disclaimer: characters isn't mine, no profit taken.

warning: au/ooc/YAOI/typo(s)/diksi abal /cerita pasaran/Sulay & Sudo.

.

.

"...Sebentar saja. Kumohon hanya untuk sebentar saja..."

.

.

Dan Ketika...

.

.

Bab 3

.

.

.

.

Sebuah kenyataan menamparnya telak di wajah.

Tidak. Mana mungkin ia bisa jatuh cinta dengan seseorang yang baru ia kenal dalam jangka waktu sesingkat itu? Mana mungkin ia dengan sukarela membagi hatinya seperti itu? Hati yang seharusnya ia dedikasikan hanya untuk Kyungsoo seorang.

Tidak mungkin hanya dengan waktu kurang dari seminggu ia merasakan pendirian dan ketetapan hatinya selama tiga tahun, goyah begitu saja. Seakan hatinya telah kehilangan puing-puing penyangganya entah kemana.

Tidak. Itu tidak adil. Tidak masuk akal. Dan tidak benar.

Berkali-kali ia berusaha menyadarkan dirinya, bahwa ini tidak mungkin. Bahwa ia hanya tertarik pada wajah, hidung, mata, punggung, rambut, dan semua tentang tubuhnya. Hanya tertarik pada fisik. Ya. Hanya sebatas fisik.

Tapi tidak dapat dipungkiri—yang namanya tertarik, tetap saja tertarik.

Rasa hanya terpikat pada fisik itu justru yang membuatnya tertarik untuk mempelajari lebih banyak hal tentang pria ini. Lebih banyak, lebih rinci, dan lebih mendalam.

Joonmyun tidak pernah tahu jika ia bisa jadi selabil ini. Menjadi seorang CEO selama dua tahun ini membuat dirinya telah terbiasa menyikapi sesuatu secara dewasa. Memikirkan konsekuensi dari segala tindakannya dengan sematang mungkin. Tapi sekarang apa? Perasaannya kini terombang-ambing. Bagai sebuah perahu yang berdiam dan terjebak di tengah hamparan lautan luas. Hatinya tak tentu arah, bagai mengikuti kemana arus angin pergi membawanya begitu saja.

.

Ia mencintai Kyungsoo.

Tapi ia juga menyukai Yixing.

.

Atau bahkan, lebih.

.

.

Dan untuk pertama kalinya, Kim Joonmyun merasa ia adalah manusia paling egois di dunia.


.

Sudah selama tiga hari ini Kyungsoo pergi ke Daegu menemui sanak saudaranya, meninggalkan Joonmyun dengan Yixing untuk mengurus semua persiapan pernikahan. Mulai dari persiapan gedung resepsi, tempat pemberkatan, sound and lighting, dekorasi, undangan, souvenir perniakahan, MC, band, dan dokumentasi.

Joonmyun menyadari ia benar-benar tidak berbakat dalam hal-hal seperti itu. Oleh karena itu, ia merasa bersyukur akan kehadiran Yixing di sisinya yang bisa membantunya dan memang ahli dalam bidang seperti ini.

Dan bohong kalau ia bilang ia tidak menikmati setiap detik yang ia lalui bersama pemuda china itu. Menghabiskan waktu dengannya. Belajar banyak hal tentangnya. Menyukai tawa manisnya. Mengagumi pancaran matanya yang berkilau ekpresif. Bagaimana pemuda itu bersikap spontan dalam hal apapun. Ia yang sedikit pelupa, ia yang punya lesung pipit di pipinya, ia yang... perlahan-lahan mengambil alih hatinya.

.

Zhang Yixing.

.

Splash!

.

Joonmyun membasuh wajahnya dengan telapak tangannya yang telah dibasahi oleh air dari wastafel. Ia menikmati sensasi dingin yang muncul ketika air itu mengaliri seluruh wajahnya. Berharap mampu mengurangi beban pikirannya walau hanya untuk sedetik saja.

Kedua tangannya ia letakkan di sisi wastafel, guna menyangga tubuhnya yang sedikit gemetar. Dia berusaha keras menahan agar wajahnya tidak memanas, atau menahan agar detak jantungnya yang berdegup kencang di dalam sana tidak menjebol tulang rusuknya ketika jemari Yixing tadi menyentuhnya, menyingkirkan noda kopi dari sudut bibirnya. Ia bahkan bisa mengingat detail demi detail setiap inci tekstur lembut pori-pori kulit Yixing yang bergerak menggesek permukaan kulitnya.

Dia berusaha bersikap biasa. Dia berusaha berpikiran positif. Walaupun dari pantulan cermin itu ia melihat dengan jelas refleksi dari sepasang bola mata yang memancar resah.

Bola matanya.

Dia berusaha menyakinkan dirinya bahwa itu bukan apa-apa. Dia berusaha bersikap biasa saja. Walaupun dia tahu ada yang salah. Ada sesuatu yang ia rasakan ketika ia bersama Yixing. Perasaan familiar, yang ia sendiri takut untuk mengakuinya.

Joonmyun melangkahkan kakinya keluar dari toilet café dan berjalan menuju meja di seberang ruangan tempat ia meninggalkan Yixing tadi. Dari sini ia bisa melihat pemuda itu tengah asyik menikmati sepotong kue black forest di piringnya.

Joonmyun tak bisa menahan tawanya ketika ia kembali mendudukkan diri di depan Yixing, menyadari beberapa remahan coklat tampak bertebaran di sekitar permukaan bibir pemuda itu. Dan Joonmyun semakin tertawa keras saat pemuda itu nyengir lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang tadinya putih bersih itu telah ternoda oleh coklat disana-sini.

'"Apa yang membuatmu tertawa?" tanya Yixing pada Joonmyun yang kini masih tertawa dengan wajah polos.

Joonmyun berdehem untuk meredam suara tawanya. Satu tangannya menunjuk pada kaca dua sisi yang terdapat di samping mereka, instruksi bagi Yixing untuk menoleh ke sana.

"Eh?" gumam Yixing kaget. Akhirnya ia mengerti mengapa Joonmyun menertawainya. Ia cepat-cepat meraih selembar tisu di meja untuk membersihkan bibirnya, lalu nyengir malu pada Joonmyun setelahnya.

"Maaf, aku lapar."

Joonmyun mendengus geli sebagai respon, "Mungkin maksudmu 'kelaparan'?"

"Sulit mentorelirnya bagiku jika sudah menyangkut urusan perut," timpal Yixing santai, kini beralih menyeruput avocado-float-nya di meja.

Joonmyun tersenyum. Menghabiskan waktu dengan pemuda itu membuat Joonmyun sedikit banyak menyadari bahwa Yixing memang tipe pria yang easy going dan cuek. Bukan berarti hal itu menjadikannya pribadi yang tidak peduli atau tidak peka, hanya saja menurut Joonmyun, Yixing ingin menunjukkan rasa pedulinya itu dengan caranya sendiri. Sosok lelaki yang sederhana.

Lain halnya dengan Kyungsoo yang lebih suka bersikap hati-hati. Telaten dalam mengerjakan apapun. Terbiasa bersikap teliti dalam menyelesaikan pekerjaannya. Yang lebih suka menonjolkan sisi ke-estetikaannya tentang apa saja. Laki-laki yang elegan. Pelan namun pasti—itu adalah prinsip yang selalu ditanamkan Kyungsoo sejak dini. Dan terkadang, prinsip itu juga yang menular pada diri Joonmyun tatkala ia dihadapkan pada pekerjaannya yang entah serumit apapun itu.

Tapi, tunggu.

Kenapa ia jadi membandingkan Yixing dan Kyungsoo seperti itu? Kacau. Otaknya sudah benar-benar kacau.

Bisa-bisanya ia membanding-bandingkan tunangannya sendiri dengan Yixing—yang notabene adalah orang asing di hidupnya itu, dengan Kyungsoo yang telah mengisi hari-harinya selama tiga tahun ini.

Yixing, orang asing yang sayangnya telah lancang bermain dengan pikiran dan perasaannya.

.

.

Tapi Joonmyun diam-diam mengakui, bahwa kedua pemuda itu memang sama-sama punya tempat penting di hatinya.


.

Joonmyun memarkir mobilnya di pelataran sebuah gedung persewaan perkakas terkenal di Seoul. Ia menoleh pada Yixing yang duduk di sampingnya, raut wajahnya memancarkan kekhawatiran. "Lalu bagaimana dengan pulangmu nanti?"

Yixing memutuskan untuk melanjutkan tugasnya mempersiapkan dekorasi pernikahan yang memang baru mencapai tahap lima puluh persen itu. Bagaimana pun, waktu dua bulan bukanlah jangka waktu yang lama, dan sebagai seorang wedding organizer yang professional, sudah merupakan tanggung jawabnya mengorganisir semua persiapan pernikahan dengan sebaik mungkin.

Sebenarnya Joonmyun ingin sekali menemani Yixing, mengingat hari sudah hampir menjelang larut malam. Tapi karena urusan pekerjaan yang menghimpit, dan tugas berat sebagai CEO yang diampunya mau tak mau mengharuskannya untuk kembali ke kantor sekarang juga. Terlebih, dengan bertumpuk-tumpuk kertas di meja kerjanya yang telah menunggu untuk disentuh dan dikerjakan.

Yixing balas menatap Joonmyun. Tak mengingkari sensasi menyenangkan yang meletup-letup di dadanya kala menyadari kenyataan bahwa pemuda itu menaruh perhatian padanya. Asanya melambung tinggi. Yixing tahu sikapnya ini tak tahu diri, tapi... bolehkah ia berharap?

Tak ingin terkesan egois, Yixing tersenyum menenangkan, "Tak masalah. Aku bisa kembali ke hotel dengan taksi."

Joonmyun menggelengkan kepala, "Tidak. Kau baru tinggal seminggu disini. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu,"—jantung Yixing berdegup kencang— "Kau tanggung jawabku disini, dan aku yang akan tetap menjemputmu nanti," ucapnya tegas, sembari menatap Yixing lekat-lekat.

"Kau… yakin?"

"Tentu." jawab Joonmyun tanpa ragu.

Yixing nampak berpikir sebentar, sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan, tersenyum, "Baiklah. Aku akan menunggumu disini pukul 11."

Joonmyun mengangguk, "Pukul 11." ulangnya.

Yixing akan membawa tubuhnya turun dari mobil ketika ia merasakan kelima jari menyergap pergelangan tangannya.

Yixing bisa merasakan tubuhnya membeku di tempat. Ia tak perlu mengira-ngira siapa gerangan pemilik tangan ini. Tangan seorang Kim Jooonmyun. Tangannya yang tegas dan memancarkan suatu radiasi kehangatan tak biasa.

Yixing menoleh, menatap sepasang bola mata dark chocolate milik Joonmyun yang seolah bersinar di kegelapan malam. Mencoba membaca pikiran atau sekedar menerka tentang arti tatapan pria yang menarik perhatiannya ini. Tetapi sepertinya ia lupa dengan perkataannya sendiri, kalau—"Sekali menatap, tidak akan bisa lepas."

Yixing mencengkram ujung kemejanya kuat-kuat dengan satu tangannya yang bebas, berusaha menormalkan degup jantungnya yang menggila di dalam sana. "Ada apa?"

Dan itulah yang terjadi. Berdosalah ia. Bukan terkaan yang berada di benaknya kini, namun rasa penasaran dan hasrat ingin menyentuh rambut pria ini. Rambut yang terlihat begitu lembut dan menarik untuk disentuh atau digenggam. Lalu arah pandangannya menurun ke leher pria berambut brunette tersebut. Membuatnya berkhayal untuk melingkarkan tangannya di leher itu. Khayalan yang begitu menyenangkan untuk dipikirkan. Namun begitu sakit kala harus mengingat kenyataan.

Joonmyun masih terdiam, orbs-nya melirik tautan tangan mereka yang belum terlepas. Ia mulai menyukai reaksi kulitnya yang meremang samar ketika tangan mereka disatukan. Menyukai bagaimana kulit mereka yang sama-sama dingin saling bertemu, menimbulkan sebuah konduksi kalor yang menyebar secara perlahan namun pasti.

Sebenarnya apa yang dilakukannya ini benar-benar spontanitas belaka. Sungguh diluar akal sehatnya. Ia tidak tahu apa yang merasukinya. Ia tidak tahu apa yang dipikirkannya. Ia hanya ingin tahu bagaimana rasanya mengenggam tangan pemuda itu untuk yang pertama kalinya. Ia ingin menyentuh, merasakan, dan pada akhirnya…

"Tidak. Tidak ada apa-apa."

mengakuinya.

Bibirnya berkata demikian, tapi ia tahu hatinya tak akan mampu lagi berkilah.

Yixing menarik tangannya perlahan, meninggalkan tangan Joonmyun yang masih terangkat di udara, terbiarkan tergesek dinginnya ruang hampa. Joonmyun tak berkedip melihat Yixing keluar dari mobil lalu berjalan menjauhinya. Berjalan dan terus berjalan hingga akhirnya ia keluar dari jangkauan matanya.

Joonmyun meletakkan kepalanya pada sandaran jok. Nafasnya gemetar mengingat bagaimana tubuhnya bergejolak untuk melihat, menyentuh, memeluk, bahkan memiliki tubuh itu. Bergejolak sangat hebat hingga ia tak bisa lagi menahannya.

Bergejolak sangat kuat hingga kulitnya serasa tercubit oleh dinginnya rasa takut akan penyesalan tentang pernikahannya kelak. Berharap sesuatu akan menyadarkan—tidak, bukan hanya sekedar menyadarkan, tetapi harus dapat menghentikan semua kekonyolan ini.

Hal konyol yang telah menggoyangkan ketetapan hatinya.


.

Joonmyun baru saja menyelesaikan beberapa lembar dokumen microsoft word dari laporan statistik perusahaan ketika ia menyadari waktu telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Ia mengambil ponselnya dan menarikan jemarinya yang lincah di atas layar.

.

To: Yixing; 23:01 p.m

Kau baik-baik saja disana?

.

Ponselnya bergetar beberapa saat kemudian, membuat Joonmyun sontak melepas jemarinya dari tuts abjad dan sibuk menjulurkan telapaknya ke setiap inci meja yang masih terlihat. Dia menyingkirkan beberapa remasan kertas sampai terjatuh ke lantai dan menyambar perangkat portable itu.

.

From: Yixing; 23:03 p.m

Tenang saja. Aku tidak sedang berada di kandang macan, tuan— Joonmyun terkekeh —Jadi berhentilah bersikap khawatir seperti itu, dan selesaikan saja pekerjaanmu :P

.

Dengan senyum terkembang, Joonmyun kembali mengetikkan sebuah balasan singkat.

.

To: Yixing 23:04 p.m

Ya ya ya. Beritahu aku kalau kau sudah selesai 'kay?

.

From: Yixing; 23:07 p.m

Oke.

.

Menghela napas panjang, ia meletakkan ponselnya tadi ke atas meja. Punggungnya bersandar pada badan kursi dan memutarnya menghadap jendela besar yang berdiri kokoh di belakangnya. Kepalanya tertunduk ke bawah, memperhatikan mobil-mobil yang berseliweran di jalan raya kota Seoul dengan tatapan menerawang.

Dengan sekali sentakan ia memutar kembali kursinya menghadap meja kerja saat telinganya menangkap dering ponselnya yang berbunyi nyaring membelah udara malam. Ia menyambar ponselnya secepat kilat, dan terhenyak saat bukan nama Yixing yang ia dapati di layar seperti harapannya. Melainkan…

Kyungsoo.

Ia menekan tombol hijau dan menunggu sebentar, "Halo?"

"Sibuk, Suho-ah?"

Suara itu mengalun lembut menyapa telinga. Dan bohong jika Joonmyun bilang ia tidak merindukan suara itu. Dia tersenyum tipis sebelum mengatakan, "Seperti di neraka," dengan mudah, kursi putarnya berkeriet pelan ketika ia berdiri dari duduknya.

Joonmyun bisa mendengar pemuda di seberang tertawa ringan, dan Joonmyun menemukan dirinya mengacuhkan laporan garapannya di meja, kini lebih memilih berjalan mendekati pintu kaca balkon.

"Kau belum tidur? Ini sudah larut malam."

"Aku tidak bisa tidur," Kyungsoo berkata, desah napasnya jelas terdengar di gendang telinga, "Entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi sering memikirkanmu… dan konyolnya, sekarang aku mulai berharap kau bisa ada disini di sampingku," Pemuda itu melanjutkan dengan suara yang dibuat lebih lirih. Bisa terbayang dengan jelas wajah malu-malu Kyungsoo di benak Joonmyun.

Joonmyun tersenyum lembut, "Bagaimana Daegu?"

Kyungsoo setengah memekik, "Baik! Orang-orang disini sangat menyenangkan—maksudku, mereka bahkan mengajakku memanen teh di perkebunan, mengurus hewan-hewan peternakan, dan anak-anak disana juga mengajakku memancing di sungai—dan kau tahu apa? Kami dapat dua belas ekor, tahu! Bisa kau bayangkan itu, Suho?"

"Yeah, tentu saja," Joonmyun tertawa kecil mendengar Kyungsoo berbicara dengan semangat menggebu-gebu dari seberang sambungan, "Tapi apa kau juga bertemu dengan pria yang lebih menarik disana?" goda Joonmyun, tersenyum.

Kyungsoo tertawa renyah, "Kau tahu aku tidak akan jatuh cinta pada orang lain selain dirimu."

Joonmyun tertohok.

Kata-kata yang dilontarkan Kyungsoo bagaikan tusukan jarum tak kasat mata yang tepat mendarat di sanubari. Bibirnya terbisu, tubuhnya membatu, dan otaknya serasa beku.

"…ah. Suho-ah?"

Joonmyun tersentak. Genggaman tangannya pada badan ponsel mengerat. Ia menelan ludah, berharap suaranya tidak terdengar bergetar di ujung sana, "Ya, Dio?"

Kyungsoo bertanya khawatir, "Apa kau baik-baik saja? Kau terdengar seperti sedang ada masalah."

"Tidak. Aku hanya sedikit… lelah. Ya, lelah." Jawab Joonmyun dengan suara pelan. Dalam hati ia merutuki naluri kepekaan Kyungsoo yang memang setajam belati itu.

Kyungsoo mendesah di ujung sambungan, "Kalau kau capek, istirahat saja oke?" Ada jeda sejenak sebelum akhirnya ia berkata,

"Aku merindukanmu, Suho."

"Aku juga."

.

Kemudian kedua insan manusia itu pun terlibat dalam sebuah pembicaraan yang panjang malam itu. Saling mencurahkan, saling berbicara, saling melepas kerinduan, tenggelam dalam dunia mereka tanpa menyadari bahwa jarum jam telah melewati pukul sebelas malam.

.

Pembicaraannya dengan Kyungsoo benar-benar membuat Joonmyun merasa tenang. Membuat batinnya diliputi perasaan ringan dari segala beban yang mencekiknya. Membuat raganya seolah turut terbuai akan alunan merdu suaranya.

.

.

Dan membuatnya melupakan janjinya pada seseorang yang tengah menunggunya di luar sana.


.

Joonmyun terbangun dengan posisi kepala tergeletak di meja hanya dengan berbantalkan kedua lengannya. Hal pertama yang dilihatnya ketika ia membuka kelopak mata adalah langit-langit ruang kantornya yang sudah tak asing lagi. Ia melirik ke arah jendela, dan mengernyit saat bias-bias mentari langsung mengguyurnya.

Sudah pagikah? Jam berapa ini?

Joonmyun menegakkan tubuhnya dan mengerang saat nyeri seketika menghantam kepala dan punggungnya tanpa ampun. Ia merutuki posisi tidurnya yang buruk itu, sebelum kemudian menghela napas panjang. Bagus, ia ketiduran lagi di kantor.

Joonmyun menguap lebar. Inti atensinya terjatuh pada ponselnya di meja dan ia paksa satu tangannya yang masih terasa kaku untuk meraihnya. Kedua bola matanya membulat dan jantungnya seakan berhenti berdetak ketika ia menangkap rentetan pesan terpampang di display ponselnya. Terlebih pesan-pesan itu hanya berasal dari satu nomor yang sama, nama yang sama—orang yang sama.

.

From: Yixing; 23:03 p.m

Aku sudah selesai.

.

From: Yixing; 23:16 p.m

Joonmyun? Aku sudah di depan.

.

From: Yixing; 23:45 p.m

Joonmyun, kau sibuk ya? Baiklah, tak apa kalau kau sibuk. Aku tidak keberatan menunggu kok.

.

From: Yixing; 23: 50 p.m

Joonmyun, haloooo?

.

From: Yixing; 00:01 a.m

Joonmyun, kau disana?

.

From: Yixing; 00:30 a.m

Aku mencoba menelponmu tapi nomormu selalu sibuk.

.

From: Yixing; 00: 55 a.m

Sepertinya kau benar-benar sibuk ya? Ya sudah. Aku akan pulang dengan taksi saja. Selamat malam :)

.

Dadanya serasa sesak, dan perasaan berasalah langsung menghantam raganya detik itu juga.
Ia membanting ponselnya ke meja dengan perasaan kesal dan mengerang. Joonmyun mengusap wajahnya frustasi. Sial, bagaimana ia bisa lupa? batin Joonmyun. Sial. Ia yang berjanji, ia sendiri yang mengingkari.

Tanpa pikir panjang, ia langsung menyambar jaketnya yang ia sampirkan di kursi dan bergegas meninggalkan kantornya dengan langkah lebar.

Ia harus menemui Yixing sekarang juga.


.

Setengah jam kemudian, Joonmyun menemukan dirinya berdiri di depan sebuah kamar hotel bernomor 235. Ia menggigit bibir, takut jika Yixing mungkin akan marah padanya.

Berusaha menenangkan hati dan pikirnya, ia menghela napas banyak-banyak dan membuangnya sedikit demi sedikit. Ia mengangkat satu kepalan tangannya ke udara dan mengetukkannya ke atas permukaan pintu kayu itu dengan gerakan pelan.

'Cklek.'

Joonmyun merasa jantungnya berdetak semakin cepat seiring dengan gerakan daun pintu yang akhirnya mengayun terbuka.

Memperlihatkan sosok yang terlalu familiar berdiri di ambang pintu masih dengan balutan piyama tidurnya. Joonmyun mengangkat kepala. Pemuda itu tampaknya baru saja bangun tidur. Rambutnya terlihat acak-acakan, dan sorot matanya tampak memancar lelah. Dan ia bisa melihat air muka Yixing yang tampak terkejut untuk beberapa saat, sebelum kemudian tergantikan kembali oleh raut wajah datar.

"Joonmyun... Apa yang kau lakukan disini?" Yixing berkata sembari menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu. Dan Joonmyun bersumpah, meski Yixing tak menunjukkannya secara langsung, ia bisa menangkap nada dingin dibalik kalimat yang meluncur dari bibir pemuda itu.

Joonmyun mengurut belakang lehernya canggung, "Eum… bisa kita bicara di dalam?" tanyanya, ragu.

Yixing mengamatinya selama beberapa saat, sebelum menghela napas dan mengangguk. Tanpa berkomentar apapun, ia menggeser tubuhnya ke samping, secara tak langsung mempersilahkan Joonmyun untuk masuk ke dalam.

Joonmyun melangkahkan kakinya ke ruang kamar hotel itu, dan harus menahan dirinya mati-matian untuk tidak terus-terusan menatap lekuk tubuh Yixing yang sedikit tersingkap terbuka karena piyama tidurnya yang tak terkancing sempurna.

Joonmyun menurut ketika Yixing menyuruhnya untuk mendudukkan diri di sofa sementara pemuda china itu mendahuluinya masuk ke dapur, mungkin ingin membuatkannya minuman atau apa.

Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Kamar hotel itu terlihat cukup rapi, kecuali mungkin keadaan tempat tidur yang terletak di tengah ruangan itu. Seprainya terlihat sedikit berantakan, dan selimutnya tampak terjatuh ke lantai, sementara di sisi kaki tempat tidur ia bisa melihat sebuah koper—milik Yixing, ia rasa—yang masih tergeletak disana dengan posisi setengah membuka. Dan Joonmyun tak bisa menahan senyumnya ketika ia menangkap sebuah boneka unicorn ukuran sedang tersemat di atas tempat tidur.

.

'Pyarr.'

.

Ia tersentak kaget saat suara pecahan kaca tertangkap indra pendengarannya. Pikirannya semakin kalut saat ia menyadari bahwa sumber suara barusan berasal dari arah dapur, tempat dimana Yixing berada sekarang. Ia cepat-cepat bangkit dari sofa dan berjalan terburu menuju dapur.

.

.

Yixing mengumpat pelan. Ia merutuki sikap cerobohnya yang menyebabkan cangkir teh jasmine yang telah disiapkannya untuk Joonmyun itu pecah berkeping-keping. Entah apa yang membuatnya begini. Ia merasa tidak tenang. Ia merasa kacau.

Ia berjongkok, ingin mengambil pecahan-pecahan gelas di lantai itu sebelum kemudian sebuah tangan menahan pergelangan tangannya diam di tempat, mencegahnya. Ia tersentak, dan jantungnya seakan ingin melompat keluar saat iris matanya bersirobok langsung dengan indahnya kedua bola mata Joonmyun yang menatapnya khawatir.

"Biar aku saja," Joonmyun bergumam. Ia sedikit menggeser tangan Yixing menjauh dan mulai mengambil pecahan-pecahan gelas yang bertebaran di lantai itu dengan tangan kosong.

"Ah, sial,"

Joonmyun mengumpat menyadari satu pecahan kaca tak sengaja menggores permukaan kulitnya, rasa perih langsung menyebar cepat ke pori-porinya seketika.

"Astaga, jarimu…" Yixing membulatkan mata ketika ia menangkap setetes darah meluncur bebas dari jari telunjuk Joonmyun.

Dengan panik ia segera bangkit berdiri dan berlari menuju buffet dapur untuk meraih sebotol kecil obat merah dan beberapa lembar kapas. Ia memegang bahu Joonmyun dan turut membawa pemuda itu bangkit berdiri. Ia cepat-cepat meraih tangan kanan Joonmyun yang terluka dan mengelapnya dengan selembar kapas, mengusapnya dengan lembut dan pelan, tak ingin membuat luka gores itu makin memburuk.

Joonmyun memperhatikan gestur Yixing yang masih sibuk mengobati luka di jarinya. Ia tersenyum lembut, diam-diam ingin terus merasakan sentuhan demi sentuhan tangan pemuda itu dan kehangatan yang menjalar darinya.

Ia menatap pemuda itu dengan pandangan lurus. Pandangan yang rasanya dapat meluluhkan segala batasan yang telah ia pasang. Hal yang ia takutkan, kini telah terjadi. Pertahanannya runtuh. Ia mengaku. Ia menyerah.

Yixing menuangkan cairan merah pekat itu ke atas kapas dan mulai mengoleskannya pada luka gores di jari telunjuk Joonmyun. Gerakan tangannya yakin, namun ragu disaat bersamaan.

Perlahan-lahan, Joonmyun merasa kehangatan yang ada di tangannya mulai berangsur menghilang. Perlahan-lahan ia bisa merasakan ujung jari itu mulai meninggalkan tangannya. Tidak, ia tidak rela. Ia masih belum rela.

Merasa perban yang melilit jari Joonmyun telah terikat baik, Yixing akhirnya menarik tangannya. Namun sebelum ia sempat menggerakan tangannya seinci pun, Joonmyun telah menahannya untuk yang kedua kalinya.

Menggenggam tangan Yixing erat, Joonmyun mencoba untuk membuat Yixing mengerti maksud dan keinginan hatinya. Tanpa bicara, tanpa tatapan, dan hanya dengan saluran kehangatan dan hasrat yang berada di tautan dua tangan manusia yang kini saling bersentuhan dengan lembutnya.

"Maaf. Maaf kemarin aku melupakan janjiku." Joonmyun berbisik, memecah keheningan yang melilit mereka berdua. Ia menatap iris cokelat Yixing dengan pandangan penuh penyesalan.

Yixing mengelus tangan Joonmyun yang menyelimutinya, memberinya ketenangan. "Tidak apa-apa. Bukankah aku sudah bilang lebih baik aku naik taksi saja?"

Joonmyun menunduk, masih diliputi rasa bersalah, "Kyungsoo. Kyungsoo... ia menelponku tadi malam. Aku berbicara dengannya sepanjang malam, dan aku benar-benar lupa. Aku minta maaf."

Yixing tersenyum. Senyum getir. "Bukankah itu bagus? Aku yakin kau sangat merindukannya,"

"Ya, sangat." Joonmyun menggumam. Ia menatap langit-langit dapur dengan tatapan menerawang, "Tapi ada satu hal yang tak aku mengerti akhir-akhir ini."

Yixing terdiam beberapa saat, sebelum memutuskan bertanya, "...Apa?"

Joonmyun menatap lurus Yixing dengan tatapan yang sukar diartikan. Ia membawa tubuh Yixing mendekat perlahan demi perlahan hingga hidung mereka hampir saling bersentuhan. Begitu nyaris, begitu dekat, dan begitu salah.

"Joonmyun..."

"Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu. ...Aku bingung, Yixing."

Yixing mengerjapkan mata dan tercengang, tak mengerti dan tak percaya dengan realita yang kini mengurungnya. Ia hanya menurut saja ketika Joonmyun akhirnya menariknya ke dalam dekapannya. Yixing menyadari kedua lengan pemuda itu merangkul seluruh tubuhnya dengan mudah. Ia bisa merasakan ada keragu-raguan disana, tapi ia juga bisa merasakan keyakinan terpendam memancar dari sana.

Sebenarnya ada apa? Apa Joonmyun sedang ada masalah? Apa karena ia begitu merindukan Kyungsoo sehingga ia butuh pelampiasan?

Yixing memejamkan mata. Ya, tentu saja. Bodohnya, mengingat pria itu menatapnya dengan tatapan berbeda tadi membuatnya sempat berharap pria itu merasakan hal yang sama. Berharap pria itu merasakan getaran terlarang yang tak dapat dihindari juga. Berharap bukan hanya dirinya yang melakukan kesalah bodoh ini. Dan yang terkonyol adalah, berharap rasa ini berbalas.

Perlahan demi perlahan, ia turut merangkulkan kedua lengannya di sekitar tubuh pemuda itu, balas memeluknya. Menolak perintah otaknya, dan memilih menuruti perintah hatinya.

Bisa memeluk Joonmyun seperti ini membuat jantungnya serasa berhenti berdetak dan nafasnya tercekat. Bahagia menyadari bahwa perasaan itu benar-benar nyata. Sakit karena ketika akhirnya ia bisa merasakan perasaan indah itu, ia justru harus meletakannya di waktu yang salah. Pada orang yang salah.

Namun ia tak bisa menolak kehangatan yang ditawarkan pemuda itu, rasanya hangat dan nyaman, seakan ia tengah melayang di awan. Ia berdoa dalam hati ia bisa selamanya merasakan perasaan bahagia ini. Meski hanya sementara.

Meski itu mustahil adanya.

Selama beberapa saat mereka hanya berdiri berpelukan seperti itu. Sama-sama mencari, sama-sama merasakan, sama-sama tidak mengerti, dan sama-sama berdosa. Bersalah.

Mereka egois.

"Sebentar saja," Yixing mendengar Joonmyun berbisik di telinganya. "Sebentar saja," Joonmyun terus menggumamkannya. Lagi dan lagi.

Yixing menemukan dirinya tak sanggup bersuara. Ia hanya bisa mengangguk. Karena ia tahu, ia juga menginginkannya.

Hanya sementara. Hanya untuk memenuhi ego manusiawi mereka, hanya sesaat, hanya untuk merasakan kebahagiaan karena rasa tak tertahankan yang membuncah di dada. Ingin menghentikan waktu, ingin tetap memiliki ritme detakan jantung yang begitu lambat, namun begitu nikmat. Ingin tetap memiliki hawa udara yang begitu menyesakkan, namun begitu ingin mereka lanjutkan. Mereka pura-pura buta akan kenyataan. Pura-pura tuli akan segala jeritan batin yang berkecamuk meronta.

Terlalu naif untuk mengakui adanya percikan atau bahkan luapan rasa yang sama. Saling ingin memiliki, namun juga saling merasa ragu. Merasa… takut.

.

Tapi mereka juga saling tidak ingin melepaskan. Tak ingin memisahkan. Tidak ingin kehilangan.

.

Meskipun itu hanya sesaat.

Meski hanya untuk sementara.

.

.

.

"Kumohon hanya untuk sebentar saja..."

.

to be continued.


Pertama, balasan Review untuk non login:

Kkangji: Beneran angst-nya kerasa? ._. Syukur deh XD *dor. Hehe, makasih banget chingu. Fighting juga buat kamu!

Guest: sudah dilanjut, chingu :)

sendal jepit: makasih buat pujiannya XD nah, makanya, disini mereka bertiga sama-sama labil dan bingung sama perasaannya sendiri ._.

milkhunhan: Kyungsoo sama aku aja XD *halah. Haha, iya, Suho maruk ._. ehem.

Jadi...

Gimana, gimana, gimanaaaaa? Masih gaje ya TT_TT Dan maaf juga, beberapa scene yang rencananya mau saya masukin ke sini harus kepotong karena takutnya nanti malah jadi kepanjangan (/‾▿‾)/

Btw,thanks to: Kazuma B'tomat, chenma, ByunnaPark, shinta. lang, Baby Panda Zi TaoRis EXOtics, Jjong-Ice, en2 si HardShiper, Nuryiskey , Manchungi98, lollydaepop, MinSeulELFSparFishy, Kim Haerin-ah, TripleN, kkangji, Guest, sendal jepit, milkhunhan, nurul0911.

Boleh minta kritik, saran, dsb soal chapter ini? Review, will you? Sekali lagi makasih bagi yang sudah nyempetin baca. Terlebih review/fave/follow :')

See you in the next chapter~