Mayu: ehem ehem, Mayu balik lagi nih minnaaaa xD
Akaba: Fuu, kenapa lama sekali update nya? ==
Kotaro: Dasar author pemalas! XO
Mayu: *pundung* Aku 'kan lagi sakit nyo, selain itu ini 'kan masih masa-masa liburan, jadi aku pengen relax bentar.. TwT
Akaba, Kotaro: Iya aja deh… .-.
Mayu: yowes, mending kita langsung mulai aja ceritanya ^^"
.
~~**An Eyeshield 21 Fanfiction**~~
~~**Triangle Love by Mayumi Koyuki**~~
~~**Eyeshield 21 by Riichiro Inagaki and Yusuke Murata**~~
~~**Warning! OOC, OC, typo(s), Gaje tingkat dewa, sok dramatis, sinetron abis, humor garing, etc**~~
~~**Genre(s): humor, parody, drama, friendship, romance**~~
.
-Akaba's POV-
Aku melangkahkan kakiku keluar ruang klub setelah berdebat—lagi—dengan si pecinta sisir lipat itu. Untung saja—my sweet pincess melody—Julie datang melerai kami. Kalau tidak, mungkin kami sudah membanjiri ruang klub dengan hujan lokal.
Ah,daripada memikirkan itu, lebih baik sekarang aku bersiap latihan saja.
*skip time*
~Ruang Klub Bando~Pkl. 08.00~
Latihan sudah usai, dan sekarang aku sedang duduk dengan 'manis' di bangku kelas sambil menyetem gitar. Lihatlah, Julie sedang mengobrol dengan teman-temannya. Bandingkan dia dengan teman-temannya itu. Dialah yang menurutku tecantik, dan akan selalu menjadi yang paling tercantik dibandingkan mereka.
Ah, indahnya cinta. Melodinya berdentang keras di hatiku, dan membuatku terombang-ambing ke dalam lautan kasih sayang.
Halo, kenapa aku jadi puitis begini?
Ah, tak apa. Lagipula, semua hal sah-sah saja jika kita sedang jatuh cinta bukan?
"Yo, Julie!"
Oh, ada yang menghampiri Julie. Tidak, aku tidak marah. Tapi aku cemburu!
Ya, aku cemburu karena yang mendekati Julie adalah Miwa, laki-laki yang menurut Julie adalah laki-laki sempurna yang paling dia idamkan. Julie bahkan curhat soal dia dan ketampanannya serta bla bla bla miliknya yang begitu Julie kagumi di depanku dan Kotaro langsung! Wajar bukan, jika aku dan Kotaro menganggap Miwa itu saingan kami juga secara tidak langsung?
Jika saja Julie tahu bagaimana sengitnya persaingan diantara kami, dia pasti akan mengeluh betapa sulitnya menjadi wanita cantik idaman lelaki.
Tapi kembali ke kehidupan nyata, Julie tak mungkin berpikir seperti itu. Dia anak yang menurutku bahkan kurang merespon dirinya sendiri. Sungguh lugu dia.
Eh, apa itu? Kenapa si Miwa itu menarik tangan Julie? Mau dibawa kemana Julie? Mentang-mentang guru jam pertama izin tidak masuk dia seenaknya menyeret Julie untuk kabur di saat jam pelajaran masih berlangsung? Tak akan kubiarkan!
SREK
Aku berdiri dan mengikuti langkah kaki Julie dan Miwa secara tenang dan santai agar tidak dicurigai. Aku tetap membawa gitarku, agar bisa mengelak saat tiba-tiba ketahuan.
Tapi tentu saja, aku berharap agar tidak pernah ketahuan sama sekali.
Mereka menuju atap sekolah, mau apa mereka di tempat sepi itu? Apa jangan-jangan….
*sementara itu*
-Kotaro's POV-
SRET
Aku membuka pintu kelas, dan yang kulihat hanya beberapa murid sekelas yang biasa. Hanya ada yang mengganjal. Kemana Julie dan Akaba? Jangan-jangan si rambut merah maniak gitar itu sudah mengambil langkah lebih jauh lagi untuk mendekati Julie? Tch, tak akan kubiarkan itu terjadi!
TAP TAP TAP TAP
Aku langsung berlari menyusuri setiap koridor di sekolah. Tapi nihil. Tak kutemukan juga kedua orang itu. Dimana mereka?
Ah, aku baru ingat! Ada satu tempat lagi yang belum aku datangi! Atap sekolah!
Aku memutuskan untuk melangkahkan kakiku ke tempat itu. Si rambut merah itu 'kan mesum, jadi pasti dia mengajak Julie ke tempat yang sepi! Sebelum hal aneh terjadi, aku harus segera mengambil langkah dan tindakan!
*kembali pada Akaba*
-Normal POV-
Akaba masih terus mengintip Julie dan Miwa yang tengah mengobrol di atap sekolah. Dia bersembunyi di balik kardus-kardus bekas yang ditumpukkan disana.
"Jadi, bagaimana Julie?" tanya Miwa. Wajahnya terlihat agak….berbeda?
"Ung, bagaimana ya…" wajah Julie nampak terlihat merah. Malu-malu…
GREP
Akaba meremas gitarnya, sampai tak sadar salah satu senarnya putus.
"Sialan kau, Miwa! Melodimu benar-benar gelap! Pasti ada udang dibalik batu!" gumam Akaba geram.
PLOK
Seseorang menepuk pundak Akaba dari belakang, Akaba yang sontak kaget langsung menoleh, "Kotaro?"
"Yo, mata merah! Apa yang kau lakukan disini? Mencurigakan! Tidak SMART sekali!" celoteh Kotaro tanpa dosa.
BRUK
Akaba langsung menyuruh Kotaro duduk di sebelahnya, dan menyuruhnya diam dan perhatikan saja pemandangan yang membuat hati mereka panas ini.
"I-itu 'kan si bodoh Miwa!" gumam Kotaro sebal.
"Aku kemari mencoba menyelidiki, apa yang sedang mereka lakukan! Aku punya firasat buruk tentang tujuan Miwa mendekati Julie!" jelas Akaba mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Yeah, kalau boleh jujur, aku juga dari dulu sangat tidak menyukai si Miwa mesum itu! Dia itu seperti kau! Tidak SMART!"
"Dan menurutku, melodi Miwa itu sama sepertimu! Sangat tidak harmonis!"
"Apa katamu?"
"Sudahlah, yang terpenting sekarang, kita harus tetap mengawasi—"
Saat Akaba kembal melirik ke TKP, kedua orang yang mereka intai sudah menghilang entah kemana. Akaba dan Kotaro keluar dari persembunyiannya.
"Kemana mereka?" pikir Kotaro sambil melihat sekeliling.
"Fuu, ini gara-gara kau, kita jadi kehilangan jejak mereka!" ujar Akaba geram. "dan lihatlah, senar gitarku putus satu.."
"Jangan salahkan aku! Aku tidak tahu menahu tentang putusnya senar gitar bodohmu itu! Ini gara-gara omonganmu yang tidak SMART sih, jadi aku mau tak mau harus menanggapinya agar terdengar lebih SMART!"
"Beat-mu itu berisik sekali! Aku semakin malas mendengarnya!"
"Kenapa kau ini terus menerus menyangkut pautkan berbagai hal dengan musik? Mau jadi musisi? Keluar sekolah saja sana!"
"Sudahlah! Aku sedang malas berdebat denganmu! Yang terpenting sekarang, lebih baik kita kembali ke kelas! Jam pelajaran berikutnya sudah hampir dimulai."
"Huh, ya sudah!"
Maka Akaba dan Kotaro pun kembali ke kelas, dan belajar seperti biasa.
*skip time;sepulang sekolah*
Akaba, Kotaro, dan Julie berkumpul sebentar untuk membicarakan masalah latihan di depan gerbang sekolah.
"Jadi, bagaimana?" tanya Julie memastikan.
"Aku tidak bisa latihan sore ini, aku ada acara…" ujar Akaba sambil tetap depresi melihat gitarnya yang putus satu senar. "aku juga harus memperbaiki senar gitarku…"
"Baiklah…. Bagaimana denganmu, Kotaro?" Julie melirik ke arah Kotaro sekarang.
"Aku juga tak bisa, aku ada acara dengan si paman tua…" jelas Kotaro sambil menyisir rambunya.
"Paman tua? Musashi? Kicker dari Deimon yang menjadi sainganmu itu?" tanya Julie sambil mengingat kembali.
"Iya, dia…" Kotaro meng-iya-kan.
"Sejak kapan kau akrab dengannya?" tanya Akaba.
"Bu-bukan urusanmu! Sudahlah, aku masih sibuk! Daaah!" Kotaro pun pergi meninggalkan lokasi.
"Aku juga harus segera membli senar baru, dan menyetem gitarku lagi. Sampai jumpa, Julie!" sahut Akaba lalu beranjak pergi.
Tinggallah Julie sendiri di depan gerbang seperti orang yang tengah tersesat. "Ugh, aku harus bagaimana sekarang? Ya sudahlah, pulang saja.."
Julie baru saja akan melangkahkan kakiknya, jika saja—
GREP
—ia tidak ditahan tangannya oleh Miwa.
"Mau kemana, Julie?" tanya Miwa dengan senyum gagahnya yang Julie dambakan.
Julie pun meleleh dan jatuh ke dalam perangkap Miwa.
"A-aku, aku mau pulang ke rumah.. hehehe…" jawab Julie gugup.
"Daripada hanya berdiam diri di rumah, bagaimana kalau kau ikut denganku?"
"Eh? Kemana?"
"Makan siang. Bagaimana?"
"Ung, tapi kan—"
"Aku yang traktir!"
"Aduh, jadi merepotkanmu—"
"Tidak sama sekali. Bagaimana?"
"Ung, b-baiklah kalau—"
"Bagus, ayo!"
Miwa langsung menyeret tangan Julie, dan membawanya ke sebuah restoran.
*sementara itu…*
-Akaba's POV-
"Oi, Sena! Kemari!"
"HIEE, i-iya iya!"
Aku langsung memanggil Sena untuk menemuiku sepulang sekolah, dan menemaniku membuntuti Julie dan Miwa. Masalah senar gitar yang putus, biarkan saja! Aku masih bisa membelinya di hari-hari lain!
Dan jika ingin tahu, posisiku saat ini tak jauh dari Julie. Aku dan Sena terus berusaha bersembunyi di balik tembok agar tidak ketahuan.
"Ung, siapa laki-laki itu?" tanya Sena. Oh iya, dia belum mengenal Miwa.
"Dia itu Miwa, laki-laki yang terkenal playboy di sekolahku!" jelasku singkat.
"Jadi, ini alasanmu mengajakku?"
"Benar! Aku ingin kau membantuku mengawasi Julie yang sedang masuk ke dalam perangkap Miwa!"
"Hoo, sebagai seorang Akaba, sepertinya kau sedikit terlihat overprotective…"
"Apa katamu?"
"Lupakan…"
"Lihatlah, bayangkan jika yang disana itu adalah sang kapten cheer leader Deimon! Apa yang kau rasakan?"
"Tentu saja aku…EEEEHH, KENAPA TIBA-TIBA KAU MEMBAHAS SUZUNA?"
"Kenapa? Bukankah kau menyukainya?"
"SU-SUZUNA? AKU TIDAK MENYUKAINYA SAMA SEKALI!"
"Wajahmu terlihat merah, iramamu juga berdetak dengan cepat. Fuu, kau benar-benar sedang jatuh cinta."
"Hentikan itu, Akaba! Yang terpenting sekarang, kita sudah kehilangan jejak mereka!"
"Hm? Ah, benar juga! Ayo, kita segera susul mereka!"
"B-baik!" Sena pun berlari mengikuti Akaba di belakangnya. 'Fyuh, untung saja…'
*di lain tempat*
-Kotaro's POV-
"Lihat 'kan? Si Miwa yang tidak SMART itu menggandeng tangan Julie-ku dengan mesra! Seharusnya yang berada di tempatnya itu aku!" aku langsung berceloteh melihat tingkah Julie dengan Miwa. Sungguh! Sungguh melihat mereka berdua seperti itu sudah membuatku cemburu setengah mati!
"Wajar bukan? Mereka sedang jatuh cinta…" si paman tua itu malah merespon dengan nada yang sama sekali tak kuinginkan.
"Dasar bodoh! Aku cemburu! Seharusnya kau berpihak padaku, bukan Miwa!"
"Aku hanya bicara fakta disini."
"Berhenti membicarakan fakta yang menyakitkan!"
"Oh? Lihatlah, mereka mulai masuk ke dalam restoran!"
"Ah, kau benar! Ayo! Sebaiknya kita cepat!"
*kemudian*
-Normal POV-
Miwa dan Julie mengambil kursi, dan segera memesan makanan.
Sementara itu, di luar restoran, Kotaro, Musashi, Akaba, dan Sena pergi masing-masing ke dalam sebuah toko untuk menyamar.
Musashi memakai baju ala penghulu-penghulu di KUA (?). sedangkan Kotaro memakai baju ala geng motor. Akaba memakai baju ala Sherlock Holmes (?). sedangkan Sena, dia memakai baju ala gadis-gadis lolita (?). baju Sena merupakan rekomendasi Akaba agar tidak terlalu terlihat mencolok.
'Justru ini terlalu mencolok!' batin Sena sempat-sempatnya.
Kemudian, Kotaro dan Musashi menuju bangku pojok kanan, sedangkan Akaba dan Sena menuju bangku di pojok kiri. Mereka semua tak saling menyadari, bahwa mereka sedang berada di satu tempat yang sama.
Kebodohan bukan?
~Kotaro's Side~
"Lihatlah, mereka berdua mengobrol dengan sangat mesra! Menyebalkan, 'kan?" ujar Kotaro dengan kepala berasap.
"Ya, daripada itu, lebih baik kita pesan dulu." Ujar Musashi sambil menengok ke arah pelayan di samping mereka yang sweatdrop melihat penampilan Musashi dan Kotaro.
"M-mau pesan apa, tuan?" tanya pelayan itu.
Musashi dan Kotaro pun memilih makanan dan minuman sekenanya. Apalagi Kotaro, dia sudah tidak peduli apa yang dia pesan. Pandangannya tetap fokus ke arah Julie dan Miwa.
Pelayan itu sempat berbisik pada Musashi, "Anda baru saja menikahkan seorang anggota geng motor ya?"
Musashi kontan mengeluarkan aura suramnya, "Lupakan saja, dan segera antar pesanan kami!"
"B-baik!" pelayan itu langsung berlari ke dapur untuk menyerahkan pesanan pada koki.
Musashi menghela nafas sejenak dan memperhatikan Kotaro yang tengah mengamati Julie dan Miwa, 'Beginikah… sikap orang yang tengah jatuh cinta?' batinnya.
~Akaba's Side~
Sama halnya dengan Kotaro, Akaba juga tetap fokus memperhatikan Julie dan Miwa.
"Lihatlah, Sena! Pesanan mereka datang, dan lihat itu! Miwa berlagak menyuapi Julie!" Akaba nampak sangat geram, sampai-sampai senar gitarnya yang lain juga putus kembali.
"A-Akaba, kurasa kita harus memesan dulu, agar tidak terlihat mencurigakan…" saran Sena sambil melirik ke arah pelayan cantik di sebelahnya.
"Yah, pesananku samakan saja denganmu!" ujar Akaba sambil tidak mengalihkan pandangannya dari Miwa dan Julie.
'Ya sudahlah…' batin Sena lalu memesan beberapa makanan dan minuman yang nampaknya enak dan murah.
"Segini saja?" tanya pelayan itu.
"I-iya.. kurasa begitu… hahaha…" Sena tertawa garing.
Pelayan wanita itu berbisik kepada Sena, "Anda cocok sekali dengan pasangan anda yang sepertinya detektif itu! Kalian serasi, nona!" ujar pelayan itu polos sambil mengedipkan sebelah matanya dan pergi berlalu untuk menyerahkan pesanan pada koki.
'A-aku dianggap perempuan? TIDAAAAK!' batin Sena menjerit karena merasa dirinya terlalu 'cantik'.
Sedangkan Akaba yang masih asyik memperhatikan Julie dan Miwa, tidak mengiraukan Sena dan penderitaan batinnya.
*beberapa saat kemudian*
Masing-masing pesanan sudah tiba di meja masing-masing.
Mari tengok Akaba dan Kotaro sebentar, sambil tetap menunggu Julie dan Miwa yang masih bermesraan.
~Kotaro's Side~
Kotaro yang sudah agak lelah mengamati Julie dan Miwa, mulai agak bosan dan lapar. Tepat saat itu, makanan yang mereka datang
"Wah, akhirnya pesananku datang ju—EEEHH?"
Betapa kagetnya Kotaro, karena ternyata yang ia pesan adalah ramen ukuran raksasa serta es campur dengan berbagai macam variasi buah hingga menjulang tinggi!
"B-bagaimana aku menghabiskan semua ini?" Kotaro mengacak rambutnya yang dari tadi tertata rapi.
"Salahmu sendiri, tadi kau asal tunjuk saja saat memesan di daftar menu…" sahut Musashi yang kemudian makan dengan tenang.
"Sialaaan! Tidak SMART ini! Nanti aku gemuk! Aku minta tukar!"
Pelayan yang mengantarkan makanannya menggeleng pelan, "Maaf tidak bisa… anda terpaksa harus menghabiskannya, Tuan… apalagi, anda baru menikah, jadi pasti kelaparan, ya 'kan?"
"A-apa?" Kotaro sontak kaget, "Menikah apanya? Aku belum menikah!"
"Lalu penghulu ini?"
"Dia cuma penghulu! Dia.. errr, dia kerabatku!" dalam hati Kotaro bingung, untuk apa juga pelayan ini terus menerus mengulik tentang dirinya dan Musashi. Benar-benar tidak penting.
"Oh, kukira dia baru saja selesai menikahkan anda.. hahaha…"
"Sudah diam saja kau dan pergi dari sini!"
"B-baik tuan!"
Pelayan itu langsung melesat pergi sejauh mungkin.
Sementara Kotaro mulai bingung bagaimana menghabiskan makanan yang baru ia pesan ini. Dia hanya bisa memandangi dengan tatapan seram melihat betapa besarnya makanan yang ia pesan.
"Apa aku bisa menghabiskannya?"
~Akaba's Side~
Akaba juga nampak mulai pegal dan lelah. Ia sejenak mengalihkan pandangannya kepada Sena yang mengatur letak makanan pesanannya di meja dengan teratur.
"Terima kasih ya…" Sena memberikan sedikit uang tip pada pelayan itu.
"Eh, kenapa anda yang bayar? Bukannya seharusnya kekasih anda, nona?" tanya pelayan itu polos.
Sontak Akaba kaget mendengarnya, sedangkan Sena hanya bisa sweatdrop.
"K-kekasih?" tanya Akaba bingung.
"Iya, anda berdua terlihat serasi. Anda begitu tampan, dan pasangan anda juga nampak imut juga menggemaskan…" pelayan itu jadi salah tingkah sendiri.
"Apa katamu?" Akaba mulai merasa agak heran.
"A-ano, sebenarnya, kami bukan sepasang kekasih…" Sena berusaha menjelaskan kondisinya.
"Benarkah? Lalu kenapa—"
GREP
Pelayan itu langsung bungkam ketika Akaba menggenggam tangan Sena dengan cepat dan 'mesra'.
"Bisa tinggalkan aku dengan kekasihku? Kami harus segera makan…" Akaba mengeluarkan senyum andalannya.
"Ahahaha, baik baik! Silahkan dinikmati!" pelayan itu langsung pergi dengan senang hati.
DEG DEG DEG
Entah kenapa, jantung Sena berdetak cepat dengan alasan yang sudah pasti tak logis.
Setelah pelayan itu pergi dan tak terlihat lagi oleh kasat mata, Akaba menghentikan aktingnya.
Sena langsung heran ketika Akaba melepaskan genggamannya. Akaba juga langsung menyantap makanannya yang dipesankan oleh Sena. Namun sejenak, Akaba melihat ekspresi Sena yang agak berbeda dibandingkan sebelumnya.
"Kau kenapa, Sena?"
"Apa? Err, a-aku tidak apa-apa! Hahaha…"
"Jangan salah paham. Aku masih normal kok.. tadi itu hanya pura-pura, agar ia cepat pergi."
"Kenapa tak kau jelaskan yang sebenanya saja?"
"Kau mau kau juga disangka homoseksual?"
"T-tidak mau!"
"Makanya, ikuti saja aktingku tadi! Tapi untungnya, kau bisa bersikap layaknya seorang wanita tadi. Aktingmu bagus juga!"
"I-itu reflek! Siapa yang tak mungkin bersikap seperti itu ketika tangannya tiba-tiba digenggam dengan mesra begitu?"
"Haha, iya juga sih… tapi…" Akaba sekilas memperhatikan penampilan Sena, "Kalau boleh jujur, kau memang cantik…"
"HIEEE?"
~Julie's Side~
Julie yang tengah asyik menyantap makanannya, memperhatikan terus Akaba dan Kotaro yang berada di pojok kiri dan kanan tanpa menyadari bahwa mereka itu temannya sendiri.
"Mereka benar-benar berisik.." gumam Julie.
"Sudahlah, abaikan saja…" saran Miwa sambil menyeruput jusnya.
"Iya…" Julie juga meminum es kelapanya.
…
"Ung, Julie…" Miwa sepertinya akan memulai pembicaraan yang cukup serius.
"Iya?" Julie menoleh dengan santai.
"Aku, mau mengatakan sesuatu…."
"Apa?"
"Ano…. Umm…"
DEG DEG DEG DEG
Jantung Julie berdetak cukup kuat.
"Ano… maukah… kau….."
"I-iya?"
"Maukah… kau menjadi kekasihku?"
Julie, Akaba, Kotaro, Musashi, dan Sena yang mendengarnya sontak mengatakan, "SERIOUSLY?"
.
Fuu… TO BE CONTINUED dengan SMART!
.
Waaaai, selesai juga.. xD
Yosh, balas dulu review yaaaa xD
.
Lala san Machiru: hahaha, masalah akhirnya, Julie sama siapa, lihat saja nanti yaaa… ikuti terus aja jalan ceritanya x3 review lagi? :3
TheDevilQuarter: Jiah, maunya dia sama Julie.. xDD makasih udah review, review lagi? :3
Sasaki Meiwa: Iya, ini udah update gan, maaf kalau telat u.u review lagi? :3
Anonymous: wah, dia dukung akaba. OAO review lagi? :3
.
Yak, yang login sudah saya balas lewat PM :3
Makasih sudah baca, (apalagi review)
Sampai jumpa di chap depaaaaan~ xDD
Matta nee~
.
Keep Spirit Up!
Mayu-chan
