Cemburu―

.


A HunKai story

By: BluePrince14

AU. SuperOOC. Shou-Ai. Miss typo―Typo.

Dont Like Dont Read!

ENJOY!

.


.

Sebagian orang bilang jika cemburu itu tanda cinta. Dan itulah yang membuat pemuda itu meragu. Dan sedikit terganggu, karena pacarnya sama sekali tak pernah terlihat cemburu padanya. Sehun, pemuda yang sudah dua bulan ini menyandang status sebagai kekasihnya, selalu saja terkesan cuek dengan apa yang ia lakukan. Selalu tidak peduli. Dan itu membuatnya sedikit frustasi. Mempunyai pacar secuek itu ternyata sangat tidak menyenangkan.

Untung saja Sehun tampan, karena jika tidak, Jongin pasti sudah sejak lama memutuskannya.

"Sehun, aku akan pergi menonton dengan Luhan-hyung malam ini." Jongin memanas-manasi lewat sambungan telepon. Ia sudah rapi dan akan pergi sekarang. Ponselnya terjepit di telinga dan bahu kanannya. "Aku tidak bisa pergi ke tempatmu." Memang. Di malam minggu seperti ini, biasanya Jongin akan berkunjung ke rumah Sehun. Menghabiskan waktu berdua dengan berdiam diri di kamar Sehun sambil menginap.

Apa? Jangan bayangkan hal yang tidak-tidak.

Mereka berdua ini memang pasangan aneh yang akan menghabiskan malam minggu mereka dengan bermain PS bersama sampai pagi. Sama sekali tidak ada romantis-romantisnya.

Payah...

"Oh."

Gerakan tangan Jongin yang sedang mengikat tali sepatunya tiba-tiba berhenti. Matanya menyipit, agaknya kecewa dengan tanggapan kekasihnya yang hanya berkata 'Oh' dengan nada kelewat cuek. Tipikal Sehun sekali. "Hanya itu?" desak Jongin tak percaya, mengharapkan kelanjutannya. Setidaknya sedikit nada kesal juga tidak apa-apa...

"Iya. Lagian itu bagus, Kai. Aku capek sekali dan ingin tidur. Kedatanganmu akan mengganggu tidurku."

Jongin terdiam, merasa dirinya habis tersambar petir. Benar-benar... Begitukah respon seseorang yang mendengar pacarnya akan pergi kencan dengan orang lain di malam Minggu?

"YASUDAH!" ketus Jongin sambil menutup sambungan telepon sepihak, dengan begitu saja tanpa mau tahu lagi. Wajahnya cemberut. Ia terlanjur kesal. "DASAR OH SEHUN MENYEBALKAN!" teriaknya keras di depan layar ponsel.

.


.

"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Luhan begitu melihat Jongin mendekat dengan wajah tertekuk yang benar-benar tak enak dilihat. Sudah jelas begitu, tap Luhan sepertinya tak tahan untuk tak menggodanya. "Seperti habis terkena badai topan, Pffff―"

Jongin melayangkan tatapan tajam pada Luhan yang kini tengah menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawanya. "Ga lucu, hyung," keluh Jongin.

Luhan nyengir dan menyampirkan sebelah tangannya di bahu Jongin, merangkul pemuda itu agar mulai berjalan bersamanya. "Si Oh itu lagi, eh?"

Jongin mengangguk. Lemas.

Luhan menepuk bahu Jongin dua kali tanda bersimpati. "Kenapa? Dia tidak mau datang?"

Jongin mengangguk, "Aku memang tidak mengundangnya..."

Alis Luhan merengut, tak mengerti. "Tapi bukannya kita akan doubble date?"

Jongin enggan menjawab lebih lanjut dan memilih untuk diam saja. Ini memang salahnya yang malah berkata pada Sehun jika dirinya akan pergi dengan Luhan. Dan itu memang tidak sepenuhnya bohong, hanya saja kalimat itu belum selesai, kurang lengkap. Karen yang benar adalah dia akan pergi dengan Luhan serta Xiumin―pacar Luhan― dan akan mengajak Sehun juga. Tadinya.

Tapi ia sudah kepalang kesal pada pemuda kekurangan pigmen itu hingga melupakan niatan awalnya menelpon tadi. Memikirkannya saja membuat persimpangan imajiner di dahinya berkedut. "Aku tidak mau membahasnya, hyung."

Luhan mengangkat bahu acuh. Dan tiba-tiba saja ekspresinya berubah seratus delapan puluh derajat begitu melihat sosok manis mungil dengan pipi menyerupai bakpao itu berdiri tak jauh darinya di antara kerumunan orang. Wajahnya mencerah dan tatapannya berbinar. Rangkulan pada bahu Jongin pun ia lepaskan. "Baozi!"

Jongin menghela nafas, melihat kelakuan Luhan yang kini sudah berlari begitu cepat untuk memeluk sang pacar dan mencuri ciuman bibir pemuda manis itu di depan semua orang dengan tidak tahu malu. Memeluk sosok itu sambil melayangkan tatapan tak suka pada setiap orang yang melirik pacarnya. Posesif.

Iri...

"Hhhh."

...Jongin iri sekali.

.


.

Pertemuan pertama mereka terjadi di koridor sekolah, saat Sehun masih menjadi murid tingkat satu. Beberapa bulan yang lalu. Tabrakan yang tak sengaja itu berbuntut panjang dengan jatuhnya PSP milik tuan muda Oh, yang ternyata begitu arogan dan tak mau disalahkan, karena benda itu langsung tak berfungsi. heran jika mendengar suara jatuhnya yang benar-benar keras.

Jongin sudah meminta maaf, tapi Sehun berkata ia tidak memintanya. Ia tak butuh. Yang ia minta adalah ganti rugi atas PSP-nya. Yang harus dibayar sekarang juga.

Jongin yang merasa kesal langsung mengalihkan perhatian pemuda itu dengan berseru heboh 'ADA UFO DI BELAKANGMU!'.

Sehun yang percaya dan kagetpun langsung menoleh ke belakang. Sehun berteriak memanggilnya saat tahu dirinya dibodohi.

Tapi Jongin tak mempedulikan hal itu. Ia sudah berjalan pergi dengan cepat. Kabur.

Dan justru itulah awal dari segalanya.

.


.

Jongin setengah melamun, tak benar-benar fokus pada film yang tengah diputar di layar besar sana. Ia tersenyum kecil mengingat pertemuan mereka yang begitu klasik dan terlalu mirip alur cerita drama. Juga kelakuannya yang aneh saat itu.

Tapi senyumnya otomatis hilang saat melihat kursi kosong di samping kanannya.

.


.

Keras kepala, mungkin adalah nama tengah dari Sehun. Sehun datang ke kelasnya untuk pertama kali keesokan harinya. Oh, tentu saja. Tak sulit menemukan seseorang yang kabur darimu jika itu masih satu sekolah. Dan semenjak saat itu, Jongin merasa hidupnya tak tenang. Sehun selalu muncul tiba-tiba dan tanpa bosan menagih uang ganti rugi saat mereka bertemu. Membuat Jongin jengah terus-terusan menghindar.

Jongin bukannya tidak mau membayar, ia sudah bilang itu pada Sehun agar ia berhenti dibuntuti. Ia akan membayar tapi tidak sekarang. Karena uang jajannya untuk bulan ini bahkan sudah habis untuk membayar les tarinya.

Tapi Sehun tidak mengenal kata nanti. Baginya Jongin hanya beralasan agar terbebas dari tanggung jawabnya. Seperti yang selalu ia lakukan selama ini. Kabur dariku karena tak mau ganti rugi, kata Sehun.

Jongin tersinggung. Dengan marah ia berkata jika ia bukan orang seperti itu. Dirinya pasti membayar. Tapi Sehun tetap tidak mau dengar dan dengan mata mengintimidasinya terus mendekati Jongin yang semakin berjalan mundur hingga terdesak ke dinding koridor yang kebetulan sedang sepi.

Dan―

.


.

"Kai kau gila?" Luhan bertanya dengan bisikan pelan. Tak ingin terlalu membuat keributan saat film tengah diputar. Alisnya mengerut. Tangannya terangkat untuk memegang dahi Jongin dan memastikan jika dia tidak sedang demam. "Tidak panas," komentarnya.

Dengan risih, Jongin menepis tangan itu. Ia bisa melihat Xiumin juga tengah menatapnya khawatir. "Apaan sih, hyung!" protesnya.

"Kamu yang apaan," Luhan semakin heran saja. Sebenarnya apa yang dilakukan si Oh itu hingga Jongin jadi begini. "Film mengharubiru begini kau malah senyum-senyum."

Dikatai begitu Jongin malah tertawa. Pantas saja mereka memandangnya aneh. Film sedih dan ia malah tersenyum? Salahkan dirinya yang seakan diingatkan dengan ciuman pertamanya dengan Sehun di koridor sekolah barusan.

"Idiot!"

.


.

Jongin memang seperti idiot setelah kejadian itu. Entah apa yang membuat sosok itu tak muncul lagi di depannya. Meski dalam hati lega karena Sehun tak mengikutinya lagi karena dia sendiri yang berkata hutang Jongin lunas dengan ciuman itu. Seharusnya begitu, tapi nyatanya Jongin malah merasakan perasaan aneh yang tak bisa ia jelaskan. Hari kehari ia mulai merasa kehilangan. Apa ini? Rindu kah? Ada yang tidak beres. Jantungnya seakan merespon lebih peka setiap ia melihat Sehun meski dalam kejauhan. Ah, jangankan melihat, mendengar namanya disebut saja sudah membuat Jongin berdebar-debar tak keruan.

Dan debaran itu semakin tak keruan saat Sehun menariknya, bertanya padanya, tepat di belakang sekolah pada hari Senin di awal bulan November, saat kawasan sekolah sudah mulai sepi.

Satu kalimat pertanyaan yang membuatnya melotot tak percaya.

'Kau mau jadi pacarku?'

.


.

Sudah dua bulan hubungan mereka dan dirinya merasa tidak ada kemajuan sama sekali, setidaknya baginya memang begitu. Sehun masih secuek dulu, meski terkadang bisa sangat perhatian. Memberikan apa yang Jongin minta meski tak secara langsung. Memikirkannya membuat Jongin tanpa sadar kembali melamun. Mengingat semua hal yang telah ia lakukan untuk menarik sisi cemburu Sehun pada dirinya.

Ia berusaha terlihat dekat dengan Kris, sang kapten basket sekolah. Dan sengaja membuat isu dirinya berpacaran deng Do Kyungsoo, sang ketua klub seni. Dia juga pernah mencium Krystal hanya untuk menarik perhatian Sehun. Menguji apakah Sehun memiliki sedikitnya perasaan cemburu itu pada dirinya. Tapi nyatanya respon Sehun tetap statis, cuek. Membuatnya frustasi. Karena pemikirannya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa―

"Sehun tidak mencintaiku," lirih Jongin.

Luhan dan Xiumin menatapnya dengan tatapan tak terdefinisi. Mereka ada di sebuah foodcourt saat ini, menikmati makan malam mereka. Terkecuali Jongin yang sama sekali tak menyentuh makanannya. Ia malah melamun, sejak film diputarpun pemuda itu hanya melamun. Dan setelah sekian lama tidak berkata apapun, ia malah berkata 'Sehun tidak mencintaiku'. Bagaimana bisa Luhan dan Xiumin tidak khawatir?

"Apa maksudmu? Sehun mencintaimu, Kai."

Jongin menggeleng menyangkal pernyataan Xiumin barusan. "Dia tidak. Aku yakin jika dia sama sekali tak menyukaiku," tegas Jongin. Ia terdengar kesal dengan ucapannya sendiri.

Luhan menatapnya, "Apa yang mendasarimu berfikiran seperti itu?"

"Dia tidak pernah cemburu padaku, hyung. Sedikitpun tidak pernah. Aku dekat dengan Kris dia tidak peduli, pada gosip aku pacaran dengan Kyungso pun dia tidak peduli. Bahkan... aku mencium Krystal di depan matanyapun ia sama sekali tak peduli," jelas Jongin dengan nada yang semakin memelan. "Apapun yang aku lakukan ia sama sekali tidak peduli."

Xiumin menatapnya simpati. Begitupun Luhan. Tapi mereka tidak mengatakan apapun lagi.

.


.

"Aku ingin putus―"

TAP

Langkah Sehun di koridor itu terhenti tiba-tiba saat mendengarnya. Ia berbalik menatap Jongin yang kini berdiri di belakangnya. "Apa?"

Jongin menghela nafasnya. Lelah. Tapi ia sudah memikirkan ini matang-matang. Ia sudah yakin. Meski masih tak rela. "Aku bilang; aku ingin putus, Sehun."

Sehun terdiam sedetik, cukup terkejut dengan permintaan tiba-tiba itu meski bisa menutupinya dengan tak menampakkan ekspresi apapun. Ia berbalik dan kembali melangkah tanpa peduli, meneruskan niatnya untuk kembali pulang.

Jongin terdiap, menatapnya tak percaya. Tak berniat menyusul Sehun yang pergi meninggalkannya. Wajahnya terluka. "Baik, semuanya sudah berakhir sekarang..."

Sehun itu brengsek. Dan Jongin menyesal sudah pernah menyukai pemuda itu.

.


.

Kai memandangi kotak di tangannya dengan gusar. Ia tidak ingin menemui Sehun lagi, tapi ia harus mengembalikan semua barang-barang ini. Barang-barang pemberian Sehun untuknya. Semua barang ini hanya akan membuatnya kembali mengingat Sehun.

Topi, kaset video game, buku, foto mereka berdua, voucher bubble tea yang belum sempat ia pakai―

Tak ada barang romantis seperti bunga, boneka, kaos couple atau cincin di sini. Benar-benar payah.

"Ini―" Jongin menyodorkan kotak itu di depan Sehun begitu pintu terbuka.

"Apa ini?"

"Semua barang pemberianmu. Aku kembalikan."

"Kenapa?" tanya Sehun acuh. Melangkah masuk dan membiarkan pintu terbuka, mengabaikan sodoran Jongin. "Aku belum menyetujui permintaan putusmu, Kai," ujarnya santai.

Jongin menatap tak percaya. Ia melangkah masuk dengan marah dan menaruh kotak itu di meja dengan sedikit bantingan. Sehun tidak bergeming. "Sudah cukup! Berhenti mempermainkanku! Kita putus!"

Jongin berbalik dan hendak menutup pintu saat mendegar Sehun berujar;

"Aku tidak mau."

Mata Jongin menyipit tak percaya dengan apa yang baru ia dengar, "Apa?"

"Aku bilang aku tidak mau putus denganmu, Kai."

Jongin menggeram frustasi. "Aku tidak peduli! Aku sama sekali tidak ingin meneruskan hubungan ini. Sudah jelas kau tidak mencintaiku. Kau sama sekali tak pernah terlihat marah melihatku dekat dengan orang lain. Dengan Kris, maupun Kyungsoo. Kau bahkan tidak bereaksi apapun saat melihatku mencium Krystal!"

Sehun masuk ke kamarnya begitu saja. Mengabaikan Jongin. Lagi.

Jongin menggeram kesal.

"APA MAUMU, OH SEHUN?!"

BRAK!

Tak peduli.

Jongin pergi dari rumah itu dengan membanting pintu dengan keras sekali. Oh Sehun benar-benar brengsek. Ia tak berhenti mengumpat, memaki dan menendang apapun yang berada di sekitarnya. Namun tak beberapa lama setelah itu, saat ia sudah duduk dalam taksi yang akan membawanya pulang, ia merasa sesuatu dalam saku celananya bergetar.

Awalnya Jongin mencoba mengabaikannya. Tapi ia tidak bisa karena benda itu terus bergetar tiap semenit sekali. Membuatnya kesal. Jongin merogoh saku dan mengambil ponselnya enggan.

Matanya melotot.

.

.

.

.

.

.

Pesan dari Sehun.

.

.

.

.

.

.


[ Sebagian orang bilang jika cemburu itu tanda cinta. Tapi aku berfikir jika mereka keliru. Karena bagiku, cemburu hanyalah hasil dari sebuah ketidakpercayaan. Dan aku berusaha untuk tidak cemburu karena... aku percaya padamu. ]


.

.

.

.

.

.

"..."

.

.

.

.

.

.

[ Berhenti marah-marah. Kau terlihat jelek. ]

.

[ Aku akan menciummu jika kau berteriak lagi. ]

.

[ Jangan memancingku untuk cemburu setelah ini atau kau akan habis. ]

.

[ Kau harus mengganti kerusakan pintu rumahku. ]

.

[ Jangan lupa buatkan aku bekal untuk besok. ]

.

.

"..."

.

.

.

.

.

.

.

[ "Dan asal kau tahu.

...Aku terlalu mencintaimu hingga rasanya bisa membuatku gila." ]


FIN~


Aneh~ Aneh~ Seperti biasa. So sorry :(

Aku butuh asupan fanfic HunKai setelah lama menghilang karena tugas yang tak bisa diajak kompromi sama sekali. Mungkin akan mengaduk-aduk FFN setelah ini. Haha.

Atau ada yang punya rekomendasi? PM dong :3

Mind to Review, Anyone?