar yang memancar jernih.

"Aku ingin tanggal yang cantik," gumam Kyungsoo sembari meletakkan punggung pada sandaran bangku, dan menyesap secangkir green tea di tangannya. Ia menjentikkan jarinya ke udara, "Ah! Bagaimana kalau tangal 11-12-13?"

"Kenapa?"

"Karena tidak ada tanggal 13-13-13."

Joonmyun yang tengah sibuk bermain dengan Kofu—anjing peliharaan keluarganya itu menoleh sebentar, kemudian memutar mata, "Kurasa semua tanggal sama saja. Cantik atau tidak cantik tidak akan berpengaruh apa-apa." Ia kembali mengelus surai keabu-abuan anjing jenis chow-chow di pangkuannya dengan pelan dan telaten. Sesekali bibirnya ikut mengulas senyum melihat reaksi menggemaskan yang ditujukan Kofu.

Yixing yang sejak tadi mengamati gestur lembut yang ditujukan Joonmyun turut tersenyum kecil. Sejak awal, Yixing merasa pria itu memang punya pribadi yang menakjubkan. Dari caranya berbicara dengan nada lembut tapi tegas disaat bersamaan, bagaimana pria itu begitu memperhatikan detail-detail kecil di sekitarnya. Sosok yang penuh kharisma.

Dan ketika ia tersenyum, meski mungkin senyum itu bukan ditujukan untuknya, Yixing tidak tahu apa yang merasuki dirinya tetapi ia merasa, entahlah, semacam terpesona. Kagum.

Merasa… tertarik.

Kyungsoo jelas beruntung memiliki sosok seperti Joonmyun.

.

Yeah, benar-benar beruntung.

.

Disisinya Kyungsoo menghela nafas, "Memang sih. Tapi pesta pernikahan merupakan sesuatu yang besar. Aku ingin pesta pernikahan kita nanti bisa jadi sespesial mungkin," Kyungsoo menoleh pada Joonmyun, raut mukanya merajuk, "Please ya, Suho?"

"…"

"Suho~"

"Fine," Joonmyun menghela napas menyerah, yang disambut sorakan bahagia Kyungsoo di seberang.

Yixing mengangguk, "Kalau begitu, kita punya waktu dua bulan dari sekarang," ujarnya, sembari mencorat-coret buku kecil yang ia letakkan di pangkuan, "Lalu main theme color-nya?"

"Belum terpikirkan olehku," Kyungsoo mendesah. Ia menatap Yixing dan Joonmyun bergantian, "Menurut kalian bagaimana?"

"Merah jambu," / "Hitam," ujar Yixing dan Joonmyun bersamaan.

Dan pada detik selanjutnya, Zhang Yixing dan Kim Joonmyun pun saling bertatapan tajam.

"Permisi Joonmyun-ssi," Yixing berdehem, air mukanya sungguh-sungguh, "Maaf atas ketidaksopananku ini, tapi… hitam? Apa Anda serius? Maksudku, kita tidak sedang menyelenggarakan acara pemakaman bukan?"

"Setidaknya hitam lebih baik daripada merah jambu," Joonmyun mencibir, mengabaikan raut tersinggung Yixing, "Dengar, aku dan Kyungsoo disini sama-sama laki-laki, kalau kau lupa. Dan coba bayangkan—" Kening Joonmyun mengernyit, membayangkan dirinya memakai setelan tux berwarna pink cerah di pernikahannya kelak. Ia bergidik ngeri, "Tidak. Aku tidak mau. Pokoknya, hitam."

Yixing tak mau kalah, "Merah jambu."

"Tidak, hitam."

"Merah jambu!"

"Hitam!"

"Merah jambu!"

"Hitam!"

"Merah jam—"

Argumentasi mereka terputas ketika Yixing dan Joonmyun menangkap suara kikikan geli Kyungsoo di seberang. Mereka menoleh bersamaan, dengan tanda tanya jelas terwakili di wajah keduanya.

"Aku heran dengan kalian," Kyungsoo menghela napas, senyum kecil tersungging di bibirnya, "Sebenarnya yang menikah itu aku dengan Suho, atau Suho dengan Yixing-ssi sih?"

Sepasang bola mata kedua manusia itu serentak membulat. Dengan ekpresi yang hampir sama—kaget, mereka menjawab bersamaan, "Apa?"

Benar-benar kompak. Kyungsoo hanya menggelengkan kepala, "Seharusnya kalian melihat wajah panik kalian tadi," kemudian ia tertawa lagi.

Joonmyun buang muka. Sial. Kenapa wajahnya terasa panas seperti ini? Ia menghembuskan napas keras-keras lalu bangkit berdiri dari kursinya, pergi begitu saja tanpa sepatah kata.

Yixing yang menatap kepergiaan pemuda itu mendesah pelan. Ia berganti menatap Kyungsoo dnegan pandangan menyesal, "Maafkan aku Kyungsoo-ssi," Ia menggigit bibir, "Aku benar-benar tidak bermaksud begitu." lirihnya.

Kyungsoo masih terkekeh geli. Ia mengibaskan tangannya ringan, "Tak apa." Ia ikut berdiri dari kursinya, menghampiri Yixing dan menepuk-nepuk bahunya sembari tersenyum, "Tidak biasanya Suho begitu. Mungkin ia memang sedang bad mood. Aku akan bicara dengannya." Dengan tepukan terakhir, pemuda bermata bulat itu berbalik dan berjalan meninggalkan Yixing sendirian di gazebo untuk menyusul tunangannya.

Yixing membenamkan wajahnya di telapak tangan dan mengerang.

Bagus, Zhang Yixing. Sepertinya kau baru saja selangkah mengacaukan karier-mu sendiri.

Dan… apa-apaan itu tadi? Kenapa bisa-bisanya ia meributkan masalah sepele seperti itu dengan client-nya sendiri? Konyol sekali. Tidak sepatutnya ia melakukan itu. Toh posisinya disini memang hanya sebagai wedding organizer mereka 'kan?

Ya. Yixing mencoba mengingatkan diri sendiri. Ia bukan siapa-siapa disini.

.

Ia harus tahu diri.


.

Joonmyun membanting daun pintu di belakangnya cukup keras. Ia mendudukkan diri di pinggiran kasur dan mengacak rambutnya. Astaga. Kenapa ia harus bersikap kekanak-kanankan seperti itu tadi? Kenapa ia harus terlibat adu mulut dengan wedding organizer itu?

Dan... kenapa rasa familiar itu datang lagi? Kenapa jantungnya masih berdetak secepat ini? Kenapa ia tak bisa berhenti mengagumi paras pemuda china itu? Mengangumi cara bicara pemuda itu, dengan tutur katanya yang selembut kapas. Atau cara ia tersenyum, misalnya. Bagaimana bibir merah muda itu mampu membentuk lengkungan bibir yang indah, lengkap dengan sebuah lesung pipit di pipi kanannya.

Joonmyun berdiri dari posisi duduknya dan berjalan mendekati jendela. Perasannya tak menentu.
Ia bisa menangkap suara derit pintu yang dibuka, dan langkah seseorang di belakangnya. Dan sedetik kemudian, ia bisa merasakan dengan jelas kehangatan yang menjalar dari sepasang lengan yang melingkari perutnya. Kehangatan yang rasanya terlalu familiar untuk dipertanyakan.

"Dio?"

"Hm?"

"Aku… tidak apa-apa." Joonmyun menggumam.

Ia tahu alasan Kyungsoo menyusulnya kemari. Jauh di dalam hatinya ia tahu pemuda itu mengkhawatirkannya. Menjalani hubungan dengan Kyungsoo selama tiga tahun telah membuatnya belajar akan watak pemuda itu yang memang memiliki kepekaan luar biasa. Ia membalas pelukan Kyungsoo dengan meletakkan tangannya di atas telapak tangan pemuda itu, membelainya lembut.

"Kalau kau ada masalah, ingatlah bahwa kau selalu punya aku."

"Aku tahu," Joonmyun mengalihkan pandangannya keluar jendela. Kedua bola matanya menuntunnya ke arah gazebo, dimana ia bisa melihat siluet pemuda yang akhir-akhir ini mengambil peran lebih di pikiran, dan mungkin saja... hatinya. Yang bayangnya selalu berputar-putar di angan. Terduduk di bangku dengan kepala di benamkan di kedua telapak tangan. Sendirian, terpekur di luar sana.

Ada gejolak dalam hatinya ingin berada di sisi pemuda itu. Bergejolak untuk melihat, menyentuh, dan memeluk tubuh itu.

Tidak. Tidak boleh. Jangan sampai kau terjatuh dalam lubang terlarang itu, Joonmyun. Jangan sampai.

Kyungsoo yang masih menikmati belaian tangan Joonmyun meletakkan dagunya di bahu pria itu, dan tersenyum lembut,

"Aku mencintaimu."

Joonmyun memejamkan mata. Kepalanya seakan pening dan deru nafasnya memberat tanpa ia sadari. Ini terlalu… rumit. Terlalu membingungkan untuk ia jalani seorang diri.

Ia mengenggam tangan Kyungsoo kuat-kuat. Berharap dengan begitu perasaan itu tetap pada tempatnya yang semestinya. Tetap disana dan tak akan pernah berubah.

"Aku mencintaimu juga,"

.

Ia berharap.


.

Kedua mata pemuda itu masih setengah terpejam, tetapi ia tetap memaksa tubuhnya berguling keluar dari dekapan hangat selimut. Kuapan lebar tercipta dan ia mengaum keras-keras.

Kakinya meraba-raba lantai, mencari-cari sandal tidur yang seharusnya berada di dekat tempat tidur. Mana?—sejauh ini yang teraba hanyalah permukaan lantai yang dingin. Yang di temukannya hanyalah sandal sebelah kanan; masa bodohlah. Ia masih mengantuk, sangat-sangat mengantuk.

Bangun pagi memang bukan bagian dari rutinitasnya. Tapi suara pintu kamar hotelnya yang diketuk tak sabar dari luar tentu tak akan membuat tidurnya nyaman. Sedikit tersandung karpet, Yixing menyeret tubuhnya ke arah pintu dan membukanya.

Dan kesadarannya pun melonjak ke angka seratus persen begitu ia menyadari siapa tamunya ini, "Joonmyun-ssi?"

Lelaki dibalik balutan kemeja dan celana panjang hitam itu hanya mengangguk kecil, dan seakan mengerti akan kebingungan pemuda itu, ia menjelaskan, "Kyungsoo memintaku kemari untuk mengurus persiapan pernikahan denganmu."

Yixing mengerutkan kening, "Memangnya Kyungsoo-ssi kemana?"

"Dia pergi ke Daegu untuk menemui saudaranya," Joonmyun menimpali.

Yixing menggumam "oh" panjang, namun pada detik berikutnya sebuah realisasi menamparnya tepat di wajah. "Jadi hanya kita…? Maksudku, berdua saja?"

Joonmyun tak bisa menahan senyum di bibirnya ketika ia menangkap wajah gugup Yixing, dengan menggigit bibir bawahnya lucu dan kedua pipi yang merona samar. Melihat itu tentu membuat Joonmyun menjadi sedikit… berharap. Berharap kalau mungkin saja Yixing menaruh rasa padanya. Menyukainya. Rasa bahagia melanda hatinya, namun secepat datangnya, rasa bersalah pun turut mendera. Lalu kalau pemuda itu memang menyukainya ia mau apa? Apa ia juga akan membalas perasaan itu?

Ia… tidak tahu.

Joonmyun menatap Yixing, "Kau tidak ada acara hari ini kan?"

Yixing menggeleng pelan, "Tidak,"—Joonmyun tersenyum lega. Pemuda china itu balas tersenyum, "Mungkin kita bisa berangkat sekarang."

"Yeah," Joonmyun mengangguk setuju. Bola matanya bergerak ke atas dan ke bawah dengan pandangan mengkritisi. Ia berdehem, senyum geli tertahan di bibirnya, "Setelah kau mengganti bajumu dulu tentunya."

Yixing membulatkan mata. Ia melirik ke bawah dan…

Seketika wajahnya merah padam karena… Oh God. Ia benar-benar lupa kalau ia hanya tidur mengenakan singlet dan boxer saja tadi malam. Mengingat ia memang terlalu lelah untuk mengganti pakaiannya dnegan piyama. Dan menyadari bahwa Joonmyun melihatnya dalam keadaan begini…

well, shit.

.

.

"Jadi kita mulai darimana?"

"Hmm…" Yixing hanya balas menggumam, matanya masih terpaku pada catatan kecil di telapak tangannya, mencermati daftar yang telah disusunnya tadi malam. Ia mendongak, menatap Joonmyun yang duduk di belakang kemudi, "Karena Kyungsoo-ssi tidak ada. Mungkin kita bisa memulai dari catering terlebih dulu."

Joonmyun mengangguk tanpa menyahut. Ia melirik Yixing sebentar, kemudian menghela napas, "Maaf soal yang kemarin."

Yixing menggeleng, lalu tersenyum simpul, "Tak apa."

Kemudian keheningan kembali menyeruak. Joonmyun sibuk menyetir, sementara Yixing hanya menggoyangkan kakinya di kaki kursi dan terpekur menunduk seolah memikirkan sesuatu. Baik Joonmyun maupun Yixing tidak ada yang angkat bicara.

Tak ingin membuat suasana canggung makin mencekik, Joonmyun akhirnya buka suara, "Sudah lama menekuni bidang wedding organizer?"

Yixing yang tak memiliki ekspektasi bahwa Joonmyun akan mengajaknya bicara pun tak bisa menahan ekpresi terkejutnya, "Eh? Um, yeah. Kurang lebih sudah dua tahun." Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, "Awalnya aku tak pernah punya niatan untuk menjadi seorang wedding organizer. Bahkan saat kuliah pun aku memilih jurusan desain interior."

"Oh ya? Lalu?" Joonmyun bertanya ingin tahu. Aneh. Tidak biasanya ia menaruh minat pada kehidupan orang asing seperti itu.

"Semuanya berawal dari hobi," Yixing kembali menjelaskan, "Aku suka sekali ikut campur tangan mengurusi pernikahan teman-temanku. Iseng-iseng membantu menata dekorasi, membantu mengkoordinasi acara, atau semacamnya. Dan disinilah aku. Bukan menjadi seorang arsitek, malah berakhir menjadi seorang wedding organizer." tutupnya dengan tawa kecil.

Joonmyun mengangguk sebagai respon. Yixing menoleh, memiringkan kepalanya sedikit untuk menatap pemuda berambut brunette itu, "Bagaimana denganmu?"

Joonmyun mengangkat alis, "Apanya?"

"Pekerjaanmu," Yixing memutar bola mata jenaka, "Ceritakan soal pekerjaanmu. Aku dengar kau adalah seorang CEO."

"Well, sebenarnya bukan aku yang ditunjuk untuk memimpin perusahaan. Melainkan adikku, yang dianggap lebih mampu," Ia mengawali, pandangannya masih terfokus ke jalanan, "Tapi adikku menolaknya mentah-mentah karena ia lebih tertarik di bidang seni. Ayahku murka saat itu. Sementara adikku yang tak suka dikekang lebih memilih pergi ke luar negeri, dengan biaya hidupnya sendiri," Ia menghela napas berat, " Kemudian aku yang menjadi satu-satunya harapan Ayahku. Beliau mengirimku ke Amerika untuk menuntut ilmu S2 empat tahun yang lalu. Dan yeah, begitulah."

"Oh, bekerja di bidang apa perusahaanmu itu?" tanya Yixing lagi.

"Industri otomotif, jual beli kendaraan bermotor dan suku candangnya," jawab Joonmyun, kini lebih santai.

"Wah, hebat," Yixing bergumam sambil tersenyum. Kemudian alisnya terangkat tinggi, "Lalu dimana orangtuamu sekarang?"

"Sudah meninggal."

Yixing membulatkan mata, tak percaya. Ia menggigit bibir, menatap Joonmyun sedang air mukanya menggambarkan penyasalan mendalam, "Maaf, aku tidak bermaksud Joonmyun-ssi."

"Tidak perlu pakai –ssi."

Yixing mengerjap, "Apa?"

Joonmyun berdehem, "Tidak perlu seformal itu. Joonmyun is fine," ia berkata, mencoba tersenyum, "Dan soal yang tadi, tak masalah."

Yixing mengangguk, lalu balas tersenyum tipis, "Joonmyun…" Ia mengulangi, dan kulit Joonmyun pun serasa berdesir mendengar pemuda itu melafalkan namanya dengan lembut, "Kalau boleh tahu… sudah berapa lama kau menjalin hubungan dengan Kyungsoo-ssi?"

Joonmyun tanpa ragu menjawab, ia tersenyum menerawang sembari bernostalgia, "Hampir sekitar tiga tahun. Kami bertemu di Standford, Amerika. Saat itu Kyungsoo kebetulan mengambil jurusan sastra."

"Oh,"

Ia melirik Yixing, " Kau sendiri? Apa kau…" Joonmyun bertanya hati-hati, "...juga punya kekasih?"

Yixing menggeleng, "Ah, tidak. Aku belum pernah menjalin komitmen dengan siapapun," lirihnya sembari menunduk.

Joonmyun yang melihat tingkah malu-malu Yixing tertawa kecil, "Benarkah? Aku tidak percaya."

"Memang benar," gumamnya pelan, "Teman-temanku sering sekali mengejekku tidak laku, dan terkadang memaksaku untuk buru-buru mencari pasangan. Mulai dari memasukkanku ke perkumpulan-perkumpulan aneh, mengatur blind date tanpa sepengetahuanku, sampai memberiku nomor-nomor telepon tidak jelas," gerutunya, yang disambut rentetan tawa renyah Joonmyun disebelahnya.

Sudut bibir Yixing terangkit ke atas. Ia masih tak mengerti, tapi tak dapat dipungkiri ia merasa senang melihat Joonmyun tertawa, biarpun tawa itu entah bermaksud mengejek atau memuji atau entah apapun itu.

"Lalu, apa kau pernah menyukai seseorang sebelumnya?"

Yixing menatap Joonmyun lekat-lekat, namun pemuda itu tak menyadarinya karena fokusnya tengah tertuju ke jalanan. Meskipun hanya dengan melihatnya dari samping, pemuda itu masih saja terilihat begitu tampan di matanya. Pikirnya mungkin hanya sekedar mengagumi, tapi mungkin perasaan ini telah berkembang menjadi sesuatu yang lain. Ini adalah yang pertama. Pemuda itu tidak hanya bermain di pikirannya, tetapi juga perasaannya. Yixing tahu ia sudah jatuh. Jatuh pada lubang yang salah, sebuah lubang yang tak semestinya.

Yixing terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab,

"Ya, pernah."

—baru saja.


.

Kedua bola mata Joonmyun terpaku pada sosok Yixing yang tengah menyuapkan sepotong Heotteok ke mulutnya, sambil sesekali mengomentari rasanya tanpa ragu-ragu. Joonmyun belajar jika pemuda depannya itu memiliki sifat spontanitas dan aktif. Selalu saja terlihat begitu menakjubkan dengan caranya sendiri. Pemuda itu bagaikan sebuah gravitasi, yang mampu membawanya masuk ke dalam inti semesta dunia yang tak sepertinya. Ia bak sebuah kutub magnet yang berlawanan, yang tak pernah gagal menarik perhatiannya dengan keindahannya sendiri.

"Apa ada sesuatu di wajahku?"

Joonmyun terhenyak. Ia menatap Yixing dengan pandangan tidak percaya, "Maaf?"

"Daritadi kau meperhatikanku terus," Yixing terkekeh geli, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia beralih mencomot beberapa potong makanan yang disediakan dihadapannya dan melahapnya. "Jangan suka terlalu memandangi orang, lho. Karena sekali kau merekam sosoknya dalam ingatanmu, sekali kedua bola matamu menangkap sosoknya itu, akan sulit bagimu untuk mengalihkan pandangan darinya."

Joonmyun mendengus, "Filosofi barumu, eh?"

Yixing mengangkat bahu, "Mungkin," lalu ia mengeluarkan suara kekehan pelan, "Tapi aku sudah membuktikannya sendiri,"

Ia menoleh pada seorang wanita yang berdiri di ujung meja dan berkata, "Kami ingin coba paket C dengan sup tofu, kakap goreng tepung, udang goreng tepung, dan tumis daging sapi dengan buncis dan bawang bombay, lengkap dengan semanguk nasi hangat. " Si wanita mengangguk patuh. Dan sesaat kemudian, senampan penuh makanan yang disebut Yixing tadi telah tersuguh di meja. Yixing menyendok kuah sup tofu dari mangkuk di depannya dan mengarahkan sendoknya ke depan mulut Joonmyun, "Cobalah."

Joonmyun tertegun, "Apa?"—dan sebelum ia sempat protes, Yixing sudah mendorong sendoknya ke mulutnya, memaksanya untuk berakhir menelannya paksa. Ia mendelik, "Hei!"

Yixing tak menanggapinya. Ia kembali menyendok sup tofu itu dari mangkuk dan kali ini menyuapkannya ke mulutnya sendiri, mencoba mengecap cita rasanya. "Bagaimana menurutmu?"

Pemuda itu memutar bola mata, dan mendecak, "Biasa saja. Tidak seenak masakan Kyungsoo." komentarnya tak acuh.

Yixing menoleh sedikit, "Kyungsoo-ssi pintar memasak?"

"Yang terbaik," Bibir Joonmyun mengulas senyum lebar, membayangkan racikan luar biasa kekasih hatinya itu. Terutama ketika pemuda itu sempat-sempatnya mengantarkan bekal untuknya ke tempat kerja di tengah-tengah kesibukannya menjadi seorang penulis.

Yixing menyeringai takjub, "Kau terdengar sangat menyukai pacarmu itu."

"Tentu saja," Joonmyun mengangguk membenarkan, masih tersenyum, "Dia itu sangat sempurna."

Disebelahnya Yixing tertawa kecil, membuat Joonmyun mengerling ke arahnya. "Apa yang lucu?"

"Nothing," Kening Joonmyun semakin mengerut dalam mendengar pemuda itu masih saja tertawa kecil, "Hanya saja, menurutku kesempurnaan adalah hal paling absurd yang cuma ada dalam gagasan manusia."

Joonmyun melirik pemuda itu tak suka, "Apa maksudmu?"

"Pada hakikatnya di dunia ini tidak ada hal yang sempurna. Terutama manusia. Kau juga pasti sering mendengar ungkapan "nobody's perfect", bukan? Manusia selalu ingin kehidupan yang sempurna. Mereka berpikir dengan sesuatu yang sempurna mereka pasti akan bahagia. Begitu juga sebaliknya, manusia selalu ingin jauh-jauh dari yang namanya ketidaksempurnaan," ujar Yixing, kini beralih menatap Joonmyun tepat di mata. Ia tersenyum setelahnya, "Mungkin kau tidak menyadarinya. Tapi sebenarnya, kau bisa menemukan kebahagiaan dari ketidaksempurnaan itu dengan caramu sendiri."

Joonmyun tertegun di tempatnya. Dipandanginya dengan seksama pemuda berlesung pipit itu. Ia kehilangan kata-kata. Ini tidak benar, pikirnya dalam hati. Ia, Kim Joonmyun, tidak pernah kehilangan kepercayaan diri atas prinsipnya. Tidak pernah kehilangan kata-kata dalam situasi apapun. Tidak ada satu halpun di dunia ini yang tak dimengertinya. Ini semua tidak benar.

Pemuda bernama Zhang Yixing ini benar-benar… lain. Sejak dulu Joonmyun selalu menyukai eksak. Ilmu pasti yang punya jawaban untuk semua pertanyaan. Tapi pemuda di hadapannya ini begitu sulit dimengerti. Kadang tertawa dan tersenyum tiba-tiba seperti orang bodoh, tapi kadang mengatakan sesuatu yang dalam dan membuatnya terkejut. Seperti barusan itu.

Dan ia tak suka akan hal itu.

Ia tak suka sesuatu yang tak dapat diprediksinya.

Ia tak suka. Karena pemuda itu tanpa disadarinya, sedikit demi sedikit telah membuat pertahanannya runtuh. Membuatnya percaya, bahwa kini...

...mungkin, hatinya mulai bercabang dua.

.

to be continued.


a/n: Idiiiiih, ya ampun, aku ngerasa chap ini ancur banget. Kalian merasa gitu juga kah? Maaf ya kalo jadinya malah tambah gaje begini -_- *deep bow* Dan maaf kalo disini Sudo-nya gak begitu keliatan. Alurnya kecepetan kah?

Balasan Review buat yang non login ^^:

kkangji: Apa ini sudah bisa dibilang panjang? XDD Aww, makasih chingu :* Iya, genre baru. Pingin banget nyoba angst, meski udah tahu gak ada bakat u.u. Fluff? Emm, mungkin ada :3 ( itu pun kalo itu bisa dibilang fluff) XDD Iya, ini sudah dilanjut~ semoga gak mengecewakan yah.

.

Disini saya mau ngucapin makasih banget buat yang udah review/fave/follow kemaren u.u
Bener-bener gak nyangka bakal ada yang mau baca ff ini. Terima kasih semua :* Dan makasih banyak juga buat yang udah nyempetin baca, meski gak review ^^ Maaf juga kalo updatenya lama. Lagi banyak tugas sekolah dan kebetulan saya juga lagi jadi panitia festival, jadi waktu buat nulis jadi menipis -_-

Emm, kalo semisal saya updatenya seminggu sekali, kelamaan gak sih? ._.

Yang terakhir review, please? Mungkin ada, kritik, saran, dsb soal chapter ini? ^^

Well, sampai ketemu di chapter depan!