CANDY
© BluePrince14
Declaimer
The character isn't mine. But Kai is mine, of course! *dibakar*
Cast
HunKai
Warning!
Alternate Universe, Out of Characters, YAOI, Miss Typo.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
―o0o―
.
.
Semilir angin menerpa tubuhnya, memainkan helai-helai rambut pirangnya yang berponi dan memberi sensasi dingin pada kulit pucatnya. Berdiri di atap sekolah memang selalu dilakukannya saat ia enggan masuk kelas. Rasanya begitu tenang hanya dengan berdiam diri di sini, bersandar di pagar pembatas sambil melihat pemandangan sekolahnya yang terlihat lenggang dari atas. Memandang langit biru yang dihiasi awan.
Asap kelabu berhembus dari bibirnya. Sekali lagi, ia hisap batang bernikotin itu. Mengisi paru-parunya dengan berbagai zat racun yang ia tahu pasti akan merusak tubuhnya. Tapi bukankah ada larangan tidak boleh merokok di kawasan sekolah?
Ha, memang ia peduli?
Asal tahu saja, ia bukan termasuk tipe orang yang senang di atur. Ia berjiwa bebas dan selalu melakukan apa yang ia sukai. Dengan kata lain―pembangkang.
"Aku bisa melaporkanmu jika kau tak buang benda itu sekarang, Sehun."
Ia cukup tersentak saat mendengar suara lain dari arah belakangnya. Meski begitu ia tak bergeming untuk membalas kata dan melanjutkan acara menghisap rokoknya seakan tak mendengar apapun. Sama sekali tak berminat.
"Oh Sehun."
Dengan enggan Sehun berbalik.
—Jpret!
Kilatan blitz kamera menyerangnya dan ia hanya bisa merutuk dalam hati. "Urusi urusanmu sendiri, Jongin...," desis Sehun tajam. Cukup terganggu dengan kedatangan sosok tak diundang itu. Sehun memutar bola matanya saat melihat orang itu malah terkekeh. Mendekati dirinya yang berdiri menyandar di pagar pembatas.
Meski Sehun natapnya dengan tatapan dingin, tak ia pedulikan. Jongin malah dengan santai merogoh saku celananya. "Mau permen?" tawarnya sambil mengulurkan tangan.
"Ck." Sehun mengabaikan uluran tangan itu dan berbalik lagi, menatap ke bawah. Menghisap rokoknya lagi.
"Tidak mau?" heran Jongin sambil memiringkan kepalanya. Ia mendesah kecewa sebelum membuka bungkus permen rasa strawberry itu dan memakannya sendiri. "Padahal ini enak..."
Sehun melirik pemuda di sampingnya dengan sudut mata, tanpa berucap. Jongin sedang memainkan bungkus permennya, menghiraukan Sehun yang masih dipenuhi rasa penasaran dengan apa sebenarnya maksud pemuda itu berada di sini? Sehun ingin bertanya, tapi egonya melarang dia. Ia tak mau dianggap sok akrab dengan orang asing.
Meski pada kenyataan sebenarnya sosok itu bukanlah orang asing, melainkan salah satu teman sekelasnya.
"Kenapa kau tidak ke kelas?" tanya Jongin kemudian, bosan dengan keheningan di sekitar mereka.
"Itu yang menjadi pertanyaanku," balas Sehun dengan nada datar sambil lalu. Ia berjalan menuju salah satu sudut dan duduk menyender ke dinding. Masih dengan rokok yang kini tinggal separuh.
Pandangan Jongin tak sekalipun beralih dari Sehun.
"Lebih baik kau pergi," lanjut Sehun, terkesan mengusir.
"Apa aku tak boleh ada di sini?" Bukannya menjawab, Jongin malah balik bertanya. "Ini tempat umum 'kan?" Sebuah senyum geli ia tampilkan dan itu malah semakin membuat Sehun kesal hingga tak ingin memperpanjang pembicaraan mereka.
Memilih untuk menikmati semilir angin dan music dari ipodnya.
.
.
―o0o―
.
.
Hari lain datang. Dan Jongin sepertinya sudah punya kebiasaan baru untuk mengganggu hidup Sehun yang semula tenang bersama semilir angin, langit biru dan sebatang rokok di atas sekolah sejak kemarin.
"Mau permen?"
Pertanyaan yang sama...Sehun memutar mata malas dan mengabaikan itu. Dan seperti kemarin pula Jongin akan memakan permennya sendiri dan menyimpan bungkusnya di saku celana. Sementara Sehun masih dengan batang rokoknya yang terbakar perlahan.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Sehun melirik, meski terlihat tak senang toh ia menarik alisnya sebelah. Dan itu Jongin anggap sebagai tanda persetujuan untuk melanjutkan. "Apa merokok itu menyenangkan?" tanya Jongin sambil menatap penasaran rokok di tangan Sehun.
Sehun mengerutkan kening, "Memang kenapa?"
Jongin mengangkat bahu. Ia juga tak mengerti kenapa bisa bertanya seperti itu. "Kau terlihat begitu menikmati saat menghisapnya," vonis Jongin sambil berlalu. "Padahalkan itu mengandung banyak zat adiktif yang berbahaya bagi kesehatan bukan hanya bagimu tapi bagi orang lain juga―"
Ya, ya, ya.
Jongin mulai mengoceh dan Sehun bahkan sudah menutup telinganya dengan earphone sekarang.
.
.
―o0o―
.
.
Sehun terduduk di tempat sama dua hari berikutnya. Menghindari pelajaran sejarah lah yang ia lakukan sekarang. Hell, ini bahkan terasa lebih baik dibandingkan harus terkantuk-kantuk di kelas. Baru saja ia hendak menyalakan pematik apinya saat pintu terbuka.
Cklek.
"Kenapa tidak masuk kelas lagi?" Sehun menoleh, mendapati Jongin di bibir pintu tengah berjalan mendekat ke arahnya. Ia hanya bisa menghela nafas mendapati sosok itu kembali mengusiknya.
"Aku tidak betah."
Jongin mengangguk. Menyamankan dirinya tepat di samping Sehun, sama-sama bersandar pada pagar pembatas atap. Dengan penuh ketertarikan ia melirik sosok berkulit pucat di samping, tepatnya pada apa yang tengah ia pegang. "Sehun, boleh aku mencoba rokoknya?"
Sehun, yang baru saja menyalakan rokoknya menatap Jongin lekat. "Kau serius?"
Jongin mengangguk. Ia tahu ini perbuatan yang bodoh sekali, tapi ia hanya ingin mencobanya. "Boleh?" tanyanya.
Sehun tak menjawab dan hanya memberikan benda di tangannya.
Jongin menatap benda itu ragu-ragu sebelum menaruhnya di bibir dan menghisapnya pelan. Dan bisa dipastikan―
"Uhuk! U-uhuk!"
Sehun memalingkan wajah dan mengulas senyum tanpa suara saat melihat Jongin terbatuk sebelum melempar rokok itu sambil bersumpah serapah. Konyol sekali...
"Mau permen?"
Sehun menggeleng, mengambil batang rokok yang lain. "Sudah berapa kali aku bilang, aku tak mau permenmu," jelasnya.
Jongin mendengus, memakan permennya. "Aneh sekali... ini enak tahu, daripada rokokmu itu," balas Jongin memainkan permen di dalam mulutnya.
.
.
―o0o―
.
.
"Kapan kau akan berhenti merokok?"
"Saat seluruh pabrik rokok bangkrut dan berhenti memproduksi rokok?"
Jongin memutar bola matanya. "Itu tidak mungkin... mereka takkan bangkrut jika masih banyak membelinya sepertimu."
"Itu kau tahu," balas Sehun kelewat santai.
"Kenapa tidak permen saja?"
"Kenapa harus permen?"
Jongin nampak berfikir sejenak sebelum menjawab, "Karena permen enak dan rokok tidak?"
Sehun hanya bisa berdecih.
.
.
―o0o―
.
.
Cklek.
Sehun melirik sekilas saat mendengar suara pintu terbuka pelan. Ia berbalik dan menatap sosok itu dengan bosan sambil berujar, "Aku tidak mau permenmu, Jongin..."
Jongin yang baru menampikan sosoknya di balik pintu nampak terkejut sebentar. Tangannya yang berada di saku ia keluarkan, dan kini di genggamannya terdapat sebuah permen. "Dari mana kau tahu aku akan menawarimu permen?" herannya sambil berjalan mendekat.
"Itu yang selalu kau lakukan saat datang ke sini," balas Sehun acuh. Kembali berbalik memunggungi sosok itu. Sehun memasang earphonenya. Mulai menikmati semilir angin yang berhembus mengacak rambutnya.
"Aku ngantuk, pelajaran bahasa Korea itu membosankan...," keluh Jongin begitu saja dan kemudian dia berjalan ke dekat Sehun. Duduk bersandar pada pagar di sebelah sehun dan mulai menutup matanya.
Sehun menatapnya sekilas dan kenapa ia seakan tak bisa mengalihkan pandangannya. Wajah orang yang tengah tertidur itu nampak begitu tenang. Dengan sapuan angin sepoi-sepoi yang memainkan rambut hitamnya.
Tanpa sadar Sehun mendekatkan wajahnya dan―
Cepat-cepat menjauh saat sadar dengan apa yang ia lakukan barusan.
.
.
―o0o―
.
.
Sehun duduk sendirian di atap kali ini. Ia membolos lagi.
Dan semuanya masih terasa sama
...ketenangan yang ia rasakan, semilir angin yang mengacak rambutnya, langit biru dan rasa dari rokok yang tengah ia hisap. Semuanya sama, kecuali tak ada sosok yang mengganggunya kini. Tak ada Jongin.
Sehun entah merasa suasana di sekitarnya terasa begitu sepi―jauh lebih sepi dari biasanya. Dan akhirnya setelah sekian lama, Sehun―dengan keinginannya sendiri―membuang dan mematikan rokok.
Beranjak ke kelas untuk mengikuti pelajaran.
.
.
―o0o―
.
.
Dua minggu berlalu sejak terakhir kali Sehun menginjakkan kaki di tempat ini. Dan entah kebetulan atau tidak, tak lama setelah ia sampai Jongin pun datang.
"Hai..." sapanya sambil mengulas senyum.
Sehun tak membalas, terlalu hanyut dalam keheningan yang mengingatkannya akan kejadian beberapa yang lalu di tempat ini. Ia menatap lekat sosok di sampingnya.
"Jongin..." panggilnya.
"Mmpppt―!"
Jongin menoleh cepat dan ia begitu terkejut saat ia merasakan bibir Sehun menyentuh miliknya. Ia bahkan masih membeku saat Sehun mulai menggerakkan bibirnya perlahan dan memberikan hisapan kecil pada bibirnya dengan mata yang memandang tepat ke arah matanya. Jongin merasakan sensasi merinding di seluruh tubuhnya apalagi saat tangan Sehun memeluk pinggannya dan menarik tubuhnya semakin dekat.
Jongin yang masih setengah sadar itupun mulai membalas kecupan itu, mengalungkan tangannya di leher Sehun. Membuka bibirnya dan membiarkan Sehun memperdalam ciuman mereka.
"Rasanya manis... Tidak buruk," komentar Sehun saat memisahkan diri. Ia merogoh sakunya dan membuang semua rokoknya begitu saja sebelum menatap Jongin. "Baik..., sekarang mana permenku?"
Jongin, meskipun masih dalam keadaan mengembalikan nafasnya, tersenyum sumringah. Merogoh sakunya dan menyerahkan satu pada Sehun.
"Berhenti merokok ya, Sehunnie..."
.
.
.
.
.
.
.
.
Tentu saja Sehun akan berhenti merokok mulai sekarang. Lagipula ia sudah punya sesuatu yang lebih ia sukai sekarang.
Bukan, bukan permen.
...melainkan Jongin. Dan rasa bibirnya.
.
.
[―END―]
HunKai yang aneeeeh sekali -_-
Review pw
